2:22

 

Sumber gambar dari sini

Film keluaran tahun lalu yang baru saya tonton sekarang di Fox Movie. Ceritanya tentang seorang air traffic controller bernama Dylan Branson yang satu kali ketika lagi bertugas tiba-tiba mendapat semacam vision yang bikin konsentrasinya buyar hingga mengakibatkan hampir bertabrakannya dua pesawat yang mana yang satu lagi mau landing sementara satunya lagi mau take-off. Untunglah si Dylan ini orangnya pintar dan otaknya cepet banget melakukan kalkulasi matematis (dia lulusan terbaik dari NYU, punya ijin terbang, tapi gak mau jadi pilot karena takut terbang), jadi di last minute dia bisa ambil keputusan untuk kedua pilot sehingga tabrakan bisa dihindari. Namun sekalipun hari itu bisa diamankan, namun kejadian konsentrasi dia buyar ketika lagi bertugas bikin dia di-suspend dari pekerjaannya selama 4 minggu.

Continue Reading…

Iklan

Baru…

Hidup itu memang selalu penuh dengan kejutan dan yak, lagi-lagi kami sekeluarga harus menghadapi perubahan dalam keseharian kami. Perubahan ini kata sebagian orang di dekat kami disebut berat, mereka bahkan mendoakan kami untuk sabar dan kuat menjalaninya.

Kami bersyukur mereka mendoakan kami, karena memang kami benar-benar butuh itu. Tapi di sisi lain kami sendiri gak merasakan ini sebagai sesuatu yang berat. Yang kami lakukan ini memang sudah seharusnya seperti itu, inilah peran yang paling tidak adalah yang terbaik yang bisa kami lakukan untuk orang-orang tersayang dalam hidup kami, setidaknya untuk sekarang. Kehidupan baru yang telah terbit, semuanya hanya karena Tuhan yang ijinkan. Meski mungkin akan berat ke depannya, tapi Tuhan pasti punya rencana yang indah untuk semuanya.

Kami, entah bagaimana, menjalaninya dengan sukacita.

Continue reading “Baru…”

The Song

Lagi nunggu suami buat pulang nih dan jadi pengen nulis di sini tentang film.

Tadinya mo nulis tentang Kung Fu Panda 3.

Tapi pikir-pikir kalo Kung Fu Panda 3 pasti udah banyak yang cerita. Pengennya sih kalo bisa cerita tentang film yang belom banyak diceritain orang. Teringatlah saya pada satu film yang saya dan suami tonton di channel HBO Signature sekitar kurang lebih 4-5 minggu yang lalu (udah lama juga ya nontonnya..hahaha).

Judulnya adalah The Song.

Tadinya kami mengira film ini sekedar drama romantis yang isinya ada cowok ganteng dan cewek cantik. Tapi makin ditonton kok rasanya kalimat-kalimat yang diucapkan oleh para tokoh terutama tokoh utama cowoknya tuh terasa familiar.

Continue Reading…

Inside Out, Sama Sekali Bukan Review :p

Udah lama tau tentang film ini, udah tau juga kalo film ini mulai tayang di bioskop Indonesia sejak 19 Agustus yang lalu. Tapi baru seminggu yang lalu kepikiran ngajak anak-anak nonton film ini setelah si abang sambil lalu ngomong ke saya waktu dia lagi sikat gigi sebelum bobo, “Ma, you know what? All my friends have already watched Inside Out…

Dia memang cuma ngomong gitu aja. Gak ada dia minta supaya diajak nonton juga seperti teman-temannya. Tapi denger dia ngomong gitu, otomatis lah yaaa ada dorongan untuk langsung bilang, “Oh really? That’s ok, because you will also watch that this weekend.

Continue Reading…

Love Comes Softly, After Marriage

Setelah kemarin cerita tentang yang ngilu-ngilu, sekarang pengen cerita yang manis-manis aaahh….

Kali ini pengen cerita tentang film-film yang bertema arranged marriage alias forced marriage alias without-love marriage.

