Di Sini Susahnya Mempertahankan Integritas

Di tengah suasana liburan ini (yes, sampai sekarang saya memang masih liburan 😛 ), saya pengen nulis sesuatu yang agak serius dan berat dikit. Jarang-jarang banget kan ya nulis tentang yang berat-berat gini. Ini soalnya tadi barusan ngobrol dengan mertua tentang persoalan integritas ini.

Kenapa ngomong soal ini? Itu karena dalam kerjaan suami, hampir tiap hari berhubungan dengan pengujian terhadap integritasnya dan baru saja kami membahas soal ini dengan mertua.

Sebenarnya sih integritas itu luas banget yah. Gak hanya ada dalam lingkup pekerjaan, tapi di hampir semua aspek kehidupan, kita bisa menemukan hal-hal yang dapat menunjukkan sejauh mana kita sanggup hidup berintegritas. Di jalan, kejujuran kita teruji ketika kita sanggup tetap taat menunggu sampai lampu lalu lintas menyala hijau meskipun puluhan kendaraan lainnya dengan nyantainya melewati lampu merah itu (di hampir semua tempat di kota Medan terjadi kayak gini nih….sepertinya lampu lalu lintas itu cuma asesoris doang di pinggir jalan -___-” ). Dalam pergaulan, integritas kita juga bisa teruji ketika kita mampu memberikan teguran yang nyata dan tidak hanya bisa ngomong kasak-kusuk di belakang aja. Dalam mendidik anak, kita juga harus jujur dan adil…gak bisa kita mengharuskan dia begini dan begitu sementara di belakangnya kita mengingkari semua nasihat yang kita berikan. Ngajarin anak gak boleh buang sampah sembarangan, padahal kalo lagi gak bareng anak seenaknya ngelempar bekas bungkus makanan ke luar jendela mobil. Ngedidik anak untuk taat aturan, padahal sendirinya suka seenaknya mencari celah untuk melanggar hukum. Sok iyes banget memagari anak untuk gak punya akses ke sesuatu yang bersifat p****o, tapi sendirinya doyan nge-download yang gak-gak masuk ke mobile phone. Dan seterusnya. Dan selanjutnya.

Begitulah, integritas itu sangat luas dan seharusnya menjadi budaya dalam setiap aspek kehidupan. Namun kali ini yang mau saya omongin adalah soal integritas dan kerjaan suami. Kalo soal kerjaan saya mah gak usah diomongin, tantangan terkait integritasnya gak yang sedramatis yang dialami pak suami. Ya, soalnya kalo pak suami kan sehari-harinya berhubungan dengan stakeholder, sementara kalo saya mah setiap jam yang dihadapin ya mesin server dan bahasa pemrograman, hehe….

Sering saya dengar orang bilang kalo mempertahankan integritas itu memang tak mudah, apalagi kalau sudah berhubungan dengan duit. Kenapa tak mudah? Ya karena memang sudah sifat manusia kan, cinta sama duit. Apalagi kalo udah terdesak kebutuhan….. kebutuhan apapun itu, termasuk kebutuhan nyenengin istri biar gak dicerewetin dan gak dicemberutin, maka mau itu duit halal ataupun gak, ya sudah lah diterima saja. Apalagi kalo uang itu diberikan tanpa kita minta-minta dan dengan embel-embel sebagai ucapan terima kasih…wedeww….langsunglah diterima, tanpa mikir kalo bisa saja hal itu juga adalah bagian dari gratifikasi yang melanggar hukum.

Duit itu memang mempesona sampai bikin banyak orang tak tahan dengan hidup penuh integritas. Tapi kalo kata kami sih, dari pengalaman yang sudah-sudah (yang dialami pak suami tentu, bukan saya 😀 ), mempertahankan integritas justu titik paling beratnya bukan di situ.

Continue Reading…