Come and Go

Hari Sabtu tanggal 19 Desember 2015 sepertinya jadi salah satu hari yang paling ditunggu-tunggu oleh kami, terutama si abang. Udah sejak dari kami kasih tau tentang rencana pulang ke Manado, dia hampir tiap hari ngomong kalo waktu tuh berasa lambat banget karena tanggal 19 Desember belom datang-datang juga. Dasar anak-anak. Makanya begitu akhirnya tanggal 18 Desember tiba dan packing kami mulai, si abang bahagianya ampun deh…semangat bukan main dia. Ngerti sih, dia seneng banget di Manado karena bakal ketemu sepupu-sepupunya di sana dan dia juga tau kalo di Manado tuh dia bisa bebas main di luar. Tanggal 18 itu, selesai dengan segala barang yang mau dibawa, kami segera ibadah malam trus tidur biar esok paginya bisa bangun tepat waktu.

Jujur sebenarnya saat itu saya ngerasa hampir gak bisa tidur.

Kebiasaan nih tiap kali mo terbang sama anak-anak, saya jadi agak gelisah gitu. Bukan cuma soal kepikiran apakah anak terutama si adek bakal nyaman di pesawat dan sebagainya, tapi kadang suka terpikir juga ke hal-hal yang menyeramkan yang ah…gak usah saya bahas di sini lah. Pokoknya gitu deh, kalo udah urusan terbang bawa anak saya suka kepikiran yang tidak-tidak. Padahal dulu sih sebelum punya anak, tiap terbang ya nyantai aja, gak ada kepikiran yang aneh-aneh. Tapi sekarang rasanya duh… Apalagi dengan kejadian-kejadian beberapa tahun belakangan kan, tambah deh itu perasaan suka gak karuan..hehe… Kalo suami sih kebalikan, orangnya nyantai aja karena toh semua udah diserahkan ke tangan Tuhan, jadi apa yang perlu dikuatirkan lagi? Iya, dia memang benar. Saya yang memang perlu belajar untuk total berserah terutama untuk segala urusan yang menyangkut anak-anak biar gak banyak kuatirnya.

Continue Reading…

The Boys

“Wah, cowok semua ya??”

Biasanya itu yang jadi reaksi pertama orang begitu tau orangtua saya punya cucu sebanyak lima orang dengan semuanya berjenis kelamin cowok. Kami juga heran, kok bisa cucu oma dan opa laki-laki semua begitu. Dulu kirain saya dan kakak saya aja yang produktif ngelahirin anak laki-laki, eh ternyata istri adek saya ngelahirin anak cowok juga. Jadi sepertinya memang kami bertiga bersaudara lebih gampang punya anak cowok ketimbang cewek 😀

“Rusuh gak tuh kalo ngumpul??”

Ini biasanya jadi pertanyaan lanjutan yang mana sebenarnya udah gak perlu dijawab lagi sih, karena jawabannya udah pasti: iya, RUSUH BANGET!

Semua cucu oma dan opa ini gak ada yang bisa diem tenang dan karena mereka semua cowok, maka cara mainnya pun suka ekstrem, menantang bahaya sekaligus kesabaran orang yang jagain :D. Tak jarang mereka lupa batasan ketika udah main seru. Akhirnya ada yang celaka, ada yang berantem, dan sudah bisa ditebak ujung-ujungnya ada yang kena marah…hahahaha…. Mereka rusuh ketika ngumpul kayaknya udah biasa, meski tetep perlu diajarin juga biar tetep jadi anak-anak yang tau aturan.

“Jadi ada yang musti nambah 1 nih, cari cewek biar oma ada cucu ceweknya juga…”

Kalo yang ini biasanya jadi respon pamungkas dari orang-orang yang mana biasanya langsung dapat jawaban, “Kalo itu diserahkan pada yang baru punya anak 1 aja”, hihihihihi….. Saya dan kakak yang sudah beranak dua kayaknya udah tutup buku deh, kan kami warga negara yang baik, ngikut program pemerintah, dua anak saja cukup. Itu berarti tinggal jadi tugas adek saya yang baru punya anak satu untuk program bikin anak cewek 😛

Continue Reading…

Natal 2015

Januari udah mo berakhir nih ya, tapi cerita di sini masiiihh aja seputar libur Natal dan Tahun baru kemarin…hihihihi…gak apa lah, justru ini mo dikejar, pengennya sebelum Januari berakhir, cerita libur kemarin juga udah bisa ditamatkan 😀

Perayaan Natal kami kemarin diawali dari tanggal 24 alias Malam Natal-nya.

