
A little disclaimer before you read:
Although this post touches on some unpleasant experiences from my past involving people close to me, I am not writing it out of resentment or to hold anyone accountable for what happened. I have long since made peace with those experiences and with the people involved.
Over time, I’ve come to accept that we are all imperfect. Sometimes, even the people we love deeply can hurt our feelings, whether intentionally or unintentionally. That doesn’t necessarily erase the love, the good memories, or the place they have in our lives.
I’m sharing these stories simply as part of my own journey, for me to reflect on what happened, what I learned from it, and how it shaped the person I am today. There is no grudge here, only acceptance, understanding, and perhaps a little wisdom that came with time.
![]()
Sebagai tulisan perdana di tahun 2026 ini (yes, the last time I wrote here was in 2025 😅), tadinya saya ingin bercerita tentang perjalanan kami ke Jerman, namun akhirnya saya memutuskan untuk berubah haluan. Sebagai tulisan pembuka tahun ini, saya ingin bercerita tentang fisik.
Alasannya adalah karena salah satu kejutan manis yang Tuhan berikan buat kami di tahun ini, ya adalah soal fisik ini.
Sudah sedari lama saya dan suami ingin menurunkan berat badan. Kalau suami karena memang berat badannya sudah lumayan berlebih, sementara saya meski masih termasuk ideal secara BMI dan ukuran baju masih M, tapi ada beberapa bagian yang lemaknya lumayan terlihat dan ingin sekali bisa saya hilangkan.
Puji Tuhan, setelah sekian lama berusaha dan selalu gagal bahkan sempat berpikir untuk menerima saja deh dengan kondisi badan yang tak ideal itu, di awal tahun ini kami dipertemukan dengan dokter gizi yang benar-benar bisa membantu kami mendapatkan tubuh ideal yang kami impikan tersebut. Kami dipandu berdasarkan hasil tes genetik kami perihal jenis makanan serta jenis olahraga yang tepat sasaran untuk kami masing-masing. Setelah beberapa bulan berproses, suami berhasil menghempaskan 20 kilogram lemak dari tubuhnya sementara saya berhasil mengenyahkan 10 kilogram lemak dari badan saya. Yes, semua yang terenyahkan memang adalah lemak, sementara massa otot kami justru bertambah dibanding sebelumnya. Kami pun menjadi bahagia tidak hanya karena melihat angka pada timbangan berat badan, namun juga karena angka komposisi tubuh yang amat sangat baik. Take me, for example: I’m 43, with 21% body fat, a 70 cm waist, and a visceral fat score of 3. I believe that qualifies as pretty elite-level fitness, doesn’t it?
Tak hanya itu, hasil pada lembaran hasil medical check-up juga sangat membahagiakan. Terutama saya yang di tahun lalu bermasalah dengan level kolesterol, mild fatty liver, dan diagnosa mild scoliosis. Puji Tuhan, di tahun ini ketiganya tak muncul lagi 😍. Sungguh bersyukur karena Tuhan memberikan lebih daripada apa yang kami harapkan. Yang tadinya kami harapkan hanyalah tubuh dengan berat badan yang ideal, tapi Tuhan malah juga memberikan kondisi dan komposisi tubuh yang sehat dan fit di usia yang sudah lewat 40 tahun ini.

Kami bersyukur, kami berbahagia dengan tubuh kami yang sekarang.
Sayangnya, tetap saja beberapa komentar berbau negatif datang menghampiri. Terutama untuk saya. Maklum lah, lingkungan saya kebanyakan perempuan, dan perempuan somehow terbukti memang paling suka melontarkan komentar negatif terhadap perempuan lainnya.
Beberapa (puji Tuhan memang hanya beberapa saja ya, tidak banyak) komentar negatif tersebut kemudian membuat saya flashback akan komentar tentang fisik yang saya terima dari sejak saya kecil sampai sekarang ini dan dampaknya dalam hidup saya. Itulah yang mau saya bagikan di sini. Semoga betah membacanya yaaa….hehehehe….
![]()
Komentar negatif tentang fisik saya di sepanjang masa pertumbuhan
Sedari kecil, saya termasuk yang sudah kenyang akan segala macam komentar negatif tentang fisik saya. Komentar negatif itu biasanya disampaikan dalam bentuk candaan dan ejekan yang mungkin sebenarnya bermaksud untuk melucu, tapi karena hal itu berulang-ulang dan sangat sering saya terima, maka saya pun tumbuh dengan keyakinan bahwa fisik saya tidaklah menarik.
