Baru…

Hidup itu memang selalu penuh dengan kejutan dan yak, lagi-lagi kami sekeluarga harus menghadapi perubahan dalam keseharian kami. Perubahan ini kata sebagian orang di dekat kami disebut berat, mereka bahkan mendoakan kami untuk sabar dan kuat menjalaninya.

Kami bersyukur mereka mendoakan kami, karena memang kami benar-benar butuh itu. Tapi di sisi lain kami sendiri gak merasakan ini sebagai sesuatu yang berat. Yang kami lakukan ini memang sudah seharusnya seperti itu, inilah peran yang paling tidak adalah yang terbaik yang bisa kami lakukan untuk orang-orang tersayang dalam hidup kami, setidaknya untuk sekarang. Kehidupan baru yang telah terbit, semuanya hanya karena Tuhan yang ijinkan. Meski mungkin akan berat ke depannya, tapi Tuhan pasti punya rencana yang indah untuk semuanya.

Kami, entah bagaimana, menjalaninya dengan sukacita.

Lanjutkan membaca “Baru…”

Untuk Anak-Anak Mama di Hari Paskah…

Palembang, April 2014

Paskah tahun ini adalah Paskah kelima untuk abang Raja dan Paskah pertama untuk adek Ralph. Mama bersyukur sekali karena tahun ini mama bisa merayakan Paskah dengan kehadiran kalian berdua. Tahun ini, mama ingin menuliskan surat untuk kalian berdua. Abang sudah lancar sekali membaca kan? Jadi pasti abang sudah bisa membacakan isi surat ini untuk adek. Kalaupun di tahun ini abang belum bisa membacakannya untuk adek, maka mama akan tetap menyimpan surat ini sebagai salah satu warisan dari mama untuk kalian……..

Ada beberapa hal yang ingin mama ceritakan pada kalian lewat surat ini tapi intinya hanya satu: yaitu tentang iman pada Kristus.

Raja dan Ralph terlahir sebagai orang Kristen, yang sejak bayi pun sudah mendengar tentang Kristus, dibaptiskan dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, serta tumbuh besar dengan doa-doa pada Kristus. Itu adalah keberuntungan paling besar yang bisa kalian miliki dalam hidup kalian.

Bukan hanya karena kasih Kristus yang adalah Allah Bapa itu sendiri akan senantiasa memberkati, menyertai, dan menjagai di sepanjang hidup kalian, tapi karena kasih Kristus menjadi jaminan keselamatan bagi kalian dan memberikan kalian hidup yang kekal di surga bahkan setelah tubuh jasmani kalian tak lagi hidup…..

Sekarang, mama mau cerita tentang surga.

Mama tidak bisa menggambarkan bagaimana surga itu, tapi karena surga adalah kerajaan Allah Bapa, maka isinya pasti tak akan bisa tergambarkan oleh bahasa manusia yang fana ini. Namun mama yakin, bahwa surga adalah tempat terindah, karena di dalamnya, di setiap sudutnya, penuh dengan terang kasih Allah….dan di sanalah rumah kita yang sebenarnya anak-anakku…

Mungkin, di usia kalian yang seperti ini, kalian pasti akan menerima kebenaran itu secara mutlak. Ah, itulah iman anak kecil. Menerima kebenaran secara mentah-mentah tanpa keraguan, tidak heran jika Tuhan pun berkata bahwa untuk masuk ke kerajaan Bapa, seseorang harus punya iman seperti seorang anak kecil.

Mama pun dulu seperti kalian…

Namun seiring waktu, ketika pengalaman demi pengalaman mengalir di kehidupan mama, hal-hal yang mama pikir mendewasakan pikiran mama, namun sebenarnya membawa mama jauh dari iman yang Tuhan dambakan…. Mama pun mulai banyak bertanya. Mama pun mulai sering diliputi keraguan dan ketakutan.

