Renovasi Dapur #2 : Persiapan Pembuatan Kitchen Set

Lanjut lagi cerita soal dapur.

Seperti cerita saya sebelumnya, akhirnya kami memutuskan untuk mengganti total dapur kami. Kesalahan dan kelalaian yang lama dilupakan saja tapi diambil pelajarannya, bukan cuma soal ketahanan bahan terhadap rayap tapi juga soal detail desainnya. Kali ini harus jauh lebih teliti dan hati-hati, jangan sampe terburu-buru trus akhirnya malah ada yang gak sesuai seperti yang terjadi di kitchen set lama.

Tanpa berlama-lama lagi, berikut saya detailkan ya persiapan yang kami lakukan untuk pembuatan kitchen set yang baru. Siapa tau bisa berguna juga kan ya buat orang lain. O ya, 6 tahun yang lalu, saya juga udah pernah nulis persiapan pembuatan kitchen set secara mendetail di sini, jadi bagi yang memerlukan tambahan referensi silakan main-main ke situ juga πŸ™‚ .

Anti Rayap dan Anti Bocor

Belajar dari pengalaman masa lalu…eciyeeehhh….hehehe… Tentu saja kali ini soal rayap dan soal kebocoran di dinding jadi dua hal yang sangat kami perhatikan.

Supaya gak ada rembesan air lagi di dinding dapur, maka jalur pipa air diperbaiki dan dindingnya dicat dengan cat anti bocor. Yang dicat hanya dinding bagian dalam aja karena dinding bagian luar udah dari dulu pake cat anti bocor.

Sementara untuk pencegahan terhadap rayap, dindingnya disemprot anti rayap dan bahan untuk kitchen set juga disemprot anti rayap. Penyemprotannya dilakukan sama Rentokil, jadi dari Rentokil sama dari vendor yang ngerjain kitchen set kami kudu saling koordinasi dulu supaya bahannya bisa disemprot sebelum dipasang. O ya, sebenarnya untuk rumah ini harusnya udah bebas rayap ya, karena info dari yang jual dulu itu pondasi rumah ini sudah diberi anti rayap. Dan memang kok, berdasarkan inspeksi dari Rentokil, rumah ini sebenarnya aman dari rayap. Kejadian sama kitchen set yang lama karena memang masalahnya ada pada bahan kitchen set itu. Semogalah ya dengan pencegahan yang sudah kami bikin ini, ke depannya kami gak akan bermasalah lagi dengan rayap. Amiiinnn…

Desain Dasar (Tujuan, Bentuk, Ukuran)

Persiapan selanjutnya yang dilakukan adalah soal desain dasar, yang saya rincikan dalam tiga hal yaitu tujuan, bentuk, dan ukuran dasar.

Tujuan:

Kitchen set ini dibuat dengan tujuan sebagai dapur yang sebenarnya, artinya dapur yang isinya lengkap ada area memasak, area mencuci, serta area penyimpanan. Di rumah kami gak ada istilahnya dapur kering dan dapur basah. Semua kegiatan masak memasak dilakukan di dapur ini, jadi dalam desainnya nanti tidak bisa hanya memperhatikan faktor estetika saja tapi kemudahan dalam membersihkan dan juga terutama ketahanan terhadap panas dan minyak harus sangat diperhatikan.

Bentuk:

Dasarnya sebenarnya gak jauh beda sih dari yang sebelumnya karena mengingat ruang dapur kami yang terbatas. Kitchen set yang baru akan tetap mengisi seluruh ruang yang ada dan sama seperti sebelumnya, bakal terdiri dari tiga bagian:

  • Blok A, yang merupakan bagian berbentuk L, secara umum untuk meja dapur, kompor dan kitchen sink
  • Blok B, yang merupakan bagian berbentuk lurus yang berhadapan dengan bagian yang berbentuk L, secara umum untuk kulkas, dispenser, dan oven
  • Blok C, yang merupakan Mini bar, yang juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan

Kalo digambarin, bentuknya kira-kira jadi seperti ini.

