Dari IKCC ke MEMO

Bener-bener yaa…sepanjang bulan September gak ada nulis apa-apa di sini, tau-tau sekarang udah Oktober aja πŸ˜…. Kalo dipikir-pikir sebenarnya sedih, kenapa bisa kok sesibuk itu sampe gak ada nulis apapun selama satu bulan di sini, sayang kaann satu bulan terlewat tanpa dokumentasi di blog.

Jadi apa kabar kami sekeluarga sebulan terakhir?

Puji Tuhan kabar kami baik.

Seminggu yang lalu saya sempat kena pilek tanpa demam dan tanpa sakit kepala, tapi puji Tuhan sekarang sudah pulih dan anggota keluarga yang lain gak ada yang tertular pilek dari saya. Trus kabar lainnya tentang saya adalah sejak akhir September kemarin saya mulai belajar bahasa pemrograman baru lagi, kali ini saya coba belajar Python yang meski sudah jadi bahasa pemrograman ‘hari-hari’ buat banyak programmer (bahkan termasuk si adek πŸ˜…) tapi belum pernah saya pelajari sebelumnya. So far sih so good ya, saya gak ada nemu masalah dalam belajar Python karena memang yang namanya belajar bahasa pemrograman baru tuh paling kita cuma perlu menyesuaikan diri dengan syntax-nya yang berbeda. Semoga saya tetap semangat belajar sampe bisa bikin aplikasi yang jadi target saya sendiri 😘.

Suami juga kabarnya baik. Sekarang gedung kantornya pindah dari Kyai Maja ke Gatot Subroto dengan model kerja WFH seminggu dilanjut WFO seminggu yang mana salah satu syarat buat dia bisa masuk ke gedung kantor yang baru adalah hasil antigen, jadilah suami sekarang tiap minggu hidungnya kena colok πŸ˜…. Minggu ini gilirannya WFO, makanya sekarang rumah jadi agak-agak lebih sepi karena suara ‘meeting’ berkurang satu 😁. O ya, kalau suami WFO, dia pasti bawa bekal dari rumah, makanya kalau dia WFO itu artinya kami harus bangun lebih pagi supaya segala urusan makanan udah kelar sebelum jam dia berangkat.

Kalau kabar anak-anak, puji Tuhan mereka juga baik. Hari ini hari kedua mereka sekolah setelah libur kuartal pertama hampir dua minggu. Selama libur kemarin gak ada kemana-mana, di rumaaahhh aja terus, tapi puji Tuhan anak-anak baik ini tetap semangat dan ceria. Paling selama saya kena pilek kemarin itu aja yang sempat bikin anak-anak, terutama si adek, agak-agak sedih karena selama saya pilek saya menghindar memeluk mereka. Si adek kan gak lengkap ya hidupnya kalo gak tiap jam minta saya peluk, makanya gak heran begitu tiba-tiba gak boleh meluk sama sekali, hatinya pun nelangsa 😁.

Nah, ngomongin soal anak-anak, kali ini saya mau cerita tentang kompetisi yang mereka ikuti beberapa waktu belakangan.

IKCC

Pertama adalah International Kids Coding Competition Summer Scratch Challenge 2021 yang diselenggarakan di bulan Juli kemarin dan hasilnya diumumkan di tanggal 14 Agustus. Sudah lama ya? Iye, ini ceritanya memang late post banget, maafin mamanya lah πŸ˜…. Seperti yang bisa terlihat dari judul kompetisinya, ini tuh adalah kompetisi pemrograman untuk anak yang bisa diikuti oleh semua programmer cilik dari seluruh dunia. Anak-anak tahu soal kompetisi ini sekitar akhir Juni dari guru les pemrograman si abang. Langsunglah pada semangat daftar, termasuk si adek yang sebenarnya belum ikutan les pemrograman tapi memang sudah coba-coba belajar coding di Scratch dan juga sudah mulai belajar Python. Yang perlu dilakukan anak-anak buat kompetisi ini adalah membuat project berupa computer game sesuai tema dan aturan yang sudah ditetapkan oleh penyelenggara yang mana game itu harus di-submit sebelum tanggal 31 Juli 2021.

