Diproteksi: Si Adek dan Sekolah

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Iklan

Dikiranya….

Pengen semangat ngeblog lagi, pengen cerita soal liburan belum lama ini, pengen blog walking, pengen ini, pengen itu, tapi waktunya belum pas…hehehe… Jadi sekarang mau cerita yang ringan-ringan dan singkat-singkat saja sambil nunggu agenda berikutnya yang harus saya lakukan hari ini.

Continue Reading…

Tentang Piano Masterclass dan Tentang Mengajari Anak

Hari Senin yang lalu, pagi-pagi guru musik si abang ngabarin saya kalo sekolah musiknya kembali membuka piano masterclass untuk hari Selasa tanggal 30 Mei (kemarin). Ini adalah piano masterclass ketiga yang diadakan di sekolah musik si abang. Yang pertama si abang ikut sementara yang kedua gak ikut karena saya gak bisa nganterin. Untuk yang ketiga ini karena waktunya bisa saya atur, maka begitu ditanya oleh gurunya apa mau ikutan atau gak, saya langsung bilang mau.

Sesuai dengan namanya, piano masterclass adalah kelas piano di mana yang ngajar adalah yang sudah master dalam dunia per-piano-an. Kelas pertama sebelumnya yang ngajar adalah seorang bapak (kita sebut saja Mr. M yaaa) yang kuliah S1 – S3 di bidang musik, kalo gak salah waktu itu yang merekomendasikan beliau ke sekolah musik si abang adalah dari pihak penyelenggara salah satu event kompetisi piano.

Sementara, di kelas kedua dan yang ketiga kemarin, pengajarnya adalah Stephen Kurniawan Tamadji.

Hayooo…yang seangkatan sama saya, kenal gak sama nama itu??

Continue Reading…

Stay Organized With Wunderlist

Aloha April!!

Gak kerasa udah April aja ya dan selama bulan Maret saya cuma sekali aja dong nulis di sini…huehehehe…. Sebulan terakhir ini memang saya lagi disibukkan terutama oleh kerjaan kantor yang bikin waktu luang di rumah pun harus saya pake untuk kerja, jadi yah gitu deh saya jadi sama sekali gak bisa ngeblog, padahal kangen banget. Buat ngobatin kangen nulis, IG jadi sasarannya, tapi itu pun ternyata gak bisa nulis sepanjang dan sebanyak yang saya mau. Lagi-lagi karena waktu…waktu…dan waktu. Ya habis waktu selama 24 jam musti dibagi untuk urusan rumah, anak-anak, kerjaan, diri sendiri (baca: tidur-mandi-dandan), dan tentu saja drama Korea…hihihihi…tetep yah kalo soal ini mah, sesibuk apapun disempet-sempetin deh bisa nonton drama 😀 .

Puji Tuhan sekarang ini kerjaan yang dikejar target itu bisa dibilang udah selesai, jadi udah bisa lega dikit, makanya sekarang bisa cerita deh di sini. Dan kali ini saya mau cerita tentang satu aplikasi to-do list manager yang sudah hampir setahun terakhir ini menemani saya.

Aplikasi yang saya maksud itu bernama Wunderlist.

Continue Reading…

Christmas 2016: New Year With The Samosirs

Bukan dalam formasi lengkap, karena sebagian tahun baruan bukan di Medan, tapi puji Tuhan suasana tahun baru tetap terasa rame dan penuh sukacita 🙂

Seperti tahun-tahun sebelumnya setiap kali kami menghabiskan tahun baru di Medan, acara khusus yang harus selalu ada adalah ibadah bersama di rumah yang kemudian dilanjutkan dengan tradisi Mandok Hata.

Bagi orang dari suku Batak, Mandok Hata ini bisa dibilang sudah menjadi bagian dari keseharian, di mana setiap kali ada acara atau perkumpulan, maka hampir selalu akan dibarengi dengan Mandok Hata.

