No..No..No….. again and again………..

Hari Kamis yang lalu, saya dipanggil oleh atasannya atasan, saya pikir buat ngomongin masalah kerjaan yang masih pending, tapi ternyata yang dibahas oleh beliau bukan itu, melainkan tentang bagaimana saya ke depannya. Beliau bercerita banyak, tentang hal-hal yang seharusnya membuat saya senang…

Tapi sebaliknya, saya justru hanya hampir bengong mendengarnya…

Apa yang beliau katakan, justru jadi pergumulan tersendiri buat saya. Rencana beliau terhadap saya sungguh saya syukuri, tapi untuk saat ini, ada hal lain yang lebih menjadi prioritas buat saya.

Ini bukan tentang soal zona nyaman, tapi sampai sekarang ini saya masih bertahan tetap bekerja di luar rumah karena kondisi pekerjaan saya memungkinkan sekali untuk tetap optimal memperhatikan keluarga dan tetap optimal juga memberikan kontribusi untuk perusahaan yang sudah membayar saya setiap bulannya. Di sini, di lingkungan pekerjaan ini, saya bisa mengatur ritme kerja saya sendiri, hingga meskipun saya harus membagi waktu di sela-sela pekerjaan untuk mengurusi keperluan dan kebutuhan anak-anak, namun puji Tuhan kerjaan masih bisa terselesaikan, bahkan sering bikin surprise karena bisa selesai dengan cepat. Di sini, saya juga bisa leluasa untuk menarik diri dari segala kegiatan dinas ke luar kota hingga saya tak perlu memikirkan kemungkinan meninggalkan anak di rumah selama berhari-hari. Di sini, tak hanya soal enjoy bekerja, tapi juga soal rasa tenang dan aman bahwa keluarga akan tetap merasa mereka adalah prioritas saya meski saya bekerja, dan saya sendiri juga merasa puas karena merasa bahwa produktivitas saya masih berguna bagi tempat saya bekerja ini ini.

Kemarin, saya memang tak langsung menyampaikan pada beliau soal apa yang jadi pertimbangan saya. Kebiasaan saya memang, kalo denger sesuatu yang bikin shock terutama soal masa depan, pasti saya akan speechless dulu, kayak orang bengong dulu, seolah-olah bisa menerima dulu, padahal dalam hati bercampur aduk rasanya dan pengen langsung teriak, “Noooo!!!!!”.

Continue Reading…

This Morning, On The Way To School….

“Mamma harusnya gak usah kerja aja, papa aja yang kerja….”

“Trus kalo mama gak kerja, Raja maunya mama gimana?”

“Mamma jagain Raja aja……”

😥 😥 😥

What should I do?

People says, I should ask my heart….

Then what does my heart say?

Lanjutkan membaca “This Morning, On The Way To School….”

Tough October….

Bulan Oktober adalah bulan kelahiran saya. Di bulan ini, saya akan genap berusia 30 tahun.

Yang saya syukuri adalah bahwa pada bulan di mana saya akan berulang tahun yang ke-30, saya menghadapi beberapa masalah, yang mungkin kecil di mata orang tapi bagi saya justru membuat saya semakin dewasa dan kuat.

Saya bener-bener bersyukur atas semua yang terjadi, meskipun saya sempat lumayan depressed sampe berat badan saya turun 2kg hanya dalam waktu seminggu saja… *Ini mah bener-bener disyukuri, gak pake usaha apa-apa, cukup banyak pikiran doang dan aktifitas fisik yang segudang, udah bikin berat badan saya turun mayan drastis…seneng dong yah, hehehehe… Sebenarnya walo bersyukur tapi gak seneng juga sih, saya mah mending berat badan tetep aja kayak kemarin-kemarin daripada ngadapin masalah kayak gini, terutama sama 2 ART terakhir itu….  *

Continue Reading…

A Bag From UniqueCraft and The Story About Yesterday…

Hari ini saya punya dua cerita. Cerita pertama adalah cerita bahagia. Cerita keduanya agak sedih, tapi ujungnya happy ending juga sih 😀

Pengen cerita yang mana duluan? Keknya yang isinya seneng-seneng aja dulu kali’ yah… 😀

Tas dari UniqueCraft

Hari Jumat lalu, pas pulang kantor, tiba-tiba pak satpam yang duduk di meja resepsionis manggil saya. Ada paket yang nyampe atas nama saya, udah feeling, jangan-jangan ini tas dari Novi. Eh, bener juga, saya dapat kiriman yang spesial banget dari si empunya butik UniqueCraft ini.

