Tentang Alergi dan Asma

Saya datang dari keluarga yang memiliki riwayat alergi. Di keluarga saya yang sedari dulu ada alergi macam-macam tuh adalah mama dan kakak saya. Saya sendiri sebenarnya waktu bertumbuh besar tidak memiliki alergi apa-apa, namun setelah hamil dan melahirkan si adek barulah saya mengalami alergi terhadap sabun.

Nah, karena ada bakat alergi secara genetika, maka tidak heran kalau kemudianΒ  si abang dan si adek yang golongan darahnya sama dengan saya juga ikut mengalami alergi πŸ˜….

Yang paling terlihat adalah setiap bangun tidur (entahkah di pagi hari atau sore hari atau kapan saja after napping), mereka berdua pasti hidungnya berair dilanjut bersin-bersin.Β  Jadi jangan heran kalau setiap pagi mereka berdua berlomba-lomba bersin-bersin di rumah…hehehehe…. Kalau kami perhatikan sih ya, reaksi alergi mereka itu muncul akibat adanya perubahan suhu tubuh yang terutama terjadi ketika tidur, walaupun tidak menutup kemungkinan bisa terjadi kapan saja ketika tubuh mereka terpapar pada perubahan suhu di lingkungan sekitar yang menyebabkan perubahan temperatur dalam tubuh. Si abang hanya mengalami kondisi ini ketika bangun tidur dan setelah mandi, sementara si adek mengalami kondisi ini tidak hanya ketika bangun atau setelah mandi, tapi bisa kapan saja setiap kali ada perubahan temperatur di lingkungan sekitar dia πŸ˜….

Repot ya?

Iya memang πŸ˜….

Makanya, karena anak-anak sensitif banget dengan perubahan temperatur serta ditambah dengan si adek yang juga alergi terhadap debu dan udara kotor (rhinitis alergi), kami pun semakin merasa bahwa memang gak keluar-keluar adalah pilihan yang sangat tepat untuk kami di saat-saat seperti sekarang. Kebayang kan ya kalau mereka lagi di luar trus ada orang-orang di sekitar mereka trus tiba-tiba reaksi alergi mereka muncul trus mereka bersin-bersin di situ. Pasti bakal bikin orang-orang lain yang lagi ada di sekitar mereka jadi parno kaaannn…. Walau pada pakai masker tapi teteplah pasti parno bila ada orang yang bersin di sekitaran 😁. Dan ini sudah pernah kejadian lho waktu di satu sore kami pulang dari survei rumah. Waktu itu pas di jalan pulang ke apartemen si adek ketiduran di mobil. Liat dia ketiduran, perasaan saya sebenarnya sudah gak enak, karena yakin nanti dia bakal bersin-bersin setelah bangun. Benar saja, pas dia bangun begitu kami tiba di apartemen, dia langsung bersin-bersin. Kami sempat menunggu sebentar sampai bersin-bersinnya agak reda, baru kemudian turun dari mobil. Di lift menuju ke lantai kami, selain kami ada dua orang lagi yang ikut naik dalam lift yang sama. Eh, pas di dalam lift itu si adek tiba-tiba bersin lagi dong 😁. Memang hanya sekali sih, tapi yang sekali itu saja pun sudah cukup membuat air muka dua orang yang lagi bersama kami di dalam lift itu berubah πŸ˜…. Memang sih semua pada pakai masker ya, tapi sekali lagi, tetap saja di masa begini tuh bersin dan batuk, apapun bentuk serta penyebabnya, memang bisa bikin orang parno πŸ˜….

Nah, selain mengalami alergi-alergi seperti di atas, di awal tahun ini kami juga mengetahui bahwa si adek menderita asma alergi πŸ™ˆ. Duh ampun deeekkkk…dek πŸ˜….

Gejala asma yang dialami si adek adalah batuk-batuk disertai napas berat yang berbunyi.

