Obat Sirop yang Bikin Galau

Ingin berbagi kegalauan dari sejak kemarin sampai hari ini nih. Kegalauan yang saya yakin pasti dirasakan oleh hampir semua orangtua di tanah air tercinta Indonesia ini. Kegalauan yang menyusul adanya himbauan dari IDAI serta instruksi dari Kemenkes RI untuk menghentikan sementara peresepan obat sirop yang diduga terkontaminasi etilen glikol atau dietilen glikol. Kemenkes RI juga menginstruksikan untuk sementara tidak menjual obat bebas dan/atau bebas terbatas dalam bentuk sirop kepada masyarakat sampai dilakukan pengumuman resmi dari pemerintah. Berikut adalah screenshot tentang instruksi Kemenkes RI tersebut yang saya dapatkan dari situs CNBC Indonesia serta link ke akun Instagram IDAI yang memuat rekomendasi IDAI tentang penghentian peresepan obat dalam bentuk sediaan cair atau sirop.

Langkah instruksi serta rekomendasi yang diambil oleh Kemenkes RI dan IDAI tersebut di atas, sebagaimana yang sudah diketahui karena begitu heboh akhir-akhir ini, adalah dipicu oleh maraknya kejadian gagal ginjal akut atipikal yang menyerang anak-anak terutama balita. Mungkin memang hal tersebut adalah langkah antisipasi yang harus dilakukan meskipun sebenarnya penyebab dari kasus gagal ginjal akut yang per hari Selasa tanggal 18 Oktober 2022 telah mencapai jumlah 206 kasus ini, kabarnya masih dalam penelitian, alias belum ada ketok palu penyebab pastinya apa. Langkah ini sebenarnya diambil berdasarkan pembelajaran dari apa yang ditemukan di Gambia. Supaya lebih jelasnya, silakan disimak IG Live dari IDAI sehari sebelum rekomendasi IDAI tentang penghentian peresepan obat sirop tersebut di atas dikeluarkan.

Nah, yang menjadi masalah saat ini adalah, kalau di Gambia kan sudah jelas ya apa saja obat-obatan termasuk merknya yang memicu kasus gagal ginjal akut pada anak hingga menyebabkan kematian itu. Sementara, sampai saat ini, di Indonesia masih belum jelas sehingga pelarangannya pun adalah mencakup seluruh obat berbentuk cair!

Tadinya kan sewaktu berita-berita tentang kaitan antara obat dan kasus gagal ginjal akut itu mulai mencuat, saya berpikir obat yang terkait hanyalah parasetamol dan obat-obatan pereda batuk pilek. Lah ternyata karena penyebab pastinya di Indonesia masih belum jelas, malah akhirnya semua obat berbentuk cair diinstruksikan untuk tidak dijual. SEMUA. Itu berarti termasuk obat-obatan lain seperti antibiotik dan bahkan vitamin berbentuk sirop!

Mendengar kabar seperti itu tentu membuat panik dan bingung orangtua ya.

Berbagai pertanyaan pun muncul.

Apakah yang sekarang sedang dikonsumsi anak ini aman?

Apakah semua pemberian obat termasuk vitamin dalam bentuk cair, yang selama ini sudah dikonsumsi dan baik-baik saja, harus langsung dihentikan saat ini juga?

Pagi ini, kakak ipar saya yang notabene memiliki anak balita di rumah, mengirimkan video di mana karena panik dan juga bingung antara mana yang aman dan mana yang tidak, sekaligus juga bertanya-tanya apakah memang semua harus serta merta dihentikan? Misalnya baru semalam anak meminum vitamin cair dalam kemasan botol yang sudah diminum sejak minggu yang lalu dan yah baik-baik saja, apakah masih bisa diteruskan sampai vitamin dalam botol yang sama tersebut habis, ataukah harus langsung dihentikan juga? Karena bingung dan tidak tahu harus di mana mencari jawaban, akhirnya kakak ipar saya tersebut memilih untuk membuang semua botol obat dan vitamin berbentuk cair yang ada di rumahnya.

