Palembang This August

Cuaca Palembang sedang bagus-bagusnya akhir-akhir ini.

Langit biru cerah terbentang di mana-mana.

Panaasss….

Tapi bikin semangat!

Sebenarnya dari dulu saya tidak tahan berada di bawah panas matahari, karena bisa sakit kepala bahkan sampai pingsan. Tapi bagaimanapun, saya tetap suka dengan pemandangan langit biru. Suka. Suka amat sangat!

Sayangnya, sebulan terakhir ini, setelah mengalami sakit kepala hebat selama seminggu beberapa waktu yang lalu, akhirnya ketahuan kalau sekarang saya tidak saja hanya sensitif dengan sengatan panas matahari saja, tapi juga dengan sinar terangnya.

Dulu kepala saya sakit ketika berada di bawah panas matahari. Sekarang kepala saya bisa sakit hanya dengan melihat cahaya matahari yang terang.

Sedih banget.

Karena itu artinya saya tak bisa melihat langit biru seperti dulu lagi.

Kalau dulu masih bisa dari tempat terlindung.

Sekarang saya tak bisa memandang langsung ke arah birunya langit di atas sana tanpa memakai polarized sunglasses yang tentu mengubah total warna langit biru bagi pandangan mata saya.

Sedih.

Karena itulah akhir-akhir ini saya jadi suka sekali mengabadikan pemandangan sekeliling saya yang berlatar belakang langit biru. Setiap kali saya keluar bersama suami di mana saya tidak perlu nyetir, saya selalu mengambil foto pemandangan dengan langit biru itu. Dengan begitu, meski tidak langsung dan hanya lewat foto tapi setidaknya saya masih bisa menikmati langit biru yang sangat saya suka itu 🙂 .

O ya, saya pernah bilang di sini, sebelumnya saya tidak pernah punya foto sudut-sudut kota Palembang. Syukurlah, karena sekarang jadi sering mengabadikan langit biru, saya jadi punya beberapa foto kota ini. Anggaplah sebagai kenang-kenangan juga, karena bisa saja dalam beberapa tahun ke depan kota ini akan berubah banyak 🙂 .

Pasar Kuto, pusat kota Palembang tempo doeloe

Foto di atas itu saya ambil di daerah Pasar Kuto. Pas di hari Sabtu yang lalu ada keperluan ke daerah itu sama pak suami. Kami sebenarnya lumayan sering ke daerah sini, tapi sebelum ini saya tak pernah terpikir untuk mengambil foto daerah ini. Selain karena ngerasa tak perlu, saya juga tak merasa punya kemampuan mengambil foto yang bagus.

Tempat ini sebenarnya istimewa, karena di sini adalah pusat kota Palembang jaman dulu. Tak bisa melihat langit biru langsung ada manfaatnya juga, karena akhirnya saya bisa punya foto daerah ini 🙂 .

Ruko-ruko tua dia Pasar Kuto
Daerah Pasar Kuto menjelang siang…
Saya pertama kali makan durian di Palembang tuh di sini…hihihihi

Yang tinggal di Palembang tau gak sekarang kita lagi mengarah ke mana?
Iyes, kita mo ke arah Rajawali….tempat di mana banyak tempat makan buat dipilih…hehe…

Saya tadi bilang di atas kalo bisa saja dalam beberapa tahun ke depan akan ada banyak perubahan terhadap kota ini. Salah satu perubahan yang sudah pasti terjadi adalah karena pembangunan LRT ini…

O ya, karena ini bulan Agustus, maka di mana-mana banyak yang jual Bendera Merah-Putih.

Di daerah lain pasti kayak gitu kan? Kalo udah bulan Agustus banyak yang jualan Bendera Merah Putih.

Tapi kalo di Palembang khasnya gak hanya itu saja.

Di sini kalo udah bulan Agustus juga banyak yang jualan pesawat, helikopter, dan kapal Telok Abang.

