Rumah Tangerang

Dari sejak sebelum pandemi ini terjadi yang membuat kami berkeputusan untuk pindah ikut suami ke tempat tugasnya, dan bahkan dari sejak sebelum suami ditugaskan di Jakarta pun, sebenarnya kami sudah berpikiran untuk memiliki rumah di daerah Jakarta atau Tangerang atau sekitarnya.

Ada dua hal yang menjadi pertimbangan kami.

Pertama, karena melihat perjalanan karir suami, sepertinya lebih baik kalau kami tinggal di seputaran ibukota supaya di kota di mana pun dia ditempatkan, dia bisa punya akses untuk pulang yang lebih mudah dibanding kalau kami tinggal di Palembang. Kami sudah ngerasain yes, gimana waktu suami ditempatkan di Nias sama Sibolga trus setiap kali pulang dia harus 2 kali naik pesawat dalam sekali perjalalanan. Sudahlah ongkosnya besar (mana suami tiap minggu pulak pulang ke Palembang πŸ˜…), perjalanannya pun lama dan cukup melelahkan. Nah, kondisi yang seperti itu yang harapannya bisa kami perbaiki ke depannya. Jika melihat perkembangan karirnya, maka Sibolga seharusnya menjadi kota kabupaten terakhir yang menjadi tempat tugas suami alias setelah ini suami pasti ditempatkan di ibukota provinsi yang mana semuanya bisa dicapai dari ibukota negara hanya dengan sekali penerbangan saja.

Kedua, adalah soal masa depan anak-anak yang dari sekarang memang sudah punya visi tentang tempat kuliah mereka nanti (visi anaknya lho ya, bukan mak bapaknya πŸ˜†) yang mana kalau melihat lokasi kampus pilihan mereka, maka yah sepertinya memang lebih baik kalau kami tinggal di sekitaran Jakarta supaya lebih mudah buat anak-anak setiap kali ingin pulang ke rumah 😁.

Kedua pertimbangan di atas itulah yang sejak lama membuat kami ada keinginan untuk punya rumah di sekitaran Jakarta.

Tapiiii….sayangnya, sebelum Juni tahun 2020 yang lalu, keinginan itu hanya menjadi sebatas angan-angan belaka. Inginnya begitu, tapi aksi ke arah itu belum ada yang dilakukan. Bahkan ketika suami ditempatkan di Jakarta yang membuat keinginan itu semakin kuat pun, tetap saja usaha ke arah situ bisa dibilang nihil πŸ˜…. Selain karena tekadnya yang belum benar-benar kuat, kesempatan juga memang kurang sih. Suami mulai bekerja di Jakarta per Oktober 2019 dan sejak saat itu hingga di saat pandemi terjadi, setiap weekend dia selalu pulang ke Palembang sehingga tidak ada waktu luang buat dia mencari-cari rumah. Pernah ada satu kali weekend dia tidak pulang karena baru pulang di pertengahan minggu sehubungan ada acara di sekolah anak-anak, dan waktu dia di weekend itu dipakainya untuk berkunjung ke rumah kakak ipar 😁.

Awal tahun 2020, tepatnya di momen tahun baru, kami sekeluarga merayakannya di Jakarta. Waktu itu kami baru membeli apartemen dan suami sedang dalam proses pindah-pindahan dari apartemen yang tadinya dia sewa ke apartemen yang kami beli itu (dan sekarang apartemen itu sebentar lagi akan jadi milik orang lain karena telah kami jual…huhuhuhu… Di satu sisi senang karena apartemen itu sudah laku, tapi di sisi lain ada rasa yang gimanaaa gitu karena ada banyak kenangan kami di apartemen itu). Di sela proses pindah-pindahan dan mengisi apartemen itu, kami sempatkan jalan-jalan ke beberapa daerah yang kami tahu menjadi lokasi sekolah yang masih satu yayasan dengan sekolah anak-anak yang sekarang. Salah satu kawasan incaran kami dan saat itu menjadi satu-satunya yang benar-benar kami survey adalah daerah rumah kami yang sekarang ini, Karawaci.