Selain itu, udah ditetapkan juga bahwa dapur ini akan didesain berbentuk minimalis dengan sedikit sentuhan klasik. Minimalis karena memang ukurannya mini…wkwkwkwk…dan sesuai juga untuk rumah kami. Ada sentuhan klasik supaya menimbulkan kesan hangat.

Ukuran Dasar:

Tinggi countertop diatur pada ketinggian 87 cm dari permukaan lantai, sementara jarak dari countertop ke kabinet atas bervariasi dengan jarak terendah pada 55 cm. Untuk kabinet atasnya sendiri didesain penuh sampai ke langit-langit dapur karena saya butuh banyak tempat untuk penyimpanan barang-barang dapur.

Warna

Sedari awal berencana bikin kitchen set baru, saya udah bilang ke suami kalo saya pengen bikin dapur berwarna magenta.

Semua yang kenal saya pasti tau kalo saya sangat menyukai warna ungu dan mungkin banyak yang baca ini tau kalo corak warna ungu tuh ada banyaaakk. Secara garis besar sih kalo saya kelompokkan ada 3 yaitu violet, purple, dan magenta yang mana masing-masing kelompok itu punya banyak sekali turunan coraknya. O ya, sekalian juga mau saya tegaskan di sini bagi yang mungkin masih sering menganggap magenta sebagai warna pink.

Magenta itu bukan pink.

Kenapa?

Karena pink adalah campuran antara warna merah dan putih. Sementara magenta dihasilkan dengan mencampurkan warna merah dan biru dalam komposisi yang sama. Dan sebagaimana yang telah kita pelajari dari jaman dahulu kala, campuran warna merah dan biru akan menghasilkan warna apa?? Yap benar, warna ungu! Jadi magenta adalah bagian dari warna ungu. Bedanya dengan purple dan violet secara ringkas bisa dikatakan bahwa violet memiliki lebih banyak biru dibanding magenta sementara purple berada di antara violet dan magenta. Itu secara ringkasnya ya, kalo secara teori lebih dalam lagi ya tentu ada buanyak sekali penjelasannya tentang perbedaan ketiga corak warna ungu itu.Β  Duh, bahas soal ini jadi pengen nulis tersendiri soal warna ungu dan teori tentang masing-masing coraknya, karena complicated banget memang dan saya juga sering dapat pertanyaaan dan komentar dari teman-teman soal warna ungu ini (salah satu komentar yang paling sering saya dengar adalah, “Itu bukan ungu! Itu pink!”, ketika mereka melihat warna magenta πŸ˜€ πŸ˜€ ). Jadi pengeen banget bisa nulis soal ini, tapi kapan ya? Hahahahaha… Kapan-kapan entah kapan deh πŸ˜€

Oke, balik lagi ke warna pilihan saya untuk kitchen set yang baru. Kenapa menetapkan magenta dan bukannya violet atau purple?

Itu karena kalau saya pilih violet, maka dapur akan berwarna terlalu gelapΒ  apalagi karena dapur ini tidak punya akses langsung ke arah jendela. Memang ruangannya tidak tertutup sih, tapi tetap aja dapur ini tidak mendapatkan cahaya sebanyak ruangan yang lain.

Contoh dapur berwarna violet (Klik gambar untuk langsung ke sumbernya). Cantik, tapi terlalu gelap dan dalam warnanya.

Sementara kalau saya pilih purple maka akan terkesan pucat dan dingin yang mana itu tidak sesuai untuk konsep dapur di rumah kami yang pengennya terkesan hangat karena di dapur inilah saya dengan penuh cinta menyiapkan semua yang tersaji di atas meja makan kami πŸ™‚ .

Contoh dapur berwarna purple (Klik gambar untuk langsung ke sumbernya). Cantik pake banget, tapi terkesan pucat.

