Pandangan Pertama dan Pertemuan Kelima #roadToMarch8

Ini adalah episode ke-2, kalau belum membaca episode ke-1, singgah dulu ke situ yaaa….supaya seru bacanya, hehe…

Si Bujang

Siang menjelang sore hari itu, cuaca di Jakarta sedang panas-panasnya. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya di mana curah hujan di awal tahun cukup deras mengguyur kota, di hari itu matahari memilih untuk bersinar segarang-garangnya hingga membuat awan pun memilih menyingkir dari langit Jakarta dan menyerahkan sepenuhnya tugas melindungi langit kota dari sinar matahari pada kabut asap dari pabrik-pabrik serta kendaraan bermotor. Efeknya tentu berkebalikan, alih-alih menjadi teduh, asap dan polusi justru membuat udara semakin pengap di tengah cuaca panas itu.

Namun bagi dia, cuaca yang begitu panas serta udara yang pengap bukanlah hal yang menjadi persoalan, meski gara-gara itu dia sempat merasa sangat kegerahan. Pikiran dan perasaannya sedang terfokus pada hal lain sehingga tak punya waktu untuk memikirkan hal sepele semacam cuaca.

Dia sedang gelisah.

Hari itu, adalah hari di mana dia harus datang melapor ke salah satu kantor diklat yang dimiliki oleh BUMN yang belum lama ini mengirimi surat panggilan untuknya setelah dia dinyatakan lulus seleksi rekrutmen hingga di tahap terakhir. Hatinya sebenarnya belum  benar-benar yakin dengan keputusan untuk bergabung dengan BUMN ini, dia masih gelisah, khawatir bila ternyata dia membuat keputusan yang salah. Dia telah mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja dan siang menjelang sore hari itu dia telah berada di pintu masuk gedung diklat di Slipi sebagaimana yang tercantum dalam surat panggilan.

Dalam surat tersebut juga sudah disebutkan bahwa diklat akan berlangsung selama kurang lebih dua bulan di beberapa tempat yang berbeda. Registrasi peserta diklat yang bersedia memenuhi panggilan dilakukan di gedung diklat di Slipi ini, selanjutnya esok harinya seluruh peserta akan dibawa ke Sukabumi untuk mengikuti pendidikan kesamaptaan selama kurang lebih sembilan hari yang kemudian akan dilanjutkan dengan pendidikan pengenalan perusahaan di gedung diklat di daerah Ragunan selama tiga hari sebelum kemudian seluruh peserta akan dikelompokkan sesuai dengan jurusan masing-masing untuk mengikuti diklat selama satu bulan di berbagai pusat diklat milik BUMN tersebut yang tersebar di pulau Jawa.

Hari itu, adalah hari terakhir untuk melaporkan diri dan dia memang sengaja menunggu sampai hari terakhir untuk datang ke kantor diklat di Slipi ini. Begitu tiba, dia mendapati lobi telah cukup padat oleh para peserta diklat. Meski jumlah calon pegawai yang diterima pada tahun ini lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya, namun tetap saja jumlah totalnya mencapai ratusan orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Dari suasana yang terlihat di lobi saat itu, sepertinya para peserta dari luar daerah sudah terlebih dahulu datang, mungkin mereka bahkan sudah tiba di sini dari sejak satu atau dua hari sebelumnya.

Setelah mengedarkan pandangan sejenak ke seluruh area lobi, dia pun segera menuju ke meja resepsionis. Tas ransel yang berisi pakaian serta berbagai keperluannya selama dua bulan ke depan, diletakkannya di lantai, lalu dia pun mengurus proses registrasi bersama petugas yang duduk di belakang meja resepsionis. Tak lama, namanya sudah resmi termasuk dalam daftar peserta diklat dan petugas di depannya pun menyerahkan tanda pengenal peserta serta informasi mengenai nomor kamar di gedung diklat tersebut yang akan dia inapi malam itu. Dia juga mendapat informasi bahwa dia akan berbagi kamar bersama lima orang peserta lainnya.

Merasa sudah mendapatkan informasi yang cukup, tanda pengenalnya pun dia masukkan ke dalam tas sebelum meletakkan tasnya kembali ke punggungnya. Sekali lagi dia mengedarkan pandangan dengan tujuan untuk mencari posisi lift agar bisa segera menuju ke kamarnya. Meski saat itu lobi sedang ramai, namun dia belum ada keinginan untuk berkenalan dengan peserta diklat yang lain. Urusan berkenalan bisa nanti jika perasaan hatinya sudah lebih baik, pikirnya.

