Setelah 10 Tahun

Bulan Maret lalu, saya dan suami genap 10 tahun berumah tangga. 10 tahun yang lalu, kami berdua berdiri di depan altar, mengucapkan janji pernikahan untuk saling mencintai, menghormati, dan menjaga. Waktu itu sama sekali tidak terbayang bahwa kami kemudian akan jadi orangtua dari dua anak laki-laki yang luar biasa, berpindah dari rumah kontrakan ke rumah sendiri di pinggiran kota sebelum kemudian pindah lagi ke rumah di tengah kota, bergumul dengan persoalan rumah tangga yang kadang terlihat sederhana dan bila diingat lagi bikin ketawa tapi yang ketika dijalani apalagi saat penat ternyata bisa sangat menguji kesabaran.

Dalam 10 tahun mengarungi pernikahan ini, kami sudah belajar sangat banyak terutama tentang perjuangan menjaga apa yang kami miliki. Meski kami mengawali pernikahan ini dengan cinta dan walaupun kami memiliki visi dan pandangan hidup yang selaras mengenai rumah tangga, namun yang namanya perbedaan itu tetap ada. Dan cinta pun tetap butuh diperjuangkan melalui komunikasi dan perhatian agar tetap kokoh bahkan semakin berakar kuat pada tempatnya, yaitu hati kami masing-masing. Di atas semuanya kami belajar bahwa dengan kasih Tuhan semuanya mungkin, termasuk menjaga cinta tetap membara meski telah 10 tahun bersama-sama dan telah tau segala seluk – beluk – fisik – mental – luar – dalam pasangan.

10 tahun menikah, banyak yang telah berubah di hidup kami, namun ada beberapa hal yang tetap sama dan tetap ada di situ. Kami masih bisa tertawa untuk candaan gak mutu yang hanya kami berdua aja yang bisa paham. Kami masih saling panggil ‘sayang’ dan kalimat ‘I love you’ masih selalu jadi kalimat terakhir setiap kami bertelepon. Dia masih gak bisa santai jika ada laki-laki lain yang mau coba-coba kasih perhatian ke saya pada level di mana menurutnya hanya dia yang bisa punya hak untuk itu. Dia masih suka kasih kejutan, salah satunya lewat bunga, dan masih mampu berkata-kata mesra untuk istrinya. Dan perhatiannya itu, itu yang paling saya hargai karena benar-benar meyakinkan saya bahwa yang dia rasakan ke saya dari dulu hingga sekarang masih sama, bahkan bertambah dalam.

Beberapa waktu lalu, saya sakit. Gak berat, hanya batuk pilek saja. Tapi virusnya lumayan bikin tepar, apalagi karena saya sama si adek udah macam main bola pingpong, saling lempar-lemparan virus. Jadilah saya habis sakit, sembuh, eh kena sakit lagi. Suami, gak tahan liat saya bolak-balik sakit, tanpa diminta dia memutuskan meninggalkan semua kesibukan kerjaan di unitnya untuk stay di rumah. Saya disuruhnya istirahat full dan gak boleh ngerjain apapun…apapun itu! Semua urusan rumah dan anak-anak dia yang lakukan. Gak cuma nyuruh saya istirahat total, tapi dia juga ngurusin saya lewat hal-hal simpel tapi manis, semisal selalu siap sedia kasih saya minum setiap saya terbatuk-batuk, nyiapin air mandi hangat, atau mijetin saya setiap saya mau tidur siang dan tidur malam. Awww…isn’t he so sweet?

