My 35th Birthday

Rehat dulu dari cerita soal renovasi dapur ya, sekarang pengen dokumentasiin dulu tentang ulang tahun di keluarga kami yang 3 minggu berturut-turut itu, dimulai dari ulang tahun saya yang sudah berlalu sebulan yang lalu…hehe…

Puji Tuhan, tahun ini tambah lagi usia saya. 35 tahun sudah saya hidup. Waktu berlari cepat sekali, semuanya berlalu tanpa terasa. Ingatan dari masa kanak-kanak masih jelas banget bermain-main dalam benak saya, tapi ternyata itu sudah puluhan tahun yang lewat. Gak kerasa juga sudah 11 tahun saya kenal dengan orang yang kini jadi suami saya, padahal rasanya baru kemarin bertemu dan kenalan. Asli, bener-bener waktu itu berlalu seperti angin. Makanya memang setiap kesempatan hidup yang Tuhan beri itu gak boleh disia-siakan ya, semua harus dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk kemuliaan Tuhan, karena cepat saja semua dan segala sesuatunya itu berlalu. Puji Tuhan masih diberi ketambahan umur, kiranya Tuhan juga memberkati saya supaya bisa lebih bijaksana menjalani hari-hari ke depan.

Puji Tuhan, sama seperti kurang lebih 10 tahun terakhir dalam hidup saya ini, kembali saya merayakan bertambahnya usia bersama dengan orang-orang terdekat yaitu suami dan anak-anak. Mereka inilah yang selalu jadi hadiah ulang tahun terindah buat saya. Hanya dengan melihat dan merasakan mereka di sekitar saya saja, sudah lebih dari cukup membuat saya merasa betapa beruntungnya saya karena memiliki mereka πŸ™‚ .

Di hari ulang tahun saya itu, sejak pagi di rumah udah mulai sibuk.

Continue Reading…

Iklan

Palembang, Sept 6th – 18th 2010

Awalnya, kami berencana untuk menghabiskan libur lebaran bersama keluarga di Medan, berhubung tahun lalu kami libur Lebaran di Manado dan Natalan di Medan, maka sesuai kesepakatan di antara kami suami-istri, berarti tahun ini Lebaran di Medan dan Natalan di Manado.

Tapi apa daya, rencana tinggal rencana. Setelah peristiwa ini, konsekuensinya si papa gak bisa ngambil cuti kayak dulu lagi, malah pas Hari H-nya, si papa musti stand by di kantor dan β€˜wajib’ menghadiri open house-nya Bupati. Rencana berlibur ke Medan kemudian tinggal kenangan.

Tau kalo kami gak kemana-mana selama libur Lebaran, si oma kemudian mengusulkan supaya si opa, si oma, keluarga kakak saya, dan adik saya saja yang berlibur di Palembang. Pas banget, karena mereka sudah kangen banget sama Raja *sama mamanya katanya gak πŸ˜€*, dan lagian keluarga kakak saya belom pernah ke Palembang. Adek saya, sekalipun pernah ke Palembang, tapi belom pernah ngeliat rumah baru kami. Semuanya setuju dan antusias banget. Rencananya, mereka berada di Palembang mulai tanggal 6Β  – 18 September. Lumayaaaannnnnn!!!!!! πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Hari senin, tanggal 06 September 2010, siang sekitar jam 2, rombongan keluarga saya tiba dengan selamat di Bandara Palembang. Si opa dan si oma datang dari Ambon, keluarga kakak saya yang terdiri dari suami-istri-1 toddler-1 baby datang dari Nusa Tenggara Timur. Adik saya di Manado, pada akhirnya batal datang karena tetep musti jaga pas tanggal merah… nasib sebagai dokter muda yah gitulah 😦

Puji Tuhan, tanggal 6 itu si papa masih bisa ada di Palembang, sehingga masih sempat ketemu terutama sama si opa, yang pada hari H-nya juga sama seperti si papa harus berada di Bandara Pattimura yang dipimpinnya. Jadi si opa datang tanggal 6, tapi pada tanggal 8-nya harus sudah kembali ke Ambon.