Continue Reading…

Healed!!!

Berharaplah kepada TUHAN….sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan IA banyak kali mengadakan pembebasan”

(Mazmur 130 : 7)

Lega banget…

Setelah tulisan sebelumnya tentang resah yang saya alami…

Puji Tuhan..

Pas nyampe rumah, ngeliat senyum Raja yang selalu dicobanya untuk tetap tampak ceria meski tubuhnya masih sedikit lemah, saya sadar…yang lain tak ada lagi yang penting…apapun yang orang katakan… Untuk melihat senyumnya inilah saya rela seperti ini.

Melihat Raja yang tersenyum manis karena berhasil hanya menyisakan tiga suap dari porsi makannya, segala sedih dan resah itupun langsung kabur entah kemana.. Puji Tuhan, Raja menepati janjinya untuk makan dengan baik, meski tenggorokannya masih tak enak. Puji Tuhan… Tuhan selalu jagain Raja dan semakin pulihkan Raja… Karena itu, sekali lagi, yang lain tak ada lagi yang penting…

Dan malam ini, ketika kembali lagi saya bersekutu secara pribadi dengan Tuhan lewat saat teduh, Tuhan berikan saya renungan lewat ayat di atas. Ah, Tuhan Yesus, terimakasih… Engkau sungguh baik, tak kau biarkan anak-Mu hidup dalam kepahitan hati… Terimakasih ya Tuhan, karena Kau berikan hati ini kelepasan untuk mengampuni… Terimakasih ya Bapa, karen Kau selalu sedia menjadi tempat curahan resah ini…

Tomorrow, maybe it’ll be harder than today. Maybe I’ll face something worse. Maybe they’ll say something more painful. But it’s ok. I’m ready for it. I’ll be much more stronger than before because of GOD…

Once again, thanks God for this healing YOU gave me…

Posted with WordPress for BlackBerry.

Take a Deep Breathe

Sedang berusaha sabar dengan semua ocehan dan komentar mereka… Ya, kalian memang tidak tau apa-apa.

Ingin rasanya berteriak, memuntahkan semua kesal ini. Terutama pada orang itu yang kemudian merasa paling tau segalanya dan tiba-tiba merasa berhak mengatur.

Yeah right!!! Siapa kamu???

Jika bukan karena tanggung jawab yang lebih besar terhadap anak, siapa juga yang akan seperti ini???

Ingin sekali rasanya tadi menampar muka mereka satu per satu, jika saja saya tak ingat, Tuhan pun tak mau saya membalas perbuatan mereka. Justru harus merasa kasihan pada mereka, karena sesungguhnya mereka hanya manusia tak berperasaan yang tak tahu apa-apa…

Tuhan, ampuni mereka..

Dan tolong legakan hati ini agar bisa melepaskan ampun untuk mereka meski mereka mungkin tak akan sadar betapa dalam mereka menyakiti hati ini…

Posted with WordPress for BlackBerry.

When i have to decide….

Lagi…

Kesempatan itu harus saya lepaskan…

Dulu, sewaktu saya sedang cuti melahirkan, saya mendapat kesempatan ke KL oleh kantor. Tapi karena pertimbangan Raja yang masih terlalu kecil, saya melepaskan kesempatan itu…

Sekarang, kesempatan itu datang lagi.. kali ini ke Chiang Mai, Thailand…

Saya diberi waktu hingga selasa depan untuk memutuskan akan ikut atau tida. Tapi tanpa harus menunggu hingga hari itu tiba pun, saya sudah tahu apa keputusan saya..

Lagi. Saya harus menolaknya.

Tentu, pertimbangan utama adalah Raja. Karena saya ragu apakah Thailand dari segi kesehatan aman untuk Raja. Saya juga bingung nanti bagaimana saya akan menyiapkan makanan untuk Raja. Masak dengan slow cooker? Of course… tapi apakah bahan-bahan makanannya tersedia di sana? Apakah bahan-bahan itu aman untuk bayi?

Belum lagi kerepotan karena harus membawa Raja hanya dengan si suster.

Yupe, si papa gak bisa ikut. Karena kalo papa ikut, berarti cutinya terpotong, padahal cuti kami sudah dialokasikan untuk libur natal nanti…ketika kami akan membawa Raja untuk dibaptiskan.

