Earth Day 2021 and INPF 2021

Gak kerasa ya, sekarang sudah bulan ke-5 di tahun ini, sebulan lagi genap deh setengah tahun lewat 😁. Bagi saya pribadi, bulan Mei itu istimewa. Alasan pertama, karena bulan Mei adalah bulan jadian saya dan suami 15 tahun yang lalu. Alasan kedua, karena bulan Mei adalah bulan pertunangan saya dan suami 14 tahun yang lalu. Alasan ketiga, adalah karena di bulan Mei ini saya sudah harus kembali melapor ke kantor terkait status cuti tanpa tanggungan saya πŸ˜….

Yang terakhir itu sebenarnya bikin galau dan deg-degan dan sempat bikin saya berharap agar Mei jangan cepat-cepat datang 😁. Tapi apalah daya ya kan, I’m only human. I can’t hold the time and ask it to stop running so fast. Mei tetap saja datang dan saya tetap harus menghadapi apa yang memang mesti dihadapi. That’s okay, I know we will be fine even though what will happen in our future still remains a mystery and unknown for us. Kehendak Tuhan pasti akan jadi dan itulah yang terbaik, itulah yang menjadi pegangan kami.

Anyway, daripada mikir yang galau-galau yang mau segalau gimanapun dipikirin tetap juga harus dihadapi, saya pun memilih untuk bercerita tentang anak-anak saja di sini. Si duo RJTS ini memang pembawa sukacita banget. Mereka sudah semakin besar dan semakin mandiri sekarang. Bener lho, mandirinya bener-bener yang mandiri yang bikin mamanya sebenarnya semakin santai di rumah 😁.Β  Yang perlu disiapin buat mereka paling ya makanan, selebihnya mereka sudah mengurus diri mereka sendiri. Abang bahkan sekarang sudah nyetrika sendiri baju dia dan adeknya. Keren kan? Hehe… Puji Tuhan. Anak-anak yang semakin mandiri itulah yang menjadi salah satu alasan buat saya untuk merasa sayang jika melepas pekerjaan. Melihat perkembangan anak-anak, sepertinya akan lebih banyak manfaat untuk saya dan juga untuk anak-anak jika saya bekerja deh πŸ€”. Eiittssss……nyangkut di kerjaan lagi deh ceritanya, padahal tadinya pengen fokus cerita soal anak-anak saja πŸ˜…. Ya sudah, kita balik lagi ke soal anak-anak yaaa… Jadi ini ada dua topik yang mau saya ceritakan. Pertama soal si adek dan Hari Bumi yang jatuh tanggal 22 April yang lalu kemudian yang kedua soal lomba piano yang diikuti si abang di bulan April yang lalu juga. Tanpa berlama-lama lagi, langsung saja ya kita simak ceritanya 😁.

Earth Day 2021

Sudah tahu kan ya kalau setiap tanggal 22 April seluruh dunia merayakan Hari Bumi? Sebenanya sih hari Bumi itu setiap hari ya, karena kita tinggalnya masih di Bumi. Tapi yah, terkadang memang perlu juga kita memperingati secara khusus hal-hal yang sudah tampak biasa supaya ingat lagi bahwa yang biasa-biasa itu pun adalah anugerah yang istimewa dari Tuhan. Nah, tahun ini, pas banget tema pembelajaran di kelas si adek dari sejak bulan Maret tuh adalah tentang Lingkungan, jadi semua projectΒ yang dikerjakan selain memang sesuai dengan tema pembelajaran juga sekaligus untuk memperingati Hari Bumi. Project-nya sendiri ada banyak macam, dari yang bikin poster, presentasi, video kampanye Go Green, daur ulang, dan sebagainya. Salah satu sistem pembelajaran yang dianut oleh sekolah anak-anak adalah project-based learning, makanya gak heran kalau dikit-dikit mereka harus mengerjakan project. Saat sekolah normal, semua project memang dikerjakan di sekolah, jadi orangtua taunya anak disuruh bawa bahan ini-itu trus tau-tau nanti saat ada Student-Led Conference, orangtua bisa lihat segala macam project yang sudah dikerjakan anak di sekolah. Nah, berhubung sekarang sekolahnya online dari rumah, maka tentu semua project dikerjakan di rumah. Barulah banyak orangtua yang sadar kalau ternyata selama ini anak-anak di sekolah tuh sibuknya bukan main…hehehehehe… Memang sih ngerjain project ini itu menambah kerepotan di rumah. Saya juga kadang kasihan sih lihat anak-anak yang kok selalu adaaa aja project yang harus dikerjakan meski ujiannya pun lagi banyak. Tapi anak-anak katanya sudah terbiasa seperti itu, jadi yah mereka asik-asik aja ngerjainnya. Pikir-pikir sekalian juga kan ya menambah aktivitas positif di rumah. Puji Tuhan anak-anak sudah setahun lebih hanya mendekam dalam rumah, sampai sekarang mereka belum pernah jalan-jalan ke mana pun, tapi mereka tidak pernah mengeluh bosan karena toh di rumah juga aktivitasnya banyak yang mana salah satunya yah ngerjain school project itu 😁.

