Review Kompor Listrik

Yes, malam ini bisa santai!

Mulai besok saya cuti sampai dua minggu ke depan sementara anak-anak juga lagi libur sekolah, makanya bisa santai kayak gini dan untuk kali ini saya mendedikasikan momen yang jarang banget bisa saya dapatkan ini untuk menulis tentang kompor listrik. Dari sekian banyak cerita yang udah tertunda-tunda untuk ditulis di sini, kenapa justru saya memilih kompor listrik, mungkin karena dipengaruhi oleh dua kejadian dengan kompor gas yang lumayan mengerikan yang terjadi pada dua orang yang saya kenal dalam waktu yang hampir berdekatan di bulan ini.

Kejadian pertama, kurang lebih dua atau tiga minggu yang lalu terjadi sama istri mantan staff pak suami. Saya kenal dengan istrinya ini karena otomatis beliau adalah juga mantan anggota saya di organisasi persatuan istri di kantor unit pak suami. Saya gak bisa cerita detail kejadiannya, tapi yang pasti si istri kena dampak kebocoran gas dari tabung elpiji 12kg dan mengalami luka bakar yang mana sampai sekarang ini masih proses penyembuhan (salah satunya termasuk dengan operasi plastik). Bagian yang paling mengerikan, si istri sedang dalam kondisi hamil 3 bulan. Puji Tuhan kandungannya sampai sekarang tidak kenapa-kenapa dan saya berharap tetap sehat-sehat saja sampai waktu melahirkan nanti. Amiiinnn….

Kejadian kedua, baru terjadi dua hari yang lalu di rumah kontrakan teman saya, di mana api dari kompor gas tiba-tiba membesar tanpa terkendali hingga menjalar sampai ke selang tabung gas. Syukurlah teman saya bisa gerak cepat buat nanganin apinya pakai keset basah. Puji Tuhan, teman saya yang juga sedang hamil ini gak kenapa-kenapa, meski ngalamin shock yang sampe sekarang bikin dia gak berani nyalain kompor lagi.

Dua kejadian itu ngingetin saya pada peristiwa tahun 2009 yang lalu di rumah kontrakan kami, yang mana saat itu cuma karena mujizat aja kami bisa selamat dan gak terjadi hal apapun.

Ancaman kejadian-kejadian kebocoran gas seperti itulah yang jadi alasan utama kenapa kami sudah setahun terakhir ini beralih ke kompor listrik.

Kompor listrik andalan di rumah

Setahun lebih sudah pakai kompor listrik dan saya bisa bilang kalau saya benar-benar bersyukur sudah menyetujui ide pak suami ini. Iyes, aslinya memang suami yang mendesak saya untuk beralih ke kompor listrik. Wajar sih dia yang mendesak karena sebenarnya dia yang paling pusing berurusan dengan ketakutan saya terutama setiap kali perlu ngeganti tabung gas. Mana kami per dua minggu sekali pula ganti tabungnya πŸ˜€ . Gak mau terus menerus berurusan dengan ketakutan saya dan sadar betul bahwa dengan pake kompor gas tidak membuat istri tercintanya merasa benar-benar aman, pak suami pun mengusulkan (baca: setengah memaksa, setengahnya lagi mendesak) untuk segera ganti ke kompor listrik.

Pilihan kami pun jatuh pada kompor listrik dari Optimum seri Aria yang memiliki dua cooktop. Satunya induksi, satunya lagi Infrared. Saya akan jelaskan nanti kenapa memilih kompor listrik dengan jenis seperti ini.

Di tulisan ini saya akan bahas tentang kompor listrik secara detail karena saya tau banyak yang pengen tau. Saya sering dapat pertanyaan baik di IG, di FB, maupun juga secara langsung tentang kompor listrik, karena itu saya tau apa yang akan saya tulis di sini akan cukup berguna buat cukup banyak orang. Saya akan mulai dari jenis-jenis kompor listrik dan rekomendasi jenis kompor listrik yang terbaik, sebelum masuk ke the best part-nya yaitu kenapa memilih kompor listrik dibanding kompor gas yang menggunakan tabung.