Inget banget deh, waktu itu pertama kali masuk ke kawasan ini, ada perasaan nyaman yang muncul di dalam hati, rasanya seperti sedang kembali ke tempat yang sudah familiar untuk saya. Aneh, karena sebenarnya baru sekali itulah saya berkunjung ke kawasan ini.

Di bulan Januari itu, ada sekitar tiga kali kami jalan-jalan ke daerah ini untuk makan, nonton, belanja, dan tentu muter-muter sambil melihat-lihat suasana pemukimannya. Kami naksir untuk tinggal di kawasan ini. Tapi lagi-lagi, ketika libur tahun baru berakhir dan kami kembali ke rutinitas antara Palembang – Jakarta, keinginan itu tak jua terealisasi 😴.

Sampai kemudian momen di bulan Juni 2020 itu datang dan yang kami (terutama suami sih…hehehe) kerjakan setiap hari adalah mencari-cari informasi tentang rumah di Internet. Pencarian rumah itu tentu kami utamakan di daerah yang sudah kami sasar ya, seperti yang saya bilang di atas, yaitu daerah yang juga menjadi lokasi sekolah yang masih satu yayasan dengan sekolah anak-anak sekarang. Karena kami sebelumnya sudah naksir dengan kawasan ini, maka saat itu rumah-rumah yang dijual di seputaran daerah ini menjadi prioritas kami untuk disurvey.

Trus gampang gak nemunya?

Huhuhuhu…. I wished…

Pada akhirnya kenyataan membuat kami meluaskan pencarian sampai ke berbagai wilayah. Dari yang kawasannya dekat dengan sekolah yang masih satu yayasan dengan sekolah anak-anak sekarang, sampai ke kawasan yang bikin kami sendiri bertanya-tanya dalam hati, “Errr….yakin, nih?” 🀣

Begitulah memang pemirsa. Mencari rumah di tengah kondisi normal saja bukannya gampang ya, apalagi saat kondisi pandemi begini. Sudahlah berisiko karena harus bertemu orang lain dan bahkan harus masuk ke rumah orang lain, harga rumah juga bukannya bagus dihargai sama bank πŸ˜₯. Maklumlah, kami kan rencana beli rumah pakai KPR jadi otomatis nilai appraisal dari bank terhadap rumah yang kami incar itu berpengaruh sekali. Oh ya, rumah yang kami cari (tadinya) memang bukan rumah baru. Pilihannya yang bekas dan yang fully furnished biar sudah langsung siap dihuni. Kami sadar betul keterbatasan kami sekarang ini yang tidak bisa bebas pergi-pergi mencari barang-barang buat ngisi rumah, karena itu kami berpikir, tak apalah pakai barang-barang bekas orang yang penting rumahnya sudah siap untuk kami huni. O ya, maybe some of you are wondering, kenapa kok kami terlihat ngotot untuk segera pindah ke rumah dalam kondisi begini padahal toh kan tinggalnya di apartemen sendiri juga.

Sebenarnya kami bukannya ngotot ya, semua sih tetap kami serahkan pada kehendak Tuhan, cuma yang namanya manusia kan harus punya usaha juga untuk mencapai apa yang dirindukan. Dan kami rindu tinggal di rumaahh…huhuhuhuhu…. Kami bersyukur untuk apartemen Pakubuwono kami, tapi kami juga berharap bisa berada dalam rumah di mana kami bisa beraktivitas dengan lebih sehat. Sering kami merasa kasihan melihat anak-anak yang aktivitas fisiknya sangat terbatas selama berada di apartemen karena selama di situ mereka hampir tidak pernah keluar dari unit. Benar-benar ya, dunia luar yang bisa dilihat anak-anak (dan saya juga sih sebenarnya, karena saya hanya keluar ketika survey rumah, itu pun jarang-jarang, yang selalu pergi survey rumah adalah suami 😁) selama kami tinggal di apartemen hanyalah dari jendela apartemen saja πŸ˜….