Anak-anak semangat banget mengerjakan project mereka masing-masing, yang mana puji Tuhan, semua ide adalah original dari mereka. Ini nih yang bikin kami sebagai orangtua benar-benar bersyukur sama Tuhan karena anak-anak dikasih pemikiran yang kreatif dan juga semangat buat mewujudkan ide kreatif mereka sendiri. Sudah gitu, kami juga bersyukur melihat kegigihan mereka menyelesaikan project untuk diperlombakan tersebut dengan mengikuti semua syarat yang ada. Salah satu contoh kegigihan itu adalah ketika mereka masing-masing menghubungi sendiri pihak-pihak yang sudah profesional (bahkan sampai ke level Sega segala lho πŸ˜…) demi meminta ijin menggunakan karya yang dilindungi oleh hak cipta di dalam project mereka. Karya yang dimaksud di sini tuh maksudnya seperti karakter dan music score. Jadi memang salah satu aturan dalam lomba tersebut adalah gak boleh memakai elemen yang merupakan hasil karya orang tanpa minta ijin dan anak-anak bener-bener memerhatikan itu makanya mereka sampai usaha menghubungi pihak-pihak yang terkait meskipun sebenarnya elemen yang mau mereka pakai itu gak begitu berpengaruh di game yang mereka buat, istilahnya hanya untuk meramaikan sebenarnya. Tapi demi gak melanggar aturan, maka mereka pun melancarkan berbagai usaha. Saya sendiri gak tau lho soal ini, taunya karena mereka cerita kalo tadi habis menghubungi pihak ini dan pihak itu. Puji Tuhan, saluuuttt rasanya sama abang dan adek ini 😍.

Tanggal 30 Juli, puji Tuhan project mereka sudah berhasil diselesaikan oleh mereka masing-masing dan setelah berdoa bersama, project mereka pun mereka submit.

Si adek, berfoto sama project-nya yang sudah selesai di-submit
Si abang, berfoto bersama project-nya yang sudah di-submit

Tanggal 14 Agustus, hasil diumumkan.

Yang pertama ngecek pengumumannya siapa?

Tentu saja mamanya anak-anak….

😁😁😁😁

Sebenarnya gak sengaja aja sih saya duluan yang ngecek. Itu tuh cuma gara-gara email account anak-anak ada juga di handphone saya dan pas pengumumannya keluar di email, saya sendiri lagi pegang handphone 😁.

Sebenarnya, kerinduan untuk anak-anak bisa menang di kompetisi ini, tentu saja ada ya. Apalagi saya melihat sendiri bagaimana usaha mereka mengerjakan game mereka masing-masing. Tapi saya tahu, untuk menang di kompetisi internasional seperti ini juga bukannya mudah, karena pesaingnya adalah ratusan anak dari berbagai belahan dunia.

Karena tahu bahwa untuk menang di kompetisi seperti ini sulit, maka ketika mengecek daftar hasil penilaian anak-anak, saya nyarinya dari bagian bawah πŸ˜†.

Yang pertama saya cek adalah untuk kategori si adek.

Seperti yang saya bilang di atas, saya ngeceknya dari bawah. Puji Tuhan, nama si adek termasuk di bagian tengah yang mana itu artinya nilai dia masih terbilang bagus. Tidak termasuk pemenang memang, tapi untuk anak yang belajar otodidak, buat saya sih itu sudah termasuk pemenang juga 😘. Puji Tuhan… Haleluya!

Selanjutnya yang saya cek adalah kategori si abang.

Lagi-lagi ngecek dari bawah dong.

Nge-scroll ke atas dan ke atas, lah kok nama si abang gak ada???

Sempat kuatir juga saya, apa project abang gak ke-submit ya sampe namanya gak ada gini?

Tapi rasanya gak mungkin deh, makanya saya scroll aja terus ke atas. Scroll-nya banyak, karena pesertanya juga banyak dari berbagai negara πŸ˜….

Semakin saya scroll ke atas, semakin perasaan kuatir saya bertambah kalau project si abang tuh gak ke-submit.

