Flamboyan…

Adakah yang gak tau seperti apa pohon Flamboyan itu? Mungkin jarang yang gak tau yah karena pohon ini termasuk terkenal. Tapi mungkin ada yang belum tau, ini saya tampilkan fotonya.

Pohon Flamboyan (Foto diambil di depan toko buah Larissa, Jl. Basuki Rahmat, Palembang)

Pohon Flamboyan adalah jenis tanaman hias, namun karena ia berukuran besar dan tinggi dengan bentuk pohonnya bercabang dan melebar, maka di negara kita tanaman ini lebih berfungsi sebagai tanaman peneduh. Flamboyan ini sebenarnya adalah tanaman yang sangat indah, ketika musimnya, pohon ini akan berbunga merah dan jingga. Pohon Flamboyan hanya berbunga sekali dalam setahun dan biasanya terjadi saat peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Di kota Palembang, kita bisa menikmati jejeran Flamboyan terutama di ujung Jl. POM IX (sebelum berbelok ke arah Jl. Sumpah Pemuda). Sayang, mungkin karena sekarang antara musim penghujan dan musim kemarau agak kurang jelas, maka saya jarang sekali melihat ada pohon Flamboyan di kota ini yang berbunga lebat. Di Jl. POM IX sendiri, meski pohon Flamboyannya berjejer, namun saat ini yang sedang berbunga hanya 1 pohon saja. Itupun bunganya tidak banyak.

Di antara semua pepohonan yang sering ditanam sebagai peneduh pinggir jalan, Flamboyan adalah nama pertama yang saya kenal seumur hidup saya, karena dulu, pohon ini berjejer di sepanjang jalan depan rumah tempat tinggal saya semasa kecil. Sejak lahir sampai saya lulus SD, kami sekeluarga tinggal di sebuah rumah dinas yang disediakan oleh bandara tempat papa saya bekerja. Letak rumahnya persis di pinggir jalan A.A. Maramis .yang menjadi gerbang masuk Bandara Sam Ratulangi.

Jika ada yang pernah ke Manado atau kalau nanti-nanti ada di antara pembaca blog ini yang datang ke Manado, coba deh perhatikan, begitu keluar dari bandara, di sisi kiri jalan terdapat deretan rumah. Diawali dengan rumah-rumah yang merupakan bagian dari kompleks AU, kemudian ada sebuah TK (saya dulu sekolah TK di situ :D), lalu ada empat rumah yang berjejer yang diakses harus dengan menaiki beberapa anak tangga. Rumah kami dulu adalah rumah yang keempat, alias yang terakhir. Jalan depan rumah memang menurun, dan rumah kami beserta tiga rumah lainnya dibangun di atas tanah yang tinggi, sehingga di depan masing-masing rumah terdapat tangga. Dulu, tangga itu lumayan tinggi, seingat saya ada sekitar 15 anak tangga, namun beberapa tahun lalu (ketika kami udah gak tinggal di situ lagi), dilakukan proyek pelebaran dan peninggian jalan, sehingga jumlah anak tangga pun berkurang drastis dan letak rumah terlihat hanya pendek saja dari jalan 😀

Karena letaknya yang lumayan tinggi dulu, saya selalu merasa kalo saya dan keluarga tinggal di atas bukit :D. Nah, di depan rumah kami, di sepanjang jalan itu hingga ke gerbang bandara, berjejerlah pohon-pohon Flamboyan dan karena pohonnya ditanam di sisi jalan yang notabene terletak beberapa meter di bawah rumah kami, maka beberapa ujung dahan pohon ini bisa tergapai oleh saya dari halaman rumah kami.

Dulu, setiap musim berbunganya, saya suka sekali menikmati keindahan merah dan jingga yang melebat di seluruh dahan pohon ini. Karena pohonnya besar dan ujung-ujung dahan antara pohon di sebelah kiri dan kanan bisa saling bertemu, maka ketika bunganya melebat, jalanan seolah dinaungi oleh tudung berwarna merah. Saya sukaa sekali menikmati keindahan ini dari kamar tidur saya yang memang menghadap ke arah jalan terutama ketika langit sedang berwarna biru cerah dan matahari sedang bersinar terang. Entah ya, rasanya luar biasa sekali melihat gerombolan bunga berwarna merah berkilau dengan langit biru sebagai latarnya serta awan putih yang sesekali berarak seolah menembus tudung merah itu. Bener deh, rasanya seperti sedang melihat lukisan yang luar biasa indah..

