Segala Sesuatu Ada Saatnya #roadToMarch8

Yeayyy!!! Sudah masuk ke episode ke-3, nih. Pada nungguin kelanjutannya gak? Kalau saya sih jujur saja nungguin…hahahaha… Cerita sendiri kok ditungguin ya? Habisnya gimana dong, saya sendiri juga bahagia lho kalau sudah waktunya untuk bercerita tentang kisah kami berdua, karena bagi saya, sebuah cerita bahagia akan lebih lengkap rasa bahagianya apabila dituangkan dalam bentuk tulisan ๐Ÿ˜Š. O ya, banyak yang bilang cerita kami mirip drama Korea…hahahaha… Waktu ngejalanin sih sama sekali gak ada pikiran kalau ini mirip dalam drama ya, walaupun saya sejak jaman kuliah dulu sudah teracuni dengan drama Korea. Tapi begitu diingat-ingat lagi dan apalagi setelah dijadikan tulisan begini, baru deh memang saya sendiri bisa merasakan, “Eh iya ya, kok jadi kayak di drama ya??” hahahahahaโ€ฆ.. Tapi yah, begitulah kenyataannya. Saya juga gak pernah menyangka bakal seperti ini jalan cerita kami apalagi sampai berkhayal bahwa saya akan merasakan a little glimpse of dramaland in my life, karena itu setiap kali kami bernostalgia tentang pertemuan kami dulu, yang kami rasakan adalah rasa syukur yang besar karena kami tak pernah perlu ragu bahwa kami memang diciptakan sedari awal untuk satu sama lainnya ๐Ÿฅฐ.

Ok deh, sekian dulu pembukannya, kita lanjut lagi ke cerita cinta kami…hehehe… Oh ya, semua cerita tentang kami ini dari episode ke episode bisa diakses via link ini yaaaโ€ฆ.ย 

Si Bujang

Dia sedang berada di rumahnya di Medan, dan saat itu, di dalam kamarnya yang tertutup rapat, dia menatap telepon selular di genggaman tangannya. Berkali-kali dia telah mengetikkan sesuatu di situ namun berkali-kali pula dia menghapus deretan kata yang sudah diketikkannya itu. Dia ingin memulai percakapan dengan gadis itu, gadis yang sedari pertama kali dilihatnya sudah langsung membuat dia merasa ingin menyerahkan hatinya. Tadinya dia sudah sangat yakin dengan topik pembukaan yang dia pilih, tapi begitu berhadapan langsung dengan telepon selular di hadapannya, tiba-tiba saja dia menjadi ragu dan semua teks yang dia ketikkan pun terasa salah.

Resah, dia pun membaringkan badan ke atas tempat tidurnya. Seketika pandangan matanya menangkap poster David Beckham yang berukuran cukup besar di dinding kamarnya yang sudah terpajang di situ sejak bertahun-tahun lalu. Di poster itu, pemain bola dari klub terfavoritnya terlihat sangat percaya diri berada di lapangan sepakbola…

Kepercayaan diri yang saat itu tak bisa tersalurkan padanya.

Dia juga heran kenapa dia tiba-tiba ragu, seolah-olah itulah pertama kalinya dia mendekati cewek dan seakan-akan dia kembali menjadi anak remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.

Walaupun jika dipikir-pikir memang benar sesungguhnya, itulah untuk pertama kalinya dialah yang akan duluan mengambil langkah pendekatan, karena yang sebelum-sebelumnya terjadi adalah justru sebaliknya. Bahkan dengan mantan pacarnya pun, dia yang duluan didekati.

Dan soal jatuh cinta, ah memang benar juga, itulah untuk pertama kalinya dia merasakan rasa suka dengan seorang gadis sampai sebegininya.

Gadis ituโ€ฆ.. Tanpa sadar dia tersenyum mengingat gadis itu. Hampir semua teman-temannya sejurusan sudah tau bahwa dia menyukai gadis itu, walaupun gadis itu terlihat jelas tidak tahu apa-apa karena memang sampai saat itupun tidak pernah sekalipun dia menunjukkan perasaannya secara langsung kepada gadis itu.

Ah, jangankan tahu tentang perasaannya, mengetahui namanya atau bahkan di dunia ini ada dia saja, jangan-jangan gadis itu tidak tahu sama sekali.

Teringat olehnya beberapa kali pertemuan dengan gadis itu yang hampir selalu membuat dia merasa kecewa karena dia bisa melihat dengan jelas bahwa gadis itu tampaknya selalu melupakan namanya atau bahkan selalu lupa kalau sudah pernah berkenalan dengannya. Membuat dia merasa gemas sekali dengan gadis itu. Sebegitu tak begitu pedulinya gadis itu dengan dirinya, sampai-sampai dia seperti selalu dilupakan.

Walaupun memang, tak ada alasan bagi gadis itu untuk peduli dengan dirinya.

Teman-teman yang sempat menjadi dekat dengannya selama masa diklat sampai beberapa kali bertanya kenapa dia tidak membuat langkah mendekati gadis itu supaya paling tidak gadis itu bisa tahu tentang perasaannya atau paling tidak mengetahui keberadaan dirinya. Mereka juga geregetan dengan gadis itu karena bahkan ketika mereka berkali-kali menyanyikan lagu “Rambut Merah Siapa yang Punya” setiap kali gadis itu lewat di depan kompi mereka pun, gadis itu jangankan terlihat mau tahu untuk siapa dan kenapa lagu itu mereka nyanyikan, menengok ke arah mereka saja pun tidak!

Ketidakpedulian gadis itu mungkin memang adalah salah satu hal yang membuat dia selama masa diklat mengurungkan niat untuk mendekati ditambah alasan bahwa dia pun masih ada hasrat untuk menghormati hubungan gadis itu dengan pacarnya. Namun penyebab utama yang menghalangi niatnya adalah karena dia merasa belum saatnya untuk memikirkan hubungan dengan gadis itu karena toh sangat besar kemungkinan mereka akan ditempatkan di wilayah yang jauh terpisah. Dia selalu yakin bahwa apabila memang benar gadis itu adalah orang yang Tuhan ciptakan untuknya sesuai dengan mimpinya ketika masih kecil, maka Tuhan juga yang akan memberi jalan pembuka untuk itu.

Karena itulah, ketika beberapa kali temannya bertanya mengapa dia menarik diri dari langkah pendekatan ke gadis itu, maka dia akan menjawab,ย “Semua Tuhan yang tahu, Tuhan juga yang atur, jika memang benar dia itu jodoh gua, maka Tuhan yang akan membuat jalan. Siapa tahu, bisa saja, jalannya adalah dengan justru menempatkan kami di wilayah yang sama.”

Dan ternyata memang siapa yang kemudian bisa menyangka kalau dia dan gadis itu kemudian benar ditempatkan di wilayah yang sama.

Dia masih sangat mengingat apa yang terjadi di malam hari ketika pengumuman mengenai daftar penempatan tugas ditempel di asrama diklat Ragunan tempatnya menginap saat itu.

Yang pertama dia cari tentu adalah namanya sendiri dan betapa terkejutnya dia ketika di deretan nama pada wilayah yang sama dengannya juga terdapat nama gadis itu. Seketika dia terkejut dan langsung berseru penuh kebahagiaan dalam hati, luar biasa…luar biasa ya Tuhanโ€ฆ.. penempatan kami sama!

Dengan tersenyum-senyum bahagia seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan incaran, dia pun bergabung bersama teman-temannya yang sedang berkumpul membahas soal penempatan kerja. Begitu teman-temannya melihat dia datang dengan wajah sumringah, mereka langsung heran dan bertanya, “Elu kenapa? Hepi banget kayaknya!”

Dan begitu dia menjawab penyebab dia tampak begitu bahagia karena dia ditempatkan di wilayah yang sama dengan gadis itu, teman-temannya langsung ikut berseru senang dan mengucapkan selamat untuknya. Sebagian malah sampai bertanya apakah dia ada turut campur dalam pengurusan penempatan mereka sampai bisa sangat ‘kebetulan’ dia dan gadis yang dia taksir ditempatkan di wilayah yang sama. Pertanyaan yang tentu saja konyol, karena yah, apalah dan siapalah dia di perusahaan ini?

Saat itu, dia begitu terlarut dalam kebahagiaan karena mengetahui kalau dia dan gadis incarannya ditempatkan di wilayah yang sama, sampai-sampai membuat dia lupa untuk mengecek di wilayah mana mereka ditempatkan. Rasanya mau ditempatkan di mana pun tak masalah lagi, selama gadis itu bisa bersama dengannya. Dia baru tersadar, setelah salah satu temannya bertanya, “Ngomong-ngomong, elu penempatannya di mana?”

Seketika itu dia terdiam lalu sambil menyengir, dia menjawab, “Nah itu, gua lupa ngeceknya. Gua cuma liat nama dia doang….”

Tak ayal, teman-temannya pun menertawakan kekonyolannya dan dia sama sekali tak keberatan dengan itu. Hatinya terlalu bahagia untuk memedulikan tertawaan teman-temannya. Dengan segera dia pun turun kembali ke lantai bawah untuk melihat pengumuman penempatan itu dan betapa kagetnya dia ketika mendapatkan kejutan lagi dalam pengumuman itu.

Dia dan gadis itu ditempatkan di wilayah bernama S2JB.

Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu yang berkantor induk di Palembang.

Palembang…..

Palembang…..

Jadi mimpi mamanya terbukti benar.

Di situ dia hanya bisa terdiam, antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang sedang dia alami. Mungkinkah terjadi bahkan mimpi mamanya pun bisa menjadi kenyataan? Pada akhirnya dia hanya bisa mengakui dalam hati betapa luar biasa semua yang sedang terjadi, sungguh dia tak menyangka kalau jalannya akan menjadi seperti ini.

Sebelum beranjak dari situ, dia menyempatkan diri mengecek di mana pacar gadis itu ditempatkan. Papua…. Wow, katanya dalam hati, jalan Tuhan memang siapa yang bisa menyangka.

Dia juga teringat pada pertemuan terakhir dengan gadis itu sebelum mereka pulang ke tempat asal masing-masing. Ingatan pada pertemuan itu membuat senyumnya makin lebar karena entah bagaimana, ketika sedang berbicara dengan gadis itu, dia yakin sekali ada sesuatu yang berbeda. Seolah untuk pertama kalinya gadis itu melihat dirinya, benar-benar melihat. Dia bisa melihat itu dari pandangan mata serta senyum gadis itu. Biasanya gadis itu hanya tersenyum sopan saja kepadanya, namun dalam pertemuan terakhir mereka, senyum gadis itu terlihat berbeda. Dia tampak gugup dan bahkan….malu-malu? Ah, entahlah, dia sendiri tidak berani terlalu jauh mengambil kesimpulan, khawatir nanti dia hanya akan kecewa saja jika ternyata kenyataan tak sesuai harapan. Namun tak dapat dipungkiri, perubahan sikap gadis itu ketika berhadapan dengannya, bisa dengan jelas dia lihat dan itu memberikan harapan untuknya kalau kehadirannya juga bisa memberikan efek untuk gadis itu, tidak hanya sebaliknya saja.

Ingatan akan pertemuan terakhir itu serta kembali menyadari bahwa Tuhan sedang menolong membukakan jalan untuknya itulah yang kemudian membuat dia menepis rasa ragu yang dia rasakan untuk memulai berkomunikasi dengan gadis itu.

Apapun yang akan terjadi, maka terjadilah, pikirnya. Pada akhirnya semua akan terjadi sesuai kehendak Tuhan, namun untuk saat ini dia yakin sekali Tuhan sudah membuka jalan untuknya, terlalu bodoh jika dia sendiri tidak mengambil kesempatan itu. Sudah saatnya, dia mengambil langkah.

Maka kemudian dengan tanpa ragu-ragu lagi, dia mengetikkan sebuah pesan sederhana di telepon selularnya.

“Hai, Krones, jadi berangkat ke Palembang hari Sabtu?”

Si Gadis

Dia sedang berada di dalam kamarnya. Siang hari itu cuaca di Manado sangat cerah, matahari bersinar terang dan dari jendela kamarnya yang terbuka lebar, dia bisa melihat langit biru jernih di atas sana. Dia sangat suka dengan langit biru karena setiap kali melihatnya maka dia akan merasa seperti mendapatkan suntikan semangat, apapun kondisi yang sedang dia alami. Langit biru seolah memberi harapan, bahwa segelap apapun suasana hatinya, cepat atau lambat, dia akan kembali melihat langit biru dan semua akan baik-baik saja.

Itulah yang dia rasakan saat itu.

Di luar, cuaca sedang cerah. Namun dalam hatinya sendiri terasa ada yang sedang berkecamuk.

Dari meja belajar tempat tadinya dia duduk, dia pun beranjak dan duduk di pinggir tempat tidurnya sambil memandang koper besar berwarna biru yang baru selesai dia siapkan. Koper itu kini telah berisi banyak baju-baju serta berbagai keperluannya, termasuk bingkai serta album yang berisi foto-foto yang berharga untuknya.

Dia sudah siap untuk pindah ke Palembang. Dan dia hanya punya waktu dua hari lagi untuk berada dalam rumah ini.

Saat itu, semua tiba-tiba terasa sangat nyata.

Dia akan segera pindah ke Palembang, meninggalkan kota ini, rumah ini, kamar ini, bahkan orangtua, kakak, serta adik yang sangat dia kasihi.