Bersyukur banget, permohonan cuti kakak saya sudah masuk dan disetujui sebelum pengangkatannya sebagai Kepala Puskesmas, jadi bisa berlenggang cuti selama 12 hari kerja πŸ˜€

Saya sendiri, baru bisa ambil cuti untuk tanggal 14 – 17 September saja, tapi di hari Rabu, tanggal 8 September adalah hari fakultatif di kantor, jadi bisa hanya masuk setengah hari saja πŸ˜€

Nah, apa saja yang dilakukan selama keluarga besar saya ada di Palembang???

Yang pasti yang tentu tak akan ketinggalan ya tentu saja ngumpul ngobrol di rumah sampe lewat tengah malam, sampe terkantuk-kantuk, sampe mata merah, tapi anehnya kok ya bangun paginya bisa tetep pagi banget, karena saking semangatnya πŸ˜€ πŸ˜€

Jadwal tetap setiap pagi untuk anak-anak adalah jalan-jalan keliling komplek dengan formasi Kak Fide pake mini motorcycle, Raja pake sepeda sambil membonceng adek Zecky. Pas banget!! Kemaren, waktu beli sepeda buat Raja, memang sengaja nyari yang ada boncengannya. Pikirannya waktu itu, lumayan kalo nanti ada keluarga yang datang, Raja bisa maen sepeda bareng sodaranya. Trus juga kepikiran, nanti bisa jadi Raja punya dedek, jadi kan ya lumayan, Raja bisa maen sepeda bareng dedeknya πŸ˜€

The Three Brothers

Dengan kehadiran keluarga saya di rumah, suasana jadi ruame buanget, apalagi karena ada tiga bocah yang tiap kali ngumpul pasti adaaaa… aja kejadian serunya. Apalagi, ketiganya baik Fide (3y 5m), Raja (1y 7m), dan Zecky (10m), semuanya masih pada fasa suka cari perhatian, senang diperhatikan, dan cemburu kalo yang satu lebih diperhatikan dari yang lain. Awal-awalnya, Raja cemburu banget kalo saya deketin Fide apalagi Zecky. Tapi seiring waktu, Raja kemudian jadi ngerti, kalo Zecky adalah adeknya juga tapi Zecky juga punya mee-mee sendiri :D. Lama-lama, Raja gak cemburu lagi. Malah, Raja sama sekali gak marah ketika saya menyusui ia dan Zecky secara bersamaan *ni karena pengen ngetes, Raja marah gak kalo mee-mee nya dibagi dengan adeknya :D*. Kehadiran Fide di rumah juga membantu banget untuk Raja belajar lebih banyak hal, seperti meng-goes sepeda, menambah kosakata, keberanian mencoba hal-hal baru, bahkan cara baru untuk merajuk dan merengek πŸ˜€ πŸ˜€

Begitu juga dengan Fide. Awalnya Fide lumayan ‘egois’, semua mainan yang dipegang Raja pengen diambilnya. Kalo lagi nonton, maunya nonton DVD kesukaannya aja, si Thomas. Tapi lama-lama, Fide mulai ngerti untuk berbagi dan mengalah, secara ia adalah yang tertua. Keegoisan Fide memang bisa dimaklumi, secara ia masih kecil ketika punya adek. Setelah mulai masuk sekolah pun, ia tinggal terpisah dengan adeknya, dan di rumah opa-omanya yang di Kupang, ia satu-satunya cucu dan dengan demikian selalu menjadi pusat perhatian seisi rumah. Karena itu gak heran kan kalo Fide jadi agak egois. Tapi karena memang dasar anaknya baek dan pintar, jadi ia kemudian bisa menyesuaikan diri dengan kondisi sebagai ‘anak tertua’ selama di rumah kami πŸ˜€

Zecky juga karena banyakan bergaul dengan kakak-kakak, jadinya malah penasaran pengen jalan juga. Rupanya penasaran ni anak ngeliat kakak-kakaknya pada lari-larian sementara ia bisanya merangkak aja. Jadilah, selama di rumah kami, yang paling seneng dilakukan Zecky adalah belajar berdiri sendiri tanpa pegangan, dan puji Tuhan, anak pintar ini berhasil!!!

Fide n Raja Were Playing Together

Nah, itu anak-anaknya, kalo orang tuanya gimana???? Hehe, yang pasti, moment ini banyak kami gunakan untuk ngobrol bersama, cerita-cerita tentang banyak hal, bercanda… pokoknya semua hal untuk melepas rindu, termasuk melepas rindu akan masakan si oma!!! O ya, kemarin waktu mereka datang, juga gak lupa membawa ikan cakalang fufu dan daging sei yang suedap-muantep-uenak itu πŸ˜€

Kalo jalan-jalannya???

Memang harus diakui, di Palembang sedikit banget lokasi wisata keluarga yang bisa dikunjungi. Tapi yah, the place is not the matter, yang penting kumpul-kumpulnya.

Dan inilah, beberapa kegiatan outing yang kami lakukan bersama.

Pertama, swimming at Novotel. HTM-nya termasuk mehong, seorang baik dewasa maupun anak2 adalah sama : Rp 75.000,00. Memang sih kolamnya bagus banget, suasananya juga asyik. Mengapa kegiatan berenang menjadi kegiatan nomor satu yang dilakukan?? Karena memang kami semua punya hobi berenang. Dulu, waktu masih ngumpul di Manado, sejak kecil tiap minggu kami pasti dibawa berekreasi oleh papa dan mama, dan tempat rekreasi yang dipilih adalah tempat yang ada kolam renangnya. Berekreasi tanpa berenang rasanya kurang sip buat kami πŸ˜€

Yang paling seneng waktu lagi renang ya si kakak Fide, karena udah besar, udah 3,5 taon, jadi lebih bisa bereksplorasi apa aja yang dia mau.

Pas lagi renang, kakak Fide menunjukkan keberaniannya yang memang sudah luar biasa sejak kecil. Ni anak sejak usianya masih setahun, udah berani maen luncuran di kolam dewasa!! Setelah udah bisa berlari, Fide gak pernah ragu untuk melompat ke dalam kolam. Memang dasar pemberani. Tapi yang penting sih, selalu dijaga aja dan orang dewasa selalu stand by untuk menangkapnya di kolam, karena gimanapun juga, ni anak lom mahir berenang πŸ˜€

Yang aneh malah si Raja, lho ya lagi di kolam renang kok ya minta mee-mee???? Hihihihi…. Bener-bener ASIholic ni anak!!

Zecky juga gak kalah seneng, lho. Semangat banget ni bocah cilik bermain air. Maunya maen terus, padahal kan baby 10 bulan gak boleh terlalu lama maen air, apalagi airnya bukan air anget. Tapi dampaknya oke juga, sih, Zecky yang sejak nyampe Palembang rada susah makannya *padahal biasanya ni anak lahap lho maemnya!!*, setelah habis berenang malah kelaperan dan semangat makannya balik lagi πŸ˜€ πŸ˜€

Novotel, Sept 8th 2010

Kedua, jalan ke Pulau Kemaro. Sayang banget, waktu kami ke sini, si opa udah balik ke Ambon 😦

Pulau Kemaro nih konon awalnya adalah sebuah delta yang kemudian menjadi pulau di tengah sungai Musi. Untuk menuju ke sana, ada dua cara: Pertama, dengan naek perahu motor dari dermaga di depan Plaza Benteng Kuto Besak. Kedua, melalui jembatan dari komplek Pupuk Sriwijaya yang biasanya dibuka pada hari libur, lokasi pabrik Pupuk Sriwijaya memang bersebelahan langsung dengan pulau ini. Supaya seru, kami memilih naek perahu motor saja, supaya terasa nikmatnya mengarungi Sungai Musi. Biarpun hampir tak ada yang menarik, tapi tetep saja buat keluarga saya yang bukan asli sumatera, adalah sebuah keistimewaan bisa berada langsung di sungai yang tersohor sebagai sungai terpanjang di Pulau Sumatera ini.

