Berubah Rasa

Belum lama ini, ada satu sageuk yang cukup booming, yakni Bon Appétit, Your Majesty. Saya tentu menjadi salah satu penonton drama ini yang selama tujuh minggu masa penayangannya, setia menantikan episode barunya di setiap akhir pekan. Saya memang sudah ibu-ibu dengan anak yang sebentar lagi akan memasuki usia dewasa, tapi kesukaan menonton drama Korea dari sejak masa remaja dulu masih terbawa sampai sekarang 😁. Wajar lah ya, saya yakin tak hanya saya, tapi teman-teman lain yang seumuran saya juga masih pada senang menonton drama Korea 😁.

Drama Bon Appétit, Your Majesty ini bercerita tentang seorang koki perempuan yang cerdas dan handal bernama Yeon Ji-Young. Suatu kali, sehabis memenangkan kompetisi memasak di Perancis, Ji-Young yang sedang berada di pesawat dalam perjalanan pulang ke Korea, mendapati dirinya terlempar ke masa lalu, yakni ke era Joseon tahun 1500-an. Transportasi waktu yang dialaminya itu ternyata adalah akibat buku kuno Mangunrok yang dititipkan oleh salah satu kolega ayahnya di Perancis untuk diberikan kepada ayah Ji-Young. Di era Joseon, Ji-Young bertemu dengan raja yang dalam sejarah Korea dikenal sebagai raja paling tiran, yakni Raja Yi Heon (yang terinspirasi dari sejarah asli Raja Yeonsan). Singkat cerita, Ji-Young kemudian menjadi kepala juru masak istana dan dalam perjalanan karir memasaknya di istana Joseon itu, Ji-Young tidak hanya menghadapi tantangan untuk menghasilkan masakan-masakan yang menggabungkan antara dunia kuliner modern dan kuliner lokal Joseon, tapi juga harus berhadapan dengan tantangan perasaan yang tumbuh antara dirinya dan Raja Yi Heon yang bertentangan dengan keinginannya untuk kembali ke masa sekarang. Selain itu, Ji-Young pun menghadapi tantangan di mana di tengah situasi politik istana yang penuh intrik ingin menjatuhkan Raja Yi Heon, Ji-Young bertekad untuk mencegah Raja Yi Heon menjadi raja tiran seperti yang tercatat dalam sejarah.

Sumber gambar dari sini

Patut diakui drama ini memang sangat asyik untuk dinikmati. Ide ceritanya sudah membuat penasaran dari sejak awal, akting para pemerannya dibawakan dengan sangat apik (kalau soal tampang saya sudah tidak bisa bicara, karena sudah sejak lama tidak pernah lagi terpesona oleh tampang siapapun, kecuali suami dan kedua anak bujang saya 😅), dan terlebih lagi drama ini berfokus pada makanan yang tentu saja merupakan salah satu elemen penting dalam kehidupan saya, si ibu-ibu ini. Saya sangat menikmati drama ini dari sejak episode 1, menonton dengan penuh semangat episode demi episodenya, sampai kemudian tiba di episode 14 yang merupakan final episode.

Drama ini ternyata berakhir bahagia…

Namun sungguh disayangkan karena mengecewakan….

Tak hanya saya, penonton lain yang saya kenal pun merasa kecewa akan akhir dari drama ini. Setelah final episode ditayangkan, banyak teman saya yang meng-update story tentang drama ini dan mengungkapkan kekecewaan mereka. Ada juga yang untuk mengobati rasa kecewa, membagikan penjelasan dari final episode berdasarkan kisah pada web novel yang merupakan sumber diangkatnya kisah ini ke layar kaca.

Tapi ternyata meskipun kami sama-sama kecewa, namun dari obrolan bersama teman-teman, saya mendapati bahwa ada perbedaan dalam hal alasan kekecewaan itu. Uniknya lagi, perbedaan alasan itu ternyata berkaitan dengan perbedaan usia.

Teman-teman saya yang berusia lebih muda, yang meskipun sudah ibu-ibu, namun masih termasuk pada kalangan Gen-Z, merasa kecewa hanya karena akhir drama ini terkesan diburu-buru dan tidak ada penjelasan tentang bagaimana sampai akhirnya bisa seperti itu.

Sementara, teman-teman yang seumuran dengan saya, kekecewaan kami tak hanya berhenti pada soal akhir yang terkesan terburu-buru itu, tapi terlebih lagi pada esensi dari segala usaha para tokoh utama dari episode 1 – 14 yang ternyata semua sia-sia belaka. Sia-sia, karena pada akhirnya pembantaian mengerikan terhadap keluarga dan staf istana tetap terjadi dan Raja Yi Heon tetap tercatat sebagai raja yang tiran. Satu-satunya sejarah yang berubah adalah mayat Raja Yi Heon yang tidak pernah ditemukan. Perubahan sejarah yang sungguh tidak signifikan 😅.