Berdasarkan ejekan yang terus menerus saya dapatkan itu, saya bisa menyimpulkan bahwa setidaknya ada empat hal yang saya yakini membuat fisik saya terlihat jelek di mata orang.
- Tubuh saya terlalu kurus (dulu suka dibilang kerempeng dan bokong saya sering diejek tepos)
- Kulit saya gelap (yang ini sering dibandingkan dengan kakak saya yang berkulit lebih terang. Dan please jangan salah paham, yang saya ceritakan di sini adalah point of view saya sewaktu masih kecil di mana karena saya selalu mendengar kalau kakak saya yang berkulit terang itu lebih enak dilihat daripada saya yang berkulit lebih gelap, maka otomatis terbentuk pola pikir kalau kulit gelap itu adalah kekurangan)
- Mulut saya terlalu lebar dan tidak proporsional dengan bentuk wajah saya yang kecil serta tirus
- Gigi saya jelek (dulu suka dibilang gigi tikus)
Mirisnya, komentar-komentar negatif itu saya dapatkan bukan dari teman, orang lain, apalagi orang asing. Saya dapatkan itu semua dari keluarga sendiri, bahkan yang terdekat dengan saya, yakni orang tua dan siblings saya sendiri.
Saya tahu, mungkin mereka tidak bermaksud untuk menghina dan di masa itu memang umum terjadi kekurangan fisik dijadikan bahan bercanda oleh orang-orang terdekat. Masih ingat dengan sinetron Abad 21 yang tayang di tahun 1996 lalu kah? Di situ juga ceritanya si Mita (yang diperankan Vira Yuniar) sering diejek “mata cadok” dan “gigi besi” oleh orang-orang terdekatnya, termasuk bapaknya sendiri 😁. Begitulah yang terjadi di masa itu memang. Hanya saja, hal yang membuat saya suka sedih dengan komentar serta ejekan dari keluarga itu adalah karena di antara kami bertiga kakak beradik, hanya saya yang dibegitukan sementara kakak dan adik saya selalu mendapatkan pujian. Ditambah lagi, komentar negatif serta ejekan itu tidak pernah diimbangi dengan komentar positif, minimal bilang that despite all those supposed physical flaws, I was still pretty… Yes, my closest ones never once complimented my physical appearance 😅.
Akibatnya adalah apa untuk saya?
Saya akhirnya tumbuh dengan keyakinan bahwa saya ini tidak ada menarik-menariknya secara fisik. Sebenarnya saya tidak mengapa sih dengan kenyataan bahwa fisik saya tidak menarik itu, cuma jujur, kalau pas lagi kejadian dikomentarin atau diejek yang jelek tuh rasanya suka kesal juga 😅.
Contohnya pernah suatu kali ketika saya sudah duduk di bangku SMA, ada satu tante kandung yang mengomentari bokong saya, lagi dan lagi. Yes, tante yang satu ini memang paling suka menjadikan saya sebagai bahan ejekannya dan bagian yang paling senang dijadikan bahan olehnya adalah bokong, apalagi setelah saya menginjak masa remaja. Nah, untuk perihal bokong ini, saya jujur tidak pernah memikirkan soal bagus atau tidaknya di mata orang, meskipun saya sering diejek oleh tante saya perihal itu. I was fine with myself, tapi tetap saja saya kesal setiap beliau mengomentari dan mengejek saya. Apalagi saat itu di tengah acara di rumah dan beliau melakukannya sambil tertawa, menunjuk, dan mengajak orang-orang lain yang ada di situ untuk ikut melihat betapa teposnya saya. Saya lebih kesal lagi karena melihat orang lain yang ada di situ yang notabene semua adalah keluarga, tidak melihat apa yang dilakukan oleh tante saya itu sebagai hal yang tidak seharusnya dilakukan, even when they were supposedly just joking. Tapi sekali lagi memang kesadaran soal ini di jaman itu belum muncul, orang rata-rata masih merasa wajar saja menjadikan fisik sebagai bahan candaan tanpa sama sekali menyadari bahwa hal itu sebenarnya menyakitkan hati juga.
Ada juga kejadian lain yang melekat dalam ingatan saya. Waktu itu saya masih SD dan ceritanya sedang ikut lomba SKJ, jadi para orang tua turut mengantar anak-anaknya pergi lomba. Nah, waktu menunggu giliran dari sekolah kami tampil, para mama (termasuk mama saya juga) lagi duduk-duduk berkumpul dan mengobrol, saya juga saat itu ada di situ. Lalu entah bagaimana awal ceritanya, ada satu mama yang mengomentari mulut saya yang lebar. Mendengar itu, saya yang memang berani speak up sejak kecil lalu menyahut kalau walau bibir saya lebar, saya punya lesung pipit, dan yang punya lesung pipit itu biasanya orangnya manis….hihihihihi…. Sayang, ceritanya tak berhenti di situ, karena mama saya yang ada di situ, yang seharusnya menjadi yang terdepan membela anaknya ketika dikomentari yang jelek-jelek, justru malah mematahkan pembelaan saya itu dengan bilang, “Manis apa? Maniso?”