Iya, dia memang masih bisa mudik ke Manado. Tapi semua kelak akan berbeda.

Dia tidak akan lagi melihat orangtuanya setiap hari, menikmati masakan mamanya sehari tiga kali, beradu argumen dengan papanya, atau bertengkar setiap saat dengan adik laki-lakinya. Rumah ini juga tak akan lagi menjadi tempatnya pulang sehari-hari melainkan hanya akan menjadi tempatnya untuk pulang kampung sesekali dalam setahun. Kamar ini pun tak akan lagi menjadi teman setianya, tempat di mana dia merasa paling nyaman untuk menjadi dirinya sendiri.

Resah, dia pun membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Perlahan, telapak tangannya mengusap lembut seprai berwarna krem dengan corak bunga-bunga merah muda kecil. Di antara semua seprainya, yang satu ini adalah yang paling dia sukai karena itu dia sengaja memasangnya menjelang kepindahannya. Menengadah ke atas, dia melihat boneka-boneka yang dia gantung tepat di atas tempat tidurnya serta stiker bintang-bintang yang akan menyala dalam gelap yang tersebar di atas langit-langit kamarnya. Dia tersenyum melihat semua itu karena teringat pada usahanya memasang semua stiker itu. Dia begitu menyukai bintang hingga suatu kali dia memutuskan untuk menghadirkan bintang-bintang itu di dalam kamar untuk menemaninya tidur, meski hanya dalam bentuk stiker. Dia sangat menyukai berada dalam kamar ini. Di sinilah tempat dia menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar, menulis buku harian, membaca novel, dan merajut mimpi-mimpinya dalam khayalan.

Mimpinya adalah bukan untuk menjelajahi dunia. Tidak, dia bukanlah orang yang memiliki jiwa petualang dalam dirinya. Bukan berarti dia menolak bepergian, namun dia merasa paling nyaman berada di rumah. Selama tinggal bersama orangtuanya, dari sejak kecil hingga kini, beberapa kali dia diajak orangtuanya bepergian, melihat berbagai kota di Indonesia. Semua dia nikmati, namun kebahagiaan menikmati aneka tempat itu tidaklah pernah sebanding dengan rasa tenang yang dia dapatkan setiap kali sudah kembali ke rumah serta rasa nyaman yang dia peroleh setelah bisa kembali berbaring di atas tempat tidurnya sendiri. Rajin menulis jurnal dari sejak kecil membuat dia sangat mengenal kepribadiannya sendiri, dia tahu bahwa hatinya selalu mencari rumah, karena itu dia tidak bermimpi untuk bisa menjelajahi dunia. Kalaupun dia pernah berkeinginan sekolah sampai S3 di luar negeri, itu semata-mata karena tadinya dia sempat bercita-cita menjadi seorang dosen yang mana menurutnya akan lebih baik jika dia memiliki pengalaman belajar di luar negeri.

Dia juga bukannya bermimpi untuk menaklukkan dunia, menjadi terkenal, menjadi hebat, menjadi kaya.

Di dalam hatinya, dia hanyalah gadis yang sederhana. Mungkin orang lain bisa menilai dia payah karena tidak mengikuti kata pepatah, “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit.”

Dia hanya menginginkan hal-hal yang sederhana.

Meski dia menyukai bintang, tapi mimpinya tidak pernah digantungkannya sampai ke langit.

Dia selalu merindukan rumah, karena itu mimpinya adalah tentang rumah, tentang keluarga yang dibangun bersama orang yang dia cintai dan yang akan mengasihinya sampai mereka sama-sama tua kelak, tentang menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya, tentang bersukacita sampai akhir hayat bersama orang-orang yang dia cintai. Dia hanya ingin menjalani hidup yang baik, penuh cinta, damai, sejahtera, dan sukacita. Impian yang sederhana, namun kenyataannya hanya sedikit orang di dunia ini yang bisa memiliki hidup seperti itu.

Dan di kamar inilah dia merajut mimpi-mimpinya itu.

Setiap kali dia selesai membaca novel, dia akan merenung begitu lama hanya untuk mengkhayalkan tentang masa depannya nanti. Akankah dia menemukan orang yang dia cintai. Dan akankah orang itu juga akan mencintai dia dengan segala ketulusan bahkan rela berkorban untuknya? Para tokoh utama pria dalam novel-novel yang dia baca serta drama-drama Korea yang dia tonton, selalu saja membuatnya berpikir, alangkah bahagianya jika dia bisa menemukan orang yang bisa mencintainya seperti itu. Dia memang bukan perempuan lemah yang membutuhkan pangeran untuk menyelamatkannya. Namun tentu akan sangat bahagia rasanya jika dia bisa menemukan orang yang rela melakukan apapun untuknya, yang selalu siap menolongnya dalam segala situasi entahkah dia sedang butuh ditolong ataupun tidak, yang bisa dijadikannya rekan untuk sama-sama saling memprioritaskan.

Usianya sudah 23 tahun. Dia sudah pernah tiga kali berpacaran. Dan sampai sekarang dia belum pernah menemukan orang yang bisa seperti itu dengannya, karena itu dia tahu, tidaklah mudah memiliki hidup seperti yang diimpikannya. Tidak mudah, karena jumlah penduduk bumi ini, sama seperti jumlah bintang di atas sana, ada sekian miliar, butuh keberuntungan surgawi yang sangat besar untuk membuatnya bisa menemukan satu bintang yang memang Tuhan ciptakan untuknya.

Mengingat tentang satu bintang itu, entah kenapa membuat dia kembali teringat pada orang itu. Orang yang bertemu dengannya di hari terakhir diklat. Orang yang membuatnya ingin tenggelam dalam pelukan yang dia tahu akan sangat hangat meskipun dia sendiri belum pernah merasakannya. Bagaimana bisa pernah merasakan, nama orang itu saja dia tidak tahu. Hal itu membuatnya menggelengkan kepala, akhir-akhir ini perasaan hatinya memang sungguh aneh. Keberangkatannya tinggal dua hari lagi, dan alih-alih memikirkan tentang perpisahan dengan pacarnya, dia justru malah mengingat tentang orang itu. Tidak masuk di akal.

Saat itulah, ketika dia sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, telepon selularnya terdengar berbunyi. Dari nadanya, dia tahu ada pesan teks yang sedang masuk.

Malas-malasan, dia pun beranjak dari tempat tidur dan menuju meja belajar di mana telepon selularnya tergeletak. Benar saja, ada pesan teks yang masuk, dari nomor yang tidak dikenalnya. Pesan itu hanya berisi satu kalimat pendek, “Hai, Krones, jadi berangkat ke Palembang hari Sabtu?”

Membaca itu membuat dia mengernyitkan dahi. Krones? Hampir jarang ada yang memanggilnya dengan nama belakangnya. Dia yakin pengirim pesan itu adalah salah satu rekan diklatnya dan hampir semua mereka memanggil dia dengan nama depannya. Kecuali, dia mengingat-ingat, beberapa rekan yang berasal dari kompi yang sering menyanyikan lagu rambut merah siapa yang punya itu! Beberapa kali memang dia mendengar mereka memanggilnya dengan sebutan Krones. Mungkin, si pengirim pesan itu adalah orang yang berasal dari kompi itu yang mungkin juga di tempatkan di wilayah yang sama dengannya.

Memikirkan tentang penempatan di wilayah yang sama, membuat dia tiba-tiba terpikir. Jangan-jangan…. Pengirim pesan ini adalah orang itu? Orang yang baru saja dia pikirkan? Orang yang membuat perasaannya bercampur aduk itu?

Dugaan itu membuat dia dengan segera mencari kertas berisi daftar nama peserta diklat yang ditempatkan di daerah Palembang dan sekitarnya. Sebelum mereka meninggalkan diklat, mereka memang sudah membuat daftar dan menuliskan nama masing-masing disertai nomor telepon selular serta asal keberangkatan di atas secarik kertas. Dicarinya nomor telepon selular pengirim pesan itu dalam daftar tersebut, ah benar ada! Jadi dugaannya betul, pengirim pesan itu adalah salah satu rekannya yang mendapat penempatan di wilayah yang sama dengannya. Terdapat 30 nama di dalam daftar itu, 13 di antaranya ditempatkan di unit Distribusi S2JB sementara sisanya ditempatkan di unit Pembangkit yang juga berkantor induk di Palembang. Pengirim teks itu, sama dengannya, ditempatkan di unit Distribusi S2JB.

Setelah membaca nama pengirim teks itu di daftar tersebut, dia pun berusaha mengingat-ingat, apakah iniย  nama orang itu? Ah, tapi dia benar-benar tidak bisa mengingat apa-apa. Rasanya tidak ada satupun memori di kepalanya tentang orang itu yang bisa memberikan sedikit saja petunjuk bahwa orang yang bertemu dengannya di hari terakhir diklat itu memiliki nama yang sama dengan pengirim pesan itu. Aarrgghh…. Dia merasa frustasi dengan ketidakmampuannya mengingat nama orang itu.

Namun meski begitu, dia pun tetap membalas pesan tersebut. Karena pengirim pesan itu memanggilnya dengan nama belakang, maka dia memutuskan untuk membalasnya dengan nama belakang juga.

“Hei Samosir, iya, aku jadi berangkat Sabtu. Kamu kapan?”

Dari situ, pembicaraan mereka lewat pesan teks pun berlanjut. Pembicaraan di antara mereka terasa mengalir, seperti yang mereka sudah lama saling mengenal, meski dia tetap terus bertanya-tanya dalam hati, apakah yang sedang berbicara dengannya lewat pesan teks itu adalah orang yang sama dengan orang yang bertemu dengannya itu. Dia ingin bertanya, namun ragu, entah kenapa dia tidak ingin orang itu menganggap dia pikun. Karena jika benar mereka orang yang sama, maka itu artinya paling tidak sudah ada tiga kali mereka berkenalan, rasanya keterlaluan jika dia masih tidak tahu siapa nama orang itu.

Ah, biarkan sajalah, seolah-olah dia sudah tahu dengan siapa dia saling berkirim pesan ini, pikirnya. Toh, tidak lama lagi semua akan terungkap. Paling lambat di hari Senin depan ketika mereka harus melapor di kantor S2JB, di situlah saatnya pertanyaan dalam hatinya akan terjawab.

Dan waktu dua hari memang berlalu dengan sangat cepat. Tak terasa, telah tiba waktunya untuk dia berangkat ke Palembang. Bersyukur, mamanya bisa ikut mengantar hingga ke Palembang sehingga bisa mengurangi rasa kehilangan akibat meninggalkan kampung halamannya. Di bandara, dia berpisah dengan pacarnya yang akan menuju ke Papua serta seorang teman kuliahnya yang juga ikut diterima di BUMN ini yang kemudian ditempatkan di Makassar.

Siang hari, dia sudah tiba di Palembang, disambut oleh matahari yang bersinar amat sangat terik sehingga membuat dia dan mamanya seketika mendapat migrain dan langsung tidur hingga hampir malam di kamar hotel Anugerah yang mereka sewa. Begitu bangun, mereka berdua berkeliling mencari tempat kos untuknya, sayang hari itu mereka belum bisa menemukan tempat yang tepat. Di hari itu juga dia masih berkirim pesan dengan orang itu, yang sudah tiba juga di Palembang dan sedang menginap di rumah kerabatnya.

Hari Minggu, teman-temannya sepenempatan ikut tiba di Palembang. Dia sempat bertemu dengan sebagian besar dari mereka dan kali ini dia berusaha memperhatikan nama rekan-rekannya yang laki-laki yang belum dia kenal serta ingat. Di antara semua yang sudah bertemu dengannya di hari itu, tak ada satupun yang bernama belakang Samosir, dan tak ada satupun dari mereka yang adalah orang yang bertemu dengannya di hari terakhir diklat itu.

Kenyataan yang dia dapat itu membuat harapannya semakin besar, bahwa dia memang sedang berkirim pesan dengan orang yang sama yang membuat perasaan hatinya berkecamuk dengan indahnya itu.

Hari Senin pagi, sebagaimana yang diharuskan, dia pun berangkat menuju kantor induk S2JB. Sepanjang jalan, jantungnya serasa berdegup kencang, bukan karena gugup menghadapi hari pertama di kantor, namun karena inilah saat yang menentukan. Dalam beberapa saat lagi dia akan bertemu dengan orang itu dan semua jawaban atas pertanyaannya akan bisa dipastikan pada saat mereka bertemu.

Di depan gerbang kantor, dia berusaha mempersiapkan diri dan dengan keras menata degup jantungnya. Dia bisa melihat bahwa di lobi telah ada beberapa rekannya yang hadir. Dia tahu, karena sebagai karyawan yang belum resmi diangkat, untuk sementara mereka diharuskan berpakaian putih hitam sehingga membuatnya bisa melihat dengan jelas keberadaan rekan-rekannya di situ.

Dan begitu memasuki pintu lobi kantor, seketika matanya langsung beradu dengan mata orang itu. Orang yang sama yang membuat kecamuk dalam hatinya itu, yang tanpa sadar ternyata dirindukannya, kini berada di hadapannya, sedang duduk dengan santai di salah satu kursi di lobi. Orang itu terlihat sedang berbicara dengan rekannya yang lain, namun bahkan ketika dia belum sampai di pintu lobi pun, orang itu sudah melihat ke arahnya, tanpa berpaling sedikit pun! Ketika pandangan mereka bertemu, orang itu melemparkan senyum penuh arti untuknya. Senyum yang dia balas dengan penuh kelegaan, karena hatinya telah yakin bahwa jawaban misteri itu adalah sesuai dengan harapannya.