Tema film seperti ini adalah salah satu tema film yang saya suka. Biasanya kalo lagi nyari-nyari film yang pengen ditonton trus nemu sinopsis film yang nyangkut-nyangkut ke soal beginian (asal bukan film setipe Siti Nurbaya yang mana ceweknya cantik sementara suaminya udah tua bangka ya), maka udah hampir dipastikan bahwa itu film bakal masuk dalam daftar buat saya tonton.

Nah, so far ada beberapa film yang berkisah tentang orang-orang yang menikah tanpa cinta tapi kemudian dalam perjalanannya, seperti yang udah bisa diprediksi, mereka kemudian saling jatuh cinta.

Iya, memang rata-rata predictable banget, tapi kalo mo ngarepin sesuatu yang twisted, pake mikir lama, penuh konflik, serta penuh ketegangan, maka jangan nonton film romance kayak ginian.

Setiap genre film atau tontonan ada tujuan dan kekhasannya masing-masing. Target audience-nya pun beda-beda. Tinggal kita aja sebagai penonton yang menempatkan diri sesuai dengan itu. Harapan yang kita beri dalam sebuah film pun harusnya sesuai lah dengan genrenya. Jangan ngarepin pohon mangga berbuah apel, jadi jangan pula ngarepin ada intrik mematikan dalam sebuah film sweet romance 🙂

Continue Reading…

Yang Bikin Ngilu

Sekitar dua atau mungkin tiga minggu yang lalu, saya janji ke Maria buat cerita tentang beberapa film yang bikin saya ngilu. Kalo udah sampe bikin hati ngilu gitu, berarti udah pasti itu film bukan film romantis lah ya. Ya paling gak jauh-jauh dari crimethriller dan horor.

O ya, adakah yang tau apa bedanya film thriller (thriller nih bahasa Indonesia-nya apa sih?) dan film horor?

Saya sendiri gak tau pasti di mana letak perbedaan kedua genre film itu. Karena yang disebut bergenre horor bisa jadi thrilling, sementara yang disebut bergenre thriller bisa jadi horor juga, hehe…

Cuma mungkin kalo saya perhatiin, rata-rata (gak berani bilang semua) kalo yang disebut horor itu fokusnya ada di korban alias filmnya dari perspektif si korban. Yang dieskpos adalah ketakutan dan kengerian si korban sehingga yang nonton pun jadi terbawa oleh rasa takut dan ngeri yang dirasakan si korban. Si pelaku alias si jahat sendiri (entahkah dalam bentuk manusia atau hantu atau setengah manusia setengah hantu…hehehe), biasanya jarang diekspos perspektifnya. Pokoknya jahat ya jahat aja. Menyeramkan ya menyeramkan aja.

Sementara kalo film thriller biasanya perspektif pelaku juga diekspos, sehingga ketahuan apa motif dan latar belakangnya. Kengerian yang mo disalurkan ke penonton bukan hanya berdasarkan dari rasa takut dan ngeri yang dirasakan korban, tapi karena penonton juga diperhadapkan pada kengerian karena tau (atau paling tidak menduga-duga) kengerian macam apa yang bisa dibuat oleh si pelaku.

Kalo disimpulkan, rata-rata dalam film horor, si jahatnya adalah hantu dan sejenisnya. Sementara dalam film thriller, biasanya manusia.

Dari yang saya amati sih begitu ya bedanya. Tapi gak tau itu bener ato gak. Untuk cari tau dengan benar juga saya malas. Mungkin kalo dicari di google, ada yang bisa menjelaskan dengan baik dan benar apa perbedaan kedua genre film itu.