Mama saya mungkin hanya bercanda dan mungkin sejak dulu pun sudah melihat saya sebagai anaknya yang paling kuat menghadapi terpaan yang buruk-buruk dan akan tetap tegak berdiri, sehingga merasa tak perlu membela saya, bahkan kalau perlu ikut ‘menyerang’ saya for the sake of bercanda di depan teman-temannya karena yakin toh saya pasti tak akan semudah itu patah hati 😅. Yah memang iya sih, saya baik-baik saja, cuma tetap saja saya kesal dan malu saat itu 😅.
Lalu, speaking of the compliments I never got the chance to hear, saya teringat suatu kali ketika sedang berada di salon karena sedang bersiap untuk menjadi pagar ayu di pernikahan salah satu tante saya. Selain saya, dua adik kembar Papa saya juga sedang bersiap di salon yang sama.
Nah, selagi kami sedang didandani, datanglah seorang cewek yang cantik banget. Salah satu adik Papa saya kemudian berkomentar kepada Papa saya, bilang kalau cewek yang baru masuk itu cantik sekali, seperti artis. Lalu Papa saya dengan cepat menjawab, “Ah, dia itu pun dalam hatinya pasti berkomentar kalau kalian berdua itu cantik banget!”
“Kalian berdua”, meaning his two young sisters.
And perhaps, somewhere in my younger heart, I wondered why my Papa never seemed to see me as beautiful too. Or perhaps it was simply unimportant to him for the moment.
I was actually fine with that. At least, that was what I told myself. But deep down, I knew I longed to be called beautiful by the one person whose words mattered to me the most, my Papa.
![]()
Tak merasa menarik, namun tetap tumbuh dengan sangat percaya diri
Yupe, inilah salah satu anugerah yang Tuhan berikan untuk saya.
Meskipun sejak kecil saya tidak pernah mendapatkan pujian dan bahkan kenyang dengan komentar negatif mengenai fisik saya dari orang-orang terdekat saya, namun Tuhan tidak membiarkan semua komentar negatif itu menjadi sesuatu yang menghancurkan kepercayaan diri saya atau bahkan yang lebih buruk membuat saya menolak keberadaan fisik saya sendiri. Somehow, saya tetap tumbuh dengan keyakinan yang kuat bahwa my value extends far beyond what meets the eye.
Dengan segala ejekan yang sering saya terima, namun bahkan semenjak kecil pun, orang-orang sudah mengenal saya sebagai si anak yang selalu berani tampil 😍.
Saya memang tidak merasa diri saya cantik dan saya juga cenderung melihat perempuan lain itu selalu lebih cantik dan menarik dibandingkan saya. Namun, tidak pernah sekalipun kekurangan fisik itu membuat saya malu tampil di depan umum. Saya bahkan tidak pernah merasa ada yang salah atau harus ditutupi dari fisik saya ini.
Contohnya nih, meskipun keluarga saya sendiri sering mengejek gigi dan mulut saya, saya dari dulu sampai sekarang tidak pernah malu akan mulut dan gigi saya. Saya teringat dulu sewaktu masih kecil sampai remaja, setiap kali akan difoto bersama, kakak saya suka menyuruh saya untuk mingkem supaya hasil fotonya tidak malu-maluin katanya. Did I listen to her? Well, yes, there were times when I did, because no matter what, sometimes my younger self couldn’t help but feel insecure over things people around me said. But as I got older, I felt less and less affected by their words, so eventually, of course, I stopped listening to her. I liked my mouth no matter what she said. Makanya sampai sekarang pun setiap kali berfoto saya suka senyum selebar-lebarnya..hihihihi. My mouth is fine and no one can tell me otherwise 😁.
Begitu juga perihal badan saya yang kata orang-orang sangat kurus, itu tidak pernah membuat saya malu dan menjadi insecure ketika berpakaian. Bahkan ketika masuk masa remaja, I felt lucky to have a small frame because I could wear almost anything and feel that it looked good, at least in my own eyes 😜.
