A Night With My Sister

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya di akhir bulan Juli (udah cukup lama juga ya…hehehe), kakak saya datang ke Palembang. Bukan buat jalan-jalan sih, tapi karena ada urusan kerjaannya di sini, itupun hanya 4 hari, tapi teteplah kami sangat bersyukur masih bisa ketemu walo hanya sebentar saja. Saya sendiri udah kangen banget sama kakak saya ini, secara kan ya, terakhir kami ketemu tuh waktu Natal tahun 2015 lalu lho! Udah lama banget kaaann 😦 .

Continue Reading…

Iklan

Kampung Kapitan

Kalo datang ke Palembang, apalagi jika baru pertama kali ke bumi Sriwijaya ini, orang biasanya akan diajak untuk melihat Jembatan Ampera yang memang adalah icon di kota ini dan biasanya orang akan diajak untuk menikmati kuliner di restoran-restoran yang dibangun di sekitar jembatan dan berada tepat di pinggir sungai Musi.

Restoran yang paling terkenal hingga saat ini adalah River Side. Terkenalnya bukan karena masakannya, tapi karena view dari resto itu yang memang menghadap langsung ke Jembatan Ampera, jadi kalo mau makan sekalian foto-foto dengan latar Jembatan Ampera memang udah pas banget kalo ke resto ini.

Tapi, belakangan ini muncul restoran lain yang sepertinya mulai menyamai ketenaran River Side, namanya adalah Kampung Kapitan yang mana lokasinya berada di kawasan Pecinan di Pelembang yang namanya tak lain tak bukan adalah Kampung Kapitan juga.

Jadi ceritanya nih, saat jaman penjajahan oleh Belanda dulu, di antara tiap-tiap komunitas saudagar (China, India, Arab), Belanda mengangkat satu orang sebagai Kapitan yang mungkin fungsinya sama kayak ‘ketua adatnya’ kali yah, yang mana penunjukannya itu berdasarkan tingkat kesejahteraan sosial, alias yang dipilih adalah orang yang paling kaya. Nah, karena yang dipilih adalah orang yang paling kaya, maka biasanya peninggalannya banyak, soalnya namanya jaman dulu, itu rumah kan gede-gede dan dibangunnya gak sembarangan jadi sampe sekarang pun rumah mereka masih ada. Untuk Kapitan Arab, udah pernah saya liput jejak peninggalannya di sini. Untuk komunitas Tionghoa sendiri, jejak peninggalan mereka berada di Kampung Kapitan ini.

Sejujurnya, saya belom pernah secara khusus datang ke Kampung Kapitan untuk menikmati peninggalan sejarah Tionghoa jaman dahulu kala di kota ini……..

Satu-satunya alasan saya (dan keluarga) datang ke sini adalah untuk……….makan! :mrgreen:

Continue Reading…