Pemandangan sepanjang perjalanan kami ya paling Jembatan Ampera yang dulunya mengagumkan, rumah-rumah penduduk di sepanjang bantaran sungai, pabrik Pupuk Sriwijaya, serta aneka kapal dengan berbagai ukuran. Anak-anak terutama Raja dan Fide paling menyukai pemandangan kapal ini. Β Sambil liat-liat kapal, anak-anak juga bisa belajar tentang nama-nama warna, secara kapalnya berwarna-warni.

Waktu kami ke sana, cuaca sebenarnya agak mendung dan berangin, jadi lumayan juga gelombangnya. Ngeri??? Ah, gak juga, malah mengasyikkan πŸ˜€ πŸ˜€

Yang ngeri justru pas mau naek sama turun di perahunya, karena dermaganya kurang nyaman. Hh, mustinya pemerintah kota Palembang bisa memikirkan bagaimana caranya supaya penumpang bisa nyaman naek turun perahu motor dengan menyediakan dermaga yang aman dan β€˜bersahabat’ untuk perahu motor kecil. Dengan menyediakan dermaga yang aman, maka tentu akan lebih menarik minat pengunjung dan tentu akan berdampak juga pada peningkatan pendapatan masyarakat setempat, secara penyedia jasa perahu-perahu motor tersebut rata-rata adalah masyarakat di bantaran Sungai Musi.

On the way to Pulau Kemaro

Suasana agak sepi waktu kami nyampe di Pulau Kemaro. Hanya ada beberapa kelompok orang yang sepertinya kesemuanya adalah keluarga seperti kami. Pulau ini merupakan tempat favorit bagi warga keturunan Cina di Palembang. Tepat di tengahnya, terdapat Klenteng Hok Ceng Bio. Biasanya, perayaan Cap Go Meh (perayaan di hari ke-15 setelah Imlek, biasa dikenal juga dengan Festival Lampion) diadakan di pulau ini secara besar-besaran dan perayaaan tersebut tidak hanya dihadiri oleh warga etnis Cina dari Sumsel saja, tapi juga dari Riau, Bangka, bahkan dari Singapore, Malaysia, Thailand, dan Cina. Mengapa tempat ini menjadi tempat favorit bagi warga etnis Cina di sini??? Silakan dibaca legenda di bawah ini yang tertulis pada prasasti sebelum kita memasuki area klenteng.

The Legend of Pulau Kemaro πŸ˜€

Tapi versi berbeda lengkapnya dari legenda ini bisa dibaca di sini.

Yang kami lakukan di sana adalah foto-foto!!! πŸ˜€ πŸ˜€ Eh, Raja dan Zecky juga numpang makan siang di situ, ding πŸ˜€

Beberapa Foto Narsis Kami πŸ˜€

So Much Fun Together
Raja n Zecky were eating at Pulau Kemaro

O ya, perjalanan ini juga terasa special buat Fide yang sudah masuk sekolah PAUD, berulang-ulang dihapalnya nama Jembatan Ampera dan Sungai Musi, biar bisa diceritain ke gurunya, biar bisa sombong-sombong bilang kalo ia sudah pernah melihat langsung sungai terpanjang di Sumatera dan jembatan Ampera yang bersejarah itu πŸ˜€

Ketiga, tentu saja yang tak akan ketinggalan adalah jalan-jalan ke mall. Palembang hanya punya 3 mall saja: Palembang Trade Center (PTC), Palembang Indah Mall (PIM), dan Palembang Square (PS), dan dari pengamatan saya, sepertinya di mall-mall inilah tempat β€˜wisata’ favorit keluarga-keluarga di Palembang, karena memang sekali lagi di sini sangat kurang tempat wisata keluarganya. But it’s ok, kami udah cukup fun kok dengan nge-mall bareng-bareng gini. Yang anak-anak seneng banget karena bisa maen di children playground, yang orang tua terutama para ibu bisa puas-puas belanja apalagi masih musim sale lebaran πŸ˜€

Kids Were Playing At Mall

Keempat, apalagi yah, o iya wisata kuliner. Saya sempat membawa keluarga saya ini ke Restoran Sri Melayu untuk nyobain pindang di situ. Sebenernya targetnya ke RM Pindang Ibu Ucha, tapi pas ke sana lagi puenuh buanget, jadinya beralih deh Sri Melayu. Dan benar saja, ternyata menurut semuanya pindang ala mbak Santi masih jauh lebih nikmat daripada pindang di sini πŸ˜€

O ya, saksikanlah di sini keakraban antara Raja dan Fide ketika sedang makan di salah satu restaurant.