Bagaimana mungkin surga itu tetap menjadi rumah mama, sementara dosa mama banyak sekali….

Tidak, dosa itu tidak hanya ketika kita berbohong, melakukan tindakan kriminal, menjahati orang lain, atau melakukan hal-hal yang di mata dunia pun tampak salah. Tidak, dosa tidak hanya seperti itu. Ketika berpikir buruk, kita sudah berdosa. Ketika melakukan sesuatu hal yang tampak baik namun sebenarnya dengan motivasi yang kurang lurus pun kita sudah berdosa. Ketika marah pada orang, kita sudah bersalah di mata Tuhan. Bahkan ada banyak sekali hal yang buat kita biasa-biasa saja, namun sebenarnya di mata Tuhan itu sudah salah, karena standar kesucian Tuhan begitu tinggi…terlalu tinggi sampai tak ada satu manusia pun yang bisa mencapainya…

Dan ah, kalau mau didaftarkan satu per satu, terlalu banyak rasanya kesalahan yang mama lakukan…yang membuat mama takut sendiri, karena mama tau surga bukan tempat untuk orang berdosa, sementara mama adalah orang berdosa dan bukankah standar untuk masuk ke dalam surga itu tidak dapat diturunkan? Seseorang harus suci benar tanpa cela untuk bisa masuk ke dalam surga. Sementara mama? Ah, membayangkan dan mengingat kembali dosa-dosa mama sudah membuat mama takut…takut tidak bisa masuk surga…….

Bertahun-tahun mama hidup dalam ketakutan itu…

Sampai pada satu titik Tuhan menyadarkan mama dan membawa mama kembali pulang pada iman itu.

Mama adalah orang berdosa.

Itu benar.

Mama bukan orang suci, bukan orang benar, bukan orang kudus.

Itu tepat sekali.

Tapi kabar baiknya, mama tetap bisa masuk ke dalam surga.

Kenapa? Dengan alasan apa?

Jawabannya cuma satu, anak-anakku….. Karena untuk itulah Kristus telah mati di kayu salib…

Inilah kabar baik, untuk mama, untuk kalian, untuk siapa saja….

Kristus sudah melakukan penebusan atas dosa-dosa kita…semuanya sudah terbayar lunas oleh darah-Nya dan Dia sudah menang atas maut sehingga maut pun tidak lagi berkuasa atas hidup kita. Kelak, ketika tubuh jasmani kita dikatakan mati, roh kita tidak akan ditenggelamkan oleh maut, melainkan Kristus akan membawa roh kita ke kehidupan yang kekal di surga…

Kita memang bukan orang benar, anak-anakku…

Tapi darah Kristus yang membenarkan dan menyucikan kita, sehingga kita layak masuk dalam kerajaan surga…

Kita memang orang berdosa,

Tapi kasih Kristus telah membuat kita menjadi tak berdosa di hadapan Bapa.

Betapa baiknya Tuhan itu bukan?

Tuhan tahu kita tidak bisa masuk ke surga atas usaha kita sendiri, karena itu Dia sudah datang untuk menebus kita supaya kita bisa bersama Dia di surga….

Yang perlu kita lakukan hanya beriman pada Kristus, menerima kasih-Nya, dan mengasihi Dia di sepanjang hidup kita…

Sampai di sini mungkin kalian berpikir, betapa enaknya menjadi orang yang mengasihi Kristus, karena bisa hidup seenaknya, toh sudah ditebus ini. Berdosa pun tetap masuk surga kan???

Kalau kalian berpikir seperti itu, maka itu artinya kalian tidak sepenuhnya mengasihi Kristus.

Bila kalian tau bahwa demi setitik dosa kalian yang bahkan di mata manusia pun masih tampak baik, Kristus yang adalah Tuhan itu sendiri harus disiksa, didera, disalibkan, dan direndahkan sedemikian rupa, dan kalian tetap saja menggampangkan dosa itu…. Maka di manakah letak kasih kalian? Yakinkah kalian bahwa kalian mengasihi Kristus dan beriman kepada-Nya?