Karena itulah akhirnya saya memilih magenta, karena warnanya yang terang dan berkesan enerjik sekaligus hangat πŸ™‚ . Ini selera dan pendapat pribadi lho yaaa….jadi gak ada yang bisa protes…hehehe….

Selain magenta, saya juga pengen ada warna putih di dapur ini supaya menambah kesan bersih.

Bahan

Bahan pembuatan kitchen set (serta furniture lainnya juga) pada dasarnya ada lima:

  1. Solid wood, misalnya seperti kayu jati. Bahan ini jelas memiliki kualitas serta harga paling mahal dibanding material lainnya
  2. Plywood atau multipleks yang merupakan bahan yang terdiri dari lembaran-lembaran kayu yang direkatkan dengan tekanan tinggi. Bahan ini termasuk yang paling populer karena kuat namun mudah dibentuk. O ya, makin tebal lembaran, maka makin meningkat pula kekuatannya.
  3. Block board, merupakan bahan yang dibuat dari potongan kayu kecil-kecil yang dipadatkan hingga menjadi seperti papan. Meski proses pembuatannya mirip plywood, tapi harganya lebih murah serta kekuatan dan ketahanannya berada di bawah plywood karena terbuat dari kayu lunak.
  4. MDF (medium density fibreboard) dan HDF (high density fibreboard), bahan ini terbuat dari serbul-serbuk kayu yang dipadatkan hingga menjadi papan yang siap dipotong dan digunakan. HDF lebih kuat dibanding MDF.
  5. Particle board, pada dasarnya hampir sama dengan MDF dan HDF, tapi dengan kualitas yang lebih rendah.

Di antara kelima material di atas, yang mana yang paling baik untuk kitchen set?

Jelaslah yang nomor 1 ya.

Sayang, harganya kemahalan untuk kami…hehehe…. Belum sanggup nih ke arah situ πŸ˜€

Makanya sedari awal, kami sudah langsung menetapkan untuk pake plywood aja. O ya, untuk jenis material yang lain (block board, MDF, particle board), udah gak kami lirik lagi karena material-material itu sepertinya kurang kuat untuk kitchen set karena ketahanannya terhadap air kurang dan juga mudah sekali jadi santapan rayap. Oh ya, kitchen set kami yang hancur itu ternyata bahannya dicampur lho, ada yang pake plywood dan ada juga yang pake block board.

Sebenarnya mungkin gak masalah ya dengan menggabungkan penggunaan dua bahan seperti itu.

Tapi jadi masalah karena kami tidak tau soal penggunaan bahan block board itu dan baru tauuu setelah kabinetnya dibongkar. Kami taunya dari awal ya pake plywood aja. Ini jadi masalah dong ya karena seharusnya sebagai customer kami dapat penjelasan yang sebenar-benarnya tentang bahan yang digunakan oleh vendor, jangan sampe kami taunya plywood tapi ternyata masih digabung dengan bahan lain tanpa kami tau. Dan tambah masalah lagi karena justru vendor yang lama itu menggunakan block board untuk bagian belakang kabinet yang nempel ke dinding, makanya gak heran kalo belakang kabinet yang lama itu cepat sekali rusaknya 😦 . Hal ini jadi pelajaran banget buat kami. Memang gak boleh terburu-buru tergiur dengan harga yang lebih murah tanpa betul-betul mengecek kualitas bahannya.

Nah, jadi untuk kitchen set yang baru ini, untuk bahannya sudah fix pake plywood tanpa dicampur dengan bahanΒ  lainnya.

Sekarang untuk lapisan luarnya alias finishing.

Ada banyak pilihan, bisa melamine, deco sheet, duco, atau HPL (high pressure laminated). Mungkin ada yang lain-lain juga, tapi yang saya tau ya cuma yang saya tulis itu aja.

