Si Adek dan Masalah Tentang Gigi Susunya

Seperti yang bisa dibaca dari judulnya, kali ini saya mau bercerita tentang si adek dan persoalan tentang giginya. Si adek, sekarang usianya sudah 7 tahun, sudah masuk usia di mana gigi-gigi susunya akan tanggal dan berganti dengan gigi permanen alias gigi dewasa alias gigi kekal. Sebenarnya sih proses pergantian gigi ini sudah berlangsung dari sejak dia masih 6 tahun, tepatnya di tanggal 19 April tahun ini, untuk pertama kalinya gigi susu si adek tanggal.

Iya, kejadiannya memang pas di saat wabah sudah mulai melanda dunia 🙈. Sempat bikin galau saat itu, karena gigi permanennya sudah mulai tumbuh sementara gigi susunya masih belum goyang sama sekali. Mau bawa ke dokter gigi, tapi ada rasa khawatir mengunjungi dokter, di samping para dokter gigi juga pada saat itu rata-rata hanya menerima pasien dalam kondisi kegawatdaruratan saja. Mau dibiarkan begitu saja, tapi khawatir nanti susunan giginya jadi berantakan.

Galauuu….!

Tapi akhirnya karena pertimbangan bahwa derajat menakutkan dari susunan gigi yang berantakan masih lebih rendah dibanding kekhawatiran akan wabah, maka kami pun berkeputusan untuk dibiarkan sajalah giginya itu dan menjadikan doa saja sebagai andalan kami 😅.

Puji Tuhan, penyertaan-Nya memang sempurna. Beberapa hari kemudian gigi susunya goyang, dan tak berapa lama tanggal tanpa drama. Setelah itu kami kasih tahu ke si adek untuk sering-sering mendorong gigi permanennya supaya posisinya bisa maju setara dengan gigi-giginya yang lain. Puji Tuhan usaha ini berhasil juga, sekarang gigi permanennya sudah berada pada posisi yang tepat 😁. O ya, yang mengalami gigi tanggal selama masa pandemi ini tidak hanya si adek, tapi si abang juga. Tidak tanggung-tanggung, terhitung dari sejak bulan April hingga sekarang, sudah ada 4 gigi susu si abang yang tanggal secara alami 😅. 

Pengalaman pertama si adek dengan pergantian gigi ini memang berbeda dengan yang dialami si abang. Dulu si abang sampai kami bawa ke dokter gigi buat dicabut giginya dengan pertimbangan supaya aman dan karena saya dan suami sama-sama tak punya keberanian yang cukup untuk mencabut gigi anak 😛. Puji Tuhan, untuk si adek ini, meski prosesnya berlangsung alami, namun ternyata tetap aman-aman juga 😁. Bersyukur banget sih memang, di saat kami tak bisa bebas membawa anak ke dokter, Tuhan menolong dengan membuat proses-proses yang tadinya membutuhkan campur tangan dokter kemudian bisa terjadi secara alami dengan hasil yang tetap baik.

Balik lagi ke soal si adek, berhubung dia sudah 7 tahun, itu artinya akan lebih banyak lagi giginya yang akan berganti. Sekarang saja sudah ada 3 lagi yang mulai goyang. Duh, banyak yaahhh….hahahahaha…

Karena itulah, mengingat akan semakin banyak gigi susunya yang tanggal, maka saya mau mendokumentasikan dulu di sini persoalan serta permasalahan dengan gigi susu si adek yang sejujurnya, lumayan menguras perhatian kami dari sejak usianya 3 tahunan. Ditulis di sini maksudnya biar jadi catatan sejarah perjalanan kehidupan si adek 😁.

Jadi begini, pemirsa, bukannya mau memuji diri nih ya, tapi kalau bisa saya bilang, saya ini termasuk yang memberikan perhatian mendetail terhadap pertumbuhan, perkembangan, serta kesehatan anak-anak yang mana di dalamnya tentu termasuk soal pergigian.

Perhatian detail seperti apa yang saya berikan soal gigi anak?

Kurang lebih seperti ini.