Pengirim pesan dan orang itu, mereka adalah sosok yang sama.

Saat itu, meski serasa ada magnet yang menariknya untuk langsung berjalan ke arah orang itu, namun dia menahan diri agar perasaan hatinya tidak terlalu kentara. Meskipun untuk itu dia harus berusaha dengan keras, mengingat pandangan orang itu juga tampak berbinar ketika melihatnya, membuat dia sangat berbunga-bunga.

Tak lama setelah kedatangannya, salah satu staf dari SDM kemudian menghampiri rombongan mereka dan mengajak mereka untuk masuk ke ruang rapat utama di lantai 2. Mereka pun bergerak ke arah tangga. Orang itu, yang tadinya duduk, ikut beranjak dan sengaja berjalan di dekatnya.

Begitu mereka saling bersebelahan, sebelum menaiki tangga, orang itu menyapanya, “Krones….”

Dia, sambil tersipu namun dengan hati yang berbunga-bunga bahagia, membalas sapaan itu, “Samosir….”

Sejenak, mereka saling memandang, sebelum kemudian kembali melangkah menaiki anak tangga satu demi satu.

Dia sendiri tidak sanggup menahan senyum bahagia untuk terukir di wajahnya. Entah bagaimana, namun saat itu juga dia tahu, ada sesuatu di antara mereka berdua yang telah terjalin erat bahkan sebelum mereka berdua benar-benar saling mengenal.

*****

Si Bujang dan Si Gadis, ikatan mereka memang telah terjalin lama. Mungkin bahkan sejak sebelum mereka lahir ke dalam dunia, mereka sudah ditentukan untuk bersama. Di antara miliaran bintang, mereka bersinar untuk satu sama lainnya. Namun segala sesuatu ada saatnya. Mereka harus menunggu sampai mereka dewasa untuk bisa bertemu. Mereka harus menunggu, sampai Tuhan sendiri yang menyediakan jalan itu untuk mereka bisa memenuhi apa yang sudah ditentukan bagi mereka.

Si Bujang dan Si Gadis, cerita mereka belum berakhir sampai di situ. Setelah pertemuan ini pun, masih ada tantangan-tantangan besar yang harus mereka hadapi. Namun segala sesuatu memang ada saatnya. Ada saatnya menghadapi tantangan, dan ada saatnya juga untuk menang atas tantangan itu.

Bersambung ke seri #roadToMarch8 selanjutnyaโ€ฆ.

๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

PS:

Dari bagian cerita ini, bisa tahu kan ya sekarang dari mana saya mendapat ide memberi nama When Samosir meets Krones untuk blog ini? ๐Ÿ˜

Dan sekali lagi ingin mengingatkan bahwa komentar paling menarik di sepanjang seri ini, akan mendapat souvenir menarik dari saya ๐Ÿ˜˜. Mohon maaf untuk komentar-komentar yang belum sempat terbalas, saya janji ada saatnya saya akan membalas semua komentar yang masuk. Meski belum langsung dibalas, namun percayalah, bahwa semua komentar teman-teman turut menambah kebahagiaan di hidup saya. Terima kasih yaaa… untuk semua yang sudah mau berkomentar sampai saat ini. Tuhan memberkati! ๐Ÿ˜˜

 

Pandangan Pertama dan Pertemuan Kelima #roadToMarch8

Ini adalah episode ke-2, kalau belum membaca episode ke-1, singgah dulu ke situ yaaa….supaya seru bacanya, hehe…

Si Bujang

Siang menjelang sore hari itu, cuaca di Jakarta sedang panas-panasnya. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya di mana curah hujan di awal tahun cukup deras mengguyur kota, di hari itu matahari memilih untuk bersinar segarang-garangnya hingga membuat awan pun memilih menyingkir dari langit Jakarta dan menyerahkan sepenuhnya tugas melindungi langit kota dari sinar matahari pada kabut asap dari pabrik-pabrik serta kendaraan bermotor. Efeknya tentu berkebalikan, alih-alih menjadi teduh, asap dan polusi justru membuat udara semakin pengap di tengah cuaca panas itu.

Namun bagi dia, cuaca yang begitu panas serta udara yang pengap bukanlah hal yang menjadi persoalan, meski gara-gara itu dia sempat merasa sangat kegerahan. Pikiran dan perasaannya sedang terfokus pada hal lain sehingga tak punya waktu untuk memikirkan hal sepele semacam cuaca.

Dia sedang gelisah.

Hari itu, adalah hari di mana dia harus datang melapor ke salah satu kantor diklat yang dimiliki oleh BUMN yang belum lama ini mengirimi surat panggilan untuknya setelah dia dinyatakan lulus seleksi rekrutmen hingga di tahap terakhir. Hatinya sebenarnya belumย  benar-benar yakin dengan keputusan untuk bergabung dengan BUMN ini, dia masih gelisah, khawatir bila ternyata dia membuat keputusan yang salah. Dia telah mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja dan siang menjelang sore hari itu dia telah berada di pintu masuk gedung diklat di Slipi sebagaimana yang tercantum dalam surat panggilan.

Dalam surat tersebut juga sudah disebutkan bahwa diklat akan berlangsung selama kurang lebih dua bulan di beberapa tempat yang berbeda. Registrasi peserta diklat yang bersedia memenuhi panggilan dilakukan di gedung diklat di Slipi ini, selanjutnya esok harinya seluruh peserta akan dibawa ke Sukabumi untuk mengikuti pendidikan kesamaptaan selama kurang lebih sembilan hari yang kemudian akan dilanjutkan dengan pendidikan pengenalan perusahaan di gedung diklat di daerah Ragunan selama tiga hari sebelum kemudian seluruh peserta akan dikelompokkan sesuai dengan jurusan masing-masing untuk mengikuti diklat selama satu bulan di berbagai pusat diklat milik BUMN tersebut yang tersebar di pulau Jawa.

Hari itu, adalah hari terakhir untuk melaporkan diri dan dia memang sengaja menunggu sampai hari terakhir untuk datang ke kantor diklat di Slipi ini. Begitu tiba, dia mendapati lobi telah cukup padat oleh para peserta diklat. Meski jumlah calon pegawai yang diterima pada tahun ini lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya, namun tetap saja jumlah totalnya mencapai ratusan orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Dari suasana yang terlihat di lobi saat itu, sepertinya para peserta dari luar daerah sudah terlebih dahulu datang, mungkin mereka bahkan sudah tiba di sini dari sejak satu atau dua hari sebelumnya.

Setelah mengedarkan pandangan sejenak ke seluruh area lobi, dia pun segera menuju ke meja resepsionis. Tas ransel yang berisi pakaian serta berbagai keperluannya selama dua bulan ke depan, diletakkannya di lantai, lalu dia pun mengurus proses registrasi bersama petugas yang duduk di belakang meja resepsionis. Tak lama, namanya sudah resmi termasuk dalam daftar peserta diklat dan petugas di depannya pun menyerahkan tanda pengenal peserta serta informasi mengenai nomor kamar di gedung diklat tersebut yang akan dia inapi malam itu. Dia juga mendapat informasi bahwa dia akan berbagi kamar bersama lima orang peserta lainnya.

Merasa sudah mendapatkan informasi yang cukup, tanda pengenalnya pun dia masukkan ke dalam tas sebelum meletakkan tasnya kembali ke punggungnya. Sekali lagi dia mengedarkan pandangan dengan tujuan untuk mencari posisi lift agar bisa segera menuju ke kamarnya. Meski saat itu lobi sedang ramai, namun dia belum ada keinginan untuk berkenalan dengan peserta diklat yang lain. Urusan berkenalan bisa nanti jika perasaan hatinya sudah lebih baik, pikirnya.

Tak perlu mencari lama, matanya sudah bisa menangkap posisi lift yang hendak dia tuju. Sama seperti kondisi lobi, di depan lift juga terlihat cukup ramai orang yang sepertinya sedang antri untuk naik. Melihat kondisi yang ramai sempat membuatnya enggan untuk melangkahkan kaki ke situ, namun dia tahu bahwa kondisi ramai itu tak akan surut dengan segera, malah bisa jadi akan bertambah, karena itu dia pun akhirnya bergerak melangkah ke arah lift.

Baru dua langkah dia berjalan, dan langkahnya terhenti seketika.

Di antara para peserta yang sedang antri menunggu lift itu, ada seorang gadis yang terlihat cukup menonjol dibanding yang lainnya. Gadis itu memakai baju merah lengkap dengan kalung salib berbatu merah di lehernya. Rambutnya berwarna coklat dan terlihat agak kemerahan diterpa sinar matahari sore yang menembus masuk ke dalam lobi saat itu dan membuat anak-anak rambutnya seolah membentuk sinar halo di sekeliling kepalanya. Gadis itu terlihat sedang bercanda dengan teman di sampingnya, beberapa kali gadis itu tersenyum lebar membuat lesung di pipi kirinya tercetak dengan jelas.

Cantik.

Indah.

Namun bukanlah kenyataan bahwaย  gadis itu mungkin adalah gadis tercantik yang pernah dilihatnya yang membuat dia terpana hingga tanpa sadar menghentikan langkahnya, melainkan karena senyum gadis itu yang membuat dia terlempar pada suatu masa di belasan tahun silam.

Ketika itu dia masih berusia 9 tahun. Suatu hari, saat sedang dalam becak menuju ke rumah sepulang dari sekolah, dia yang merasa kelelahan dan antara mengantuk serta berusaha terjaga, tiba-tiba mendapatkan suatu visi dalam mimpi. Dalam mimpi setengah terjaga itu dia melihat sosok gadis yang beranjak remaja, berambut coklat agak kemerahan, dengan senyum ceria yang bagi dia sangat menarik. Tak hanya sosok gadis itu yang dia lihat, namun dia juga mendengar suara dalam kepalanya yang bilang bahwa kelak gadis inilah yang akan menjadi istrinya. Dia masih bocah cilik saat itu. Tidak mengerti apa-apa, termasuk urusan taksir menaksir lawan jenis. Namun mimpi yang dia dapatkan di siang hari itu, membuat dia merasa bahagia. Hingga beberapa hari selanjutnya dia masih bisa tersenyum-senyum sendiri ketika mengingat sosok gadis itu. Seiring waktu, dia kemudian berhenti memikirkan soal gadis dalam mimpinya itu. Namun berhenti memikirkan bukan berarti membuat memori akan itu hilang. Senyum gadis itu tetap terpatri dalam ingatannya. Bahkan hingga kini.

Dan sore itu, senyum yang sama kembali dilihatnya pada gadis berbaju merah di depan lift itu, seakan-akan gadis yang dilihatnya dalam mimpi belasan tahun itu telahย  menjelma menjadi sosok nyata yang kini berada tepat di depannya.

Wow…. Luar biasa, pikirnya.

Meski dia masih antara percaya dan tak percaya akan pengalaman aneh tapi nyata yang dia alami, namun instingnya mengatakan bahwa dia harus segera mengenal gadis itu. Saat itu juga. Sayang dia terlambat. Begitu dia tersadar, gadis itu sudah masuk ke dalam lift, hilang dari pandangannya.

Sial, pikirnya, tapi tak apa. Diklat belum resmi dimulai, masih banyak kesempatan lain untuk berkenalan.

Menjelang malam hari dan semua peserta diminta berkumpul di aula untuk mendapatkan penjelasan mengenai proses diklat yang akan berlangsung, di antara ratusan peserta yang hadir, dia kembali melihat gadis itu. Namun lagi-lagi, kesempatan untuk berkenalan belum bisa dia dapatkan.

Selesai dari aula, mereka menuju ke ruang makan untuk makan malam. Dari jauh, dia terus memperhatikan gadis yang tampaknya selalu berombongan dengan teman-temannya itu. Ingin sekali dia segera berkenalan, tapi entah kenapa selalu ada saja yang menghalangi.

Malam hari, menjelang tidur, dia bercakap-cakap dengan teman-temannya sekamar. Salah satu tema obrolan laki-laki tentu adalah tentang pacar.

“Kalo lo gimana?”, tanya salah satu temannya, “Pacar lo di mana? Cuma satu apa banyak?”

Menanggapinya dia tertawa.

Pacar….

Dia belum lama putus dari pacarnya selama dua tahun. Meski peristiwa putus itu belum lama, namun ketika ditanya tentang pacar saat itu, yang terlintas dalam benaknya justru bukan mantan pacarnya, melainkan gadis berbaju merah di depan lift tadi, membuat dia langsung berucap jujur, “Kalo pacar lagi gak punya. Tapi yang lagi gua suka ada, di sini orangnya. Eh lu tau gak sih cewek yang rambutnya coklat-coklat agak merah itu?”

“Yang cewek Manado itu ya? Taulah! Tadi kenalan sama dia, anak SI,” salah satu temannya langsung menjawab.ย 

“Iya, gua juga tau,” temannya yang lain menimpali, “Cantik emang. Lu suka dia? Udah punya pacar dianya, bro!”

Mendengar itu, dia hanya bisa terdiam.