Saya juga menikmati ketika bunga-bunganya berguguran kemudian berserakan di jalan dan di halaman. Berasa yang lagi kejatuhan salju dari langit, tapi saljunya berwarna merah. Dan ketika kelopak-kelopak bunganya sudah terserak di halaman dan di jalan, saya suka berlari-lari dan meloncat-loncat di atas serakan kelopak bunga itu, rasanya seperti sedang berada di negeri dongeng yang jalanannya terbuat dari hamparan bunga… Sukaa banget liatnya *maklum ya bocah cilik, belom ngerti alangkah capeknya musti nyapu halaman rumah yang penuh serakan kelopak Flamboyan…hihihi*

Kenangan itulah yang selalu hadir setiap saya melihat pohon Flamboyan….

Sayangnya, kenangan indah itu selalu diikuti dengan kenangan horor tentang jalan di depan rumah itu. Jalan di depan rumah itu termasuk jalan yang sangat penting bagi kota Manado, karena itulah gerbang masuk ke kota ini, maka jalanan itu seingat saya dulu adalah yang terbaik di kota Manado. Tak ada jalan lain yang semulus jalan A.A. Maramis di depan rumah kami ini. Karena jalanan yang mulus itu dan ditambah dengan kondisi jalan yang agak sepi (dulu, pengguna jasa bandara tidak sebanyak sekarang sehingga mobil yang melintas juga tidak terlalu banyak), maka para pengemudi cenderung melajukan kendaraannya kencang-kencang di sepanjang jalan ini… Dan tahukah teman-teman, akibat kebiasaan pengemudi kendaraan yang ngebut itu, setiap tahun ada saja peristiwa yang membuat jalanan beraspal hitam mengkilap itu tak hanya sering berwarna merah oleh karena bunga Flamboyan yang berguguran tapi juga oleh darah anak-anak yang menjadi korban kecelakaan *hiiyy…kok ini jadi serem gini yak? :mrgreen:*

Bener lho, bisa dibilang, yang jadi korban kecelakaan di jalan ini selalu adalah anak-anak, umumnya berusia di bawah 10 tahun 😦

Pernah satu kali, saat itu saya masih balita, papa saya pulang dari maen bola bareng temen-temennya. Di jalan pulang, mereka melihat ada anak kecil yang tertabrak mobil, TKP-nya hanya beberapa meter dari rumah kami. Beberapa orang sudah lebih dulu ada di situ, waktu diangkat, terlihatlah kalo leher anak itu udah hampir putus. Cepet-cepet papa saya dan teman-temannya berlari ke arah situ, ternyata yang jadi korban adalah anak dari salah satu teman papa yang waktu itu pulang bareng papa saya juga. Teman papa itu langsung histeris ngeliat anaknya 😦

Pernah juga, ketika usia saya 8 tahun, ada seorang anak laki-laki yang sebaya dengan saya (yang namanya masih saya ingat sampai sekarang, padahal dia bukan teman main saya) tertabrak di jalan itu juga. Awalnya ditabrak oleh mobil Kijang yang lagi melaju dari arah kota ke bandara, lalu terlempar ke arah mobil militer AU yang sedang melaju dari arah sebaliknya, kemudian terseret hingga beberapa meter. Anak laki-laki itu langsung meninggal saat itu juga dengan kondisi otak terburai kemana-mana. Saat pemakamannya, saya diajak oleh papa untuk datang ke rumah duka, maksudnya berhubung saya adalah anak yang paling bandel di antara anak-anak papa, maka sengaja saya dibawa ke suasana histeris penuh duka itu, supaya saya lihat beginilah yang bisa terjadi kalo saya gak dengar-dengaran dengan orang tua. Anak laki-laki itu juga sebenarnya sudah diwanti-wanti untuk tidak bermain di jalan, tapi hari itu dia diam-diam menyelinap ke luar rumah, lalu menyeberang ke arah sungai yang letaknya di seberang jalan. Saat lagi menyeberang itulah dia tertabrak :(. Saat ngeliat mama anak itu yang begitu histeris, saya langsung janji pada diri saya sendiri kalo saya gak akan melakukan hal-hal yang bisa membahayakan diri sampe kayak gitu…gak mau kalo mama saya juga mesti sedih dan nangis-nangis sampe segitunya 😦 *tuh kan, pas nulis ini aja rasanya saya mo nangis kebayang peristiwa itu lagi dan bayangan saya tentang mama yang nangis histeris karena kehilangan anaknya 😦 *.

