Anak Perempuan Untuk Mengurus Orangtua di Masa Tua

Sebagai pasangan yang baru punya dua anak dan keduanya adalah cowok, salah satu pertanyaan yang sering banget kami terima tentu saja adalah….

“Gak pengen nyari anak cewek lagi?”

😁😁😁😁

Seringnya pertanyaan itu kami tanggapi dengan candaan aja karena toh orang yang nanya juga sering bertanya dalam rangka bercanda karena sebenarnya udah tau kalo kami gak niat nambah anak lagi dan ada juga yang sekedar supaya ada topik obrolan aja.

Jawaban candaan kami tuh biasanya seperti ini….

“Masih kok. Masih pengen nambah dua lagi malah. Tapi nanti kalo anak-anak udah dewasa, pengen nambah dua anak mantu cewek. Satu buat si abang, satu buat si adek.”

πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›

Biasanya sih kalo jawabannya udah gitu, orang yang bertanya bakal ketawa dan gak bahas lebih lanjut lagi karena udah cukup jelas bahwa itu artinya kami memang gak ada keinginan menambah anak, apalagi dengan niatan untuk ‘mencari’ anak perempuan.

Tapi ada juga orang yang gak termasuk kategori ‘biasanya’ yang justru setelah dapat jawaban seperti itu, malah kemudian merubah haluan pembicaraan dari yang tadinya santai menjadi serius. Dari yang tadinya cuma nanya masih pengen nyari anak perempuan lagi menjadi ke pembicaraan serupa ceramah yang berisi kenapa memiliki anak perempuan itu sangat penting, yang mana salah satu hal utama dari alasan yang penting itu adalah agar supaya ada yang mengurus kita di masa tua.

Pernyataan bahwa memiliki anak perempuan penting agar supaya ada yang mengurus kita di masa tua itu, bikin saya teringat pada beberapa kondisi serta pengalaman yang saya lihat bahkan alami dengan mata kepala sendiri.

Salah satu tetangga, yang lumayan sering berkomunikasi dengan saya, usianya dengan suaminya sudah mulai sepuh. Mereka punya tiga orang anak. 2 perempuan, 1 laki-laki. Kedua anaknya perempuan sekarang tinggal di Belanda, sementara yang tinggal di kota ini adalah anaknya yang laki-laki. Sekarang kondisinya mereka berdua sering sakit (apalagi sejak kabut asap melanda, itu kasian banget suaminya kena batuk parah gak sembuh-sembuh πŸ˜₯), siapa yang kemudian mengurus mereka berdua, pasangan suami-istri yang udah pensiun dan mulai sepuh itu? Tentu aja anaknya yang laki-laki.

Kondisi itu gak jauh beda dengan apa yang terjadi dalam keluarga saya sendiri. Saya dan kakak saya, sama-sama perempuan, merantau di tanah orang. Satunya di tanah Timor. Satunya lagi di tanah Sumatera. Orangtua di mana? Mereka tetap tinggal di Manado. Siapa yang kemudian diandalkan kalo tiba-tiba orangtua kenapa-kenapa? Tentu aja adek saya dan istrinya! Bersyukur, adek saya yang laki-laki itu gak ikut jejak kakak-kakaknya yang merantau di pulau seberang πŸ˜….

Hal yang kurang lebih sama juga dialami oleh pak suami. Di antara 6 bersaudaranya, hanya dia yang laki-laki, selebihnya 5 orang perempuan semua. Udahlah dia laki-laki sendiri, sejak kuliah sampe kerja pun dia merantau terus. Jangankan sama orangtua, sama istri dan anak-anaknya aja dia sering jauh-jauhan πŸ˜…. Tapi meski begitu, dari beberapa kali kejadian mertua harus operasi dan diopname di rumah sakit, yang kemudian jagain serta ngurusin mertua di rumah sakit ya pak suami! Bukan karena ipar-ipar saya gak mau jagain, tapi karena memang secara fisik dan kondisi, pak suami itulah yang bisa diandalkan. Ipar-ipar saya yang notabene semua adalah perempuan itu, mereka terikat dengan tanggung jawab pada keluarga kecil mereka, terutama urusan anak-anak. Kalo suami paling yang dipikirin adalah pekerjaan, yang mana kalo udah ngajuin cuti demi ngurus orangtua di rumah sakit, udah pasti bakal langsung diijinkan. Sementara kalo yang namanya ngurus anak, mana bisa minta cuti? πŸ˜…. Kalo untuk setiap hari datang ke rumah sakit, dan membantu mengurus selama beberapa jam, mungkin bisa. Tapi kalo udah harus nginep dan berada di situ selama 24 jam, tentu sukar buat ibu-ibu yang punya anak, apalagi kalo anaknya masih kecil πŸ˜….