Di atas itu adalah foto si adek bersama beberapa project yang dia kerjakan di bulan ini yang mana semua project itu tugasnya diberikan dan diselesaikan semua dalam satu minggu. Banyak bener kan yak tugas anak SD kelas 1 dalam 1 minggu πŸ˜…. Bersyukur banget anaknya semangat mengerjakan semua satu per satu, tanpa ditunda-tunda, secara mandiri, dan tentu semua diupayakan dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Trus trus itu, kalau dilihat, tulisan tangan si adek (seperti yang terlihat di kedua poster itu) termasuk sangat rapi ya untuk ukuran anak SD kelas 1 😍. Puji Tuhan 😘.

Nah, seperti yang saya bilang di atas, salah satu project yang dikerjakan di unit pembelajaran tentang Lingkungan ini adalah membuat video campaign tentang Go Green dan hasil yang dibuat si adek adalah seperti ini.

Trus selain itu si adek juga ada ngerjain recycling project yang mana untuk project satu ini, selain harus ada hasil daur ulangnya, proses pembuatannya juga kudu divideokan dan dalam video itu anak-anak harus bisa menjelaskan tentang bahan dan cara pembuatannya. Syukur banget waktu tugas ini diberikan, di rumah sedang ada kotak kardus bekas printer yang sebenarnya sudah kami beli dari seminggu sebelumnya, tapi gak tau kenapa kok kardus itu gak juga kami biarkan diangkut sama tukang sampah, rupanya karena ternyata kardus itu dipersiapkan untuk proyek sekolah si adek ini πŸ˜….

Kardusnya lumayan besar, jadi sebelum ngerjain kami pikir-pikir dulu mau dibikin jadi apa. Ada beberapa ide yang muncul dari yang bikin diorama, sword and shield, sampai kemudian si adek ngasih usul bikin Puppet Theater aja karena belum lama ini di kelas dia juga bikin paper puppets dari cerita Three Little Pigs. Kata si adek sih mending bikin Puppet Theater biar si paper puppets itu jadi punya panggungnya. Pikir-pikir iya sih, bener juga idenya. Lagian bikin Puppet Theater kayaknya sih gak susah-susah amat dan gak akan membuang terlalu banyak bahan kardus. Saat itu sih semua masih ‘kayaknya’ yaaa…karena kami sendiri belum tahu akan bagaimana dan seperti apa prosesnya. O ya, tugas project ini diberikan di hari Senin dan foto serta videonya sudah harus dikumpulkan di hari Rabu paling lambat jam 9 malam.

Karena waktunya lumayan mepet sementara kami sendiri masih belum tahu akan bagaimana mengerjakan serta akan seperti Puppet Theater-nya, maka ya langsunglah hari itu juga dikerjakan. Selagi si adek mengerjakan, semua prosesnya saya rekam jadi si adek pun bisa sambil menjelaskan apa yang sedang dia kerjakan. Puji Tuhan, walau melelahkan dan ada masalah di tengah-tengah proses pengerjaan, tapi semangat si adek tak pernah turun sampai kemudian Puppet Theater-nya selesai dengan hasil yang sangat memuaskan, at least for him dan kami semua tentunya! 😍. Ini videonya saya taruh di sini yaaa… Siapa tahu bisa membantu memberikan ide juga buat pembaca yang anaknya mendapatkan tugas sekolah yang mirip-mirip seperti ini 😊.

Sebagai orangtua, tentulah kami bangga dengan si adek, gak hanya soal hasilnya yang memuaskan, tapi terutama karena proses yang dia jalani. Puji Tuhan walau masih kelas 1 SD, tapi sejauh ini si adek terbilang sangat mandiri untuk urusan belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya serta apalagi kalau sudah urusan ujian. Untuk perkara tugas berupa project memang terkadang masih butuh bantuan kami, seperti misalnya saat membuat Puppet Theater di atas, si adek masih butuh bantuan kami buat potong-potong kardusnya. Selain memang masih sangat sukar buat dia kerjakan sendiri, urusannya juga melibatkan cutter yang mana masih sangat berbahaya untuk anak sekecil si adek. Jadi bisa dibilang, kami memberikan bantuan ke si adek sesuai dengan porsi yang dia perlukan sehingga dia bisa tetap belajar untuk mandiri namun situasinya juga tetap dipastikan aman πŸ™‚.

Selain video dan proyek daur ulang di atas, si adek juga ada bikin poster tentang Lingkungan dalam Bahasa Indonesia yang kemudian dipresentasikan dalam sesi kelompok kecil. Karena pakai Bahasa Indonesia, jadi sebelum presentasi dia harus banyak latihan karena kalau tanpa latihan maka dia akan kesulitan berbicara. Maklumlah, si adek ini berpikirnya sudah dalam Bahasa Inggris, jadi kalau bicara dalam Bahasa Indonesia, meski dia bisa tapi yah dia harus mikir dulu terjemahannya bagaimana πŸ˜…. Suara si adek terdengar ngegemesin banget kalau pakai Bahasa Indonesia gini 😁.

