Tuhan Menetapkan Setiap Langkah Anak-Nya

Minggu ini adalah minggu pertama anak-anak bersekolah di tahun ajaran yang baru, yang mana artinya libur kenaikan kelas yang panjang itu, telah berakhir….

Cepet banget rasanya…huhuhuhuhu…. Padahal sebulan yang lalu, sebelum liburnya dimulai, dalam hati tuh rasanya yang asiikkk…bakal libur panjang! Eh, gak tahunya, si libur berakhir lebih cepat dibanding kedatangannya….wkwkwkwkwk…

Yah begitulah memang ya, sesuatu yang dinikmati pasti rasanya sangat cepat berlalu.

Padahal sih liburnya cuma di rumah saja, sama sekali gak kemana-mana. Jangankan ke luar kota, ke luar teras aja tak pernah 🤣. Tapi meski begitu, puji Tuhan tetap saja asik dan tetap terasa kok bedanya antara libur dan gak libur meskipun semua sama saja hanya dijalani di dalam rumah 😁. Kadang heran juga sih, kok bisa ya gak bosan padahal kami kerjanya hanya mendekam di rumah saja? Kadang kalau lagi lihat-lihat foto-foto lama waktu kami jalan-jalan, memang suka ada rasa kangen sih, pengen deh bisa seperti dulu lagi, namanya libur yah berarti jalan-jalan ke luar kota.

Tapi puji Tuhan, perasaan yang muncul ketika melihat-lihat foto-foto lama itu hanya sampai di situ saja. Pengen jalan-jalan lagi seperti dulu, tapi gak mau juga ke luar rumah 😆. Mungkin karena sadar diri bahwa kalau memaksakan untuk jalan-jalan dalam kondisi seperti sekarang, maka kesenangan dalam jalan-jalan itu sendiri tak akan bisa kami nikmati karena selagi jalan-jalan harus serba memerhatikan ini dan itu. Apalagi di kondisi sekarang-sekarang ini di mana kondisi Indonesia malah tambah parah kan ya…huhuhuhuhuu….

Karena itu, rasanya bersyukur sekali Tuhan tetap kasih sukacita selama menjalani hari-hari di rumah saja yang sudah berlangsung selama setahun lebih ini. Sejak pandemi merebak, kami memang sudah beberapa kali berpindah tempat. Dari rumah di Palembang ke apartemen di Jaksel, lalu dari apartemen ke rumah ini. Tapi di mana pun kami berada, tetap saja kami hanya tinggal di dalam rumah 😁. Sekali lagi, puji Tuhan tetap sukacita. Lagipula apa sih yang mau dikomplain kan ya? Anggota keluarga inti bisa berkumpul dan tetap dalam keadaan sehat saja sudah merupakan anugerah yang sangat besar.

Oh ya, suami juga sudah sebulan ini full WFH. Selama pandemi memang sebenarnya kantor dia sudah lebih banyak WFH sih memang, cuma sebelumnya masih ada WFO 1-2 kali dalam seminggu. Tapi sebulan terakhir dia full kerja dari rumah saja. Ini juga patut banget disyukuri karena dalam kondisi seperti sekarang, memang rasanya jauh lebih tenang jika bekerja dari rumah saja, walaupun load pekerjaan jadi bertambah 😁. Rapat saja bisa 3 room sekaligus dalam satu waktu, trus bisa juga rapatnya sampai lewat jam kerja (even until past midnight!) dan bahkan di hari libur sekalipun 😅. Tapi tak mengapa, suami tetap lebih memilih load pekerjaan yang bertambah asalkan bisa tetap di rumah. Lagipula apapun itu harus disyukuri, karena ada orang lain yang sama sekali tak bisa bekerja hanya dari rumah saja dan bahkan ada banyak orang yang dalam kondisi seperti sekarang mengalami PHK.

Belajar mensyukuri setiap keadaan, itulah salah satu pelajaran di masa pandemi ini. Asal bisa berkumpul bersama keluarga, asal semua keluarga sehat, asal kehidupan masih tercukupi, maka bersyukurlah 🙂.

