Suami (masih) Posesif tapi (tetap) Manis :P

Ada beberapa search term yang paling sering masuk dan bisa dibilang tiap hari ada dalam daftar statistik di blog ini. Soal masak memasak tentu menempati urutan pertama, apalagi soal menu masak…beuuhh…itu segala macam search term yang berkaitan soal masak apa hari ini masuk ke statistik 😅. Dilanjut tentang MPASI, slow cooker, dan kompor listrik. Ketahuan memang blog mamak-mamak banget ya kaaann… 😀 . Tapi ternyata, di antara top search terms yang didominasi urusan dapur itu, ada satu yang beda sendiri, yaitu ‘kisah suami posesif’. Search term ini tiap hari masuk dalam daftar di statistik blog lho, sampe pernah saya iseng nyari di google ‘cerita suami posesif’, eh ternyata bener, tulisan saya yang ini muncul di halaman pertama, pantaslah kalo banyak yang mencari soal suami posesif jadi nyasar ke blog ini.

Tapi kalo yang diharapkan adalah cerita mengenai sisi negatif suami posesif, tentu aja gak akan didapat ya di blog ini. Karena yang punya blog ini mah suaminya posesif-posesif manis…hehehe…

Continue Reading…

Iklan

Setelah 10 Tahun

Bulan Maret lalu, saya dan suami genap 10 tahun berumah tangga. 10 tahun yang lalu, kami berdua berdiri di depan altar, mengucapkan janji pernikahan untuk saling mencintai, menghormati, dan menjaga. Waktu itu sama sekali tidak terbayang bahwa kami kemudian akan jadi orangtua dari dua anak laki-laki yang luar biasa, berpindah dari rumah kontrakan ke rumah sendiri di pinggiran kota sebelum kemudian pindah lagi ke rumah di tengah kota, bergumul dengan persoalan rumah tangga yang kadang terlihat sederhana dan bila diingat lagi bikin ketawa tapi yang ketika dijalani apalagi saat penat ternyata bisa sangat menguji kesabaran.

Dalam 10 tahun mengarungi pernikahan ini, kami sudah belajar sangat banyak terutama tentang perjuangan menjaga apa yang kami miliki. Meski kami mengawali pernikahan ini dengan cinta dan walaupun kami memiliki visi dan pandangan hidup yang selaras mengenai rumah tangga, namun yang namanya perbedaan itu tetap ada. Dan cinta pun tetap butuh diperjuangkan melalui komunikasi dan perhatian agar tetap kokoh bahkan semakin berakar kuat pada tempatnya, yaitu hati kami masing-masing. Di atas semuanya kami belajar bahwa dengan kasih Tuhan semuanya mungkin, termasuk menjaga cinta tetap membara meski telah 10 tahun bersama-sama dan telah tau segala seluk – beluk – fisik – mental – luar – dalam pasangan.

10 tahun menikah, banyak yang telah berubah di hidup kami, namun ada beberapa hal yang tetap sama dan tetap ada di situ. Kami masih bisa tertawa untuk candaan gak mutu yang hanya kami berdua aja yang bisa paham. Kami masih saling panggil ‘sayang’ dan kalimat ‘I love you’ masih selalu jadi kalimat terakhir setiap kami bertelepon. Dia masih gak bisa santai jika ada laki-laki lain yang mau coba-coba kasih perhatian ke saya pada level di mana menurutnya hanya dia yang bisa punya hak untuk itu. Dia masih suka kasih kejutan, salah satunya lewat bunga, dan masih mampu berkata-kata mesra untuk istrinya. Dan perhatiannya itu, itu yang paling saya hargai karena benar-benar meyakinkan saya bahwa yang dia rasakan ke saya dari dulu hingga sekarang masih sama, bahkan bertambah dalam.