Sewaktu kecil kami memang dijaga ekstra ketat oleh orang tua apalagi karena lokasi rumah yang sebenarnya tidak bersahabat untuk anak-anak. Mana pernah kami bisa main-main ke rumah teman yang harus diakses dengan turun ke jalan? Gak pernah. Jalan dikit ke arah tangga tanpa ada orang tua yang mengawal aja kami sudah dilarang. Tempat kami bermain ya cuma di dalam rumah dan di halaman rumah saja. Kalo pengen pergi maen sepeda ke bandara (dulu kan penerbangan cuma sesekali, jadi leluasa lah pake runway sebagai tempat maen sepeda 😛 ), kami harus dikawal sama papa. Kalo gak ada papa ya berarti harus puas maennya di halaman rumah aja.

Untung, dulu halaman rumah kami lumayan gede, malah ada kebunnya segala, yang isinya macam-macam tanaman: pisang, pepaya, kedondong, nanas, ubi jalar, jambu klutuk, jambu bangkok. Trus dari halaman belakang, kita bisa mengikuti jalan setapak yang menurun menuju sebuah sungai kecil yang mendapat aliran mata air lewat sebuah pohon beringin besar. Mungkin karena sejak kecil saya suka bermain di dekat pohon Beringin, makanya saya gak pernah takut sama pohon ini. Kan banyak tuh yang nganggap kalo pohon Beringin angker. Ya emang sih, sejak kecil juga saya kalo ngeliat pohon Beringin kesannya seperti nenek tua…hihihi… Tapi sama sekali gak menyeramkan, karena suasana sekitarnya yang sumpah, damai banget rasanya. Ada sungai, pohon-pohon, tiga telaga buatan dengan hiasan bunga teratai putih dan pink, juga banyak burung Weris yang tinggal di pohon Beringin itu, dan tentu dari situ juga saya bisa menikmati keindahan jejeran Flamboyan di pinggir jalan di depan kami dari sisi yang berbeda! Saya ingat, dulu sama adek saya suka turun ke sungai kecil itu buat nangkap ikan-ikan kecil. Atau kalo gak nangkap ikan, paling cuma duduk-duduk aja di situ dengerin suara aliran air. Kalo udah maen di situ, suka lupa waktu sampe mama musti teriak-teriak dari halaman rumah di atas untuk nyuruh pulang 😀

Walo ada kisah seramnya dan dulu sewaktu kecil kami tak bisa sebebas anak lain, tapi sebenarnya kenangan masa kecil itu indah juga. Rasanya bersyukur sekali punya orang tua yang meski selalu menerapkan segudang aturan di rumah, tapi rumah selalu menjadi tempat yang ternyaman buat kami. Tambah kangen deh pengen pulang dan ketemu papa dan mama. Akhir-akhir ini rasa kangen saya ke papa dan mama memang agak lebih besar dari biasanya, gak tau kenapa. Dan setiap habis mengantar Raja ke sekolah, saya pasti bertemu dengan deretan Flamboyan di jalan ke kantor (tau kan, gara-gara desakan Raja yang ini, saya mestiiii lebih perhatian pada pepohonan di pinggir jalan), bikin saya tiap hari keinget dengan masa kecil, dan semakin bikin saya tambah kangen. Semoga tidak ada halangan untuk rencana pulang tahun ini :).

Udah ah, kopi saya udah habis, jadi udah siap untuk pulang. Nulis ini memang untuk nemenin saya minum kopi. Tadi rapat gak disuguhin kopi, padahal kan saya tiap sore mesti minum kopi biar gak ngantuk pas nyetir. Jadi selesai rapat (yang mana selesainya udah lewat dari jam pulang kantor), balik ke ruangan, agenda saya adalah langsung bikin kopi trus nulis ini di sini :D. Selamat sore, semuanya…have a great evening! 🙂

PS: Sekarang, deretan Flamboyan di depan rumah kami dulu itu sudah ditebang habis bersamaan dengan proyek pelebaran jalan 🙂

Iklan

63 thoughts on “Flamboyan…

  1. Owh..baru tahu kalo itu namanya Flamboyan..
    #hmm maklum aku buta nama pohon2*
    Taunya beringin doank hahaa..

    curaaang, kopinya dah abis..
    Udah ajah yah..

