Butuh Waktu untuk Percaya #roadToMarch8 (Ep. 4)

Episode ke-4. Yaayyy!!! Masih setiakah menunggu kelanjutan cerita #roadToMarch8? Semoga masih ya 😘. O ya, tadi pagi suami mengirimkan saya lirik salah satu lagu Afgan, “Jodoh Pasti Bertemu”. Kata suami lirik lagu itu benar-benar pas dengan apa yang dia rasakan, alami, dan doakan dulu ketika dia hanya bisa memendam perasaannya dan melihat saya dari jauh. Lagu ini sebenarnya sudah lama kan ya, tapi sebelum ini gak begitu saya perhatikan, lagunya yang bagaimana juga saya sudah lupa. Baru setelah tadi pagi suami kirim liriknya ke saya, lagu ini pun saya cari di YouTube. Dan memang bener ya, lirik lagu ini tuh persis sama seperti harapan pak suami yang dia ucapkan di depan teman-temannya dan yang dia doakan selalu dalam hatinya setiap kali dia sudah mengingat tentang saya, yaitu kalau memang saya diciptakan untuk dia maka Tuhan yang akan membuka jalan untuk kami bisa bersama.

Jodoh itu pasti bertemu, jadi buat yang masih single, semoga bisa terus bersabar menanti jodoh yang sudah Tuhan siapkan, sambil terus peka supaya jangan sampai jodoh sebenarnya sudah datang tapi karena kita kurang peka, akhirnya malah melewatkan kesempatan itu. Sebaliknya, jangan pula lekas kegeeran, menganggap si dia adalah jodoh, padahal sebenarnya bukan, trus maksain, trus akhirnya nyesel setelah udah nikah 😅. Yah, begitulah, urusan jodoh ini memang tricky, makanya harus selalu dibawa dalam doa supaya gak salah-salah 😄.

Ok deh, demikian pembukaannya, sekarang kita lanjutin lagi ceritanya yaaa…. Oh ya, semua cerita tentang kami ini dari episode ke episode bisa diakses via link ini yaaa…. 

******

Continue Reading…

Segala Sesuatu Ada Saatnya #roadToMarch8 (Ep. 3)

Yeayyy!!! Sudah masuk ke episode ke-3, nih. Pada nungguin kelanjutannya gak? Kalau saya sih jujur saja nungguin…hahahaha… Cerita sendiri kok ditungguin ya? Habisnya gimana dong, saya sendiri juga bahagia lho kalau sudah waktunya untuk bercerita tentang kisah kami berdua, karena bagi saya, sebuah cerita bahagia akan lebih lengkap rasa bahagianya apabila dituangkan dalam bentuk tulisan 😊. O ya, banyak yang bilang cerita kami mirip drama Korea…hahahaha… Waktu ngejalanin sih sama sekali gak ada pikiran kalau ini mirip dalam drama ya, walaupun saya sejak jaman kuliah dulu sudah teracuni dengan drama Korea. Tapi begitu diingat-ingat lagi dan apalagi setelah dijadikan tulisan begini, baru deh memang saya sendiri bisa merasakan, “Eh iya ya, kok jadi kayak di drama ya??” hahahahaha….. Tapi yah, begitulah kenyataannya. Saya juga gak pernah menyangka bakal seperti ini jalan cerita kami apalagi sampai berkhayal bahwa saya akan merasakan a little glimpse of dramaland in my life, karena itu setiap kali kami bernostalgia tentang pertemuan kami dulu, yang kami rasakan adalah rasa syukur yang besar karena kami tak pernah perlu ragu bahwa kami memang diciptakan sedari awal untuk satu sama lainnya 🥰.

Ok deh, sekian dulu pembukannya, kita lanjut lagi ke cerita cinta kami…hehehe… Oh ya, semua cerita tentang kami ini dari episode ke episode bisa diakses via link ini yaaa…. 