Informasi tanpa tedeng aling-aling dari temannya itu memang tak dapat disangkal mematahkan hatinya. Sampai hendak tidur pun dia masih terus memikirkan tentang itu, namun dia berusaha menyemangati diri. “Tenang saja,” dia berkata pada jiwanya, “Jika memang benar dialah jodohmu, sebagaimana suara yang dulu kau dengar itu, maka Tuhan yang akan menolongmu mendapatkannya.

Esok harinya, seluruh peserta diklat bersiap untuk menaiki bus yang akan membawa mereka ke Sukabumi. Gadis berbaju merah kemarin, hari ini berbaju ungu. Dia tahu, tentu saja, karena lagi-lagi dia memperhatikan gadis itu dari jauh. Sama seperti kemarin, gadis itu banyak tersenyum dan pagi ini di bawah sinar matahari langsung, rambutnya terlihat lebih coklat terang.ย 

Dia masih terus memandang dan memperhatikan gadis itu ketika tiba-tiba dia merasa pundaknya ditepuk dari belakang. Ketika dia menoleh, dia mendapati bahwa yang menepuk pundaknya adalah salah satu peserta diklat yang sempat berkenalan dengannya di ruang makan semalam yang ternyata sampai menepuk pundaknya hanya untuk memberikan informasi yang sudah dia tahu sebelumnya bahwa gadis yang sedang dia pandangi itu telah memiliki pacar. Seharusnya dia malu karena tertangkap basah sedang memperhatikan gadis itu, tapi dia tidak peduli. Dia juga sebenarnya tidak bertanya dan tidak meminta informasi tentang pacar gadis itu, tapi temannya yang tadi menepuk pundaknya memberikan informasi itu dengan sukarela bahkan sampai menunjukkan yang mana orangnya.

Pacar gadis itu ternyata ada di sini juga sebagai salah satu peserta diklat.

Pada akhirnya, informasi itu membuat dia hanya bisa menghela napas panjang.

Belum sampai satu malam dan setengah hari berada di lingkungan program diklat ini dan dia sudah mendapat banyak kejutan, yang tak ada hubungannya dengan pekerjaan. Bila dipikir, betapa ironisnya yang dia alami sekarang ini. Datang ke sini bukan murni atas keinginan sendiri, lalu di sini ternyata dia bertemu (tepatnya melihat, koreksinya dalam hati, karena toh sebenarnya dia dan gadis itu belum benar-benar ‘bertemu’) dengan gadis yang pernah ada di mimpinya belasan tahun yang lalu yang dia yakini adalah orang yang memang Tuhan ciptakan untuknya, hanya untuk mengetahui bahwa gadis itu sudah memiliki kekasih yang sungguh pas, berada di sini juga.

Napas panjang yang dia hela tadi kemudian dia buang dengan perlahan.

Tidak apa-apa, katanya dalam hati, sekali lagi berusaha menguatkan diri. Jodoh itu Tuhan yang atur. Jika memang benar gadis itu adalah jodohnya, maka Tuhan yang akan beri jalan. Untuk sekarang ini, jangankan untuk mendekati, sekedar resmi berkenalan pun tidak terlalu diminatinya lagi. Melihat dari jauh saja sudah cukup membuat hatinya patah, apalagi jika nanti menjadi dekat dan tahu bahwa dia tidak bisa memiliki gadis itu. Lebih baik menjaga jarak dulu. Hubungan gadis itu dengan pacarnya juga harus dia hormati. Lagipula jalan masih panjang, setelah diklat ini selesai pun dia tidak tahu akan ditempatkan di mana dan sudah seharusnya urusan penempatan itu lebih dia pikirkan dan doakan daripada gadis itu. Untuk sekarang, dia sudah cukup puas dengan hanya mengetahui nama gadis itu lewat informasi dari teman-teman sekamarnya. Jika memang benar gadis itu diciptakan Tuhan untuknya, maka cepat atau lambat jalan mereka akan bertemu.

Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di depan. Siapa tahu, bisa saja, justru mereka berdua ditempatkan di wilayah kerja yang sama, pikirnya optimis sebelum beranjak naik ke dalam bus yang sudah ditentukan untuknya.

*****

Si Gadis

Dia sedang berada dalam bus yang membawanya dari sebuah kampus di Jakarta Pusat menuju ke asrama diklat di Slipi yang selama dua hari terakhir menjadi tempatnya menginap. Hari itu adalah hari terakhir dari rangkaian diklat yang sudah diikutinya selama dua bulan terakhir dan tadi malam penempatan tugas telah diumumkan. Dia mendapat penempatan tugas di Palembang. Besok, dia akan kembali untuk beberapa hari di Manado sebelum berangkat kembali menuju ke tempat tugasnya.

Rasanya tak percaya bahwa dia sudah berhasil melewati waktu dua bulan ini. Melihat keluar jendela bus, melihat satu per satu gedung tinggi terlewati, dia ingin tersenyum, bersyukur untuk semua yang sudah dia jalani.

Dia bersyukur sudah berhasil melewati waktu-waktu yang begitu berat selama mengikuti diklat kesamaptaan di bawah bimbingan kepolisian. Diklat yang betul-betul menguji fisik serta mentalnya. Diklat yang selalu membuatnya teringat pada sepatu tentara…. Aaahh…mengingat tentang sepatu khas militer itu sungguh membuat dia meringis. Sepatu itulah ujian yang paling terasa berat untuknya. Berat dalam pengertian yang sebenarnya, karena bobotnya yang memang berat. Ditambah ukuran yang kebesaran, membuat dia sangat kesulitan ketika berjalan apalagi saat mereka harus mengikuti long march menyusuri jalur yang berbukit. Kakinya serasa mau copot saat itu.

Syukurlah kakinya bisa bertahan, namun tidak dengan kuku di jempol kirinya.

Diklat kesamaptaan itu berat, terbukti pada kuku kakinya yang copot dan kulitnya yang menggelap. Namun seberat-beratnya, tetap saja ada hal manis untuk dikenang, salah satunya adalah sesuatu yang menjadi highlight hari-harinya selama berada di asrama sekolah kepolisian itu. Setiap kali dia kebetulan melewati suatu kompi yang mana hingga kini pun tidak pernah bisa dia pastikan apa nama kompinya (semua peserta diklat dibagi dalam beberapa kelompok (kompi) dan masing-masing kelompok dibagi lagi menjadi beberapa kelompok kecil (peleton)), maka seluruh anggota dalam kompi yang kebanyakan laki-laki itu akan bernyanyi, “Rambut merah siapa yang punya….rambut merah siapa yang punya….”

Mengingat kompi itu serta lagu yang mereka nyanyikan membuat dia tersenyum kecil. Entah ulah siapa sampai mereka harus menyanyikan lagu itu setiap kali dia lewat di depan kompi mereka. Dia tahu lagu itu ditujukan untuknya, tapi tidak begitu peduli bahkan setiap kali mereka menyanyikan itu pun dia tidak pernah menoleh, namun karena setiap hari terjadi maka tanpa sadar momen-momen ketika mereka menyanyikan lagu itu saat dia lewat di depan kompi mereka, telah menjadi highlight bagi hari-harinya yang berat selama diklat kesamaptaan itu.

Setelah lewat masa sembilan hari di Sukabumi, dia dan seluruh peserta diklat dibawa kembali ke Jakarta di mana dia kembali menginap di Slipi. Kali ini di Jakarta dalam rangka diklat pengenalan perusahaan yang diadakan di gedung diklat di Ragunan. Kali ini tidak ada yang berat, dia bahkan menikmati perjalanan pulang-pergi Slipi – Ragunan dengan bus yang disediakan kantor setiap hari selama tiga hari itu. Dia menikmati, karena di sepanjang jalan dia bisa tidur. Ah, tidur dalam perjalanan tanpa rasa khawatir, selalu adalah merupakan kenikmatan untuknya.

Selesai dengan diklat selama tiga hari di Jakarta itu, dia dan teman-temannya yang lain yang sejurusan kemudian dibawa untuk mengikuti diklat pembidangan di unit diklat di Semarang. Kali ini diklatnya cukup lama, yaitu selama satu bulan.

Mengingat masa diklat itu membuat dia menghela napas panjang.

Bukan karena diklatnya yang berat, karena sesungguhnya dia bisa melewati semuanya dengan sangat baik. Yang berat adalah karena selagi dia jauh di Semarang, keluarganya di Manado justru sedang menghadapi persoalan yang serius yang membuatnya hampir setiap malam tidak bisa tidur memikirkan bagaimana mereka di sana. Tidak hanya itu yang menjadi beban pikirannya, dia juga harus memikirkan tentang hubungannya dengan pacarnya yang selama mereka berada di Semarang justru semakin memburuk. Dia sadar, kondisi yang memburuk itu sebagian besar karena kesalahannya. Dia yang semakin yakin bahwa tak ada masa depan untuk mereka berdua, semakin lama tanpa sadar semakin menciptakan jarak di antara mereka.

Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan hubungan mereka.

Putus atau lanjut?

Aaarrgghh…. Kepalanya selalu terasa buntu setiap kali memikirkan soal itu sehingga setiap kali dia merasa harus segera mengambil keputusan, dia lebih memilih untuk menghindar dan memberikan alasan pada dirinya sendiri bahwa adalah hal lain yang lebih prioritas untuk dipikirkan, seperti tentang masalah keluarga yang sedang terjadi juga tentang bagaimana melewati masa diklat prajabatan ini dengan baik.

Seharusnya setelah selesai diklat di Semarang, mereka sudah bisa langsung kembali ke daerah asal masing-masing untuk bersiap menuju ke tempat penugasan. Namun ternyata, di hari terakhir diklat, mereka mendapat kabar kalau ada diklat tambahan selama dua hari yang harus diikuti. Diklat itu akan diadakan di sebuah kampus yang terletak di Jakarta Pusat. Tidak hanya itu pengumuman yang mereka terima di hari terakhir diklat di Semarang, mereka juga mendapat informasi bahwa pembagian penempatan kerja akan diumumkan setelah mereka berada di Jakarta. Karena itulah, kini dia kembali berada di Jakarta.

Tadi malam, pengumuman itu sudah diedarkan. Dia mendapat penempatan di Palembang. Pacarnya? Di Papua.

Luar biasa. Jauh sekali. Kini dia tak perlu lagi membuat jarak, karena nasib mereka sepertinya sudah diatur untuk memiliki jarak…..yang sangat jauh.

Dan tadi, ketika selesai pembelajaran terakhir, dia sempat berkumpul bersama rekan-rekan yang juga mendapat penempatan tugas di Palembang dan daerah sekitarnya. Mereka berkoordinasi tentang kapan akan datang ke Palembang, akan tinggal di mana, dan sebagainya.

Mengingat pertemuan tadi membuat dia lagi-lagi menghela napas panjang. Kali ini bukan karena memori yang tidak mengenakkan, namun karena ada sesuatu yang terjadi dalam pertemuan tadi yang membuat dia terkejut dengan dirinya sendiri, hingga menyisakan kebingungan yang tak terpecahkan hingga kini.

Tadi, selesai pertemuan kecil dengan rekan-rekannya yang sama-sama mendapatkan penempatan tugas di Palembang dan sekitarnya, sebelum mereka beranjak pergi, ada seseorang yang mengajaknya bicara.

Dia tahu orang itu. Mereka sudah pernah beberapa kali bertemu. Mereka juga sudah pernah berkenalan…

Walaupun sampai sekarang dia tidak bisa mengingat nama orang itu.

Yang membuatnya terkejut dengan dirinya sendiri adalah karena ketika berbicara dengan orang itu, tiba-tiba ada perasaan kedekatan yang muncul seolah-olah mereka berdua telah lama saling mengenal dengan sangat dekat.

Begitu dekat, hingga dia seakan tahu dengan pasti bahwa pelukan orang itu sangat hangat dan bisa memberi rasa tenang dari segala permasalahan yang sedang dia hadapi kini sehingga membuatnya ingin saat itu juga berada dalam pelukan orang itu.

Sungguh mengejutkan dan tak masuk di akal.

Bagaimana mungkin dia tidak tahu nama orang itu, namun hatinya bisa tahu bagaimana rasa berada dalam pelukannya?

Dan ya Tuhan, kenapa pula dia tiba-tiba ingin dipeluk oleh orang asing?

Apa-apaan?

Kenapa bisa ada perasaan seperti itu?

Perasaan yang tiba-tiba muncul itu begitu mengejutkan, membuat dia beberapa saat gugup dan merasa malu. Bukan pada orang itu. Tapi pada dirinya sendiri. Dia yakin, orang itu juga pasti sempat menangkap perubahan ekspresi pada wajahnya yang awalnya normal namun tiba-tiba berubah antara terkejut, gugup, dan malu.

Syukurlah mereka tidak lama-lama berbicara berdua, walaupun lagi-lagi hatinya yang rupanya sedang sangat aneh itu tiba-tiba saja ingin berlama-lama berada di dekat orang itu. Hah! Malu sekali dia dengan hatinya sendiri. Syukurlah orang itu tidak bisa membaca apa yang dirasakan oleh hatinya, coba kalau bisa, rasanya dia lebih baik menciut dan hilang di balik kaki kursi saja daripada menanggung malu.

Perasaan aneh itu baru sekali ini dia rasakan, meskipun dia sudah beberapa kali berpacaran, membuat dia berpikir, wajarkah perasaan yang seperti ini?

Ah, Tuhan…..ย 

Masih kurangkah permasalahan yang dia hadapi yang membuat hatinya galau hingga harus ditambah lagi masalah tentang perasaan hati yang tiba-tiba aneh seperti ini?

Saat itu, di dalam bus itu, dia ingin sekali bisa menepis perasaan yang dia rasakan tadi. Permasalahannya sedang banyak, dia tidak punya waktu untuk permasalahan yang baru lagi. Tapi antara keinginan, pikiran, dan hatinya, saat itu sedang saling bertentangan. Meskipun dia ingin melupakan, tapi hatinya terus merasa rindu bertemu lagi dengan orang itu, dan pikirannya terus berusaha membawa dia mengingat siapa nama orang itu.

Dia pun tak kuasa untuk tidak mengingat-ingat kembali setiap momen pertemuan dengan orang itu.

Pertama kali mereka bertemu adalah di minggu pertama diklat kesamaptaan. Ketika itu mereka sedang mengikuti ibadah di Gereja di hari Jumat siang. Dalam ibadah itu, para peserta diklat prajabatan diminta untuk membawakan puji-pujian. Tidak banyak peserta diklat prajabatan yang beragama Kristiani, karena itu mereka semua duduk berdekatan sehingga memudahkan untuk berdiskusi tentang lagu apa yang akan mereka bawakan. Teman-teman di sekelilingnya memberikan usul lagu, termasuk orang yang duduk di belakangnya. Usulan lagu dari orang di belakangnya itu menarik perhatiannya karena itu dia pun menoleh ke belakang. Saat itulah untuk pertama kalinya dia berhadapan muka dengan muka dengan orang itu. Kesan pertama yang dia dapat, adalah orang itu mukanya ganteng. Mereka sempat saling bertatapan tapi hanya sekian detik saja, sebentar saja orang itu sudah mengalihkan pandangan dan melanjutkan diskusi tentang lagu bersama rekan-rekannya yang lain. Pada satu momen diskusi, dia sempat berkenalan dengan orang itu. Pertama kali orang itu menyebutkan namanya, dia tidak mendengarnya dengan jelas karena tertutup oleh suara pemimpin ibadah. Beberapa saat kemudian, dia memberanikan diri bertanya lagi pada orang itu siapa namanya. Orang itu, meski wajahnya terlihat terganggu karena harus mengulang menyebut namanya, tapi masih berbaik hati menyebut namanya kembali.

Yang mana nama itu kemudian dia lupakan.

Kedua kali mereka bertemu adalah ketika berada di kantin pada suatu malam. Saat itu kegiatan kesamaptaan sudah selesai untuk hari itu sehingga para peserta pun memiliki waktu istirahat sejenak sebelum batas jam malam tiba di mana mereka sudah harus berada dalam kamar. Malam itu dia ke kantin hanya untuk menikmati kopi bersama satu orang teman perempuannya. Bersama mereka, di meja berukuran panjang yang sama juga duduk banyak peserta lain, termasuk orang itu. Tidak banyak yang bisa dia ingat dari pembicaraan diselimuti candaan di malam itu. Namun yang dia tahu adalah bahwa sepanjang berada di kantin itu, tidak pernah satu kali pun orang itu berbicara langsung dengannya.

Ketiga kali mereka bertemu adalah ketika sudah berada di Jakarta untuk mengikuti diklat pengenalan perusahaan. Pada satu momen, dia duduk di belakang orang itu. Kenapa dia tahu orang itu duduk di depannya? Karena orang itu sempat beberapa kali bercanda dengan teman perempuannya yang duduk di sampingnya hingga membuat temannya itu beberapa kali tertawa terbahak-bahak membuat dia yang tidak mengerti apa yang sedang mereka candai hanya bisa diam saja. Saat itu, tak sekali pun orang itu mengajaknya bicara atau bahkan sekedar menyapanya.

Keempat kali mereka bertemu adalah di kantin saat diklat pengenalan perusahaan. Waktu itu dia merasa sangat mengantuk hingga mengajak satu orang teman perempuannya untuk diam-diam pergi ke kantin di tengah pembelajaran sedang berlangsung. Dia benar-benar merasa butuh kopi pada saat itu. Untunglah temannya mau menemani dia. Begitu tiba di kantin, ternyata orang itu bersama beberapa rekan yang lain ada di situ juga. Orang itu terlihat kaget melihat dia datang, dan ketika dia sedang menikmati kopinya, orang itu sempat mengajaknya berbicara sebentar. Apa yang dibicarakan lagi-lagi dia lupa, tapi dia ingat dia sempat lagi-lagi menanyakan nama orang itu yang membuat orang itu sempat melihatnya dengan pandangan aneh, namun dia tetap menyebutkan namanya.

Yang kemudian lagi-lagi dia lupakan.

Sejauh yang dia tahu, orang itu memang tidak pernah masuk dalam pikirannya. Sepertinya baginya orang itu hanyalah satu dari sekian ratus rekan dalam diklat prajabatan ini. Iya, dia ganteng, bahkan kalau mau jujur, dia adalah orang terganteng yang pernah bertemu langsung dengannya. Tapi meski begitu, dia tetaplah bukan orang yang penting, karena itu otaknya pun tidak pernah merasa perlu untuk mengingat namanya.

Namun anehnya, jika memang benar dia tidak penting, lalu mengapa di antara sekian ratus rekan diklat prajabatannya ini, hanya dengan dia setiap momen pertemuan yang tidak banyak itu bisa terekam dengan sangat baik. Entahkah mereka berbicara langsung atau tidak, namun asal orang itu ada di dekatnya, otaknya merekam momen itu dengan baik.

Yang mengejutkan, ketika mengingat kembali momen-momen pertemuan mereka itu, otaknya ternyata bahkan merekam setiap sorot pandangan yang diberikan orang itu untuknya. Pertama kali mereka bertemu dan berbicara, dalam beberapa detik mata mereka bertemu, dia bisa melihat dari sorot mata orang itu ada kesan kaget karena dia tiba-tiba menoleh ke belakang dan mengajak orang itu berbicara. Setelah itu sorot matanya terlihat lekat memandangnya seperti ingin merekam wajahnya baik-baik. Namun setelah itu seketika orang itu berpaling dan ketika melihat ke arahnya lagi, sorot matanya terlihat tak peduli, membuat dia berpikir mungkin dia hanya berkhayal saja tentang sorot mata yang memandangnya lekat-lekat tadi. Kedua kali mereka bertemu di kantin malam hari itu, meski mereka berdua tidak berbicara langsung, namun pada beberapa kesempatan mata mereka bertemu, sorot mata orang itu seolah menyiratkan seperti ingin mengatakan sesuatu. Ketiga kali bertemu, ketika dia duduk di belakang orang itu…. Ah, tak ada yang bisa dia ingat karena tak pernah sekalipun orang itu menoleh ke arahnya. Keempat kali ketika mereka bertemu di kantin saat diklat pengenalan perusahaan, begitu melihatnya datang, orang itu terlihat senang namun ketika mereka berbicara dan dia menanyakan kembali nama orang itu, di situ sorot matanya langsung terlihat bosan, tidak tertarik, dan ada kesan…..kecewa?ย 

Lihatlah, sungguh aneh kan? Orang itu seharusnya tidak penting buatnya. Selama diklat ini berlangsung sampai dua bulan, tidak pernah sekalipun dia mengingat orang itu. Bahkan namanya saja dia lupa, saking keberadaan orang itu tidak penting untuk dia. Tapi mengapa semua momen dengan orang itu seperti direkam dengan sangat baik oleh prosesor di kepalanya? Sungguh mengherankan.

Bila ditotal, mereka baru bertemu sebanyak lima kali.

Empat pertemuan pertama tidak meninggalkan kesan apa-apa, meskipun otaknya ternyata secara tak sadar mengingat semuanya. Namun di pertemuan kelima, tidak saja hanya kesan yang dia dapat, namun juga muncul perasaan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya dan yang tidak bisa sama sekali dia jelaskan dari mana datangnya, apa sebabnya, apa artinya….

Di dalam bus yang membawanya kembali ke asrama di unit diklat Slipi itu, perasaannya terus berkecamuk. Segala situasi yang terjadi membuatnya bingung. Dia ingin bercerita, tapi dia tahu tidak ada teman untuknya bercerita saat ini. Bagaimana mungkin dia bisa cerita, jika dia sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang dia rasakan? Dan apa pula yang akan dipikirkan oleh temannya bila dia bercerita tentang perasaan kedekatan yang tiba-tiba muncul dalam hatinya terhadap orang asing di saat dia sebenarnya punya pacar dan bahkan pacarnya pun berada tidak jauh dari situ? Ah, tidak….tidak… Tidak ada satu pun temannya yang akan paham. Jangankan mengerti, yang adanya mereka hanya akan menganggap dia yang tidak-tidak.

Dan apalagi jika mereka tahu, bahwa ketika dia sudah sadar bahwa tidak seharusnya dia memiliki perasaan seperti itu dengan orang asing, yang dia terus pikirkan justru adalah siapa nama orang itu dan kapan mereka bisa bertemu lagi.

Ah Tuhan….

Kembali dia menghela napas panjang, apa yang terjadi dengannya?

Sempat terpikir olehnya, andaikan kakaknya bisa dihubungi, maka mungkin kakaknya bisa membantu memecahkan misteri dalam hati dan pikirannya saat itu. Namun sayang, kakaknya sendiri sedang jauh dari jangkauannya, bahkan untuk dihubungi lewat telepon pun tidak bisa.

Dia merasa sangat sendiri.

Tapi tidak mengapa, pikirnya. Orang itu mendapat penempatan tugas di wilayah yang sama dengannya, yang berarti mereka akan segera bertemu kembali dan dia yakin pertemuan mereka nanti akan menjawab semua misteri ini. Dia akan segera tahu apa arti perasaan dekat yang dia rasakan ketika bertemu orang itu tadi. Dia juga akan segera tahu mengapa dia tiba-tiba ingin berada dalam pelukan orang itu. Dan tentu saja, satu hal yang pasti, ketika mereka bertemu maka dia akan segera tahu siapa nama orang itu dan dia berjanji jika saat itu tiba, nama orang itu tidak akan dia lupakan lagi.

Pada akhirnya, dalam sisa perjalanan dengan bus itu, dia bisa tersenyum kembali. Dia masih belum tahu apa yang akan terjadi di depan, namun semangat dalam hatinya telah terbit, dia siap untuk menyambut kehidupan yang baru yang terpampang di hadapannya.

*****

Si Gadis dan Si Bujang, mereka memang tidak bertemu dalam situasi yang biasa-biasa saja. Sedari awal mereka sudah menghadapi tantangan. Namun sebesar apapun tantangan itu, yang sudah diciptakan untuk bersama, pada akhirnya akan tetap saling memiliki.

Bersambung ke seri #roadToMarch8 selanjutnyaโ€ฆ.

๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

PS:

Sekali lagi ingin memberikan informasi bahwa komentar paling menarik di sepanjang seri ini, akan mendapat souvenir menarik dari saya ๐Ÿ˜˜.

Ssst….. Dengar-Dengaran Saja Dulu….. #roadToMarch8

Si Gadis

“Ba dengar-dengar kwa ngana anak, susah ngana pe hidop nanti, kasiang anak eeee, kalo nintau ba dengar pa orangtua….”

Kalimat itu, adalah kalimat yang paling sering didengarnya dari sejak kecil hingga di usianya yang hampir dua puluh tiga tahun ini. Di antara kakak beradiknya, dia memang yang paling bandel sejak kecil. Perempuan tapi tomboy, hobinya memanjat pohon, bermain di sungai, berkelahi dengan teman lelaki, dan beradu argumen dengan papa mamanya meski dia tahu bahwa melawan mereka bisa berakibat pada kakinya dicium mesra oleh ikat pinggang papa atau kemoceng mama. Seiring dia besar, perilaku tomboy makin berkurang dan tanpa sadar dia mulai menjadi gadis yang gemulai. Rambut yang tadinya pendek sekarang selalu dibiarkannya panjang bahkan beberapa kali hampir menyentuh pinggang. Lari-larian dan memanjat pohon tidak lagi menjadi hobinya karena sekarang dia lebih suka berpakaian modis dan membaca gosip di tabloid remaja. Namun meski begitu, tak berarti dia sudah berubah menjadi anak yang mau menuruti kata orangtua. Sudah dibilang tidak boleh berpacaran selama sekolah, namun masih kelas 1 SMA pun dia sudah mengenal arti punya pacar yang berujung pada papanya marah besar dan memberi ultimatum untuknya, pilih pacar atau sekolah. Saat itu dia memilih sekolah. Meskipun ketika berada di kelas 3 SMA, lagi-lagi dia memiliki pacar.

Sejak kecil, dia anak gadis yang termasuk bandel serta keras kepala. Dan kalimat di atas itu akan selalu keluar dari mulut mamanya setiap kali dia bermasalah hingga harus mendapat ceramah berujung hukuman dari orangtua.

Saking seringnya kalimat itu dia dengar, tanpa sadar seiring dia dewasa, kalimat itu terpatri dalam pikirannya hingga kemanapun dia melangkah dia selalu seperti mendengar mamanya mengucapkan kalimat itu.

Dan kalimat itulah yang kini dia dengar dalam pikirannya, ketika di suatu hari menjelang tengah malam setelah dia pulang dari pekerjaannya sebagai IT Administrator di salah satu perusahaan ritel, dia diajak berbicara serius oleh papanya tentang masa depan dan terutama tentang pekerjaannya.