Trus ya, beberapa bulan yang lalu, bapak dari salah satu teman perempuan saya meninggal di rumahnya di Jawa. Jadi teman saya ini perempuan asal Jawa yang merantau ke Palembang karena ngikut suaminya yang kerja di sini. Orangtuanya, bapak dan ibu, tinggal di Jawa sendiri. Beberapa bulan yang lalu itu, ibunya datang berkunjung ke Palembang. Yang sedihnya, ketika ibunya sedang berada di Palembang itulah, bapaknya meninggal dalam rumah mereka di Jawa, dalam kondisi sendirian, dan baru ketahuan setelah sudah 2-3 hari meninggal. Sedih banget kan, padahal masih punya istri, punya anak perempuan, namun meninggalnya sendiri.

Dari keempat contoh itu, saya bisa mengambil kesimpulan, kalau adalah tidak benar jika kita mengandalkan anak perempuan untuk mengurus kita di masa tua. Kalau dijabarkan, maka berikut adalah alasan saya.

Pertama, perempuan itu cenderung ‘ikut suami’, makanya gak heran kalo hari gini justru lebih banyak perempuan yang merantau dibanding laki-laki yang mana itu berarti banyak perempuan yang harus tinggal jauh dari orangtuanya.

Ini beneran lho, coba aja survey. Perempuan hari gini kalo gak merantau karena pekerjaan, maka akan merantau karena ikut suami yang juga merantau atau berasal dari daerah lain. Kecuali sih kalo dapat jodohnya masih orang ‘sekampung’ ya, tapi jaman sekarang kan makin sering terjadi pernikahan antar suku, daerah, dan bangsa 😁. Dapat yang sekampung pun bukan jadi jaminan tinggalnya bakal di situ-situ aja kan, ya kalo suami dapat kerjaannya di tempat lain gimana dong? Kalo suami udah ngajak settle-nya di tempat A, karena di tempat A itulah tempat yang paling cocok untuk keluarga mereka membangun hidup entah karena rejekinya memang di situ atau karena ada hal-hal lain yang memang menguatkan tempat A sebagai tempat yang paling pas, maka kecil kemungkinan kalo si istri akan memaksa supaya mereka tinggal di tempat B dengan alasan karena di tempat B itulah tempat tinggal orangtua si istri.

Memang pengennya sih bisa dapat kondisi yang ideal. Keluarga kecil membangun hidup di tempat keluarga besar berada. Jadi baik suami maupun istri sama-sama dekat dengan orangtua dan mengurus orangtua ketika sakit atau udah sepuh. Tapi gak semua orang bisa ‘beruntung’ dapat kondisi ideal seperti itu kan? Lagian kalo semuanya begitu, maka gak ada yang namanya perantau dan gak ada yang namanya pernikahan campuran. Dunia jadi kurang seru, deh…hehehehe….

Kedua, perempuan itu cenderung lebih terikat untuk mengurus anak-anak dibanding laki-laki sehingga justru akan lebih kesulitan jika diharuskan untuk fokus mengurus orangtuanya.