Sebenarnya gejala ini sudah dia alami cukup lama tapi semakin parah dan sering terjadi sejak mendekati akhir tahun kemarin. Setelah bolak balik diperiksakan ke dokter dan beberapa kali diuap, akhirnya dokter menjatuhkan diagnosa asma alergi ke si adek yang mana pemicu alerginya ini adalah segala macam produk coklat dalam bentuk apapun, udara kotor (apalagi debu dan asap…helloooo kabut asap!), serta aktivitas fisik yang bikin dia kelelahan atau berkeringat.

Pulang sekolah, singgah RS Siloam dulu buat diuap
Diuap lagi, waktu pulang sekolah lagi πŸ˜…
Sebelum berangkat ke Penang buat nganterin mertua berobat, paginya kami masih sempat nganterin si adek ke RS Siloam buat diuap lagi dan lagi πŸ˜„

O ya, bila diingat-ingat lagi, kami sebenarnya sangat bersyukur karena sebelum pandemi ini melanda Indonesia, pemeriksaan terhadap kondisi si adek sudah komplit dan kami pun sudah mengerti akan kondisinya, sehingga tidak ada lagi kekhawatiran yang macam-macam ketika si adek tiba-tiba batuk disertai napas yang terdengar berat. Coba kalau seandainya kami belum tahu ya, pasti deh setiap kali kejadian kayak gitu bikin pikiran jadi kemana-mana πŸ˜….Β 

Untuk asma si adek ini gak ada obat khusus ya. Si adek juga gak butuh pakai pelega pernapasan setiap kali napasnya terdengar berat karena sebenarnya meski saat asmanya kambuh napasnya berbunyi dan dia tidak nyaman bernapas, namun bukan berarti napasnya sesak atau dia jadi kesulitan bernapas. Gak kok, kondisi si adek gak sampai seperti itu. Aslinya dia bernapas normal, hanya berbunyi dan agak berat saja sehingga membuat dia tidak nyaman. Penyebab napasnya menjadi seperti itu adalah karena ketika alergen masuk ke dalam tubuhnya, sistem kekebalan tubuhnya bereaksi secara berlebihan hingga menyebabkan otot-otot pernapasan mengencang dan saluran pernapasan dipenuhi lendir. Lendir-lendir itulah yang membuat napasnya jadi berbunyi ngiiikk…ngiiikkkk…..

Nah, baik segala macam alergi yang dialami si abang dan si adek maupun asma yang dialami si adek, tentu saja dua-duanya tidak ada obatnya. Apa yang mereka alami bisa berlangsung seumur hidup namun bisa juga berhenti begitu saja sebagaimana awal mulanya juga terjadi begitu saja (saya bahkan tidak ingat kapan pertama kalinya gejala-gejala alergi mereka ini muncul, yang pasti seingat saya mereka aman-aman saja sewaktu masih bayi sampai balita). Satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk membantu mereka adalah dengan menghindari hal-hal pemicu reaksi alerginya. Usaha menghindari ini bukannya melulu gampang dan bukannya selalu berhasil memang, tapi paling tidak dengan usaha meminimalisir ini maka reaksi yang mungkin terjadi bisa dijaga supaya tidak terlalu parah. Ini terutama untuk si adek ya, karena dengan segala macam alergi yang dia alami yang membuat dia gampang mengalami batuk-pilek alergi, rongga hidung dia juga sensitif dan tipis sehingga kalau bersinnya berlebihan atau hidungnya tersumbat parah bisa menyebabkan rongga hidungnya luka dan berdarah….mimisan deh jadinya πŸ˜…. Beberapa kali terjadi dia terbangun dengan kondisi pipi serta bantalnya sudah berdarah-darah. Duh ampun! Sekali lagi, puji Tuhan kondisinya memang sudah kami periksakan (kalau soal yang dia gampang ‘mimisan’ ini sudah kami periksakan dari sejak setahun yang lalu jadi sudah lama tau memang kalau rongga hidungnya itu tipis) sehingga ketika itupun terjadi, kami tidak panik lagi.