  • Dari sejak anak-anak masih bayi dan belum punya gigi pun, saya sudah rajin membersihkan gusi mereka menggunakan kain kassa steril dan air mineral hangat.
  • Sejak bayi anak-anak tidak pernah tidur sambil ngedot. Mereka berdua adalah anak-anak yang diberkati dengan ASI yang cukup hingga usia lewat dua tahun, sehingga memang dari sejak awal mereka tidak perlu minum susu dari botol. Sempat sih mereka minum ASIP pakai botol, tapi itupun hanya sebentar. Keduanya menolak minum ASIP dari dot di usia 9 bulan dan sejak itu lebih memilih minum ASIP dengan cara disuap atau minum langsung dari gelas.
  • Anak-anak tidak pernah saya kenalkan dengan yang namanya pacifier.
  • Ketika gigi mereka sudah tumbuh, mereka rutin dan disiplin disikatkan giginya setiap kali mandi dan sebelum tidur malam. Kebiasaan itu terus berlangsung sampai sekarang. Hampir tidak pernah ada ceritanya mereka malas gosok gigi atau sampai kelupaan sikat gigi sebelum tidur. Kalau kami pergi keluar dan pulang sudah terlalu malam hingga anak-anak tertidur di jalan pun, tetap diusahakan ketika sampai di rumah mereka sikat gigi dulu sebelum lanjut tidur.
  • Anak-anak tidak dibiasakan makan permen sejak kecil. Sampai sekarang pun, mereka sangat jarang makan permen.
  • Saya rajin mengontrol gigi anak, baik dikontrol sendiri maupun dikontrol ke dokter gigi. Kalau yang saya kontrol sendiri biasanya untuk lihat jumlah giginya sudah ada berapa, adakah yang bernoda, dan sebagainya.

Saya berusaha sedetail dan sedisiplin itu untuk persoalan gigi anak-anak, karena bagaimanapun berkaitan dengan kesehatan. Sakit gigi itu pada dasarnya adalah jenis sakit yang bisa dihindari, jadi harapannya dengan perhatian yang saya berikan maka gigi anak-anak akan menjadi sehat dan mereka bisa terhindar dari sakit gigi yang menyiksa. Lagipula saya sudah pernah mengalami bagaimana rasanya ketika gigi rusak akibat karies. Waktu masih balita dulu, gigi saya rusak parah, semua bentuknya kecil dan berwarna hitam hingga saya sering diledekkin Si Gigi Tikus. Ah, tak nyaman lah kalau mengingat ulang pengalaman masa kecil di bagian itu. Sampai sekarang pun saya masih ingat bagaimana malunya ketika diledekkin Si Gigi Tikus, apalagi kalau di depan orang banyak 😅. Pengalaman tak menyenangkan itu, mau tak mau menjadi salah satu pendorong untuk saya lumayan strict jika sudah menyangkut kesehatan gigi anak-anak.

Sayangnya, meski baik si abang maupun si adek mendapat penerapan yang sama ketatnya soal pergigian ini, tapi ternyata hasilnya tidak sama. Si abang giginya aman dan sejahtera senantiasa. Hingga hari ini, tak ada satu pun giginya yang rusak atau sekadar bernoda pun. Namun berbeda dengan si abang, si adek justru sudah mulai mengalami masalah dengan gigi ketika usianya bahkan belum menginjak 3 tahun.

Bulan Juli 2016 (2 tahun 8 bulan), semua giginya masih dalam keadaan sehat dan bersih.

Tepatnya di bulan September 2016, saat itulah pertama kali masalah dengan gigi si adek muncul.

Masalah itu adalah berupa noda yang awalnya muncul di gigi taring bawah dan kemudian lambat laun menjalar ke gigi-gigi yang lain juga.

Bulan September 2016 (2 tahun 8 bulan), noda mulai muncul di gigi taring bawah (yang saya tunjukkan dengan tanda panah)

Noda yang pertama kali muncul itu sudah langsung jadi alert buat saya. Apalagi kemudian ketika melihat nodanya semakin meluas dan sama sekali tidak bisa dibersihkan, baik dengan sikat gigi maupun dengan cara digosok pakai kain kassa yang sudah dibasahi dengan air hangat. O ya, noda yang saya maksud di sini tidak sama seperti karies ya. Kalau karies kan diawali dengan bercak putih yang kemudian menjadi hitam atau cokelat gelap hingga akhirnya membuat gigi terlihat rusak bahkan membusuk. Nah, kalau si adek ini, tidak pernah diawali dengan bercak putih dan nodanya pun memang terlihat hanya seperti noda di permukaan gigi saja.