Puji Tuhan, dengan belajar tentang Lingkungan sekaligus memperingati Hari Bumi seperti ini, si adek semakin belajar untuk menghargai keberadaan Bumi dan semakin memperhatikan hal-hal kecil yang bisa dia buat untuk membantu kelestarian alam 😊.

INPF 2021

Nah, kalau di atas cerita soal si adek, sekarang saya mau bercerita soal si abang dan lomba piano yang dia ikuti di bulan April yang baru lewat, yaitu Indonesia National Piano Festival. Lomba ini sebelumnya sudah beberapa kali diikuti oleh si abang, tapi baru kali ini dia mengikutinya secara online. Ya, karena memang baru setelah pandemi ini datanglah maka lomba piano yang tadinya harus di depan juri langsung kemudian pada beralih menjadi online. Begitulah memang, pandemi ini banyak sekali mengubah tatanan kebiasaan dalam hidup ini dan sebagai manusia kita memang tak punya pilihan selain berusaha untuk beradaptasi supaya tidak ‘kalah’ dengan kondisi pandemi ini.

Sewaktu awal mendapat kabar soal lomba ini dari gurunya, sejujurnya si abang agak ragu dan minder untuk ikutan. Persoalannya bukan di kemampuannya, tapi soal perangkatnya. Karena lombanya online maka dia akan memainkan lagunya di rumah menggunakan piano yang ada di rumah, sementara tahu sendiri kan ya, piano yang ada di rumah sekarang tuh hanya yang digital dan portabel pulak πŸ˜…. Si abang (dan saya juga sih!) sempat ragu apakah penampilannya akan dipandang cukup memenuhi syarat meskipun pianonya tidak seperti yang digunakan oleh peserta lainnya. Saking ragunya, saya sampai meminta guru lesnya mengonfirmasi pihak panitia bahwa tidak mengapa meskipun si abang hanya menggunakan piano digital dan portabel. Setelah konfirmasinya oke, maka dimulailah rangkaian kegiatan latihan dan rekaman. O ya, bersyukur sekali memang ya, di tengah kondisi yang seperti sekarang, sejauh ini tempat les anak-anak tetap memberikan support yang optimal, termasuk untuk les piano ini. Meski tidak mudah mengajar piano secara jarak jauh, tapi guru les anak-anak tetap berusaha semaksimal mungkin hingga hasilnya pun puji Tuhan bisa baik.

Mungkin orang akan berpikir bahwa lomba online seperti ini lebih mudah dibanding lomba secara langsung di hadapan juri. Mungkin di satu sisi benar jika yang dilihat adalah dari segi tingkat kegugupannya ya, tapi akan menjadi tidak benar jika mempertimbangkan bahwa justru persaingan semakin bertambah berat dengan cara online seperti ini. Mengapa semakin berat? Ya, karena juri akan menilai berdasarkan video yang dikirimkan sehingga tentu semua peserta akan berusaha memainkan lagunya sesempurna mungkin alias tanpa kesalahan sedikit pun. Kebayang kan ya gimana sengitnya persaingan kalau semua video yang dikirimkan berisi permainan piano yang sempurna πŸ˜….

Tanggal 04 April videonya kami kirimkan ke guru les piano si abang dan tanggal 24 April pengumuman dari lomba itu kami terima.

Hasilnya adalah si abang mendapatkan Diamond Award.

Haleluya, puji Tuhan! 😍😍😍😍

Ternyata, meski dengan peralatan yang terbatas, tapi usaha si abang tetap diberkati Tuhan sehingga hasil lombanya sangat memuaskan.

Saking tak menyangkanya, si abang sampai campur aduk perasaannya antara bahagia dan takjub…hehehehe… Puji Tuhan Yesus, bahagia sekali rasanya, paling tidak dengan hasil lomba ini akan memberikan tambahan semangat untuk anak-anak, bahwa meski mereka hanya di rumah saja tapi Tuhan tetap bisa menolong mereka untuk berprestasi selama mereka juga memiliki semangat untuk itu 😊.

Di atas itu adalah tangkapan layar dari IG Story guru pianonya si abang di mana gurunya ada bilang soal si abang yang perfect pitch. Puji Tuhan sekali memang, baik abang maupun adek dua-duanya diberikan talenta yang sangat baik dalam bidang musik. Dua-duanya perfect pitch. Bagi saya pribadi, hal itu sangat amazing. Kenapa? Karena saya sendiri bawaannya kalo nyanyi tuh out of tune πŸ˜…. Luar biasa banget rasanya berkat Tuhan bagi saya yang tidak mengerti nada ini bisa punya anak yang kesemuanya justru punya telinga yang sempurna mendengar nada 😍.

==================================

Demikianlah pemirsa, cerita sore hari di awal bulan Mei ini. Buat pemirsa semua, semoga tetap dalam keadaan sehat sejahtera yaaa. Tetap semangat menghadapi hari demi hari, Tuhan kiranya selalu menolong dan menyertai kita semua. Amin!

6 respons untuk β€˜Earth Day 2021 and INPF 2021’

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s