Beberapa waktu lalu, saya sakit. Gak berat, hanya batuk pilek saja. Tapi virusnya lumayan bikin tepar, apalagi karena saya sama si adek udah macam main bola pingpong, saling lempar-lemparan virus. Jadilah saya habis sakit, sembuh, eh kena sakit lagi. Suami, gak tahan liat saya bolak-balik sakit, tanpa diminta dia memutuskan meninggalkan semua kesibukan kerjaan di unitnya untuk stay di rumah. Saya disuruhnya istirahat full dan gak boleh ngerjain apapun…apapun itu! Semua urusan rumah dan anak-anak dia yang lakukan. Gak cuma nyuruh saya istirahat total, tapi dia juga ngurusin saya lewat hal-hal simpel tapi manis, semisal selalu siap sedia kasih saya minum setiap saya terbatuk-batuk, nyiapin air mandi hangat, atau mijetin saya setiap saya mau tidur siang dan tidur malam. Awww…isn’t he so sweet?

10 tahun bersama dia, memang tidak semuanya berbunga-bunga. Kadang duri juga hadir di situ. Tapi puji Tuhan, karena bahkan kehadiran duri  itu pun ternyata untuk menyempurnakan semua di antara kami. Dan yes, itulah pelajaran terbesar selama 10 tahun ini, bahwa pernikahan yang sempurna bukanlah yang tanpa gejolak, sebaliknya yang sanggup tetap saling menjaga meski ada air mata yang harus jatuh…. Saya dan suami, kami tidak selalu bisa berdekatan, tuntutan kehidupan sering memaksa kami berjauhan. Namun 10 tahun berjalan bersamanya, saya tau, baik dekat maupun jauh, ikatan di antara kami akan tetap sama kuatnya. Amin…

PS:

Out of nowhere, tiba-tiba muncul di blog malam-malam gini dengan tulisan yang rada-rada lebay, mungkin karena pengaruh kangen…jadi maklumkan aja yaaa 😀 😀

How’s Life?

Halooooo bloooggg!!!

Astagaaa….udah Februari lho ini! Ya ampun, kemana aja dari akhir tahun sampe awal tahun ini??? Kasian amat ini blog ya, makin lama makin gak keurus. Satu demi satu cerita ditunda buat ditulis di sini, sampe akhirnya numpuk-numpuk deh semua. Yang soal dapur lah, Natal lah, Tahun Baru lah, ultah abang lah…aaarrggghhh….banyaaaakkk!!! Huhuhuhu….

Jadi selama gak hadir di sini, apa kabarnya hidup kami??

Continue Reading…

Christmas 2016: Our Family Pictures!

Semalam, setelah tertunda selama beberapa hari, jadi juga akhirnya kami berfoto keluarga di depan pohon Natal. Kami baru bisa berfoto sekarang karena baru kemarin saya nemu baju Natal yang sesuai dengan tema warna kami tahun ini yaitu kuning 😀 .

Agak kurang kerjaan memang saya memilih kuning sebagai tema warna baju kami tahun ini. Tadinya sih pertimbangannya biar kontras dengan warna dekorasi Natal di rumah yang dominan ungu dan juga biar agak beda karena kuning menurut saya termasuk warna yang jarang dipakai di hari Natal.

Dan pendapat saya itu terbukti benar kok.

Continue Reading…

Olahraga Asik Bareng Papa

Salah satu hal yang sangat saya syukuri dari pribadi pak suami adalah dia termasuk tipikal bapak yang selalu berusaha punya waktu untuk keluarga, tentu saja termasuk punya waktu bermain bersama anak-anak. Salah satu kegiatan yang cukup sering bahkan rutin dilakukan suami bersama anak-anak adalah olahraga bersama.

Sekarang ini memang suami saya badannya udah gak seatletis dulu, liat aja perutnya sekarang yang tambah sexy karena bentuknya yang semakin ke arah one pack…hihihihi… Tapi dia masih seneng olahraga kok, cuma beda dengan dulu waktu sebelum menikah, sekarang dia lebih memilih olahraga sambil menghabiskan waktu bersama kami.

Continue Reading…

Love To See You Laugh….

Beberapa hari yang lalu, saat di jalan pulang dari kantor menuju rumah.

Waktu itu karena bertepatan dengan hari les piano si abang, yang mana les pianonya selesai sore, jadi si abang juga pulang bersama kami.