Tak perlu mencari lama, matanya sudah bisa menangkap posisi lift yang hendak dia tuju. Sama seperti kondisi lobi, di depan lift juga terlihat cukup ramai orang yang sepertinya sedang antri untuk naik. Melihat kondisi yang ramai sempat membuatnya enggan untuk melangkahkan kaki ke situ, namun dia tahu bahwa kondisi ramai itu tak akan surut dengan segera, malah bisa jadi akan bertambah, karena itu dia pun akhirnya bergerak melangkah ke arah lift.

Baru dua langkah dia berjalan, dan langkahnya terhenti seketika.

Di antara para peserta yang sedang antri menunggu lift itu, ada seorang gadis yang terlihat cukup menonjol dibanding yang lainnya. Gadis itu memakai baju merah lengkap dengan kalung salib berbatu merah di lehernya. Rambutnya berwarna coklat dan terlihat agak kemerahan diterpa sinar matahari sore yang menembus masuk ke dalam lobi saat itu dan membuat anak-anak rambutnya seolah membentuk sinar halo di sekeliling kepalanya. Gadis itu terlihat sedang bercanda dengan teman di sampingnya, beberapa kali gadis itu tersenyum lebar membuat lesung di pipi kirinya tercetak dengan jelas.

Cantik.

Indah.

Namun bukanlah kenyataan bahwa  gadis itu mungkin adalah gadis tercantik yang pernah dilihatnya yang membuat dia terpana hingga tanpa sadar menghentikan langkahnya, melainkan karena senyum gadis itu yang membuat dia terlempar pada suatu masa di belasan tahun silam.

Ketika itu dia masih berusia 9 tahun. Suatu hari, saat sedang dalam becak menuju ke rumah sepulang dari sekolah, dia yang merasa kelelahan dan antara mengantuk serta berusaha terjaga, tiba-tiba mendapatkan suatu visi dalam mimpi. Dalam mimpi setengah terjaga itu dia melihat sosok gadis yang beranjak remaja, berambut coklat agak kemerahan, dengan senyum ceria yang bagi dia sangat menarik. Tak hanya sosok gadis itu yang dia lihat, namun dia juga mendengar suara dalam kepalanya yang bilang bahwa kelak gadis inilah yang akan menjadi istrinya. Dia masih bocah cilik saat itu. Tidak mengerti apa-apa, termasuk urusan taksir menaksir lawan jenis. Namun mimpi yang dia dapatkan di siang hari itu, membuat dia merasa bahagia. Hingga beberapa hari selanjutnya dia masih bisa tersenyum-senyum sendiri ketika mengingat sosok gadis itu. Seiring waktu, dia kemudian berhenti memikirkan soal gadis dalam mimpinya itu. Namun berhenti memikirkan bukan berarti membuat memori akan itu hilang. Senyum gadis itu tetap terpatri dalam ingatannya. Bahkan hingga kini.

Dan sore itu, senyum yang sama kembali dilihatnya pada gadis berbaju merah di depan lift itu, seakan-akan gadis yang dilihatnya dalam mimpi belasan tahun itu telah  menjelma menjadi sosok nyata yang kini berada tepat di depannya.

Wow…. Luar biasa, pikirnya.

Meski dia masih antara percaya dan tak percaya akan pengalaman aneh tapi nyata yang dia alami, namun instingnya mengatakan bahwa dia harus segera mengenal gadis itu. Saat itu juga. Sayang dia terlambat. Begitu dia tersadar, gadis itu sudah masuk ke dalam lift, hilang dari pandangannya.

Sial, pikirnya, tapi tak apa. Diklat belum resmi dimulai, masih banyak kesempatan lain untuk berkenalan.

Menjelang malam hari dan semua peserta diminta berkumpul di aula untuk mendapatkan penjelasan mengenai proses diklat yang akan berlangsung, di antara ratusan peserta yang hadir, dia kembali melihat gadis itu. Namun lagi-lagi, kesempatan untuk berkenalan belum bisa dia dapatkan.

Selesai dari aula, mereka menuju ke ruang makan untuk makan malam. Dari jauh, dia terus memperhatikan gadis yang tampaknya selalu berombongan dengan teman-temannya itu. Ingin sekali dia segera berkenalan, tapi entah kenapa selalu ada saja yang menghalangi.

Malam hari, menjelang tidur, dia bercakap-cakap dengan teman-temannya sekamar. Salah satu tema obrolan laki-laki tentu adalah tentang pacar.

“Kalo lo gimana?”, tanya salah satu temannya, “Pacar lo di mana? Cuma satu apa banyak?”

Menanggapinya dia tertawa.

Pacar….