*****

Continue Reading…

Pandangan Pertama dan Pertemuan Kelima #roadToMarch8 (Ep. 2)

Ini adalah episode ke-2, kalau belum membaca episode ke-1, singgah dulu ke situ yaaa….supaya seru bacanya, hehe…

*****

Si Bujang

Siang menjelang sore hari itu, cuaca di Jakarta sedang panas-panasnya. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya di mana curah hujan di awal tahun cukup deras mengguyur kota, di hari itu matahari memilih untuk bersinar segarang-garangnya hingga membuat awan pun memilih menyingkir dari langit Jakarta dan menyerahkan sepenuhnya tugas melindungi langit kota dari sinar matahari pada kabut asap dari pabrik-pabrik serta kendaraan bermotor. Efeknya tentu berkebalikan, alih-alih menjadi teduh, asap dan polusi justru membuat udara semakin pengap di tengah cuaca panas itu.

Namun bagi dia, cuaca yang begitu panas serta udara yang pengap bukanlah hal yang menjadi persoalan, meski gara-gara itu dia sempat merasa sangat kegerahan. Pikiran dan perasaannya sedang terfokus pada hal lain sehingga tak punya waktu untuk memikirkan hal sepele semacam cuaca.

Dia sedang gelisah.

Continue Reading…

Ssst….. Dengar-Dengaran Saja Dulu….. #roadToMarch8 (Ep. 1)

Si Gadis

“Ba dengar-dengar kwa ngana anak, susah ngana pe hidop nanti, kasiang anak eeee, kalo nintau ba dengar pa orangtua….”

Kalimat itu, adalah kalimat yang paling sering didengarnya dari sejak kecil hingga di usianya yang hampir dua puluh tiga tahun ini. Di antara kakak beradiknya, dia memang yang paling bandel sejak kecil. Perempuan tapi tomboy, hobinya memanjat pohon, bermain di sungai, berkelahi dengan teman lelaki, dan beradu argumen dengan papa mamanya meski dia tahu bahwa melawan mereka bisa berakibat pada kakinya dicium mesra oleh ikat pinggang papa atau kemoceng mama. Seiring dia besar, perilaku tomboy makin berkurang dan tanpa sadar dia mulai menjadi gadis yang gemulai. Rambut yang tadinya pendek sekarang selalu dibiarkannya panjang bahkan beberapa kali hampir menyentuh pinggang. Lari-larian dan memanjat pohon tidak lagi menjadi hobinya karena sekarang dia lebih suka berpakaian modis dan membaca gosip di tabloid remaja. Namun meski begitu, tak berarti dia sudah berubah menjadi anak yang mau menuruti kata orangtua. Sudah dibilang tidak boleh berpacaran selama sekolah, namun masih kelas 1 SMA pun dia sudah mengenal arti punya pacar yang berujung pada papanya marah besar dan memberi ultimatum untuknya, pilih pacar atau sekolah. Saat itu dia memilih sekolah. Meskipun ketika berada di kelas 3 SMA, lagi-lagi dia memiliki pacar.

Continue Reading…

Abang’s 11th Birthday

Bulan ini, si abang, anak kami yang pertama, yang mukanya ganteng, otaknya cerdas, dan pembawaannya dewasa (ahem…..maklumin saja mamak-mamak ini kalo sudah muji-muji anak yaaa 🤣), berulang tahun yang ke-11.

11 tahun…..

Wow!
Continue Reading…

Melawan Migrain dengan Olahraga Teratur #moveAgainstMigrain

Saya itu orangnya gampang banget kena migrain. Dari yang ringan yang bisa sembuh hanya dengan dibawa tidur aja, hingga ke kadar serangan menengah yang baru bisa reda dengan obat penghilang rasa sakit khusus migrain, sampe ke yang berat yang mana saya bisa mendapat serangan migrain setiap hari selama sebulan penuh.

Seiring waktu, saya semakin mengenali kondisi tubuh saya sendiri karena itu saya pun bisa membuat daftar hal-hal apa saja yang bisa memicu serangan migrain di saya.  Semua pemicu tersebut berusaha banget saya hindari karena sungguhlah pengalaman terkena serangan migrain selama sebulan itu horor, jadi bener-bener gak pengen terulang kembali 😄. Sayangnya, walau sudah berusaha menghindari hal-hal pemicu migrain tapi tetap saja sesekali saya masih mendapat serangan. Puji Tuhan memang serangan-serangan yang saya alami itu gak separah seperti yang serangan migrain sebulan penuh itu, tapi tetap saja mengganggu apalagi karena saya harus sering nyetir ke sana sini buat nganterin anak-anak. Buat yang pernah dapat serangan migrain pasti ngerti gimana susahnya nyetir sambil nahan sakit migrain yang bikin kepala serasa diketuk pake palu dari luar dan ditarik dari dalam 😅.