Sampai kemudian saya tiba di urutan tiga besar dan melihat ada yang berasal dari Indonesia di situ. Saya geser ke samping dan kemudian tertegun karena melihat nama si abang terpampang di situ.

Awalnya hampir tak percaya hingga saya perlu membaca ulang.

Dan ternyata memang benar. It was confirmed. Abang won the 2nd place.

Wowww!!!

Haleluya, puji Tuhan!!!

Langsunglah saya kabarin suami dan anak-anak soal pengumuman itu. Reaksi mereka gak perlu lagi ditanya ya, yang pasti loncat-loncat kegirangan juga walaupun adek sempat agak sedih karena dia gak menang tapi setelah diberi pengertian, dia udah balik bahagia lagi πŸ€—.

Pengumumannya deket-deket sama perayaan HUT RI, jadi cocok ya buat semacam hadiah ulang tahun dari si abang buat negara Indonesia 😍

Puji Tuhan…

Selamat yaaa anak-anak mama, abang dan adek, atas prestasi kalian. Yang terpenting bukanlah juara, tapi nilai-nilai yang kalian pelajari selama proses yang kalian ikuti, itulah yang paling bernilai.

Selain dapat diploma dari IKCC, si abang juga dapat penghargaan dari tempat les pemrogramannya. Thank you, Timedoor!

O ya, yang mau intip project abang dan adek, bisa dicek di link di bawah ini yaaa…

Abang : https://scratch.mit.edu/projects/550774485/

Adek : https://scratch.mit.edu/projects/551043977/

MEMO

Kompetisi kedua yang mau saya cerita adalah Mentari Mathematics Olympiad alias MEMO yang sebagaimana namanya adalah kompetisi Matematika yang diselenggarakan oleh Mentari Group. Kompetisi ini diikuti oleh peserta dari berbagai sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Yang ikut kompetisi ini adalah si abang. Kalo si adek gak, karena kategorinya juga belum ada. Abang sendiri ikut kompetisi ini karena diutus oleh sekolahnya. Kalo bukan jadi utusan sekolah juga kami gak akan pernah tahu soal kompetisi ini. Maklum, kami juga bukan orangtua yang rajin cari-cari lomba buat anak 🀭.

Kompetisi MEMO ini diselenggarakan dalam dua tahap. Yang pertama penyisihan dan yang kedua adalah babak final.

Babak penyisihannya diselenggarakan tanggal 18 September 2021.

Untuk persiapannya, paling berlatih aja sih ngerjain soal-soal terutama heuristic problems dengan buku-buku yang ada. Kalo ada yang abang gak bisa, paling dia nanya gurunya via MS Teams atau nanya ke papanya.

Malam sebelum kompetisi dan sesaat sebelum kompetisi kami berdoa bersama yang mana inti doanya adalah meminta Tuhan berkenan supaya kesempatan lomba ini juga menjadi kesempatan buat abang merasakan secara nyata dan langsung penyertaan Tuhan buat dia. Tujuannya apa? Supaya dari sejak dini abang bisa belajar menghidupi bahwa segala sesuatu adalah dari Tuhan, oleh Tuhan, dan untuk Tuhan. Apapun yang bisa dia capai, itu bukan karena dia baik, pintar, apalagi hebat. Namun segala yang baik yang terjadi dalam hidupnya, itu hanya karena Tuhan saja.

Sebelum babak penyisihan dimulai dan sebelum pintu kamarnya saya tutup πŸ’“

Puji Tuhan, doa kami dikabulkan oleh Tuhan.

Ketika lombanya selesai, abang cerita ke kami kalau di antara 20 pertanyaan yang harus dia kerjakan dalam waktu 120 menit itu, ada satu soal yang dia sebenarnya gak tau cara penyelesaiannya bagaimana. Karena gak tau, jadi soal itu dia skip dulu. 30 menit sebelum waktu habis dan semua soal yang lain sudah dia selesaikan, barulah dia kembali ke soal yang dia skip itu dan dalam sekali lihat pun dia sudah langsung tau gimana pemecahannya. Yang bikin kami bersyukur adalah ketika mendengar dari mulut abang sendiri waktu menceritakan itu bahwa begitu dia bisa langsung tau pemecahan soal itu, dalam hatinya pun dia langsung merasa amaze.