Dia belum lama putus dari pacarnya selama dua tahun. Meski peristiwa putus itu belum lama, namun ketika ditanya tentang pacar saat itu, yang terlintas dalam benaknya justru bukan mantan pacarnya, melainkan gadis berbaju merah di depan lift tadi, membuat dia langsung berucap jujur, “Kalo pacar lagi gak punya. Tapi yang lagi gua suka ada, di sini orangnya. Eh lu tau gak sih cewek yang rambutnya coklat-coklat agak merah itu?”

“Yang cewek Manado itu ya? Taulah! Tadi kenalan sama dia, anak SI,” salah satu temannya langsung menjawab. 

“Iya, gua juga tau,” temannya yang lain menimpali, “Cantik emang. Lu suka dia? Udah punya pacar dianya, bro!”

Mendengar itu, dia hanya bisa terdiam.

Informasi tanpa tedeng aling-aling dari temannya itu memang tak dapat disangkal mematahkan hatinya. Sampai hendak tidur pun dia masih terus memikirkan tentang itu, namun dia berusaha menyemangati diri. “Tenang saja,” dia berkata pada jiwanya, “Jika memang benar dialah jodohmu, sebagaimana suara yang dulu kau dengar itu, maka Tuhan yang akan menolongmu mendapatkannya.

Esok harinya, seluruh peserta diklat bersiap untuk menaiki bus yang akan membawa mereka ke Sukabumi. Gadis berbaju merah kemarin, hari ini berbaju ungu. Dia tahu, tentu saja, karena lagi-lagi dia memperhatikan gadis itu dari jauh. Sama seperti kemarin, gadis itu banyak tersenyum dan pagi ini di bawah sinar matahari langsung, rambutnya terlihat lebih coklat terang. 

Dia masih terus memandang dan memperhatikan gadis itu ketika tiba-tiba dia merasa pundaknya ditepuk dari belakang. Ketika dia menoleh, dia mendapati bahwa yang menepuk pundaknya adalah salah satu peserta diklat yang sempat berkenalan dengannya di ruang makan semalam yang ternyata sampai menepuk pundaknya hanya untuk memberikan informasi yang sudah dia tahu sebelumnya bahwa gadis yang sedang dia pandangi itu telah memiliki pacar. Seharusnya dia malu karena tertangkap basah sedang memperhatikan gadis itu, tapi dia tidak peduli. Dia juga sebenarnya tidak bertanya dan tidak meminta informasi tentang pacar gadis itu, tapi temannya yang tadi menepuk pundaknya memberikan informasi itu dengan sukarela bahkan sampai menunjukkan yang mana orangnya.

Pacar gadis itu ternyata ada di sini juga sebagai salah satu peserta diklat.

Pada akhirnya, informasi itu membuat dia hanya bisa menghela napas panjang.

Belum sampai satu malam dan setengah hari berada di lingkungan program diklat ini dan dia sudah mendapat banyak kejutan, yang tak ada hubungannya dengan pekerjaan. Bila dipikir, betapa ironisnya yang dia alami sekarang ini. Datang ke sini bukan murni atas keinginan sendiri, lalu di sini ternyata dia bertemu (tepatnya melihat, koreksinya dalam hati, karena toh sebenarnya dia dan gadis itu belum benar-benar ‘bertemu’) dengan gadis yang pernah ada di mimpinya belasan tahun yang lalu yang dia yakini adalah orang yang memang Tuhan ciptakan untuknya, hanya untuk mengetahui bahwa gadis itu sudah memiliki kekasih yang sungguh pas, berada di sini juga.

Napas panjang yang dia hela tadi kemudian dia buang dengan perlahan.

Tidak apa-apa, katanya dalam hati, sekali lagi berusaha menguatkan diri. Jodoh itu Tuhan yang atur. Jika memang benar gadis itu adalah jodohnya, maka Tuhan yang akan beri jalan. Untuk sekarang ini, jangankan untuk mendekati, sekedar resmi berkenalan pun tidak terlalu diminatinya lagi. Melihat dari jauh saja sudah cukup membuat hatinya patah, apalagi jika nanti menjadi dekat dan tahu bahwa dia tidak bisa memiliki gadis itu. Lebih baik menjaga jarak dulu. Hubungan gadis itu dengan pacarnya juga harus dia hormati. Lagipula jalan masih panjang, setelah diklat ini selesai pun dia tidak tahu akan ditempatkan di mana dan sudah seharusnya urusan penempatan itu lebih dia pikirkan dan doakan daripada gadis itu. Untuk sekarang, dia sudah cukup puas dengan hanya mengetahui nama gadis itu lewat informasi dari teman-teman sekamarnya. Jika memang benar gadis itu diciptakan Tuhan untuknya, maka cepat atau lambat jalan mereka akan bertemu.

Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di depan. Siapa tahu, bisa saja, justru mereka berdua ditempatkan di wilayah kerja yang sama, pikirnya optimis sebelum beranjak naik ke dalam bus yang sudah ditentukan untuknya.

*****

Si Gadis

Dia sedang berada dalam bus yang membawanya dari sebuah kampus di Jakarta Pusat menuju ke asrama diklat di Slipi yang selama dua hari terakhir menjadi tempatnya menginap. Hari itu adalah hari terakhir dari rangkaian diklat yang sudah diikutinya selama dua bulan terakhir dan tadi malam penempatan tugas telah diumumkan. Dia mendapat penempatan tugas di Palembang. Besok, dia akan kembali untuk beberapa hari di Manado sebelum berangkat kembali menuju ke tempat tugasnya.

Rasanya tak percaya bahwa dia sudah berhasil melewati waktu dua bulan ini. Melihat keluar jendela bus, melihat satu per satu gedung tinggi terlewati, dia ingin tersenyum, bersyukur untuk semua yang sudah dia jalani.

Dia bersyukur sudah berhasil melewati waktu-waktu yang begitu berat selama mengikuti diklat kesamaptaan di bawah bimbingan kepolisian. Diklat yang betul-betul menguji fisik serta mentalnya. Diklat yang selalu membuatnya teringat pada sepatu tentara…. Aaahh…mengingat tentang sepatu khas militer itu sungguh membuat dia meringis. Sepatu itulah ujian yang paling terasa berat untuknya. Berat dalam pengertian yang sebenarnya, karena bobotnya yang memang berat. Ditambah ukuran yang kebesaran, membuat dia sangat kesulitan ketika berjalan apalagi saat mereka harus mengikuti long march menyusuri jalur yang berbukit. Kakinya serasa mau copot saat itu.

Syukurlah kakinya bisa bertahan, namun tidak dengan kuku di jempol kirinya.

Diklat kesamaptaan itu berat, terbukti pada kuku kakinya yang copot dan kulitnya yang menggelap. Namun seberat-beratnya, tetap saja ada hal manis untuk dikenang, salah satunya adalah sesuatu yang menjadi highlight hari-harinya selama berada di asrama sekolah kepolisian itu. Setiap kali dia kebetulan melewati suatu kompi yang mana hingga kini pun tidak pernah bisa dia pastikan apa nama kompinya (semua peserta diklat dibagi dalam beberapa kelompok (kompi) dan masing-masing kelompok dibagi lagi menjadi beberapa kelompok kecil (peleton)), maka seluruh anggota dalam kompi yang kebanyakan laki-laki itu akan bernyanyi, “Rambut merah siapa yang punya….rambut merah siapa yang punya….”

Mengingat kompi itu serta lagu yang mereka nyanyikan membuat dia tersenyum kecil. Entah ulah siapa sampai mereka harus menyanyikan lagu itu setiap kali dia lewat di depan kompi mereka. Dia tahu lagu itu ditujukan untuknya, tapi tidak begitu peduli bahkan setiap kali mereka menyanyikan itu pun dia tidak pernah menoleh, namun karena setiap hari terjadi maka tanpa sadar momen-momen ketika mereka menyanyikan lagu itu saat dia lewat di depan kompi mereka, telah menjadi highlight bagi hari-harinya yang berat selama diklat kesamaptaan itu.

Setelah lewat masa sembilan hari di Sukabumi, dia dan seluruh peserta diklat dibawa kembali ke Jakarta di mana dia kembali menginap di Slipi. Kali ini di Jakarta dalam rangka diklat pengenalan perusahaan yang diadakan di gedung diklat di Ragunan. Kali ini tidak ada yang berat, dia bahkan menikmati perjalanan pulang-pergi Slipi – Ragunan dengan bus yang disediakan kantor setiap hari selama tiga hari itu. Dia menikmati, karena di sepanjang jalan dia bisa tidur. Ah, tidur dalam perjalanan tanpa rasa khawatir, selalu adalah merupakan kenikmatan untuknya.

Selesai dengan diklat selama tiga hari di Jakarta itu, dia dan teman-temannya yang lain yang sejurusan kemudian dibawa untuk mengikuti diklat pembidangan di unit diklat di Semarang. Kali ini diklatnya cukup lama, yaitu selama satu bulan.

Mengingat masa diklat itu membuat dia menghela napas panjang.