Seperti tradisi di keluarga Krones, malam Natal itu mesti diisi dengan ibadah bersama di rumah yang mana isi ibadahnya hanya nyanyi, berdoa, baca Alkitab, nyalain lilin Natal, trus berdoa lagi. Waktu itu ibadah kami mulai udah lumayan malam, anak-anak sebenarnya udah mulai ngantuk.

Ibadah terpaksa dimulai malam, karena proses bersih-bersihin dan beresin kamar-kamar baru di kos-kosan kami baru bisa selesai malam (nanti saya bakal cerita juga soal Blessed Inn ini). Proses bersih-bersihinnya juga memang baru dimulai sore sih, soalnya pagi kami ke pasar buat belanja, trus pulang masak dulu buat hari itu sama buat Natal esok harinya, sibuk bener pokoknya hari itu.

Puji Tuhan, anak-anak tetep mau ikutan ibadah dan mau bersikap manis selama ibadah berlangsung. Karena udah malam, maka kostum yang dipake juga adalah baju tidur, tapi biar agak istimewa, maka kami yang cewek-cewek pake baju tidur seragaman..hihihihi..

Continue Reading…

Nostalgia Sejenak di Manado Tateli Beach Resort

Tanggal 29 – 30 Desember, kami nginep di Manado Tateli Beach Resort. Memang sedari awal kami udah ada rencana untuk bawa anak-anak main di pantai. Maklum, di Palembang kan gak ada pantai, jadi mumpung lagi di Sulawesi Utara yang memang salah satu khasnya adalah laut, maka bermain di pantai harus ada di antara padatnya jadwal kami selama di Manado.

Untuk main di pantai dan berwisata laut, di Sulawesi Utara pilihannya ada beberapa. Mulai dari deretan pantai Boulevard, Malalayang, dan Tateli, kemudian ke Ratatotok, Kima Wori, sampai ke pantai di pulau-pulau eksotisnya seperti Bunaken, Lihaga, dan Gangga. Pilihan banyak, tapi kami pilih yang deket aja tapi cukup indah, yaitu pantai di Tateli, dan supaya lebih pas lagi kami pilih lokasinya di Manado Tateli Beach Resort yang punya lagoon buatan sehingga anak-anak lebih aman ketika bermain di pantai.

Hotel dipesan sehari sebelumnya, dapat best deal lewat Trivago untuk 4 kamar deluxe yang menghadap langsung ke arah kolam renang dan pantai.

Tanggal 29 pagi, semua semangat siap-siap. Apalagi anak-anak yang begitu gembira karena tau kalo hari itu mereka bakal main di pantai, renang di kolam renang, dan nginep di hotel.

Continue Reading…

Bukit Doa Tomohon

Dari Danau Linow, kami lanjut jalan-jalan ke Bukit Doa yang letaknya masih sama-sama di Tomohon. Sama seperti Danau Linow, ini juga pertama kalinya buat saya mengunjungi tempat ini dan itu karena objek wisata ini memang baru ada setelah saya tak lagi tinggal di Manado.

Karena sama-sama berlokasi di daerah pegunungan Tomohon, maka jarak antara Danau Linow dan Bukit Doa ini tidak terlalu jauh.

Continue Reading…

Danau Linow

Selamat pagiii! 😀 😀

Gak kerasa udah hari Kamis aja ya. Besok udah Jumat dan kemudian minggu pertama kerja di 2016 ini pun akan segera lewat. Minggu pertama di kantor saya sibuk dengan nambahin fitur buat satu aplikasi yang business owner-nya pak suami sendiri dan dia ngasih target minggu ketiga Januari ini perubahan dan penambahan fitur itu udah bisa diimplementasiin. Aih pak suami, segitu amat sama istri sendiri…hihihihi…

Nah, pagi ini sebelum berurusan lagi sama aplikasi, saya pengen cerita dulu tentang salah satu lokasi wisata yang kami kunjungi saat libur Natal kemarin. Nama lokasi wisata itu adalah Danau Linow.