Meski kami sebenarnya sudah yakin bahwa itu bukan karies, namun tetap saja kami berkeputusan membawa si adek ke dokter spesialis gigi anak. Supaya pasti gitu kan ya, diagnosisnya bukan hanya hasil pengetahuan orangtuanya yang terbatas ini 😁. Lagipula, karies atau bukan, kami tidak mau ambil risiko. Apapun masalah pada gigi si adek, lebih baik diatasi sekarang sebelum menyebabkan masalah yang lebih besar.

Betul saja, begitu dibawa ke dokter gigi yang memang spesialis gigi anak (namanya drg. Ibnu yang berpratik di RS Hermina dan RS Siloam di Palembang), dokternya juga bilang kalau kasus yang dialami si adek bukanlah karies, melainkan hanya noda kotor saja yang bisa hilang bila dibersihkan.

Masalahnya adalah, pori-pori di enamel gigi si adek ini besar, membuat kotoran atau sisa makanan menempel dengan nyaman dan dalam di giginya, sehingga kemudian tidak bisa dibersihkan hanya dengan menggosok gigi seperti biasa saja. Membersihkannya harus dengan cara scaling di dokter gigi.

Kalau dibiarkan tidak tertangani, apakah akan berbahaya?

Ya, tentu saja. Meskipun sekarang ini masalahnya hanya berupa noda kotoran, namun bila dibiarkan bertumpuk, maka lama kelamaan akan menyebabkan karies.

Kan tidak apa-apa kalau gigi susu anak mengalami karies. Toh bakal copot juga dan berganti dengan gigi permanen kan?

Ya, memang gigi susu anak pada akhirnya akan tanggal dan berganti dengan gigi permanen. Namun tetap saja, kasus karies tidak bisa dianggap sepele, karena bisa mengganggu pertumbuhan gigi permanennya kelak. Lagipula, karies juga bisa menyebabkan rasa nyeri lho, kan kasihan ya kalau anak harus mengalami sakit gigi. Ingat lho, masih mending sakit hati, daripada sakit gigi 😛.

Kunjungan pertama ke drg. Ibnu, di RS Hermina, dan gigi si adek pun langsung ditangani dengan pembersihan. Saat itu pembersihannya dilakukan dengan cara digosok pakai kapas yang sudah diolesi krim pembersih (yang saya tak tahu apa namanya 😅). Seharusnya sih tidak sakit ya, tapi berhubung si adek kan bawaannya tak bisa kalau tak nyaman, jadi yah begitulah, sepanjang proses pembersihan dia menangis terus 😅. Puji Tuhan, setelah proses yang terasa panjaaangg sekali karena si adek tak bisa berhenti menangis, giginya kembali menjadi putih bersih. Saat itu dokter hanya menganjurkan kami untuk meneruskan rutinitas menggosok gigi yang selama ini kami lakukan. Dokter juga sempat mengecek bagaimana cara kami menggosok gigi si adek dan menurut dokter cara kami sudah benar.

Lalu, apakah dengan sekali dibersihkan lalu masalah selesai?

Sayangnya tidak, pemirsa, karena tak berapa lama setelah itu, noda-noda di giginya mulai bermunculan kembali, bahkan lebih banyak dan lebih kentara 😥. Sedih rasanya melihat gigi si adek yang biasanya bersih jadi terlihat seperti tak terawat dengan baik 😥. Jadilah di awal bulan November tahun 2016, sebelum usianya tepat 3 tahun, si adek kami bawa lagi ke drg. Ibnu untuk dibersihkan giginya.

Kunjungan kedua ke Drg. Ibnu

Berbeda dengan kunjungan pertama, kali ini proses pembersihan dilakukan dengan menggunakan alat. Kalau tindakan sebelumnya hanya dengan digosok-gosok saja si adek sudah menangis begitu rupa, maka tentu apalagi dalam tindakan yang pakai alat yang dari suaranya sudah bikin ngilu 😅. Jadilah tangisannya bertambah sekian oktaf. Syukurlah dokternya sabar dan telaten 😅.

Dan kemudian apakah setelah pembersihan yang kedua ini maka gigi si adek sudah aman dari noda?

Lagi-lagi, jawabannya tidak, pemirsa.

Noda-noda itu tetap saja bermunculan, sehingga akhirnya kemudian si adek menjadi rutin membersihkan gigi di dokter gigi. Diusahakan sebulan sekali, atau paling lama tiga bulan sekali, dia harus kami bawa ke dokter gigi.