Bukan karena diklatnya yang berat, karena sesungguhnya dia bisa melewati semuanya dengan sangat baik. Yang berat adalah karena selagi dia jauh di Semarang, keluarganya di Manado justru sedang menghadapi persoalan yang serius yang membuatnya hampir setiap malam tidak bisa tidur memikirkan bagaimana mereka di sana. Tidak hanya itu yang menjadi beban pikirannya, dia juga harus memikirkan tentang hubungannya dengan pacarnya yang selama mereka berada di Semarang justru semakin memburuk. Dia sadar, kondisi yang memburuk itu sebagian besar karena kesalahannya. Dia yang semakin yakin bahwa tak ada masa depan untuk mereka berdua, semakin lama tanpa sadar semakin menciptakan jarak di antara mereka.

Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan hubungan mereka.

Putus atau lanjut?

Aaarrgghh…. Kepalanya selalu terasa buntu setiap kali memikirkan soal itu sehingga setiap kali dia merasa harus segera mengambil keputusan, dia lebih memilih untuk menghindar dan memberikan alasan pada dirinya sendiri bahwa adalah hal lain yang lebih prioritas untuk dipikirkan, seperti tentang masalah keluarga yang sedang terjadi juga tentang bagaimana melewati masa diklat prajabatan ini dengan baik.

Seharusnya setelah selesai diklat di Semarang, mereka sudah bisa langsung kembali ke daerah asal masing-masing untuk bersiap menuju ke tempat penugasan. Namun ternyata, di hari terakhir diklat, mereka mendapat kabar kalau ada diklat tambahan selama dua hari yang harus diikuti. Diklat itu akan diadakan di sebuah kampus yang terletak di Jakarta Pusat. Tidak hanya itu pengumuman yang mereka terima di hari terakhir diklat di Semarang, mereka juga mendapat informasi bahwa pembagian penempatan kerja akan diumumkan setelah mereka berada di Jakarta. Karena itulah, kini dia kembali berada di Jakarta.

Tadi malam, pengumuman itu sudah diedarkan. Dia mendapat penempatan di Palembang. Pacarnya? Di Papua.

Luar biasa. Jauh sekali. Kini dia tak perlu lagi membuat jarak, karena nasib mereka sepertinya sudah diatur untuk memiliki jarak…..yang sangat jauh.

Dan tadi, ketika selesai pembelajaran terakhir, dia sempat berkumpul bersama rekan-rekan yang juga mendapat penempatan tugas di Palembang dan daerah sekitarnya. Mereka berkoordinasi tentang kapan akan datang ke Palembang, akan tinggal di mana, dan sebagainya.

Mengingat pertemuan tadi membuat dia lagi-lagi menghela napas panjang. Kali ini bukan karena memori yang tidak mengenakkan, namun karena ada sesuatu yang terjadi dalam pertemuan tadi yang membuat dia terkejut dengan dirinya sendiri, hingga menyisakan kebingungan yang tak terpecahkan hingga kini.

Tadi, selesai pertemuan kecil dengan rekan-rekannya yang sama-sama mendapatkan penempatan tugas di Palembang dan sekitarnya, sebelum mereka beranjak pergi, ada seseorang yang mengajaknya bicara.

Dia tahu orang itu. Mereka sudah pernah beberapa kali bertemu. Mereka juga sudah pernah berkenalan…

Walaupun sampai sekarang dia tidak bisa mengingat nama orang itu.

Yang membuatnya terkejut dengan dirinya sendiri adalah karena ketika berbicara dengan orang itu, tiba-tiba ada perasaan kedekatan yang muncul seolah-olah mereka berdua telah lama saling mengenal dengan sangat dekat.

Begitu dekat, hingga dia seakan tahu dengan pasti bahwa pelukan orang itu sangat hangat dan bisa memberi rasa tenang dari segala permasalahan yang sedang dia hadapi kini sehingga membuatnya ingin saat itu juga berada dalam pelukan orang itu.

Sungguh mengejutkan dan tak masuk di akal.

Bagaimana mungkin dia tidak tahu nama orang itu, namun hatinya bisa tahu bagaimana rasa berada dalam pelukannya?

Dan ya Tuhan, kenapa pula dia tiba-tiba ingin dipeluk oleh orang asing?

Apa-apaan?

Kenapa bisa ada perasaan seperti itu?

Perasaan yang tiba-tiba muncul itu begitu mengejutkan, membuat dia beberapa saat gugup dan merasa malu. Bukan pada orang itu. Tapi pada dirinya sendiri. Dia yakin, orang itu juga pasti sempat menangkap perubahan ekspresi pada wajahnya yang awalnya normal namun tiba-tiba berubah antara terkejut, gugup, dan malu.