Yah begitulah, siapa bilang membesarkan anak itu mudah kan ya? Beginilah jadi orangtua, ada-ada saja pergumulan tentang anak-anak πŸ™‚.

Karena seperti yang saya bilang di atas bahwa usaha yang bisa kami lakukan untuk membantu mereka (selain doa tentu saja yaaa… kalau doa sih sudah pasti numero uno!) adalah dengan menghindari alergen alias pemicu alergi mereka, maka ada ada beberapa hal yang kami terapkan untuk anak-anak serta lingkungan di rumah kami.

1. Mengupayakan rumah selalu bersihΒ 

Ini sebenarnya wajib ya, entahkan di rumah ada yang alergian ataupun tidak. Cuma dengan mengingat kondisi anak-anak, maka kalau di kami kasusnya jadi yang wajib bener-bener wajib…hehehe… Setiap hari tentu standar ya, ngelap-nyapu-ngepel (baik di rumah maupun di apartemen, dalam sehari kami paling sedikit nyapu seisi rumah sebanyak 2x, yang wajib itu adalah di pagi hari dan malam hari sehabis makan malam). Trus seminggu sekali ganti sprei dan sarung bantal. Sebulan sekali bersihin AC. Kemudian kami juga rajin menyemprot rumah dengan disinfectan spray demi mengupayakan udara dalam rumah bersih serta segar.

2. Mengupayakan temperatur dalam rumah di mana anak-anak berada (terutama saat tidur) selalu stabil

Ketika berada di rumah, anak-anak selalu kami hindari untuk berada di ruangan yang ber-AC. Puji Tuhan, bahkan ketika kami berada di apartemen ini pun, selama seharian kami tidak perlu menyalakan AC karena udaranya sudah cukup sejuk dengan membuka pintu ke arah balkon serta membuka jendela di masing-masing kamar.

Kami cuma perlu nyalain AC di malam hari saja.

Nah di sinilah yang perlu disiasati karena anak-anak tidak boleh sampai kepanasan saat tidur (ini terutama berefek ke si adek, karena kalau dia kepanasan sampai berkeringat, maka asmanya bisa kambuh) tapi mereka juga tidak boleh tidur dalam ruangan ber-AC karena bisa langsung seketika membuat mereka bersin-bersin πŸ˜….

Puji Tuhan, kondisi yang serba salah ini kemudian bisa disiasati dengan prosedur (πŸ˜‚) sebagai berikut.

  1. Kurang lebih sejam atau dua jam sebelum jam tidur anak-anak, AC di kamar mereka sudah dinyalakan dalam kondisi pintu kamar mereka ditutup
  2. Beberapa menit menjelang mereka masuk kamar untuk tidur, AC mereka dimatikan, pintu kamar mereka dibuka
  3. Ketika mereka sudah masuk kamar, gantian AC di ruang tengah yang dinyalakan. AC di ruang tengah ini tidak menghadap langsung ke kamar anak-anak, namun udara sejuknya masih tetap bisa mengalir ke kamar mereka
  4. AC di ruang tengah itu tetap harus kemudian dimatikan pada jam 3 subuh karena pada jam itu suhu tubuh manusia cenderung berangsur turun. Bila AC tetap dalam kondisi menyala, maka akan menyebabkan suhu tubuh mereka lebih cepat lagi mengalami penurunan yang mana tentu akan menyebabkan reaksi alergi mereka muncul

Puji Tuhan dengan pengaturan seperti di atas, maka reaksi alergi anak-anak ketika bangun di pagi hari bisa dikontrol.