10 tahun bersama dia, memang tidak semuanya berbunga-bunga. Kadang duri juga hadir di situ. Tapi puji Tuhan, karena bahkan kehadiran duri¬† itu pun ternyata untuk menyempurnakan semua di antara kami. Dan yes, itulah pelajaran terbesar selama 10 tahun ini, bahwa pernikahan yang sempurna bukanlah yang tanpa gejolak, sebaliknya yang sanggup tetap saling menjaga meski ada air mata yang harus jatuh…. Saya dan suami, kami tidak selalu bisa berdekatan, tuntutan kehidupan sering memaksa kami berjauhan. Namun 10 tahun berjalan bersamanya, saya tau, baik dekat maupun jauh, ikatan di antara kami akan tetap sama kuatnya. Amin…

PS:

Out of nowhere, tiba-tiba muncul di blog malam-malam gini dengan tulisan yang rada-rada lebay, mungkin karena pengaruh kangen…jadi maklumkan aja yaaa ūüėÄ ūüėÄ

Iklan

M1X Cafe Palembang

Pengen cerita tentang tempat makan lagi nih.

Akhir-akhir ini memang asik cerita tentang tempat makan di Palembang, karena seperti yang saya bilang di sini, di Palembang sekarang makin banyak dibuka resto dan cafe baru jadi makin banyak tempat yang bisa dijelajahi buat ngisi perut di sini.

Nah, dari sekian banyak tempat makan baru yang dibuka di Palembang, ada satu yang belum lama ini baru kami coba, namanya adalah M1X yang lokasinya di arah Kenten, tepatnya di Jalan Sukatani. Sebelum ini sebenarnya kami udah beberapa kali lewat di depannya, terutama kalo mo belanja bulanan di Indogrosir, karena Indogrosir letaknya kan di Kenten, tapi baru beberapa waktu yang lalu kami ada waktu dan niat untuk singgah.

Continue Reading…

Yes, I Know, Baby!

Belum lama ini, saya dan suami ‘pacaran’ di salah satu tempat nongkrong baru di Palembang. Waktu kami masuk di situ, sudah ada dua meja lainnya yang terisi. Yang satu terisi oleh dua orang engkoh yang lagi minum bir. Meja satunya lagi terisi oleh 4 orang laki-laki (kayaknya usianya 20an – 30an gitu) yang lagi minum sambil main kartu.

Karena posisinya yang lebih nyaman, kami milih duduk di meja dekat 4 orang itu dengan posisi saya menghadap langsung ke arah mereka dan juga menghadap ke arah jendela keluar.

Continue Reading…

If Only I Could Turn Back Time…

Beberapa bulan yang lalu, dalam sebuah ibadah Minggu yang kami hadiri, pendeta yang membawakan khotbah mengatakan hal yang kira-kira seperti ini, “Kepada bapak dan ibu yang sudah menikah dan terutama buat yang sekarang hadir bersama suami atau istrinya, saat ini saya minta Anda menoleh ke samping, lalu lihat lekat-lekat pasangan Anda kemudian tanyakan dalam hati, jika saat ini Anda diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengembalikan waktu yang telah lewat, tanpa memikirkan tentang anak-anak serta keluarga Anda, hanya perasaan Anda sendiri, apakah Anda masih bersedia menikah dengan pasangan yang kini ada di samping Anda?”

Waktu itu, seperti biasa, saya hadir dalam ibadah di Gereja bersama suami.

Saya pun menoleh ke arah dia yang juga sedang melihat ke arah saya.

Seperti permintaan pak pendeta, saya juga bertanya dalam hati. Apa yang akan saya lakukan jika waktu bisa berputar kembali? Setelah melewati waktu hampir 8 tahun bersama dia, akankah saya masih mau kembali dipinang olehnya dan sama-sama menjadi teman seumur hidup?

Continue Reading…

Mendampingi Anak

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman bercerita ke saya tentang keputusan yang dalam waktu dekat ini harus dia ambil. Keputusan itu adalah tentang anaknya yang harus pergi keluar kota dengan pesawat untuk mengikuti perlombaan di mana dia terpaksa tidak ikut mendampingi anaknya. FYI, anaknya masih duduk di kelas 2 SD dan selain anaknya, ada sekitar belasan anak lainnya yang ikut. Perlombaan ini bukan perlombaan sekolah, melainkan membawa nama pribadi. Rencananya, anaknya tersebut akan dititipkan pada salah orangtua lainnya. Di antara rombongan yang ikut perlombaan tersebut, hanya anak teman saya ini saja yang tidak didampingi oleh orangtua.