Jujur, saya sebenarnya tau soal Danau Linow belum lama ini. Dulu tempat ini belum sepopuler sekarang, mungkin karena sekarang pengelolaannya sudah lebih baik sehingga semakin menarik minat banyak wisatawan untuk berkunjung ke sini.

Danau Linow terletak di Kota Tomohon yang dijuluki sebagai Kota Bunga. Jarak Tomohon dari Manado sekitar 27km atau sekitar 1 jam perjalanan dengan mobil. Jalan menuju ke sana berliku karena menuju ke pegunungan. Makin dekat ke Tomohon kita akan merasakan hawa yang semakin sejuk dan udara yang terasa semakin bersih. Danau Linow sendiri terletak tepatnya di Kabupaten Lahendong, Kecamatan Tomohon Selatan.

Danau Linow merupakan danau vulkanik yang berhubungan dengan Gunung Lokon yang masih aktif. Danau ini mengandung belerang dan di sekitarnya terdapat beberapa tempat pemandian air panas. Kata orang-orang, kalau dilihat dari atas bukit, warna air danau ini bisa berubah menjadi tiga warna mulai dari biru, hijau, hingga coklat kekuningan. Penyebab perubahan warnanya adalah kandungan belerang di dalamnya serta karena pembiasan cahaya dan pantulan dari vegetasi di sekitar danau.

Continue Reading…

Sehari Jadi Anak Kampung

Alohaaaa…..happy new year!!!

Apa kabar semuanya di hari pertama kerja di 2016 ini? Semoga tambah semangat yaa. Kalo saya sendiri puji Tuhan udah ngerasa semangat, euforia liburan udah selesai, dan capek sehabis bersenang-senang di kampung halaman juga udah sirna. Sengaja memang kami kembali ke rumah bukan pas sehari sebelum ngantor, melainkan dua hari sebelumnya, alias hari Sabtu yang lalu. Maksudnya ya supaya ada jeda sehari buat istirahat dan nyiapin diri untuk masuk ke dunia nyata lagi.

Liburan selama dua minggu kemarin di Manado puji Tuhan menghadirkan banyak hal indah untuk dikenang. Salah satunya adalah waktu kami jalan-jalan ke rumah saudara-saudara mama saya di hari pertama tahun 2016 alias jalan-jalan dalam rangka tahun baruan. Istimewa banget, karena rasanya hepi aja bisa ketemu lagi dengan sodara-sodara mama saya dan mengunjungi kampung halamannya setelah sekian lama. Banyak yang sudah berubah dari yang terakhir saya ingat, tapi tetap saja, mengunjungi kembali tempat kelahiran mama membuat ingatan saya kembali melayang ke masa kecil 🙂

Dan jalan-jalan itu juga istimewa terutama untuk si abang karena hari itu adalah untuk pertama kalinya dia merasakan pengalaman jadi anak kampung 😀

Continue Reading…

The Other Christmas Gift

Tadi pagi, saya nonton sebuah video tentang anak-anak dengan ekonomi kurang di Metro Atlanta yang diwawancarai tentang hadiah Natal yang mereka inginkan dan yang orangtua mereka inginkan. Ada yang bilang pengen laptop, barbie house, lego, dan sebagainya. Dan mereka juga bisa jawab apa yang orangtua mereka inginkan, ada yang orangtuanya pengen perhiasan, TV, coffee maker, dan sebagainya. Surprisingly, dua hari setelah wawancara itu mereka diberikan dua hadiah. Satu sesuai dengan yang mereka inginkan, dan satunya lagi sesuai dengan yang orangtua mereka inginkan.

Happy?

Ya tentu banget. Mereka bahagia banget.

Tapi yang bikin mereka terpaksa menahan kebahagiaan itu, karena ternyata mereka hanya bisa memilih satu hadiah saja. Untuk mereka. Atau untuk orangtua mereka.

Apa pilihan mereka?

Yuk yang belom nonton, silakan nonton videonya di bawah ini….

Lanjutkan membaca “The Other Christmas Gift”

Special of Special…

Jadi per tanggal 28 Oktober yang baru lalu, saya sudah genap berumur 33 tahun. Duh, udah gak muda lagi ya…hehe…

Tadinya saya pikir ulang tahun kali ini bakal seperti beberapa tahun belakangan di mana saya merayakannya bersama keluarga kecil di sini plus bareng temen-temen kantor juga. Sama tentu aja dapat ucapan selamat dari keluarga besar dan teman-teman secara jarak jauh.