    1. Hihihi..jadi ternyata ada aja yang gak tau pohon ini ya teh 😀

      Yah, teh Nchie telah sih, coba dari tadi datang ke sini, masih ada tuh kopinya :p

  2. Hik hik hik…..mbak serem bener cerita kecelakaanyaa,,,,aku merinding nih… 😦

    Karena parno itulah mbak aku pilih tempat tinggal yang di dalam komplek (# sebenarnya karena belum mampu beli yang dipinggir jalan gedhe siiih)

    Anyway, selamat nonton Desperate Housewives ntar malam… Episode perdana neh… 🙂

    1. Memang dalam komplek lebih aman untuk anak-anak. Cuma ya tetep, mending jangan biarin anak maen sendiri di luar tanpa dijaga khusus, walopun anak lagi maen sama temen2nya, yah buat jaga2 aja dari hal-hal yang bisa mengancam 😉

      Semalam aku nonton…hihihi…seruuu… 😀

      1. Hihihi..iyaaa ih…. itu bener2 keputusan yang salah ya sebenarnya 😀

        Dan ikutan tegang pas yang mobil itu yah…hihihi…harusnya cowoknya si Bree ngeh tuh kalo mereka lagi boong 😀

  3. iya ih, serem ya ceritanya mba, semacam….*hii, ga mau lanjut komen yang bagian ini

    kebetulan tadi ada temen crita masa-masa dia pacaran dulu, katanya dia berdiri di deket pohon flamboyan, yang diajak ngobrol malah mikir “pohon flamboyan yang kaya apa sih…”kok ya pas main kesini disuguhin gambarnya..

    1. Ho oh, mending gak usah dipanjangin di bagian itu, tapi diambil pelajarannya untuk selalu berhati-hati dalam menjaga anak…

      Hehehe…mungkin kita ada kontak batinnya yak 😀

    1. Mauuu pulangg…tapi jatah cuti disimpen sampe Desember nanti 😀

      Oalah Kaa….jadi kamu juga baru tau sama pohon flamboyan ini?? hihi

  4. Aku baru tau flamboyan hahahah sekilas kayak kamboja *duaarrr* maklum yak ga pernah ngapalin nama nama pohon :p btw serem banget yang kecelakaan itu ya ampuuun harusnya pakai tulisan peringatan segede spanduk, pelan pelan banyak anak kecil 😦

    1. Mungkin karena itu jalan protokol, pep, jalan utama propinsi, jadi hampir gak mungkin pake peringatan kayak gitu 😦

  5. aduh serem banget lis… apalagi kalo ngeliat dengan mata sendiri korban tabrakannya ya… 😦

    emang mendingan anak2 main di dalem rumah deh kalo jalanannya emang rame gitu. daripada kenapa2…. asli serem banget!

    1. Serem lah Man. Tetangga pas sebelah rumahku juga pernah tertabrak di depan rumah kami. Puji Tuhan gak apa-apa…

      Iyah, amannya dalam rumah aja..daripada nyesel kemudian..

  6. Kalo flamboyan aku tau mba 😀 Dulu jaman TK namanya juga TK flamboyant karena ada satu pohon flamboyan gede yang legendaris banget deh! Eh sayang banget skarang udah ditebang pohonnya dan TK aku juga sudah entah kemana 😦

    1. Sayang yah, TK-nya udah ditutup 😦

      TK ku sampe sekarang masih ada, cuma pohon flamboyan di depannya aja yang udah gak ada 😀

  7. OO jadi ini yang namanya flamboyan.. hihihi seneng deh selalu mampir kesini, banyak pengetahuan jadinya.
    Kenapa ya kalo cowo suka ada yang dibilang cowo flamboyan. Apa ada pengaruhnya ya sama pohon ini? *pertanyaan ga nyambung* hihihihi

    1. Cowok yang pintar memikat wanita mungkin disebut flamboyan, karena flamboyan kan meski adalah pohon yang terlihat kokoh, besar, dan tinggi, namun ketika berbunga terlihat indah dan memikat. Banyak malah yang bilang kalo flamboyan adalah pohon terindah di dunia 😀

  8. #lapkringet
    Bok…. Plis deh…. Itu kenapa di tengah2 kok ceritanya jadi horor yak, hahaha…astaga kenapa aku malah ketawa.

