Come and Go

Hari Sabtu tanggal 19 Desember 2015 sepertinya jadi salah satu hari yang paling ditunggu-tunggu oleh kami, terutama si abang. Udah sejak dari kami kasih tau tentang rencana pulang ke Manado, dia hampir tiap hari ngomong kalo waktu tuh berasa lambat banget karena tanggal 19 Desember belom datang-datang juga. Dasar anak-anak. Makanya begitu akhirnya tanggal 18 Desember tiba dan packing kami mulai, si abang bahagianya ampun deh…semangat bukan main dia. Ngerti sih, dia seneng banget di Manado karena bakal ketemu sepupu-sepupunya di sana dan dia juga tau kalo di Manado tuh dia bisa bebas main di luar. Tanggal 18 itu, selesai dengan segala barang yang mau dibawa, kami segera ibadah malam trus tidur biar esok paginya bisa bangun tepat waktu.

Jujur sebenarnya saat itu saya ngerasa hampir gak bisa tidur.

Kebiasaan nih tiap kali mo terbang sama anak-anak, saya jadi agak gelisah gitu. Bukan cuma soal kepikiran apakah anak terutama si adek bakal nyaman di pesawat dan sebagainya, tapi kadang suka terpikir juga ke hal-hal yang menyeramkan yang ah…gak usah saya bahas di sini lah. Pokoknya gitu deh, kalo udah urusan terbang bawa anak saya suka kepikiran yang tidak-tidak. Padahal dulu sih sebelum punya anak, tiap terbang ya nyantai aja, gak ada kepikiran yang aneh-aneh. Tapi sekarang rasanya duh… Apalagi dengan kejadian-kejadian beberapa tahun belakangan kan, tambah deh itu perasaan suka gak karuan..hehe… Kalo suami sih kebalikan, orangnya nyantai aja karena toh semua udah diserahkan ke tangan Tuhan, jadi apa yang perlu dikuatirkan lagi? Iya, dia memang benar. Saya yang memang perlu belajar untuk total berserah terutama untuk segala urusan yang menyangkut anak-anak biar gak banyak kuatirnya.

Continue Reading…

Iklan

The Boys

“Wah, cowok semua ya??”

Biasanya itu yang jadi reaksi pertama orang begitu tau orangtua saya punya cucu sebanyak lima orang dengan semuanya berjenis kelamin cowok. Kami juga heran, kok bisa cucu oma dan opa laki-laki semua begitu. Dulu kirain saya dan kakak saya aja yang produktif ngelahirin anak laki-laki, eh ternyata istri adek saya ngelahirin anak cowok juga. Jadi sepertinya memang kami bertiga bersaudara lebih gampang punya anak cowok ketimbang cewek 😀

“Rusuh gak tuh kalo ngumpul??”

Ini biasanya jadi pertanyaan lanjutan yang mana sebenarnya udah gak perlu dijawab lagi sih, karena jawabannya udah pasti: iya, RUSUH BANGET!

Semua cucu oma dan opa ini gak ada yang bisa diem tenang dan karena mereka semua cowok, maka cara mainnya pun suka ekstrem, menantang bahaya sekaligus kesabaran orang yang jagain :D. Tak jarang mereka lupa batasan ketika udah main seru. Akhirnya ada yang celaka, ada yang berantem, dan sudah bisa ditebak ujung-ujungnya ada yang kena marah…hahahaha…. Mereka rusuh ketika ngumpul kayaknya udah biasa, meski tetep perlu diajarin juga biar tetep jadi anak-anak yang tau aturan.

“Jadi ada yang musti nambah 1 nih, cari cewek biar oma ada cucu ceweknya juga…”

Kalo yang ini biasanya jadi respon pamungkas dari orang-orang yang mana biasanya langsung dapat jawaban, “Kalo itu diserahkan pada yang baru punya anak 1 aja”, hihihihihi….. Saya dan kakak yang sudah beranak dua kayaknya udah tutup buku deh, kan kami warga negara yang baik, ngikut program pemerintah, dua anak saja cukup. Itu berarti tinggal jadi tugas adek saya yang baru punya anak satu untuk program bikin anak cewek 😛

Continue Reading…

Natal 2015

Januari udah mo berakhir nih ya, tapi cerita di sini masiiihh aja seputar libur Natal dan Tahun baru kemarin…hihihihi…gak apa lah, justru ini mo dikejar, pengennya sebelum Januari berakhir, cerita libur kemarin juga udah bisa ditamatkan 😀

Perayaan Natal kami kemarin diawali dari tanggal 24 alias Malam Natal-nya.

Seperti tradisi di keluarga Krones, malam Natal itu mesti diisi dengan ibadah bersama di rumah yang mana isi ibadahnya hanya nyanyi, berdoa, baca Alkitab, nyalain lilin Natal, trus berdoa lagi. Waktu itu ibadah kami mulai udah lumayan malam, anak-anak sebenarnya udah mulai ngantuk.