Jenis-Jenis Kompor Listrik

Sejauh ini ada tiga jenis kompor listrik: konvensional, induksi, dan infrared.

Kompor listrik konvensional

Jenis kompor listrik ini menggunakan listrik sebagai sumber panas yang dialirkan melalui kabel nichrome menuju gulungan besi di atas kompor yang membuat permukaan kompor menjadi panas.

Contoh kompor listrik konvensional
Kompor listrik yang sering banget ditemukan di apartemen yang disewakan ato di family suite hotel seperti ini adalah juga termasuk kompor listrik konvensional

Kelebihan jenis kompor listrik ini adalah pada harganya yang relatif murah karena teknologinya sudah konvensional.

Kekurangannya, jenis kompor ini lama panasnya dan meskipun kita bisa mengatur level panasnya, namun panasnya gak akan langsung berubah begitu kita mengganti levelnya. Dengan kata lain, kompor ini selalu butuh waktu untuk menyesuaikan panas baik naik maupun turun. Tentu aja hal ini sangat gak nyaman buat masak ya…

Kompor induksi

Kompor listrik jenis ini menggunakan elektomagnet untuk memasak makanan. Di bagian bawah area memasak pada kompor, terdapat lilitan logam di mana ketika kompor dinyalakan, arus bolak-balik akan mengalir melalui lilitan dan memproduksi medan magnet yang tidak terlihat. Apabila di atas area memasak diletakkan peralatan yang terbuat dari besi atau stainless steel yang bersifat magnetik, maka medan magnet yang diproduksi oleh lilitan tersebut akan menginduksi arus listrik ke dalam peralatan masak hingga peralatan masak tersebut menjadi panas dan bisa mematangkan makanan. Kompor induksi tidak memanaskan kompor, namun memanaskan peralatan masak di atasnya. Tanpa peralatan masak yang mengandung magnetik, maka kompor tidak akan bekerja.

Kelebihan kompor induksi adalah sebagai berikut.

  1. Hemat energi, karena tidak ada energi yang terbuang. Seluruh energi yang dihasilkan, diinduksi langsung ke dalam peralatan masak
  2. Panas cepat menyebar dalam peralatan masak, sehingga memasak menjadi lebih cepat dan efisien
  3. Sangat aman karena permukaan kompor (kecuali yang bersentuhan langsung dengan dasar alat masak yang sedang dipanaskan) tidak ikut menjadi panas. Selain itu juga aman karena biasanya jenis kompor ini memiliki fitur untuk off secara otomatis bila pemanasan sudah berlebihan alias terlalu lama.
  4. Pada umumnya kompor induksi dilengkapi berbagai macam menu mode memasak serta berbagai level daya listrik/panas yang dapat diubah sewaktu-waktu selagi memasak di mana perubahan mode serta panas tersebut langsung terjadi bersamaan dengan kita pencet tombol. Hal ini membuat proses memasak jadi nyaman karena panas yang dibutuhkan untuk memasak makanan dapat terkontrol dengan baik.
  5. Sangat mudah dibersihkan

Kekurangannya?

Jenis kompor ini hanya kompatibel dengan peralatan masak yang bersifat magnetik seperti stainless steel dan besi. Jadi, kalo mau beralih ke jenis kompor ini, maka kita juga siap-siap belanja peralatan masak baru kalo sebelumnya belum punya koleksi wajan dan panci stainless steel/besi yang mumpuni πŸ˜€ . Tapi untuk ini sepertinya justru bisa jadi keuntungan buat ibu-ibu ya, karena jadi nemu alasan buat belanja wajan baru…hehe….

Some of my wajan and panci at home
Kompor INFRARED

Jenis kompor ini Menggunakan lampu halogen dalam logam anti korosi, di mana lampu halogen tersebut dikelilingi oleh radiasi kumparan untuk menghasilkan panas yang merata. Panas tersebut kemudian ditransfer ke peralatan masak di atas kompor melalui radiasi infrared secara langsung.