    … Padahal pas di paragraf2 awal, aku begitu menikmati ceritanya sampai terbersit membuat cerita anak: “Allisa. Gadis kecil yang tinggal diatas bukit. Halaman rumahnya bertabur keindahan warna merah dari pohon flamboyan……”

      1. Aku tau..aku tau buku itu…hahahaha… Ya ampun, baru keinget lagi sama buku itu gara2 kamu ngomong ini Er..hihihi..masih ada dijual gak yah buku itu? 😀

      2. Erlia, ternyata masih ada lho dijual buku itu, bahkan yang cetakan tahun 2005. Aku jadi pengen koleksi lagi…hihihi… Makasih ya Er, gara2 kamu komen ini aku jadi inget lagi 😀

        Tambah kangen deh sama masa kecil 😀

      3. Bukan Heidi sih Tyk, tapi emang Tini judul bukunya. Heidi dan Tini mmg sama2 dari Eropa, tapi ceritanya beda, kalo Tini tuh lebih ke seri cerita sehari2 gitu, dan gambarnya Tini lebih bagus kalo menurut aku dibanding Heidi. Trus kalo Heidi kan rambutnya kriwil gitu, kalo Tini tuh modis Tyk, rambutnya lurus, pirang kecoklatan gitu 😀

        Hihihi..iyaa kok jadinya manjat bunga? hahaha

    1. Ya ampun bu guru ini, kamu harusnya bersedih dan prihatin, bukannya ketawa….hihihihi *nah, aku malah ikut ketawa :D*

      Hahahaha…boleh juga tuh ide ceritanya, ayo dong dibikin cerita anak yang tokoh utamanya namanya Allisa…wkwkwkwk

  9. Liiiiis…
    ya ampuuuun…sekarang lagi giat cerita soal pohon nihhhh…gara gara Rajaaaa…coba dulu Raja nanya nya tentang artis korea…hihihi…

    Dan aku gak pernah terlalu merhatiin pohon pohonan sih Lis, jadi baru tahu kalo pohon ituh namanya flamboyan *langsung berasa tidak gaul*

    Dan kenapa harus jadi ada cerita horor nya segala siiiiih…haduh…

    Rumahku sih di dalem komplek gitu Lis, dan kuldesak jadi hanya punya 1 jalan masuk dan rata2 kendaraan yang lewat biasanya penghuni sini juga dan gak pernah ngebut *kecuali ojeg*…

    Kayla dan Fathir biasa main ama temen temennya di depan rumah gituh sih…
    Tapi aku pun tetap gak bolehin Fathir keluyuran tanpa pengawasan lah, biasanya kalo anak anak main, aku suka ber gosip gak jelas …eh…maksudnya bersosialisasi ama ibu ibu tetangga…diantaranya sama Nchie dan Diana ituh Lis…

    1. Hihihi…iya mbak, ni bentar lagi bakal dirilis tulisan seri pohon lainnya..wkwkwkwk

      Iya mbak, walo di komplek, tapi tetep harus ekstra pengamanannya 😀

  10. Aku tahu pohon itu…wah kalo lagi berbunga aku suka..warnanya itu lho…merahnya keren…
    jadi inget juga lagu jadul banget…*lagu nostalgia kali yah namanya..hehehe…yang dulu suka diputer bokap dirumah waktu masih jamannya kaset tape gitu…
    Flamboyan, berguguran…berserakan…
    wah ngebass banget yang nyanyi..siapa ya penyanyinya rahmat kartolo bukan…*tanya bokap lagi entar hehehe..
    walah malah mbahas lagu ….
    sip sip jeng..ditunggu postingan tentang pohon yang lainnya..
    ayo bang raja, explore lagiiiiiiii biar mamanya tambah ilmu..dan kawan blogger yang baca blog mamanya tambah ilmu juga…:)
    sambil menyelam minum air yah jeng..long life education…belajar sama sama..
    hehehe walah..jadi kemana mana komenntya..:)
    tfs..

    1. Akhirnya, ada juga yang ngaku tahu pohon flamboyan…hahaha

      Aku juga tau lagu ituuu…hihihihi…selera kita masih gak jauh2 dari hal2 jadul yak 😀

  11. Ya ampun Lis, aku merinding baca yang anak meninggal itu. Iya. karena udah emak-emak kepikiran posisi kita jadi sang ibu.