Memang gak selalu seperti ini, tapi gak bisa dipungkiri juga kalo hal ini benar kan? Inilah yang terjadi pada ipar-ipar saya sewaktu orangtua masuk rumah sakit. Satu kali bapak mertua masuk rumah sakit di Jakarta, ipar saya satu orang domisilinya di Jakarta. Yang jagain mertua siapa? Suami saya, padahal saat itu suami saya justru sedang bertugas di Nias. Kenapa begitu? Salah satu penyebabnya adalah karena anak-anak kakak ipar saya gak ada yang jagain, jadi kakak ipar saya harus tetap berada di rumah untuk menjaga serta mengurus anak-anak yang semuanya masih usia sekolah. Sudah berada di tempat yang sama dengan anak perempuan aja gak menjamin bisa diurus oleh anak perempuan kan? Apalagi kalo anak perempuannya merantau. Lebih sulit lagi itu πŸ˜…. Sementara, suami yang meski adalah anak laki-laki tapi saat itu bisa meninggalkan pekerjaannya dan mengurus orangtua dengan tenang. Urusan pekerjaan bisa cuti, sementara soal anak-anak gak perlu dipikirin, mengingat ada istri yang bisa melakukan tugas itu 😁.

Ketiga, saya menemukan (dari hasil ngobrol ya bukan hasil survey/penelitian), kalo ternyata istri itu lebih mudah beradaptasi dengan kondisi tinggal bersama mertua dalam rumahnya ketimbang suami.

Mertua perempuan dan menantu perempuan memang katanya kalo tinggal bersama-sama, mudah banget memicu konflik, karena meski suami adalah kepala keluarga, namun kenyataannya yang menjadi otak rumah tangga sehari-hari adalah istri. Pernyataan ini memang aneh, tapi kalo dipikir-pikir bener juga kan πŸ˜…. Mertua perempuan yang sudah terbiasa menjadi otak dalam keluarga sebelumnya, biasanya akan kesulitan melepaskan kebiasaan itu. Konflik pun terjadi akibat ada dua otak dalam satu rumah.

Namun, meskipun demikian, ternyata istri itu memiliki kemampuan menerimaΒ  terhadap mertua yang lebih besar dibanding suami. Ini kalo kita ngomongnya kondisi suami-istri punya rumah sendiri trus orangtua suami move in to the couple’s home ya, bukan kondisi di mana sebaliknya, suami-istri numpang tinggal di rumah orangtua istri. Istri cenderung lebih mampu menerima bahkan ikut terlibat aktif mengurus orangtua suami, pendorongnya ada banyak, termasuk di antaranya out of respect to her husband or even for the sake of winning her husband’s affection by taking care of her husband’s parents.

Sementara, untuk suami, hal yang sama hampir gak berlaku. Makanya gak heran kaloΒ  dalam beberapa kasus, ketidaknyamanan suami ketika harus tinggal bersama mertua itu lebih besar dibanding yang dirasakan istri ketika tinggal bersama mertua.

Dan gak hanya sampe di situ, untuk alasan keempatnya (yang masih berkaitan dengan poin tiga di atas), saya juga menemukan bahwa sebenarnya orangtua yang sudah tua juga dalam beberapa kasus bisa merasa lebih nyaman tinggal bersama anaknya yang laki-laki dibanding anaknya yang perempuan. Kenapa begitu?

Alasannya bervariasi.

Ada yang bilang karena anak perempuan lebih protektif dibanding anak laki-laki yang cenderung cuek. Ini cocok buat orangtua yang dulunya aktif trus sekarang harus tinggal dengan anaknya. Perhatian anak mereka hargai sih, tapi mereka tetap masih mendambakan kebebasan untuk mengatur hidupnya sendiri. Anak perempuan cenderung memperhatikan semua-muanyaΒ  (bahkan sampe ke level cerewetin orangtuanya πŸ˜…) sampe bikin orangtua merasa tidak berdaya, padahal sebenarnya orangtua yang sudah sepuh tidak ingin merasa tidak berdaya, mereka hanya perlu yakin bahwa ketika mereka dalam kondisi butuh bantuan, maka bantuan itu akan mereka dapatkan. Anak laki-laki lebih cenderung bisa memberikan kebebasan yang diperlukan orangtua, sementara menantu perempuan cenderung ada rasa segan untuk mengatur mertuanya, jadi ya orangtua meski udah sepuh jadi ngerasa gak terlalu gak berdaya karena masih bisa ngatur hidupnya sendiri meskipun ‘diurus’ oleh anaknya😁.

