D’Fab Social and Food

Kemarin, kami sekeluarga makan malam di D’Fab Social and Food. Ini sebenarnya bukan tempat makan yang baru di Palembang, kami aja yang baru kali ini ke sini. Tempat ini udah sering saya dengar, dan rata-rata orang yang udah pernah ke situ bilang kalo tempatnya bagus dan makanannya juga enak. Karena orang-orang pada bilang begitu, jadi ekspektasi saya untuk tempat ini terbilang cukup tinggi.

Kemarin kami tiba di situ sebelum jam 6 sore. Suasana di dalam restonya memang cukup cozy, terlihat cocoklah untuk nongkrong.

Harap maklum lah ya kalo si adek di foto gak liat kamera. Dia memang begitu orangnya… Harap maklum juga kalo liat dia menjelang malam gaya pake sun glasses, karena lagi-lagi, dia memang begitu orangnya..hihihihi

Daftar menunya juga lumayan bervariasi from east to west.

Continue Reading…

Letting Them Go….

Waktu itu cepat berlalu ketika dinikmati. Memang bener banget sih. Apalagi kalo waktunya cuma seminggu…beuh, rasanya hanya seperti sehari doang lewatnya.

Orangtua kami dan ponakan dari Medan datang ke sini tanggal 27 Juni dan tanggal 4 Juli kemarin udah kembali lagi ke sana. Memang mereka kalo pergi-pergi gak bisa lama-lama, karena inang (mertua perempuan) butuh treatment setiap minggu.

Rasanya barusan aja kami siap-siapin kamar ini buat amang dan inang (kalo Jose, bere alias ponakan kami, bobonya bareng si abang)…

Our guest bedroom…
Temanya ijo-putih, di rumah kami, semua kamar tidur pake warna-warna terang dan bersih biar bebas nyamuk 😀
Biar tambah ‘ijo’ kasih tanaman air Sirih Gading ini, supaya suasana kamar tambah segeerr 😀

Lah kok rasanya hanya selewat aja kamar itu terisi, sekarang udah kosong lagi. Sekali lagi, waktu selama seminggu itu hampir tak terasa 😦

Continue Reading…

Homonim (Bukan Pelajaran Bahasa Indonesia)

Inget pelajaran Bahasa Indonesia jaman SD dulu tentang homonim, gak? Itu lho, kata yang penamaan, pengucapan, serta susunan hurufnya sama tetapi artinya berbeda?

Masih gak inget juga?

Ya udah lah gak apa-apa…hehehe….

Saya juga bukannya mo jelasin tentang homonim, saya cuma teringat aja soal ini saat teringat di masa dulu ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Medan.

Indonesia ini memang majemuk sekali. Salah satu kemajemukan itu terlihat dari bahasanya di mana setiap daerah dan suku punya bahasa sendiri-sendiri. Syukurlah kita punya Bahasa Indonesia ya, jadi kalo ketemu orang dari daerah lain masih bisa nyambung obrolannya, makanya memang udah betul sekali kalo Bahasa Indonesia itu disebut sebagai bahasa persatuan. Di daerah-daerah kita sekarang juga rata-rata bahasa sehari-hari yang digunakan sudah bukan lagi murni bahasa daerah tapi sudah bercampur-campur atau sudah mengadopsi Bahasa Indonesia. Tapi memang dasarnya kemajemukan itu sudah mendarah daging, bahkan ketika Bahasa Indonesia diadopsi ke dalam bahasa daerah sehari-hari, tetap saja terjadi pergeseran atau perbedaan arti meski menggunakan kata yang sama. Hal ini kadang, atau malah sering, berujung pada salah pengertian.

Saya pertama kali menginjakkan kaki di Medan adalah pada bulan Oktober 2007. Waktu itu statusnya masih tunangan, ke sana dalam rangka kenalan dengan keluarga besar terutama dengan keluarga adik laki-laki calon mama mertua (alias Tulang-nya pak suami) yang akan mengangkat saya sebagai boru (anak perempuannya). Tujuan pengangkatan boru itu supaya nanti pernikahan kami bisa diadatkan. Nah, dalam kunjungan perdana saya itu, beberapa kali saya jadi salah paham akibat penggunaan kata dalam Bahasa Indonesia yang mengalami pergeseran arti ketika digunakan dalam bahasa sehari-hari di Medan. Kalo diinget lagi sih lucu ya, tapi dulu pas kejadian bikin malu sendiri…hehe….

Continue Reading…

Diproteksi: Cerita Cuti Sebulan

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Perjalanan mencari piano murah……

Saat awal masukin Raja ke sekolah musik, yang paling jadi pikiran adalah soal perlengkapan perangnya yang utama, apalagi kalo bukan alat musiknya sendiri, dalam hal ini piano.

Soal piano ini jadi kepikiran, karena sejak jaman dulu, walau satu-satunya pengetahuan saya tentang piano hanyalah terbatas pada bentuknya yang terbagi dua: grand dan upright, saya udah tau kalo piano itu harganya mahal. Kalo organ sih pasti relatif lebih murah, tapi kalo udah ngomong piano, dalam benak saya langsung terbayang lah itu duit puluhan hingga ratusan juta rupiah. Saya dulu memang nggak pernah cari tau ya berapa harga piano sebenarnya, tapi kira-kira udah bisa saya bayangkan lah harganya berapa mengingat hanya di rumah teman yang orang tuanya tergolong berpenghasilan besar aja yang punya piano. Kalo yang penghasilannya rada pas-pasan (seperti orang tua saya), palingan juga cuma ada organ…hihihihi… Dan ternyata, kesimpulan saya dulu itu memang gak salah kok, terbukti waktu pertama kali main ke rumah mertua (yang waktu itu statusnya masih calon) dan saya iseng-iseng nanya berapa harga piano upright di rumah mertua itu saat dulu dibeli, saya pun langsung ngerasa mules di perut begitu denger angkanya. Di rumah mertua memang ada piano bagus yang usianya udah bertahun-tahun, karena udah dibeli sejak suami masih kecil, tapi ya itu herannya kok mereka semua 6 bersaudara gak ada satupun yang bisa main piano, satu-satunya yang bisa ya cuma bapak mertua. Sayang banget ya 😀

Makanya karena sadar kalo piano itu harganya mahal sekali, waktu Raja kami masukin ke sekolah musik, saya dan suami cuma bisa beriman aja supaya tar bisa dapat duit buat beliin Raja piano. Pernah satu kali saya iseng-iseng nyari harga piano, dan ketemulah saya di sebuah situs yang ngejual piano-piano second….yang mana penemuan itu bikin saya nyesel. Ya abis gimana gak nyesel, gara-gara situs itu saya tambah pusing liat piano second aja harganya bisa nembus angka sampai hampir 500juta. Eyampun, beli sebiji piano aja bisa dapat satu rumah tipe 50-an…gimana ini?? T___T

Nah, setelah Raja mulai masuk sekolah musik, baru tau lah kami kalo ternyata piano itu ada jenis digitalnya juga….hihihi…memang lah pengetahuan kami soal piano ini ceteeekk banget. Kami taunya karena di sekolah musik Raja juga kan jualan alat-alat musik Yamaha juga, nah di situlah kami liat-liat… Oalah, ternyata bahkan yang grand pun ada yang versi digitalnya. Nah, harapannya kan dengan ada versi digital gini, maka harganya pun bisa menjadi lebih terjangkau. Seharusnya begitu kaann?

Kenyataannyaaaaa….

Continue Reading…