Terus terang, dari awal saya tidak mengharapkan kalau si buku ajaib Mangunrok itu hanya memiliki misi untuk mempertemukan dua manusia yang berasal dari dua masa yang berbeda jarak sampai 500-an tahun. Kisah cinta dua sejoli itu memang penting, tapi dengan semua keajaiban yang melampaui ruang dan waktu itu, bukankah seharusnya Mangunrok membawa misi yang lebih mulia, yaitu mencegah dan menghapuskan sejarah kelam Joseon yang pernah memiliki raja yang dikenal paling tiran dalam sejarah? Kami para ibu yang sudah termasuk senior tapi masih merasa muda ini, lebih rela jika Raja Yi Heon dan Ji-young tidak bisa bersatu tetapi Raja Yi Heon bisa tercatat sebagai raja yang meski sempat berlaku sewenang-wenang namun kemudian dapat kembali menegakkan keadilan dan kebenaran bagi kerajaan yang dipimpinnya. Akhir cerita yang demikian rasanya akan lebih memuaskan karena itu artinya segala usaha Ji-Young yang sampai harus time travel ke masa lalu, harus menyesuaikan diri untuk tetap bisa menghasilkan kuliner modern di tengah keterbatasan di era Joseon, hingga senantiasa berada di bawah ancaman akan dipenjara serta dilukai, bahkan memang sampai dibunuh, semua usaha itu terbayar lunas dengan nama Raja Yi Heon dapat terpulihkan serta tercatat sebagai raja yang bijaksana sebagaimana yang juga menjadi doa dari ibu Raja Yi Heon sebelum dihukum mati dengan minum racun.

Sayang sekali, ternyata Bon Appétit, Your Majesty adalah drama yang berfokus murni pada kuliner berbeda masa dan romantisme dua sejoli yang berbeda masa juga.

Yah sudahlah, terkadang memang harapan ibu-ibu yang telah menghadapi banyak realitas dunia itu lebih ribet dan rumit 😅. Semakin ke sini rasanya semakin tak bisa lagi terpuaskan dengan akhir ber-tagline, “…and they lived happily ever after….“. Oh no, di usia yang sekarang saya mengharapkan yang lebih daripada itu, mungkin karena saya telah menyadari bahwa tak ada masa depan yang bahagia tanpa ada closure tentang masa lalu.

Faktor usia memang ternyata berperan besar terhadap sudut pandang kita akan sesuatu. Bila diingat-ingat, beberapa tahun silam pernah ada sageuk yang juga tentang time travel, judulnya Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo. Ending drama ini justru berbanding terbalik dengan Bon Appétit, Your Majesty. Dua tokoh utamanya tidak bersatu tetapi sejarah tentang raja yang tiran berubah menjadi raja yang banyak berbuat untuk kebaikan rakyat. Ending yang waktu itu membuat saya patah hati 🤣. Maklum, drama itu ditayangkan hampir sepuluh tahun yang lalu di mana usia saya masih awal tiga puluhan yang meski sudah ibu-ibu dua anak, tapi sisi menye-menye masih lebih dominan 😅. Di usia yang sekarang, bila saya mengingat lagi tentang ending drama itu, maka telah terjadi perubahan rasa dari yang patah hati menjadi yang, “yah memang itu yang terbaik!” 😆.

Sumber gambar dari sini

Tak hanya soal drama Korea, soal tontonan-tontonan lain juga begitu.

Misalnya seperti hubungan antara Carrie dan Mr. Big di Sex and The City. Dulu, meski saya suka sebal melihat hubungan on-again, off-again mereka,  but I truly rooted for them to be together, and I was really happy when finally, after so many on-and-off moments, they ended up becoming a married couple. Dulu juga saya melihat Carrie sebagai karakter protagonis yang menjadi sosok yang saya dambakan kelak bisa seperti itu, karena dia punya pekerjaan yang sangat menarik, dia punya lingkaran pertemanan yang erat dan asyik, dia modis, dia ceria, dan dia independen. Singkat kata, di mata saya Carrie Bradshaw itu sosok yang keren. Tapi itu dulu. Sekarang? Setiap mengingat Carrie dan Big, yang saya bayangkan adalah hubungan yang penuh racun dari sejak awal. Both Carrie and Mr. Big were characters with red flags, maka tak heran kalau hubungan mereka juga toxic dari sejak awal bahkan sampai akhir. Dan alih-alih mengingat Carrie sebagai sosok yang keren, saya justru melihatnya bahkan bukan sebagai protagonis melainkan sebagai karakter antagonis yang sesungguhnya dalam drama Sex and The City 😅.