Ada juga yang bilang karena kalau tinggal bersama anak laki-laki, mereka cenderung tidak terlalu merasa menjadi beban secara ekonomi bagi keluarga anaknya, karena ada faktor perasaan bahwa ketika mereka sepuh maka adalah wajar jika mereka pun menjadi tanggung jawab dari anaknya. Dengan anak perempuan tentu juga bisa begitu, dengan catatan kalo anak perempuannya punya penghasilan sendiri, kalo gak begitu maka orangtua akan merasa menjadi beban terhadap orang lain yang bukan anaknya. Mungkin kalo kita sekarang mikirnya, lah itu kan udah jadi menantu ya udah samalah itu dengan jadi anak. Kenyataannya gak demikian lho dengan beberapa orangtua yang udah sepuh. Mereka jauh lebih sensitif perasaannya hingga bikin mereka lebih mudah merasa jadi beban dan bahkan mereka bisa frustasi karena sebenarnya gak pengen jadi beban tapi mau gak mau harus jadi beban. Membebani anak kandung aja mereka sebenarnya gak mau, apalagi kalo tau yang mereka bebani itu adalah suami anaknya. Gak heran, kalo ada temen yang cerita ke saya kalo tiap dia kirim duit ke mamanya, pasti mamanya nanya, “Suamimu tau kalo kamu ngirim duit kan?”, sementara kalo suaminya yang kirim duit ke mama suaminya alias mertua temen saya ini, paling mertuanya cuma bilang makasih tanpa ada embel-embel nanyain apakah dia selaku istri tau apa gak soal kiriman untuk mertuanya itu πŸ˜…. Temen saya ini ceritanya ibu rumah tangga dan satu-satunya yang jadi provider keuangan negara di rumah tangganya adalah suaminya. Hal-hal yang terlihat sepele seperti ini sebenarnya memang menunjukkan kalo orangtua relatif akan lebih merasa menjadi beban untuk anak perempuannya yang tidak berpenghasilan langsung (kalo tak langsung kan dari suami ya 😁) dibanding sama anaknya yang laki-laki yang mungkin secara sadar gak sadar dianggap sudah seharusnya menanggungjawabi orangtua yang telah pensiun atau sepuh.

Kelima, menurut saya berusaha mencari anak perempuan dengan tujuan agar ada yang mengurus di masa tua, kok terasa seperti sedang mematok nasib untuk anak perempuan agar tidak kemana-mana, hanya ngurus orangtua aja, dan juga seperti menubuatkan nasib kita sendiri di kala tua yang harus diurus oleh anak.

Menurut saya ini hal yang kurang bisa saya terima, karena anak perempuan juga harus diajarkan untuk punya mimpi dan berusaha mengejarnya, meskipun harus terbang jauh meninggalkan sangkar alias rumah orangtuanya.

Dan soal ketika kita nanti tua, ah biar Tuhan saja yang atur. Yang pasti pegang terus janji Tuhan, jangan kuatir terhadap apapun juga. Burung di udara saja Dia pelihara, apalagi anak-anakNya. Berdoa saja agar tetap sehat sampai tua sampai Tuhan panggil pulang, kalo bisa gak ada nyusahin anak-anak sama sekali. Namun apapun itu, biarlah kehendak Tuhan yang jadi, ngapain dipikirin, toh semuanya ada dalam tangan Tuhan.

Keenam, anak laki-laki itu sebenarnya baru akan back off dari tanggung jawab mengurus orangtua ketika memiliki saudara perempuan yang dinilainya lebih mampu mengurus orangtua dibanding dirinya.

Ini kalo anak laki-laki tersebut diajari untuk mengerti tanggung jawab ya. Dan biasanya kalo udah gini, tanggung jawab yang mereka lepaskan itu adalah yang berkaitan dengan mengurus keperluan sehari-hari orangtua bukan tanggung jawab finansial.