Arti Mandok Hata sendiri secara harafiah adalah menyampaikan sesuatu dengan kesungguhan hati. Karena disampaikan dengan kesungguhan hati, maka biasanya (atau mungkin malah seharusnya) hal-hal yang disampaikan dalam Mandok Hata itu bukanlah hal yang remeh temeh namun sebaliknya merupakan sesuatu yang mengandung makna sangat dalam dan diungkapkan juga dengan segenap perasaan (istilahnya BaPer…hehehe). Saking dalamnya dan penuh perasaan, maka tak jarang dalam Mandok Hata ini kita akan menemui baik pembicara maupun pendengar menitikkan air mata. Jangan salah, orang Batak memang terkenal keras, tapi dari apa yang saya lihat selama 11 tahun terakhir memiliki pasangan orang Batak, saya bisa menyimpulkan kalau kebanyakan orang dari suku ini justru mudah sekali terharu hingga menitikkan air mata, tak pandang meski kaum pria sekalipun. Aneh tapi nyata memang. Saya aja waktu awal-awal cukup takjub lihatnya, karena selama ini yang saya tau orang Batak itu keras, tapi ternyata sekeras-kerasnya, hati mereka cukup mudah terharu juga…hehe… Dan yang lebih bikin saya takjub dan salut adalah kemampuan mereka mengendalikan diri, hingga meski sedang dalam kondisi terharu, tapi tetap bisa menyampaikan sesuatu secara jelas. Takjub, karena kalo saya seperti itu, pasti yang adanya mewek doang trus udah gak sanggup ngomong lagi…hihihihihi…

Continue Reading…

Miracle is Everywhere

Break dulu ya dari cerita soal Natal dan mudik ke Medan. Hari ini saya mau cerita tentang sebuah kejadian yang termasuk ‘sederhana’ tapi sebenarnya mengingatkan bahwa yang namanya mujizat, keajaiban, serta pertolongan Tuhan itu selalu ada di mana-mana dan selalu merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

Ceritanya tadi pagi, seperti biasa di rumah kami kalo udah jam 5 tuh udah rame karena anak-anak udah pada bangun. Seperti biasa juga, si abang setelah bangun kemudian berdoa dilanjut pipis, akan turun ke ruang makan untuk sarapan. Sementara si adek, karena dia masih belum sekolah maka kegiatannya setelah bangun di pagi hari masih random. Kadang langsung main. Kadang belajar dan baca buku. Kadang ngintilin abangnya. Tapi lebih sering ngerecokin aktivitas mamanya yang lagi bersiap mo ke kantor.

Continue Reading…

Christmas 2016: Our Family Pictures!

Semalam, setelah tertunda selama beberapa hari, jadi juga akhirnya kami berfoto keluarga di depan pohon Natal. Kami baru bisa berfoto sekarang karena baru kemarin saya nemu baju Natal yang sesuai dengan tema warna kami tahun ini yaitu kuning 😀 .

Agak kurang kerjaan memang saya memilih kuning sebagai tema warna baju kami tahun ini. Tadinya sih pertimbangannya biar kontras dengan warna dekorasi Natal di rumah yang dominan ungu dan juga biar agak beda karena kuning menurut saya termasuk warna yang jarang dipakai di hari Natal.

Dan pendapat saya itu terbukti benar kok.

Continue Reading…

The Pitstop Palembang

Hari Sabtu, tanggal 19 November lalu, tanpa direncanain kami singgah makan di The Pitstop Palembang. Sering banget lewat tempat ini karena lokasinya berada di Simpang Bandara, cuma baru sekali ini mampir. Itu pun seperti kata saya tadi, tidak direncanakan sebelumnya. Pas aja hari Sabtu itu kami lagi ada perlu ke daerah situ, trus karena udah deket jam makan siang, suami ngajak makan di The Pitstop. Saya langsung oke, karena memang udah penasaran juga tempatnya seperti apa.

The Pitstop ini tempatnya buesaarr, makanya memang jadi perhatian banget kalo kita menuju ke bandara. Isinya gak cuma resto, tapi juga ada showroom mobil, bengkel, dan sekilas saya lihat ada tempat cuci mobilnya juga. Selain itu di tempat ini juga ada meeting room, wine cellar, cigar room, serta sky bar. Karena isinya banyak, maka gak heran lah ya kalo ukuran gedung dan areanya juga gede banget.

Continue Reading…