Blessed Inn: Peresmian Lantai Bawah

Bulan April tahun 2015 yang lalu, saya pernah sedikit cerita di sini tentang investasi kami di Manado yang berupa tanah dan rumah kost-kostan. Awalnya memutuskan untuk mengambil investasi itu bukan didasari atas keinginan mencari keuntungan. Motivasi awalnya malah jauh banget dari itu dan terus terang bisa dibilang kami berpayah-payahan banget saat itu. Tapi kami percaya, Tuhan tau, Tuhan ngerti apa yang ada di hati kami. Kami hanya ingin jadi berkat. Mungkin yang baca bingung, hehe, tapi yah ada hal-hal yang tak perlu diceritakan di sini kan 🙂

Rumah kost-kostan di Manado itu kemudian kami beri nama Blessed Inn. Pake kata ‘Inn’ karena cita-cita ke depan adalah mengembangkan tempat ini menjadi penginapan dan bukan kost-kostan lagi. Kalo sekarang memang agak sulit karena kendala di promosi, fasilitas, dan manajemennya juga. Nantilah pelan-pelan satu per satu dikerjakan. Lagian ngurus jarak jauh kayak gini memang agak menyulitkan.

Awalnya bangunan Blessed Inn hanya berupa rumah panggung khas Minahasa yang berbahan kayu. Terdapat 9 kamar yang terdiri dari 2 family room dan 7 standard room. Fasilitas di dalam kamarnya ada tempat tidur (single untuk standard room, queen untuk family room), meja belajar/meja kerja, rak kayu dua tingkat, serta lemari dua pintu yang udah dilengkapi dengan kaca rias. Udah lumayan banget lah ya fasilitas segitu untuk kamar kos dengan harga per bulan yang terjangkau sekali.

Selain fasilitas di dalam kamar, fasilitas di luar kamarnya juga kami sediakan di lantai bawah, seperti 7 kamar mandi dan wc, 1 dapur yang udah dilengkapi dengan 1 kompor gas dan 1 kompor minyak, dua area untuk mencuci piring, tempat jemur pakaian, serta tempat parkir motor.

Dan selain fasilitas-fasilitas itu, kami juga menyediakan pemandangan yang segar pada para penghuni kost lewat taman buah di halaman depannya. Taman ini nih yang menjadi salah satu daya tarik Blessed In. Padahal sederhana aja sih tamannya, cuma mungkin keberadaan taman itu bikin suasana jadi adem sehingga orang yang melihat pun jadi merasa ada ketenangan dan kesegaran.

Continue Reading…

Iklan

The Boys

“Wah, cowok semua ya??”

Biasanya itu yang jadi reaksi pertama orang begitu tau orangtua saya punya cucu sebanyak lima orang dengan semuanya berjenis kelamin cowok. Kami juga heran, kok bisa cucu oma dan opa laki-laki semua begitu. Dulu kirain saya dan kakak saya aja yang produktif ngelahirin anak laki-laki, eh ternyata istri adek saya ngelahirin anak cowok juga. Jadi sepertinya memang kami bertiga bersaudara lebih gampang punya anak cowok ketimbang cewek 😀

“Rusuh gak tuh kalo ngumpul??”

Ini biasanya jadi pertanyaan lanjutan yang mana sebenarnya udah gak perlu dijawab lagi sih, karena jawabannya udah pasti: iya, RUSUH BANGET!

Semua cucu oma dan opa ini gak ada yang bisa diem tenang dan karena mereka semua cowok, maka cara mainnya pun suka ekstrem, menantang bahaya sekaligus kesabaran orang yang jagain :D. Tak jarang mereka lupa batasan ketika udah main seru. Akhirnya ada yang celaka, ada yang berantem, dan sudah bisa ditebak ujung-ujungnya ada yang kena marah…hahahaha…. Mereka rusuh ketika ngumpul kayaknya udah biasa, meski tetep perlu diajarin juga biar tetep jadi anak-anak yang tau aturan.

