Cerita Cerah Ceria (Part 1) : Dari Palembang ke Medan

Hari Senin, seperti biasa saya bangun ketika hari masih sangat gelap. Selesai berdoa and did my other morning routines, saya segera turun buat ngambil sapu, kemoceng, dan pengki. Hari ini anak-anak akan ke sekolah lebih lambat dari biasanya karena rencananya di sekolah cuma ada agenda Parents Student Teacher Conference (PSTC) yang memang selalu diadakan di tengah semester. Dalam PSTC ini, orangtua akan mendapatkan laporan dari homeroom teacher mengenai segala sesuatu tentang anak dari awal hingga tengah semester. Maksudnya diadakan di tengah semester, supaya jika ada yang perlu jadi perhatian, orangtua bisa membantu guru berupaya untuk mengatasi hal-hal yang perlu diperhatikan tersebut sebelum akhir semester.

Karena anak-anak hanya akan ke sekolah dalam rangka PSTC dan kami bakal berangkat ke Medan siangnya, maka subuh hari itu saya gak masak, cukup bersih-bersih dan beres-beres rumah aja. Sekitar jam 5 saya selesai bersih-bersih, saya pun bikin sarapan yang gampang-gampang : sup sayur, ham goreng, dan telur dadar.

Continue Reading…

Iklan

Christmas 2016: New Year With The Samosirs

Bukan dalam formasi lengkap, karena sebagian tahun baruan bukan di Medan, tapi puji Tuhan suasana tahun baru tetap terasa rame dan penuh sukacita ­čÖé

Seperti tahun-tahun sebelumnya setiap kali kami menghabiskan tahun baru di Medan, acara khusus yang harus selalu ada adalah ibadah bersama di rumah yang kemudian dilanjutkan dengan tradisi Mandok Hata.

Bagi orang dari suku Batak, Mandok Hata ini bisa dibilang sudah menjadi bagian dari keseharian, di mana setiap kali ada acara atau perkumpulan, maka hampir selalu akan dibarengi dengan Mandok Hata.

Arti Mandok Hata sendiri secara harafiah adalah menyampaikan sesuatu dengan kesungguhan hati. Karena disampaikan dengan kesungguhan hati, maka biasanya (atau mungkin malah seharusnya) hal-hal yang disampaikan dalam Mandok Hata itu bukanlah hal yang remeh temeh namun sebaliknya merupakan sesuatu yang mengandung makna sangat dalam dan diungkapkan juga dengan segenap perasaan (istilahnya BaPer…hehehe). Saking dalamnya dan penuh perasaan, maka tak jarang dalam Mandok Hata ini kita akan menemui baik pembicara maupun pendengar menitikkan air mata. Jangan salah, orang Batak memang terkenal keras, tapi dari apa yang saya lihat selama 11 tahun terakhir memiliki pasangan orang Batak, saya bisa menyimpulkan kalau kebanyakan orang dari suku ini justru mudah sekali terharu hingga menitikkan air mata, tak pandang meski kaum pria sekalipun. Aneh tapi nyata memang. Saya aja waktu awal-awal cukup takjub lihatnya, karena selama ini yang saya tau orang Batak itu keras, tapi ternyata sekeras-kerasnya, hati mereka cukup mudah terharu juga…hehe… Dan yang lebih bikin saya takjub dan salut adalah kemampuan mereka mengendalikan diri, hingga meski sedang dalam kondisi terharu, tapi tetap bisa menyampaikan sesuatu secara jelas. Takjub, karena kalo saya seperti itu, pasti yang adanya mewek doang trus udah gak sanggup ngomong lagi…hihihihihi…

Continue Reading…

Christmas 2016: Mudik Ke Medan Part 1

Hanya keajaiban yang bisa bikin si adek dalam kondisi seperti di atas mau nengok ke arah kamera :D
Ayok kita kemon…hehehe…. Btw, Hanya keajaiban yang bisa bikin si adek dalam kondisi seperti di atas mau nengok ke arah kamera ­čśÇ