Tapi ternyata saya salah.

Sungguh tak disangka dan tak diduga, Tuhan rupanya menyiapkan sesuatu yang spesial dan berharga sekali buat saya di monen ulang tahun saya kemarin.

Berawal dari suami yang di hari kamis tanggal 22 Oktober ngabarin kalo dia ditugasin ke Manado di hari Senin tanggal 26 Oktober. Suami langsung nawarin saya, mau ikut gak? Rencananya berangkat Jumat malam ke Jakarta, Sabtu pagi ke Manado, lalu kembali ke Palembang hari Selasa berikutnya karena si abang ada agenda Parents Student Teacher Conference di sekolahnya.

Saya pengen banget ikut. Tapi masih pertimbangin beberapa hal. Pertama soal saya ngajuin ijin ke kantor. Kedua soal ijin si abang sendiri ke sekolahnya. Karena suami ngabarinnya Kamis sore, jadi saya bilang ke dia tiketnya nanti dipastiin sehabis saya ngomong dulu ke gurunya Raja lepas sekolah besokannya.

Jadilah sehabis sekolah hari Jumat keesokan harinya saya ngomong dengan gurunya Raja, nanya bisa gak Raja ijin hari Senin-Selasa. Gurunya langsung ngijinin karena katanya gak ada agenda yang urgent banget di dua hari itu. Horeeee….!!!

Saya langsung telpon suami, mastiin kami bisa ikut dia ke Manado. Udah deh, langsung Jumat siang itu suami nyari tiket buat penerbangan kami ke Jakarta di Jumat malam lanjut ke Manado di Sabtu pagi. Sengaja ngambil penerbangan malam dulu ke Jakarta biar bisa ambil penerbangan pagi dari Jakarta ke Manado supaya nyampenya di sana bisa lebih cepat.

Jumat sore itu, balik dari kantor kami langsung siap-siap deh buat berangkat malam itu juga. Pesawat kami berangkat dari Palembang sekitar jam 10 malam, harusnya sih jadwal take off jam 9 tapi karena kondisi kabut asap malam itu agak tebal jadilah ditunda sampai sejam lebih. Di Jakarta, kami nginep di hotel, lumayan buat tidur beberapa jam. Esok paginya habis sarapan langsung cabut ke bandara dan siangnya kami udah tiba dengan selamat di Manado.

Malam-malam ayo kita berangkat 😀
Siap-siap berangkat dari hotel ke bandara
hehe…bocaaahhhh 😀 😀

Puji Tuhan, bahagia sekali rasanya bisa ketemu lagi dengan orangtua serta keluarga di sana, apalagi karena udah lama banget sejak terakhir kali melihat mereka. Dengan kakak, adik, dan keponakan, kami terakhir ketemu waktu nikahan adek saya yaitu di Oktober 2013, sementara dengan papa dan mama pertemuan terakhir terjadi di akhir tahun 2013 yaitu waktu Ralph lahir….lama banget ya? Pantes saya udah rindu banget…hehe…. Apalagi sekarang rasanya lebih menyenangkan karena keluarga kakak saya juga udah pindah ke Manado, jadi sekali pulang bisa ketemu langsung dengan semuanya.

Ngumpul! Horeeee!!!

Waktu kami di sana gak banyak, malah bisa dibilang singkat sekali. Datang Sabtu siang dan rencananya Selasa pagi udah berangkat pulang ke Palembang. Singkaaatt banget, tapi puji Tuhan bermakna amat sangat. Bisa melepas rindu, bisa ngobrol langsung dengan orangtua dan saudara, juga sekaligus melihat langsung proses pembangunan lantai bawah rumah kos kami di sana dan oh ya sempat juga ibadah bersama di lokasi bakal rumah adek saya.

Tanah tempat rumah adek saya mo dibangun. Puji Tuhan, kiranya Tuhan memberkati semuanya supaya lancar. Amin!

Anak-anak juga seneng banget karena bisa ketemu dengan ketiga sepupu mereka di sana. Puji Tuhan mereka pada akur main bersama. Sayang memang waktunya hanya singkat banget, makanya gak heran kalo sejak Senin malam mereka, terutama si abang dan Fide, mulai uring-uringan, sedih karena esok pagi mo berpisah tapi yah mo gimana lagi, memang ini datangnya bukan pas lagi liburan jadi  ya gak bisa lama-lama juga.