Nah, seperti yang pernah saya bilang sebelum-sebelumnya, meski sangat menyukai film romantis tapi berhubung saya dasarnya demen nonton jadi saya bisa nonton film dengan genre apa aja (kecuali b*k*p), dan dengan pengecualian kalo nonton film horor saya suka tutup-tutup mata…hihihihi… Karena kesukaan saya akan nonton, maka tentu aja saya sudah banyak sekali nonton film bergenre thriller, horor, dan crimeRata-rata ya emang nyeremin, bikin penasaran, dan menegangkan. Tapi beberapa di antaranya bener-bener bisa bikin hati saya terasa ngilu. Nah ini saya ceritain satu per satu ya film apa aja yang bikin saya ngilu itu. Gak semua film Hollywood dan aslinya kayaknya gak semua yang bikin saya ngilu saya cerita di sini karena kalo mo diceritain semua gak sanggup rasanya waktunya…hehehe….

Dan oh ya, yang saya ceritain di sini cuma yang genre-nya thriller, horror, dan crime aja. Karena sebenarnya di atas semuanya, ada satu film yang tidak termasuk dalam ketiga genre itu tapi paling bikin saya ngilu (gak cuma ngilu sebenarnya, tapi hati terasa hancur sedih lihatnya sampe air mata netes gak ketulungan banyaknya), adalah film The Passion of Christ.

Nonton film itu, benar-benar menguras emosi dari kepala sampe hati, apalagi karena tau bahwa bahkan apa yang ditunjukkan dalam film itu sebenarnya belum mendekati apa yang Tuhan Yesus alami saat penyaliban-Nya. Dan bahkan apapun yang dialami oleh Jim Caviezel saat syuting: terkena sengatan petir, bahu bergeser karena bawa kayu salib yang berat, kena cambuk yang meleset, dan segala penderitaannya, juga belum mendekati dari apa yang Tuhan Yesus alami saat itu.

Sedih….

Hancur hati……….

Apalagi karena tau, demi supaya dosa-dosa saya bisa terampuni maka semua itu Dia jalani. Tanpa darah-Nya, dosa saya masih terus dan terus terhitung. Tanpa penderitaan-Nya, maka saya tak akan pernah….tak akan pernah……bisa memanggil Allah Pencipta langit dan bumi dengan sebutan Bapa dan jadi bagian kerajaan sorga.

Karena itu, tak ada film lain yang lebih mampu menguras emosi saya dalam segala bentuk: tegang, takut, seram, ngeri, sampai sedih penuh kehancuran, dan bahagia penuh sukacita ucapan syukur tak terkira. Hanya The Passion of Christ yang bisa.

Film-film yang akan saya ceritain di sini membuat saya ngilu. Tapi hanya dari satu aspek emosi saya saja, yaitu bagian dari rasa kemanusiaan saya yang tidak pernah ingin mengalami atau hanya sekedar menyaksikan peristiwa yang sama terjadi di sekitar saya.

Continue Reading…

What’s So Special About FOUR?

Kalo lagi coding dalam waktu yang diburu-buru kayak gini, kebiasaan saya malah selagi coding jadi suka mikir yang aneh-aneh. Yang gak hubungannya dengan kerjaan tentu. Dan yang gak ada hubungannya juga dengan hidup saya sebenarnya.

Dan pagi ini, selagi mengatur tampilan pencapaian kinerja dalam bentuk gauge meter, tiba-tiba saya terpikir tentang angka FOUR.

Entah apa yang istimewa dengan angka ini.

Continue Reading…

Cinderella

Akhirnya setelah pake acara bela-belain, jadi juga saya nonton Cinderella kemarin. Sampe bela-belain karena emang ini film udah saya tunggu-tunggu banget. Udah tau lah ya selera film saya gimana. Saya sih emang bisa menikmati nonton film apa aja karena emang hobi banget nonton (bahkan pernah sama yang ngaku jauh lebih suka film psycho thriller gitu ketimbang film romance terbukti gak nonton film psycho thriller sebanyak yang udah saya tonton 😛 ), tapi saya gak bisa membohongi diri kalo film-film romantis dan apalagi jika itu diangkat dari dongeng adalah kesukaan saya banget. Untuk Cinderella ini, sama seperti Arman, segala macam versinya saya tonton dan saya sukaaa semua. Ya versi kartunnya jaman dulu banget itu, versinya Ira Maya Sopha, versi Ever After, versi Brandy, Into The Woods, sampe ke yang reviewnya paling parah dan pernah masuk dalam jajaran film terburuk di tahun keluarnya yaitu A Cinderella Story versinya Hillary Duff. Dan bagaimanapun review orang-orang, ya karena saya suka sama cerita Cinderella, jadi sama film-filmnya pun saya suka…hehe…