Selesai dibersihkan, biasanya tak butuh waktu lama untuk noda-noda itu bermunculan lagi di gigi si adek seperti di foto ini 😥

Usaha yang terus terang, lumayan menguras energi.

Kenapa?

Karena seperti yang terlihat di foto di atas, proses pembersihan dilakukan dengan cara si adek saya peluk sambil tiduran di kursi periksa. Andai anaknya tenang selama proses sih, maka tentu no problemo ya. Yang jadi masalah adalah karena si adek cenderung mau berontak selama proses pembersihan dilakukan, sehingga saya harus menahan dia dengan sekuat tenaga saya 😅. Berapa kali dan berapa sering pun proses ini dia alami, tetap saja dia tidak bisa membiasakan diri, sehingga tangisan, teriakan, dan pemberontakan itu hampir selalu jadi bagian dari proses pembersihan giginya 😆. Suami sampai kasihan banget melihat saya. Mau gantian, tapi si adek bener-bener tak mau naik ke kursi periksa kalau tidak bareng mamanya. Ampunlah anak ini 😅. Sebenarnya sih kalau ditanya ke dia, maka dia akan bilang kalau proses pembersihan gigi itu sebenarnya tidak sakit. Hanya saja, dia sangat tidak nyaman dengan suara alat dan juga tidak nyaman karena harus tahan membuka mulut dalam waktu yang lama 😅.

Selain menguras energi, proses ini juga menguras kantong, karena biaya pembersihan gigi seperti yang dijalani si adek hampir setiap bulan ini, tidak ditanggung oleh kantor 😁.

Yang menjadi penghibur saat itu adalah setiap kali selesai dibersihkan, kami bisa menikmati gigi si adek yang bersih. Sungguhlah, melihat gigi anak berbercak-bercak kecoklatan itu, tak nyaman rasanya. Masih mending kalau memang sedari awal gigi anak tak dirawat dengan baik ya, artinya anak dibiarkan malas gosok gigi, ngedot selagi tidur, dan banyak makan yang manis-manis. Kalau begitu kan wajar saja yah kalau kemudian gigi anak menjadi tidak bersih. Tapi kalau yang perawatannya sudah berupaya seoptimal mungkin dan tetap saja hasilnya tidak seperti yang diharapkan, maka tentu saja wajar jika kemudian muncul rasa tidak nyaman.

O ya, sedikit tentang drg. Ibnu. Menurut kami dokter gigi anak ini cukup direkomendasikan. Dokternya sabar sekali menangani anak-anak, meski anak yang ditangani benar-benar yang susah bekerja sama seperti si adek 😅. Kalau kata dokternya sih ketidaknyamanan yang dirasakan si adek itu ya wajar saja, terutama karena suara dari alat itu 😅. Mungkin karena dokternya maklum, maka beliau bisa tetap sabar menangani si adek. Kami sudah pernah lho bertemu dokter yang tidak memahami soal ini dan malah justru bisa membentak anak yang jadi pasiennya untuk kesalahan yang sebenarnya lebih diakibatkan si dokter sendiri.

Ceritanya waktu itu kami lagi di Medan. Sebelum pulang ke Palembang, karena melihat gigi si adek sudah semakin banyak bercaknya, maka kami pun mencoba membawanya ke dokter gigi spesialis gigi anak di salah satu rumah sakit di sana. Ketemulah satu dokter perempuan. Dari awal sebenarnya sudah tidak nyaman dengan dokter ini karena sikapnya yang langsung menggurui tanpa bertanya dulu soal latar belakang kondisi gigi si adek. Puncaknya kejadian waktu si adek tak sengaja menggigit jari si dokter saat proses pembersihan baru akan berlangsung dan beliau malah membentak si adek. Saat itu juga suami langsung bilang supaya prosesnya dihentikan dan kami pun langsung permisi keluar dari ruang praktik, bayar, lalu cabut dari rumah sakit itu. Kami tak terima si adek dibentak, karena kejadian itu bukanlah kesalahan si adek. Kenapa? Karena itu adalah kesalahan dokternya sendiri yang tidak pakai finger protector. Kejadian anak tidak sengaja menggigit jari dokter giginya adalah hal yang memang bisa saja terjadi kan? Itulah gunanya keberadaan si pelindung jari, supaya dokter atau perawat yang membantu tetap bisa menahan mulut anak tetap terbuka dengan jarinya, tanpa khawatir akan tergigit oleh pasiennya sendiri.