Kami sudah sangat rindu untuk bisa menjalani hari-hari dengan lebih normal di tempat yang disebut rumah, namun sekian bulan usaha pencarian rumah tak jua membuahkan hasil. Saya sampai merasa kasihan sama suami karena memang dia yang berusaha paling keras untuk mencari rumah yang mana itu saya mengerti karena sebagai kepala keluarga dia merasa punya tanggung jawab memberikan kehidupan yang lebih baik buat kami. Setiap hari saat lowong dari pekerjaan, yang dia kerjakan hanya membuka satu demi satu iklan rumah dan setiap kali menemukan yang cocok dia akan pergi survey langsung ke lokasi. Saya hanya diajak ikut survey jika dia merasa saya perlu ikut dan menilai rumah yang akan dilihat. Berkali-kali kami kecewa dan berkali-kali juga saya melihat suami mulai diterpa keraguan apakah Tuhan akan berkenan kami memiliki rumah di sini.Β  Puji Tuhan, dalam kondisi yang demikian kami tetap diberi Tuhan kesabaran dan bahkan segala keraguan yang muncul selalu digantikan Tuhan dengan pengharapan, sehingga dalam kondisi yang tak ideal pun kami tetap bisa menjalani hari-hari kami di apartemen berukuran 32m2 itu dengan penuh sukacita.

Bila dihitung-hitung, untuk kawasan di tempat tinggal kami yang sekarang ini saja, di luar rumah kami yang sekarang sudah ada sekitar 8 rumah yang pernah kami survey (kalau di kawasan lain sudah banyak sekali, saking banyaknya saya sampai tak bisa menghitung lagi ada berapa yang sempat masuk pertimbangan kami dan dilanjut dengan survey dan kemudian berakhir dengan kecewa πŸ˜…). Di antara 8 itu, hanya satu yang hampir jadi tapi kemudian di tengah perjalanan kami mengetahui ada hal yang tidak benar hingga kemudian prosesnya kami hentikan.Β  Saat itu, kami rugi waktu dan tenaga, tapi puji Tuhan terhindar dari kerugian materi walaupun beberapa waktu setelahnya kami mengalami yang namanya kerugian materi karena kena tipu πŸ˜†. Syukurnya kerugian materi itu tidak besar dan puji Tuhan kami juga diberi kerelaan disertai keyakinan bahwa semua hal, termasuk hal yang tampak merugikan itu, sebenarnya sedang dipakai Tuhan untuk menggiring kami ke tempat yang memang sudah Tuhan siapkan.

Sampai kemudian di tanggal 27 Oktober 2020, suami melihat iklan rumah ini. Tidak seperti rumah lainnya, rumah ini adalah rumah baru namun sudah full furnished karena aslinya adalah rumah contoh sehingga isinya memang sudah disediakan dengan lengkap oleh developer. Karena bukan baru kali ini saja kami berurusan dengan rumah contoh, maka untuk meyakinkan, suami pun minta ke si agen yang jual untuk video call langsung di lokasi rumah supaya kami bisa memastikan dulu bahwa kondisi rumah dalam keadaan baik sebelum memutuskan untuk survey langsung. Dari hasil video call dan ditambah dengan video yang direkam dan dikirimkan oleh si agen, kami bisa melihat bahwa kondisi rumah ini dalam keadaan yang sangat baik. Semua furniture masih dalam kondisi yang baik bahkan terlihat baru yang mana itu berarti dari agen serta developer tidak berbohong ketika mengatakan bahwa rumah ini memang masih sangat baru. Karena yakin, maka suami pun langsung membuat janji dengan agen untuk datang melihat langsung di sore keesokan harinya, alias tepat di hari ulang tahun saya 😍.

Maka jadilah, di sore hari tanggal 28 Oktober 2020, saya dan suami untuk pertama kalinya melihat langsung rumah ini dan O God, I fell in love instantly with this home! Love at first sight, indeed!

Perasaan ini sama persis dengan yang saya rasakan waktu pertama kali melihat si Rumah Cendana. Perasaan yang tak hanya sekedar langsung suka, tapi yang langsung seperti merasa, “Yes, this is home!”