Balik lagi ke soal sekolah anak-anak. Minggu ini mereka sudah kembali bersekolah. Seperti yang saya bilang di sini, anak-anak sekolahnya masih di sekolah mereka yang di Palembang dan dijalankan dengan sistem online 😁.

Bener-bener ya kalau sudah ingat-ingat soal sekolah anak-anak ini, rasanya tuh bersyukur sekali karena sebenarnya setahun yang lalu kami sempat sangat galau soal sekolah anak-anak.

Gimana tak galau ya, setahun yang lalu saat kami bedol desa dari Palembang ke Jakarta, semua kan kami lakukan secara mendadak dan saat itu kami sama sekali tak punya rencana pasti soal bagaimana ke depannya. Taunya pokoknya saat itu kami ikut suami ke Jakarta dan untuk sementara tinggal di apartemen sampai Tuhan berkenan kami punya rumah di sini atau sampai Tuhan mengijinkan kami pulang kembali ke Palembang atau apapun itu. Pokoknya bener-bener saat itu kami tak punya rencana. Bahkan termasuk untuk sekolah anak-anak.

Barulah setelah kurang lebih dua minggu berada di apartemen dan kami sudah cukup menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan di situ yang jauh lebih sederhana, kami mulai memikirkan tentang langkah ke depan, terutama tentang dua hal. Rumah dan sekolah anak-anak.

Terutama soal sekolah anak-anak sih yang duluan kami pikirkan, karena saat itu kami ke Jakartanya di bulan Juni dan sekolah bakal mulai lagi di bulan Juli. Sebenarnya saat itu kami sudah yakin bahwa untuk tahun ajaran 2020/2021 gak akan mungkin bisa langsung ada pertemuan tatap muka mengingat saat itu jumlah kasus di Indonesia masih naik dan naik, tapiii…saat itu kami juga masih berpikir kalau pandemi ini tidak akan berlangsung terlalu lama sehingga bisa jadi di tengah tahun ajaran, sekolah akan membuka pertemuan tatap muka kembali.

Inilah yang awalnya bikin galau.

Kami sudah memantapkan hati untuk pindah ikut suami, kami pun bahkan saat itu sudah berpikir untuk langsung menjual rumah di Palembang supaya kami juga bisa punya modal untuk beli rumah di sini. Tapi urusan sekolah anak-anak ini bener-bener jadi pikiran. Seandai-andainya terjadi rumah kami yang di Palembang sudah terjual lalu kemudian di tengah tahun ajaran sekolah kembali membuka pertemuan tatap muka langsung, lalu kami akan bagaimana? Iya kalau kami sudah menemukan rumah di sini dan iya juga kalau proses transfer sekolah anak-anak bisa dilakukan segera. Tapi kalau ternyata tidak, lalu bagaimana dong?

Asli, bikin galau banget.

Tapi yah, meski galau tetep harus diurusin dong ya. Maka jadilah di sekitaran pertengahan bulan Juni saya menghubungi staf admin sekolah anak-anak untuk membicarakan kemungkinan transfer sekolah anak-anak. Puji Tuhan admin yang saya hubungi helpful banget. Beliau membantu menghubungkan saya dengan staf admin dari beberapa sekolah yang masih satu yayasan yang berlokasi mulai dari Jakarta, Tangerang, Cikarang, bahkan sampai Bogor 😅. Seriusan, kami memang meluaskan opsi sampai ke Bogor saking masih clueless banget di mana Tuhan akan kasih tempat tinggal buat kami di sini 😅. Kami bahkan sempat mikir kalau jangan-jangan Tuhan memang gak ngijinin kami untuk punya rumah di sini, saking susahnya kami mencari rumah saat itu 😅.

Setelah menghubungi para staf admin di beberapa sekolah itu, kami kemudian malah tambah galau karena status si abang yang saat itu mau naik ke kelas 6 SD dan si adek yang baru akan naik ke kelas 1 SD, membuat proses transfer sekolah menjadi tak sederhana meski masih dalam satu yayasan sekalipun.