O ya, pengaturan AC seperti di atas itu kami dapatkan setelah proses trial and error. Coba begini dan begitu sampai akhirnya bisa menemukan pengaturan AC yang paling pas untuk anak-anak. Kami juga sudah pernah mencoba penggunaan diffuser dalam kamar (pakai merk yang YLO itu lho), tapi ternyata tidak terlalu membantu jika temperatur saat anak-anak tidur tidak dikontrol. Wajar sih karena sebenarnya udara di dalam rumah yang mereka hirup aslinya sudah bersih-bersih saja, hanya yang jadi masalah adalah reaksi tubuh mereka terhadap perubahan suhu tubuh mereka sendiri serta temperatur di lingkungan sekitar mereka.

Sleep tight, jagoans!

3. Anak-anak diupayakan tidak tidur siang

Di antara semua usaha mengontrol alergi mereka, kayaknya yang satu inilah yang paling disetujui oleh anak-anak πŸ˜†. Maklumlah anak-anak ya, paling malas kalau disuruh tidur siang.

Kenapa mereka lebih baik tidak tidur siang?

Karena suhu tubuh manusia cenderung mengalami perubahaan saat sedang tidur sementara jam tidur siang itu kan biasanya di antara jam 1-4 sore, yang mana pada jam-jam itulah suhu tubuh manusia secara normal mengalami penurunan (sama seperti di jam 3-5 pagi) meskipun temperatur di lingkungan sekitar tetap sama. Karena itulah, kalau anak-anak tidur siang, maka suhu tubuh mereka akan mengalami penurunan yang cukup signifikan yang kemudian memicu reaksi alergi mereka. Jadi deh begitu bangun mereka bersin-bersin πŸ˜…. Nah, supaya gak sering kejadian, kami lebih memilih supaya mereka tidak tidur siang saja.

Anak-anak juga seneng sih gak tidur siang.

Walaupun terkadang mereka ketiduran juga pas siang hari. Biasanya kejadian justru di hari-hari libur, karena tidurnya malam sementara bangunnya tetap pagi. Jadilah pas siang-siang ngantuk sampai akhirnya ketiduran. Kalau sudah begitu yah, pasrah saja menghadapi mereka bersin-bersin ketika bangun, asalkan tidurnya bukan di kamar yang ber-AC sih biasanya meski bersin-bersin tapi tidak parah dan tidak terlalu lama.

Ini nih contoh kejadian, dari yang gak pengen tidur siang, gak taunya begitu leyeh-leyeh di tempat tidur, eh ketiduran juga πŸ˜…

4. Mandi selalu harus dengan air hangat

Hangatnya pun tidak boleh yang terlalu hangat ya, karena kalau terlalu hangat ya sama saja bisa bikin suhu tubuh mereka berubah tiba-tiba. Ini sering kejadian di si abang, karena dia kan mandinya sendiri (ya iyalah tentu saja…udah bujang! πŸ˜…) dan suka pake air yang terlalu hangat (karena memang air yang hangat banget tuh lebih asik ya daripada yang hangatnya nanggung 😁). Jadilah begitu keluar kamar mandi langsung bersin-bersin dianya. Hadeeh baaangg!!! Jadi pokoknya suhu air mandi mereka tuh harus pas alias harus yang mendekati suhu tubuh manusia yaitu sekitar 36-37 derajat Celcius. Kalau suhu airnya pas, maka akan membantu mereka untuk tidak bersin-bersin sehabis mandi.

5. Segala yang berbau cokelat adalah pantang!

Untuk si adek sih, kalau abang mah bebas-bebas saja, karena ini adalah pantangan untuk asma yang dialami si adek. Bukan yang mudah lho untuk si adek bisa menerima kondisi ini, karena makanan favorit dia adalah cokelat! Mulai dari puding cokelat, es krim cokelat, brownies, chocolate cake, chocolate pancake, Oreo, sampai susu cokelat. Semua favorit dia. Tapi begitu tahu bahwa asma dia bisa terpicu akibat konsumsi cokelat, maka dia pun harus berhenti mengkonsumsi apa yang jadi favoritnya.

Awalnya dia sampe nangis-nangis, karena ngerasa kok gak adil. Dia suka banget sama cokelat, tapi kenapa harus cokelat juga yang bikin dia sakit?