Yah begitulah pemirsa, salah satu pengalaman buruk yang pernah kami alami ketika sedang bergumul dengan kondisi gigi si adek.

Rutin membawa si adek membersihkan giginya di dokter gigi dari sejak tahun 2016 itu kemudian berlangsung hingga akhir tahun 2018.

Terhitung sejak awal tahun 2019 hingga kini, gigi si adek tidak lagi membutuhkan penanganan dari dokter.

Kenapa kemudian berhenti?

Karena masalahnya akhirnya tertangani.

Dengan cara apa?

Dengan cara menghentikan sama sekali penggunaan pasta gigi.

Jadi anak menyikat gigi tanpa pakai pasta gigi? Tidak baukah jadinya?

Puji Tuhan tidak, karena sebagai gantinya, gigi si adek disikat tidak hanya saat mandi pagi, mandi sore, dan sebelum tidur saja, tapi juga setiap sehabis makan siang, makan malam, makan buah, makan cemilan, dan makan apa saja, serta setiap sehabis minum susu. Jadi dalam sehari, si adek bisa sikat gigi paling sedikit delapan kali 😅.

Repot? Iya bangeeett! Tapi puji Tuhan memang membuahkan hasil.

O ya, saran ini saya dapatkan dari adik saya sendiri yaitu drg. Natanael Krones 😁.

Ceritanya waktu awal tahun 2019 itu, kami bertahun-baruan di Manado setelah sebelumnya kami Natalan di Sibolga (yang mana soal liburan ini, tak pernah ternyata saya ceritakan di blog…hikkksss….sayang banget yah, padahal kedua liburan di akhir tahun dan awal tahun itu sangat berkesan). Nah, saat di Manado itulah kondisi gigi si adek sempat dicek oleh adik saya hingga kemudian dia ngasih saran untuk coba berhenti dulu menggunakan pasta gigi. Siapa tahu kan ya, salah satu penyebab masalah dengan gigi si adek adalah pasta giginya.

Liburan Tahun Baru 2019 saat itu, di Manado

Dan ternyata memang terbukti benar, begitu penggunaan pasta gigi dihentikan, gigi si adek justru aman dari segala macam noda.

Haleluya, puji Tuhan. Kami, termasuk adik saya pun, sebenarnya tidak menyangka kalau justru cara inilah yang dipakai Tuhan untuk menyelesaikan masalah dengan gigi si adek. Yah, apapun itu, benar atau tidaknya pasta gigi menjadi penyebab permasalahan yang dialami si adek, yang pasti setelah kami menghentikan penggunaan pasta gigi itu, si adek tidak pernah lagi mengalami masalah dengan giginya.

O ya, pasta gigi yang pernah dipakai si adek tuh adalah Enzim, Pepsodent, Jack&Jill, Pigeon, lalu apa lagi ya? Kayaknya sih hanya itu saja yang pernah dicoba. Tidak berani juga mencoba terlalu banyak pasta gigi ke anak. Seingat saya yang terakhir kami pakai itu adalah Pigeon sebelum kemudian berhenti menggunakan pasta gigi.

Selama kurang lebih satu tahun kami menerapkan cara gosok gigi sesering mungkin tanpa pasta gigi itu dan puji Tuhan gigi si adek tetap dalam keadaan aman dan selalu bersih.

Di awal tahun 2020 ini, barulah pelan-pelan si adek kami kenalkan lagi dengan pasta gigi. Awalnya hanya untuk gosok gigi malam lalu setelah dilihat-lihat ternyata giginya tetap aman-aman saja, kami pun mulai menggunakan pasta gigi ketika dia gosok gigi saat mandi. Dilihat-lihat lagi, ternyata giginya tetap aman, kami mulai pelan-pelan mengurangi frekuensi sikat gigi si adek. Mulai dari sikat gigi sehabis ngemil dihilangkan, lalu kemudian sikat gigi sehabis minum susu, sampai kemudian si adek hanya sikat gigi 3 kali sehari saja, yaitu saat mandi pagi, mandi sore, dan sebelum tidur. Pasta gigi yang kami pakai pada awalnya adalah Pigeon, tapi sekarang sudah beralih ke pasta gigi dewasa alias sudah sama dengan yang kami pakai 😁. O ya, ukuran pasta gigi yang dia pakai, tetap masih seukuran kacang ya, masih dikit banget, yang penting sudah ada wangi-wanginya 😁.