Lihatlah salib itu anak-anakku…itulah lambang keseriusan dosa. Tak ada dosa besar. Tak ada dosa kecil. Tak ada perbuatan kita yang bisa menghilangkan dosa-dosa kita. Setiap perbuatan dosa yang kita lakukan pada dasarnya membuat kita harus didera, disiksa, direndahkan, dicabut nyawanya, dan pada akhirnya masuk ke dalam alam maut untuk selama-lamanya. Tapi Kristus sudah mengambil semua bagian itu agar kita tidak perlu lagi mengalami maut.

Jangan menggampangkan dosa, anak-anakku. Tapi jangan juga hidup berfokus pada takut berbuat dosa.

Fokuslah pada takut akan Allah. Fokuslah pada mengasihi Kristus. Fokuslah pada hal-hal yang kalian ingin lakukan untuk menyenangkan hati-Nya sebagai wujud syukur yang luar biasa atas kasih-Nya yang sungguh besar. Maka kalian akan lihat. Kalian akan berbuat kebaikan tanpa disadari. Kalian akan mengasihi, mengampuni, menolong orang, dan melakukan segala hal yang baik karena dorongan Roh yang bahkan kalian sendiri tak terpikir sehingga setiap jengkal kebaikan yang kalian lakukan adalah kebaikan dan kebenaran tanpa pamrih dan tanpa membuat kalian sombong oleh kebaikan itu.

Kalian masih kecil anak-anakku. Jalan yang panjang masih terbentang tak berujung di depan kalian. Seiring perjalanan, ada kerikil-kerikil bahkan mungkin bebatuan besar yang akan kalian hadapi. Ada rintangan, ada jebakan, yang mungkin bisa membuat kalian jatuh. Tapi ingatlah selalu untuk berjalan bersama Kristus, karena ketika kalian berjalan bersama-Nya, apapun itu tak akan memisahkan kalian dari kasih-Nya.

Hiduplah dalam iman kepada Kristus selama-lamanya anak-anakku, karena kasih dan anugerah-Nya adalah harta terbesar di hidup kalian.

Selamat Paskah, anak-anak mama…. Selamat menikmati dan tinggal di dalam kasih Kristus, sekarang, dan sampai selama-lamanya… Amin!

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Yohanes 3:16

IMG_20140501_182722

L.O.V.E

If I speak in the tongues of men and of angels, but have not love, I am only a resounding gong or a clanging cymbal.

If I have the gift of prophecy and can fathom all mysteries and all knowledge, and if I have a faith that can move mountains, but have not love, I am nothing.

If I give all I possess to the poor and surrender my body to the flames, but have not love, I gain nothing.

Love is patient, love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud. It is not rude, it is not self-seeking, it is not easily angered, it keeps no record of wrongs. Love does not delight in evil but rejoices with the truth. It always protects, always trusts, always hopes, always perseveres.

Love never fails. But where there are prophecies, they will cease; where there are tongues, they will be stilled; where there is knowledge, it will pass away.

(I Corinthians 13 : 1 – 8 )

Pagi ini, sebuah kejadian mengingatkan saya tentang perbedaan motivasi saat kita menolong atau melakukan kebaikan bagi orang lain. Melakukan kebaikan bagi orang lain oleh karena kita memang kita punya rasa kasih terhadapnya tentu berbeda dengan motivasi menolong oleh karena rasa tidak enak atau takut dianggap tidak peduli atau takut berdosa atau takut gimana mempertanggungjawabkannya nanti di hadapan Tuhan atau yang lebih parah supaya bisa diliat dan dipuji orang.

