How’s Life?

Halooooo bloooggg!!!

Astagaaa….udah Februari lho ini! Ya ampun, kemana aja dari akhir tahun sampe awal tahun ini??? Kasian amat ini blog ya, makin lama makin gak keurus. Satu demi satu cerita ditunda buat ditulis di sini, sampe akhirnya numpuk-numpuk deh semua. Yang soal dapur lah, Natal lah, Tahun Baru lah, ultah abang lah…aaarrggghhh….banyaaaakkk!!! Huhuhuhu….

Jadi selama gak hadir di sini, apa kabarnya hidup kami??

Continue Reading…

Iklan

Tentang Piano Masterclass dan Tentang Mengajari Anak

Hari Senin yang lalu, pagi-pagi guru musik si abang ngabarin saya kalo sekolah musiknya kembali membuka piano masterclass untuk hari Selasa tanggal 30 Mei (kemarin). Ini adalah piano masterclass ketiga yang diadakan di sekolah musik si abang. Yang pertama si abang ikut sementara yang kedua gak ikut karena saya gak bisa nganterin. Untuk yang ketiga ini karena waktunya bisa saya atur, maka begitu ditanya oleh gurunya apa mau ikutan atau gak, saya langsung bilang mau.

Sesuai dengan namanya, piano masterclass adalah kelas piano di mana yang ngajar adalah yang sudah master dalam dunia per-piano-an. Kelas pertama sebelumnya yang ngajar adalah seorang bapak (kita sebut saja Mr. M yaaa) yang kuliah S1 – S3 di bidang musik, kalo gak salah waktu itu yang merekomendasikan beliau ke sekolah musik si abang adalah dari pihak penyelenggara salah satu event kompetisi piano.

Sementara, di kelas kedua dan yang ketiga kemarin, pengajarnya adalah Stephen Kurniawan Tamadji.

Hayooo…yang seangkatan sama saya, kenal gak sama nama itu??

Continue Reading…

Christmas 2016: Our Family Pictures!

Semalam, setelah tertunda selama beberapa hari, jadi juga akhirnya kami berfoto keluarga di depan pohon Natal. Kami baru bisa berfoto sekarang karena baru kemarin saya nemu baju Natal yang sesuai dengan tema warna kami tahun ini yaitu kuning ūüėÄ .

Agak kurang kerjaan memang saya memilih kuning sebagai tema warna baju kami tahun ini. Tadinya sih pertimbangannya biar kontras dengan warna dekorasi Natal di rumah yang dominan ungu dan juga biar agak beda karena kuning menurut saya termasuk warna yang jarang dipakai di hari Natal.

Dan pendapat saya itu terbukti benar kok.

Continue Reading…

Olahraga Asik Bareng Papa

Salah satu hal yang sangat saya syukuri dari pribadi pak suami adalah dia termasuk tipikal bapak yang selalu berusaha punya waktu untuk keluarga, tentu saja termasuk punya waktu bermain bersama anak-anak. Salah satu kegiatan yang cukup sering bahkan rutin dilakukan suami bersama anak-anak adalah olahraga bersama.

Sekarang ini memang suami saya badannya udah gak seatletis dulu, liat aja perutnya sekarang yang tambah sexy karena bentuknya yang semakin ke arah one pack…hihihihi… Tapi dia masih seneng olahraga kok, cuma beda dengan dulu waktu sebelum menikah, sekarang dia lebih memilih olahraga sambil menghabiskan waktu bersama kami.

Continue Reading…

Love To See You Laugh….

Beberapa hari yang lalu, saat di jalan pulang dari kantor menuju rumah.

Waktu itu karena bertepatan dengan hari les piano si abang, yang mana les pianonya selesai sore, jadi si abang juga pulang bersama kami.

Seperti biasa, kami ngobrol-ngobrol santai, dan seperti biasa juga sambil ketawa-ketawa, karena kebiasaan suami tuh suka konyol, hal sederhana di sekeliling aja bisa dibikinnya jadi lucu dan buat saya ketawa. Trus tiba-tiba si abang yang duduk di belakang ngomong begini, “Ma, you know, sometimes I really want to be like papa.