Kasian sih memang ya.

Puji Tuhan Yesus, pada akhirnya si adek bisa juga menerima dan sejak awal tahun ini dia sudah berhenti mengkonsumsi segala yang berbau cokelat. Gak apa ya dek, bersusah-susah sedikit, yang penting sehat, dan kiranya Tuhan memperhitungkan usahamu menahan selera serta keinginan akan hal yang jadi favoritmu ini untuk kemudian berbelas kasih dan memberikan adek kesembuhan total dari asma ini yaaa dek.

6. Menjaga aktivitas anak jangan sampai berkeringat atau kelelahan

Lagi-lagi ini untuk si adek ya, karena kelelahan dan berkeringat adalah pemicu asmanya.

Sama seperti pantangan untuk cokelat, untuk yang satu ini juga bukannya mudah diterapkan ke si adek karena dia pada dasarnya adalah anak yang sangat aktif. Sejak tau kalau dia menderita asma alergi dan kelelahan serta berkeringat bisa menjadi pemicunya, maka kami pun berusaha membatasi aktivitasnya dan setiap kali dia agak berkeringat maka bajunya selalu langsung diganti.

Si adek juga gak boleh kelelahan, yang mana artinya dia tidak boleh beraktivitas olahraga yang terlalu aktif. Kasian kan ya, padahal anaknya seneng olahraga yang banyak gerak sampai keringatan. Olahraga yang paling cocok untuk si adek sebenarnya adalah berenang, walaupun konsekuensinya kalau berenang di jam yang salah atau airnya terlalu dingin bisa memicu alergi dia yang lain yang bikin hidungnya tersumbat atau bersin-bersin. Asli, serba salah banget memang! πŸ˜….

Ingat soal berenang, ini foto sewaktu anak-anak berenang terakhir kalinya sebelum pandemi melanda Indonesia. Seminggu setelah foto ini diambil, kondisi Indonesia sudah berubah drastis…

7. Menggunakan masker ketika keluar rumah

Jadi ya pemirsa, bahkan sejak sebelum pandemi ini melanda dunia, anak-anak memang sudah sering menggunakan masker ketika keluar rumah, termasuk ketika pergi ke sekolah. Tujuan memakai masker adalah supaya mereka gak banyak-banyak menghirup udara kotor di luar (apalagi di Palembang kan suka ada musim kabut asap πŸ˜₯) serta udara AC di dalam kelas. Dengan memakai masker maka harapannya bisa meminimalisir reaksi alergi di tubuh mereka, walaupun biasanya pas pergi ke sekolah pakai masker tapi begitu bubaran sekolah maskernya entah udah di mana πŸ˜….Β  Makanya ya, saya jauh lebih memilih sekolah di rumah saja di kala pandemi gini daripada anak-anak dipaksakan ke sekolah dengan pakai masker. Pengalaman menunjukkan bahwa anak-anak tak akan tahan berjam-jam pakai masker, even itu hanya 2-3 jam. Mungkin sejam pertama masih bisa tahan, tapi di jam kedua dan seterusnya, sudahlah itu bisa dipastikan maskernya bakal entah kemana-mana.

Ya kali, jangankan anak-anak, yang orang dewasa saja gak tahan berjam-jam pakai masker kaaannn….

