Palembang di Bulan Agustus 2016

Cuaca Palembang sedang bagus-bagusnya akhir-akhir ini.

Langit biru cerah terbentang di mana-mana.

Panaasss….

Tapi bikin semangat!

Sebenarnya dari dulu saya tidak tahan berada di bawah panas matahari, karena bisa sakit kepala bahkan sampai pingsan. Tapi anehnya, saya sangat suka dengan pemandangan langit biru. Suka. Suka amat sangat. Setiap kali melihat langit biru, serasa ada suntikan semangat baru yang saya rasakan.

Sayangnya, sebulan terakhir ini, setelah mengalami sakit kepala hebat selama seminggu beberapa waktu yang lalu, akhirnya ketahuan kalau sekarang saya tidak saja hanya sensitif dengan sengatan panas matahari saja, tapi juga dengan sinar terangnya.

Dulu kepala saya sakit ketika berada di bawah panas matahari. Sekarang kepala saya bisa sakit hanya dengan melihat cahaya matahari yang terang.

Sedih banget.

Karena itu artinya saya tak bisa melihat langit biru seperti dulu lagi.

Kalau dulu saya masih bisa menikmati langit biru dari tempat terlindung.

Tapi sekarang, saya tak bisa memandang langsung ke arah birunya langit di atas sana tanpa memakai polarized sunglasses yang tentu mengubah total warna langit biru bagi pandangan mata saya.

Sedih.

Karena itulah akhir-akhir ini saya jadi suka sekali mengabadikan pemandangan sekeliling saya yang berlatar belakang langit biru. Setiap kali saya keluar bersama suami di mana saya tidak perlu menyetir, maka bila di luar sedang cerah dan langit sedang biru-birunya, saya akan mengambil begitu banyak foto pemandangan di luar. Dengan begitu, meski tidak langsung dan hanya lewat foto tapi setidaknya saya masih bisa menikmati langit biru yang sangat saya sukai itu πŸ™‚ .

O ya, saya pernah bilang di sini Β bahwa saya tidak punya foto sudut-sudut kota Palembang. Syukurlah, karena sekarang sering mengabadikan pemandangan Palembang dengan langit biru, saya pun jadi memiliki beberapa foto kota ini. Anggaplah sebagai kenang-kenangan juga, karena bisa saja dalam beberapa tahun ke depan kota ini akan berubah banyak πŸ™‚ .

Pasar Kuto, pusat kota Palembang tempo doeloe

Foto di atas itu saya ambil di daerah Pasar Kuto. Di hari Sabtu yang lalu, saya ada keperluan ke daerah itu bersama pak suami, jadi sambil jalan, saya jepret sana-sini. Kami sebenarnya lumayan sering ke daerah sini, tapi sebelum ini saya tak pernah terpikir dan tak pernah merasa perlu untuk mengambil foto daerah ini.

Tempat ini sebenarnya istimewa, karena di sinilah pusat kota Palembang pada jaman dahulu. Tak bisa melihat langit biru secara langsung ada manfaatnya juga, karena akhirnya saya bisa punya foto Pasar Kuto ini πŸ™‚ .

Ruko-ruko tua di Pasar Kuto
Daerah Pasar Kuto menjelang siang…
Saya pertama kali makan durian di Palembang tuh di sini…hihihihi

Yang tinggal di Palembang tau tidak sekarang kita sedang mengarah ke mana?

Iyes, kita mau ke arah Rajawali….tempat di mana banyak tempat makan buat dipilih…hehe…

Saya tadi bilang di atas kalau bisa saja dalam beberapa tahun ke depan akan ada banyak perubahan terhadap kota ini. Salah satu perubahan yang sudah pasti terjadi adalah karena pembangunan LRT ini…

O ya, karena ini bulan Agustus, maka di mana-mana banyak yang menjual Bendera Merah-Putih.

Di daerah lain pasti seperti ini juga kan? Kalau sudah bulan Agustus, maka penjual bendera bertebaran di mana-mana.

Tapi uniknya kalau di Palembang, tak hanya bendera saja yang dijual, tapi juga mainan pesawat, helikopter, dan kapal Telok Abang.