Selasa pagi, kami ke airport dengan diantar mama, kakak saya, dan anaknya kakak, si Zeky. Fide gak bisa ikutan karena harus sekolah. Jadwal take off hari itu adalah jam 09.40. Jam 9 kurang kami tiba di bandara dan si papa langsung ngurus proses check in sementara kami nunggu sambil duduk-duduk di Dunkin Donuts karena si Zeky mendadak pengen makan donat.

Tak berapa lama kami di situ, suami datang menghampiri lalu ikut duduk sambil nyeruput kopi bareng kami. Eh, belum ada lima menit suami duduk, tiba-tiba terdengar panggilan boarding terakhir penerbangan Citilink tujuan Jakarta yang mo kami naiki. Kaget, kami pun buru-buru dadah-dadahan dan langsung berlari menuju gerbang keberangkatan. Begitu kami tiba di situ, suasana di gerbang itu udah sepi dan petugas di depannya langsung ngasih info yang bikin kaget banget. Pintu pesawat udah ditutup, jadi kami tidak diijinkan lagi untuk masuk. Nah lho! Jadi gimana ini??

Kaget luar biasa, kami sempat minta bantuan sama para petugas di situ buat komunikasi dengan kokpit supaya kami diijinkan masuk. Kami tau itu tidak mungkin. Kami tau kami tak bisa lagi ikut dalam penerbangan itu, tapi saat itu kami sedang panik. Banyak yang dipikirkan. Bagasi kami yang udah terlanjur ikut dalam penerbangan itu, suami yang harus ngantor keesokan harinya karena ada rapat penting yang musti dia hadiri, serta agenda parents-student-teacher conference di sekolahnya si abang. Yang terpikir adalah bahwa kami harus ikut dalam penerbangan itu, makanya kami berupaya mendesak para ground staff yang ada di situ supaya membantu kami untuk bisa masuk, tapi menghadapi kami mereka hanya diam aja hampir gak bikin apa-apa sampai akhirnya rasa panik dan kaget kami berubah jadi marah dan fokus kami pun berubah. Kalo tadinya berfokus di gimana caranya supaya kami bisa ikut terbang, sekarang kami berfokus di mengapa hal ini bisa terjadi. Sebenarnya letak kesalahannya ada di siapa? Kalo ada di kami, oke kami terima. Tapi kalo ada di pihak Citilink, maka berarti mereka harus tanggung jawab.

Kami pun minta diketemukan dengan DM mereka dan langsung kami dibawa ke ruang kantor Citilink. Tak berapa lama DM-nya datang, dan kami pun langsung nyampein komplain kami. Berkeras kami bilang bahwa kesalahan sepenuhnya ada di pihak Citilink karena dalam kejadian kami udah ada beberapa prosedur yang mereka langgar.

Kesalahan pertama terjadi saat check in yang mana jika dilihat dari waktunya, maka boarding sudah berlangsung saat suami saya check in. Seharusnya, petugas check in saat itu juga langsung memberikan info kepada suami saya untuk segera masuk ke dalam pesawat. Tapi saat itu tidak, tidak ada informasi apapun yang diberikan oleh petugas check in tersebut.

Kesalahan kedua terjadi saat panggilan terakhir untuk boarding. Mengingat kami sudah check in, lagi-lagi seharusnya mereka memberikan info nama-nama kami ke bagian Informasi bandara agar diumumkan dan nama-nama kami dipanggil. Tapi saat itu tidak, mereka tidak ada usaha sama sekali untuk mencari kami.

Kesalahan ketiga adalah selang waktu antara panggilan boarding terakhir dengan proses penutupan pintu pesawat terjadi terlalu dekat, tidak sampai 5 menit. Kalau seperti itu, untuk apa ada panggilan terakhir?

Kesalahan keempat adalah karena saat maskapai mengetahui bahwa ada penumpang yang sudah check in dan bagasinya sudah dimasukkan ke dalam pesawat tapi tidak ikut dalam penerbangan itu, maka seharusnya bagasi penumpang tersebut diturunkan. Tapi saat itu tidak. Bagasi kami tetap diikutkan dalam penerbangan tersebut oleh pihak Citilink. Ini kesalahan yang besar sekali dan melanggar prosedur keamanan penerbangan.