Saya pernah baca di satu artikel, yang bunyinya begini,

“Sons reduce their relative care givingΒ efforts when they have a sister, while daughters increase theirs when they have a brother.” (source)

Itu artinya, sebenarnya anak laki-laki itu mampu mengurus orangtuanya jika diharuskan demikian, tapi kalo ada saudara perempuannya (yang mana kalo perempuan dianggap lebih bersifat care giver ya πŸ˜…) apalagi jika kondisi saudara perempuannya itu memungkinkan untuk mengurus orangtua, maka ya baru deh dia ngerasa bisa melepaskan tanggung jawabnya itu 😁.

Sekali lagi, ini kalo asumsinya si anak laki-laki mengerti tanggung jawab ya, jadi dia menyerahkan tanggung jawab ke saudara perempuan bukan karena gak mau bertanggung jawab melainkan karena merasa kalau saudara perempuannya lebih mampu mengurus orangtua ketimbang dirinya.

Ketujuh, mau anak laki-laki, mau anak perempuan, bukan itu yang penting. Yang penting adalah anak mengenal arti kasih.

Mau anak perempuannya sepuluh sekalipun, tapi kalo semua gak peduli dengan orangtua yang udah sepuh ya apa gunanya juga kan.

Tapi kalo anak-anak kita didik untuk mengenal kasih Tuhan (dan dengan demikian juga mampu memilih pasangan yang seimbang yang sama-sama mengenal kasih itu) serta diajarkan untuk mampu mengaplikasikan kasih itu untuk sesama (salah satunya adalah dalam bentuk tanggung jawab terhadap orangtua yang telah sepuh), maka yakinlah, mau itu anak perempuan ataupun anak laki-laki, mereka gak akan gak peduli dengan orangtuanya. Orangtuanya pasti akan diurus saat butuh untuk diurus. Ada amen saudara-saudara? 😁.

*****

Begitulah pemirsa, yang pasti memang, kondisi keluarga itu berbeda-beda dan sangat dinamis, apalagi jika telah menyangkut situasi ketika orangtua sudah sepuh. Contoh serta alasan yang saya kemukakan di atas mungkin juga tidak sesuai atau sama dengan yang terjadi pada orang lain. Ada satu teman yang saya kenal baik, tadinya dia dan suaminya tinggal di Jakarta, tapi begitu orangtuanya kena stroke dia kemudian meminta suaminya agar mereka pindah ke Palembang supaya dia bisa ngurus orangtua, dan ya akhirnya memang mereka pindah ke sini dan dia benar-benar mencurahkan waktunya untuk mengurus orangtua, meskipun sebenarnya abangnya berdomisili di sini. Mungkin ini berkaitan dengan poin enam di atas ya. Abang teman saya merasa bisa melepaskan tanggung jawab karena merasa adik perempuannya bisa mengambil alih tanggung jawab itu.

Namun meski tidak berlaku untuk semua keluarga, setidaknya poin-poin di atas itulah yang membuat saya dan suami tidak pernah berpikir bahwa kenyataan kami tidak memiliki anak perempuan sebagai sesuatu hal yang kelak akan membawa kerugian bagi kami. Prinsipnya pokoknya biarlah semua terjadi sesuai kemurahan Tuhan, bagian kami hanya terus berusaha mendidik anak-anak agar selalu berjalan dalam kehendak Tuhan. Makanya, mo berapa kalipun ditanya soal pengen nyari anak cewek lagi ato gak, jawaban kami akan tetep sama…..

Nunggu dapat mantu cewek aja!

πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

10 respons untuk β€˜Anak Perempuan Untuk Mengurus Orangtua di Masa Tua’

  1. Kalau menurutku hari gini mau anak laki2 / perempuan. Satu ataupun 10. Belum tentu bisa urus orang tua di masa tua. Sementara duluuu, orang bisa beranak 10 hingga belasan diurus diri sendiri. Aneh memang tapi nyata adanya.

    Kalau bercandaan tante2 saya yg gak p7nya anak cewek. Mereka akan janjian entah pulang kampung bareng di masa tua dan saling menjaga satu sama lain. Atau ke panti jompo. Yg mana, kami para keponakan perempuan tidak akan membiarkan hal itu terjadi meskipun dengan segala keterbatasan.

