Tiba Saatnya Mendengarkan Suara Hati #roadToMarch8 (Tamat)

Tiba akhirnya di episode yang paling membutuhkan usaha bagi saya untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan seperti ini. Peristiwa yang terjadi dalam salah satu episode kehidupan kami ini melibatkan orang-orang lain, baik yang masih berhubungan bahkan masih dekat sampai sekarang, maupun yang sudah hilang kontak sama sekali. Saya harus menulisnya dengan hati-hati supaya tidak menyinggung pihak manapun karena memang sejak awal menuliskan kisah kami ini di sini, sama sekali tidak ada maksud untuk membawa kerugian terhadap pihak lain. Kondisi yang sebenarnya terjadi juga berusaha saya tuliskan seringan mungkin meski kenyataannya jauh berbeda dari itu, semoga meski tidak bisa terlalu detail namun bisa memberikan gambaran mengenai situasi dan kondisi pada saat itu.

Kisah kami termasuk unik dan saya tahu ada pelajaran yang bisa diambil dari apa yang kami alami, karena itu kisah yang tadinya hanya secara detail saya tuangkan dalam buku harian saya itu pun kemudian saya tuliskan di sini. Semoga sasarannya bisa tercapai ya, yang membaca bisa merasakan kebahagiaan serta sedikit banyak mendapatkan pelajaran kehidupan sementara buat kami tentu sudah cukup berbahagia dengan diabadikannnya kisah kami lewat tulisan di blog ini.

Semua cerita tentang kami ini dari episode ke episode bisa diakses via link ini yaaa…. 

*****

Continue Reading…

Butuh Waktu untuk Percaya #roadToMarch8 (Ep. 4)

Episode ke-4. Yaayyy!!! Masih setiakah menunggu kelanjutan cerita #roadToMarch8? Semoga masih ya 😘. O ya, tadi pagi suami mengirimkan saya lirik salah satu lagu Afgan, “Jodoh Pasti Bertemu”. Kata suami lirik lagu itu benar-benar pas dengan apa yang dia rasakan, alami, dan doakan dulu ketika dia hanya bisa memendam perasaannya dan melihat saya dari jauh. Lagu ini sebenarnya sudah lama kan ya, tapi sebelum ini gak begitu saya perhatikan, lagunya yang bagaimana juga saya sudah lupa. Baru setelah tadi pagi suami kirim liriknya ke saya, lagu ini pun saya cari di YouTube. Dan memang bener ya, lirik lagu ini tuh persis sama seperti harapan pak suami yang dia ucapkan di depan teman-temannya dan yang dia doakan selalu dalam hatinya setiap kali dia sudah mengingat tentang saya, yaitu kalau memang saya diciptakan untuk dia maka Tuhan yang akan membuka jalan untuk kami bisa bersama.

Jodoh itu pasti bertemu, jadi buat yang masih single, semoga bisa terus bersabar menanti jodoh yang sudah Tuhan siapkan, sambil terus peka supaya jangan sampai jodoh sebenarnya sudah datang tapi karena kita kurang peka, akhirnya malah melewatkan kesempatan itu. Sebaliknya, jangan pula lekas kegeeran, menganggap si dia adalah jodoh, padahal sebenarnya bukan, trus maksain, trus akhirnya nyesel setelah udah nikah 😅. Yah, begitulah, urusan jodoh ini memang tricky, makanya harus selalu dibawa dalam doa supaya gak salah-salah 😄.

Ok deh, demikian pembukaannya, sekarang kita lanjutin lagi ceritanya yaaa…. Oh ya, semua cerita tentang kami ini dari episode ke episode bisa diakses via link ini yaaa…. 