Sadar kalau pihaknya salah, DM tersebut langsung meminta maaf lalu mencarikan solusi untuk kami yang mana solusi yang terbaik adalah memberangkatkan kami dengan tiket green seat (tentu saja tanpa biaya) pada penerbangan keesokan harinya. Kami akhirnya setuju karena memang gak bisa dipaksakan lagi untuk terbang dari Manado sampe ke Palembang pada hari itu juga. Untuk persoalan bagasi kami yang udah terlanjur terbang, mereka janji akan mengurusnya saat transit di Surabaya dan dari situ bagasi kami akan dikembalikan ke Manado dengan waktu tiba diperkirakan jam 7 malam hari itu juga, yang mana ternyataaa itu bagasi pada akhirnya gak diurusin juga sih sama mereka. Bagasi kami dibiarin aja sampe tiba di Palembang, akhirnya sore-sore, suami, papa, dan adek saya ke bandara lagi buat komplain. Bolak balik mereka minta maaf, kesalahannya memang ada di ground staf-nya.

Suami dan saya kemudian terpaksa menghubungi kantor untuk minta ijin sehari dan selanjutnya saya ngehubungin sekolahan si abang untuk ngasih tau kalo kami gak  mungkin bisa hadir dalam agenda conference esok harinya. Puji Tuhan dari pihak sekolah mengerti dan berjanji akan menjadwalkan ulang agenda conference khusus untuk si abang.

Setelah selesai segala urusan di kantor Citilink itu, kami pun pulang lagi ke rumah orangtua saya. Perasaan jadi campur aduk.

Di satu sisi kesal karena ketinggalan pesawat, tapi di sisi lain ada rasa senang juga karena bisa nambah sehari melewatkan waktu bersama keluarga di Manado yang mana waktunya kok pas banget karena esok harinya itu adalah hari ulang tahun saya. Inget itu, kami jadi semangat lagi karena akhirnya setelah bertahun-tahun, bisa juga saya merayakan ulang tahun dengan kehadiran orang-orang terkasih secara komplit. Ada suami, ada anak-anak, ada papa-mama, ada kakak-adik dan ipar, serta keponakan-keponakan. Duh Tuhan, hadiah tahun ini alangkah besarnya. Luar biasa menakjubkan. Jika bukan karena peristiwa ketinggalan pesawat, maka ceritanya tak akan seperti ini. Puji Tuhan, Tuhan selalu punya kejutan dan selalu mengatur semuanya hingga berakhir indah 🙂

Satu-satunya masalah adalah karena kami gak punya baju ganti lagi. Anak-anak sih masih mending karena di tas saya selalu tersedia baju ganti buat mereka. Tapi saya dan suami gak punya baju sama sekali lagi, apalagi pakaian dalam. Ini nih yang bikin repot. Tapi yah, sudahlah, mari dinikmati saja kondisi yang ada dengan segala keterbatasan.

Gak punya bajuuu…jadi pake baju kakak Zeky dulu, jadilah daster..hahahaha

Hari itu kami habiskan dengan jalan-jalan sampe malam, setelahnya pulang ke rumah, berdoa bersama, lalu tidur.

Tengah malam tiba-tiba saya terbangun karena kaget ada rame-rame di depan pintu. Sontak saya terbangun dan surpriseeee!!! Semua orang-orang tercinta di hidup saya sedang berdiri di hadapan saya sambil nyanyiin lagu happy birthday to you lengkap dengan kue ultah di tangan suami saya. Aaaakk….saya bahagiaaaa dapat kejutan kayak gini. Puji Tuhan…puji Tuhan…puji Tuhan…. saya terharu dan bener-bener bahagia, rasa bahagia yang hampir gak bisa lagi saya ungkapkan dengan kata-kata. Akhirnya Tuhan, setelah bertahun-tahun, dari 2006 sejak saya meninggalkan rumah orang tua saya, bisa lagi saya rasakan kebahagiaan merayakan ulang tahun bersama mereka semua secara komplit. Duh Tuhan, hadiah ini benar-benar luar biasa…

Selesai tiup lilin dan potong kue, kami pun berdoa bersama dipimpin papa saya. Lagi-lagi saya terharu karena rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali bisa begini… Saya kangen, sungguh kangen, makanya bersyukur sekali kalau di tahun ini akhirnya bisa seperti ini lagi.