Syukurlah mereka tidak lama-lama berbicara berdua, walaupun lagi-lagi hatinya yang rupanya sedang sangat aneh itu tiba-tiba saja ingin berlama-lama berada di dekat orang itu. Hah! Malu sekali dia dengan hatinya sendiri. Syukurlah orang itu tidak bisa membaca apa yang dirasakan oleh hatinya, coba kalau bisa, rasanya dia lebih baik menciut dan hilang di balik kaki kursi saja daripada menanggung malu.

Perasaan aneh itu baru sekali ini dia rasakan, meskipun dia sudah beberapa kali berpacaran, membuat dia berpikir, wajarkah perasaan yang seperti ini?

Ah, Tuhan….. 

Masih kurangkah permasalahan yang dia hadapi yang membuat hatinya galau hingga harus ditambah lagi masalah tentang perasaan hati yang tiba-tiba aneh seperti ini?

Saat itu, di dalam bus itu, dia ingin sekali bisa menepis perasaan yang dia rasakan tadi. Permasalahannya sedang banyak, dia tidak punya waktu untuk permasalahan yang baru lagi. Tapi antara keinginan, pikiran, dan hatinya, saat itu sedang saling bertentangan. Meskipun dia ingin melupakan, tapi hatinya terus merasa rindu bertemu lagi dengan orang itu, dan pikirannya terus berusaha membawa dia mengingat siapa nama orang itu.

Dia pun tak kuasa untuk tidak mengingat-ingat kembali setiap momen pertemuan dengan orang itu.

Pertama kali mereka bertemu adalah di minggu pertama diklat kesamaptaan. Ketika itu mereka sedang mengikuti ibadah di Gereja di hari Jumat siang. Dalam ibadah itu, para peserta diklat prajabatan diminta untuk membawakan puji-pujian. Tidak banyak peserta diklat prajabatan yang beragama Kristiani, karena itu mereka semua duduk berdekatan sehingga memudahkan untuk berdiskusi tentang lagu apa yang akan mereka bawakan. Teman-teman di sekelilingnya memberikan usul lagu, termasuk orang yang duduk di belakangnya. Usulan lagu dari orang di belakangnya itu menarik perhatiannya karena itu dia pun menoleh ke belakang. Saat itulah untuk pertama kalinya dia berhadapan muka dengan muka dengan orang itu. Kesan pertama yang dia dapat, adalah orang itu mukanya ganteng. Mereka sempat saling bertatapan tapi hanya sekian detik saja, sebentar saja orang itu sudah mengalihkan pandangan dan melanjutkan diskusi tentang lagu bersama rekan-rekannya yang lain. Pada satu momen diskusi, dia sempat berkenalan dengan orang itu. Pertama kali orang itu menyebutkan namanya, dia tidak mendengarnya dengan jelas karena tertutup oleh suara pemimpin ibadah. Beberapa saat kemudian, dia memberanikan diri bertanya lagi pada orang itu siapa namanya. Orang itu, meski wajahnya terlihat terganggu karena harus mengulang menyebut namanya, tapi masih berbaik hati menyebut namanya kembali.

Yang mana nama itu kemudian dia lupakan.

Kedua kali mereka bertemu adalah ketika berada di kantin pada suatu malam. Saat itu kegiatan kesamaptaan sudah selesai untuk hari itu sehingga para peserta pun memiliki waktu istirahat sejenak sebelum batas jam malam tiba di mana mereka sudah harus berada dalam kamar. Malam itu dia ke kantin hanya untuk menikmati kopi bersama satu orang teman perempuannya. Bersama mereka, di meja berukuran panjang yang sama juga duduk banyak peserta lain, termasuk orang itu. Tidak banyak yang bisa dia ingat dari pembicaraan diselimuti candaan di malam itu. Namun yang dia tahu adalah bahwa sepanjang berada di kantin itu, tidak pernah satu kali pun orang itu berbicara langsung dengannya.

Ketiga kali mereka bertemu adalah ketika sudah berada di Jakarta untuk mengikuti diklat pengenalan perusahaan. Pada satu momen, dia duduk di belakang orang itu. Kenapa dia tahu orang itu duduk di depannya? Karena orang itu sempat beberapa kali bercanda dengan teman perempuannya yang duduk di sampingnya hingga membuat temannya itu beberapa kali tertawa terbahak-bahak membuat dia yang tidak mengerti apa yang sedang mereka candai hanya bisa diam saja. Saat itu, tak sekali pun orang itu mengajaknya bicara atau bahkan sekedar menyapanya.