    Saya setuju, masing2 keluarga beda kondisi dan dinamis. Sebaiknya cocok gak cocok namanya pun keluarga sedarah yang penting saling sayang dan menghargai. Jadi segala hal mudah-mudahan bisa diakomodir dgn baik. Nice post, Mbak Lisa πŸ‘

  2. Akupun pernah di ngomongin begitu sama tanteku. Dibilang kamu tambah anak ke 3,cewe biar nanti tua ada yg jaga kamu. Padahal ya selain biaya hidup (dan belum tentu jg anak ke 3 dptnya cewe kan), aku merasa anak cewe dan anak cowo itu sama. Aku setuju dengan poin anak cewe atau anak cowo yg terpenting mereka punya hati yg mengasihi (kasih). Beda cerita tanteku yg 1 lagi yg punya anak cowo 1-1nya. Malah sayang bgt sama mamanya. Nikahpun, mamanya jg di boyong. Jadi akupun sama kaya kak lisa, nunggu menantu perempuan saja ya. Hahaha

  3. Dear Allisa,

    Perkenalkan namaku Inong. Selama ini cuma jadi silent reader. Tapi pas baca ini, aku kok merasa β€œWah, ini kok gue banget ya” apalagi pas bagian kutipan: β€œSons reduce their relative care giving efforts when they have a sister, while daughters increase theirs when they have a brother.” πŸ™‚ –> β€œOf course, saya ngaku saya bagian daughtersnya :D” karena sekarang di keluargaku, ibuku sedang sakit dan aku bersama abang dan adik lelakiku harus bergantian merawat beliau (plus Ayahku). Terima kasih untuk sharingnya yah, Lisa πŸ™‚

  4. wanita di dunia ini sangat berperan penting apa lagi di dalam keluarga, jadi para cowok yang ingin membina keluarga carilah wanita yang sayang pada suami terutama pada keluarga.

  5. jadi pengen komen juga… orang tua saya justru dr sejak kami lulus SD sudah diminta keluar dr rumah tuk sekolah keluar kota. Dari mereka tidak pernah ada tuntutan bahwa nanti kami anak perempuan kudu urus mereka, karena pada dasarnya mereka pengen kami berkembang semaksimal mungkin.
    Dan kalau secara Islam, justru mengurus orang tua kan menjadi kewajiban anak laki2, ya sama kayak yg Lisa tuliskan, perempuan kan memang akhirnya harus nurut suaminya, g bisa bebas lagi.

  6. sesuai banget dah kejadian dr keluarga suami. kakak perempuan 3 tp susah ngurus pas mertua sakit, suamiku yg bisa luangkan waktu. sekarang pun aku dan kakakku merantau, adek cowo sm istrinya yg tinggal sm ortuku. damai2lah kami semua, krn kalo kasih yg melandaskan semuanya, mau anak cowo mau anak cewe, ortu akan tetap diurus

  7. Toss ah…seringkali orang kelihatan kasian kalau kalau kami lagi jalan full formasi, katanya kok gak punya anak perempuan , pernah ada Bapak tua yang ngedekatin suami dan bilang kalau sekarang dia diurus sama anak perempuannya…jadi better kalau kami punya anak perempuan biar ada yang mengurus kami jika tua nanti, kalau kami emang gak ada rencana nambah lagi, tadinya mau dua anak saja cukup gak masalah laki-laki atau perempuan eh dapat rezeki lagi satu orang anak laki-laki lagi, tetap senang luar biasa. Kalau dalam agama kami, justru tanggung jawab mengurusi dan berbakti pada orangtua itu ada pada anak laki-laki, Anak Laki-laki Adalah Milik Ibunya, Dan Selamanya Ia Milik Ibunya. Tentu saja pengen juga anak perempuan, pengen 3 untuk 3 boys kelak kalau mereka dewasa kelak o iya dari sekian banyak yang komen kasian karena gak punya anak perempuan, ketemu suami istri orang batak yang sama sama orangtua murid teman anak kami sekolah di SMA baru-baru ini bikin bahagia , pas ngobrol anak, dibilang anak kami 3 orang laki-laki semua, dibilangnya hebat, kalau di kampung kami sudah dapat piala itu he he he he he jadi panjang komennya

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s