Karena kepercayaan diri yang tetap tumbuh dengan baik itulah, sewaktu beranjak remaja dan mulai ada satu per satu cowok yang naksir, bahkan ada beberapa yang terang-terangan bilang suka, saya tidak merasa itu sebagai suatu hal yang istimewa atau yang bikin saya kaget bertanya-tanya, “Kok bisa ada cowok yang suka sama saya?“. Pokoknya rasanya yah biasa saja, seolah dalam diri saya bilang kalau sangat wajar bila ada cowok yang suka dengan saya 😅.
Dulu, saya tidak mengerti kenapa dengan segala komentar negatif yang saya terima dari sejak kecil itu, saya bisa tetap tumbuh dengan rasa percaya diri yang tinggi dan meskipun saya tidak merasa diri saya ini cantik namun tetap meyakini bahwa keseluruhan diri saya ini tetaplah menarik.
Sekarang bila melihat lagi ke belakang, barulah saya paham, bahwa itu terjadi karena Tuhan tidak membiarkan komentar negatif yang saya terima itu membentuk cara saya melihat diri saya sendiri.
Apa pun pendapat orang, yang terpenting adalah saya tetap melihat diri sendiri sebagai pribadi yang berharga serta ciptaan Tuhan yang sempurna.
Karena keyakinan akan diri sendiri yang Tuhan biarkan berakar kuat dalam diri saya itulah, seiring saya besar, meskipun saya tetap tidak suka dikomentari negatif, namun saya bisa dengan cuek menerima atau menanggapi setiap komentar negatif yang saya terima itu.
Pernah satu kali ketika sudah kuliah, malam-malam saya sedang menonton serial Helen of Troy. Nah, ketika di scene di mana Helen mendapat semacam visi tentang Paris, Papa saya kebetulan lewat dan komentar kalau si cewek itu (maksudnya si Helen) mukanya seperti saya, mulutnya kelebaran! Lalu saya dengan santai saja menjawab, “Oh baguslah, dia kan ceritanya wanita tercantik di dunia!” 😜
Lalu juga ketika si tante mengejek bokong saya yang tidak bahenol sambil mengeluarkan statement yang mengindikasikan bahwa saya akan kesulitan punya pacar gara-gara itu, yang ada dalam pikiran saya hanyalah, “Ya kali, rugi amat cowok kalo jadi gak mau sama aku cuma gara-gara persoalan bokong!” 🤭
Intinya, apapun kata orang, saya tidak terpengaruh. Percaya diri tetap jalan terus 😁.
![]()
Kepercayaan diri yang terus bertahan melewati masa naik dan turun
Seiring saya beranjak dewasa, komentar negatif semakin jarang saya terima. Seingat saya mulai berkurang setelah saya naik ke SMP dan tubuh saya meski tetap kurus namun mulai mengalami perubahan dari anak-anak ke gadis remaja. Setelah di SMA semakin berkurang jauh, walau yah masih ada satu dua kejadian yang mengesalkan hati seperti contoh dengan tante kandung yang saya ceritakan di atas itu. Kakak dan papa saya juga semakin jarang menjadikan kondisi fisik saya sebagai bahan ejekan. Di awal perkuliahan masih ada (seperti yang peristiwa Helen of Troy di atas itu 😆), namun kemudian benar-benar hilang di akhir masa perkuliahan saya.
Perlahan saya bahkan mulai meyakini bahwa mungkin memang saya bukanlah gadis yang cantik menawan, tapi seiring waktu saya semakin glow up sehingga menjadi yah cukup menarik lah 😁. Sejak duduk di SMP, di mana pun saya berada, selalu saja ada cowok yang naksir. Yang suka dari sejak pandangan pertama pun bukan hanya satu dua dan rata-rata secara penampakan fisik adalah cowok yang cukup bagus dilihat mukanya. Puji Tuhan, saya bersyukur, karena salah satu cowok yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan saya itu adalah yang menjadi suami saya 😁.
Nah, kalau dengan suami saya, tak perlu lagi itu saya menunggu-nunggu atau mengharap-harapkan dipuji cantik. Tanpa saya minta pun setiap hari dia pasti memuji saya cantik 😁. Maka tak heran, meskipun setelah menikah tubuh saya mengalami perubahan drastis akibat proses hamil, namun kepercayaan diri saya tetap tak tergoyahkan 🤭.
Saya ceritakan sedikit perubahan berat badan yang saya alami sewaktu mengandung kedua anak saya ya.
Sewaktu menikah, berat badan saya hanyalah 44 kilogram. Hamil anak pertama, berat badan saya naik sebanyak 26 kilogram. Pasca melahirkan anak pertama, berat badan saya berangsur turun hingga ke angka 49 kilogram.