Keuntungan kompor infrared:

  1. Hemat energi, karena panas cepat sekali dialirkan ke peralatan masak sehingga memasak menjadi lebih cepat dan efisien
  2. Pada umumnya dilengkapi berbagai macam menu mode memasak serta berbagai level daya listrik/panas yang dapat diubah sewaktu-waktu selagi memasak di mana perubahan mode serta panas tersebut langsung terjadi. Hal ini membuat proses memasak jadi nyaman karena panas yang dibutuhkan untuk memasak makanan dapat terkontrol dengan baik
  3. Pada umumnya dilengkapi fitur keamanan, di mana apabila proses memasak sudah terlalu lama, maka panas akan otomatis diturunkan bahkan secara otomatis kompor kemudian akan berhenti beroperasi
  4. Dapat digunakan untuk segala jenis peralatan masak (kecuali plastik)

Kekurangan kompor infrared:

  1. Permukaan kompor ketika sedang beroperasi bisa menjadi sangat panas sehingga berbahaya apabila tersentuh
  2. Butuh waktu yang cukup lama untuk proses pendinginan setelah selesai digunakan

Jenis Kompor Listrik yang Terbaik

Jadi, dari tiga jenis kompor listrik yang udah saya tuliskan di atas, kira-kira yang mana ya yang paling baik?

Kalo dari saya, saya akan merekomendasikan kompor listrik yang menggabungkan antara induksi dan infrared. Dengan cara ini, maka kita bisa mendapatkan kenyamanan menggunakan kompor listrik dengan pemanasan yang cepat serta hemat energi (hal ini tidak bisa didapatkan pada kompor listrik konvensional) namun kita juga tidak perlu membuang peralatan masak yang tidak bersifat magnetik.

Kompor listrik dengan dua cooktop, induksi dan infrared

Kompor Listrik (Induksi – Infrared) Bisa Digunakan untuk Memasak Apa Saja?

You name it. Mau rebus, goreng, kukus, numis, manggang. Apa pun kegiatan memasak kita, bisa dipenuhi dengan kompor listrik. Percayalah, karena saya sudah pakai dan tidak pernah ada hambatan dalam kegiatan memasak saya dengan jenis kompor ini. Kalau yang baca ini follow IG saya @blessed.kitchen, bisa lihat kalau semua masakan yang ada di IG itu dihasilkan dari kedua kompor listrik saya di rumah πŸ™‚ .

Ada yang pernah nanya, katanya kompor listrik gak bisa dipake buat ngegoreng…iiihh…siapa bilang??? πŸ˜€

Kompor Listrik (Induksi – Infrared) vs Kompor Gas

Sekarang, tentu yang jadi pertanyaan, jika dibandingkan dengan kompor gas maka apa sih yang jadi kelebihan dan kekurangan kompor listrik ini?