Hal ini membuat saya membayangkan, kalau orangtua dengan anak balita yang sedang sehat saja bingung, maka apalagi buat yang anaknya sedang sakit? Misalnya nih, baru kemarin pagi mendapat resep dari dokter untuk anak yang sedang sakit yang isinya adalah obat-obatan dalam bentuk sediaan cair, lalu kemudian obat-obatan tersebut sudah dikasihkan kepada anak. Lah kemudian sore menjelang malam mendapat update dari IDAI tentang rekomendasi penghentian penggunaan obat sirop. Lalu orangtua harus bagaimana? Harus segera menghentikan penggunaan obat-obat tersebut kah? Mungkin kalau hanya sekedar obat batuk atau obat pilek bisa langsung dihentikan sampai bisa berkonsultasi lagi dengan dokter ya, tapi kalau obatnya antibiotik, bagaimana? Memang benar bahwa orangtua bisa menghubungi layanan kesehatan untuk bertanya tentang hal tersebut, tapi pada kenyataannya kan tidak semudah itu juga orangtua bisa segera mendapat informasi, apalagi kalau sudah malam. Mau pergi ke dokter, dokternya juga sudah selesai praktiknya. Lalu nasib anak ini bagaimana?

Kalau untuk saya sendiri, memang di rumah saya tidak lagi memiliki anak balita, sementara kasus gagal ginjal akut ini meskipun dapat terjadi pada anak dalam rentang usia 6 bulan sampai 18 tahun namun kebanyakan terjadi pada anak balita. Meski begitu, tetap saja saya juga mengalami kegalauan karena hal ini….sampai perlu ditulis di blog, supaya paling tidak rasa galau ini bisa keluar dari dalam pikiran dan hati.

Kenapa saya turut galau?

Karena kami, terutama untuk anak-anak, masih sangat berhubungan erat dengan obat-obatan serta vitamin sirop. Contoh obat-obatan dan vitaminnya adalah seperti yang saya tampilkan di foto pertama di atas. Setiap hari anak-anak saya meminum vitamin Scott’s Emulsion. Pilih vitamin ini karena anak saya yang kedua butuh untuk di-boost pertumbuhan tinggi badannya sekaligus bisa juga dikonsumsi oleh anak saya yang pertama yang sudah remaja. Jadi asik kan, sekali beli vitamin untuk berdua. Kemudian, karena anak saya yang kedua ini juga punya asma alergi, maka kami selalu sedia cetirizine dalam bentuk sirop di rumah untuk jaga-jaga bila alerginya kambuh dan tidak bisa teratasi dengan madu. Selain vitamin dan obat tersebut, seperti orangtua yang lain, juga selalu menyediakan vitamin untuk boost daya tahan tubuh bila sakit serta obat-obatan untuk demam, batuk, pilek, dan sebagainya, yang mana hampir semua dalam bentuk cair atau sirop.

Nah, dengan adanya instruksi dari Kemenkes RI serta rekomendasi dari IDAI tersebut, akhirnya membuat kami orangtua turut bertanya-tanya bahkan bisa dibilang galau sampai-sampai saya tadi pagi menghabiskan waktu cukup lama untuk mencari alternatif vitamin dalam bentuk tablet untuk anak dan remaja serta cetirizine dan obat-obatan tablet lainnya untuk anak.

Sampai saat ini, saya masih bertanya-tanya. Apakah memang benar harus segera dihentikan apa yang sudah digunakan selama ini dan aman-aman saja, apalagi jika masih dalam kemasan yang sama? Terutama untuk cetirizine sirop yang sekarang ini masih ada isi dalam botolnya, apakah memang tidak boleh lagi dipakai jika tiba-tiba diperlukan oleh anak saya yang kedua? Apakah memang benar harus segera beralih ke tablet? Adakah tablet cetirizine yang dosisnya bisa langsung untuk anak? Ataukah kami harus konsultasi lagi ke dokter untuk bisa mendapatkan puyer cetirizine? Tapi jika dalam bentuk puyer, apakah bisa tahan lama, sementara cetirizine itu tidak kami pakai rutin hanya kalau gejala asma alerginya muncul saja dan tidak bisa diatasi dengan cara yang lebih alami?