Lalu kemudian saya hamil lagi dan kembali mengalami peningkatan berat badan dengan total 26 kilogram. Pasca melahirkan anak kedua, berat badan saya mengalami penurunan berangsur-angsur sampai paling rendah di angka 53 kilogram.
Setelah itu badan saya tidak bisa turun lagi melewati angka 53 itu. Saya rajin berolahraga. Saya juga kalau makan biasa-biasa saja, sama sekali tidak pernah gragas, tapi berat badan tidak bisa turun dari angka itu. Kalau naik ya malah sering dan mudah…hihihihihi….. Terakhir sebelum saya menjalani program diet genetik di awal tahun ini, berat badan saya adalah 57 kilogram.
Setelah kenaikan berat badan akibat mengandung itu saya alami, komentar negatif yang tadinya sudah lama hilang itu pun mulai beberapa kali saya dapatkan kembali. Bedanya kali ini saya bukan diejek kurus lagi, melainkan gendut!
Pernah suatu kali saya pulang ke Manado dan kemudian hadir di acara pernikahan salah satu sahabat saya. Waktu itu saya baru 7 bulan pasca melahirkan anak pertama yang mana itu artinya saya masih belum lama banget mengalami kenaikan berat badan sebanyak 26 kilogram. Dalam kurun waktu 7 bulan setelah melahirkan, berat badan saya mulai mengalami penurunan, tapi masih berada di sekitar angka 55 kilogram. Jika dibandingkan dengan sewaktu gadis yang hanya 42 – 44 kilogram, memang tentu terlihat sangat jauh. Tapi jika melihat bahwa penurunan itu terjadi dari angka 70 kilogram, maka sebenarnya itu sudah cukup signifikan turunnya, apalagi saat itu pun saya aktif menyusui, jadi wajar kalau perihal berat badan tidak begitu saya pikirkan. Sayangnya, di acara pernikahan sahabat saya itu, ada satu teman saya (perempuan tentu saja!) yang beberapa kali mengomentari betapa lebarnya badan saya saat itu. Sampai beberapa kali mengomentari ini yang bikin kesal sih. Andaikan hanya sekali, saat momen bertemu pertama kali misalnya lalu kemudian dia berkomentar soal itu, saya mungkin masih bisa positive thinking kalau itu hanyalah ekspresi kaget tanpa disengaja saja demi melihat perubahan saya. Tapi dengan yang bersangkutan merasa perlu menegaskan hal itu beberapa kali, betul-betul yah rasanya mengesalkan! Dan for the record, beginilah penampakan saya yang oleh teman saya dibilang sangat lebar itu.

Memang kalau dibandingkan dengan jaman gadis tentu terlihat lebih berisi. Tapi bukankah menarik bagaimana satu orang bisa melihat tubuh yang sama sebagai “lebar banget”, sementara orang lain mungkin melihatnya sebagai tubuh seorang ibu yang baru tujuh bulan melahirkan?
Pernah juga ada satu ibu-ibu di kantor yang dengan lantang mengatakan saya gendut banget sehabis melahirkan, “Jelek banget!” katanya 😅.
Syukurnya sih kalau di kantor cukup sekali itu saja kejadian saya dikomentari negatif. Selebihnya selalu baik-baik saja.
Kalau dengan keluarga, nah beda lagi ceritanya.
Pernah ada satu kakak ipar yang berkomentar mengindikasikan kalau saya masih gendut padahal waktu itu saya sedang bercerita tentang program diet mandiri yang saya lakukan pasca melahirkan anak kedua, padahal waktu itu berat badan saya sudah turun jauh dari angka 75 kilogram ke angka lima puluhan kilogram.
Pernah juga ada keluarga dekat yang sekitar tiga tahun lalu bertemu saya setelah kami tidak bertemu selama kurang lebih dua tahun. Saya menjemputnya ke bandara dan komentar pertama yang dilontarkan olehnya ketika kami berpelukan adalah, “Kok tambah gendut sekarang?”
😅😅😅😅
Jujur, terkadang saya heran dengan apa pengertian orang terhadap kata gendut ini. Kalau saya masih pakai baju paling besar ukuran M (kadang-kadang S pun muat kok!), itu artinya tidak gendut kan?
Lalu kenapa orang-orang di sekeliling saya suka bilang saya gendut???