“Kapan kamu mulai kerja di kampus?” Papanya bertanya waktu itu.

“Kalau semester baru sudah mau mulai, pa, sekitar satu bulan lagi,” jawabnya sambil berharap agar percakapan ini segera selesai karena yang dia inginkan adalah segera tidur mengingat besok dia mendapat shift pagi.

“Kalau tinggal sebulan lagi, maka berhentilah dari pekerjaan ini.”

Seperti biasa, papanya tidak pernah berbasa-basi dengannya. Terlalu sering beradu argumen dari sejak dia kecil membuat di antara mereka tidak pernah ada basa-basi, hal yang tanpa sadar membuat kedekatan khusus dalam hubungan ayah dan anak perempuan di antara mereka.

“Sayanglah pa, di pekerjaan ini ada pengalaman….,” dia mencoba untuk kembali berargumen namun seperti yang biasa terjadi, argumentasinya selalu dengan mudah dipatahkan oleh papanya.

“Tidak ada sayang!” Papanya langsung memotong, “Benar pun yang kamu bilang bisa mendapat pengalaman di pekerjaan ini, tapi resikonya jauh lebih besar dari keuntungannya. Papa tidak rela anak gadis papa dalam seminggu bisa beberapa kali pulang hampir tengah malam. Bukan masalah gajinya kecil, walau papa tahu kamu bisa dapat pekerjaan yang lebih baik, tapi resiko pekerjaannya terlalu besar. Kalau ada apa-apa dengan kamu, hati papa yang hancur tapi yang punya ritel itu mana akan peduli?”

Dia sebenarnya masih ingin berargumen lagi, bahwa dia sudah besar, kuliah sudah selesai tinggal menunggu wisuda, karena itu seharusnya dia sudah bisa membuat keputusan sendiri dan bukankah seharusnya orangtuanya bersyukur bahwa bahkan sebelum dia menerima surat lulus dari kampus pun dia sudah mendapat tawaran bekerja dari perusahaan ritel ini. Dia juga tahu pekerjaan ini hanya akan menjadi sangat sementara buat dia karena tawaran mengajar di kampus pun sudah ada dan dia sudah berencana akan berhenti ketika dia mulai bekerja di kampus. Rencananya tidak hanya sampai di situ, dia juga sedang mencari bahan untuk proposal penelitian S2 nanti karena dia sudah berencana akan melamar untuk beasiswa S2 di luar negeri.

Dia masih ingin berargumen, bahwa biarkanlah semua proses ini dia lalui. Bekerja sebagai staf biasa di sebuah perusahaan ritel memang bukan pekerjaan impian, tapi bukankah di situ juga ada pengalaman? Namun semua argumen itu dia tahan, karena dia tahu bahwa di satu sisi papanya juga benar. Pekerjaan ini beresiko besar, dalam seminggu bisa paling sedikit dua kali dia mendapat shift dengan durasi dari siang sampai malam dan sebagai IT Administrator dia tidak bisa pulang sebelum semua pembukuan hari itu selesai terproses di dalam server. Sejauh ini papanya yang selalu menjemputnya setiap kali dia harus pulang hampir tengah malam. Dari raut muka papanya setiap kali menunggu dia di depan tangga pintu depan perusahaan ritel itu, dia mengerti kalau papanya tidak suka. Bukan tidak suka menjemput anak gadisnya. Tapi tidak suka dengan ritme pekerjaan anak gadisnya yang seperti ini, yang tidak sehat dan yang tidak aman.

Saat itu, lagi-lagi kalimat yang sering diucapkan mamanya itu terngiang di kepalanya, dia pun tahu mungkin dulu dia sering tidak mendengar orangtua, namun sudah saatnya kali ini dia mendengarkan mereka.

Keesokan harinya dia menyampaikan surat pengunduran diri dari perusahaan ritel itu.

Tak lama berselang, papanya mendapat kabar mengenai rekrutmen di dua perusahaan BUMN. Dengan semangat menggebu-gebu, papanya pun menyuruh dia untuk mengajukan lamaran. Saat itu, dia sudah mulai menikmati pekerjaannya di kampus. Mengajar adalah salah satu hal yang dia senangi dan dia sudah terbiasa mengajar di depan adik-adik tingkatnya sebagai asisten dosen ketika dia masih berstatus mahasiswa, karena itu dia tidak lagi mengalami kesulitan dalam mengajar sekarang ini, bahkan dia sangat menikmatinya hingga di titik di mana dia yakin bahwa inilah yang ingin dia kerjakan di hidupnya. Karena itu, ketika papanya menyuruh dia mengajukan lamaran di dua perusahaan BUMN itu, rasanya dia ingin berteriak bahwa dia tidak ingin, bahwa bukan itu yang menjadi cita-citanya. Dia ingin mengajar di kampus dan ingin melanjutkan pendidikan sampai S3 di luar negeri.

Dia mencoba berargumen lagi dengan papanya bahkan sampai menggunakan alasan bahwa ijazah resmi dari kampus belum keluar, yang ada baru surat keterangan lulus saja, dan bahkan wisuda pun baru akan diadakan di bulan depan nanti. Tapi papanya tetap berkeras, tetap yakin bahwa surat keterangan lulus pun sudah lebih dari cukup untuk memenuhi syarat lamaran.

“IPK-mu yang 3,98 itu sudah menjadi jaminan bahwa berkasmu bisa diterima,” kata papanya waktu itu.

“Tapi pa, cita-citaku mengajar di kampus…….,” dia berucap lirih.

Mendengar itu, dia sempat melihat ada rasa simpati yang berkelebat di mata coklat papanya. Tapi hanya sebentar saja karena sedetik kemudian mata papanya kembali melihat dia dengan tajam. Tatapan yang sudah terbiasa dilihatnya dari sejak dia kecil, tatapan yang dia tahu bisa mengintimidasi orang lain, namun yang mereka berdua tahu tatapan tajam itu justru mengisyaratkan betapa papanya mengasihi dia dan hanya menginginkan yang terbaik untuknya.

“Ikuti saja dulu, jika memang rencana Tuhan adalah kamu bekerja di BUMN, maka pasti kamu akan lulus. Tahapan tesnya kan banyak. Tapi jika memang rencana Tuhan untukmu adalah sesuai dengan cita-citamu, maka pasti kamu gagal dalam seleksi ini,” demikian akhirnya papanya berucap.

Mendengar itu, lagi-lagi kalimat yang sering diucapkan mamanya terngiang di kepalanya dan lagi-lagi dia tahu bahwa keputusan yang harus dia ambil adalah mengikuti kata-kata papanya. Dia tidak tahu mengapa, namun yang dia rasakan saat itu adalah salah satu hal yang bisa membuktikan pada orangtuanya bahwa dia sekarang sudah dewasa justru dengan mulai menunjukkan pada mereka bahwa dia bukan lagi sosok yang keras kepala seperti dulu karena itu dia mau mendengarkan mereka.

Lamaran pun dia ajukan ke dua perusahaan BUMN yang sedang membuka rekrutmen itu. Yang satu tesnya diadakan di Manado, sementara yang satu di Jakarta. Dia pun harus mengatur waktu mengikuti tahap seleksi demi seleksi di dua kota yang berbeda sambil tetap mengajar di kampus. Semua tahapan seleksi diikutinya tanpa persiapan sama sekali. Prinsipnya apapun yang terjadi, terjadilah. Jika ini rencana Tuhan maka dia pasti lulus tahap demi tahap. Kedua proses rekrutmen itu hampir sama tahapan seleksinya, namun yang diselenggarakan di Manado memiliki jarak antar tahapan yang lebih pendek sehingga jangka waktu seleksinya pun lebih singkat. Ketika dia sedang berada di Jakarta untuk mengikuti seleksi tahap kedua di sana, dia sudah mendapatkan pengumuman untuk mengikuti seleksi tahap keenam di Manado yaitu wawancara. Sekian ribu yang melamar saat itu untuk kota Manado, di setiap tahap seleksi pun jumlahnya semakin berkurang, hingga memasuki tahap keenam yaitu wawancara, yang tersisa tidak sampai dua puluh orang.

Dia sendiri heran mengapa dia bisa lulus tahapan demi tahapan itu, karena semua benar-benar tanpa persiapan dan tanpa ada tekad yang kuat untuk lulus. Setiap ada pengumuman lulus ke tahap seleksi berikutnya, dia hanya datang, duduk mengikuti tes, mengisi lembar kerja demi lembar kerja, terlibat dalam kelompok diskusi, dan sebagainya, lalu pulang. Semua dilakukan tanpa ada ambisi untuk lulus di tahap itu. Karena itu adalah sebuah kejutan ketika setiap kali pengumuman hasil seleksi keluar, namanya tercantum sebagai peserta yang lulus.

Ketika wawancara pun, dia tidak mempersiapkan diri dengan baik. Ketika peserta yang lain bahkan sampai menghapal nama-nama direksi, dia hanya duduk diam mendengarkan. Dan terbukti memang, dalam wawancara tidak sekalipun pewawancaranya bertanya mengenai nama direksi. Seperti dugaannya, pewawancara hanya ingin mengenal karakternya saja.

Hasil dari wawancara itu, ternyata dia lulus. Dilanjutkan dengan tes di tahapan terakhir, yaitu kesehatan, dan dia lulus lagi. Saat itu peserta yang bertahan hingga akhir tidak sampai sepuluh orang.

Dia pun akhirnya mengerti, bahwa berarti inilah memang rencana Tuhan dalam hidupnya.

Saat itu, meski dia harus melepas impiannya sebagai pengajar di universitas, namun akhirnya dia bisa bersemangat mempersiapkan diri untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan prajabatan di BUMN yang sudah menerimanya ini. Pendidikannya tentu bukan lagi di Manado, tapi di Jakarta. Tahap baru dalam hidupnya akan dimulai. Dan dia bersemangat untuk itu, apalagi karena pacarnya saat itu pun yang juga mengikuti seleksi bersama dengannya, ikut lulus sampai tahap terakhir.

Proses pendidikan berlangsung sekitar dua bulan. Pada akhir proses itu, penempatan masing-masing pun diumumkan. Dia mendapat penempatan di Palembang, sementara pacarnya mendapat penempatan di Papua.

Mengetahui hasil penempatan itu dan mengingat bahwa mereka hanya diberi kesempatan beberapa hari saja untuk pulang ke Manado sebelum menuju ke tempat penugasan masing-masing, pacarnya pun mengajak dia untuk paling tidak bertunangan dulu di Manado sebelum keberangkatan mereka. Dia mengerti, bahwa pacarnya hanya ingin ada hal yang serius yang mengikat mereka sebelum mereka akan menjalani hubungan jarak jauh dan mereka masih tidak tahu akankah ada jalannya untuk mereka bisa berada di tempat penugasan yang minimal bisa dekat. Antara Palembang dan Papua, jauhnya seperti antara Kutub Utara dan Kutub Selatan.

Dia mengerti dengan keinginan pacarnya, karena itu ketika pulang ke Manado, dia pun menyampaikan niat itu ke papanya.

Papanya juga mengerti.

Namun tidak mengijinkan.

“Jangan mengikat dirimu dengan hal yang kamu sendiri belum yakin,” papanya langsung berkata saat itu.

Dia tidak pernah bilang ke papanya bahwa dia sendiri sebenarnya tidak yakin bahwa pacarnya ini memang adalah jodoh dari Tuhan untuknya. Jangankan yakin tentang itu, keyakinan bahwa dia benar mencintai pacarnya saja tidak dia miliki dan sebenarnya sudah beberapa bulan terakhir ini dia bolak-balik bertanya ke dirinya sendiri, apa yang membuat dia bertahan selama tiga tahun bersama pacarnya sekarang ini? Sepertinya bukan cinta, sepertinya hanya karena rasa nyaman karena sudah lama mengenal. Jika hanya rasa nyaman, akankah itu cukup? Tentu saja tidak, karena bahkan sampai pada detik itupun dia tidak pernah bisa menghadirkan sosok pacarnya saat itu ketika dia membayangkan akan masa depan, akan keluarga kecil yang dia rindukan kelak akan dia bangun. Setiap kali dia mencoba membayangkan akan keluarga kecilnya di masa depan, sosok yang akan menjadi suaminya masih tak berwujud. Karena itu dia yakin, bahwa dia tidak yakin.

Ketidakyakinan itu tak pernah dia utarakan ke papanya, namun ternyata tetap bisa dibaca oleh papanya.

“Biarkanlah dirimu bergaul dengan dunia baru, kenali orang-orang baru yang akan ada di sekitarmu nanti. Kalau memang sudah yakin, barulah mengikat dirimu,” papanya lanjut berkata.

Kali ini dia tidak berargumen. Kali ini dia juga tidak memerlukan kalimat mamanya untuk terngiang lagi di kepalanya. Kali ini dia sudah yakin bahwa papanya mutlak benar. Dia harus melihat dunia dulu sebelum mengambil keputusan yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Dia pun berangkat ke Palembang, di bandara Manado dia berpisah dengan pacarnya yang juga akan berangkat ke Papua. Perpisahan mereka diwarnai dengan air mata. Bagaimanapun waktu 3 tahun bukanlah singkat. Dia telah yakin dia tidak mencintai pacarnya, dia juga tahu bahwa mereka berdua tidak memiliki masa depan bersama, karena itu meski mereka berpisah dengan air mata dan tetap dengan status sebagai pasangan kekasih, namun dia tahu bahwa tinggal menunggu waktu untuk mereka berjalan sendiri-sendiri.