Puji Tuhan, dalam kondisi galau saat itu, staf admin sekolah anak-anak memberi masukan buat saya untuk jangan dulu mengurus transfer sekolah karena beliau yakin bahwa anak-anak akan harus sekolah online sampai paling tidak satu semester dan setelah itu pun kondisi masih belum bisa dipastikan. Kalau-kalaupun bakal ada tatap muka, sepertinya masih akan menjadi hak orangtua untuk menentukan apakah anak boleh datang ke sekolah atau tidak. Dan kalau kami khawatir akan ada kesulitan yang dihadapi karena kami di Jakarta sementara sekolahnya di Palembang, maka beliau bilang akan berusaha membantu kesulitan kami itu sebisa mungkin.

Masukan beliau itu benar-benar jadi pertimbangan kami sehingga kemudian kami memutuskan untuk jangan dulu mengurus transfer sekolah anak-anak. Biarkan sajalah mereka masih bersekolah di Palembang, toh masih akan online juga. Dan soal kesulitan karena sekolah jarak jauhnya memang jauh bener, memang betul sih kemudian dibantu oleh beliau. Contohnya waktu saya mau pesan seragam SD untuk si adek dan seragam baru untuk si abang, beliau membantu supaya semua pesanan untuk anak-anak bisa dikirimkan ke sini. Baik banget kan beliau, mau gitu repot-repot bantuin kami. Puji Tuhan…puji Tuhan banget, dalam berbagai kondisi Tuhan memang menyatakan pertolongan-Nya lewat orang-orang baik di sekitar kita 🥰. Dalam perjalanan waktu kemudian, terbukti kalau ternyata kondisi pandemi masih belum berakhir dan proses belajar dijalankan full online selama satu tahun pelajaran.

Dan penghapus kegalauan kami tak hanya sampai di situ saja. Selang beberapa waktu setelah keputusan untuk anak-anak tetap melanjutkan tahun ajaran 2020/2021 di sekolah yang lama, si suster juga ngasih kabar kalau dia bersama anak-anaknya sudah pindah ke Palembang. Ini cerita soal si suster panjang juga sih. Cuma singkatnya, si suster sempat minta diri pulang ke Lampung jauh sebelum hari raya Idul Fitri tahun 2020. Anak-anaknya waktu itu memang masih diurus sama orangtua si suster di Lampung sementara si suster dan suaminya kerja di Palembang. Kami mengerti keputusan si suster saat itu karena kondisi pandemi mulai menghebat di Indonesia, jadi pasti dia ada kekhawatiran soal anak-anaknya, makanya kami kemudian mengijinkan si suster pulang ke Lampung yang mana kemungkinan besarnya si suster gak akan balik kerja lagi di tempat kami. Tapi ternyata, karena kondisi pandemi, si suster juga memutuskan untuk gak jauh-jauhan lagi dengan suaminya, karena itu akhirnya anak-anaknya yang tadinya mereka tinggalin sama orangtua mereka di Lampung kemudian mereka boyong pindah ke Palembang. Begitu si suster ngasih kabar itu, langsunglah saya tawarin untuk bantu jagain dan ngurusin rumah di Palembang yang mana tentu langsung diterima si suster dengan senang hati 😁.

Puji Tuhan, satu kegalauan lagi terjawab karena dengan adanya si suster dan keluarga yang bisa jagain dan ngurusin rumah itu, maka kami tak perlu mikirin harus cepat-cepat menjual rumah itu. Memang tadinya salah satu alasan kami untuk segera mengurus penjualan rumah adalah karena kami gak mau rumah itu keburu rusak dan tak terurus. Nah, dengan adanya si suster maka kami bisa menjual santai rumah kami itu dan bahkan dalam perjalanan selanjutnya, kami pun bisa dengan lega memutuskan untuk jangan dulu menjual rumah itu.

Ada beberapa alasan kami memutuskan untuk menunda penjualan rumah.

Pertama, karena proses penjualan rumah itu ribet, apalagi karena kami tidak berada di tempat. Belum lagi memikirkan bahwa dalam kondisi begini, bukannya kami bisa leluasa bolak-balik Jakarta-Palembang buat ngurusin penjualan rumah itu. Tak leluasa dan tak aman.

Kedua, karena proses pindah-pindahin barang tuh tak mudah. Andai rumah sudah keburu terjual sementara kami belum nemu rumah di sini, trus barang-barang kami di rumah itu mau dikemanain dong?