******

Continue Reading…

Segala Sesuatu Ada Saatnya #roadToMarch8 (Ep. 3)

Yeayyy!!! Sudah masuk ke episode ke-3, nih. Pada nungguin kelanjutannya gak? Kalau saya sih jujur saja nungguin…hahahaha… Cerita sendiri kok ditungguin ya? Habisnya gimana dong, saya sendiri juga bahagia lho kalau sudah waktunya untuk bercerita tentang kisah kami berdua, karena bagi saya, sebuah cerita bahagia akan lebih lengkap rasa bahagianya apabila dituangkan dalam bentuk tulisan 😊. O ya, banyak yang bilang cerita kami mirip drama Korea…hahahaha… Waktu ngejalanin sih sama sekali gak ada pikiran kalau ini mirip dalam drama ya, walaupun saya sejak jaman kuliah dulu sudah teracuni dengan drama Korea. Tapi begitu diingat-ingat lagi dan apalagi setelah dijadikan tulisan begini, baru deh memang saya sendiri bisa merasakan, “Eh iya ya, kok jadi kayak di drama ya??” hahahahaha….. Tapi yah, begitulah kenyataannya. Saya juga gak pernah menyangka bakal seperti ini jalan cerita kami apalagi sampai berkhayal bahwa saya akan merasakan a little glimpse of dramaland in my life, karena itu setiap kali kami bernostalgia tentang pertemuan kami dulu, yang kami rasakan adalah rasa syukur yang besar karena kami tak pernah perlu ragu bahwa kami memang diciptakan sedari awal untuk satu sama lainnya 🥰.

Ok deh, sekian dulu pembukannya, kita lanjut lagi ke cerita cinta kami…hehehe… Oh ya, semua cerita tentang kami ini dari episode ke episode bisa diakses via link ini yaaa…. 

*****

Continue Reading…

Pandangan Pertama dan Pertemuan Kelima #roadToMarch8 (Ep. 2)

Ini adalah episode ke-2, kalau belum membaca episode ke-1, singgah dulu ke situ yaaa….supaya seru bacanya, hehe…

*****

Si Bujang

Siang menjelang sore hari itu, cuaca di Jakarta sedang panas-panasnya. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya di mana curah hujan di awal tahun cukup deras mengguyur kota, di hari itu matahari memilih untuk bersinar segarang-garangnya hingga membuat awan pun memilih menyingkir dari langit Jakarta dan menyerahkan sepenuhnya tugas melindungi langit kota dari sinar matahari pada kabut asap dari pabrik-pabrik serta kendaraan bermotor. Efeknya tentu berkebalikan, alih-alih menjadi teduh, asap dan polusi justru membuat udara semakin pengap di tengah cuaca panas itu.

Namun bagi dia, cuaca yang begitu panas serta udara yang pengap bukanlah hal yang menjadi persoalan, meski gara-gara itu dia sempat merasa sangat kegerahan. Pikiran dan perasaannya sedang terfokus pada hal lain sehingga tak punya waktu untuk memikirkan hal sepele semacam cuaca.

Dia sedang gelisah.

Continue Reading…

Ssst….. Dengar-Dengaran Saja Dulu….. #roadToMarch8 (Ep. 1)

Si Gadis

“Ba dengar-dengar kwa ngana anak, susah ngana pe hidop nanti, kasiang anak eeee, kalo nintau ba dengar pa orangtua….”

Kalimat itu, adalah kalimat yang paling sering didengarnya dari sejak kecil hingga di usianya yang hampir dua puluh tiga tahun ini. Di antara kakak beradiknya, dia memang yang paling bandel sejak kecil. Perempuan tapi tomboy, hobinya memanjat pohon, bermain di sungai, berkelahi dengan teman lelaki, dan beradu argumen dengan papa mamanya meski dia tahu bahwa melawan mereka bisa berakibat pada kakinya dicium mesra oleh ikat pinggang papa atau kemoceng mama. Seiring dia besar, perilaku tomboy makin berkurang dan tanpa sadar dia mulai menjadi gadis yang gemulai. Rambut yang tadinya pendek sekarang selalu dibiarkannya panjang bahkan beberapa kali hampir menyentuh pinggang. Lari-larian dan memanjat pohon tidak lagi menjadi hobinya karena sekarang dia lebih suka berpakaian modis dan membaca gosip di tabloid remaja. Namun meski begitu, tak berarti dia sudah berubah menjadi anak yang mau menuruti kata orangtua. Sudah dibilang tidak boleh berpacaran selama sekolah, namun masih kelas 1 SMA pun dia sudah mengenal arti punya pacar yang berujung pada papanya marah besar dan memberi ultimatum untuknya, pilih pacar atau sekolah. Saat itu dia memilih sekolah. Meskipun ketika berada di kelas 3 SMA, lagi-lagi dia memiliki pacar.

Continue Reading…