Pesawat, helikopter, dan Kapal Telok Abang

Dalam bahasa Palembang, telok artinya telur sementara abang artinya merah. Jadi telok abang artinya telur merah. Dinamakan pesawat, helikopter, dan kapal telok abang karena biasanya telur merah ditancapkan di situ. Pesawat, kapal, dan helikopter itu biasanya terbuat dari gabus.

Katanya tradisi itu udah dimulai dari sejak jaman penjajahan jaman Belanda, tepatnya waktu itu dalam rangka memeriahkan ulang tahun Ratu Wilhelmina II. Tradisi itu kemudian berlanjut hingga sekarang ditujukan untuk memeriahkan hari kemerdekaan RI.

Karena namanya pake Telok Abang, maka biasanya penjualnya selalu menyediakan telur yang dicat merah juga. Kalo pembeli mau bisa ambil sekalian dengan telurnya, tapi kalo tidak ya tidak apa-apa juga.

Hari Sabtu kemarin pas keluar dari pasar, kami ketemu dengan penjual mainan telok abang itu.

Kebayang anak-anak pasti senang dengan mainan kayak gini, langsunglah kami beli 2 pesawat besar, 1 pesawat kecil, dan 1 helikopter.

Habis beli, kami pun pulang. Senang rasanya bawa pulang mainan rakyat kayak gini untuk anak-anak 🙂 .

Di jalan menuju rumah….

Puji Tuhan, senang rasanya lihat cuaca yang seperti ini. Meski saya tak bisa menikmatinya lagi seperti dulu, tapi saya tetap berdoa agar tahun ini Palembang bisa terhindar dari bencana kabut asap supaya langit bisa tetap cerah sampai kemudian musim hujan tiba 🙂 .

Saking cerahnya, menjelang malam pun langit tetap cerah 🙂

Kalo langitnya udah berangsur gelap kayak gini, barulah bisa saya nikmati tanpa rasa kuatir kepala akan sakit 🙂 .

Ah, cuaca ini begitu indah. Kalo udah duduk di teras depan sambil liat langit biru yang bersih kayak gitu rasanya gak pengen malam lekas-lekas turun. Pengen menikmatinya lebih lama. Tapi mau bagaimana lagi. Malam akan tetap turun. Yang harus terjadi, akan tetap terjadi. Tapi gak apa-apa, semangat aja, berharap besok masih bisa lihat langit biru seperti ini lagi 🙂 .

 

Iklan

22 thoughts on “Palembang This August

  1. Lho ada ya ternyata orang yg pusing kena matahari ha ha ha…..

    Tapi hampir sama kesukaannya sama saya. Pasti lagi sepi biasanya saya suka liat langit sambil melamun. Mikirin postingan selanjutnya ha ha ha……

  2. Lisa, yang pusing kalau kena matahari, itu kenapa? Aku juga kadang pusing gitu kalau keluar siang-siang, selama ini mikirnya mungkin karena belum sarapan, atau terlalu panas cuacanya, atau apa gitu. Tapi kadang lihat lampu yang terang banget (macam di Sevel atau minimarket gitu) juga gak nyaman gitu matanya

  3. ah….aku lupa di mana ya Pasar Kuto…, atau malah belum pernah ke sini kayaknya..

    untunglah sudah ketauan sakit kepalanya gara2 matahari ya, jadi setelah dihindari sekarang mudah2an kepala sudah terasa enteng ya

  4. Terakhir beli telok abang waktu SD, sekarang harganya berapaan ya mbak? 🙂
    Palembang lagi panas banget memang, sampe gak kuat kalo harus kelayapan naik motor siang-siang. Debunya juga gak tahan, tapi ya lebih baik begini ketimbang musim hujan, suka banjir haha

  5. yeeeah beli telok abang juga yaa 😀 aku suka bulan agustus karena sepanjang jalan merdeka meriah sama penjual telok abang.
    kok ga difotoin ekspresi Raja dan Ralph pas dibawain mamanya telok abang, hehe kepo

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s