Keempat kali mereka bertemu adalah di kantin saat diklat pengenalan perusahaan. Waktu itu dia merasa sangat mengantuk hingga mengajak satu orang teman perempuannya untuk diam-diam pergi ke kantin di tengah pembelajaran sedang berlangsung. Dia benar-benar merasa butuh kopi pada saat itu. Untunglah temannya mau menemani dia. Begitu tiba di kantin, ternyata orang itu bersama beberapa rekan yang lain ada di situ juga. Orang itu terlihat kaget melihat dia datang, dan ketika dia sedang menikmati kopinya, orang itu sempat mengajaknya berbicara sebentar. Apa yang dibicarakan lagi-lagi dia lupa, tapi dia ingat dia sempat lagi-lagi menanyakan nama orang itu yang membuat orang itu sempat melihatnya dengan pandangan aneh, namun dia tetap menyebutkan namanya.

Yang kemudian lagi-lagi dia lupakan.

Sejauh yang dia tahu, orang itu memang tidak pernah masuk dalam pikirannya. Sepertinya baginya orang itu hanyalah satu dari sekian ratus rekan dalam diklat prajabatan ini. Iya, dia ganteng, bahkan kalau mau jujur, dia adalah orang terganteng yang pernah bertemu langsung dengannya. Tapi meski begitu, dia tetaplah bukan orang yang penting, karena itu otaknya pun tidak pernah merasa perlu untuk mengingat namanya.

Namun anehnya, jika memang benar dia tidak penting, lalu mengapa di antara sekian ratus rekan diklat prajabatannya ini, hanya dengan dia setiap momen pertemuan yang tidak banyak itu bisa terekam dengan sangat baik. Entahkah mereka berbicara langsung atau tidak, namun asal orang itu ada di dekatnya, otaknya merekam momen itu dengan baik.

Yang mengejutkan, ketika mengingat kembali momen-momen pertemuan mereka itu, otaknya ternyata bahkan merekam setiap sorot pandangan yang diberikan orang itu untuknya. Pertama kali mereka bertemu dan berbicara, dalam beberapa detik mata mereka bertemu, dia bisa melihat dari sorot mata orang itu ada kesan kaget karena dia tiba-tiba menoleh ke belakang dan mengajak orang itu berbicara. Setelah itu sorot matanya terlihat lekat memandangnya seperti ingin merekam wajahnya baik-baik. Namun setelah itu seketika orang itu berpaling dan ketika melihat ke arahnya lagi, sorot matanya terlihat tak peduli, membuat dia berpikir mungkin dia hanya berkhayal saja tentang sorot mata yang memandangnya lekat-lekat tadi. Kedua kali mereka bertemu di kantin malam hari itu, meski mereka berdua tidak berbicara langsung, namun pada beberapa kesempatan mata mereka bertemu, sorot mata orang itu seolah menyiratkan seperti ingin mengatakan sesuatu. Ketiga kali bertemu, ketika dia duduk di belakang orang itu…. Ah, tak ada yang bisa dia ingat karena tak pernah sekalipun orang itu menoleh ke arahnya. Keempat kali ketika mereka bertemu di kantin saat diklat pengenalan perusahaan, begitu melihatnya datang, orang itu terlihat senang namun ketika mereka berbicara dan dia menanyakan kembali nama orang itu, di situ sorot matanya langsung terlihat bosan, tidak tertarik, dan ada kesan…..kecewa? 

Lihatlah, sungguh aneh kan? Orang itu seharusnya tidak penting buatnya. Selama diklat ini berlangsung sampai dua bulan, tidak pernah sekalipun dia mengingat orang itu. Bahkan namanya saja dia lupa, saking keberadaan orang itu tidak penting untuk dia. Tapi mengapa semua momen dengan orang itu seperti direkam dengan sangat baik oleh prosesor di kepalanya? Sungguh mengherankan.

Bila ditotal, mereka baru bertemu sebanyak lima kali.

Empat pertemuan pertama tidak meninggalkan kesan apa-apa, meskipun otaknya ternyata secara tak sadar mengingat semuanya. Namun di pertemuan kelima, tidak saja hanya kesan yang dia dapat, namun juga muncul perasaan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya dan yang tidak bisa sama sekali dia jelaskan dari mana datangnya, apa sebabnya, apa artinya….

Di dalam bus yang membawanya kembali ke asrama di unit diklat Slipi itu, perasaannya terus berkecamuk. Segala situasi yang terjadi membuatnya bingung. Dia ingin bercerita, tapi dia tahu tidak ada teman untuknya bercerita saat ini. Bagaimana mungkin dia bisa cerita, jika dia sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang dia rasakan? Dan apa pula yang akan dipikirkan oleh temannya bila dia bercerita tentang perasaan kedekatan yang tiba-tiba muncul dalam hatinya terhadap orang asing di saat dia sebenarnya punya pacar dan bahkan pacarnya pun berada tidak jauh dari situ? Ah, tidak….tidak… Tidak ada satu pun temannya yang akan paham. Jangankan mengerti, yang adanya mereka hanya akan menganggap dia yang tidak-tidak.

