Pengingat Yang Indah

Dua hari yang lalu….

Ceritanya, saat itu di pagi hari saya sedang mengetik surat pengunduran diri dari pekerjaan saya sebagai bagian dari BUMN-ers. Nah, selagi saya mengetik surat itu, saya mendapat notifikasi dari Google Photos tentang foto kenangan. Sebenarnya tidak ada yang begitu istimewa dengan menerima notifikasi seperti itu dari Google Photos karena memang hampir setiap hari saya mendapat notifikasi yang sama. Kalau bukan foto kenangan, maka notifikasinya adalah tentang animasi, kolase, now and then, dan segala macam kreasi yang dibuat oleh Google Photos berdasarkan foto-foto yang saya upload ke server mereka. Saya akui, tim Google Photos memang sangat kreatif mengolah dan mengkreasikan foto-foto dari user-nya sehingga setiap hari adaaa saja hasil kreasi mereka yang bisa dinikmati. Karena sudah setiap hari menerima notifikasi dari Google, maka seharusnya notifikasi kayak gitu biasa-biasa saja kan yaa…

Tapiii, pagi itu notifikasi dari Google Photos ke saya menjadi sangat istimewa karena kali ini si aplikasi pintar itu memilih menampilkan 3 foto kenangan dari 3 tahun yang lalu, yang isinya adalah ini.

Istimewaaaa….karena foto-foto itu diambil di 3 hari terakhir sebelum saya cuti tanpa tanggungan di tahun 2018 sehingga menjadi semacam foto-foto perpisahan bersama tim saya saat itu. Hari itu untuk merayakan saya yang akan segera masuk ke masa cuti tanpa tanggungan, kami sarapan bersama di Arista Hotel, lalu selesai sarapan kami lanjut dengan foto-foto di tempat yang sama.

Bagi kami, momen sarapan dan foto-foto saat itu bukanlah benar-benar sebuah perayaan perpisahan, karena toh saya hanya akan menjalani cuti saja, bedanya cuti kali ini akan sangat panjang.

Yang tak disangka kemudian adalah bahwa cuti tanpa tanggungan yang saya ambil di tahun 2018 itu menjadi awal dari permohonan saya untuk memperpanjang cuti di 2020 hingga kemudian berujung pada keputusan saya untuk mengundurkan diri dari pekerjaan di 2021 ini.

Luar biasa rasanya karena Google Photos memilih menampilkan kenangan itu tepat di saat saya sedang mengetik surat pengunduran diri dari pekerjaan saya.

Lebih luar biasa lagi, karena seingat saya foto-foto itu sudah saya hapus dari Google Photos.

Kenapa begitu?

Begini ceritanya….

Disimak yaaaa….

Hahahahahaha….

Waktu itu, di tahun 2019 saya pernah menulis tentang cuti tanpa tanggungan yang saat itu sudah tepat setahun saya jalani. Tulisannya ada di link ini. Nah, saat itu saya masih menggunakan Google Photos untuk menampilkan foto-foto di blog ini. Jadi semua foto-foto untuk post itu saya upload ke Google Photos. Tapi belakangan saya mengetahui dari komentar teman-teman kalau ternyata foto-foto saya yang menggunakan Google Photos hanya tampil dengan baik di browser saya saja karena browser saya jelas terkoneksi dengan akun Google saya. Sementara, pada browser pembaca, foto-foto saya itu ternyata tidak bisa tampil meskipun semuanya sudah saya atur beratribut public (sampai sekarang saya masih heran kenapa bisa begini 😅). Karena tahu itu, saya pun akhirnya berpindah menggunakan layanan Cloudinary untuk foto-foto di blog ini. Lalu, agar supaya kuota di Google Photos saya tidak lekas penuh, maka beberapa foto untuk post di blog ini yang sudah sempat saya upload ke Google Photos kemudian saya hapus, termasuk foto-foto untuk post yang tentang cuti tanpa tanggungan yang saya sebutkan di atas itu. Jadi sepanjang ingatan saya, foto-foto untuk post itu sudah saya hapus semua.

Namun ternyataaa…. di antara 15 foto untuk post tersebut yang saya upload di Google Photos, 12 di antaranya memang sudah saya hapus, tapi ada 3 yang terlewat oleh saya untuk dihapus. Dan ketiga foto itulah yang muncul di notifikasi Google Photos di pagi hari yang bersejarah itu, hari ketika saya mengetik surat pengunduran diri…

Oh iya, Google Photos nih keren, karena yang mereka lihat adalah created date di metadata foto dan bukan tanggal upload foto, makanya meskipun foto-foto itu saya upload di tahun 2019, namun tetap muncul sebagai foto kenangan sesuai dengan tanggal foto-foto itu diambil yaitu 26 Juli 2018.

Bisa sangat pas begitu ya timing-nya.

Saya sedang menulis surat pengunduran diri, lah kok tiba-tiba muncul foto-foto kenangan di hari-hari terakhir bersama teman-teman kantor terdekat saya.

Waktu saya mengabarkan soal itu di WAG kami, teman-teman saya bilang, “Nah lho, itu pertandanya apa, mbak????”

😄😄😄😄

Kalau saya sih melihatnya bukan soal pertanda ya, tapi saya percaya itu adalah sebagai pengingat untuk saya.

Pengingat tentang apa?

Pengingat tentang penyertaan Tuhan bagi saya dan keluarga.