Sumber gambar dari sini

Lalu juga ada Rangga di Ada Apa Dengan Cinta. Ya ampun, sekarang saya bingung kenapa kok dulu cowok dengan sikap dan sifat yang seperti itu bisa terlihat cool di mata saya? Orang boleh bilang bahwa sikapnya yang egois seperti itu karena latar belakangnya yang introvert dan punya trauma masa lalu. Namun justru di bagian trauma masa lalu itulah yang menjadi inti kenapa Rangga sekarang tidak keren lagi di mata saya, karena sesungguhnya berat sekali berhubungan dengan orang yang masih membawa beban masa lalu ke dalam hubungan yang sedang dijalani sekarang. Dan kalau dibilang itu karena di AADC 1 si Rangga masih remaja, yah ternyata di AADC 2 juga kan dia masih sama sebenarnya. Ada persoalan bukannya komunikasi dengan baik tapi eh malah menghilang. Kalau tidak dicari, ya dia juga akan pasif menunggu. Belum lagi kalau dia lagi kesal, omongannya suka sinis yang memberi kesan bahwa dia yang paling benar, paling bijak, paling tahu. Di masa awal saat getaran cinta masih membuncah dalam dada, mungkin yang seperti itu bisa menjadi bumbu-bumbu penyedap rasa dan wangi cinta, lalu kalau ada ketidaksetujuan dan omongannya sinis mungkin masih bisa ditolerir dengan menganggap, “ah dia cuma lagi marah….“. Namun tentu semuanya akan berbeda setelah hubungan semakin jauh dan semakin dalam masuk ke rutinitas keseharian, maka tinggal persoalan waktu saja untuk melihat siapa yang akan menggila duluan 😁. Memang bukannya tidak mungkin laki-laki seperti Rangga ini bisa berubah, tapi yah, pasti akan sangat menyulitkan posisi si perempuannya. Ke-tidak-keren-an Rangga di mata saya semakin bertambah karena sekarang saya hidup di antara para cowok (yang mana salah satunya, ketika saya menulis ini, berada di usia yang sama dengan Rangga di AADC 1 😆) dan saya sudah melihat bahwa cowok itu sebenarnya paling keren bukan ketika mereka  sok cool dengan menutupi apa yang mereka rasakan, tapi justru ketika mereka bisa bersikap apa adanya. Benar lho, level keren cowok yang paling tinggi itu terletak pada kemampuannya untuk bersikap apa adanya! Kalau sudah begitu, maka tak cuma keren, tapi juga menggemaskan! 😁.

Terakhir yang mau bahas di sini adalah tentang Rose dan Jack di Titanic. Tentu semua tahu dong  ya film ini 😁. Titanic keluar ketika saya masih kelas 3 SMP, sedang dalam masa persiapan menghadapi EBTA/EBTANAS, di tengah krisis moneter yang sedang melanda Indonesia yang kemudian berujung pada reformasi. Benar-benar memang yah tahun 1998 itu adalah tahun yang sangat bersejarah. Anyway, kembali keTitanic, film ini memang sangat epic karena secara cerita dan penggarapannya benar-benar membius siapa saja yang menonton film ini dan juga epic karena ending-nya yang mengandung irisan bawang merah seloyang. Saya tentu termasuk dalam kaum yang matanya perih akibat kandungan bawang merah dalam film ini, saya si gadis remaja yang terpesona dengan gantengnya Jack dan yang penuh dengan impian romantis bahwasanya cinta itu semestinya bersatu dalam kehidupan selama di bumi ini dan bukannya harus menunggu setelah sudah berada di alam lain. Saking patah hatinya dengan film ini, setiap kali mendengar soundtrack-nya yang begitu legendaris itu, hati remaja saya serasa ikut teriris, pediiihh… Tapi itu dulu. Sekarang? Saya malah membayangkan andaikan Jack bisa ikut selamat bersama Rose, maka kemungkinan besar at one point, mereka akan berpisah. Kenapa? Karena sebagaimanapun indah dan bergeloranya cinta yang mereka rasakan dalam pertemuan yang hanya empat hari tiga malam itu, tapi mereka berdua sama-sama masih dalam fase mencari posisi diri mereka sendiri dalam kehidupan. Jack masih berpetualang ke sana ke mari, sementara Rose masih berusaha melepaskan diri dari ikatan norma sosial yang terasa sangat mengekangnya. Mereka berdua memang sangat saling mencintai, terbukti mereka sama-sama lebih memedulikan keselamatan yang satu dibanding diri sendiri. Ketika Rose bertekad untuk hidup pun, dia melakukan itu untuk memenuhi harapan Jack karena saking besar cintanya pada Jack. Namun itu adalah cinta yang mereka alami di atas kapal, ketika mereka belum diperhadapkan pada tantangan hidup sehari demi sehari. Mengingat status sosial mereka yang sangat jauh berbeda, pasti akan sangat sulit bagi untuk mereka untuk saling menyesuaikan diri menjalani hari demi hari bersama, apalagi Rose untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan ekonomi, sosial, dan gaya hidup Jack. Yang saya bayangkan adalah Rose dari yang terkekang oleh norma sosial kalangan elit, kemudian harus menghadapi kekangan yang lainnya lagi, yakni himpitan ekonomi. Ibarat kata, lepas dari mulut buaya, masuk ke mulut singa 😅. Jack yang senang berpetualang dan membuat sketsa aneka macam wanita, juga tentu akan kesulitan jika harus diajak settle bersama Rose. Bukannya tidak mungkin mereka akan bisa mencapai kebahagiaan bersama, tapi yah terbayang pasti perjuangannya “berdarah-darah”. Karena itu jika dipikir-pikir lagi, saya sangat senang dengan keputusan penulis naskah yang membuat Rose mencari jalannya sendiri sampai akhirnya Rose bisa mencapai kemandirian yang dia idam-idamkan, setelah sudah menemukan dirinya sendiri itu barulah kemudian Rose menikah. Cinta Jack dan Rose di atas kapal Titanic memang luar biasa dan penuh gelora, tapi bahkan cinta yang sanggup melawan gunung es itu pun bisa terkikis oleh kenyataan dalam keseharian hidup ini. Karena itulah, agar cinta mereka tetap indah dan abadi, maka biarkanlah cinta mereka itu hanya untuk menjadi kenangan saja 😁.