Rumah ini, saya rasakan adalah salah satu hadiah untuk ulang tahun saya. Bukan saja karena kami pertama kali datang ke sini tepat di hari ulang tahun saya, tapi cat depan rumahnya juga ada aksen unguuuu, trus trus…interior dalamnya itu, wow banget, kami banget…ahahahahahaha…. Semuanya manis, hangat, terkesan homey, dan dari sejak pandangan pertama pun saya sudah tahu kalau semua furniture yang disediakan adalah pas sesuai dengan kebutuhan kami sekeluarga. Sudah gitu, saya juga suka dengan perintilan yang disediakan, semacam dekorasi, hiasan dinding, karpet-karpet, dan sebagainya. Di mata saya semuanya keren dan pas banget! Memang sih interior dalamnya bukannya yang serba ungu yak, tapi aksen-aksen ungu di rumah ini, seperti lukisan abstrak di dinding kamar utama dan tentu saja cat depan rumah itu sudah mewakili jiwa keunguan saya πŸ˜†.

Β Jadi ngomongin soal interior rumah ini, kalau ada yang suka komen di IG saya setiap saya taro foto rumah ini di feed atau di story dan bilang kalau interiornya bagus banget, percayalah itu bukan hasil karya saya tapi hasil karya desainer interior dari developer πŸ˜†. Kami cuma tinggal terima beres saja, pemirsa, yang mana yang patut disyukuri banget adalah meski kami hanya terima jadi, tapi semuanya seolah memang sudah dari awal didesain untuk keluarga kami 😍. Puji Tuhan.

Malam itu, rasanya kami ingin langsung bilang YES sama agennya, tapi tentu kami tahan dulu lah keinginan itu karena tahu diri bahwa kami tidak bisa melangkah kalau gak berdoa dulu sama Tuhan. Saat itu, kami pulang kembali ke apartemen dengan hati yang berbunga-bunga.

Baru sekali ini kami menemukan rumah yang rasanya berjodoh dengan kami karena semua aspeknya cocok banget dengan yang kami harapkan. Di jalan pulang itu kami bahkan sudah merancang-rancang seandainya memang Tuhan mengijinkan kami memiliki rumah itu, maka apa-apa saja yang perlu kami tambahkan supaya kondisi rumahnya semakin sesuai dengan kebutuhan aktivitas kami sehari-hari.

Malam itu, kami berdoa bersama, bersyukur untuk kesempatan untuk melihat rumah yang bikin kami jatuh cinta dan sekaligus meminta Tuhan menyertai proses selanjutnya. Bila memang rumah itu adalah untuk kami, maka biarlah Tuhan menyertai supaya setiap proses yang dijalani bisa lancar. Namun kalau tidak, biarlah Tuhan yang menggagalkan dengan cara Tuhan sendiri.

Besoknya suami menghubungi agen untuk melanjutkan proses pembelian rumah itu dan semua berjalan lancar hingga akhirnya di tanggal 17 Nopember 2020, proses pembelian rumah ini pun rampung. Haleluya!

Di hari yang sama, kami membawa anak-anak melihat rumah ini. Puji Tuhan, anak-anak merasakan apa yang kami rasakan soal rumah ini. Mereka juga seneengg banget, apalagi karena mereka bisa melihat betapa nyamannya lingkungan cluster rumah ini dengan bonus berupa playground tepat di depan rumah 😍.

Their first time with this home 😍

They sooo like this home!
His bedroom!
Muterin cluster pertama kalinya

Sejak hari itu, kami pun disibukkan dengan kegiatan renovasi rumah ini. Kecil-kecilan saja sih renovasinya karena hanya ada 3 hal yang perlu dilakukan: memperluas dapur karena kitchen set yang dari developer rasanya terlalu kecil buat kegiatan masak memasak saya sehari-hari, merombak taman belakang menjadi tempat cuci piring dan cuci pakaian, dan menambah balkon belakang yang berfungsi sekaligus sebagai tempat jemur pakaian.

Sudah, hanya tiga pekerjaan itu saja ditambah pekerjaan-pekerjaan kecil semacam pasang AC, nambahin jalur listrik, pasang wastafel di kamar mandi anak-anak, pasang water heater, sama pasang safety windows and doors.