Ibadah terpaksa dimulai malam, karena proses bersih-bersihin dan beresin kamar-kamar baru di kos-kosan kami baru bisa selesai malam (nanti saya bakal cerita juga soal Blessed Inn ini). Proses bersih-bersihinnya juga memang baru dimulai sore sih, soalnya pagi kami ke pasar buat belanja, trus pulang masak dulu buat hari itu sama buat Natal esok harinya, sibuk bener pokoknya hari itu.

Puji Tuhan, anak-anak tetep mau ikutan ibadah dan mau bersikap manis selama ibadah berlangsung. Karena udah malam, maka kostum yang dipake juga adalah baju tidur, tapi biar agak istimewa, maka kami yang cewek-cewek pake baju tidur seragaman..hihihihi..

Continue Reading…

Nostalgia Sejenak di Manado Tateli Beach Resort

Tanggal 29 – 30 Desember, kami nginep di Manado Tateli Beach Resort. Memang sedari awal kami udah ada rencana untuk bawa anak-anak main di pantai. Maklum, di Palembang kan gak ada pantai, jadi mumpung lagi di Sulawesi Utara yang memang salah satu khasnya adalah laut, maka bermain di pantai harus ada di antara padatnya jadwal kami selama di Manado.

Untuk main di pantai dan berwisata laut, di Sulawesi Utara pilihannya ada beberapa. Mulai dari deretan pantai Boulevard, Malalayang, dan Tateli, kemudian ke Ratatotok, Kima Wori, sampai ke pantai di pulau-pulau eksotisnya seperti Bunaken, Lihaga, dan Gangga. Pilihan banyak, tapi kami pilih yang deket aja tapi cukup indah, yaitu pantai di Tateli, dan supaya lebih pas lagi kami pilih lokasinya di Manado Tateli Beach Resort yang punya lagoon buatan sehingga anak-anak lebih aman ketika bermain di pantai.

Hotel dipesan sehari sebelumnya, dapat best deal lewat Trivago untuk 4 kamar deluxe yang menghadap langsung ke arah kolam renang dan pantai.

Tanggal 29 pagi, semua semangat siap-siap. Apalagi anak-anak yang begitu gembira karena tau kalo hari itu mereka bakal main di pantai, renang di kolam renang, dan nginep di hotel.

Continue Reading…

Bukit Doa Tomohon

Dari Danau Linow, kami lanjut jalan-jalan ke Bukit Doa yang letaknya masih sama-sama di Tomohon. Sama seperti Danau Linow, ini juga pertama kalinya buat saya mengunjungi tempat ini dan itu karena objek wisata ini memang baru ada setelah saya tak lagi tinggal di Manado.

Karena sama-sama berlokasi di daerah pegunungan Tomohon, maka jarak antara Danau Linow dan Bukit Doa ini tidak terlalu jauh.

Continue Reading…

Danau Linow

Selamat pagiii! 😀 😀

Gak kerasa udah hari Kamis aja ya. Besok udah Jumat dan kemudian minggu pertama kerja di 2016 ini pun akan segera lewat. Minggu pertama di kantor saya sibuk dengan nambahin fitur buat satu aplikasi yang business owner-nya pak suami sendiri dan dia ngasih target minggu ketiga Januari ini perubahan dan penambahan fitur itu udah bisa diimplementasiin. Aih pak suami, segitu amat sama istri sendiri…hihihihi…

Nah, pagi ini sebelum berurusan lagi sama aplikasi, saya pengen cerita dulu tentang salah satu lokasi wisata yang kami kunjungi saat libur Natal kemarin. Nama lokasi wisata itu adalah Danau Linow.

Jujur, saya sebenarnya tau soal Danau Linow belum lama ini. Dulu tempat ini belum sepopuler sekarang, mungkin karena sekarang pengelolaannya sudah lebih baik sehingga semakin menarik minat banyak wisatawan untuk berkunjung ke sini.

Danau Linow terletak di Kota Tomohon yang dijuluki sebagai Kota Bunga. Jarak Tomohon dari Manado sekitar 27km atau sekitar 1 jam perjalanan dengan mobil. Jalan menuju ke sana berliku karena menuju ke pegunungan. Makin dekat ke Tomohon kita akan merasakan hawa yang semakin sejuk dan udara yang terasa semakin bersih. Danau Linow sendiri terletak tepatnya di Kabupaten Lahendong, Kecamatan Tomohon Selatan.