Saya akui memang terkadang saya bisa terlihat lebih membulat daripada biasanya. Hal ini kerap terjadi ketika saya akan masuk periode datang bulan. Di periode itu, bahkan berat badan saya pun bisa naik sebanyak satu bahkan dua kilogram. Saya juga akui di beberapa bagian tubuh, lemak saya terlihat berlebih. Tapi tetap saja rasanya saya tidak layak dikomentari gendut secara berulang-ulang. Dan andaikan pun memang saya gendut, lalu kenapa? Kenyataan yang seperti itu pun tetap tidak memberikan hak bagi siapa pun untuk seolah memberi kesan kalau yang mereka lihat dari diri saya adalah saya yang gendut itu, bukan?
Namun lagi-lagi puji Tuhan, meskipun kesal, segala komentar orang mengenai tubuh saya tidak pernah menghancurkan kepercayaan diri saya. Sepenuhnya saya menerima apa adanya keberadaan diri saya sendiri yang berat badannya masih menolak untuk turun sampai ke angka 40-an kilogram seperti waktu masih gadis dulu. Berat badan bisa turun ke angka 50-an kilogram saja sebenarnya sudah patut disyukuri mengingat peningkatan berat badan yang luar biasa banyak yang saya alami setiap kali mengandung.
Lalu kemudian di awal tahun ini saya menjalani program diet genetik.
Berat badan saya akhirnya bisa turun ke angka 47 kilogram dan bahkan seperti yang saya bilang di atas, badan saya tidak hanya kembali mendekati ke badan sewaktu gadis dulu, saya juga menjadi lebih sehat dan fit.
Lalu apakah omongan negatif itu berhenti?
Oh tentu tidak!
Kalau dulu saya suka dibilang gendut, padahal tidak gendut. Sekarang malah kebalikannya. Ada saja satu dua teman yang berkomentar negatif dengan penurunan berat badan saya ini! Padahal ya, saya menjalankan program diet genetik ini dengan pengawasan ketat dari dokter ahli gizi, jadi tentu hasilnya pun adalah ideal.
Heran memang sama orang-orang. Tidak gendut dikatai gendut. Tidak kurus dibilang kurus banget.
Tidak apa-apa, cukup diberikan senyuman saja. Siapa tahu mungkin yang berkomentar itu sebenarnya seperti saya dulu, ingin menurunkan berat badan tapi tidak bisa-bisa 😁.
Dan lagi-lagi, apapun kata orang, sama sekali tidak mengganggu apa yang saya rasakan terhadap tubuh saya.
Apalagi dengan kondisi sekarang di mana badan saya ini benar-benar membuat saya bahagia, saya semakin tak peduli dengan apapun komentar orang.
Orang hanya bisa berkomentar saya kurus, tapi yang orang tidak lihat adalah massa otot saya yang bertambah, tubuh yang semakin kuat hingga bisa berlari lagi tanpa ngos-ngosan, bisa naik anak tangga yang tinggi tanpa tungkai atas merasa pegal, dan masih banyak aktivitas sehari-hari lain yang bisa saya lakukan dengan lebih baik sekarang ini.
Orang hanya bisa berkomentar ketika saya memakai baju lama kalau bajunya terlihat longgar, tapi yang orang tidak lihat adalah kebahagiaan yang saya rasakan setiap bangun pagi karena tahu saya bisa pakai baju apa saja di hari itu dan saya akan puas melihatnya karena tak ada lagi lemak yang terlihat tidak pada tempatnya.
Orang hanya bisa berkomentar kalau kurusan itu identik dengan sakit, tapi yang orang tidak lihat adalah hasil medical check up saya yang bahkan lebih baik daripada sewaktu saya berusia dua puluhan.
Orang hanya bisa berkomentar kalau kurus itu membuat orang terlihat tidak segar, tapi yang orang tidak lihat adalah kesegaran yang saya rasakan setiap pagi karena tubuh saya ringan, tidur saya menjadi lebih berkualitas, dan saya bangun pagi dengan perasaan bahagia karena tahu saya bangun dengan badan yang seperti saya impikan selama ini.
Orang yang katanya dekat dengan saya bisa bukannya mengapresiasi hasil dari program ini namun malah memberi komentar yang seolah-olah ingin mematahkan semangat, tapi mereka tidak mendengar komentar yang saya terima dari tenaga kesehatan yang memeriksa saya saat MCU. Sudah sedari dulu saya rajin berolahraga, tapi baru setelah penurunan berat badan ini terjadi, saya mendapat komentar dari seorang profesional seperti ini, “Ibu pasti kuat banget olahraganya ya? Badan dan komposisi tubuhnya bagus sekali!“
See?
Tadinya dibilang gendut saja tidak membuat saya kurang percaya diri. Apalagi sekarang ini dengan badan yang memang saya harapkan dan doakan. Yang adanya komentar-komentar bernada negatif itu hanya saya tanggapi dengan senyum saja. Saya tidak tahu apa alasan mereka berkomentar seperti itu, dan sebenarnya saya juga tidak perlu tahu.