Melamine gugur, karena perasaan gak ada ya cat melamine yang warnanya magenta…hehehe…

Deco sheet juga gugur, karena bahan pelapis ini terlalu tipis dan tidak tahan panas juga minyak. Ini mah cocoknya untuk dapur yang bener-bener bersih alias jarang dipake buat masak πŸ˜€

Tersisalah duco dan HPL.

Saya pilih HPL dengan pertimbangan:

  1. Ada HPL berwarna magenta yang sesuai dengan keinginan saya.
  2. Harganya lebih murah dibanding finishing dengan duco namun pengerjaannya bisa lebih cepat dan lebih rapi karena resiko warna belang-belang seperti pada penggunaan dengan duco bisa dihindari.
  3. Tahan air, tahan panas, tidak mudah tergores, dan tidak menyerap noda. Jadi sangat cocok dong untuk kitchen set di rumah kami yang bakal sering dipakai untuk kegiatan masak memasak.
  4. Pemeliharaan HPL termasuk mudah karena gampang dibersihkan dan jika ada yang rusak juga mudah diperbaiki (di sini unggulnya dibanding duco yang meski memiliki penampilan lebih mewah, tapi kalo rusak maka perbaikannya cukup merepotkan).

Countertop

Ada banyak pilihan countertop untuk kitchen set. Bisa pakai keramik, bisa pakai HPL, solid surface, marmer, granit, dan sebagainya.

Saya pernah pakai granit untuk kitchen set di rumah yang lama.

Saya juga pernah pakai keramik, untuk kitchen set yang lama di rumah ini.

Untuk kali ini, saya pengen pakai marmer.

Pilih marmer karena suka dengan warna putih bercorak abu-abunya yang jadi ciri khas marmer. Pilihan saya jatuh ke jenis white carrara marble. Baik marmer maupun granit memang merupakan pilihan yang bisa menampilkan kesan mewah sekaligus alami pada dapur, hanya saja memang kekurangannya adalah keduanya berpori sehingga gampang menyerap noda karena itu faktor kebersihannya harus selalu diperhatikan. Apalagi marmer, itu porinya lebih besar daripada granit. Nah, mengingat dapur kami ini bukanlah dapur-dapuran yang sekedar jadi hiasan doang di rumah, maka untuk menyiasati kelemahan dari marmer itu dipakelah cat pelapis khusus marmer yang mana pelapisan itu sama sekali tidak mengubah tampilan asli dari marmernya melainkan hanya berfungsi untuk menutupi pori-pori marmer dari luar saja.

Detail Pengaturan Barang dan Detail Desain

Bagian detail ini penting banget dalam mendesain kitchen set agar hasilnya nanti bakal sesuai dengan kebutuhan si empunya dapur, karena itu memang harus si empunya dapur sendiri yang banyak berperan ketika menentukan detail bagian-bagian dalam kitchen set. Mau sejago apapun interior designer-nya, tetap aja hasilnya akan kurang sesuai dengan kebutuhan kalo yang punya dapur sendiri gak terjun langsung dalam bagian ini.

Berikut saya daftarkan ya beberapa hal yang dipersiapkan dalam bagian detail desain ini.

Letak Kompor dan Kitchen sink

Seperti yang udah saya bilang di bagian tujuan di atas, dapur ini akan jadi tempat mengolah makanan, memasak, serta mencuci peralatan makan/dapur. Karena itu, otomatis pada countertop-nya dibutuhkan tempat untuk kitchen sink dan kompor. Karena dapur ini adalah renovasi dan bukannya bikin baru dari awal, maka terutama untuk kitchen sink kami tempatkan pada tempat yang sama seperti sebelumnya supaya tidak diperlukan lagi pekerjaan pemindahan pipa air dan sebagainya. Nah, berhubung dapur ini kecil, maka dengan tidak berpindahnyaΒ kitchen sink, tempat untuk kompor juga tidak berpindah πŸ˜€ . Lagian dengan tetap pada tempat yang sama seperti dulu, itu memudahkan saya juga agar gak perlu membuat penyesuaian dalam hal pergerakan di dapur.