Danau Linow merupakan danau vulkanik yang berhubungan dengan Gunung Lokon yang masih aktif. Danau ini mengandung belerang dan di sekitarnya terdapat beberapa tempat pemandian air panas. Kata orang-orang, kalau dilihat dari atas bukit, warna air danau ini bisa berubah menjadi tiga warna mulai dari biru, hijau, hingga coklat kekuningan. Penyebab perubahan warnanya adalah kandungan belerang di dalamnya serta karena pembiasan cahaya dan pantulan dari vegetasi di sekitar danau.

Continue Reading…

Sehari Jadi Anak Kampung

Alohaaaa…..happy new year!!!

Apa kabar semuanya di hari pertama kerja di 2016 ini? Semoga tambah semangat yaa. Kalo saya sendiri puji Tuhan udah ngerasa semangat, euforia liburan udah selesai, dan capek sehabis bersenang-senang di kampung halaman juga udah sirna. Sengaja memang kami kembali ke rumah bukan pas sehari sebelum ngantor, melainkan dua hari sebelumnya, alias hari Sabtu yang lalu. Maksudnya ya supaya ada jeda sehari buat istirahat dan nyiapin diri untuk masuk ke dunia nyata lagi.

Liburan selama dua minggu kemarin di Manado puji Tuhan menghadirkan banyak hal indah untuk dikenang. Salah satunya adalah waktu kami jalan-jalan ke rumah saudara-saudara mama saya di hari pertama tahun 2016 alias jalan-jalan dalam rangka tahun baruan. Istimewa banget, karena rasanya hepi aja bisa ketemu lagi dengan sodara-sodara mama saya dan mengunjungi kampung halamannya setelah sekian lama. Banyak yang sudah berubah dari yang terakhir saya ingat, tapi tetap saja, mengunjungi kembali tempat kelahiran mama membuat ingatan saya kembali melayang ke masa kecil 🙂

Dan jalan-jalan itu juga istimewa terutama untuk si abang karena hari itu adalah untuk pertama kalinya dia merasakan pengalaman jadi anak kampung 😀

Continue Reading…

The Other Christmas Gift

Tadi pagi, saya nonton sebuah video tentang anak-anak dengan ekonomi kurang di Metro Atlanta yang diwawancarai tentang hadiah Natal yang mereka inginkan dan yang orangtua mereka inginkan. Ada yang bilang pengen laptop, barbie house, lego, dan sebagainya. Dan mereka juga bisa jawab apa yang orangtua mereka inginkan, ada yang orangtuanya pengen perhiasan, TV, coffee maker, dan sebagainya. Surprisingly, dua hari setelah wawancara itu mereka diberikan dua hadiah. Satu sesuai dengan yang mereka inginkan, dan satunya lagi sesuai dengan yang orangtua mereka inginkan.

Happy?

Ya tentu banget. Mereka bahagia banget.

Tapi yang bikin mereka terpaksa menahan kebahagiaan itu, karena ternyata mereka hanya bisa memilih satu hadiah saja. Untuk mereka. Atau untuk orangtua mereka.

Apa pilihan mereka?

Yuk yang belom nonton, silakan nonton videonya di bawah ini….

Continue reading “The Other Christmas Gift”

Pilih Tinggal di Mana?

Setiap tanggal 28 April, saya memperingati hari kedatangan saya untuk pertama kalinya di Palembang ini. Gak kerasa ya, udah 9 tahun saya tinggal di sini.

Pertama datang tahun 2006, waktu Palembang masih belum seperti sekarang ini.

Waktu itu PIM (Palembang Indah Mall) baru mo dibuka, mall lainnya yang udah jalan baru PTC (Palembang Trade Center) dan PS (Palembang Square). Jalanan di mana-mana masih sepi. Saya ingat sering pulang kantor di atas jam 7 malam dan jalanan di depan kantor udah sepiiiii banget, bikin serem karena saya harus jalan sendiri ke kos-kosan. Saya juga inget, dulu kalo pulang habis nonton sama pacar pas malam minggu, pasti deh pulang-pulang ini kota udah kayak kota mati. Sepinya ampun-ampunan. Yap, untuk ukuran kota metropolitan, kota ini memang tadinya agak lambat berkembang.

Jujur, tahun pertama tinggal di sini, saya rasanya gak betah. Bawaan pengen pulang terus ato main ke kota lain. Mana dulu itu saya pernah kerampokan dan kena tusuk lagi kan, jadilah perasaan gak betah tambah berlipat-lipat. Dulu itu kayaknya yang jadi penghiburan di hati saya cuma karena si pacar yang tinggal hanya berjarak 5-7 jam dari kota ini, jadi setiap weekend dia bisa datang buat ngapelin saya. Coba kalo gak kayak gitu, alamat saya bisa nangis tiap hari. Syukurlah waktu itu jaman masih single but not available, sering dinas keluar kota jadi saya gak bosen-bosen amat di sini.

Kemudian akhirnya saya menikah dan punya anak di sini.

Continue Reading…