Ketiga, dengan menunda menjual rumah, maka jika seandai-andainya Tuhan mengijinkan pandemi selesai dan anak-anak sudah bisa sekolah tatap muka lagi dengan leluasa, maka kami masih punya rumah di Palembang sebagai tempat untuk pulang…hehehehe…

Yah begitulah pemirsa, pada akhirnya kegalauan soal sekolah anak-anak di tahun ajaran 2020/2021 bisa terselesaikan dan kami pun bisa lebih lega mencari rumah di sini tanpa harus diburu-buru oleh urusan sekolah anak-anak.

Lalu apakah kemudian semua selesai sampai di situ?

Oh tentu tidak dong ya.

Itu kan urusan sekolah anak tahun 2020/2021. Gimana dong untuk sekolah di tahun ajaran 2021/2022 yang pendaftarannya sudah dimulai sejak bulan September 2020? Nah ini, persoalan lain untuk kami karenaaaa sampai pada bulan September pun kami belum juga menemukan rumah di sini 😅.

Kami memang mencari rumah yang satu kawasan dengan sekolah incaran, alias sekolah-sekolah yang masih satu yayasan dengan sekolah anak-anak yang sekarang. Tapi tentu dengan catatan, nemu rumahnya dulu baru berani ngurus transfer sekolah anak-anak.

Sampai di sini, kami lagi-lagi cuma bisa berdoa sambil nangis sama Tuhan. Duh Tuhan, ini akan bagaimana ya? Anak-anak akan sekolah di mana? Maunya yang dekat rumah, tapi rumahnya mana???? Huhuhuhu… Bener-bener galau banget lah kami saat itu. Tapi puji Tuhan, di tengah kegalauan, Tuhan masih terus menolong kami. Kami bisa terus berdoa (walau berdoanya sudah pakai nangis…hehehehe) juga bisa baca Firman dan bersaat teduh setiap hari, yang mana semua itu menolong kami untuk bisa tetap tenang, tidak panik, karena yakin bahwa Tuhan akan menyediakan caranya.

Dan memang, Tuhan menolong kami tepat pada waktu Tuhan.

Bukan dengan cara kasih kami rumah dengan segera.

Tapi dengan cara memberikan keyakinan di hati kami untuk mendaftarkan si abang ke SMP di sekolahnya yang di Palembang dan si adek juga melanjutkan kelas 2 di sekolah yang sama.

Saat keputusan itu kami ambil, banyak keluarga dan teman yang bertanya, lah trus bagaimana kalau kemudian anak-anak harus sekolah tatap muka lagi? Antara bulan September 2020 sampai bulan Juli 2021 itu rentang waktunya masih cukup lama, lho, bisa saja pandemi selesai. Apa kami kemudian akan pindah lagi ke Palembang?

Jawabnya? Jangankan orang lain, kami saja tidak tahu…hahahaha…

Aslilah, benar-benar saat itu kami seperti yang clueless tentang masa depan tapi anehnya merasa yakin dalam hati dengan keputusan kami 😅.

Bulan September kami memutuskan anak-anak untuk melanjutkan sekolah di Palembang, bulan Oktober kami malah menemukan rumah ini 😁. Luar biasanya, yang tadinya kami berpikir bahwa untuk membeli rumah di sini kami butuh modal dengan menjual rumah di Palembang, ternyata kenyataannya tidak harus begitu juga. Jangankan menjual rumah di Palembang, menjual apartemen saja tak perlu. Cara Tuhan memang luar biasa, pada akhirnya kami bisa menemukan rumah dan bisa menempatinya dengan tenang tanpa harus terdesak untuk memikirkan proses pindah-pindah barang dari rumah Palembang. Bener-benerlah, semua Tuhan atur sehingga kami bisa menjalani semua dengan tenang dan bahkan dengan nyaman. Lalu untuk sekolah anak-anak, meski kami sudah menemukan rumah ini, tetap saja kami sudah tak berpikir lagi untuk segera mentransfer sekolah anak-anak ke sini karena saat itu mikirnya sayang sama uang pendaftaran untuk tahun ajaran 2021/2022 yang sudah dibayar…hehehe… Tapi toh ternyata terbukti kan dalam perjalanan waktu selanjutnya, pandemi ini belum berakhir dan bahkan wacana untuk pertemuan tatap muka langsung yang sempat digaungkan pun pada akhirnya harus ditunda. Saya bukannya bersyukur dengan kondisi pandemi yang makin parah ini ya, sama sekali tidak. Duh, siapa sih yang mau dengan kondisi pandemi seperti ini? Tapi yang mau saya bilang adalah bahwa kami bersyukur Tuhan membuat kami mengambil keputusan yang ternyata sesuai dengan kondisi yang akan terjadi kemudian.