Sementara mama saya… duh, saya gak tega dengan kakak saya yang jauh-jauh datang ke manado untuk melahirkan.. Masak mama ‘dipaksa’ ikut dengan saya padahal kakak sedang sangat butuh mama saya????

Lagian, jika hanya sama suster, saya jadi ragu untuk meninggalkannya sendirian di hotel.. di tempat yang sangat asing untuknya…

Saya ragu. Saya takut.

Karena itu saya putuskan to say no..

Not for this time… maybe for another time… maybe someday somehow there will be another chance for me…

My Comfort Zone…

Saya, saat presentasi karya inovasi
Saya, saat presentasi karya inovasi

Tiba-tiba ada yang aneh nih…

Masak saya diusulkan untuk ikut job posting manajer ranting????

Ada-ada aja…

Pertama, minat udah memang gak ada… jujur, saya sekarang jauh lebih berminat untuk fokus ngurus keluarga. Kerja sih tetap kerja, tapi sebatas itu saja. Gak ada keinginan muluk-muluk untuk jadi petinggi…ngapain repot-repot jadi petinggi kalo ujung-ujungnya keluarga malah yang berantakan… Ngapain saya jadi wanita karir yang sukses kalo ternyata saya jauh dari keluarga…gak dekat dengan anak-anak saya…bukan jadi sahabat dan tempat curhat untuk mereka????

Kedua, saya memang berasa gak mampu. Bukannya gak mampu untuk memimpin. Atau juga untuk menguasai segala proses bisnis perusahaan. Saya yakin, oleh pertolongan Tuhan saya pasti bisa. Tapi…. Yang saya gak mampu adalah datang ke kantor tidak telat….pulangnya tidak tepat waktu….plus istirahat siang tidak pulang ke rumah, he he… Kalo jadi pemegang jabatan mana mungkin bisa kayak gitu?? Bisa pada ikutan kabur bawahannya kalo punya atasan dengan jam kerja seperti saya ini, he he…

That’s why…whaever they say…whatever my boss say… I will keep my decision…

Untuk sekarang ini, saya memilih untuk seperti ini saja. It doesn’t mean I’m a passive person who does’nt want to get more in my life… tapi saya harus memilih. Kemajuan siapa yang ingin saya utamakan. Kemajuan keluarga kah atau saya pribadi.

Saya memilih keluarga saya. Tidak mungkin saya bisa meraih keduanya sekaligus. Untuk berhasil, saya harus fokus. Tak mungkin saya bisa fokus mengejar karir tanpa mengabaikan keluarga..

Saya akan terus bekerja sebaik-baiknya. Menyelesaikan semua tugas saya tepat waktu. Berpikir dan mencari solusi yang terbaik untuk perusahaan. Saya akan terus belajar dan mengembangkan diri. Karena saya sayang dengan perusahaan ini. Karena perusahaan inilah tempat yang Tuhan tetapkan bagi saya untuk bekerja. Tapi jangan harapkan saya untuk berbuat lebih. Untuk menjadi pejabat. Untuk menjadi petinggi. Karena saya sedang tidak tertarik.

Dilemma….

Lagi…

Dilema itu kembali saya rasakan…. saya alami….

Barusan si bos mengajak rapat pukul 10. Bersama GM. Duh….berarti bisa jadi saya akan kesulitan untuk pulang jam 11. Menemui buah hati tercinta. Memberikan dan menyediakan apa yang menjadi haknya… ASI…

Ingin sekali menolak ikut rapat itu… but i’ve got no any reasons…

Di saat seperti ini…saya cuma bisa berdoa. Biar Tuhan yang tolong saya… biar Tuhan yang dengar tangis Raja kecil saya…dan membuat segala kondisi yang tidak berpihak pada kami ini menjadi sesuatu yang indah…

Biar Tuhan  yang bukakan mata hati setiap orang-orang itu… mereka yang menolak untuk mengerti… mereka yang mencemooh… supaya mereka tahu. Bahwa saya bukannya menginginkan hal yang terlalu muluk… saya hanya seorang ibu yang berusaha dalam doa, tangis, dan tawa hanya agar titipan Tuhan yang mungil dan sangat berharga itu memperoleh semua hak yang sudah Tuhan tetapkan untuknya…