Oh ya, seandainya di antara pemirsa ada yang bertanya-tanya, “Kenapa kok saya bilang semua komentar negatif itu tidak berpengaruh pada kepercayaan diri saya, tapi saya tetap mengingat banyak hal dengan cukup jelas?“
Jawabannya sederhana:
I don’t have an amnesia button, so not being controlled by something doesn’t mean I don’t remember it.
![]()
Pujian yang bukan sumber kebahagiaan
Karena sedari kecil Tuhan sudah menggembleng saya untuk tidak menjadikan komentar orang sebagai acuan bagaimana saya melihat diri saya sendiri, maka kalau komentar negatif dan bahkan celaan tidak membuat saya menjadi tidak percaya diri, komentar positif serta pujian juga tidak memberikan dampak yang berarti untuk saya. Tetap senang sih kalau dipuji, dan saya pun juga akan mengucapkan terima kasih kepada orang yang sudah meluangkan waktu dan energinya untuk memuji saya. Tapi maksud saya di sini adalah bahwa pujian dari orang lain itu tidak pernah menjadi sumber kebahagiaan untuk saya apalagi sampai membuat saya kege-eran dan mengharap-harapkan datangnya pujian itu.
Dihina tidak menghancurkan kepercayaan diri, dipuji pun tidak berdampak pada menambah kepercayaan diri saya.
Biasa sajalah pokoknya.
Bagi saya ini adalah hal yang positif sih, karena dampaknya adalah dalam segala yang saya lakukan, saya tidak punya kecenderungan melakukan itu dalam rangka mencari pujian dari orang, dan saya bersyukur diberikan Tuhan perasaan dan pola pikir yang seperti ini, karena membuat jiwa menjadi bebas.
Dan hal ini termasuk ketika saya post sesuatu entahkah di blog atau di media sosial. I write and post what I think is important for me, tak ada hubungannya dengan apakah orang lain suka ataukah tidak. Jika ada teman yang kemudian memberikan afirmasi, itu tetap saya hargai, namun bukan itu yang saya cari, dan afirmasi itu pun tidak berpengaruh apa-apa terhadap kepercayaan diri saya.
Pujian yang memberikan pengaruh untuk saya sebenarnya ada, yaitu yang datang dari orang yang pendapatnya mengenai saya itu sangat penting bagi saya, yaitu suami dan anak-anak. They are the people closest to me now, the ones who matter most.
Sebenarnya dulu sewaktu belum menikah, pendapat dari Papa saya adalah yang paling berpengaruh untuk saya, karena itu sewaktu kecil saya selalu mengharapkan pujian yang datang dari beliau. Sayangnya hal tersebut tidak pernah saya dapatkan dulu. Yah, mungkin memang bukan gaya beliau memberikan pujian ke anak-anaknya. Walau belakangan beliau bercerita dulu suka membangga-banggakan saya di depan teman-temannya, tapi masalahnya yang dulu saya harapkan adalah afirmasi secara langsung ke saya, tak ada artinya dibanggakan di depan orang tapi ke yang bersangkutan sendiri tidak pernah ada afirmasi apa-apa. Namun sekali lagi, mungkin memang itu bukan gaya Papa saya, dan di masa itu kesadaran kalau pujian dan rasa sayang itu perlu disampaikan secara langsung belum benar-benar terbit seperti sekarang, jadi yah sudahlah. Baru setelah saya dewasa seperti sekarang, Papa saya ada beberapa kali memuji fisik saya. Pernah satu kali saya men-tag beliau di Facebook. Isinya adalah foto kami berdua sewaktu saya kecil dulu. Papa saya bilang kalau anaknya cantik sekali. Saya senang dipuji beliau, tapi pujian beliau sudah tidak seberharga dulu lagi di dalam hati saya. Tak begitu ada rasanya lagi, selain rasa yang biasa-biasa saja.
Puji Tuhan, kondisi yang sama tidak berulang setelah saya menikah. Tuhan malah memberikan kondisi yang berbalik 180 derajat. Suami, dan kemudian berlanjut ke anak-anak, tak ada satupun yang pelit memuji saya. Termasuk soal fisik, kalau ini suami sih yang benar-benar menghujani saya dengan pujian setiap hari 😁. Bagi saya itu penting, karena tak ada gunanya pujian dari orang lain kalau dari suami sendiri justru jarang atau bahkan tidak ada. Sebaliknya juga, pujian yang disampaikan hanya untuk didengar oleh orang lain juga kurang bermakna dibanding pujian yang secara tulus disampaikan secara langsung baik lewat kata-kata maupun lewat tindakan.