Untuk Cinderella 2015 ini, liat traillernya aja udah bikin nahan napas, baju dan sepatunya itu lhooo…keren banget kayaknya! Udah gitu yang main si Lily James pula kan yang emang menurut saya cocok banget jadi Cinderella karena mukanya yang klasik banget itu. Ditambah lagi pas liat trailler dan baca reviewnya, tak ada tanda-tanda kalo bakal ada twist dalam film ini, bikin saya makin semangat buat nonton, karena buat saya kisah dongeng itu lebih baik jika dibiarkan sebagaimana adanya. Sebuah dongeng bisa bertahan melewati berbagai jaman dan peradaban, sudah menjadi bukti kekuatan kisahnya, jadi tanpa diapa-apain pun pasti lah udah bagus.

Kemarin saya nonton di Cinemaxx, ngambil yang gold, jadi tambah asik suasananya. Seruangan cuma beberapa kursi doang dan jauh-jauhan, jadi gak terganggu sama penonton lain yang bawa anak-anak dan anak-anaknya jalan-jalan doang sepanjang film diputer…hihihihi… Udah gitu kursinya gede dan nyaman banget, bisa sambil setengah tiduran. Selimut juga disediakan biar gak kedinginan. Trus bagian yang lebih asik lagi karena bisa pesan makanan dan minuman trus nanti dianterin sama waitress-nya ke ruang sinema. Nyamaan 😀

Ruang tunggu Cinemaxx Gold
Dalam sinemanya

Dan ternyata, setelah kemarin saya nonton………

Continue Reading…

Lagi Suka

…..Sama Film-Filmnya Alex Pettyfer

Film pertamanya yang saya tonton adalah I Am Number Four. Cerita tentang John Smith, alien dari planet Lorien yang dikirim ke bumi sejak masih kecil banget demi menghindari serangan Mogadorians yang telah menghancurkan planet Lorien. John gak sendirian. Ia dikirim ke bumi bersama delapan anak lainnya, di mana John diberi nomor 4. Magadorians akhirnya tau tentang kesembilan anak itu, lalu mereka pun datang ke bumi untuk mengejar mereka. Kesembilan anak itu, hanya bisa dibunuh secara berurutan sesuai nomornya. Nomor 1 sampai 3 udah tewas, dan sekarang giliran John yang dikejar. Dalam upaya melarikan diri (dan kemudian akhirnya melawan) Mogadorians, John ketemu sama Sarah dan jatuh cinta 🙂

Sebenarnya film ini bukannya yang bagus-bagus banget ceritanya menurut saya. Tapi liat yang maen ganteng, jadi betah nontonnya…hahahahaha… *kemudian dipelototin pak suami*

Continue Reading…

Fifty Shades of Grey

Tadi malam, akhirnya saya nonton juga itu Fifty Shades of Grey. Gak direncanain sebenarnya, tapi karena temen saya ngasih info kalo ini film udah ada di nontonmovie.com, maka karena emang penasaran kan ya jadilah semalam begadang sama suami buat nonton film ini…hihihi…

Kalo soal ceritanya mah gak perlu lagi lah ya saya ceritain. Kayaknya semua udah tau ini film tentang apaan. Saya juga gak mau nulis review soal film ini. Saya cuma pengen cerita aja soal kesan yang saya dapat setelah nonton film ini, yang mana kesan saya cuma satu: membosankan!

Continue Reading…