Lebih aman dan nyaman

  • Bebas dari rasa khawatir akan kebocoran gas dan tidak perlu harus mengecek selang dan regulator tabung gas. Penting banget iniiii! Hayo, buat yang pake kompor gas dengan sumber gas dari tabung LPG, adakah yang gak pernah kuatir dengan resiko kebocoran gas ini? Saya rasa gak mungkin cuma saya aja yang selalu takut tiap kali udah waktunya ngeganti tabung gas πŸ˜€ . Saya yakin yang baca ini banyaaakkk yang punya ketakutan seperti saya. Apalagi ibu-ibu…hehehe….
  • Karena rata-rata jenis kompor ini memiliki fitur otomatis bisa mati sendiri jika terlalu lama dalam kondisi on dan pemanasan sudah berlebihan, maka tentu ini jadi point keamanan yang sangat baik. Sapa tau gitu ada masa-masa di mana lupa matiin kompor…hehehe….
  • Suhu dalam dapur tidak sepanas jika menggunakan kompor gas. Ini berguna banget buat yang punya dapur kecil seperti dapur saya dan tinggal di daerah tropis seperti tanah air tercinta Indonesia ini. Dadah bye bye deh sama masak sambil keringetan. Beneran lho, masak pake kompor induksi/infrared sama sekali gak bikin dapur jadi panas!
  • Perawatan kompor lebih mudah dan jauh lebih mudah dibersihkan. Ini penting banget buat ibu-ibu sibuk yang hampir tak punya waktu untuk bongkar pasang tungku kompor cuma buat bersihin tungku dari jelaga hasil pembakaran dengan api. Dengan kompor listrik, kita cuma perlu bermodalkan kain lap dan cairan pembersih, kompor pun bersih mengkilap seketika πŸ˜€ . Selain menghemat waktu bersih-bersih dapur, juga menghemat tenaga kita kan?
  • Untuk merubah besar kecilnya ‘api’ (baca: naik turun suhu dan/atau daya), kita gak perlu nunduk-nunduk biar bisa lihat api di bawah panci/wajan. Cukup tekan-tekan tombol aja udah cukup…hehehe….
  • Tampilan kompor listrik lebih menarik dan bersih dibanding kompor gas. Kalo soal ini gak perlu dijelasin lagi lah ya. Kompor listrik itu kesannya jelas lebih modern dan elegan…hehe…
Keamanannya bikin kita gak ragu untuk membiarkan anak di bawah umur belajar masak sendiri πŸ˜€

Lebih ramah lingkungan

  • Tidak ada pelepasan nitrogen dioksida, karbon monoksida, dan formaldehyde ke udara seperti dalam penggunaan kompor gas
  • Udara dalam rumah menjadi lebih bersih dibanding memasak dengan kompor gas
  • Telah banyak tersedia sumber daya energi terbarukan untuk memproduksi listrik, sehingga kita dapat menghemat sumber daya energi tak terbarukan untuk anak cucu. Inilah salah satu sebabnya mengapa perkembangan teknologi dunia semakin ke sini semakin ke arah penggunaan energi listrik. Sesekali mikir jauh ke depan untuk sesuatu yang kita lakukan setiap hari seperti memasak, tentu tak ada salahnya kan?

Lebih HEMAT

  • Tidak ada energi yang terbuang ketika memasak dengan kompor induksi sehingga proses memasak lebih cepat dan lebih hemat energi
  • Memasak dengan kompor listrik (induksi dan infrared) lebih cepat dibanding dengan kompor gas sehingga lebih hemat energi
  • Dibanding menggunakan gas LPG terutama Non Subsidi, menggunakan kompor listrik akan lebih menghemat pengeluaran rumah tangga. Pengalaman saya, sebelumnya dengan kompor gas saya butuh 2 tabung gas 12kg setiap bulannya, yang mana satu tabungnya harganya kurang lebih Rp 180.000. Setelah beralih ke kompor listrik, dan meski setelah saya menambah kompor listrik lagi (satu tungku induksi, merk Kris), saya hanya perlu menambah biaya listrik sebesar Rp 200.000 saja setiap bulannya. Lumayan lebih hemat kan?
Sengaja nambah kompor listrik lagi supaya masak bisa lebih ngebut…hehe… Yang kompor induksi Kris 1 tungku itu sifatnya portabel, jadi cuma saya taro di atas countertop kalo lagi diperlukan aja, kalo lagi gak dipake ya tinggal disimpan di salah satu kabinet yang memang saya siapin khusus untuk kompor ini