Barang elektronik yang memerlukan tempat khusus

Hal ini perlu banget ditentukan ya, karena selain terkait dengan desain, juga berhubungan dengan titik stop kontak dan saklar yang tentu harus dibuat agar dapur menjadi lebih rapi tanpa terlihat adanya kabel menggantung sana-sini.

Berikut adalah daftar barang elektronik yang memerlukan tempat khusus di dapur kami.

  1. Kompor (karena kami sudah hampir setahun belakangan ini pake kompor listrik)
  2. Cooker hood
  3. Kulkas
  4. Dispenser
  5. Oven
  6. Penanak dan penghangat nasi
  7. Blender bumbu
  8. Blender sayur dan buah

Udah, 8 itu aja sih yang perlu tempat khusus dan bakal selalu dipake. Kalo barang elektronik lain semacam slow cooker, panci presto, mixer, pemanggang roti, juicer, dan sebagainya, bakal disimpan dalam kabinet karena hanya sewaktu-waktu aja diperlukan.

Detail Tempat Penyimpanan Barang

Bagian ini nih yang paling butuh waktu lama, karena memang semuanya saya bikin secara detail sampe-sampe hasilnya jadi kayak makalah…hihihihi… Itu karena saya pengen semua barang di dapur ini tidak ada yang tidak ada tempatnya, serta saya juga ingin agar semua terorganisir sehingga nanti memudahkan penggunaan dan penyimpanannya. Bisa dibilang, kali ini saya jauh lebih detail persiapannya dibanding waktu mempersiapkan kitchen set di rumah yang lama.

Untuk membuat detail ini, saya perlu sekali terus koordinasi dengan CV. JMP, bahkan mereka sampe perlu berkali-kali datang ke rumah untuk meeting (yang selalu tembus sampe lewat tengah malam πŸ˜€ ) sampe hasil desainnya fix sesuai dengan yang saya perlukan juga sesuai dengan ukuran kabinetnya.

Karena saya maunya detail, maka saya juga perlu mengukur hampir semua peralatan dapur, sampe segala sendok, gelas, dan pisau pun saya ukur supaya gak ada satupun yang kelewatan. Saya mau tempat penyimpanannya banyak tapi efisien, karena itu semuanya harus diukur secara detail.

 

Gambar di atas itu adalah contoh beberapa halaman dari makalah yang berisi detail pengaturan kabinet kitchen set yang saya bikin yang aslinya sebenarnya ada 18 halaman. Niat banget kaaannn πŸ˜€ πŸ˜€ . Suami geleng-geleng kepala liatnya. Temen-temen saya yang liat juga sampe bengong. Bahkan dari CV. JMP pun takjub karena baru kali ini dapat klien yang bikin permintaan rancangan sedetail ini πŸ˜€ .

Ya memang harus niat sih demi hasil yang gak cuma terlihat bagus, tapi juga sesuai dengan kebutuhan saya.

Dalam detail yang saya buat itu, masing-masing laci serta rak pada kabinet saya rancangkan tujuan serta ukurannya. Hal ini selain berguna pada hasil akhir kitchen set yang diharapkan, juga berguna ketika nanti saya akan menata dan menyimpan barang-barang dalam kabinet. Gak perlu bingung-bingung lagi deh, yang ini mo di mana, yang itu mo di mana. Tinggal buka makalah aja, cek di mana tempatnya, trus tinggal taro barangnya πŸ™‚ .

Dua gambar di atas adalah contoh desain dari CV. JMP yang menyesuaikan dengan desain ukuran yang saya kasih.

Seperti yang terlihat, setiap rak dan laci, ukurannya tidak asal-asalan atau hasil kira-kira saja, tapi karena memang merupakan hasil pengukuran berdasarkan jenis barang atau appliances yang akan ditempatkan pada rak dan laci tersebut.

