Yes, I Know, Baby!

Belum lama ini, saya dan suami ‘pacaran’ di salah satu tempat nongkrong baru di Palembang. Waktu kami masuk di situ, sudah ada dua meja lainnya yang terisi. Yang satu terisi oleh dua orang engkoh yang lagi minum bir. Meja satunya lagi terisi oleh 4 orang laki-laki (kayaknya usianya 20an – 30an gitu) yang lagi minum sambil main kartu.

Karena posisinya yang lebih nyaman, kami milih duduk di meja dekat 4 orang itu dengan posisi saya menghadap langsung ke arah mereka dan juga menghadap ke arah jendela keluar.

Continue Reading…

L.O.V.E

If I speak in the tongues of men and of angels, but have not love, I am only a resounding gong or a clanging cymbal.

If I have the gift of prophecy and can fathom all mysteries and all knowledge, and if I have a faith that can move mountains, but have not love, I am nothing.

If I give all I possess to the poor and surrender my body to the flames, but have not love, I gain nothing.

Love is patient, love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud. It is not rude, it is not self-seeking, it is not easily angered, it keeps no record of wrongs. Love does not delight in evil but rejoices with the truth. It always protects, always trusts, always hopes, always perseveres.

Love never fails. But where there are prophecies, they will cease; where there are tongues, they will be stilled; where there is knowledge, it will pass away.

(I Corinthians 13 : 1 – 8 )

Pagi ini, sebuah kejadian mengingatkan saya tentang perbedaan motivasi saat kita menolong atau melakukan kebaikan bagi orang lain. Melakukan kebaikan bagi orang lain oleh karena kita memang kita punya rasa kasih terhadapnya tentu berbeda dengan motivasi menolong oleh karena rasa tidak enak atau takut dianggap tidak peduli atau takut berdosa atau takut gimana mempertanggungjawabkannya nanti di hadapan Tuhan atau yang lebih parah supaya bisa diliat dan dipuji orang.

Meskipun toh di mata manusia itu sama saja. Kan yang penting judulnya menolong. Apapun motivasi di belakangnya, yang penting orang lain merasakan manfaatnya. Namun Tuhan yang Maha Kuasa tentu saja tidak menilai kita hanya dari luarnya saja. Tuhan tau dan mengerti bagaimana motivasi kita. Di mata-Nya, ketika kita berbuat kebaikan atas dasar kasih, tentu jauh lebih berharga daripada kita berbuat baik oleh karena kita takut ini-itu dan oleh karena kita ingin puja-puji dari manusia yang sebenarnya hanya bermuara pada keegoisan diri kita sendiri saja. Kenapa? Karena Tuhan selalu mengedepankan kasih. Karena sebagaimana ALLAH adalah kasih, maka demikian juga ALLAH ingin kita selalu melandaskan kasih dalam segala perkara kehidupan kita, termasuk saat kita berbuat kebaikan. Kasih yang sungguh-sungguh tulus, bukan kasih yang penuh kepura-puraan. ALLAH tidak mau kita terlihat baik di luar, padahal di dalam kita bobrok.

Lalu bagaimana caranya kita bisa mengasihi sesama kita dengan tulus?

Tuhan Yesus memberikan resepnya.

Kasihilah Tuhan, ALLAH-mu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum taurat dan kitab para nabi.

(Matius 22 : 37 – 40)

You shall love the LORD your God with all your heart, with all your soul, and with all your mind. This is the first and great commandment. And the second is like it: you shall love your neighbor as yourself. On there two commandments hang all the Law and the Prophets.

 (Matthew 22 : 37 – 40)

Jadi pertama-tama kita harus mengasihi ALLAH terlebih dahulu. Mengasihi-NYA lewat pengenalan yang benar akan DIA. Mengenal-NYA lewat penyataan yang diberikan-NYA: alam semesta, sejarah bangsa-bangsa, penyataan langsung yang diberikan-NYA kepada para nabi dan rasul, dan lewat Tuhan Yesus Kristus.

Setelah ALLAH, kita harus mampu mengasihi diri kita sendiri. Tuhan Yesus dengan jelas mengatakan bahwa kasihilah sesama kita seperti diri kita sendiri. Karena itu kita tidak mungkin bisa mengasihi sesama jika kita tidak mengasihi diri kita sendiri terlebih dahulu. Banyak orang yang gagal mengasihi sesamanya atau gagal menginterpretasikan kasih kepada sesama oleh karena telah terlebih dahulu gagal mengasihi dirinya sendiri dengan benar. Ada orang yang kurang mengasihi dirinya sendiri, selalu rendah diri, merasa tak berharga, tak berguna. Ada pula orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri, terlalu menganggap dirinya hebat, dan meletakkan gambaran dirinya di atas prestasi yang diraihnya. Pada intinya, kedua sikap dan sifat mencintai tersebut adalah gambaran diri yang keliru. Kita harus mengenal pribadi kita dengan benar terlebih dahulu, mencintai diri kita dengan benar, barulah kita bisa mengasihi sesama dengan tulus.

Terimalah diri kita apa adanya sambil mengoreksi diri sesuai dengan Firman Tuhan. Sadarilah bahwa di mata Tuhan kita sedemikian berharganya, hingga IA menjagai kita seperti biji mata-NYA, hingga IA rela menderita dan mati agar kita beroleh hidup yang kekal di sorga. Meski sesama kita begitu sering mengecewakan kita, namun tetap ingat dan sadarilah bahwa ada Pribadi yang senantiasa mengasihi kita dengan begitu tulus. Setelah kita sadari bahwa diri kita berharga untuk dicintai maka niscaya tak ada alasan untuk kita untuk tidak mengasihi diri kita dan mengasihi sesama kita dengan tulus. Pada akhirnya, ketulusan kasih itu akan selalu membuat kita berbuat kebaikan dengan motivasi yang benar yaitu tak lain karena KASIH.

And now these three remain: faith, hope and love. But the greatest of these is love.

(1 Corinthians 13 : 13)