Bukan pada dirinya.

Tapi pada Tuhan yang memberi tahu dia jawaban yang dia cari.

Puji Tuhan…. Puji Tuhan….

Bener-bener yaaa…dengan apa yang dirasakan abang saat itu, bagi kami dia sudah lebih dari pemenang karena bagi kami tak ada yang lebih berarti dibanding anak-anak yang terus berproses dan belajar untuk mengakui Tuhan dalam hidup mereka.

Sekali lagi, terpujilah Tuhan Yesus yang mulia.

Begitu selesai lomba. Mereka bertiga aja yang foto, karena saya sendiri belum mandi. Selagi abang lomba saya memilih menyibukkan diri dengan urusan rumah biar gak terlalu dag-dig-dug…hahahahaha

Tanggal 21 September 2021, hasil babak penyisihan diumumkan.

Dari kategori si abang, hanya ada 7 anak yang lolos ke babak final dan abang adalah salah satunya.

Pas baca hasil pengumuman itu, reaksi saya adalah langsung pengen nangis…..

πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Ya gimana dong ya, rasanya tuh terharuuuu banget. Luar biasa kebaikan Tuhan memberikan kesempatan-kesempatan seperti ini buat si abang di mana lewat kesempatan ini dia bisa terus belajar mengembangkan hal-hal yang sudah Tuhan kasih buat dia dan sekaligus dia juga bisa terus berproses menjadi pribadi yang hidup sesuai dengan jalan Tuhan.

Tanggal 2 Oktober 2021, babak final dilaksanakan.

Sehabis berdoa bersama sebelum lomba dimulai, adek peluk abangnya eraaattt buat kasih dukungan. Love you so much, abang adek!
MEMO diselenggarakan secara online dengan model pelaksanaan kayak gini. Peserta lomba harus pakai dua device. Satu device untuk buka halaman soal, sementara device yang satu untuk buka zoom supaya pengawas bisa mengawasi peserta untuk menghindari berbagai bentuk kecurangan
Jesus Christ bless you, Babam!
Setelah selesai lomba, kali ini fotonya sama mama…hehehehe
Kalo sama mama, memang udah biasa kan fotonya gak cukup sekali doang 😜
Kalo belom minimal 3x foto, itu namanya belom afdol 😜

Hasil dari babak final langsung diumumkan pada sore di hari itu juga.

Puji Tuhan Yesus, abang dapat Bronze Medal 😍.

Walau belum dapat Gold Medal, tapi bagi kami ini pun sudah adalah anugerah Tuhan yang sangat indah. Lagi-lagi, yang terpenting bukan adalah soal juaranya, tapi menjadi pribadi yang lebih daripada pemenang karena dalam setiap proses terus dimampukan Tuhan untuk menggunakan setiap kesempatan yang Tuhan berikan menjadi sarana untuk belajar menjadi pribadi yang lebih mengenal dan menyenangkan hati Tuhan.

===================

Demikianlah pemirsa cerita di sore hari ini. Bersyukur sekali rasanya karena bisa menulis kembali di blog ini setelah satu bulan absen πŸ˜†. Selamat hari Selasa yaaa semua, selamat menikmati bulan Oktober dan selamat menikmati tiga bulan terakhir di 2021 ini yaaa… Tuhan kiranya memberkati kita semua. Amin!

Yes, anda tak salah lihat. Abang memang udah jauh lebih tinggi dibanding saya πŸ˜…

10 respons untuk β€˜Dari IKCC ke MEMO’

  1. Abang Raja dan adek Ralph keren bangettt… Dibalik kesuksesan anak ada peran orangtua yang luar biasa. Thanks kak Allisa utk sharingnya dan selalu jadi panutan. Tuhan memberkati kak lisa sekeluarga.

  2. Lama banget gak mampir ke blog ini. Yang ga berubah cuma mamahnya aja 😁. Abangnya udah remaja ya. Adek tetep imut2 nggemesin. Jadi inget dulu baca cerita mbak Alisa yang pake kacamata item tp kacanya cuman sebelah hahaha. Sehat2 selalu ya

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s