*****

Si Bujang

Masa depannya sudah terlihat sangat cerah.

Lulus dari salah satu universitas terbaik serta merupakan salah satu kampus idaman di Indonesia, sekarang dia telah mulai bekerja di salah satu perusahaan swasta terkemuka di negara ini, dan bahkan dia juga mendapatkan beberapa tawaran bekerja dari perusahaan lain. Dia puas dengan hidupnya saat itu. Kerja kerasnya selama kuliah sambil bekerja perlahan mulai terbayar. Dan dia bangga dengan dirinya sendiri saat ini. Dia tahu kelak dia akan memiliki karir yang baik dan dia juga sudah merancangkan akan menikah di atas usia tiga puluh. Menikah di usia dua puluhan menurutnya terlalu cepat. Lebih baik di atas tiga puluh ketika dia sudah benar-benar mapan dan bisa memberikan segalanya untuk istri serta anak-anaknya kelak. Soal menikah itu nanti, urusan gampang. Yang terpenting sekarang adalah merintis karir.

Masa depannya sudah dia rancang dengan baik dan dia merasa cukup percaya diri bahwa rancangannya itu bisa terlaksana.

Namun semua itu buyar ketika suatu kali mamanya yang berada di Medan mendesaknya untuk mengikuti seleksi rekrutmen di salah satu BUMN yang memang bisnis intinya adalah sesuai dengan jurusannya saat kuliah yaitu Teknik Elektro. Dia sungguh tidak ingin bekerja di BUMN karena kemungkinan penempatan kerja bisa sampai ke pelosok daerah sementara sejak dulu dia berkeinginan bekerja di luar negeri, bekerja di Jakarta untuk sekarang ini hanya sebagai batu loncatan saja. Karena itu meskipun dia tahu perusahaan BUMN itu sedang membuka rekrutmen pegawai baru, namun tidak terlintas dalam benaknya untuk mengirimkan lamaran.

Sampai ketika dia mendapat desakan dari mamanya.

Dalam hati dia sempat mengumpat, “Sial, kenapa pula mamak bisa tau?”

Sewaktu dia mendengar tentang pembukaan rekrutmen perusahaan BUMN itu dia memang sudah bisa mengira kalau mamanya tahu, maka dia akan disuruh untuk mengajukan lamaran ke situ. Namun saat itu dia masih berharap agar mamanya tidak tahu, karena toh mamanya sehari-hari sibuk dengan urusan saudara-saudara perempuannya yang ada lima orang itu, cucu, serta kehidupan sosial peradatan mengingat bapaknya adalah raja adat. Yang tidak diperkirakannya adalah suatu kali mamanya membuka koran lokal dan di situ ada pengumuman rekrutmen perusahaan BUMN itu yang juga kebetulan saat itu membuka pusat rekrutmen di Medan sehingga beritanya bisa tampil di koran lokal.

“Dicoba ajalah dulu amang, kan kemungkinan gak lulus juga masih ada,” ucap mamanya saat itu.

Akhirnya karena dia adalah anak laki-laki yang baik, yang sejak kecil tidak pernah melawan orangtua, tidak pernah manja meskipun dia anak laki-laki satu-satunya di antara enam bersaudara, masuk masa remaja tidak pernah keluyuran apalagi sampai mengenal rokok dan minuman keras, sangat rajin belajar meski dia tergabung dalam klub basket sehingga prestasi belajarnya selalu baik, dan dia selalu bisa berlaku baik seperti ituย  selama ini karena sudah terbiasa dengar-dengaran dengan orangtua sejak kecil, maka kali ini pun dia memilih untuk mendengarkan kata mamanya.

Lamaran pun dia ajukan. Karena posisinya di Jakarta maka dia mengikuti seleksi yang diadakan di Jakarta, meskipun dia mengikutinya dengan setengah hati.

Tidak ada motivasi untuk lulus di tahap demi tahap tes saat itu. Dia merasa tidak membutuhkan pekerjaan ini karena toh dia sendiri sudah bekerja di perusahaan yang terkemuka dengan gaji yang juga baik yang dia tahu persis untuk pegawai BUMN yang baru diterima, maka gaji dari perusahaan swasta tempat dia bekerja sekarang ini adalah lebih besar.

Namun ternyata, tahap demi tahap seleksi terlewati dan selalu dinyatakan lulus hingga di tahap terakhir dan dia mendapatkan panggilan untuk mulai mengikuti pendidikan dan pelatihan prajabatan sebelum resmi diangkat sebagai pegawai perusahaan BUMN tersebut.

Ketika mendapat panggilan tersebut, di saat yang lain bergembira, dia justru tertunduk lesu. Surat panggilan di tangannya terasa seperti vonis hukuman mati, karena itu artinya, telah tiba saatnya untuk dia menentukan pilihan.

Jika mengikuti kata hati, maka dia akan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya yang sekarang dan tidak akan memenuhi panggilan dari perusahaan BUMN tersebut.

Namun dia tahu, mamanya akan berkata lain.

Benar saja, ketika mamanya tahu bahwa dia mendapatkan surat panggilan itu, mamanya pun langsung menyarankan dia untuk memenuhi panggilan itu dan mengundurkan diri dari pekerjaannya yang sekarang.

Kali ini, dia mencoba untuk berargumen. Namun sekian banyak argumennya selalu bisa dipatahkan dengan penuh kelembutan oleh mamanya. Hingga akhirnya dia pun mengeluarkan kalimat pamungkasnya, “Mak, aku kalo masuk di situ, bisa jadi aku ditaro mereka di tempat yang jauh mak, sampe ke Papua pun bisa. Mamak yakin mamak bisa tahan jauh-jauhan dari aku antara Medan dan Papua??”

Jawaban dari mamanya yang keluar kemudian adalah suatu hal yang tidak pernah disangka olehnya.

“Gak mang, bukan di Papua kau nanti. Mamak udah mimpi kau bakal ditaro mereka di Palembang,” dia hanya tertegun mendengar itu dan tetap diam ketika mamanya terus melanjutkan, “Jadi keluarlah kau mang dari perusahaan yang sekarang, penuhilah kau panggilan diklat itu, jangan kuatir mang, mamak yakin sekali dengan mimpi mamak. Di Palembang kau nanti, amang.”

Dia, adalah anak laki-laki yang baik. Sosok mamanya sejak kecil adalah sosok yang paling dia sayang dan selalu ingin dia lindungi, karena itu tidak heran meskipun dia memiliki lima saudara perempuan namun dulu dialah yang paling sering menemani mamanya belanja di pasar. Dia selalu ingin melindungi mamanya, tidak hanya fisik namun juga hatinya. Hal terakhir yang dia inginkan di hidup ini adalah membuat mamanya bersedih. Dan dia tahu jika dia tetap dengan pilihan hatinya maka itu berarti dia menyatakan ketidakpercayaannya terhadap keyakinan mamanya yang bahkan sampai mendapat mimpi itu. Pernyataan ketidakpercayaan itu, dia tahu sekali akan sangat membuat mamanya sedih.

Karena itu, meski dengan sangat berat hati, dia pun mengundurkan diri dari tempat dia bekerja sekarang lalu kemudian mengemas barang keperluannya untuk berangkat ke salah satu gedung pusat diklat milik BUMN itu yang terletak di Jakarta Barat. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi di depan, namun setidaknya saat ini yang dia tahu adalah bahwa paling tidak dia harus mencoba, untuk kesekian kali dalam hidupnya, menjalani apa yang menjadi pilihan orangtua untuknya.

*****

Si Gadis dan Si Bujang, mereka berangkat dari latar belakang yang berbeda, namun saat itu nasib mereka hampir sama.

Mereka sama-sama tidak mampu mempertahankan impian mereka. Bukan karena tidak mampu meraihnya, namun karena mereka lebih memilih untuk mendengarkan orangtua mereka.

Yang tidak mereka ketahui saat itu, bahwa semua dipakai Tuhan untuk memenuhi rencana Tuhan di hidup mereka berdua. Rencana yang nantinya akan menjadi damai sejahtera bagi mereka, jauh melebihi impian yang harus mereka buang saat itu. Keteguhan hati orangtua dalam mendesak mereka, adalah bagian dari rencana Tuhan. Pun, kerelaan hati mereka untuk mengikuti kata orangtua, adalah bagian dari rencana Tuhan.

Dan mereka tak perlu menunggu lama untuk itu. Segera setelah kedua keputusan yang sama-sama mereka ambil di atas itu, Tuhan membuat jalan mereka bertemu dengan cara yang tidak pernah mereka duga sama sekali…..

Kisah mereka berawal, bukan dari pertemuan mereka, melainkan dari kerelaan mereka mendengarkan kata orangtua.

Bersambung ke seri #roadToMarch8 selanjutnya….

๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

PS:

Komentar paling menarik di sepanjang seri ini, akan mendapat souvenir menarik dari saya ๐Ÿ˜˜. O ya, status komentar dimoderasi ya. Kenapa? Gak apa-apa sih, kepengen aja ๐Ÿ˜†

Abang’s 11th Birthday

Bulan ini, si abang, anak kami yang pertama, yang mukanya ganteng, otaknya cerdas, dan pembawaannya dewasa (ahem…..maklumin saja mamak-mamak ini kalo sudah muji-muji anak yaaa ๐Ÿคฃ), berulang tahun yang ke-11.

11 tahun…..

Wow!

Perasaan belum lama deh kami menikah, bermimpi membangun keluarga dan memiliki anak-anak bersama. Lah sekarang, salah satu anaknya sudah mo masuk puberty age aja. Bener-bener deh, waktu selama sebelas tahun ini hampir gak kerasa lewatnya. Dan denger-denger nih ya, kalau usia anak sudah masuk belasan, maka waktu akan terasa dua kali lebih cepat dari sebelumnya dan tiba-tiba saja anak sudah akan mandiri, keluar dari family nest serta lepas dari mata tajam papa-mama yang tak pernah kasih kendor dalam mengawasi ๐Ÿ˜….

Makes sense sih memang kalau dibilang usia belasan berlalunya terasa dua kali lebih cepat dibanding usia di bawah itu. Lah kalau di usia under 10 yang memiliki fase bayi serta balita di manaย  anak bisa menempel 24 jam di bawah ketek mama saja bisa terasa begitu cepat, apalagi kalau di usia belasan tahun di mana anak sudah semakin mandiri dan mulai belajar untuk tidak bergantung lagi dengan orangtua kan?

Fiuuuhh…. Bener-bener harus siap-siap deh dan harus semakin gencar mempersiapkan anak karena waktunya tak banyak lagi. The time when they have to stand on their own two feet will come very soon, harapannya ketika masa itu tiba anak telah memiliki semua kualifikasi yang dia perlukan untuk bisa survive dan bahkan bisa jadi pemenang di kehidupannya sendiri.

Mendidik anak di usia belasan tahun bukannya mudah. Justru menurut saya harus tambah fokus supaya jangan sampai anak-anak yang tadinya deket sama orangtua malah jadi menjauh dan lebih memilih bonding sama teman dibanding sama orangtuanya sendiri.

Memang salah kalau anak bergaul?

Oh tentu saja tidak, mereka justru harus tau bergaul, itu salah satu kualifikasi yang harus mereka miliki dalam hidup ini. Tapiiii…. mengingat pengaruh pergaulan itu tidak selamanya positif, maka tentulah anak perlu sekali dibimbing supaya kelak ketika mereka hidup sendiri pun mereka bisa bijak membedakan mana pergaulan yang baik untuknya serta mana yang lebih baik dihindari. Dan yang lebih penting lagi, tentu saja harapannya adalah sebagaimanapun luasnya mereka bergaul di luar, namun orang tua dan keluarga (dalam hal ini abang ke adeknya serta adek ke abangnya) tetap menjadi tempat yang paling mereka percaya untuk cerita tentang pergumulan dan kesulitannya karena tau bahwa di situlah mereka bakal dapat saran dan doa yang tulus, serta juga menjadi tempat yang paling pertama mereka ingat untuk berkabar ketika ada hal bahagia yang datang di hidup mereka. Saya selalu berdoa agar kiranya keluarga kami terus diberkati menjadi keluarga yang kokoh agar anak-anak pun sampai kelak hidup jauh dari orangtua namun tetap bisa menjaga jalannya dengan baik sesuai koridor yang berkenan di hadapan Tuhan. Amiiinnn….

Bahasannya jadi serius amat yak ๐Ÿ˜….

Tapi iya emang, saya dan suami kalo sudah mikir masa depan anak-anak maka modenya akan langsung berubah menjadi serius ๐Ÿ˜. Karena sungguhlah memang tidak mudah. Yang dipikirin bukan cuma biaya pendidikan mereka (kalau soal ini yakin dan percaya pasti Tuhan siapkan, bahkan dari sekarang dengan cara ngasih hikmat ke kami tentang bagaimana mengelola setiap peser rejeki yang Tuhan kasih) tapi terutama tentang menyiapkan anak-anak menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi kerasnya hidup. Contoh-contoh kejatuhan terlalu banyak di sekeliling yang terus Tuhan pakai untuk membuka mata tentang definisi kesuksesan yang sejati dan itulah yang kami rindukan dalam hidup anak-anak, bahwa kelak mereka menjadi orang sukses, bukan sukses yang sekedar semu yang hanya tampak di mata dunia saja, namun sukses yang sesuai dengan definisinya yang sejati. Amin…

Ok deh, sekarang kita balik lagi ke soal ulang tahun si abang ya.