Sumber gambar dari sini

Yah begitulah, bertambahnya usia membuat saya lebih condong pada sisi realistis dibanding imajinatif sehingga membuat perubahan terhadap rasa yang dulu pernah ada saat masih lebih muda. Tak mengapa, berubah rasa adalah hal yang wajar. Yang dirasakan dulu juga tidaklah sepenuhnya salah, malah itu adalah berkat juga sih karena jadinya ada masa di mana saya bisa menikmati sesuatu, dalam hal ini tontonan, dengan perasaan yang lebih sederhana tanpa banyak tuntutan dan pemikiran-pemikiran kritis 😁. Walaupun kalau dipikir-pikir, benar-benar anugerah Tuhan saja sehingga meski dulu itu kemampuan saya dalam mengenali ciri-ciri hubungan toxic minim sekali, tapi Tuhan tak pernah membiarkan saya berada dalam hubungan yang aneh-aneh, dan malah meskipun dulu saya tak punya banyak pertimbangan mengenai pasangan hidup tapi Tuhan membawa saya untuk bertemu dengan orang yang bisa membangun hubungan yang sehat bersama-sama 😘.

Bersama dia, yang setelah hampir hitungan puluhan tahun bersama, ternyata ada perubahan rasa….. Eittss….tapi perubahan rasa yang satu ini justru adalah cintanya yang berubah semakin dalam dan kuat dibanding sewaktu masih muda dulu 😍😁

Sekarang, saya sudah menjadi orang tua dari anak yang sebentar lagi akan memasuki usia dewasa muda. Masih jauh memang usia anak saya untuk memikirkan mengenai pasangan hidup. Sekarang dia masih berada dalam tahap belajar berkomitmen dengan diri sendiri untuk meraih cita-citanya. Namun, memiliki konsep yang benar tentang hubungan dengan pasangan hidup itu tetaplah penting dimiliki. Bersyukur untuk setiap pengertian yang Tuhan tambah-tambahkan sehingga saya pun bisa membantu anak saya untuk mengerti dan melihat sendiri hubungan yang sehat itu yang seperti apa. Kiranya Tuhan beranugerah agar kelak anak-anak saya juga bisa memiliki hubungan dalam Tuhan dengan pasangannya yakni hubungan yang harmonis, setara, dan sepadan, sebagaimana yang saya dan suami miliki sekarang. Amin 💕.

Pembahasan “berubah rasa”-nya kok jadi jauh ya?
Hahahahaha…..

Di tengah banyaknya hal yang telah berubah namun ada hal-hal yang masih tetap tinggal dalam diri saya, salah satunya adalah kalau ngobrol bahasannya suka ke mana-mana 😅. Ini sih memang khas perempuan pada umumnya ya, susah fokus di satu topik saja 😅.

Kembali ke persoalan berubah rasa soal tontonan, yang saya bahas di atas hanyalah beberapa yang saya ingat. Aslinya bisa jadi ada lebih banyak lagi, hanya belum teringat saja. Kalau di antara teman-teman ada yang juga mengalami perubahan rasa seperti yang saya cerita di atas, bolehlah dibagi di komentar, biar semakin banyak daftar yang berubah rasa ini 😆.

“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” (1 Korintus 13:11)

PS:

Foto pada cover adalah saya tahun 2025 dan saya tahun 2003 😆

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