Selebihnya, yang saya lakukan hanya belanja-belanja barang-barang elektronik yang belum disiapin sama developer, seperti oven, microwave, kompor listrik (dari developer cuma siapin kompor gas, sementara saya sangat jauh lebih nyaman pakai kompor listrik), cooker hood buat kompor listrik, mesin cuci, dispenser, dan apalagi ya? Kayaknya sih cuma itu saja karena selebihnya sudah disiapkan sama developer termasuk kulkas and the TVs 😁.

Gampang dan bisa cepat pindah dong kalo gitu?

Errr….lagi-lagi yaaa, dalam suatu usaha kalo gak ada tantangan yang tiba-tiba muncul rasanya kurang seru jadinya πŸ˜…. Begitu juga dengan usaha kami yang satu ini dong ya. Mikirnya bakal gampang kan ya. Pekerjaan renovasi dan sebagainya sudah dimulai dari sebelum akhir November jadi perkiraannya seharusnya selambat-lambatnya di pertengahan Desember kami sudah bisa pindah ke rumah ini. Kenyataannya? Kami baru bisa pindah di awal Januari 2021 πŸ˜….

Kenapa gitu?

Karena kami sempat salah milih vendor buat kerjaan renovasi kecil-kecilan ituuu….huhuhuhuhu….. Padahal vendor yang pertama itu termasuk temen lho yaaa. Tapi apalah daya, maksud hati pakai jasa teman supaya komunikasi lebih lancar dan tinggal tahu beres, ternyata malah yang didapat adalah sebaliknya. Waktu dia ngasih proposal dengan harga yang warbiasak, kami masih bisa terima dengan harapan ya sudah gak apa, yang penting cepat selesai dan semuanya beres dengan rapi dan baik. Tapi ternyata, dengan harganya yang sudah seluarbiasa itu, kerjaannya lambaaattt banget! Akhirnya suami mutusin untuk memberhentikan vendor itu, gak peduli temen atau gak, dan kemudian sepakat untuk hanya bayar apa yang sudah selesai mereka kerjakan saja. Waktu melihat progress yang dikerjakan mereka, kami sudah langsung tahu bahwa tak akan mungkin kami bisa pindah ke rumah ini di pertengahan Desember sebagaimana rencana kami. Dan progress mereka itu juga nunjukin dengan sangat jelas bahwa bila mereka yang ngelanjutin kerjaan di rumah, maka jangankan pertengahan Desember, bisa-bisa sampai bulan Februari tahun berikutnya pun kami belum bisa pindah ke rumah ini.

Puji Tuhan, begitu vendor itu diberhentiin sama suami, di saat yang sama suami juga dapat rekomendasi tukang dari temen sesama PLN daaann di hari yang sama suami juga dapat vendor buat ngerjain kitchen set yang berani menyanggupi pekerjaan kitchen set selesaiΒ sebelum akhir tahun. Jadi pada akhirnya, pekerjaan renovasi yang tadinya mo dikerjain sama satu vendor, kami bagi jadi dua pekerjaan. Yang khusus kitchen set dikerjakan sama vendor (kami pakai jasanya @rancangmebel) sementara sisanya dikerjakan sama tukang.

Dan puji Tuhan ya pemirsa, keputusan yang kami ambil itu terbukti sangat baik. Bersyukur, tukang yang direkomendasiin temen itu memang benar-benar bagus, kerjanya cepat dan rapi sangat. Begitu juga dengan vendor kitchen set-nya, mereka memang profesional memegang janji mereka, meski waktunya mepet tapi hasilnya bagus dan saya puaaass! 😍.

Tepat tanggal 31 Desember 2020, semua pekerjaan di rumah ini rampung. Meski tidak sesuai dengan rencana awal kami yang inginnya pindahan di pertengahan Desember, tapi dengan begini pun kami sudah bersyukur sekali mengingat setelah kejadian dengan vendor pertama itu, maka ini pun sudah termasuk sangat cepat selesainya. Puji Tuhan Yesus, hadiah tahun baru deh jadinya buat keluarga kami.