Menjelang usianya yang ke-11 tahun ini, si abang beberapa kali mendapatkan kejutan dari Tuhan yang mana otomatis jadi kejutan juga untuk kami.

Yang pertama adalah dia lolos seleksi untuk masuk ke semifinal Feurich Piano Competition yang mana tahap semifinalnya nanti bakal diadakan di Jakarta.

Yang kedua adalah soal olimpiade Matematika. Ceritanya gini, hari Rabu dua minggu yang lalu, pulang-pulang si abang cerita kalau tadi sebelumnya di sekolah dia diutus sama homeroom-nya untuk ikut seleksi olimpiade Matematika, yang mana untuk satu grade hanya akan diambil 1 anak untuk jadi utusan sekolah. Karena seleksinya dadakan jadi otomatis si abang gak ada persiapan lah. Tapi puji Tuhan menurut si abang katanya dari semua soal, hanya 1 soal saja yang jawabannya dia ragukan.

Hari Jumat minggu yang lalu, kami mendapat surat dari sekolah melalui si abang, yang mana isi suratnya adalah untuk memberitahukan bahwa si abang terpilih menjadi utusan sekolah buat olimpiade Matematika nanti. Puji Tuhan. Semoga dengan persiapan lomba ini bisa membantu abang untuk memperdalam kecintaannya pada matematika…hehehe…

Selamat yaaa bang buat seleksi-seleksi yang lolos, kiranya Tuhan memberkati hasil akhirnya nanti yaaaa. Percayalah, Tuhan memberkati semua kerja kerasmu agar berbuah manis untukmu dan bahkan jadi berkat untuk banyak orang ๐Ÿ˜˜.

Untuk perayaan ulang tahunnya sendiri, berhubung anaknya sudah gede kan ya jadi memang dari jauh-jauh hari sudah dimintanya untuk jangan bikin yang gimana-gimana lagi, cukup tiup lilin sama makan tumpeng saja. Eh, padahal sih tiap tahun juga kayak gitu ya, perasaan gak pernah ada perayaan yang gimana-gimana. Tapi ternyata maksud dia adalah gak usah bawa kue ke sekolah dan di rumah juga gak usah pake segala balon apalagi segala macam banner dan flag, because those stuff are so childish katanya. Malah kalo perlu temen-temennya di sekolah gak perlu tau kalo hari itu adalah ulang tahunnya. Doh, anak saya sudah masuk di fase yang gak mau temen-temennya tau ulang tahunnya ๐Ÿ˜…. Bener-bener sudah gede ya pemirsa ๐Ÿ˜†.

Ulang tahun si abang jatuh di hari Senin dan suami untuk hari itu minta ijin gak ngantor. Puji Tuhan anak-anak punya papa yang modelnya kayak gini yang meski kerjanya jauh serta pindah-pindah, tapi kehadirannya selalu terasa banget buat anak-anak ๐Ÿ˜˜.ย  Pagi, sebelum anak-anak ke sekolah, kami pun tiup lillin dilanjut dengan berdoa dan langsung buka kado. Kado tahun ini buat si abang cukup satu biji saja. Sudah gede mah, kado gak perlu banyak-banyak, cukup satu tapi harganya lumayan tepat sasaran ๐Ÿ˜.

Get ready for tiup lilin

There’s no buddy like a brother. Keep remembering that, ok gantengs!

Trus ini video waktu buka kadonya. Si adek yang lucu karena dia yang sebenarnya paling penasaran sama kado buat si abang tahun ini dan somehow tebakan dia malah benar ๐Ÿ˜….

Anak berdua ini memang sudah lama ngarepin punya Nintendo Switch, apalagi karena mereka sama-sama penggemar Mario Bros. Di rumah sebenarnya mereka sudah punya Nintendo Wii, tapi kayaknya memang Mario Bros itu paling seru dimainkan di Switch ini. O ya, meski kami keras soal anak-anak main pake perangkat semacam HP dan tablet, tapi bukan berarti kami tabu dengan kehadiran game console di rumah, makanya anak-anak selain Wii dan Switch juga punya PS3 sama PS4. Menurut kami bermain dengan game console itu jauh lebih aman ketimbang di HP atau tablet karena jenis permainannya lebih mudah kita kontrol serta radiasi dari TVย  (terutama mengingat jaraknya dengan mata) masih lebih aman ketimbang dari HP serta tablet. Tapiiii….bukan berarti juga anak-anak bisa main sesuka hati. Mereka mah hanya dapat jatah pas weekend doang untuk main, itupun waktunya tetep dibatasin supaya menghindari mereka jadi malas bergerak dan bantu-bantu mama di rumah ๐Ÿ˜›.

Kelar tiup lilin dan buka kado, kami semua berangkat, anak-anak sekolah sementara saya dan suami nganterin mereka sekolah terus lanjut ke rumah sakit buat ngelanjutin pemeriksaan kista ganglion di pergelangan tangan kanan saya.

Sore menjelang malam hari, setelah anak-anak sudah pada pulang sekolah dan les, begitu nyampe rumah saya langsung nyiapin tumpeng buat makan malam kami hari itu.

Si adek juga ikut bantuin nyiapin tumpeng…. Walo sebatas naro timunnya doang ๐Ÿ˜…

Kelar naro timun, udahan bantuinnya ya dek, supaya tumpengnya bisa lebih lekas jadi ๐Ÿ˜†

Tumpeng selesai, kami pun bersiap untuk makan malam. Si abang sudah gak sabar banget buat potong tumpeng, bukan apa-apa, dia mah belum liat nasi kuningnya saja udah ngiler duluan pengen makan. Apalagi padanan nasi kuningnya adalah Mama Fried Chicken…hmmm…sudah deh, di jalan pulang tadi saja dia sudah bolak-balik bilang, “I’m hungry,” ๐Ÿ˜…

Ini sampe dia pesan, “Don’t take picture too much, ma, I’m starving already!” ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

Lauk tumpengnya ada MFC, sambal tempe, bihun goreng sosis, sama telur bumbu bali

Belas kasihan Tuhan menyertai keluarga kita selalu. Amin!

Selain potong tumpeng, kami juga potong kue yang tadi pagi dipakai buat tiup lilin

Kelar potong tumpeng dan potong kue dilanjut berdoa, kami pun akhirnya makan. Puji Tuhan tumpengnya laku sampe ke lauk-lauknya. Ada sisa sedikit nasi kuning, sambal tempe, sama bihun goreng sosis, yang walaupun tinggal sedikit sekali tapi masih lumayan bisa dimasukin kulkas buat dipanasin sebagai sarapan esok harinya ๐Ÿ˜.

Demikianlah pemirsa cerita soal ulang tahun si abang yang ke-11. Sekali lagi kami hanya bisa terus bersyukur untuk semua penyertaan, berkat, dan belas kasihan Tuhan untuk kehidupan si abang selama 11 tahun ini dan kami terus berdoa kiranya kasih karunia serta damai sejahtera dari Allah Tritunggal senantiasa menyertai si abang selalu dan selamanya. Amin!

Sekali lagi, selamat ulang tahun, abang! Tuhan memberkati dan menyertaimu selalu. Amin!

Melawan Migrain dengan Olahraga Teratur #moveAgainstMigrain

Saya itu orangnya gampang banget kena migrain. Dari yang ringan yang bisa sembuh hanya dengan dibawa tidur aja, hingga ke kadar serangan menengah yang baru bisa reda dengan obat penghilang rasa sakit khusus migrain, sampe ke yang berat yang mana saya bisa mendapat serangan migrain setiap hari selama sebulan penuh.

Seiring waktu, saya semakin mengenali kondisi tubuh saya sendiri karena itu saya pun bisa membuat daftar hal-hal apa saja yang bisa memicu serangan migrain di saya.ย  Semua pemicu tersebut berusaha banget saya hindari karena sungguhlah pengalaman terkena serangan migrain selama sebulan itu horor, jadi bener-bener gak pengen terulang kembali ๐Ÿ˜„. Sayangnya, walau sudah berusaha menghindari hal-hal pemicu migrain tapi tetap saja sesekali saya masih mendapat serangan. Puji Tuhan memang serangan-serangan yang saya alami itu gak separah seperti yang serangan migrain sebulan penuh itu, tapi tetap saja mengganggu apalagi karena saya harus sering nyetir ke sana sini buat nganterin anak-anak. Buat yang pernah dapat serangan migrain pasti ngerti gimana susahnya nyetir sambil nahan sakit migrain yang bikin kepala serasa diketuk pake palu dari luar dan ditarik dari dalam ๐Ÿ˜….

Continue Reading…

Perjalanan ke Penang dan Tips Diet Untuk Pasien Cuci Darah

Seminggu setelah kepulangan kami dari liburan Natal dan Tahun Baru, saya dan suami harus melakukan perjalanan dadakan ke Penang.

Kalau sudah nyebut Penang, jelas bukan berarti untuk perjalanan sekedar berwisata ya, melainkan sudah hampir pasti untuk berobat. Begitu juga dengan perjalanan kami kemarin yang bertujuan membawa mama mertua berobat.

Continue Reading…

Knives Out, Kisah Tentang Topeng Kekayaan

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah acara keluarga besar dari pihak pak suami, saya diharuskan untuk berdandan, berkebaya, dan bersanggul. Setelah semuanya siap, sambil menunggu acara dimulai, saya berkumpul bersama beberapa saudara ipar, di situ saya kemudian dihampiri oleh salah seorang kerabat.

Tak hanya sekedar menghampiri dan menyapa, namun kerabat tersebut juga sekaligus menegur saya.

Continue Reading…

Christmas 2019: The New Year’s Story

Natal dan Tahun Baru adalah dua event yang sebenarnya berbeda tapi selalu menjadi satu paket, apalagi buat kami yang merayakan Natal, hingga tak heran kalau cerita liburan Tahun Baru selalu menyatu dengan cerita liburan Natal.

Begitu juga untuk liburan tahun ini.

Seperti yang saya cerita sebelumnya, hari terakhir di tahun 2019 kami habiskan dengan mengajak anak-anak main di KidZania. Pulang ke apartemen sudah lumayan larut, kami pun segera mandi lalu bersiap untuk ibadah keluarga dalam rangka tutup tahun sekaligus menyambut tahun yang baru. Berkat Tuhan di sepanjang tahun 2019 itu ada banyak sekali untuk disyukuri. Saking banyaknya, sampe gak terucap lagi satu per satu. Kami masih bisa bersama-sama dalam keadaan sehat menyembah Tuhan di malam itu saja sudah merupakan anugerah surgawi yang tak ternilai rasanya ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ.

Selesai ibadah, we still waited for the clock to strikes midnight and then said happy new year to each other. Setelah itu kami tidur. Di kejauhan, kembang api semakin sayup terdengar seiring hujan yang semakin deras. Hujannya agak-agak mengkhawatirkan karena jauh lebih deras daripada hujan-hujan sebelumnya selama kami berada di sini. Malam itu kami tidur dengan harapan esok pagi hujan sudah berhenti sehingga kami bisa lebih leluasa untuk pergi ibadah ke Gereja.

Tapi kehendak Tuhan ternyata berbeda dengan harapan kami.

Continue Reading…

Christmas 2019: IKEA, Snowy Wonderland, Kidzania

Setelah menghabiskan Natal di Medan, satu hari setelah hari Natal yaitu tanggal 26 Desember, kami kembali ke Palembang yang mana di hari yang sama kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. Seperti yang saya cerita sebelumnya, kami tiba di apartemen di Jakarta sudah hampir dini hari yang mana bikin kami memutuskan untuk sekalian saja beberes, sarapan, trus baru tidur demi mengistirahatkan badan yang sudah sangat lelah ini. Tadinya ya, si dua bocah kesayangan kami itu berkeras gak mau tidur sehabis sarapan. Mereka bilang kalau mereka gak capek dan daripada tidur mending mereka nonton sama main PS4 saja. Sebagai orangtua mereka, tentulah kami kenal anak-anak kami ya, karena itu kami tau persis kalau mereka sebenarnya juga lelah dan mengantuk, tapi daripada menghabiskan tenaga lagi untuk adu argumen dengan mereka, kami pun memilih membiarkan mereka dengan pilihan mereka sendiri. Selesai sarapan, kami masuk kamar lalu tidur sementara kedua anak itu mengambil posisi nyaman di depan TV.

Continue Reading…

Christmas 2019: The Christmas Eve

Tanggal 24 Desember, malam hari, kami sekeluarga mengadakan ibadah malam Natal bersama. Puji Tuhan, tahun ini semua bisa komplit berkumpul. Jarang-jarang lho bisa komplit semua kayak gini pas malam Natal, karena beberapa kali kejadian pas Natal gak bisa mudik bersamaan.

Persiapan buat ibadahnya sendiri sudah diatur tugas-tugasnya. Ada yang nyusun tata ibadah sama latihan untuk pengiring musik (si abang ngiringin musik juga bareng sepupu-sepupunya), ada yang nyiapin kue-kue, ada juga yang nyiapin lilin.

Continue Reading…