Saya kaget denger dia cerita gitu.

Saya tanya, memang kenapa sampe harus kayak gitu?

Teman saya kemudian cerita kondisinya. Dia punya 3 anak, yang mo lomba itu anaknya yang paling besar, dilanjutkan dengan anak kedua yang hanya selisih setahun di bawah, dan terakhir yang paling kecil masih bayi dengan usia belum genap setahun. Dia bilang dia repot sekali kalo harus ikut mendampingi yang sulung, karena itu artinya yang nomor dua dan nomor tiga juga harus ikut yang mana itu juga artinya harus ngorbanin kegiatan sekolah dan kegiatan lain-lainnya si nomor dua.

Gimana dengan suaminya?

Dia bilang pas hari perlombaan itu bentrok dengan jadwal di kerjaan suaminya.

Saya tanya lagi, menurut dia apa gak apa-apa tuh anaknya pergi sendiri kayak gitu? Meski dititipkan sama orangtua yang lain, tapi kan tetep aja yaaa…rasanya gimanaa gitu.

Teman saya ini bilang, dia percaya sama anaknya. Menurutnya anaknya itu sudah cukup besar untuk mandiri dan mengurus dirinya sendiri.

Continue Reading…

Hello there, March!

Kemarin¬†siang, waktu di jalan balik ke kantor sehabis nganterin si abang ke dentist¬†buat cabut gigi, suami nanya ke saya, “Tanggal 8 tuh hari apa ya?”

Saya langsung jawab, “Hari Selasa, karena tanggal 9 yang gerhana matahari itu kan hari Rabu. Kenapa? Temennya papa jadi datang tanggal segitu?”

Saya balik tanya gitu karena seminggu yang lalu suami sempat cerita temen kuliahnya mo maen ke Palembang dalam rangka ngeliat gerhana matahari total. Trus waktu itu kayaknya suami bilang kalo mereka rencananya mo datang tanggal 8 Maret.

Denger pertanyaan saya, suami langsung nimpali dengan nada agak kesal, “Kok malah ingetnya temenku sih? Tanggal 8 itu kan ulang tahun¬†nikahan kita!”

Continue Reading…

Hubby’s Special Day

Bulan September – November memang adalah bulan bertabur ulang tahun di keluarga besar saya dan suami. Rame deh berturut-turutan kami semua berulang tahun ūüėÄ

Di keluarga kecil kami sendiri, yang ulang tahunnya agak jauhan dikit tuh si abang, karena ulang tahun dia di Februari. Sementara saya, suami, dan si adek ya berturutan. Sehabis saya, seminggu kemudian giliran suami. Tahun ini usianya sudah 35 tahun. Waktu berlalu tanpa terasa memang. Saya kenal dia sejak usianya masih 25 tahun, itu berarti udah hampir 10 tahun yang lalu. Bukan waktu yang singkat kalau dihitung, tapi semuanya berlalu seperti baru kemarin saja ketika pertama kali saya menyadari keberadaannya di dekat saya dan kemudian seketika merasa kalau ada yang berbeda di antara kami berdua. Puji Tuhan, tahun-tahun berlalu dan tetap selalu ada rasa syukur yang luar biasa di hati saya setiap mengingat betapa baiknya Tuhan karena memberikan suami seperti dia untuk saya.

Dan di hari ulang tahunnya kemarin, saya sengaja membuatkan cake spesial untuk dia. Sebenarnya cake-nya sih biasa aja. Cuma Japanese Cheese Cake with strawberry glaze. Tapi tetep spesial dong, karena dibikinnya kan pake cinta…ahahahahaha….

Continue Reading…

Teuteup…

Beberapa hari lalu ceritanya suami saya ada meeting sama orang dari Tiongkok (yang untungnya bahasa Inggrisnya agak lancar), membahas soal permasalahan salah satu IPP alias Independent Power Producer yang dikelola sama orang Tiongkok itu.