Kenapa Tuhan membuat kami berkeputusan soal sekolah anak-anak lebih dahulu dibanding membuat kami menemukan rumah ini, itu adalah rahasia Tuhan. Namun yang pasti, hal itu membuat kami bersyukur karena seandai-andainya kami menemukan rumah ini sebelum waktu pendaftaran sekolah anak-anak, maka bisa jadi kami akan segera mentransfer sekolah mereka ke sekolah di sini. Padahal ternyata kondisi pandemi justru bertambah buruk hingga sekolah harus tetap full online. Pindah ke sekolah baru di lingkungan yang baru dalam kondisi online tentu saja akan tidak menyenangkan untuk anak-anak. Kondisi pandemi ini sudah cukup membuat mereka kehilangan banyak hal, kasihan rasanya kalau harus ditambah dengan penyesuaian diri di lingkungan baru dengan cara yang di luar kebiasaan. Pada akhirnya kami hanya bisa bersyukur bahwa cara Tuhan membawa kami untuk membuat keputusan yang lebih tepat untuk anak-anak. Tuhan adalah TUHAN, tentu saja tahu apa yang akan terjadi di depan, karena itu memang sudah paling tepat jika menyerahkan semua keputusan ke dalam tangan Tuhan saja.

Pengalaman ini benar-benar mengajarkan kami betapa memang Tuhan menetapkan setiap langkah anak-anak-Nya. Jalan Tuhan bukanlah jalan kami. Sebagai manusia kami hanya bisa berencana, berpikir, dan mengupayakan semampu kami. Namun pada akhirnya memang, berserah pada rancangan Tuhan lewat doa dan membaca Firman adalah keputusan yang terbaik yang menimbulkan keyakinan dalam hati bahwa meskipun jalannya tak mudah, namun asal Tuhan yang pimpin maka ujungnya pasti adalah damai sejahtera.

Puji Tuhan, minggu ini anak-anak sudah kembali bersekolah. Urusan pendidikan mereka di tahun ajaran 2021/2022 yang sempat bikin galau banget, sekarang sudah terselesaikan. Kedepannya tentu masih harus memikirkan bagaimana sekolah mereka di tahun ajaran berikut. Bulan September nanti sudah harus mikir lagi nih soal pendaftaran…hehehehe…. Tapi sekarang sih sudah tak galau lagi seperti tahun kemarin lah, percaya saja Tuhan pasti akan menunjukkan keputusan mana yang terbaik yang harus kami ambil 😘.

Demikianlah pemirsa, cerita saya di sore hari menjelang weekend ini. Duh, cepet banget yaa hari-hari ini berlalu, bener-bener gak kerasa sekarang sudah mau weekend lagi. Situasi di luar masih mengkhawatirkan ya pemirsa, kiranya Tuhan menolong kita semua sehat-sehat selalu dan buat yang sedang berjuang, apapun bentuk perjuangannya, kiranya Tuhan menolong memberi kekuatan dan jalan keluar. Amin!

5 respons untuk ‘Tuhan Menetapkan Setiap Langkah Anak-Nya’

  1. Selaluuu sukaaa banget baca blognya Kak Lisa. Sangat positif. Dan hangattt. Bacanya sambil minum teh anget. Jadi tambah anget. Hihihi. Eh Kak, kok aku nggak tau sih cerita soal si suster itu. Siapa sih dia? Dan kerjanya apa? Emang dari dulu kerja di Kak Lisa? Ceritain donk Kak! Makasih.. Salam sehat selalu!

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s