Christmas 2019: The Christmas Eve

Tanggal 24 Desember, malam hari, kami sekeluarga mengadakan ibadah malam Natal bersama. Puji Tuhan, tahun ini semua bisa komplit berkumpul. Jarang-jarang lho bisa komplit semua kayak gini pas malam Natal, karena beberapa kali kejadian pas Natal gak bisa mudik bersamaan.

Persiapan buat ibadahnya sendiri sudah diatur tugas-tugasnya. Ada yang nyusun tata ibadah sama latihan untuk pengiring musik (si abang ngiringin musik juga bareng sepupu-sepupunya), ada yang nyiapin kue-kue, ada juga yang nyiapin lilin.

Continue Reading…

Christmas 2019: Ngerti gak ngerti, yang penting nonton bareng 🤣

Dirilisnya film Star Wars: The Rise of Skywalker (Star Wars Ep. IX) yang merupakan akhir dari Star Wars saga yang sudah dimulai dari sejak tahun 1977 itu di bulan Desember yang lalu, sepertinya merupakan salah satu highlight penting seantero dunia di akhir tahun kemarin.

Continue Reading…

Christmas 2019: The Wedding

Alasan utama kenapa tahun ini kami kembali merayakan Natal di Sumatera Utara adalah karena pernikahan adik ipar saya yang paling bungsu diselenggarakan beberapa hari menjelang Natal, yaitu di hari Sabtu, tanggal 21 Desember.

Seperti biasa, dokumentasinya akan ditulis secara terperinci, panjang, dan tentu saja lengkap dengan puluhan foto 🤣. Tapi tenang saja, semua fotonya berukuran file sangat kecil kok, jadi gak akan lah memakan bandwidth pemirsa 😁. Trus seperti biasa juga, berhubung yang mo diceritain banyak, maka isinya saya bagi per segmen. Dengan dibagi per segmen, selain yang baca gak capek, yang nulis juga gak bingung sendiri arah nulisnya 😆.

Continue Reading…

Recommended MUA di Medan

Pagi ini rasanya riweuh banget.

Awalnya karena si adek yang sarapannya lamaaa bener, bolak balik disuruh cepet dikit makannya, tapi tetep aja dia sarapan sampe lebih dari setengah jam, akhirnya dia baru masuk kamar mandi di jam yang biasanya kami udah berangkat 😑😑.

Padahal ya, kalo udah telat keluar dari rumah, even itu cuma 10 menit pun kayak tadi pagi, tapi bisa diprediksi kalo jalanan udah bakal padat banget. Jarak rumah – sekolah yang harusnya cuma 10 menit, bisa tuh jadi 20 menit bahkan lebih. Karena kan kalo jalanan udah rame, yang tadinya gak perlu macet bisa jadi macet. Belom lagi kalo ada orang yang ngelanggar lalu lintas saking mo buru-burunya, ini biasanya kejadian pas di ruas jalan yang gak boleh putar arah nih, banyak tuh yang ngelanggar, akhirnya mengganggu orang yang mau lurus dan gak sedikit kejadian malah kemudian senggol-senggolan, kalo sudah gitu kendaaraan-kendaraan lain di belakang otomatis jadi terganggu, tambah macet deh. Pokoknya kalo jalanan udah rame, ada ajalah yang bisa kejadian yang bikin perjalanan jadi tambah lama.

Continue Reading…

The Samosirs’ Wonderful Journey To The Samosir Island

Kalau dengar nama Samosir, pasti yang langsung terbayang adalah Pulau Samosir yang terletak di tengah Danau Toba itu, kan?

Sama sih, saya juga begitu….

Dulu…

Kalau sekarang sih sudah beda, karena tiap dengar nama Samosir, maka udah otomatis lah yaa yang langsung terlintas di benak saya adalah keluarga kami 😄.