Bahwa ketika Tuhan mengijinkan saya berada pada masa-masa di mana saya harus sendiri, jauh dari suami dan keluarga besar, sehari-hari berjuang sendiri di rumah untuk membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus anak-anak, Tuhan mengaruniakan teman-teman yang selalu ada untuk saya saat itu. Mereka teman-teman yang selalu siap membantu saya termasuk mem-backup pekerjaan saya ketika saya harus keluar untuk mengantar jemput anak-anak. Mereka juga ada untuk membuat hari-hari saya tetap penuh tawa di tengah lelah fisik yang saya alami sehari-hari. Mereka ada di hampir setiap kondisi yang saya alami. Saat itu, hidup bukanlah mudah untuk saya (makanya sampai berkeputusan ambil cuti yaaa kaannn), tapi kehadiran mereka membantu saya untuk tetap sukacita menjalani semuanya.

God’s blessings come in many forms and having some trusted friends is one of it.

Foto-foto di hari-hari terakhir bekerja bersama mereka sungguh-sungguh mengingatkan saya betapa bersyukurnya saya memiliki mereka. Dan puji Tuhan, persahabatan kami terus berlanjut meski saya sudah tiga tahun tak bekerja bersama mereka dan meski sejak Februari 2020 kami tak pernah lagi bertemu langsung.

Puji Tuhan….

Sejujurnya, bukannya mudah untuk saya mengambil keputusan untuk benar-benar mengundurkan diri dari perusahaan yang sudah menjadi tempat saya bernaung dan berkarya sejak 2006, bahkan menjadi tempat saya bertemu jodohhehehehehe…. Tapi pada akhirnya saya harus berada pada posisi di mana saya benar-benar mesti memilih. Puji Tuhan, diberi kelegaan dan keyakinan akan pilihan saya ini. Tiga tahun menjalani cuti tanpa tanggungan juga adalah salah satu cara Tuhan membuat saya yakin akan pilihan yang saya buat. Tuhan semacam kasih kesempatan untuk saya test drive selama 3 tahun untuk melihat kondisi bagaimana sih seandainya saya tidak bekerja 😁. Puji Tuhan juga ketika saya menyampaikan keputusan untuk mengundurkan diri ini ke orangtua, mereka sangat mendukung karena mengerti situasi yang kami jalani. Bersyukur…bersyukur sekali… Bagi saya, restu orangtua tetap adalah hal yang penting. Saya sudah bekerja sebelum menikah. Saya masuk ke BUMN ini juga atas dorongan orangtua. Sebenarnya wajar jika mereka keberatan dengan keputusan saya, tapi ternyata sama sekali tidak, sebaliknya mereka justru sangat mendukung. Sekali lagi puji Tuhan, bersyukur punya orangtua yang hubungannya dekat dengan Tuhan sehingga mereka tidak hanya menjadikan hal-hal duniawi saja sebagai pertimbangan mereka.

Saya akan berhenti dari pekerjaan saya, namun puji Tuhan yang saya rasakan justru adalah rasa syukur. Bukan bersyukur karena bakal kehilangan pekerjaan sih yaaa, tapi karena Tuhan terus mengingatkan saya bahwa penyertaan-Nya selalu nyata dalam setiap kondisi. Tak perlu ragu. Tak perlu khawatir.

Meski memang, masa depan akan selalu menjadi misteri.

Kenapa saya harus menjalani ini semua?

Kenapa saya harus melepaskan pekerjaan yang sudah menjadi berkat dari Tuhan sejak 2006?

Saya memang tidak punya jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Banyak hal yang belum saya pahami. Namun satu hal yang pasti, seperti yang saya bilang di sini, selama Tuhan yang pimpin maka di sepanjang jalan dan di ujung sana, selalu akan ada damai sejahtera. Amin.

Pada akhirnya saya hanya bisa bilang terima kasih kepada Tuhan, karena di saat saya mengetikkan kalimat demi kalimat yang menjadi penentu masa depan saya, Tuhan memberikan pengingat yang indah lewat Google Photos akan penyertaan-Nya di masa yang telah lampau….

💓💓💓💓

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

~Yeremia 17:7

8 respons untuk ‘Pengingat Yang Indah

Add yours

  1. A comment from Yunita Caroline at the original post
    JULY 29, 2021 AT 12:22 PM

    Happy ending ya kak. beneran penyertaan Tuhan yg membuat lega.

  2. A comment from dian_ryan at the original post
    JULY 29, 2021 AT 6:32 PM

    Ketika menyertakan Allah dalam setiap keputusan yang diambil, kaya ada penguatan ya mba Lisa? Jadi lebih yakin bahwa keputusan yang diambil udah tepat.

  3. A comment from Lenny Dewi at the original post
    JULY 30, 2021 AT 5:13 PM

    Wahh Kak Lisaaa akhirnya mantepnya jadi full time mommy. Keren yaaa bisa ngambil keputusan yang dahsyat, dan yg lebih dahsyatnya lagi,, dapet restu dari suami dan ortu. Keren banget.
    Kak Lisa dulu pinter banget bagi waktu, sampe harus jadi 3 a.m person.
    Terus Kak Lisa semenjak udah full time mommy gini apakah masih bangun jam 3 pagi Kak??

  4. A comment from leonyhalim at the original post
    AUGUST 2, 2021 AT 10:35 AM

    Artinya rejeki cukup untuk sekeluarga, Tuhan yang atur semuanya.

    Jadi full time mom itu capek, tapi indah, semua tergantung tipe suaminya hehehehe

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