Sehabis bahas yang serius-serius, mereka kemudian bahas soal yang ringan-ringan. Awalnya si Mr. Tiongkok ini bilang, dia gak nyangka kalo ternyata PIC kantor kami yang ngurusin perihal beginian tuh masih muda banget orangnya (yang dia maksud suami saya…ehem…). Suami saya awalnya cuma senyum aja, trus Mr. Tiongkok itu bilang lagi, serius katanya dia gak nyangka akan berhubungan terkait hal seperti ini dengan orang semuda suami saya. Akhirnya suami nanya, memang menurut Mr. Tiongkok itu, usia dia¬†berapa?

Mr. Tiongkok itu jawab, around 27 katanya.

Continue Reading…

Balada Esperanza: Soal Pasangan Hidup dan Soal Beruntung

Jumpa lagi dalam balada bukan telenovela. Kali ini bercerita tentang Veronica dan temannya yang bernama Esperanza. Seperti sebelumnya di balada Rosalinda, kali ini juga ngebahas tentang pasangan hidup. Yuk, mari disimak yaaaa ūüėÄ

Suatu malam¬†yang indah, di kala Veronica Fernandez-Negrete de Azunsolo telah selesai menidurkan dua anak cowoknya yang sumpah ganteng-ganteng dan lucu-lucu banget, salah seorang temannya bernama Esperanza Gamboa menghubungi dia untuk curhat. Esperanza ini ceritanya¬†masih single¬†dan pengen curhat ke Veronica soal pacarnya yang menurut Esperanza¬†kurang perhatian dan terlalu sibuk dengan hidupnya sendiri, terutama kerjaan. Dalam sehari, waktu yang dipake buat kerja rata-rata 12 jam, sering malah lebih dari itu. Kerja harusnya cuma Senin-Jumat aja, tapi terkadang pas Sabtu pun diajak ketemuan suka susah karena pacarnya bilang harus lembur di kantor, ada proyeklah, ada inilah, ada itulah… bla..bla..bla… Hari minggu gimana? Harusnya ada waktu luang kan? Tapi ternyata cowoknya itu kalo ada waktu luang pun lebih memilih futsal bareng temen-temennya dan itu bisa menghabiskan waktu cowoknya sampe berjam-jam. Kalo Esperanza protes, cowoknya itu selalu berkilah kalo dia butuh olahraga setelah kerja yang kebanyakan duduk terus di kantor dari Senin-Sabtu.

Selama dia cerita, Veronica dengerin aja. Pengen ngasih tanggapan sebenarnya, tapi karena Esperanza¬†gak nanya pendapat Veronica jadi ya Veronica gak ngomong apa-apa selain,¬†“oalah….trus…..duuhh…” gitu…hehehehe….

Sampe kemudian Esperanza¬†ngeluarin pernyataan, “Tapi yah sudahlah mo gimana lagi…cowok tuh memang suka gitu kan, keliatannya aja cuek padahal dalam hatinya dia pasti kangen dan sayang banget juga.”

Nah, di sini Veronica gak bisa diam lagi.

Continue Reading…

Ketika Akhirnya Tumbang

Masalah itu memang kalo terlalu dipikirin, ujung-ujungnya gak cuma bikin capek pikiran tapi juga melemahkan kondisi badan. Memang bener banget Firman Tuhan dalam Alkitab, “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”

Syukurlah semangat saya belum sampai di level patah, cuma ya itu karena sempat beberapa hari pikiran bolak-balik terarah ke situ dan ke situ lagi, akhirnya kondisi badan pun jadi ikut-ikutan gak fit. Di saat yang lain di rumah sehat-sehat saja, saya malah tumbang sendiri. Sakitnya sih biasa, faringitis akut doang. Tapi jadi mengganggu sekali karena saya sampai berhari-hari demam, meriang, dan sakit kepala hebat. Badan bawaannya jadi lemeeess banget. Payah!

Udah gitu yang menyedihkannya, karena saat hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-7¬†di hari Minggu tanggal 8 Maret kemarin, saya masih dalam kondisi sakit. Sedih, tapi tetap bersyukur karena masih bisa merayakan hari istimewa itu ūüôā

Continue Reading…