Inang πŸ’—

Hampir dua minggu yang lalu, tanggal 11 Agustus 2021, inang simatua saya berpulang ke rumah Bapa di surga. Inang sudah lama sakit sebenarnya. Sejak 2007 inang sudah berjuang melawan sakit ginjal kronis dan sejak 2017 inang mulai menjalani cuci darah. Namun meski inang sudah lama sakit, tetap saja kepergian inang mengejutkan kami semua. Ternyata benar kata orang, kita tak akan pernah benar-benar siap kehilangan seseorang sampai saatnya benar-benar tiba.

Cerita berpulangnya inang berawal dari tanggal 23 Juli 2021 ketika inang terkonfirmasi positif covid. Saat mendengar kabar itu, saya dan suami langsung merasa galau dan khawatir. Kenapa?Β Karena saat itu bertepatan dengan minggu pertama si abang duduk di bangku SMP sementara sejak tiga tahun terakhir setiap kali kami pulang ke Medan, inang selalu menyampaikan ke kami permohonan yang inang sampaikan ke Tuhan, yaitu dikasih usia sampai bisa melihat si abang yang adalah pahompu panggoaran-nya naik ke SMP. Kabar soal inang terkonfirmasi positif covid tentu langsung bikin kami teringat pada permohonan inang ke Tuhan itu. Kenapa lah harus pas sekali seperti ini, di minggu pertama si abang duduk di bangku SMP dan inang harus dirawat intensif di rumah sakit?

Sedih.

Galau.

Tapi tentu, harus tetap berpengharapan bahwa inang akan sembuh.

Pengharapan yang terus kami naikkan dalam doa-doa kami kepada Tuhan. Apalagi melihat kemajuan inang selama dirawat di rumah sakit yang terlihat membaik, semakin membuat kami kian berharap bahwa inang akan bisa melewati sakit ini.

Sampai kemudian hari Senin, tanggal 9 Agustus 2021 tiba. Malam itu, seperti biasa kami video call dengan inang, namun tak seperti biasanya, kali ini inang terlihat jauh lebih bersemangat. Seharusnya semangat yang ditunjukkan inang itu membuat kami merasa lega, tapi entah kenapa perasaan kami justru tak enak melihatnya. Semangat inang itu terasa berbeda sekali, apalagi melihat dan mendengar tawa inang ketika inang mengusap-usap layar handphone-nya sendiri sambil bilang ke si adek kalau sekarang inang sedang berpura-pura dan berandai-andai memang sedang mengusap-usap pipi si adek. Inang tertawa bahagia, tapi saya dan suami sama sekali tak bisa ikut tertawa karena sungguhlah tawa inang itu justru membangkitkan rasa yang tak sedap dalam hati kami.

Esok harinya, Selasa tanggal 10 Agustus 2021, sesuai jadwalnya inang menjalani cuci darah. Siang sekitar jam 2, kami mendapat kabar kalau inang sudah selesai cuci darah dengan proses yang berjalan lancar. Tak menyangka sejam kemudian, sekitar jam 3, kami justru mendapat kabar bahwa inang mengalami penurunan kesadaran di mana inang dalam kondisi tidur dan tidak memberikan respon apa-apa ketika dibangunkan. Jam 5 sore, dokter mengonfirmasi bahwa inang mengalami koma.

Inang tidak bangun lagi sampai kemudian benar-benar pergi di hari Rabu tanggal 11 Agustus 2021 pukul 2 dini hari.

Berita dukacita ini saya kerjakan di jam 4 subuh hari itu. Meski sudah memiliki firasat dari sejak awal, namun tetap saja saat itu saya masih tak menyangka bahwa saya akan mengerjakan berita dukacita kepergian inang ini 😭

Di jam 12 siang di hari yang sama, inang sudah dikuburkan.

Sedih, tak percaya, dan hancur hati karena tidak bisa melihat inang secara langsung untuk terakhir kalinya dan karena kami bahkan tak bisa menghadiri pemakaman inang. Itulah yang kami rasakan saat itu dan sampai saat ini juga perasaan itu masih muncul setiap kali mengingat dan menyadari bahwa inang sudah tidak di sini lagi. Namun puji Tuhan, dalam kondisi kami yang berduka sangat dalam, apalagi untuk suami saya yang adalah putra inang satu-satunya, Tuhan terus mengingatkan bahwa kehendak serta rencana-Nya tetaplah yang terbaik. Apa yang terjadi ini memang sangat jauh dari apa yang kami harapkan, namun bagaimanapun Tuhan Yesus tetap yang memegang kedaulatan atas semuanya. Lagipula, apa yang harus terus kami sedihkan jika mengetahui bahwa saat ini inang sudah berada di tempat yang jauh lebih baik bersama Kristus. Tak ada lagi sakit dan derita yang inang rasakan. Inang sudah bersukacita bersama Tuhan di surga.

Hari ini, genap dua minggu setelah hari terakhir kami berkomunikasi langsung dengan inang dan saya memutuskan untuk menuliskan tentang kepergian inang di blog ini. Saya sudah menulis sejak 2009, karena itu tentu ada cukup banyak kisah inang di blog ini. Rasanya masih tak percaya kalau salah satu orang terdekat yang beberapa kali saya ceritakan di blog ini sekarang sudah tak ada lagi. Beginilah memang perjalanan hidup manusia ya. Rasanya singkat sekali. Saya mengenal inang awalnya di 2007, tak menyangka hanya berselang empat belas tahun kemudian dan inang sudah dipanggil pulang oleh Bapa di surga.

Hari ini, genap dua minggu setelah hari terakhir kami berkomunikasi langsung dengan inang dan saya memutuskan untuk mengenang inang di blog ini. Bukan untuk menangis lagi, meski rasa kehilangan dan tak percaya masih ada. Namun saya ingin mengenangnya di sini untuk mensyukuri anugerah Tuhan. Bersyukur karena saya pernah mengenal inang. Bersyukur karena lewat inang Tuhan menghadirkan ke dalam dunia ini laki-laki yang menjadi teman hidup saya. Bersyukur karena meski hanya singkat dan kami terpisah jarak, namun Tuhan selalu memberikan kesempatan untuk kami bisa berkumpul setiap tahun sehingga dalam waktu yang singkat itu ada banyak kenangan yang tercipta. Bersyukur karena lewat kehidupan inang, Tuhan memberi kesempatan untuk kami boleh menyaksikan karya dan kasih Tuhan Yesus yang amat besar.

Puji Tuhan.

πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

19 respons untuk β€˜Inang πŸ’—β€™

  1. Turut sepenanggungan ya kak Lisa. Aku shalut banget sama kak Lisa dan suami yang terus memperhatikan op. Raja Boru. Apalagi pas aku baca yg KK dan suami menemani dipenang. Luar biasa banget perhatian dan kesediaannya menemani. Padahal KK dan suami sibuk dikerjaan juga tapi aku liat perhatian kalian tetep full ke orangtua. Jadi pembelajaran buat aku pribadi. Thanks ya kak Lisa. Tuhan memberkati KK dan keluarga

    1. Puji Tuhan banget kalau pengalaman kami bisa menjadi pembelajaran. Sekarang orangtua semakin tua, sebagai anak2 kita harus memperhatikan mereka selagi masih bisa, karena setelah mereka pergi, tetap saja kita sendiri merasa masih kurang apa yang kita buat untuk mereka.

      Terima kasih ya dek, Tuhan memberkati juga yaaa πŸ™

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s