Sebenarnya udah gak cocok lagi ya cerita mudik ke Medan ini dimasukkan dalam seri Christmas 2016, karena kita juga mudik ke Medan bukan lagi dalam rangka Natal melainkan Tahun Baru. Tapi kalo dipisah rasanya gak asik juga, karena Natal dan Tahun Baru buat kami udah jadi satu rangkaian perayaan. Ada Natal, berarti ada Tahun Baru. Ada Tahun Baru, berarti ada Natal. Ya sudahlah kalo begitu, walo kami ke Medan menjelang Tahun Baru, tapi anggap saja itu juga bagian dari mudik dalam rangka Natal…hehe…

Sebenarnya juga, saya sok-sokan aja ini nulis pake part-part-an, padahal aslinya gak yakin juga bisa ngejar semua cerita mudik kemarin buat didokumentasiin di sini ­čśÇ . Lagi-lagi ya sudahlah, yang penting mah udah ada niat dulu, akan terealisasi ato gak, bakal terlihat seiring waktu berjalan melalukan musim…tsaaahh! ­čśÇ

Bagian pertama dari kisah perjalanan mudik kami kemarin yang mau saya ceritain sekarang adalah tentang perjalanan perginya. Gak ada yang istimewa-istimewa banget sih sebenarnya, cuma biar lebih terorganisir maka perjalanan pergi saya khususkan seperti ini *alesan, padahal aslinya karena supaya bisa bikin update pendek aja. Kalo digabung dengan yang lain jadi panjang, sementara lagi gak ada waktu nulis panjang-panjang…huehehehe…*

Continue reading “Christmas 2016: Mudik Ke Medan Part 1”

Hole Ei8hteen Palembang

Yuhuuu….

Sudah hari Senin lagi dan kali ini saya lagi-lagi mo cerita tentang tempat makan yang baru dibuka beberapa bulan yang lalu (mungkin sekitar Maret – April) di Palembang.

Nama tempatnya adalah Hole Ei8hteen yang berlokasi di komplek apartemen The Basilica di daerah Celentang. Tau soal tempat ini dari teman trus penasaran karena sepertinya kalo dari cerita teman, tempat ini lumayan menarik.

Jadilah kami ke situ buat makan malam hari Sabtu kemarin. Nyari tempatnya mudah banget lah, walo bukan di pusat kota persis, tapi kalo buat orang Palembang tempat ini pasti gampang banget dikenali. Begitu masuk komplek apartemen The Basilica (yang belom jadi-jadi juga sampe sekarang ­čśÇ ), bangunan Hole Ei8hteen ini langsung menarik perhatian karena warnanya yang seluruhnya hijau tua dengan konstruksi agak melengkung. Aslinya saya pengen foto bangunan resto ini dari luar, tapi sayang banget Sabtu kemarin saya gak bawa HP karena si Note 5 lagi dikarantina (untuk yang kedua kalinya lhooo pemirsa, padahal itu umurnya belom ada setahun! My God, kenapa yang namanya mobile phone tuh gampang banget rusak di tangan saya?? ­čśą ), jadilah saya gak bisa leluasa foto-foto kemarin itu…hikkss….

Continue Reading…

D’Fab Social and Food

Kemarin, kami sekeluarga makan malam di D’Fab Social and Food. Ini sebenarnya bukan tempat makan yang baru di Palembang, kami aja yang baru kali ini ke sini. Tempat ini udah sering saya dengar, dan rata-rata orang yang udah pernah ke situ bilang kalo┬átempatnya bagus dan makanannya juga enak. Karena orang-orang pada bilang begitu, jadi ekspektasi saya untuk tempat ini terbilang cukup tinggi.

Kemarin kami tiba di situ sebelum jam 6 sore. Suasana di dalam restonya memang cukup cozy, terlihat cocoklah untuk nongkrong.

Harap maklum lah ya kalo si adek di foto gak liat kamera. Dia memang begitu orangnya… Harap maklum juga kalo liat dia menjelang malam gaya pake sun glasses, karena lagi-lagi, dia memang begitu orangnya..hihihihi

Daftar menunya juga lumayan bervariasi from east to west.

Continue Reading…

Letting Them Go….

Waktu itu cepat berlalu ketika dinikmati. Memang bener banget sih. Apalagi kalo waktunya cuma seminggu…beuh, rasanya hanya seperti sehari doang lewatnya.