“Jadi ada yang musti nambah 1 nih, cari cewek biar oma ada cucu ceweknya juga…”

Kalo yang ini biasanya jadi respon pamungkas dari orang-orang yang mana biasanya langsung dapat jawaban, “Kalo itu diserahkan pada yang baru punya anak 1 aja”, hihihihihi….. Saya dan kakak yang sudah beranak dua kayaknya udah tutup buku deh, kan kami warga negara yang baik, ngikut program pemerintah, dua anak saja cukup. Itu berarti tinggal jadi tugas adek saya yang baru punya anak satu untuk program bikin anak cewek 😛

Continue Reading…

Natal 2015

Januari udah mo berakhir nih ya, tapi cerita di sini masiiihh aja seputar libur Natal dan Tahun baru kemarin…hihihihi…gak apa lah, justru ini mo dikejar, pengennya sebelum Januari berakhir, cerita libur kemarin juga udah bisa ditamatkan 😀

Perayaan Natal kami kemarin diawali dari tanggal 24 alias Malam Natal-nya.

Seperti tradisi di keluarga Krones, malam Natal itu mesti diisi dengan ibadah bersama di rumah yang mana isi ibadahnya hanya nyanyi, berdoa, baca Alkitab, nyalain lilin Natal, trus berdoa lagi. Waktu itu ibadah kami mulai udah lumayan malam, anak-anak sebenarnya udah mulai ngantuk.

Ibadah terpaksa dimulai malam, karena proses bersih-bersihin dan beresin kamar-kamar baru di kos-kosan kami baru bisa selesai malam (nanti saya bakal cerita juga soal Blessed Inn ini). Proses bersih-bersihinnya juga memang baru dimulai sore sih, soalnya pagi kami ke pasar buat belanja, trus pulang masak dulu buat hari itu sama buat Natal esok harinya, sibuk bener pokoknya hari itu.

Puji Tuhan, anak-anak tetep mau ikutan ibadah dan mau bersikap manis selama ibadah berlangsung. Karena udah malam, maka kostum yang dipake juga adalah baju tidur, tapi biar agak istimewa, maka kami yang cewek-cewek pake baju tidur seragaman..hihihihi..

Continue Reading…

Nostalgia Sejenak di Manado Tateli Beach Resort

Tanggal 29 – 30 Desember, kami nginep di Manado Tateli Beach Resort. Memang sedari awal kami udah ada rencana untuk bawa anak-anak main di pantai. Maklum, di Palembang kan gak ada pantai, jadi mumpung lagi di Sulawesi Utara yang memang salah satu khasnya adalah laut, maka bermain di pantai harus ada di antara padatnya jadwal kami selama di Manado.

Untuk main di pantai dan berwisata laut, di Sulawesi Utara pilihannya ada beberapa. Mulai dari deretan pantai Boulevard, Malalayang, dan Tateli, kemudian ke Ratatotok, Kima Wori, sampai ke pantai di pulau-pulau eksotisnya seperti Bunaken, Lihaga, dan Gangga. Pilihan banyak, tapi kami pilih yang deket aja tapi cukup indah, yaitu pantai di Tateli, dan supaya lebih pas lagi kami pilih lokasinya di Manado Tateli Beach Resort yang punya lagoon buatan sehingga anak-anak lebih aman ketika bermain di pantai.

Hotel dipesan sehari sebelumnya, dapat best deal lewat Trivago untuk 4 kamar deluxe yang menghadap langsung ke arah kolam renang dan pantai.

Tanggal 29 pagi, semua semangat siap-siap. Apalagi anak-anak yang begitu gembira karena tau kalo hari itu mereka bakal main di pantai, renang di kolam renang, dan nginep di hotel.

Continue Reading…

Bukit Doa Tomohon

Dari Danau Linow, kami lanjut jalan-jalan ke Bukit Doa yang letaknya masih sama-sama di Tomohon. Sama seperti Danau Linow, ini juga pertama kalinya buat saya mengunjungi tempat ini dan itu karena objek wisata ini memang baru ada setelah saya tak lagi tinggal di Manado.

Karena sama-sama berlokasi di daerah pegunungan Tomohon, maka jarak antara Danau Linow dan Bukit Doa ini tidak terlalu jauh.