Fide n Raja are loving each other

Tanggal 18, pukul 4 sore akhirnya seluruh keluarga saya meninggalkan Palembang. Sedih? Tentu saja. Ketika melambaikan tangan untuk mereka yang mulai memasuki garbarata dari ruang tunggu, air mata saya yang sudah saya tahan-tahan, akhirnya meleleh juga… Hikksss…. Tapi yah, sudahlah. Dengan begini saja pun sudah sangat bersyukur rasanya.

Sultan Mahmud Badarudin Airport, Sept 18th 2010

Sebenarnya, kami berencana untuk membawa keluarga saya keliling Sumsel, Jambi, dan Bengkulu. Pengeeennn banget ngajak mereka ke Pagar Alam sambil nengok tempat kerja papanya Raja di Tebing Tinggi. Pengen nunjukin ke mereka Sungai Batang Hari dan candi Muaro Jambi di Jambi juga Pantai Panjang di Bengkulu, bahkan saya pengen banget bisa ngajak mereka ke Bangka karena terus terang, saya terpesona oleh keindahan pulau kecil ini. Tapi apa daya, kondisi sekarang dengan tidak adanya si opa dan si papa menjadi tidak memungkinkan. Lagian kalo dipikir-pikir, memang kasian juga kalo anak-anak terutama si Zecky dipaksain untuk jalan jauh dengan perjalanan darat. Tar jadi kecapean banget. Yah, mungkin nantilah ketika anak-anak sudah lebih besar dan kalo ada kesempatan lagi semua pada ngumpul di Palembang πŸ˜€

Tapi tentu saja, inti dari semuanya bukanlah pada jalan-jalannya, tapi pada kebersamaannya. Secara jarak, kami semua terpisah lumayan jauh. Papa-mama saya sekarang di Maluku oleh karena tugas papa, kami di Sumsel (saya di Palembang, suami di Tebing Tinggi), keluarga kakak saya di NTT (kakak saya di Rote, kakak ipar di Kupang), sementara adik saya yang masih single tinggal di Manado. Pertemuan kami paling banyak lewat jalur komunikasi, padahal tau sendiri, meski memanfaatkan fasilitas BBG pun, tetap saja terasa kurang komunikasinya. Padahal, kami termasuk keluarga yang hubungan satu dengan lainnya deket dan kompak banget. Bayangin deh, sampe sekarang pun setelah kami sudah berkeluarga, tiap mo keluar daerah, pasti musti ngasih tau ke semuanya (orang tua, kakak, dan adik) kalo sudah dalam perjalanan, kalo sudah di ruang tunggu, kalo sudah di pesawat, kalo sudah landing, kalo sudah di tempat yang dituju. Jadi kami gak pernah gak tau posisi keluarga kami ada di mana. Terlalu sering saya merasa kangen dengan mereka, pengen ngobrol dan denger ketawa mereka secara langsung. Β Karena itu, bahagianya tak terkatakan lagi jika bisa bertemu muka dengan muka, dan puji Tuhan, hingga kini meski dengan jarak yang terbentang begitu jauh, Tuhan masih ijinkan kami untuk at least bisa bertemu sekali dalam setahun.

13 hari bersama, meski tak semuanya hadir, tapi rasanya sudah luar biasa untuk saya.

Huwaaaa….kangennya jadi nambah lagi, nih!!! Hikkkssss….jadi beneran gak sabar untuk pulang pas Natal nanti apalagi kalo ngeliat-liat lagi foto-foto ini πŸ˜€

*Sebenernya pengen banget nulis yang puanjang-puanjang dan duetil… Tapi apa daya, sodara-sodara, kesibukan melanda begitu hebat sehabis masa cuti… jadi yah, bisa gini ajah udah cukup buat saya πŸ˜€*