M1X Cafe Palembang

Pengen cerita tentang tempat makan lagi nih.

Akhir-akhir ini memang asik cerita tentang tempat makan di Palembang, karena seperti yang saya bilang di sini, di Palembang sekarang makin banyak dibuka resto dan cafe baru jadi makin banyak tempat yang bisa dijelajahi buat ngisi perut di sini.

Nah, dari sekian banyak tempat makan baru yang dibuka di Palembang, ada satu yang belum lama ini baru kami coba, namanya adalah M1X yang lokasinya di arah Kenten, tepatnya di Jalan Sukatani. Sebelum ini sebenarnya kami udah beberapa kali lewat di depannya, terutama kalo mo belanja bulanan di Indogrosir, karena Indogrosir letaknya kan di Kenten, tapi baru beberapa waktu yang lalu kami ada waktu dan niat untuk singgah.

Continue Reading…

Yes, I Know, Baby!

Belum lama ini, saya dan suami ‘pacaran’ di salah satu tempat nongkrong baru di Palembang. Waktu kami masuk di situ, sudah ada dua meja lainnya yang terisi. Yang satu terisi oleh dua orang engkoh yang lagi minum bir. Meja satunya lagi terisi oleh 4 orang laki-laki (kayaknya usianya 20an – 30an gitu) yang lagi minum sambil main kartu.

Karena posisinya yang lebih nyaman, kami milih duduk di meja dekat 4 orang itu dengan posisi saya menghadap langsung ke arah mereka dan juga menghadap ke arah jendela keluar.

Continue Reading…

If Only I Could Turn Back Time…

Beberapa bulan yang lalu, dalam sebuah ibadah Minggu yang kami hadiri, pendeta yang membawakan khotbah mengatakan hal yang kira-kira seperti ini, “Kepada bapak dan ibu yang sudah menikah dan terutama buat yang sekarang hadir bersama suami atau istrinya, saat ini saya minta Anda menoleh ke samping, lalu lihat lekat-lekat pasangan Anda kemudian tanyakan dalam hati, jika saat ini Anda diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengembalikan waktu yang telah lewat, tanpa memikirkan tentang anak-anak serta keluarga Anda, hanya perasaan Anda sendiri, apakah Anda masih bersedia menikah dengan pasangan yang kini ada di samping Anda?”

Waktu itu, seperti biasa, saya hadir dalam ibadah di Gereja bersama suami.

Saya pun menoleh ke arah dia yang juga sedang melihat ke arah saya.

Seperti permintaan pak pendeta, saya juga bertanya dalam hati. Apa yang akan saya lakukan jika waktu bisa berputar kembali? Setelah melewati waktu hampir 8 tahun bersama dia, akankah saya masih mau kembali dipinang olehnya dan sama-sama menjadi teman seumur hidup?

Continue Reading…

Mendampingi Anak

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman bercerita ke saya tentang keputusan yang dalam waktu dekat ini harus dia ambil. Keputusan itu adalah tentang anaknya yang harus pergi keluar kota dengan pesawat untuk mengikuti perlombaan di mana dia terpaksa tidak ikut mendampingi anaknya. FYI, anaknya masih duduk di kelas 2 SD dan selain anaknya, ada sekitar belasan anak lainnya yang ikut. Perlombaan ini bukan perlombaan sekolah, melainkan membawa nama pribadi. Rencananya, anaknya tersebut akan dititipkan pada salah orangtua lainnya. Di antara rombongan yang ikut perlombaan tersebut, hanya anak teman saya ini saja yang tidak didampingi oleh orangtua.

Saya kaget denger dia cerita gitu.

Saya tanya, memang kenapa sampe harus kayak gitu?

Teman saya kemudian cerita kondisinya. Dia punya 3 anak, yang mo lomba itu anaknya yang paling besar, dilanjutkan dengan anak kedua yang hanya selisih setahun di bawah, dan terakhir yang paling kecil masih bayi dengan usia belum genap setahun. Dia bilang dia repot sekali kalo harus ikut mendampingi yang sulung, karena itu artinya yang nomor dua dan nomor tiga juga harus ikut yang mana itu juga artinya harus ngorbanin kegiatan sekolah dan kegiatan lain-lainnya si nomor dua.