Sejak hari itu sampai seminggu ke depannya, saya dan suami setiap hari datang ke rumah ini untuk bersih-bersih. Anak-anak seperti biasa tinggal berdua di apartemen. Puji Tuhan, anak-anak sudah semakin besar untuk mengerti keadaan dan kemandirian mereka juga sudah sangat memungkinkan untuk mereka mengurus diri sendiri selama kami tinggal. Tanggal 9 Januari 2021 pun tiba, dan sejak hari itu kami sekeluarga resmi pindah ke rumah ini. Puji Tuhan.

Lalu bagaimana rasanya setelah hampir 5 bulan tinggal di rumah ini? Betah gak? Is it a home sweet home for us yet?

Puji Tuhan Yesus, sejak di minggu pertama kami tinggal di sini, rumah ini telah benar-benar terasa sebagai rumah untuk kami. Yes, it’s now our home sweet home, surprisingly even more than our home in Palembang! Benar lho, sekarang ini jika ditanya baik ke saya maupun anak-anak, jika harus memilih maka rumah mana yang akan menjadi pilihan kami, maka jawabannya adalah rumah ini.

Kenapa bisa begitu?

Bila dipikir-pikir, sepertinya ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya.

Pertama, karena di rumah ini hidup terasa lebih sederhana dan mudah. Mungkin karena ukuran rumah ini yang lebih kecil dibanding rumah Palembang sehingga perawatan sehari-harinya menjadi jauh lebih mudah dan cepat. Selain itu barang-barang di rumah ini juga jauh lebih sedikit dibanding yang di Palembang tapi sesuai kebutuhan sehingga membuat hidup terasa lebih praktis. O iya, kami sampai sekarang belum angkut satupun barang-barang dari Palembang, bahkan termasuk piring gelas dan perkakas dapur puunnn jadinya beli lagi di sini, bener-bener di sini kami tuh yang start a new life banget hingga berasa pengantin baru beranak dua 🀣.

Kedua, karena di rumah ini, meski lebih kecil dan barang-barangnya lebih sedikit, tapi semuanya sesuai banget dengan kebutuhan aktivitas kami sehari-hari. Misalnya saja buat kebutuhan di hari kerja, saat suami kerja dari rumah dan anak-anak sekolah dari rumah, masing-masing bisa punya space sendiri yang nyaman dan tidak saling menggangu. Saya juga sehari-hari mau masak, mau baking, mau apapun itu di dapur ya nyaman. Atau ketika suami dan anak-anak lagi sibuk kerja dan sekolah trus saya mau nonton atau ngeblog pun ya bisa-bisa saja saya lakukan dengan nyaman, tanpa mengganggu mereka.

Si abang yang punya laptop paling canggih di rumahgara-gara hobinya ngedesain 3D animation πŸ˜…
Si bapak yang bisa ngikutin 3 bahkan 4 meeting dalam waktu yang bersamaan πŸ™ˆ
Kalo lagi perlu sama laptop, maka tempat ini jadi lokasi favorit saya. Lumayan, bisa sambil dengerin si adek sekolah 😁.

Ngomongin soal barang-barang, terutama barang-barang dapur, meskipun di sini lebih sedikit tapi hampir semuanya upgraded dari yang ada di Palembang, jadi ya sedikit banyak jadi penambah semangat lah di rumah…hehehehe….

I’m soooo in love with these Cypruz marble series 😍
Kompornya tetep kompor listrik (induksi + infrared) yaaa… Kompor ini termasuk keluaran baru dari Kris, sebenarnya harganya jauh lebih murah dibanding kompor di Palembang yang Aria Optimum, tapi meski begitu, fitur nya lebih banyak dan penggunaannya juga jauh lebih praktis.
Kompor induksi is the best pokoknya! Kalau sudah nemu nyamannya, pasti tak akan mau beralih kembali ke kompor gas 😁
Di sini kulkasnya jauh lebih kecil dibanding yang di Palembang, karena kami juga hanya pakai kulkas yang dari developer. Tapi meski begitu, ukuran kulkas ini masih sesuailah dengan kebutuhan masak memasak kami di sini yang somehow tak seheboh ketika di Palembang. O ya, kalau dapurnya kiri dan kanan bisa beda backsplash-nya, itu karena yang kanan adalah bikinan developer sementara yang kiri adalah tambahan yang kami bikin. Trus yang sebelah kanan itu ada kompor gas dua tungku kecil yang sampai sekarang tidak kami pakai sama sekali, nanti rencananya kompor itu mau diganti dengan kompor listrik entahkah induksi atau infrared yang berukuran sama. Kapan-kapan nanti saya cerita khusus soal dapur yaaa…. Semogaa ada kesempatan (dan kemauan πŸ˜…) yaaa
Rak berisi aneka kebutuhan dapur, dari peralatan sampe segala macam stok bahan-bahan kering. Antara hiasan dinding dan fungsi raknya sebenarnya gak nyambung, tapi kombinasinya kok jadinya bagus karena bikin terkesan useful yet at the same time, romantic 😍.

