
Baiklah, dengan semangat untuk rajin menulis blog lagi dan dengan tekad agar paling tidak ada satu tulisan setiap minggunya, maka sekarang saya ingin menulis yang ringan-ringan di sini. Berhubung belum lama ini ada kejadian lagi yang memerlukan bantuan Halodoc, maka saya pun terpikir untuk bercerita tentang aplikasi itu di sini. Rasanya memang it’s time for me to give some credits for one of the most useful apps for my family, and I think the best way to show my appreciation is to write about it on this blog. Daripada cuma cerita di Instagram saja kaann…..jumlah kalimat terbatas, yang membaca juga terbatas, mending langsung saja di blog. Meski yang membaca mungkin sedikit, tapi setidaknya saya sendiri bisa puas menulis sepanjang yang saya mau…hehehe….. O ya, seperti biasa, tulisan ini bukan iklan ya, saya hanya sekedar berbagi cerita saja.
![]()
Beberapa waktu lalu, si abang bangun dengan kondisi mata kirinya merah. Katanya ada gatal tapi sedikit saja. Sebagai pertolongan pertama, kami berilah obat tetes mata untuk mata merah yang memang selalu tersedia di rumah. Puji Tuhan, setelah diberi obat tetes itu, mata si abang berangsur membaik dan aktivitas kami pun berlanjut seperti biasa. Anak-anak pergi sekolah, suami pergi kerja, sementara saya cukup di rumah saja berjibaku santai dengan kerjaan domestik sampai tiba waktunya menjemput anak-anak dari sekolah.
Begitu tiba waktunya abang dijemput, saya kaget melihat matanya ternyata masih merah, hanya saja kali ini justru sebelah kanan yang merah. Waduh, kalau begini harus konsultasi dengan dokter, nih. Tapi masalahnya, sore hari itu mereka berdua ada les. Si adek lesnya onsite, sementara si abang online. Bukannya mau mementingkan les di atas kesehatan, tapi sejujurnya kalau jadwal les harus ditunda, maka mamak yang bakal pusing mencari jadwal kosong di antara jadwal semingguan mereka yang sudah padat demi mendapatkan waktu yang pas untuk les pengganti 😁. Selain itu saya juga berpikir, agak repot ya kalau datang ke praktik dokternya tanpa perencanaan sebelumnya karena belum tentu juga dokternya available.
Nah, dalam kondisi yang demikian itulah, saya bersyukur sekali memiliki aplikasi Halodoc di tangan saya. Konsultasi dengan dokter anak untuk mata merah abang bisa kelar sampai ke urusan mendapatkan obat-obat yang diresepkan cukup dengan mengandalkan klak-klik saja, tanpa harus ke mana-mana. Adek jadinya bisa les, abang juga bisa les, tapi di saat yang sama si abang tetap bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan dari dokter 😍. Menurut dokter anak yang melayani konsultasi kami di Halodoc, penyebab mata si abang menjadi merah adalah akibat terpapar iritan dalam waktu lama. Untuk menanganinya adalah dengan pemberian tetes mata, pelembab mata, dan obat anti alergi. Puji Tuhan, hanya membutuhkan waktu semalam saja menggunakan obat-obatan yang diresepkan dokter untuk mata si abang bisa normal kembali 💗.
![]()
Saya mengenal aplikasi Halodoc sudah cukup lama yaitu dari tahun 2018. Waktu itu, saya menggunakan aplikasi ini hanya untuk memesan obat-obatan terutama bila sedang malas keluar rumah hanya untuk beli obat-obat semacam Panadol dan sejenisnya.
Hingga kemudian pandemi datang di tahun 2020, dan keluarga kami pun mulai menggunakan Halodoc untuk konsultasi online dengan dokter. Maklumlah masa itu ya, kalau bisa rumah sakit tuh benar-benar dihindari, jadi daripada harus berkonsultasi ke dokter di rumah sakit, lebih baiklah berkonsultasi secara aman dari rumah via Halodoc 😁.
Dari sejak tahun 2018 hingga sekarang ini, sudah ada berbagai macam spesialis yang pernah kami hubungi lewat Halodoc. Mulai dari dokter umum, dokter anak, ahli tulang, ahli gizi, dokter gigi, bahkan ahli kandungan. Untuk yang terakhir ini memang bukan untuk saya (duh, jangan lah! 😁), tapi untuk ART yang menjaga rumah kami di Palembang. Waktu itu, ketika kami sudah pindah ke sini, ART yang menjaga rumah Palembang terkena Covid dalam kondisi dia sedang mengandung. Puji Tuhan, lewat aplikasi Halodoc, saya bisa mengkonsultasikan ART saya ini ke dokter kandungan sehingga dia pun bisa ditangani dengan obat-obatan yang ramah untuk ibu hamil. Oh ya, sewaktu kami sekeluarga terkena Covid, kami juga berkonsultasi dengan dokter lewat Halodoc. Puji Tuhan sekali, dengan adanya Halodoc, kami bisa berkonsultasi dengan dokter serta mendapatkan obat-obat yang kami perlukan secara aman tanpa perlu keluar rumah.