Continue Reading…

Danau Linow

Selamat pagiii! 😀 😀

Gak kerasa udah hari Kamis aja ya. Besok udah Jumat dan kemudian minggu pertama kerja di 2016 ini pun akan segera lewat. Minggu pertama di kantor saya sibuk dengan nambahin fitur buat satu aplikasi yang business owner-nya pak suami sendiri dan dia ngasih target minggu ketiga Januari ini perubahan dan penambahan fitur itu udah bisa diimplementasiin. Aih pak suami, segitu amat sama istri sendiri…hihihihi…

Nah, pagi ini sebelum berurusan lagi sama aplikasi, saya pengen cerita dulu tentang salah satu lokasi wisata yang kami kunjungi saat libur Natal kemarin. Nama lokasi wisata itu adalah Danau Linow.

Jujur, saya sebenarnya tau soal Danau Linow belum lama ini. Dulu tempat ini belum sepopuler sekarang, mungkin karena sekarang pengelolaannya sudah lebih baik sehingga semakin menarik minat banyak wisatawan untuk berkunjung ke sini.

Danau Linow terletak di Kota Tomohon yang dijuluki sebagai Kota Bunga. Jarak Tomohon dari Manado sekitar 27km atau sekitar 1 jam perjalanan dengan mobil. Jalan menuju ke sana berliku karena menuju ke pegunungan. Makin dekat ke Tomohon kita akan merasakan hawa yang semakin sejuk dan udara yang terasa semakin bersih. Danau Linow sendiri terletak tepatnya di Kabupaten Lahendong, Kecamatan Tomohon Selatan.

Danau Linow merupakan danau vulkanik yang berhubungan dengan Gunung Lokon yang masih aktif. Danau ini mengandung belerang dan di sekitarnya terdapat beberapa tempat pemandian air panas. Kata orang-orang, kalau dilihat dari atas bukit, warna air danau ini bisa berubah menjadi tiga warna mulai dari biru, hijau, hingga coklat kekuningan. Penyebab perubahan warnanya adalah kandungan belerang di dalamnya serta karena pembiasan cahaya dan pantulan dari vegetasi di sekitar danau.

Continue Reading…

Sehari Jadi Anak Kampung

Alohaaaa…..happy new year!!!

Apa kabar semuanya di hari pertama kerja di 2016 ini? Semoga tambah semangat yaa. Kalo saya sendiri puji Tuhan udah ngerasa semangat, euforia liburan udah selesai, dan capek sehabis bersenang-senang di kampung halaman juga udah sirna. Sengaja memang kami kembali ke rumah bukan pas sehari sebelum ngantor, melainkan dua hari sebelumnya, alias hari Sabtu yang lalu. Maksudnya ya supaya ada jeda sehari buat istirahat dan nyiapin diri untuk masuk ke dunia nyata lagi.

Liburan selama dua minggu kemarin di Manado puji Tuhan menghadirkan banyak hal indah untuk dikenang. Salah satunya adalah waktu kami jalan-jalan ke rumah saudara-saudara mama saya di hari pertama tahun 2016 alias jalan-jalan dalam rangka tahun baruan. Istimewa banget, karena rasanya hepi aja bisa ketemu lagi dengan sodara-sodara mama saya dan mengunjungi kampung halamannya setelah sekian lama. Banyak yang sudah berubah dari yang terakhir saya ingat, tapi tetap saja, mengunjungi kembali tempat kelahiran mama membuat ingatan saya kembali melayang ke masa kecil 🙂

Dan jalan-jalan itu juga istimewa terutama untuk si abang karena hari itu adalah untuk pertama kalinya dia merasakan pengalaman jadi anak kampung 😀

Continue Reading…

Ketika (Merasa) Tersisih

Ada tiga hal yang bikin Raja merasa senang bukan main ketika tau soal rencana ke Manado kemarin itu dan setiap ditanya soal alasan yang bikin dia begitu sukacita, dia akan menjawab begini:

because the house is so big for me to play; because there are lots of people there; and because I can meet kakak Fide!”

Dan alasan yang terakhir sepertinya adalah yang paling bikin dia bersemangat 45 sampe bikin dia ngitung mundur hari-hari menuju ke tanggal keberangkatan kami. Bahkan di sepanjang jalan menuju Manado itu, berulang-ulang dia ngomong, “Yes..yes..yes..I will meet kakak Fide very soon!!