Ketiga, interior rumah ini yang didesain dengan kesan homey banget sepertinya tak dapat dipungkiri memang berperan banyak memunculkan rasa betah itu buat kami. Di Palembang tuh sebenarnya sudah homey ya, tapi di sini terkesan lebih lagi 😍. Agak susah mau dijabarkan memang, yang pasti perasaannya ya gitu 😁.

Tempat duduk-duduk favorit saya dan suami di pagi dan sore hari
Saya pernah cek di Amazon, lukisan dinding itu sebenarnya ada dua seri: Mom and Son serta Mom and Daughters. Somehow, desainer interiornya memilihkan Mom and Son buat rumah ini dan bukannya Mom and Daughters, seperti yang sudah tahu bahwa yang akan membeli rumah ini cuma punya anak laki-laki saja 😁
Ruangan yang hampir tak pernah kosong, karena jadi tempat favorit buat anak-anak beraktivitas.
Cozy banget tempat makannya kaann… Berasa yang makan di restoran terus tiap hari…hehehehe

Sudah gitu, yang saya senangnya, meski rumah ini tidak punya ruang dapur khusus karena desainnya yang serba terbuka, tapi dapurnya justru luas bahkan lebih luas dibanding dapur di rumah Palembang πŸ˜„.

Kitchen set asli dari developer hanya di bagian ini saja. Tempat cuci piringnya terlalu mini, jadi kami rasa perlu ada tempat cuci piring tambahan. Sink yang ini akhirnya lebih berfungsi sebagai wastafel buat cuci tangan..hehehe
Tempat cuci piringnya di sini. Luas! 😁

Keempat, lingkungan cluster di sini nyaman sekali. Lingkungannya tenang, aman (semoga aman terus), rapi, bersih (setiap hari dari pagi sampai sore, ada saja petugas kebersihan cluster yang bersih-bersihin jalan dan taman), tetangganya juga asik-asik saja (walopun belum pernah ketemu langsung dan hanya berkenalan via WAG berhubung kondisi pandemi πŸ˜…), dan udara sekitar sini itu lhooo bersih serta segar. Apalagi posisi rumah ini kan tepat berada di depan playground ya sehingga tidak berhadap-hadapan langsung dengan rumah lain. Nah, posisi yang demikian adalah bonus yang sangat istimewa karena dengan begitu, gak hanya kami mendapatkan pemandangan depan rumah yang selalu hijau lengkap dengan kicauan burungnya yang rame dari pagi sampai sore, tapi kami juga bisa mendapatkan udara segar yang bebas mengalir ke dalam rumah yang mana itu berperan besar membuat udara dalam rumah tidak pernah gerah atau panas daaann membantu sangat untuk kondisi alergi anak-anak. Selama tinggal di sini, mereka hampir gak pernah lagi lho bersin-bersin saat bangun pagi. Puji Tuhan banget kaannn 😍.

Pemandangan depan rumah 😘

Kelima, saya percaya kami bisa langsung betah dan nyaman tinggal di sini karena Tuhan sendiri yang menganugerahkan rasa itu buat kami. Rumah ini, kebersamaan kami, sukacita kami, semuanya adalah hadiah serta anugerah dari Tuhan. Bahkan hari-hari yang kami lewati selama 7 bulan di apartemen juga adalah hadiah dari Tuhan karena lewat masa itu, kami semakin belajar untuk menikmati hidup dalam kesederhanaan 😘.