Titik ListrIk

Kebutuhan akan titik listrik bakal diketahui setelah kita udah buat daftar sebagai berikut.

  1. Letak dan ukuran dari barang-barang elektronik yang harus selalu ada pada tempatnya
  2. Kebutuhan akan perlu atau tidaknya stop kontak tambahan
  3. Lampu atau pencahayaan yang diperlukan di dapur

Untuk dapur kami, maka daftar kebutuhan untuk titik listriknya adalah sebagai berikut.

  • Stop kontak
    • Pada Blok A (lihat gambar desain dasar di atas)
      • 1 titik untuk cooker hood, letaknya di dinding di samping cooker hood dan akan tertutupi oleh kabinet
      • 1 titik untuk kompor, letaknya di kabinet di bawah kompor dan akan tertutupi oleh kabinet
      • 1 titik di ujung kiri untuk blender bumbu
      • 3 titik di ujung kanan, untuk magic jar dan keperluan tambahan lainnya
    • Pada Blok B (lihat gambar desain dasar di atas)
      • 1 titik untuk kulkas (sudah tersedia sebelumnya)
      • 1 titik untuk dispenser yang terletak persis di belakang dispenser
      • 3 titik di atas meja blok B, masing-masing untuk blender buah, oven, serta keperluan tambahan lainnya
  • Saklar
    • Pada Blok A
      • 1 titik untuk kompor dan cooker hood (agar bisa dimatikan langsung dari sumbernya tanpa perlu mencabut kabel listrik)
      • 1 titik untuk lampu pada bagian bawah kabinet atas
      • 1 titik untuk lampu pada bagian atas kabinet atas
      • 1 titik untuk lampu mini bar
      • 1 titik untuk lampu utama
    • Pada Blok B
      • 1 titik untuk lampu kabinet
      • 1 titik untuk oven, lagi-lagi supaya tidak perlu mencabut kabel listrik bila ingin memutus aliran listrik ke oven

Khusus untuk stop kontak yang terletak di atas meja atau countertop, sebaiknya diletakkan pada ketinggian kurang lebih 20 cm supaya terlihat lebih rapi.

Trus setiap titik listrik tersebut sudah harus dibuat sebelum pemasangan backsplash dan kitchen set.

Backsplash

Untuk backsplash saya pilih dari keramik saja dengan pertimbangan kemudahan membersihkannya. Untuk motifnya, dari sejak awal udah jatuh cinta sama yang bermotif seperti bata tapi yang permukaannya licin supaya mudah dibersihkan dan gak menyerap noda.

Keramik untuk backsplash yang jadi pilihan saya

Pemasangan keramik ini dilakukan sebelum pemasangan kitchen set, jadi memang sudah harus diukur benar-benar letak kitchen set-nya supaya tidak ada kesalahan.

O ya, karena saya juga pengen buat gantungan wajan di dinding, maka pada dinding tempat gantungan tersebut juga saya pasangin keramik supaya lebih bersih dan tembok juga lebih aman dari kerusakan.


Begitulah pemirsa beberapa persiapan yang dilakukan untuk pembuatan kitchen set yang baru. Saat ini sih proses pengerjaannya masih belum selesai 100% ya, tapi puji Tuhan sebentar lagi semua beres kok, tinggal saya dan asisten di rumah aja nanti berjibaku mengatur barang-barang di kitchen set ini. Udah gak sabar banget sebenarnya mulai masak-masak di dapur yang baru ini πŸ˜€ .

O ya, sehabis dapur yang lama dibongkar lalu keramiknya dipasang, maka jadi begini penampakan ruang dapur kami dalam kondisi kosong.

Trus buat yang penasaran dengan hasil akhirnya nanti seperti apa, ini saya perlihatkan hasil desain dari CV. JMP berdasarkan detail kebutuhan yang saya kasih ke mereka.