    Etapi akuuuu *ngacung* belum ngeh pohon flamboyan.
    Selama ini cuma tau cowok flamboyan…dan lagu flamboyan. #oemji jadulnyaaa

    1. Hikkss…iya, Ndah. Dulu aku sedih liat mamanya, kebayang kalo mamaku sesedih itu… Sekarang setelah jadi mama, aku bener2 ngerti gimana besarnya rasa takut kehilangan seorang ibu…

      Jadi…jadi…kamu juga gak tau flamboyan?? astaga Indah, aku sungguh tak menyangka *geleng-geleng* hahahaha

  12. Aih…serem juga baca ceritanya. Emang riskan banget rumah dekat jalan utama.

    Ada kalimat yang mengatakan kalo dirimu anak paling nakal diantara anak2 papamu. Kok saya gak percaya ya? 🙂

    1. Hihihi…aku dulu memang bandel, makanya sering banget celaka, untungnya celakanya biasanya karena jatoh sendiri bukan karena tertabrak kendaraan di jalan. Dulu tuh aku sampe 3x lho masuk UGD gara2 jatoh dan kondisinya mengkhawatirkan.. Kalo diliat di kepala belakangku, masih ada tuh bekas jahitannya, sebagai bukti kebandelan masa lalu 😆

  13. Syerem ah ceritanya, jadi keinget pas jaman SMA, katanya biasanya di SMAku menjelang EBTANAS, akan ada korban, eh beneran deh, pas kakak kelasku ada yang kecelakaan, pas angkatanku, ada juga yang kecelakaan parah, sampe temenku itu gak masuk berbulan-bulan, tapi untunglah bisa pulih dan ikut EBTANAS…. Hiiyyy sereeemm……

    1. Iya mbak, pohonnya besar. Malah yang di gambar di atas, itu belum ukuran besarnnya, mbak, pohon flamboyan bisa sangat tinggi dan besar 😀

  14. naaah….kalau pohon flamboyan ini aq tau Lis
    sama aq juga punya cerita masa kecil tentang pohon flamboyan ini
    di tempat kerja ibuku dulu kebetulan tempat kerjanya ada rumah dinasnya juga
    kompleknya teduh dan asri,disepanjang jalan banyak terdapat pohon flamboyan
    dan aq paling seneng mungutin bunga-bunganya
    tapi sayang komplek dan tempat kerja ibuku beberapa tahun yg lalu bangkrut tapi kebetulan ibuku udah lama pensiun dari situ.
    dan skrg tempat itu sudah rata menjadi tanah dan dijual ke pihak swasta sepertinya akan dijadikan pusat bisnis
    dan hilangah jejak kenangan itu berikut dgn pohon flamboyannya juga

    tapi cerita flamboyannya kok berubah jadi horor gitu aaah…..
    ngeri Lis ngebayangin banyak anak kecil yg jadi korban
    *peluk Rafi*

    1. Hihi..kita sama ya mbak, jejak kenangan kita telah terhapuskan 😀

      Iyaaa…kenangan ku tentang flamboyan bagai dua sisi mata uang #tsaaahh… satu sisi membahagiakan, satu sisinya lagi horor 😦

  15. menikmati cerita jadi tiba2 serem bayangin kejadian2 disitu…..
    seru ya masa kecilnya…..
    eh gak nyangka lho….kalo Allisa kecil bandel….

  16. Pohom flamboyan yah, tau dong aq…malah dulu waktu kecil pernah liat yg bunganya warna kuning sm pink, kynya ada bbrp jenis ya warna bunganya gk cm orange yg ky di foto itu mbak…Kalo dibanjarmasin biasanya dipake juga buat hiasan bunga di kepala pengantin dgn busana adat banjar 🙂 semacam ada alasan magis juga sih kata org2 tua sini
    Kangen mau pulkam yah 😀 hihihi sama dong, udah gk sabar nih nungguin lebaran loh dan senengnya kita bakal bawa baby nih mudik tahun ini
    Ditunggu cerita pohon yg selanjutnyaaaaaaa 😉

    1. Malah ada juga yang ungu lhooo… Tapi mmg kalo flamboyan, lbh identik dengan merah jingga gitu, makanya suka disebut juga flame tree 🙂

  17. Flamboyan salah satu tanaman yang inspiratif. Banyak novel, cerbung, cerpen, puisi maupun lagu yang memboyongnya jadi judul. Salam flamboyan;

  18. salam kenal mbak 🙂
    saya sangat tertarik dengan tulisan mbak ttg bunga flampoyan ini, kebetulan saya sedang penelitian tentang jenis2 bunga flamboyan.
    kalau boleh saya tanya, selain bunag flamboyan merah-jingga sepert diatas, apakah ada jenis lain yg pernah mbak lihat di palembang?
    terima kasih mbak 🙂

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s