KELEMAHAN KOMPOR LISTRIK (INDUKSI – INFRARED) DIBANDING KOMPOR GAS

  1. Untuk mendapatkan manfaat maksimal dari kompor listrik, maka dibutuhkan daya listrik yang besar (semakin besar daya yang digunakan, semakin cepat proses memasak). Jadi dengan kata lain, kalau daya listrik di rumah pas-pasan, maka kita perlu nambah daya listrik dulu sebelum berpikir mau pake kompor listrik. Pengalaman saya dengan kompor listrik dua tungku, baru bisa nyaman dipakai di daya 3500 Va. Kalau sekarang di rumah saya dayanya 5500 VA, jadi nyaman senyamannya kalau pakai alat-alat listrik. Toh, kabar baiknya Tarif Rupiah per kWh (pemakaian listrik) rumah tangga yang ditetapkan pemerintah adalah sama dari daya 1300 VA sampai > 6600 VA. Jadi mau daya kecil ataupun besar, bayarnya gede atau gak ya tergantung pemakaian kita aja. Untuk kasus kompor listrik, meski membutuhkan daya listrik yang besar untuk mendapatkan manfaat maksimal dari kompor listrik induksi dan infrared, namun pemakaian listrik selama proses memasak adalah kecil sehingga penggunaan kompor listrik jenis ini tidak akan mengganggu pengeluaran rumah tangga untuk biaya listrik. O ya, saya buka-bukaan di sini. Dengan daya listrik sebesar 5500 VA di rumah saya dan dengan penggunaan tiga tungku kompor listrik plus segala macam alat listrik yang lain di rumah, saya mengeluarkan biaya listrik sebesar Rp 1.000.000 setiap bulannya. Termasuk hemat kan, karena uang segitu udah dipakai untuk masak (buat kompor, kulkas, dispenser, coffee maker, oven, toaster, etc), nyuci, nyetrika, entertainment (via TV, HP, komputer, nintendo, play station, etc), penerangan, dan kenyamanan (via AC dsb dsb…. πŸ˜€ ). See? Pakai kompor listrik tidak berarti biaya listrik akan langsung meningkat tajam, sebaliknya justru lebih hemat karena biaya beli tabung gas (non subsidi) bisa dipangkas habis.
  2. Hanya dapat beroperasi dengan peralatan masak tertentu (kompor induksi hanya bisa beroperasi dengan perangkat besi dan stainless steel, sementara kompor infrared meski dapat beroperasi dengan semua jenis perangkat masak namun tetap memerlukan perangkat masak yang dasarnya memiliki bagian datar. Untuk yang satu ini, meski sekarang belum terlihat namun dengan semakin meningkatnya permintaan akan kompor induksi dan infrared terutama di negara-negara maju di Asia dan Eropa, maka produsen kompor listrik semakin berlomba-lomba untuk berinovasi agar kelemahan ini dapat teratasi. Tapi sebenarnya kalo dipikir-pikir, kelemahan ini bisa jadi keuntungan juga kok, karena kita jadi mau gak mau beralih ke peralatan masak yang lebih sehat πŸ™‚
  3. Bergantung pada kehandalan pasokan listrik. Of course. Absolutely. Definitely. Hehehe…. Ini jadi tugas PLN ya untuk menjaga keandalan pasokan listrik supaya pelanggannya nyaman. Gak lucu kan ya kalo lagi asik-asiknya masak, eh listriknya mati πŸ˜€

Tips Memilih Kompor Listrik

Sekarang, kalau yang baca ini kemudian merasa tertarik untuk beralih ke kompor listrik, maka kira-kira apa aja sih yang perlu diperhatikan supaya bisa mendapatkan kompor yang terbaik? Berikut tips dari saya yaaa….