Seperti biasa, kami ngobrol-ngobrol santai, dan seperti biasa juga sambil ketawa-ketawa, karena kebiasaan suami tuh suka konyol, hal sederhana di sekeliling aja bisa dibikinnya jadi lucu dan buat saya ketawa. Trus tiba-tiba si abang yang duduk di belakang ngomong begini, “Ma, you know, sometimes I really want to be like papa.

Continue Reading…

Yes, I Know, Baby!

Belum lama ini, saya dan suami ‘pacaran’ di salah satu tempat nongkrong baru di Palembang. Waktu kami masuk di situ, sudah ada dua meja lainnya yang terisi. Yang satu terisi oleh dua orang engkoh yang lagi minum bir. Meja satunya lagi terisi oleh 4 orang laki-laki (kayaknya usianya 20an – 30an gitu) yang lagi minum sambil main kartu.

Karena posisinya yang lebih nyaman, kami milih duduk di meja dekat 4 orang itu dengan posisi saya menghadap langsung ke arah mereka dan juga menghadap ke arah jendela keluar.

Continue Reading…

Periode Sensi: Because Women were BORN to be Moody!

Sebagai cewek, udah wajar kayaknya kalo tiap bulan ngalamin yang namanya periode sensi akibat menstrual cycle. Biasanya pas lagi periode itu, perempuan jadi jauh lebih sensitif hingga lebih mudah ngerasa tersinggung, sedih, atau marah. Hal yang kecil saja bisa membangkitkan emosi yang sedemikian besar buat perempuan dalam periode ini, cocok banget lah kondisi ini kalo diistilahkan dengan “senggol bacok” 😀 .

Saya sendiri sebenarnya dulu gak begitu memperhatikan perubahan mood yang terjadi di diri saya, terutama ketika masuk dalam periode menjelang masa menstruasi hingga di awal menstruasi, yang saya sebut dengan periode sensi itu. Mungkin, karena sebelum-sebelum ini periode itu tidak terlalu menyebabkan gangguan buat saya terutama dalam hubungan dengan orang lain, kecuali ketika saya memang sedang berada dalam kondisi yang down seperti yang pernah saya ceritain di sini.

Periode sensi itu baru kemudian jadi perhatian banget buat saya setelah saya kembali mengalami siklus menstruasi sehabis melahirkan si adek.

Jadi perhatian, karena ternyata periode itu sering menyebabkan terjadinya masalah antara saya dan suami.

Continue Reading…

Precious Things in Life

Lagi semangat banget menyambut weekend nih.

Salah satunya, karena di weekend ini, drama Korea Marriage Contract yang lagi saya ikutin bakal berakhir….cihuuyy!!! Semoga sih gak ada perubahan ya, emang bener-bener tuh drama bakal berakhir di episode ke 16 dan lebih lagi, semoga happy ending…secara ya, air mata saya udah banyak keluar di episode 14, jangan sampelah air mata saya lebih banyak lagi keluar karena berakhir menyedihkan…huhuhuhuhu….

Sumber gambar dari sini

Continue Reading…

Baru…

Hidup itu memang selalu penuh dengan kejutan dan yak, lagi-lagi kami sekeluarga harus menghadapi perubahan dalam keseharian kami. Perubahan ini kata sebagian orang di dekat kami disebut berat, mereka bahkan mendoakan kami untuk sabar dan kuat menjalaninya.

Kami bersyukur mereka mendoakan kami, karena memang kami benar-benar butuh itu. Tapi di sisi lain kami sendiri gak merasakan ini sebagai sesuatu yang berat. Yang kami lakukan ini memang sudah seharusnya seperti itu, inilah peran yang paling tidak adalah yang terbaik yang bisa kami lakukan untuk orang-orang tersayang dalam hidup kami, setidaknya untuk sekarang. Kehidupan baru yang telah terbit, semuanya hanya karena Tuhan yang ijinkan. Meski mungkin akan berat ke depannya, tapi Tuhan pasti punya rencana yang indah untuk semuanya.

Kami, entah bagaimana, menjalaninya dengan sukacita.

Continue reading “Baru…”