Cantik ya? Hehe…

Trus apakah hasil akhirnya jadi persis seperti itu?

Kita lihat aja nanti yaaaaa…..

πŸ˜€ πŸ˜€

Iklan

Renovasi Dapur #1 : Rayap oh Rayap…..

Mau cerita soal dapur, nih, yang mana ini bakal jadi cerita yang lumayan panjang makanya dibikin berseri. Menulis rangkaian cerita soal dapur begini sebenarnya bikin saya merasa seperti mengulangi sejarah, karena apa yang terjadi di dapur Rumah Cendana ini pernah juga terjadi di Rumah Kencana dulu, meski dengan cara yang berbeda. Dipikir-pikir, mungkin kami memang berjodoh sekali dengan yang namanya dapur ya, sampe harus dua kali ngalamin kejadian yang mirip πŸ˜€ . Sudah gitu ironis banget pula, karena pada tahun ini saya sampe bikin IG khusus masak memasak @blessed.kitchen tapi trus malahan bermasalah dengan dapur dan bahkan sampe hari ini pun saya masih pake dapur darurat. Repooott… Tapi yah sudahlah, percaya saja bahwa setelah ini semuanya akan jadi lebih baik πŸ™‚ .)

Masalah dengan dapur ini sebenarnya sudah dimulai sejak akhir tahun yang lalu.

Continue Reading…

Yang Sudah Bisa Nonton Bioskop

Lagi-lagi cerita lama, kali ini dari bulan Agustus lalu…hehe… Gak apa lah ya, telat-telat diceritain yang penting masih tetap didokumentasikan πŸ˜€

Jadi ceritanya si adek ini kan sebelum-sebelumnya masih belum suka ya nonton di bioskop. Pernah tuh saya cerita di sini pengalaman si adek waktu pertama kali diajak nonton bioskop yang bisa dibilang gagal total karena saya dan si adek terpaksa harus keluar beberapa menit setelah filmnya dimulai πŸ˜€ . Sejak kejadian itu kami gak pernah lagi sih ajak adek nonton di bioskop karena dia juga kalo diajak gak pernah mau. Jadilah tiap kali si abang pengen nonton selalu hanya ditemani oleh pak suami saja.

Nah, di bulan Agustus lalu kan Cars 3 keluar tuh di bioskop-bioskop di Indonesia (kalo di Internet mah udah lama keluarnya ya…wkwkwkwkwk). Iseng-iseng kami tawarin lah si adek mau gak dia nonton Cars 3 di bioskop? Eh ternyata dia langsung jawab mau!

Continue Reading…

A Night With My Sister

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya di akhir bulan Juli (udah cukup lama juga ya…hehehe), kakak saya datang ke Palembang. Bukan buat jalan-jalan sih, tapi karena ada urusan kerjaannya di sini, itupun hanya 4 hari, tapi teteplah kami sangat bersyukur masih bisa ketemu walo hanya sebentar saja. Saya sendiri udah kangen banget sama kakak saya ini, secara kan ya, terakhir kami ketemu tuh waktu Natal tahun 2015 lalu lho! Udah lama banget kaaann 😦 .

Continue Reading…

Beberapa Jam di Sky World

Libur pasca Lebaran lalu, kami sempat secara dadakan jalan-jalan untuk beberapa hari di Jakarta. Selama di sana kami nginep di Aston Marina Ancol, dan salah satu tempat yang kami kunjungi adalah TMII.

Iya tau, salah banget menjadikan Ancol dan Taman Mini sebagai objek kunjungan pas musim liburan gini, tapi mo gimana lagi, waktu yang ada buat ajak anak-anak jalan-jalan ke sana ya pas lagi libur gini. Jadi ya sudah, mari bersabar-sabar saja menghadapi padatnya orang serta kendaraan di Ancol dan TMII. Yang penting pokoknya anak-anak hepi aja πŸ˜€ .