Lucu, kan namanya? πŸ˜†

Pesawat, helikopter, dan Kapal Telok Abang

Dalam bahasa Palembang, telok artinya telur sementara abang artinya merah. Jadi telok abang artinya telur merah. Dinamakan pesawat, helikopter, dan kapal Telok Abang karena biasanya ada telur berawarna merah yang ditancapkan pada mainan-mainan itu. Pesawat, kapal, dan helikopter mainan yang dijajakan ini biasanya terbuat dari bahan gabus.

Dari cerita yang saya dengar, tradisi ini telah dimulai dari sejak jaman penjajahan Belanda, tepatnya waktu itu dalam rangka memeriahkan ulang tahun Ratu Wilhelmina II. Tradisi itu kemudian berlanjut hingga sekarang namun ditujukan untuk memeriahkan hari kemerdekaan RI.

Karena namanya menggunakan Telok Abang, maka biasanya penjualnya selalu menyediakan telur yang dicat merah juga. Bila pembeli mau, bisa mengambil sekaligus dengan telurnya, tapi kalau tidak mau ya tidak apa-apa juga.

Hari Sabtu kemarin saat keluar dari pasar tradisional, kami bertemu dengan penjual mainan Telok Abang itu.

Terbayang anak-anak pasti senang dengan mainan seperti ini, kami pun langsung membeli dua pesawat besar, satu pesawat kecil, serta satu helikopter.

Selesai membeli, kami pun pulang. Bahagia rasanya bisa membawa pulang mainan rakyat seperti ini untuk anak-anak πŸ™‚ .

Di jalan menuju rumah….

Puji Tuhan, senang rasanya melihat cuaca Palembang yang seperti ini. Meski saya tak bisa menikmatinya lagi seperti dulu, tapi saya tetap berdoa agar tahun ini Palembang bisa terhindar dari bencana tahunan kabut asap agar langit tetap bisa cerah dan biru hingga kemudian musim hujan tiba πŸ™‚ .

Saking cerahnya, menjelang malam pun langit tetap cerah πŸ™‚

Saat langit mulai berangsur gelap seperti ini, barulah bisa saya nikmati dengan mata telanjang tanpa khawatir migrain akan kambuh πŸ™‚ .

Ah, cuaca dan langit ini begitu indah. Kalau sudah duduk di teras depan sambil melihat langit yang bersih, rasanya tak ingin malam lekas-lekas turun. Ingin menikmatinya lebih lama lagi. Tapi tentu tidak mungkin ya. Malam akan tetap turun. Yang harus terjadi, akan tetap terjadi. Tapi tak apa, semangat saja, berharap besok masih bisa melihat langit biru seperti ini lagi πŸ’–.

 

23 comments

  1. Lho ada ya ternyata orang yg pusing kena matahari ha ha ha…..

    Tapi hampir sama kesukaannya sama saya. Pasti lagi sepi biasanya saya suka liat langit sambil melamun. Mikirin postingan selanjutnya ha ha ha……

  2. Lisa, yang pusing kalau kena matahari, itu kenapa? Aku juga kadang pusing gitu kalau keluar siang-siang, selama ini mikirnya mungkin karena belum sarapan, atau terlalu panas cuacanya, atau apa gitu. Tapi kadang lihat lampu yang terang banget (macam di Sevel atau minimarket gitu) juga gak nyaman gitu matanya

  3. ah….aku lupa di mana ya Pasar Kuto…, atau malah belum pernah ke sini kayaknya..

    untunglah sudah ketauan sakit kepalanya gara2 matahari ya, jadi setelah dihindari sekarang mudah2an kepala sudah terasa enteng ya

  4. Terakhir beli telok abang waktu SD, sekarang harganya berapaan ya mbak? πŸ™‚
    Palembang lagi panas banget memang, sampe gak kuat kalo harus kelayapan naik motor siang-siang. Debunya juga gak tahan, tapi ya lebih baik begini ketimbang musim hujan, suka banjir haha

  5. yeeeah beli telok abang juga yaa πŸ˜€ aku suka bulan agustus karena sepanjang jalan merdeka meriah sama penjual telok abang.
    kok ga difotoin ekspresi Raja dan Ralph pas dibawain mamanya telok abang, hehe kepo

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s