  1. Pilihlah antara induksi dan/atau infrared karena meski lebih mahal, namun setiap rupiahnya berharga kenyamanan yang tidak didapatkan dari kompor listrik konvensional.
  2. Pilih kompor yang memiliki variasi level panas dan/atau daya dari kecil sampai besar. Hal ini berguna banget dalam proses memasak, karena setiap jenis kegiatan memasak akan membutuhkan panas yang berbeda. Contohnya mengukus, otomatis membutuhkan panas lebih tinggi dibanding menggoreng. Semakin jauh range panas dan/atau daya listrik yang disediakan kompor dari yang paling kecil sampai yang paling besar maka akan semakin baik. Jangan lupa, semakin besar daya listriknya, semakin cepat pula proses masaknya, jadi pilih kompor yang menyediakan daya maksimal cukup besar. Untuk kompor saya yang Aria, tungku induksinya memiliki range daya dari 300 watt – 1300 watt, sementara tungku infrarednya memiliki range daya 60 watt – 1500 watt. Untuk kompor saya yang Kris yang hanya memiliki 1 tungku induksi, range dayanya dari 60 watt – 1600 watt.
  3. Pilih kompor yang tungkunya ada pinggirannya untuk mencegah panci tergelincir. Seperti yang kita tau, biasanya kompor terutama yang induksi memiliki permukaan dari kaca dan rata, yang mana ketika kita memasak sup misalnya, bisa saja ada kuah yang tumpah keluar dari panci, hal ini bisa bikin panci tergelincir. Hal ini yang jadi pengalaman saya dengan kompor Kris, karena tidak memiliki pinggiran pada bagian tungkunya, jadi saya harus lebih berhati-hati. Beda dengan kompor Aria dari Optimum (lihat gambar-gambar di atas), pada tungkunya terdapat pinggiran berupa cincin logam ditambah permukaan tungku yang tidak licin, sehingga panci dan wajan akan tetap berada pada tempatnya tanpa bergeser sedikitpun.

Kesimpulan

Sebagaimana segala sesuatu di bawah matahari di alam semesta ini yang tak ada yang sempurna, demikian juga perkara kompor ini. Mau kompor listrik apapun itu ataupun kompor gas, masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Yang mana yang paling tepat untuk kita, tentu bergantung pada bagaimana kebutuhan dan prioritas kita. Karena saya dan suami memprioritaskan keamanan, maka kompor listrik menjadi pilihan yang jauh lebih baik dibanding kompor gas. Selebihnya mengenai adaptasi memasak dan sebagainya, bisa menyesuaikan yang penting yang jadi prioritas bisa didapatkan πŸ™‚ .

=====================================

Fiuuuhhhh…..lumayan panjang juga yaaaa saya nulisnya malam ini. Senaangg rasanya akhirnya bisa juga saya berbagi soal kompor listrik ini. Sebenarnya di FB juga sudah pernah sih saya share tentang kompor listrik (di-share sebanyak puluhan kali sama orang-orang…seneenggg karena itu pertama kalinya status saya pada di-share. Walo hanya puluhan, tapi itu udah banyak buat saya! πŸ˜€ ), tapi karena hanya berupa status, jadi rasanya masih kurang penjelasannya. Kalo ditulis di blog gini bisa lebih komplit dan lebih puas.

O ya, note juga buat yang baca. Tulisan ini bukan tulisan ilmiah ya. Ini hanya berdasarkan pengalaman dan sepengetahuan saya saja. Saya juga tidak bermaksud secara sengaja untuk mengiklankan atau mempromosikan merk tertentu, saya hanya berbagi pengalaman saja. Sesederhana itu. Tolong jangan diperumit…hehehe…

Demikianlah pemirsa, ini udah tengah malam. Saya udah ngantuk. Selamat menyambut pekan yang baru yaaa….

Ibu-ibu yang bahagia dengan pilihan kompor listriknya πŸ™‚
Iklan

8 respons untuk β€˜Review Kompor Listrik’

  1. Memang horor sih kalau pakai tabung gas. Selalu ada was was. Apalagi kalau pasang tabung baru kadang suka ga pas atau karet dalamnya ga ada, jadinya gas mendesis keluar.

    Alhamdulillah sekarang udah ga beli2 gas tabung lagi. Tp tetap pakai kompor gas krn beralih berlangganan gas ke PGN. Sejak langganan PGN ga was was lagi. Kl pergi2 langsung turn off aja meteran gas nya.

    Baca jurnal ini penasaran dengan kompor listrik juga nih sekarang.. Hihihi

  2. dulu pertama kali pake kompor listrik, si esther gak suka tapi setelah 10 tahun sekarang di tempat baru pake kompor gas (pake api) jadi kangen ama kompor listrik. hahaha. gua juga lebih suka pake listrik berasa lebih aman aja.

    tapi kalo mau bikin martabak, gak bisa pake yang listrik karena mesti pake api. πŸ˜€

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s