Meskipun toh di mata manusia itu sama saja. Kan yang penting judulnya menolong. Apapun motivasi di belakangnya, yang penting orang lain merasakan manfaatnya. Namun Tuhan yang Maha Kuasa tentu saja tidak menilai kita hanya dari luarnya saja. Tuhan tau dan mengerti bagaimana motivasi kita. Di mata-Nya, ketika kita berbuat kebaikan atas dasar kasih, tentu jauh lebih berharga daripada kita berbuat baik oleh karena kita takut ini-itu dan oleh karena kita ingin puja-puji dari manusia yang sebenarnya hanya bermuara pada keegoisan diri kita sendiri saja. Kenapa? Karena Tuhan selalu mengedepankan kasih. Karena sebagaimana ALLAH adalah kasih, maka demikian juga ALLAH ingin kita selalu melandaskan kasih dalam segala perkara kehidupan kita, termasuk saat kita berbuat kebaikan. Kasih yang sungguh-sungguh tulus, bukan kasih yang penuh kepura-puraan. ALLAH tidak mau kita terlihat baik di luar, padahal di dalam kita bobrok.

Lalu bagaimana caranya kita bisa mengasihi sesama kita dengan tulus?

Tuhan Yesus memberikan resepnya.

Kasihilah Tuhan, ALLAH-mu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum taurat dan kitab para nabi.

(Matius 22 : 37 – 40)

You shall love the LORD your God with all your heart, with all your soul, and with all your mind. This is the first and great commandment. And the second is like it: you shall love your neighbor as yourself. On there two commandments hang all the Law and the Prophets.

 (Matthew 22 : 37 – 40)

Jadi pertama-tama kita harus mengasihi ALLAH terlebih dahulu. Mengasihi-NYA lewat pengenalan yang benar akan DIA. Mengenal-NYA lewat penyataan yang diberikan-NYA: alam semesta, sejarah bangsa-bangsa, penyataan langsung yang diberikan-NYA kepada para nabi dan rasul, dan lewat Tuhan Yesus Kristus.

Setelah ALLAH, kita harus mampu mengasihi diri kita sendiri. Tuhan Yesus dengan jelas mengatakan bahwa kasihilah sesama kita seperti diri kita sendiri. Karena itu kita tidak mungkin bisa mengasihi sesama jika kita tidak mengasihi diri kita sendiri terlebih dahulu. Banyak orang yang gagal mengasihi sesamanya atau gagal menginterpretasikan kasih kepada sesama oleh karena telah terlebih dahulu gagal mengasihi dirinya sendiri dengan benar. Ada orang yang kurang mengasihi dirinya sendiri, selalu rendah diri, merasa tak berharga, tak berguna. Ada pula orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri, terlalu menganggap dirinya hebat, dan meletakkan gambaran dirinya di atas prestasi yang diraihnya. Pada intinya, kedua sikap dan sifat mencintai tersebut adalah gambaran diri yang keliru. Kita harus mengenal pribadi kita dengan benar terlebih dahulu, mencintai diri kita dengan benar, barulah kita bisa mengasihi sesama dengan tulus.

Terimalah diri kita apa adanya sambil mengoreksi diri sesuai dengan Firman Tuhan. Sadarilah bahwa di mata Tuhan kita sedemikian berharganya, hingga IA menjagai kita seperti biji mata-NYA, hingga IA rela menderita dan mati agar kita beroleh hidup yang kekal di sorga. Meski sesama kita begitu sering mengecewakan kita, namun tetap ingat dan sadarilah bahwa ada Pribadi yang senantiasa mengasihi kita dengan begitu tulus. Setelah kita sadari bahwa diri kita berharga untuk dicintai maka niscaya tak ada alasan untuk kita untuk tidak mengasihi diri kita dan mengasihi sesama kita dengan tulus. Pada akhirnya, ketulusan kasih itu akan selalu membuat kita berbuat kebaikan dengan motivasi yang benar yaitu tak lain karena KASIH.

And now these three remain: faith, hope and love. But the greatest of these is love.

(1 Corinthians 13 : 13)