Continue Reading…

Perjalanan ke Penang dan Tips Diet Untuk Pasien Cuci Darah

Seminggu setelah kepulangan kami dari liburan Natal dan Tahun Baru, saya dan suami harus melakukan perjalanan dadakan ke Penang.

Kalau sudah nyebut Penang, jelas bukan berarti untuk perjalanan sekedar berwisata ya, melainkan sudah hampir pasti untuk berobat. Begitu juga dengan perjalanan kami kemarin yang bertujuan membawa mama mertua berobat.

Continue Reading…

Knives Out, Kisah Tentang Topeng Kekayaan

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah acara keluarga besar dari pihak pak suami, saya diharuskan untuk berdandan, berkebaya, dan bersanggul. Setelah semuanya siap, sambil menunggu acara dimulai, saya berkumpul bersama beberapa saudara ipar, di situ saya kemudian dihampiri oleh salah seorang kerabat.

Tak hanya sekedar menghampiri dan menyapa, namun kerabat tersebut juga sekaligus menegur saya.

Continue Reading…

Christmas 2019: The New Year’s Story

Natal dan Tahun Baru adalah dua event yang sebenarnya berbeda tapi selalu menjadi satu paket, apalagi buat kami yang merayakan Natal, hingga tak heran kalau cerita liburan Tahun Baru selalu menyatu dengan cerita liburan Natal.

Begitu juga untuk liburan tahun ini.

Seperti yang saya cerita sebelumnya, hari terakhir di tahun 2019 kami habiskan dengan mengajak anak-anak main di KidZania. Pulang ke apartemen sudah lumayan larut, kami pun segera mandi lalu bersiap untuk ibadah keluarga dalam rangka tutup tahun sekaligus menyambut tahun yang baru. Berkat Tuhan di sepanjang tahun 2019 itu ada banyak sekali untuk disyukuri. Saking banyaknya, sampe gak terucap lagi satu per satu. Kami masih bisa bersama-sama dalam keadaan sehat menyembah Tuhan di malam itu saja sudah merupakan anugerah surgawi yang tak ternilai rasanya 💜💜💜💜.

Selesai ibadah, we still waited for the clock to strikes midnight and then said happy new year to each other. Setelah itu kami tidur. Di kejauhan, kembang api semakin sayup terdengar seiring hujan yang semakin deras. Hujannya agak-agak mengkhawatirkan karena jauh lebih deras daripada hujan-hujan sebelumnya selama kami berada di sini. Malam itu kami tidur dengan harapan esok pagi hujan sudah berhenti sehingga kami bisa lebih leluasa untuk pergi ibadah ke Gereja.

Tapi kehendak Tuhan ternyata berbeda dengan harapan kami.

Continue Reading…

Christmas 2019: IKEA, Snowy Wonderland, Kidzania

Setelah menghabiskan Natal di Medan, satu hari setelah hari Natal yaitu tanggal 26 Desember, kami kembali ke Palembang yang mana di hari yang sama kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. Seperti yang saya cerita sebelumnya, kami tiba di apartemen di Jakarta sudah hampir dini hari yang mana bikin kami memutuskan untuk sekalian saja beberes, sarapan, trus baru tidur demi mengistirahatkan badan yang sudah sangat lelah ini. Tadinya ya, si dua bocah kesayangan kami itu berkeras gak mau tidur sehabis sarapan. Mereka bilang kalau mereka gak capek dan daripada tidur mending mereka nonton sama main PS4 saja. Sebagai orangtua mereka, tentulah kami kenal anak-anak kami ya, karena itu kami tau persis kalau mereka sebenarnya juga lelah dan mengantuk, tapi daripada menghabiskan tenaga lagi untuk adu argumen dengan mereka, kami pun memilih membiarkan mereka dengan pilihan mereka sendiri. Selesai sarapan, kami masuk kamar lalu tidur sementara kedua anak itu mengambil posisi nyaman di depan TV.

Continue Reading…