Galau deh rasanya. Tetap diteruskan ya takut juga, tapi mau langsung dihentikan juga kok ya sayang dan rasanya masih yang, “Ah masak sih sekarang tiba-tiba jadi gak aman???”

Yang sedihnya adalah karena kami tidak tahu harus bertanya ke mana, karena sepertinya saat ini semua pihak juga masih bingung ya. Kalau kita lihat di berbagai media sosial, banyak sekali pertanyaan orangtua yang tidak atau belum dijawab baik oleh IDAI maupun dokter-dokter yang turut membagikan berita-berita tersebut.

Untuk saat ini, meski masih dalam kebingungan dan kegalauan, mungkin ada beberapa langkah sementara yang bisa kami ambil.

Pertama, sesuai dengan rekomendasi dari yang berkompeten, maka kami akan segera menghentikan penggunaan obat dan vitamin cair di rumah, namun untuk vitamin kami masih berpikir untuk menghabiskan saja dulu isi dalam botol yang sekarang ini sudah sedang dikonsumsi…hehehehe

Kedua, kami tidak mau buru-buru juga membuang stok vitamin dan obat-obatan cair yang ada di rumah saat ini. Siapa tahu kan dalam waktu dekat akan muncul rilis resmi dari BPOM tentang daftar obat-obatan dan vitamin yang memang menggunakan zat pelarut yang bisa memicu gagal ginjal akut tersebut, sehingga kami bisa tahu apakah memang yang sudah ada di lemari obat harus dibuang atau ternyata kandungan di dalamnya memang baik-baik saja.

Ketiga, kami mulai mencari alternatif obat-obatan serta vitamin dalam bentuk tablet untuk anak. Untuk vitamin sebenarnya memang lebih mudah dan tadi saya sudah dapat juga sih vitamin kalsium untuk anak saya yang kedua (Nutrimax Calcium Kidz) serta vitamin yang cocok bagi pertumbuhan remaja untuk anak saya yang pertama (Nutrimax Teen MX). Untuk obat-obatan nih yang masih menjadi pikiran, karena kebanyakan obat dalam sediaan tablet dosisnya adalah untuk dewasa, kalau untuk anak kecil ya harus disesuaikan dosisnya yang membuat saya berpikir apa perlu saya menyediakan timbangan obat dan alat penggerus obat di rumah ya? 😅.

Tiga hal itu yang mungkin bisa kami ambil untuk saat ini. Semoga dalam waktu dekat sudah ada informasi yang lebih pasti dan jelas ya.

Begitulah kegalauan dari orang yang tidak mengerti apa-apa tentang dunia medis ini namun yang bagaimanapun, sebagaimana semua orang lainnya, harus berhubungan dengan itu dalam keseharian.

Pada akhirnya memang hanya bisa berdoa kiranya Tuhan menolong dan menjaga agar anak-anak tetap sehat, agar setiap orangtua diberikan hikmat untuk mengambil keputusan yang terbaik untuk anak, agar kasus gagal ginjal akut pada anak bisa segera teratasi dan diketahui pasti penyebabnya apa supaya orangtua dan para dokter anak juga tidak berlama-lama dalam kebingungan dan kegalauan, agar semua yang sedang mengalami kasus tersebut bisa diberikan kesembuhan, serta agar yang telah kehilangan anak oleh karena penyakit ini bisa dikaruniakan kekuatan dan penghiburan sejati dari Tuhan. Amiiinn!!!

Bagi para pembaca, semoga semua dalam keadaan sehat ya dan kalau sedang dalam kegalauan juga seperti saya, semoga saya dan Anda bisa segera mendapatkan jawaban dari kegalauan kita bersama 😁. Selamat hari Kamis, Tuhan memberkati!

PS:

Dan di tengah kegalauan karena ketidakpastian pada hari ini, saya menemukan satu hal yang baru saya ketahui sebagai kepastian, yaitu bahwa ternyata yang benar itu bukan Sirup apalagi Syrup, melainkan Sirop yang merupakan kata baku yang terdaftar dalam KBBI yang merujuk pada air gula agak kental, terkadang diberi esens dan diwarnai; atau obat berbentuk cairan berasa manis. Jadi dicatat ya pemirsa, yang baku itu SIROP bukan SIRUP 😁.

Iklan

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: