Tentang Mimpi Yang Jadi Nyata

Dua malam yang lalu, saya mimpi hamil anak ketiga… Uwooowww…. Hahahaha… Mimpinya mengejutkan sekali πŸ˜…. Lebih mengejutkannya lagi karena di mimpi itu saya ceritanya baru tahu kalau saya hamil sehari sebelum melahirkan!Β Gara-garanya saat hamil itu saya gak ngalamin kenaikan berat badan sama sekali, perut juga gak membesar, hingga saya sama sekali gak tahu kalau ternyata lagi hamil. Aneh yak. Terlepas dari rasanya gak mungkin hamil tanpa perut membesar sedikit pun, seharusnya minimal saya tahu kalau lagi hamil dari jadwal menstruasi kan ya. Aneh memang πŸ˜…. Tapi yaaahhh namanya juga cuma mimpi kan ya. Trus trus yang lebih aneh lagi, di mimpi itu saya bahagia banget begitu tahu lagi hamil dan sudah mau melahirkan. Padahal kan seharusnya saya panik karena di kenyataannya saya sudah gak mau nambah anak lagi. Di mimpi itu juga saya gak tahu si calon anak ketiga tersebut adalah cewek atau cowok, karena belum sempat proses melahirkannya selesai, eh saya sudah keburu terbangun 😁.

Nah, setelah terbangun itu, saya cerita ke suami soal mimpi yang super aneh itu. Dia ketawa dong ya, trus abis itu dia bilang gini, “Artinya mama tuh sebenarnya masih pengen nambah anak lagi, tapi yang suka bikin mama ogah karena badan tiap hamil naeknya gila-gilaan. Mama mau punya anak lagi, asal pas hamil badannya gak berubah.”

Isshhh…. Sembarangan banget kaaann dia ngomongnya. Saya kan memang beneran gak mau nambah anak lagi………

Walau ya, andai dikasih hamil tapi tanpa bonus 26 kilo, saya mau juga siiiihhh…. Ahahahaha….

By the way, nulis soal jadwal menstruasi di atas, saya jadi teringat kalau sebentar lagi masa-masa PMS bakal menjelang….huhuhuhu… Ini periode dalam sebulan yang paling tidak bisa saya nikmati karena biasanya saya ngalamin mood swing yang cukup mengganggu yang tentu saja berdampak gak cuma ke saya, tapi juga anak-anak dan terutama suami tentunya! Kasian yak jadi suami….hihihihihi… Syukurnya dia sudah tahu sih jadwal saya dan sudah ngerti kalau saya tiba-tiba pengen diam saja sampai sekian waktu, itu artinya saya sedang berusaha meredam rasa kesal yang tiba-tiba muncul yang mana rasa kesal itu sebenarnya hanya dipicu oleh hal-hal sederhana yang di lain hari tak akan menimbulkan masalah sedikitpun. Kalau saya sudah diam-diam gitu, mending dibiarkan saja karena toh nanti perasaan saya akan reda dengan sendirinya dan saya akan ceria lagi seolah-olah yang tak ngalamin masalah sebelumnya. Kalau ditanya-tanya atau dipaksa untuk ngomong, yang adanya saya bakal ngomel-ngomel kadang disertai tangisan seolah yang sedang sakit hati banget. Padahal sebenarnya gak ada apa-apa, jadi yah daripada kejadian kayak gitu, mending biarkan saja saya dalam diam meredam sendiri semua emosi yang entah apa-apa itu.

Hormon memang gak bisa dilawan, tapi tentu saja dampaknya bisa dikendalikan supaya gak menimbulkan masalah apalagi sampai jadi stress karena itu. Kan sudah tahu ya, perasaan-perasaan gak enak itu muncul hanya karena lagi periode sensi saja, jadi yah gak usah masalah itu dimunculkan. Didiamkan saja, toh nanti bakal selesai juga….perasaan gak enaknya maksudnya yang selesai, bukan masalahnya, toh sebenarnya gak ada masalah juga kan πŸ˜…. Contohnya nih ya, yang baru kejadian di bulan kemarin, saya bisa kesal sama suami hanya gara-gara persoalan dia gak bantu bukain pintu ke arah ruang jemuran pas saya lagi bawa ember berisi jemuran ke situ sementara suami sendiri lagi online meeting di dekat pintu itu. Saya kesal, merasa tak diperhatikan, tak dihargai keberadaannya, dan merasa suami hanya sibuk sendiri saja dengan kerjaannya. Duh, kesalnya yang kesal banget sampai pengen nangis.

Parah kaaannn….

Syukurnya saya sendiri sudah tahu kalau saya lagi masuk periode sensi, jadi begitu perasaan kesal yang entah apa-apa itu muncul, ya sudah saya diamkan saja. Tak perlu ngomel-ngomel sama suami yang sedang sibuk dengan rapatnya, tak perlu juga nangis bombay. Kesal banget memang, tapi diamkan saja, take no action, daripada menyesal kemudian.

Memang selama proses diam itu, kepala saya bukannya yang sudah bisa langsung berpikir rasional ya. Isi kepala saya tetap saja dipenuhi oleh kekesalan yang sebenarnya tak beralasan itu. Tapiii…berhubung ini hanya permainan hormon, nanti juga rasa kesal itu akan reda dengan sendirinya dan ketika itulah saya mulai bisa berpikir secara rasional bahwa apa masalahnya dengan suami yang gak bantuin saya bukain pintu yang notabene hanya pintu geser itu???? Dia waktu itu lagi rapat lho dan pas saya ke situ dia lagi paparan, gak mungkin dong ya ninggalin layar selagi paparan cuma demi bukain pintu ke arah balkon jemuran buat istrinya yang sebenarnya bisa buka pintu sendiri dengan tangan yang lagi gak pegang ember???? Untunglah tadi saya gak ngomel-ngomel ya kan, coba kalau iya, duh alamat bakal menyesal karena sudah buang energi untuk marah-marah demi masalah yang sebenarnya tak ada.

Nah, selain berusaha meredam emosi yang tak jelas di periode sensi dengan cara diam saja itu, saya juga biasanya berusaha mengurangi pikiran yang aneh-aneh dengan sering makan makanan yang saya suka, yaitu coklat. Trus selain itu saya juga berusaha memikirkan hal-hal yang menyenangkan saja supaya kalaupun ada pikiran-pikiran tak beres yang terselip, paling tidak rasa syukur yang timbul karena memikirkan hal yang menyenangkan itu akan bisa membuat yang kurang beres tadi menjadi agak-agak beres πŸ˜†.

Karena itulah, berhubung saya sudah akan memasuki periode PMS lagi, maka sekarang saya mau menulis diΒ  blog ini tentang hal yang bikin saya bahagia, yaitu tentang salah satu mimpi saya yang jadi kenyataan. Teringat soal mimpi ini karena kemarin pas lihat-lihat arsip foto keluarga kami, saya jadi lihat-lihat lagi foto-foto sewaktu kami berada di Manado di awal tahun 2019 di mana saat itu salah satu hal yang kami lakukan adalah menyelesaikan transaksi pembelian sebidang tanah di mana di tanah itu ada bukit kecilnya dan ada sungainya juga.

Dari sejak kecil saya memang sudah punya impian punya tanah di daerah pedesaan yang ada bukit dan ada sungainya. Impian ini muncul gara-gara saking sukanya saya dengan serial Little House on the Prairie. Pengen banget bisa punya tanah yang kondisi sekelilingnya masih bener-bener alami, yang meski gak akan mungkin sama seperti yang di serial Little House itu karena kondisi iklim yang jauh berbeda, tapi setidaknya yang bisa bikin perasaan adem bila tinggal di situ.

Puji Tuhan, di akhir tahun 2018, impian masa kecil yang sebenarnya tak pernah secara khusus saya doakan itu pun terwujud.

Dan terwujudnya impian ini juga tanpa perlu saya cari-cari. Tiba-tiba saja suatu hari, mendekati akhir tahun 2018, mama saya nelpon buat ngasih tahu kalau barusan ada orang yang ke rumah mama buat nawarin tanah. Pas denger luas tanah dan harganya, saya langsung tertarik, karena dengan tanah seluas itu, harga yang ditawarkan masih termasuk masuk akal. Trus beberapa hari kemudian, papa dan mama saya survey ke lokasi buat foto-fotoin dan videoin kondisi tanahnya seperti apa. Dokumentasi yang mereka bikin itu lalu dikirimkan ke saya yang seketika itu juga langsung jatuh hati melihatnya.

Yah gimana tak jatuh hati ya, kalau begitu melihat tanah itu saya langsung teringat pada impian masa kecil saya dulu.

Puji Tuhan, suami juga suka dengan tanah itu.

Setelah mendoakannya, kami pun melanjutkan proses jual beli yang puji Tuhan berlangsung lancar meskipun pengurusannya harus secara jarak jauh dan memakai orangtua saya sebagai perwakilan di sana. O ya, meski prosesnya lancar, tapi bukan berarti cepat ya. Pengurusan jual beli tanah di pedesaan sepertinya lebih rumit dibanding tanah di perkotaan, apalagi ini tanahnya belum bersertifikat sehingga sebelum proses jual beli dilakukan harus ada pengesahan ini-itu serta pengumuman ke masyarakat dulu dari perangkat desa. Surat yang harus diurus ada banyak, tapi puji Tuhan semua lancar walau lama…hehehe… Tapi tak mengapa sih, yang penting tanahnya memang sah, jangan sampai pula kan karena malas ngurus trus gak taunya malah beli tanah yang bersengketa. Duh, serem ini mah πŸ˜….

Salah satu proses tanda tangan yang pake acara kirim kesana kemari karena jarak jauh 😁
Suami berfoto bareng papa saya dan pihak penjual tanah πŸ™‚

Kalau teman-teman mau tahu berapa lama proses pengurusan tanah itu dari sejak jual beli sampai sertifikatnya terbit atas nama saya, maka ini saya kasih tahu.

Proses pembelian tanah itu sudah dimulai dari akhir tahun 2018 dan sertifikatnya baru terbit di minggu ini.

Dua tahun lebih saja ya pemirsa πŸ˜….

Sebenarnya sih sebelum sertifikatnya terbit, tanah itu memang sudah sah jadi milik kami karena proses jual belinya juga telah sah. Tapi kan dengan adanya sertifikat membuat tanah itu benar-benar kami miliki secara sah di mata hukum dan negara. Puji Tuhan….

Bersyukur sekali rasanya atas berkat yang Tuhan beri ini. Tanah ini memang masih virgin banget ya, belum diolah menjadi perkebunan atau apapun itu. Rumput dan tanaman liar masih menghiasi di mana-mana. Tapi tanah ini subur sekali. Di atasnya ada ratusan pohon kelapa, puluhan pohon buah, dan aneka tanaman sayur yang tumbuh liar serta subur. Tak heran memang bila tanah ini sangat subur karena tepat di tepinya dilewati oleh aliran sungai yang cukup lebar dan deras.

Awal tahun 2019 itu adalah pertama kalinya kami datang berkunjung ke tanah ini dan benar-benar yaa… rasa syukur yang saya rasakan ketika berada di situ tak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata.

Sungainya…deraass 😍

Yang semangat datang ke sini gak hanya saya dan suami saja, tapi juga anak-anak. Ini adalah pengalaman pertama mereka menyusuri daerah yang benar-benar masih alami seperti ini, karena itu mereka semangat sekali, apalagi si adek. Ini ada videonya si adek yang waktu awal 2019 ini masih kecil sekali dan suaranya pun masih sangat imut 😁.

Jarang-jarang kan dek nemu becek kayak gini? πŸ˜†

Sapi aja bisa jadi objek wisata yang menarik ya dek ya πŸ˜†

Sampai sekarang pun tanah ini masih belum kami olah menjadi apapun. Ya kali, ke situ aja baru sekali kan ya. Yang sering ke sini justru orangtua dan keluarga di Manado. Biasanya mereka ke sini buat bersantai saat cuaca panas. Di sini mereka bikin tenda, bakar-bakar ikan, trus mandi-mandi di sungai itu. Tanah ini punya banyak potensi. Bisa untuk kebun, peternakan, bahkan tempat wisata. Kami sendiri belum punya rencana hendak diapakan tanah ini, yang pasti saya ingin sekali mewujudkan impian masa kecil saya, yaitu punya rumah sederhana bertema alam di atas tanah luas yang masih sangat alami seperti ini.  Semoga ya, suatu hari kelak bisa terwujud 😘.

Puji Tuhan Yesus

Demikianlah pemirsa cerita soal salah satu mimpi masa kecil saya yang terwujud sekian puluh tahun kemudian. Mimpinya sederhana memang, sebagaimana mimpi-mimpi saya yang lain juga, sederhana semua 😁. Tapi yah, sesederhana apapun mimpi itu, kalau bisa terwujud sih tetap saja bahagia sekali 😊.

Pose mirip-mirip Little House on the Prairie. Tinggal kurang rumahnya aja yang belum ada di latar belakangnya 😁. Semoga nanti yaaa…bisa segera diadakan. Amiinn

Cerita soal mimpi kali ini saya sudahi sampai di sini yaaa…. Dan tolong jangan mendoakan supaya mimpi hamil di atas jadi nyata karena sesungguhnya saya memang tidak siap untuk nambah anak lagi πŸ˜….

5 respons untuk β€˜Tentang Mimpi Yang Jadi Nyata’

  1. wah congrats ya lis!
    pengen tau aja nih lis, kalo tanahnya seluas itu dan di pedesaan, gimana caranya supaya gak ada orang-orang yang main masuk-masuk aja trus malah ngebangun-bangun apa gitu disana? apa tanahnya dipagarin biar orang-orang gak masuk?

    soalnya di jakarta aja sering denger kalo ada tanah kosong dan jarang ditengok, nanti yang ada jadi banyak yang bikin gubug2 liar di tanahnya dan walaupun liar tapi pemilik tanah nya malah mesti bayar buat ngusir mereka.

    1. Thank you, Arman!

      Iya betul, potensi ke arah situ ada, Man, tapi itulah gunanya waktu beli tanah itu, dalam prosesnya perangkat desa ikut dilibatkan. Jadi mereka sampai bikin pengumuman (plakat) untuk masyarakat desa tentang pembelian tanah itu, supaya seluruh masyarakat tahu bahwa kepemilikan tanah itu akan berubah dan siapa yang nanti akan jadi pemiliknya, sekaligus kalau ada yang mau menggugat, bisa segera gugat sebelum proses jual beli berlangsung. Perangkat desa dan tokoh masyarakat juga jadi saksi saat transaksi berlangsung, begitu juga pemilik tanah di sekitarnya, Man. Dengan kayak gini, kita untung karena perangkat desa dan ‘tetangga’ akan membantu ‘menjaga’ aset kita dan mereka juga diuntungkan karena dengan begitu mereka kenal betul sama pemilik tanah yang mana biasanya kalau tanah di pedesaan itu gak boleh sembarangan dijual sama orang yang gak dikenal. Jadi sebelum transaksi berlangsung, dari tokoh masyarakat juga ikut mastiin sih pihak yang membeli itu bisa approved gak untuk jadi pemilik tanah di wilayah mereka. Ribet memang, tapi yang penting sih aman. Sampai sekarang itu tanah belum kami pagari (belom ada duitnya…hahahahaha….), tapi patok-patoknya sudah jelas dan sudah diukur karena sudah ada sertifikat kan. Karena belum dipagar jadi orang memang masih bisa masuk buat bawa sapinya merumput, petik buah, petik sayur, tapi ya gak apa-apa karena orang-orang di desa itu sudah pada tahu yang punya tanah itu siapa. Gitu Man, kira-kira.

      Kalau di perkotaan sih justru lebih bahaya ya urusan kayak gini. Mungkin proses belinya gak seribet beli tanah di pedesaan karena biasanya hanya antara yang jual dan yang beli aja, tapi potensi ribut setelahnya lebih besar, karena bisa jadi malah tanah yang nganggur itu kalo gak cepet-cepet dipagari dan digembok malah jadi tempat tinggal dan tempat usaha liar.

  2. Congratsss atas bertambahnya tabungan properti! Apalagi ini merupakan impian sejak lama. Hmmm akupun sebenernya masih takut dan ntahlah siap apa gak siap punya anak ketiga tp namanya rejeki kan gak tergantung manusia siap atau nggak yaaa, wkwkwk.

    1. Thank you, Tyka! Daripada duit dibelanjain buat yang gak2 perlu kan, mending buat yang kayak gini2 😘.

      Soal anak, iyes banget, siap gak siap kalo sudah dikasih ya harus siap 😁

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s