Bener aja, mereka langsung lengket begitu ketemu. Lengket karena minat mereka hampir sama. Usianya terpaut 2 tahun, Fide sudah di kelas 1 SD, tapi karena Raja sudah di TK besar jadi dari segi pengetahuan gak terlalu beda jauh lah. Omongan mereka nyambung walo beda bahasa, kalo maen game di gadget udah sama-sama pake logika, kalo bikin pe-er udah bisa bareng-bareng bikinnya, dan kalo baca buku atau majalah udah bisa bareng-bareng trus kalo ada kuis-kuis di majalah mereka udah bisa tanding-tandingan ngerjainnya.

Melihat mereka berdua begitu akrab, ya kita yang orang tua seneng lah yaaaa….

Tapiii…terkadang mereka berdua begitu sibuk sendiri, sampe-sampe lupa sama satu hal yang sebenarnya gak boleh mereka kesampingkan begitu aja, yaitu adek mereka sendiri: Zecky!

IMG_5878-rLihatlah gambar di atas itu. It’s happy, rite, to see those two boys read magazine together in the morning, waktu baru bangun, masih pake kostum tidur, belom sarapan apalagi mandi dan masih pada bau iler 😀

But, when we see the wider picture, we can see that not everyone was happy that time..

Continue Reading…

N & G Wedding : What We Wore

Baru bisa ngeblog lagiiiii…..

Fiuuuhh…it’s a very…very hectic week for us. Buanyak bener yang diurusin. Yang Raja konser musik lah, yang kami pindah-pindahan tahap ketiga lah (dan syukurnya adalah yang terakhir), yang ngurusin long weekend project buat rumah lah, yang kerjaan di kantor musti kelar di minggu ini lah, yang ini, yang itu…buanyaakkk….dan baru sekarang ini ada waktu lowong buat nulis lanjutan cerita yang kemaren itu.

Jadi ya, ngomongin soal apa yang kami pake di pesta nikah Nathan dan Gina kemarin itu, sebenarnya persiapannya mefeettt bener. Padahal kan itu rencana nikah udah sejak dari taon lalu waktu Natalan, cuma karena sepanjang tahun ini ada banyak sekali kesibukan dan ditambah pula dengan kehamilan saya ini, bikin kami menunda-nunda untuk bikin baju buat pesta mereka. Ya soalnya untuk bikin baju buat saya kan memang sebaiknya nunggu pas udah deket-deket hari H biar ukurannya pas gitu, kalo dibikinnya waktu saya hamil muda takutnya pas hari H malah itu baju udah gak muat lagi :D.

Yang nunggu-nunggu sebenarnya bukan saya aja sih, tapi si papa juga. Kebalikannya, kalo saya nunggu sampe nih perut mencapai ukuran maksimal sebelum hari H, maka si papa nunggu sampe perutnya mencapai ukuran minimal…hihihihi….jadi ceritanya suami saya mo diet dulu sodara-sodaraaaa….biar bisa pake jas ngepress tanpa ada tonjolan-tonjolan di perutnya…wkwkwkwkwk…

Continue Reading…

N & G Wedding : The Flight

Sejak awal tau tentang kehadiran si adek, salah satu hal yang kami pikirkan adalah tentang kemungkinan kehadiran saya di nikahan Nathan dan Gina yang waktu itu memang udah diset di bulan Oktober. Apalagi waktu awal-awal hamil saya sempat musti bedrest selama 2 minggu which was one of the hardest moment in my life 😦

Puji Tuhan, si adek makin lama makin kuat….ya kurang kuat apalagi coba kalo satu aja tendangannya sekarang bisa bikin mamanya sesak napas atau mual seketika :D. Di usia 33 minggu which was a day before the flight to Manado, beratnya sudah mencapai 2.6kilo. Lumayan besar untuk bayi dalam kandungan di usia segitu. Ditambah lagi air ketuban dalam perut ini terbilang banyak, hingga jadilah perut saya gedenya udah kayak orang yang tinggal nunggu hari aja buat melahirkan. Mana bentuk perut ini lonjong bener ke depan, bikin orang suka gemes liatnya…ya well, orang-orang yang suka gemes itu gak tau aja tenaga yang musti saya keluarin di setiap satu langkah yang musti saya buat…ngos-ngosan aja, kakaaaakkk! 😀

Continue Reading…