Untuk TMII sendiri memang kami bela-belain datang karena tau kalo di situ ada Sky World.

Yang udah lumayan lama baca blog ini mungkin tau kalo si abang tuh seneng banget sama yang namanya luar angkasa dan cita-cita dia sampe sekarang belum berubah, yaitu pengen jadi Astronot atau jadi peneliti luar angkasa yang kerja di NASA. Aminkan aja ya pemirsa, namanya juga cita-cita kan πŸ™‚ .

Continue Reading…

Dikiranya….

Pengen semangat ngeblog lagi, pengen cerita soal liburan belum lama ini, pengen blog walking, pengen ini, pengen itu, tapi waktunya belum pas…hehehe… Jadi sekarang mau cerita yang ringan-ringan dan singkat-singkat saja sambil nunggu agenda berikutnya yang harus saya lakukan hari ini.

Continue Reading…

Cerita Tentang Ruang Cuci Multifungsi Kami

Sebelum lanjut bercerita, saya mau kasih tau dulu kalo ruang cuci yang mau saya ceritakan di sini adalah ruang cuci di rumah kami yang sederhana dengan aktivitas normal sebagaimana rumah tangga pada umumya di negara tercinta Indonesia ini. Jangan berharap menemukan ruang cuci (apalagi yang juga berfungsi sebagai gudang sebagaimana yang mau saya ceritakan di sini) yang akan tampak seperti galeri ya πŸ˜€ . Gak ada jaim-jaiman di sini. Ini ruang cuci yang bener-bener dipake buat cuci baju kotor, ruang jemur yang bener-bener buat gantungin jemuran keluarga dengan 2 bocah plus 1 bayi yang tentu saja pada boros baju, dan gudang yang memang bener-bener dipake buat nyimpen barang ‘dibuang sayang’.

Iya, maksud dari multifungsi pada judul di atas adalah ruang cuci yang juga berfungsi sebagai ruang jemur dan sekaligus sebagai gudang.

Continue Reading…

Kulit Wajah Sehat dengan Santan Kelapa

Disclaimer: Contains a lot of self portraits, so just prepare yourself :mrgreen:

Apa???

Santan???

Serius???

Sebagian orang yang baca judul di atas mungkin akan berpikiran demikian, karena saya sendiri juga hampir tidak percaya ketika pertama kali tau bahwa santan bisa membantu menyehatkan kulit wajah. Maklumlah, karena selama ini saya nyetok santan kemasan di rumah cuma untuk bikin gulai, kari, soto, rendang, kolak, sama chiffon doang…hihihihi… Dan saya sama sekali gak pernah menyangka bahwa ternyata santan bisa menjadi salah satu solusi dari kegalauan saya akan banyaknya penggunaan bahan kimia sintetis dalam perawatan kulit yang saya jalani selama ini.

Continue Reading…

Tentang Kosmetika dan Perawatan Tubuh Yang Lebih Sehat Tanpa Paraben

Berawal dari heboh-heboh meninggalnya seorang artis gara-gara kanker payudara dan kemudian disusul dengan kabar salah satu keluarga dekat juga ternyata sedang berjuang melawan penyakit kanker payudara, saya pun jadi lumayan banyak membaca artikel tentang kanker payudara, terutama tentang gejala dan penyebab kanker ini.

Dari artikel-artikel yang saya baca, ada satu hal yang sangat menarik perhatian saya yaitu kemungkinan adanya peran bahan kimia Paraben terhadap perkembangan sel kanker (terutama kanker payudara) di dalam tubuh.

Mungkin saya telat tahu soal ini yah, karena ternyata setelah mencari-cari tau, kontroversi soal berbahaya atau tidaknya kandungan paraben dalam kosmetika dan perawatan pribadi sudah terjadi sejak lama. Ya sudahlah, better late than never kan. Masih untung sempat tahu sekarang…hehe…

Continue Reading…