Puji Tuhan, meski sudah menggunakan pasta gigi lagi, tapi semua giginya tidak lagi mengalami masalah. Lega banget rasanya, setelah perjalanan yang panjang, akhirnya gigi-gigi susu si adek dapat memasuki masa pensiun dalam kondisi yang aman tanpa perlu harus berulang-ulang lagi menjalani proses pembersihan gigi yang menguras energi itu 😁. Seperti yang terlihat di foto-foto di bawah ini, semua giginya sehat dan bersih, termasuk gigi-gigi di bagian belakang, walaupun oleh karena pernah cukup sering melakukan scaling, maka dua gigi seri atasnya memiliki tampilan yang tidak begitu baik 😁.

Yah begitulah pemirsa cerita soal gigi si adek. Terus terang, saat awal-awal berhadapan dengan masalah gigi ini, dalam hati saya sebenarnya tidak terima karena saya merasa sudah melakukan usaha yang sangat cukup untuk menjaga kesehatan gigi anak-anak tapi kok ternyata hasilnya masih saja tidak seperti yang diharapkan. Namun pada akhirnya, saya diingatkan bahwa Tuhan juga mengijinkan masalah ini terjadi untuk lebih mengajari saya bahwa semua bisa terjadi memang hanya karena perkenanan Tuhan saja, bukan karena usaha saya. Sebagai manusia memang saya harus melakukan bagian saya yaitu berusaha semaksimal mungkin, namun pada akhirnya, semua tetap bergantung dari perkenanan Tuhan. Dengan begini, maka kalau ada yang memuji gigi anak-anak saya bagus dan sehat, maka saya tidak bisa berkata dengan mulut saya, “Puji Tuhan!” namun merasa dalam hati, “Ya wajarlah, mama mereka disiplin dan telaten lho merawat gigi anak!” 😛. Sebaliknya, baik mulut dan hati saya akan sama-sama sepakat untuk bilang, “Puji Tuhan!” Itu sudah! 😁.

Di antara teman-teman yang baca ini adakah yang anaknya atau justru diri sendiri saat masih kecil dulu mengalami masalah dengan kesehatan gigi?

6 respons untuk ‘Si Adek dan Masalah Tentang Gigi Susunya’

  1. Si Abby termasuk rajin sikat gigi, tapi tetap saja namanya masalah gigi pasti ada. Yang akhirnya bolong nggak ketauan juga ada karena tidak ada keluhan. Di sini kita bisa checking gigi anak gratis, jadwalnya diatur pemerintah. Tahun lalu Abby juga melakukan prosedur 3 crowning, 1 tambal, dan 1 cabut, dengan bius total dalam 1 hari, semua dicover pemerintah. Padahal anaknya tidak ada keluhan gigi, tapi biar bagaimanapun diperiksanya benar-benar menyeluruh. Soal shark tooth (gigi baru tumbuh, gigi lama belum tanggal), itu banyak dialami, dan nggak usah khawatir sama sekali. Aku jg sempet telepon ke dokter, malah susternya nyantai banget bilangnya itu hal super biasa, dan ketika tanggal, gigi barunya akan adjust balik ke tempat semestinya tanpa harus ditekan-tekan.

  2. Wah untung lah gigi si adek akhirnya dapat solusi ya, tanpa pasta gigi. Jadi ternyata ada gigi kanak-kanak yang alergi pada pasta gigi. Pengetahuan baru untuk saya 🙂

  3. anakkuuuhhh kak Lisaa,, batita giginya dah item item.. mulai hari ini deh aku terapin caranya Kak Lisa, sikat gigi nggak pake odol tiap 2 jam sekali hihihihi.. sedih akutuuh.. semoga bisa bersih kayak Kak Ralph

    1. Tp sikat gigi tanpa pasta gigi gk bs ngilangin noda2 yg ud terlanjur muncul, hanya utk mencegah noda baru muncul lagi. Ralph mulai sikat gigi tanpa pasta gigi setelah giginya udah discaling dan udah bersih dulu 😁

  4. aduh ini nih masalah gigi anak. gimana mau dibawa kalo takut duluan? si adek ga mingkem gitu pas dicalling? anakku mingkem, jadi susah lah lanjut lagi

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s