Sejujurnya, saya baru tau kalau Samosir itu tidak hanya nama pulau namun juga adalah nama marga setelah kenal sama suami 😅. Maklum lah dari cukup banyak marga Batak yang saya tau, baru sekali itu saya nemu yang namanya marga Samosir dan kesannya dari awal langsung, “Oh, ini pasti asalnya dari Pulau Samosir, makanya namanya bisa sama gitu…. Atau malah jangan-jangan keluarga dia ini yang punya Pulau Samosir….” 🤣🤣🤣

Continue Reading…

Cerita Cerah Ceria (Part 1) : Dari Palembang ke Medan

Hari Senin, seperti biasa saya bangun ketika hari masih sangat gelap. Selesai berdoa and did my other morning routines, saya segera turun buat ngambil sapu, kemoceng, dan pengki. Hari ini anak-anak akan ke sekolah lebih lambat dari biasanya karena rencananya di sekolah cuma ada agenda Parents Student Teacher Conference (PSTC) yang memang selalu diadakan di tengah semester. Dalam PSTC ini, orangtua akan mendapatkan laporan dari homeroom teacher mengenai segala sesuatu tentang anak dari awal hingga tengah semester. Maksudnya diadakan di tengah semester, supaya jika ada yang perlu jadi perhatian, orangtua bisa membantu guru berupaya untuk mengatasi hal-hal yang perlu diperhatikan tersebut sebelum akhir semester.

Karena anak-anak hanya akan ke sekolah dalam rangka PSTC dan kami bakal berangkat ke Medan siangnya, maka subuh hari itu saya gak masak, cukup bersih-bersih dan beres-beres rumah aja. Sekitar jam 5 saya selesai bersih-bersih, saya pun bikin sarapan yang gampang-gampang : sup sayur, ham goreng, dan telur dadar.

Continue Reading…

Christmas 2016: New Year With The Samosirs

Bukan dalam formasi lengkap, karena sebagian tahun baruan bukan di Medan, tapi puji Tuhan suasana tahun baru tetap terasa rame dan penuh sukacita 🙂

Seperti tahun-tahun sebelumnya setiap kali kami menghabiskan tahun baru di Medan, acara khusus yang harus selalu ada adalah ibadah bersama di rumah yang kemudian dilanjutkan dengan tradisi Mandok Hata.

Bagi orang dari suku Batak, Mandok Hata ini bisa dibilang sudah menjadi bagian dari keseharian, di mana setiap kali ada acara atau perkumpulan, maka hampir selalu akan dibarengi dengan Mandok Hata.

Arti Mandok Hata sendiri secara harafiah adalah menyampaikan sesuatu dengan kesungguhan hati. Karena disampaikan dengan kesungguhan hati, maka biasanya (atau mungkin malah seharusnya) hal-hal yang disampaikan dalam Mandok Hata itu bukanlah hal yang remeh temeh namun sebaliknya merupakan sesuatu yang mengandung makna sangat dalam dan diungkapkan juga dengan segenap perasaan (istilahnya BaPer…hehehe). Saking dalamnya dan penuh perasaan, maka tak jarang dalam Mandok Hata ini kita akan menemui baik pembicara maupun pendengar menitikkan air mata. Jangan salah, orang Batak memang terkenal keras, tapi dari apa yang saya lihat selama 11 tahun terakhir memiliki pasangan orang Batak, saya bisa menyimpulkan kalau kebanyakan orang dari suku ini justru mudah sekali terharu hingga menitikkan air mata, tak pandang meski kaum pria sekalipun. Aneh tapi nyata memang. Saya aja waktu awal-awal cukup takjub lihatnya, karena selama ini yang saya tau orang Batak itu keras, tapi ternyata sekeras-kerasnya, hati mereka cukup mudah terharu juga…hehe… Dan yang lebih bikin saya takjub dan salut adalah kemampuan mereka mengendalikan diri, hingga meski sedang dalam kondisi terharu, tapi tetap bisa menyampaikan sesuatu secara jelas. Takjub, karena kalo saya seperti itu, pasti yang adanya mewek doang trus udah gak sanggup ngomong lagi…hihihihihi…

Continue Reading…

Christmas 2016: Mudik Ke Medan Part 1

Ayok kita kemon…hehehe…. Btw, Hanya keajaiban yang bisa bikin si adek dalam kondisi seperti di atas mau nengok ke arah kamera 😀