Malam itu, saya pun kembali istirahat dengan hati yang bahagia dan penuh syukur. Tiba-tiba saya amat sangat bersyukur karena kami ketinggalan pesawat, hehe…

Paginya, kembali kami bersiap-siap untuk ke bandara. Kali ini diantar oleh papa saya dan kali ini tidak ada kejadian ketinggalan lagi. Sebelum jam menunjukkan angka 10 pagi di Indonesia Tengah, kami sudah berada di udara menuju ke Surabaya untuk kemudian lanjut ke Palembang. O ya, sebelum berangkat dari Manado, pihak Citilink sempat menemui kami lagi buat ngasih cenderamata akibat kejadian yang kemarin itu, hehe…

Mari pulang ke Palembang!

Ada rasa sedih karena harus berpisah lagi. Tapi rasanya tetap bersyukur karena diijinkan Tuhan bertemu dengan mereka walo hanya sebentar saja.

Siang, sekitar jam 2 lebih kami sudah tiba di Palembang. Puji Tuhan penerbangan lagi-lagi lancar, anak-anak juga baik-baik saja sepanjang jalan. Apalagi si adek. Sepanjang jalan dia tenang, kalo ngantuk ya bobo, kalo pas bangun ya dia mainin apa yang bisa dimainin. Dia gak ada rewel sama sekali, syukurlah, udah gede udah tambah pintar ya dek 🙂

Di rumah, malamnya suami keluar buat beli kue ulang tahun lagi. Ini karena waktu tiup lilin tengah malam sebelumnya di Manado, anak-anak gak ikutan berhubung udah pada tidur, jadi sekarang ya kata suami harus tiup lilin lagi…hehehe…. Ya udah, saya sih seneng-seneng aja tiup lilin sampe dua kali 😀

Selain itu saya juga ternyata dapat kiriman buket bunga dari adik ipar di Medan. Buketnya ungu…cantiiikk banget.

Puji Tuhan, ulang tahun ke 33 ini berkesan banget. Bersyukur sudah bertambah usia dan sangat bersyukur dengan semua penyertaan dan berkat Tuhan di sepanjang usia hidup saya hingga kini. Semuanya luar biasa dan indah, bahkan semua pergumulan pun terasa indah. Kiranya Tuhan terus memberkati hidup saya dan keluarga agar terus jadi berkat bagi siapapun yang ada di sekitar kami. Amin.

Pilih Tinggal di Mana?

Setiap tanggal 28 April, saya memperingati hari kedatangan saya untuk pertama kalinya di Palembang ini. Gak kerasa ya, udah 9 tahun saya tinggal di sini.

Pertama datang tahun 2006, waktu Palembang masih belum seperti sekarang ini.

Waktu itu PIM (Palembang Indah Mall) baru mo dibuka, mall lainnya yang udah jalan baru PTC (Palembang Trade Center) dan PS (Palembang Square). Jalanan di mana-mana masih sepi. Saya ingat sering pulang kantor di atas jam 7 malam dan jalanan di depan kantor udah sepiiiii banget, bikin serem karena saya harus jalan sendiri ke kos-kosan. Saya juga inget, dulu kalo pulang habis nonton sama pacar pas malam minggu, pasti deh pulang-pulang ini kota udah kayak kota mati. Sepinya ampun-ampunan. Yap, untuk ukuran kota metropolitan, kota ini memang tadinya agak lambat berkembang.

Jujur, tahun pertama tinggal di sini, saya rasanya gak betah. Bawaan pengen pulang terus ato main ke kota lain. Mana dulu itu saya pernah kerampokan dan kena tusuk lagi kan, jadilah perasaan gak betah tambah berlipat-lipat. Dulu itu kayaknya yang jadi penghiburan di hati saya cuma karena si pacar yang tinggal hanya berjarak 5-7 jam dari kota ini, jadi setiap weekend dia bisa datang buat ngapelin saya. Coba kalo gak kayak gitu, alamat saya bisa nangis tiap hari. Syukurlah waktu itu jaman masih single but not available, sering dinas keluar kota jadi saya gak bosen-bosen amat di sini.

Kemudian akhirnya saya menikah dan punya anak di sini.

Continue Reading…