Gimana dengan suaminya?

Dia bilang pas hari perlombaan itu bentrok dengan jadwal di kerjaan suaminya.

Saya tanya lagi, menurut dia apa gak apa-apa tuh anaknya pergi sendiri kayak gitu? Meski dititipkan sama orangtua yang lain, tapi kan tetep aja yaaa…rasanya gimanaa gitu.

Teman saya ini bilang, dia percaya sama anaknya. Menurutnya anaknya itu sudah cukup besar untuk mandiri dan mengurus dirinya sendiri.

Continue Reading…

Hello there, March!

Kemarin siang, waktu di jalan balik ke kantor sehabis nganterin si abang ke dentist buat cabut gigi, suami nanya ke saya, “Tanggal 8 tuh hari apa ya?”

Saya langsung jawab, “Hari Selasa, karena tanggal 9 yang gerhana matahari itu kan hari Rabu. Kenapa? Temennya papa jadi datang tanggal segitu?”

Saya balik tanya gitu karena seminggu yang lalu suami sempat cerita temen kuliahnya mo maen ke Palembang dalam rangka ngeliat gerhana matahari total. Trus waktu itu kayaknya suami bilang kalo mereka rencananya mo datang tanggal 8 Maret.

Denger pertanyaan saya, suami langsung nimpali dengan nada agak kesal, “Kok malah ingetnya temenku sih? Tanggal 8 itu kan ulang tahun nikahan kita!”

Continue Reading…

Hubby’s Special Day

Bulan September – November memang adalah bulan bertabur ulang tahun di keluarga besar saya dan suami. Rame deh berturut-turutan kami semua berulang tahun 😀

Di keluarga kecil kami sendiri, yang ulang tahunnya agak jauhan dikit tuh si abang, karena ulang tahun dia di Februari. Sementara saya, suami, dan si adek ya berturutan. Sehabis saya, seminggu kemudian giliran suami. Tahun ini usianya sudah 35 tahun. Waktu berlalu tanpa terasa memang. Saya kenal dia sejak usianya masih 25 tahun, itu berarti udah hampir 10 tahun yang lalu. Bukan waktu yang singkat kalau dihitung, tapi semuanya berlalu seperti baru kemarin saja ketika pertama kali saya menyadari keberadaannya di dekat saya dan kemudian seketika merasa kalau ada yang berbeda di antara kami berdua. Puji Tuhan, tahun-tahun berlalu dan tetap selalu ada rasa syukur yang luar biasa di hati saya setiap mengingat betapa baiknya Tuhan karena memberikan suami seperti dia untuk saya.

Dan di hari ulang tahunnya kemarin, saya sengaja membuatkan cake spesial untuk dia. Sebenarnya cake-nya sih biasa aja. Cuma Japanese Cheese Cake with strawberry glaze. Tapi tetep spesial dong, karena dibikinnya kan pake cinta…ahahahahaha….

Continue Reading…

Teuteup…

Beberapa hari lalu ceritanya suami saya ada meeting sama orang dari Tiongkok (yang untungnya bahasa Inggrisnya agak lancar), membahas soal permasalahan salah satu IPP alias Independent Power Producer yang dikelola sama orang Tiongkok itu.

Sehabis bahas yang serius-serius, mereka kemudian bahas soal yang ringan-ringan. Awalnya si Mr. Tiongkok ini bilang, dia gak nyangka kalo ternyata PIC kantor kami yang ngurusin perihal beginian tuh masih muda banget orangnya (yang dia maksud suami saya…ehem…). Suami saya awalnya cuma senyum aja, trus Mr. Tiongkok itu bilang lagi, serius katanya dia gak nyangka akan berhubungan terkait hal seperti ini dengan orang semuda suami saya. Akhirnya suami nanya, memang menurut Mr. Tiongkok itu, usia dia berapa?

Mr. Tiongkok itu jawab, around 27 katanya.

Continue Reading…