Orangtua kami dan ponakan dari Medan datang ke sini tanggal 27 Juni dan tanggal 4 Juli kemarin udah kembali lagi ke sana. Memang mereka kalo pergi-pergi gak bisa lama-lama, karena inang (mertua perempuan) butuh treatment setiap minggu.

Rasanya barusan aja kami siap-siapin kamar ini buat amang dan inang┬á(kalo Jose, bere alias ponakan kami, bobonya bareng si abang)…

Our guest bedroom…
Temanya ijo-putih, di rumah kami, semua kamar tidur pake warna-warna terang dan bersih biar bebas nyamuk ­čśÇ
Biar tambah ‘ijo’ kasih tanaman air Sirih Gading ini, supaya suasana kamar tambah segeerr ­čśÇ

Lah kok rasanya hanya selewat aja kamar itu terisi, sekarang udah kosong lagi. Sekali lagi, waktu selama seminggu itu hampir tak terasa ­čśŽ

Continue Reading…

Homonim (Bukan Pelajaran Bahasa Indonesia)

Inget pelajaran Bahasa Indonesia jaman SD dulu tentang homonim, gak? Itu lho, kata yang penamaan, pengucapan, serta susunan hurufnya sama tetapi artinya berbeda?

Masih gak inget juga?

Ya udah lah gak apa-apa…hehehe….

Saya juga bukannya mo jelasin tentang homonim, saya cuma teringat aja soal ini saat teringat di masa dulu ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Medan.

Indonesia ini memang majemuk sekali. Salah satu kemajemukan itu terlihat dari bahasanya di mana setiap daerah dan suku punya bahasa sendiri-sendiri. Syukurlah kita punya Bahasa Indonesia ya, jadi kalo ketemu orang dari daerah lain masih bisa nyambung obrolannya, makanya memang udah betul sekali kalo Bahasa Indonesia itu disebut sebagai bahasa persatuan. Di daerah-daerah kita sekarang juga rata-rata bahasa sehari-hari yang digunakan sudah bukan lagi murni bahasa daerah tapi sudah bercampur-campur atau sudah mengadopsi Bahasa Indonesia. Tapi memang dasarnya kemajemukan itu sudah mendarah daging, bahkan ketika Bahasa Indonesia diadopsi ke dalam bahasa daerah sehari-hari, tetap saja terjadi pergeseran atau perbedaan arti meski menggunakan kata yang sama. Hal ini kadang, atau malah sering, berujung pada salah pengertian.

Saya pertama kali menginjakkan kaki di Medan adalah pada bulan Oktober┬á2007. Waktu itu statusnya masih tunangan, ke sana dalam rangka kenalan dengan keluarga besar terutama dengan keluarga adik laki-laki calon mama mertua (alias Tulang-nya pak suami) yang akan mengangkat saya sebagai boru (anak perempuannya). Tujuan pengangkatan boru itu supaya nanti pernikahan kami bisa diadatkan. Nah, dalam kunjungan perdana saya itu, beberapa kali saya jadi salah paham akibat┬ápenggunaan kata dalam Bahasa Indonesia yang mengalami pergeseran arti ketika digunakan dalam bahasa sehari-hari di┬áMedan. Kalo diinget lagi sih lucu ya, tapi dulu pas kejadian bikin malu sendiri…hehe….

Continue Reading…

Palembang – Medan – Berastagi – Medan – Palembang

Mungkin salah satu hal yang membedakan antara yang tinggal deket sama ortu/keluarga besar dan yang tinggal jauh dari ortu adalah soal perencanaan liburan.

Kalo yang tinggal deket sama orang tua cenderung punya lebih banyak opsi tempat liburan. Tapi kalo yang jauh, biasanya lebih milih liburan sekalian pulang kampung dan nengok orang tua. Ini saya ngomongnya untuk average people like us yang dana liburan per tahunnya lumayan pas-pasan, kalo buat yang punya dana liburan gede sampe dalam setahun bisa berkali-kali ke Eropa sih jelas beda lah ya ­čśÇ

Continue Reading…