Menggunakan Halodoc begitu nyaman, sehingga ketika pandemi sudah selesai pun, kami masih tetap menggunakan aplikasi ini bila ada anggota keluarga kami yang sakit dalam kategori ringan. Meskipun hanya sakit ringan, tapi daripada beli obatnya sembarangan, lebih baik berkonsultasi dulu dengan dokter. Dan berhubung hanya ringan, maka daripada harus berlelah-lelah mengantri di ruang tunggu dokter serta ruang tunggu apotek, mending manfaatkan saja aplikasi Halodoc yang ada di tangan 😁.
Selain kepraktisannya, hal lain yang menjadi keunggulan Halodoc adalah soal ketersediaannya di mana layanan konsultasi pada aplikasi ini tersedia selama 24 jam. Hal ini didukung pula oleh adanya apotek yang juga menyediakan layanan 24 jam serta jasa pengantaran yang juga tersedia selama 24 jam, sehingga pengguna Halodoc dapat berkonsultasi dan mendapatkan obat-obatan yang diperlukan kapan saja tanpa dibatasi oleh waktu. Setidaknya demikian kalau di daerah tempat saya tinggal ya, kurang tahu juga kalau di daerah lain seperti apa. Sejauh ini memang kami belum pernah mencoba berkonsultasi pada jam-jam yang kurang wajar seperti di atas tengah malam, namun kami pernah berkonsultasi dan memesan obat pada malam hari sekitar jam 9 malam.
Selain kepraktisan dan ketersediaannya, hal lain yang saya senangi dari aplikasi ini adalah semua dokumen yang diperlukan untuk pengajuan reimburse biaya pengobatan ke kantor juga tersedia. Baik itu diagnosa atau catatan dokter, kwitansi konsultasi, resep, dan juga kwitansi pembelian obat. Semua tinggal di-download saja. Saya tinggal kirim deh semua dokumennya ke suami supaya biaya pengobatan keluarga kami bisa diganti oleh kantor suami 😁.
Dengan semua keuntungan yang diberikan, memang menjadikan Halodoc ini layanan yang sangat berguna. Kesehatan itu sangat penting karena itu rasanya cukup tenang karena dengan adanya Halodoc maka paling tidak kami bisa mendapatkan akses ke pertolongan pertama ketika terjadi gangguan kesehatan ringan, cocoklah memang ya bila aplikasi ini pernah memiliki jargon, “Tenang, ada Halodoc!” 😁.
![]()
Meski menawarkan kenyamanan tersendiri terkait akses kesehatan untuk masyarakat, namun dari beberapa berita yang saya baca, Halodoc kini mulai ditinggalkan oleh ‘pasiennya’ seiring masa pandemi yang berakhir. Saya bahkan membaca beberapa berita yang menyebutkan kalau startup ini mulai melakukan PHK karyawan untuk meningkatkan efisiensi perusahaan 😢.
Bagi saya, yang sudah nyaman menjadi pengguna Halodoc untuk penanganan sakit ringan serta untuk membeli obat tanpa perlu keluar rumah, berita-berita tersebut di atas adalah kabar yang kurang menyenangkan. Rasanya ada kekhawatiran kalau startup ini betul-betul goyang hingga kemudian menutup bisnisnya. Duh, jangan sampai lah ya! Semua orang tentu berharap sehat-sehat selalu dan bila pun terjadi gangguan kesehatan maka mungkin pemeriksaan secara langsung (offline) terasa sebagai pilihan yang lebih baik dibanding online. Namun bagaimana pun, tak dapat dipungkiri bahwa hati ini akan lebih tenang manakala mengetahui bahwa ketika dalam kondisi terdesak, di dalam genggaman ini tersedia layanan kesehatan yang bisa diakses kapan saja. Bukan begitu, pemirsa?
Kalau pemirsa sendiri bagaimana? Apakah merupakan pengguna Halodoc juga? Kalau iya, masihkah menggunakan aplikasi ini sampai sekarang?

Jadi inget, malam2 juga ngalamin gini. Tau2 liat putih2 di mulut anakku, kukira hy kayak bibir kering. Eh tyt sampe dalam mulut. udah j9 malam, ga ada dokter yg praktek. Inget ada halodoc, lgs sat set kontak dokter, foto kondisi, obat datang 30mnt kemudian. Legaaaaaa bgt lah. Teknologi memang memudahkan asal dipake dng benar ya
Pengalaman kayak gini yang bikin pengennya aplikasi semacam Halodoc ini tetap bertahan ya…