Continue Reading…

Ketika Isi Blog Diprotes Anak

Ceritanya semalam si abang baca cerita saya di blog ini tentang kesukaan abang dan adek sama Thomas and Friends yang kemarin itu.

Eh, baru juga masuk di paragraf kedua dia udah protes, “Jatuh cinta? You should change the words jatuh cinta, ma, don’t use it!”

Denger dia protes gitu, saya bingung trus nanya, “Why? What’s wrong with jatuh cinta?”

Si abang jawab lagi, “Because it’s jatuh and cinta, it’s negative and positive. Jatuh negatif. Cinta positif. Kenapa cinta harus jatuh?¬†I don’t like that kind of words. Love is love, love shouldn’t fall. Tulis aja cinta banget atau suka banget, ma, jangan jatuh cinta.”

Continue Reading…

Good Things about Thomas and Friends

Yang udah lama ngikutin cerita kami di blog ini, pasti sedikit banyak udah tau kalo anak-anak saya tuh suka pake banget sama yang namanya Thomas and Friends.

Awalnya memang dari si abang. Sejak usianya 1 tahun 7¬†bulan tuh dia udah suka banget¬†sama Thomas and Friends. Waktu itu dia memang masih kecil sekali, tapi sejak pertama dia nonton salah satu seri ¬†yang judulnya Splish, Splash, Splosh, dia seperti langsung ngerasa ada keterikatan dengan Sodor’s Tank Engine itu, makanya ketika ke Kidz Station pun dia langsung nunjuk mainan-mainan kereta Thomas dan temen-temennya. Dan sejak saat itulah kami mengoleksi Sodor’s Tank Engine dan segala asesorisnya.

Biasanya ya, anak-anak di atas usia 5 tahun yang dulunya seneng sama Thomas and Friends kemudian akan meninggalkan kesukaan itu. Banyak teman yang ngomong begitu. Anak mereka yang dulu suka banget sama Thomas, akhirnya beralih kesukaan ke superhero setelah usianya lewat 5 tahun.

Continue reading “Good Things about Thomas and Friends”

Mendampingi Anak

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman bercerita ke saya tentang keputusan yang dalam waktu dekat ini harus dia ambil. Keputusan itu adalah tentang anaknya yang harus pergi keluar kota dengan pesawat untuk mengikuti perlombaan di mana dia terpaksa tidak ikut mendampingi anaknya. FYI, anaknya masih duduk di kelas 2 SD dan selain anaknya, ada sekitar belasan anak lainnya yang ikut. Perlombaan ini bukan perlombaan sekolah, melainkan membawa nama pribadi. Rencananya, anaknya tersebut akan dititipkan pada salah orangtua lainnya. Di antara rombongan yang ikut perlombaan tersebut, hanya anak teman saya ini saja yang tidak didampingi oleh orangtua.

Saya kaget denger dia cerita gitu.

Saya tanya, memang kenapa sampe harus kayak gitu?

Teman saya kemudian cerita kondisinya. Dia punya 3 anak, yang mo lomba itu anaknya yang paling besar, dilanjutkan dengan anak kedua yang hanya selisih setahun di bawah, dan terakhir yang paling kecil masih bayi dengan usia belum genap setahun. Dia bilang dia repot sekali kalo harus ikut mendampingi yang sulung, karena itu artinya yang nomor dua dan nomor tiga juga harus ikut yang mana itu juga artinya harus ngorbanin kegiatan sekolah dan kegiatan lain-lainnya si nomor dua.

Gimana dengan suaminya?

Dia bilang pas hari perlombaan itu bentrok dengan jadwal di kerjaan suaminya.

Saya tanya lagi, menurut dia apa gak apa-apa tuh anaknya pergi sendiri kayak gitu? Meski dititipkan sama orangtua yang lain, tapi kan tetep aja yaaa…rasanya gimanaa gitu.

Teman saya ini bilang, dia percaya sama anaknya. Menurutnya anaknya itu sudah cukup besar untuk mandiri dan mengurus dirinya sendiri.

Continue Reading…