Sebenarnya udah gak cocok lagi ya cerita mudik ke Medan ini dimasukkan dalam seri Christmas 2016, karena kita juga mudik ke Medan bukan lagi dalam rangka Natal melainkan Tahun Baru. Tapi kalo dipisah rasanya gak asik juga, karena Natal dan Tahun Baru buat kami udah jadi satu rangkaian perayaan. Ada Natal, berarti ada Tahun Baru. Ada Tahun Baru, berarti ada Natal. Ya sudahlah kalo begitu, walo kami ke Medan menjelang Tahun Baru, tapi anggap saja itu juga bagian dari mudik dalam rangka Natal…hehe…

Sebenarnya juga, saya sok-sokan aja ini nulis pake part-part-an, padahal aslinya gak yakin juga bisa ngejar semua cerita mudik kemarin buat didokumentasiin di sini 😀 . Lagi-lagi ya sudahlah, yang penting mah udah ada niat dulu, akan terealisasi ato gak, bakal terlihat seiring waktu berjalan melalukan musim…tsaaahh! 😀

Bagian pertama dari kisah perjalanan mudik kami kemarin yang mau saya ceritain sekarang adalah tentang perjalanan perginya. Gak ada yang istimewa-istimewa banget sih sebenarnya, cuma biar lebih terorganisir maka perjalanan pergi saya khususkan seperti ini *alesan, padahal aslinya karena supaya bisa bikin update pendek aja. Kalo digabung dengan yang lain jadi panjang, sementara lagi gak ada waktu nulis panjang-panjang…huehehehe…*

Lanjutkan membaca “Christmas 2016: Mudik Ke Medan Part 1”

Hole Ei8hteen Palembang

Yuhuuu….

Sudah hari Senin lagi dan kali ini saya lagi-lagi mo cerita tentang tempat makan yang baru dibuka beberapa bulan yang lalu (mungkin sekitar Maret – April) di Palembang.

Nama tempatnya adalah Hole Ei8hteen yang berlokasi di komplek apartemen The Basilica di daerah Celentang. Tau soal tempat ini dari teman trus penasaran karena sepertinya kalo dari cerita teman, tempat ini lumayan menarik.

Jadilah kami ke situ buat makan malam hari Sabtu kemarin. Nyari tempatnya mudah banget lah, walo bukan di pusat kota persis, tapi kalo buat orang Palembang tempat ini pasti gampang banget dikenali. Begitu masuk komplek apartemen The Basilica (yang belom jadi-jadi juga sampe sekarang 😀 ), bangunan Hole Ei8hteen ini langsung menarik perhatian karena warnanya yang seluruhnya hijau tua dengan konstruksi agak melengkung. Aslinya saya pengen foto bangunan resto ini dari luar, tapi sayang banget Sabtu kemarin saya gak bawa HP karena si Note 5 lagi dikarantina (untuk yang kedua kalinya lhooo pemirsa, padahal itu umurnya belom ada setahun! My God, kenapa yang namanya mobile phone tuh gampang banget rusak di tangan saya?? 😥 ), jadilah saya gak bisa leluasa foto-foto kemarin itu…hikkss….

Continue Reading…

D’Fab Social and Food

Kemarin, kami sekeluarga makan malam di D’Fab Social and Food. Ini sebenarnya bukan tempat makan yang baru di Palembang, kami aja yang baru kali ini ke sini. Tempat ini udah sering saya dengar, dan rata-rata orang yang udah pernah ke situ bilang kalo tempatnya bagus dan makanannya juga enak. Karena orang-orang pada bilang begitu, jadi ekspektasi saya untuk tempat ini terbilang cukup tinggi.

Kemarin kami tiba di situ sebelum jam 6 sore. Suasana di dalam restonya memang cukup cozy, terlihat cocoklah untuk nongkrong.

Harap maklum lah ya kalo si adek di foto gak liat kamera. Dia memang begitu orangnya… Harap maklum juga kalo liat dia menjelang malam gaya pake sun glasses, karena lagi-lagi, dia memang begitu orangnya..hihihihi

Daftar menunya juga lumayan bervariasi from east to west.

Continue Reading…