Dan apalagi jika mereka tahu, bahwa ketika dia sudah sadar bahwa tidak seharusnya dia memiliki perasaan seperti itu dengan orang asing, yang dia terus pikirkan justru adalah siapa nama orang itu dan kapan mereka bisa bertemu lagi.

Ah Tuhan….

Kembali dia menghela napas panjang, apa yang terjadi dengannya?

Sempat terpikir olehnya, andaikan kakaknya bisa dihubungi, maka mungkin kakaknya bisa membantu memecahkan misteri dalam hati dan pikirannya saat itu. Namun sayang, kakaknya sendiri sedang jauh dari jangkauannya, bahkan untuk dihubungi lewat telepon pun tidak bisa.

Dia merasa sangat sendiri.

Tapi tidak mengapa, pikirnya. Orang itu mendapat penempatan tugas di wilayah yang sama dengannya, yang berarti mereka akan segera bertemu kembali dan dia yakin pertemuan mereka nanti akan menjawab semua misteri ini. Dia akan segera tahu apa arti perasaan dekat yang dia rasakan ketika bertemu orang itu tadi. Dia juga akan segera tahu mengapa dia tiba-tiba ingin berada dalam pelukan orang itu. Dan tentu saja, satu hal yang pasti, ketika mereka bertemu maka dia akan segera tahu siapa nama orang itu dan dia berjanji jika saat itu tiba, nama orang itu tidak akan dia lupakan lagi.

Pada akhirnya, dalam sisa perjalanan dengan bus itu, dia bisa tersenyum kembali. Dia masih belum tahu apa yang akan terjadi di depan, namun semangat dalam hatinya telah terbit, dia siap untuk menyambut kehidupan yang baru yang terpampang di hadapannya.

*****

Si Gadis dan Si Bujang, mereka memang tidak bertemu dalam situasi yang biasa-biasa saja. Sedari awal mereka sudah menghadapi tantangan. Namun sebesar apapun tantangan itu, yang sudah diciptakan untuk bersama, pada akhirnya akan tetap saling memiliki.

Bersambung ke seri #roadToMarch8 selanjutnya….

😄😄😄😄

PS:

Sekali lagi ingin memberikan informasi bahwa komentar paling menarik di sepanjang seri ini, akan mendapat souvenir menarik dari saya 😘.

12 respons untuk ‘Pandangan Pertama dan Pertemuan Kelima #roadToMarch8

  1. Waaa, makin seru ceritanya 🙂 Sebagai informasi, sejak ada cerita ini, blog Alissa lho yang aku pertama aku buka kalau blog walking karena nunggu nunggu sambungannya 😀 Dan aku tahu tuh tempat pelatihan di Slipinya, karena tiap hari kalo pulang pergi kerja pasti lewat situ 😀 Dan informasi tambahan, pas abis baca yang bagian pertama, pas lewat gedung di Slipi itu, aku sempat mikir “Hmm, jangan jangan Alissa ketemu Abang P-nya pertama kali di sini ya 🙂 “Ini serius lho, gak pakai bohong :D” Ditunggu lanjutannya ya, Alissa..karena aku suka banget cerita cerita romantis kayak gini, apalagi yang kisah nyata 🙂

    1. Awww…senangnya membaca ini 😍.

      Sering lewat di gedung di Slipi itu yaaa…hehehe…iya, itu gedung berkesan banget, karena di situlah pertama kalinya suami ngeliat saya 😃.

      Makasih yaaa sudah stay tune di sini 😘

  2. Eda ini semacam, fairytail turns to real.
    Ya kan,,, kek drakor2 yg kalo di cerita dalam dramanya tuh, mereka dulu pernah ketemu, terbayang, terimpikan dsb dst yg jd semacam dejavu then becoming future fortune. *kek CLOY and legend of blue sea* contohnya haha terakhir nonton ini asli baper n kocak jadi satu😂😂..
    How lucky u are.

    And luck me, having u and all of this blog stories to read to be my “kind of happiness”.

    Membaca dan menyimak itu happiness loh. Buat saya.

    Lanjutkan da, serial berikutnya sd 8 Maret hehehe😁😁😘

    #nyimak

  3. Arrgghh ….
    Nyesel bacanya, tambah bikin penasaran soalnya nggak di lanjutin baca udah kebaca yang episode 1, mendingan turn off notif dulu deh, gak apa-apa telat baca tapi bisa baca sampai abis… soalnya kan kepikiran jadinya, meski tahu akhirnya pasti happy ending.
    *maaf saya type emak-emak ga sabaran soalnya*

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s