Bila ditanya, masih adakah PR yang harus dikerjakan tentang rumah ini, memang satu-dua masih ada ya. Misalnya yang sederhana saja seperti kabel-kabel TV dan PS yang malang melintang di depan backdrop karena desain backdrop-nya yang ternyata gak mengantisipasi jalur-jalur kabel itu πŸ˜…. Not that we’re complaining, because really, it’s fine actually, we don’t mind those visible wires, cuma yah kalau nanti bisa dirapikan tentu akan lebih baik lagi. Selain itu kami juga ada kepengenan bikin rooftop area di atas, karena di atap memang ada space untuk itu trus pengen ganti lantai di area tangga dengan lantai kayu. But well, those are the plans for another day another time lah yaaa… Kalau sekarang sih kami menikmati saja dulu apa yang ada. Begini saja sudah lebih dari cukup membuat kami bahagia menjalani hari demi hari yang hanya di rumah saja ini.

Rumah ini adalah hal yang sudah kami inginkan dari lama. Secara pikiran manusia, seharusnya lebih mudah diusahakan untuk didapat saat kondisi normal, namun ternyata justru Tuhan memberikannya di saat kondisi tidak normal seperti sekarang. Cara Tuhan, waktu Tuhan, dan rancangan Tuhan memang luar biasa.

Demikianlah pemirsa cerita singkat soal rumah ini. Puji Tuhan, walau singkat tapi seenggaknya sudah bisa terdokumentasikan di sini.

Sebagai penutup, saya tampilkan foto-foto di beberapa bagian rumah ini yaa. Semoga bisa memanjakan mata yang melihat, termasuk tentu mata saya sendiri…hehehehe… Selamat beristirahat, manteman. Tuhan kiranya selalu memberkati kita. Amin!

Tak dapat dipungkiri bahwa centerpiece di kamar tidur utama ini adalah lukisan dinding itu yang membuat meskipun ruangan ini tak bertema ungu tapi sudah cukup menegaskan bahwa pemiliknya menyukai warna ungu. Jodoh kan? 😁

Favorit bangeeett kalo di jam-jam sinar matahari menerpa area ini 😍

Sekitar jam 3-4 sore nih sinar matahari masuk kayak gini. Romatiiiss 😍

Sampe printilan hiasan kecil-kecil kayak gini ajapun saya tinggal terima jadi aja, udah tersedia di rumah…hihihihi
Ruangan yang paling susah bisa difoto dalam kondisi kosong 😁
Wall shelves tiga warna itu kami adakan sendiri, begitu juga dengan rak susun berwarna putih di atas TV backrop. Sengaja ditambahkan karena dari awal sudah terpikir anak-anak akan butuh tambahan shelves buat buku-buku dan mainan mereka. Benar saja, lihatlah sekarang, baru beberapa bulan di sini saja shelves yang tiga ini sudah penuh dengan prakarya buat school project mereka πŸ˜…
Pengen take a little nap after school? Gak usah ke kamar, di sini juga bisaaa πŸ˜†. Makanya ruangan ini gak pernah kosoongg πŸ˜…
😍😍😍😍
Home Sweet Home

10 respons untuk β€˜Rumah Tangerang’

  1. selamat ya lis buat rumah barunya! cakep banget! iya beli rumah emang jodoh2an ya. seneng kalo udah ketemu ruamh yang pas gini ya. furnished pula. πŸ™‚

  2. Wah… akhirnya yang ditunggu-tunggu tayang juga. Dah lama banget menantikan cerita tentang rumah baru ini, dan akhirnya dapat cerita yang sangat menyenangkan ini. Turut ngerasa bahagia dan bersyukur banget Kak. Itu wow banget interior rumahnya dan lengkap banget .
    Sangat menikmati cerita indahnya rumah ini Kak, apalagi dimanjakan dengan foto2 cantiknya, lengkap banget deh. Semangat menunggu cerita berikut nya Kak..

  3. turut berbahagia… Selamat atas semua pencapaian yang terkabul. Sangat menginspirasi.
    oya Kak, maaf OOT. Kak Lisa kalau nulis blog pakai laptop apa HP? makasih sebelumnya πŸ™‚

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s