![]()
Maka, pelajaran yang bisa diambil adalah….
Sudah jelas, pelajarannya adalah bahwa kondisi fisik itu bukan untuk dikomentari negatif apalagi dijadikan bahan candaan.
Kenapa?
Pertama, komentar negatif yang tanpa ditanya apalagi diundang datangnya itu bisa menyakitkan bagi orang yang menerima. Dari depan mungkin terlihat baik-baik saja, tapi di dalamnya hanya yang bersangkutan dan Tuhan yang tahu. Ada orang yang diberi kemampuan untuk tidak terpengaruh, tapi ada juga yang masih lemah perasaannya untuk itu.
Kedua, kebiasaan memberikan komentar negatif soal fisik orang lain tanpa diminta menunjukkan bahwa masih ada yang perlu dipelajari tentang bagaimana menghargai perasaan dan batasan orang lain. Orang yang semakin dewasa cara berpikirnya akan semakin mampu melihat orang lain melebihi apa yang tampak secara fisik sehingga secara natural akan mengurangi kebiasaan mengomentari fisik orang lain.
Ketiga, manusia itu rata-rata tidak punya kemampuan untuk menghapus ingatan begitu saja. Komentar negatif orang lain bisa saja tidak memengaruhi kepercayaan diri, tapi akan tetap teringat dan sedikit banyak itu akan berpengaruh pada kualitas hubungan di antara dua pihak. Saya sendiri sejujurnya, meskipun tidak tumbuh menjadi orang yang membenci diri sendiri karena komentar-komentar itu. Tapi bukan berarti komentar tersebut sama sekali tidak meninggalkan bekas. It didn’t destroy me. But yes, I remember it. Yes, sometimes it hurt. And yes, those experiences became part of how I understand myself and other people.
Keempat, apa yang kita lihat secara fisik sebenarnya sangat relatif tergantung dari siapa yang melihat, dari sudut pandang, serta dari situasi dan kondisi. Penilaian kita akan satu hal bisa saja berubah karena kondisinya berubah. Dunia berubah, kebiasaan berubah, kita sendiri dan cara pandang kita juga berubah. Karena itu jangan membuang energi memberikan komentar yang bisa menyakitkan orang lain padahal mungkin ke depannya kita akan melihatnya dengan cara yang berbeda.
Kelima, jangan berkamuflase bahwa komentar negatif itu adalah bentuk perhatian. It’s a big NO! Orang yang perhatian akan memperhatikan perasaan orang lain bukan seenaknya saja berkomentar.
Keenam, what goes around comes around. Our actions—whether good or bad—eventually come back to us. Minimal efeknya adalah, orang yang suka mencela atau berkomentar negatif akan menjadi bagian dari kenangan tidak sedap dari orang yang menjadi bahan celaannya, yang mana bisa jadi kenangan tak sedap itu dibawa sampai kapan pun.
Ketujuh, alasannya sesederhana bahwa kita tidak berhak memberikan komentar tanpa ditanya apalagi sampai pada tahap mencela. Semua orang punya kekurangan secara fisik, tinggal masalah terlihat atau tidak terlihat saja serta tergantung siapa yang melihat, karena itu tak usah sombong mengomentari fisik orang lain.
Kedelapan, berikanlah pujian yang wajar kepada orang yang berhak menerimanya. Ini terutama orang-orang yang terdekat dengan kita. Pasangan, anak-anak, saudara, sahabat. Bahkan yang hanya sekadar teman atau kenalan sekalipun, jangan menjadi seperti kebanyakan orang yang lekas untuk mencela, menunggu-nunggu orang lain jatuh, tapi sangat pelit memberikan afirmasi kepada orang lain. Yah, bisa jadi mungkin karena iri sih, jadi sulit ikut berbahagia ketika orang lain bahagia. Kalau sudah perihal ini sih, tak bisa lagi ya diomongin 😁.
![]()
Begitulah pemirsa, bahasan tentang fisik ini. Maafkan jika sangat panjang, karena daripada saya hanya membiarkan orang lain mengomentari fisik saya, lebih baik saya juga turut berkomentar soal ini…hihihihihi….
Baiklah, ini sudah lewat larut malam. Beginilah kalau sudah menulis, rasanya sukar berhenti kalau belum selesai. Doakan semoga secepatnya saya bisa menulis tentang pengalaman mengesankan perjalanan kami ke Jerman yaaa…
Sampai jumpa, Tuhan memberkati!


Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...