Soal masker dan soal sekolah ini bikin saya teringat pada satu kejadian di sekolah. Hari itu karena buru-buru berangkat, si adek lupa saya pakaikan masker. Begitu menjemput dia pulang, gurunya laporan kalau si adek sempat kayak sesak napas sewaktu lagi belajar, jadi oleh gurunya dia dibawa ke school health center. Oleh petugas health center, si adek ditangani dengan pemberian oksigen. Puji Tuhan, sehabis dapat oksigen, kondisinya bisa langsung membaik. Sewaktu dapat cerita itu, saya baru sadar fatalnya si adek gak dipakein masker di hari itu. Fatal, karena pada saat itu di sekolah sedang ada renovasi di beberapa bagian gedung yang tentu saja bikin banyak debu konstruksi bertebaran di udara. Andaikan si adek hanya kena udara kotor biasa atau terhirup udara AC dalam kelas, paling dia hanya akan bersin-bersin saja. Tapi berhubung hari itu dia menghirup udara yang sudah bercampur dengan partikel debu konstruksi, maka jadilah asmanya kambuh 😒. Besok-besoknya si adek ke sekolah gak pernah lupa lagi saya pakein masker dan diwanti-wanti terus jangan dibuka-buka. Puji Tuhan memang membantu sih, kalaupun ada bersin-bersin yang muncul, paling hanya sedikit dan tidak terlalu mengganggu aktivitas dia di sekolah.

8. Ngupil??? No..No…No!

Untuk si adek sih, kalau untuk abang mah gak perlu karena rongga hidung si abang normal-normal saja. Beda dengan si adek yang rongga hidungnya sangat sensitif. Jangankan ngupil, digosok agak keras dikit aja bisa bikin rongga hidungnya lecet dan berdarah. Untuk pantangan yang satu ini memang musti ekstra karena untuk anak yang sering mengalami alergi di saluran pernapasan memang hidungnya sering kerasa gatal hingga kemudian yah wajarlah kalo ada bawaan dikit-dikit pengen menggosok hidung πŸ˜…. Untuk yang satu ini, si adek sampai sekarang kalau gak diawasi yah belum bisa mengontrol dirinya sendiri walaupun sudah beberapa kali kejadian hidungnya berdarah gara-gara dia ngupil atau keseringan menggosok hidung πŸ™ˆ.

9. Persediaan obat-obatan di rumah

Meski kami sudah berusaha mengupayakan agar anak-anak terhidar dari segala macam alergen di sekitar mereka, tapi tidak menutup kemungkinan mereka terpapar hingga reaksi alerginya muncul sampai pada tahap mengganggu aktivitas mereka.

Contohnya beberapa waktu lalu. Ketika lagi sekolah online, si adek tiba-tiba mengalami gejala alergi yang cukup parah serta mengganggu. Yang bikin sedih, saat itu kami tidak tau apa yang menjadi pemicunya mengingat dia masih baik-baik saja saat bangun pagi dan setelah mandi. Barulah setelah dia duduk di meja belajarnya, tak berapa lama dia mulai mengalami gejala bersin-bersin yang disusul dengan mata silau serta berair dan hidung tersumbat. Karena saat itu kami belum tau penyebabnya apa, maka tentu saja kami gak bisa langsung menghindarkan si adek dari alergen yang memicu reaksi alerginya. Jadilah reaksi alerginya terus berlanjut dan semakin parah. Sudah menjelang malam barulah kami tau bahwa ternyata penyebab reaksi alergi si adek adalah tali gondola temporary yang sedang tergantung di depan jendela kamar kami. Manajemen apartemen memang sedang melakukan maintenance dengan mengecat bagian luar gedung dan salah satu peralatan yang mereka pakai adalah gondola temporary itu. Nah gondola itu kan pakai tali ya, dan pas banget saat itu tali itu lagi tergantung di depan jendela kamar kami dekat dengan tempat belajarnya si adek. Keesokan harinya, karena tali yang sama masih tergantung di depan jendela kami, si adek pun gak lagi belajar dekat situ. Puji Tuhan memang setelah gak dekat-dekat lagi dengan si tali, dia pun gak bersin-bersin lagi. Sensitif banget ya, gak nyangka cuma gara-gara tali doang, makanya kami juga setelah lewat beberapa jam dan setelah reaksi alerginya semakin parah, baru sadar kalau penyebab reaksi alergi si adek adalah si tali πŸ˜….

Nah, di kondisi yang membingungkan semacam itulah kami membutuhkan obat-obatan supaya bisa meredakan gejala alergi yang dialami oleh anak-anak.

Sejauh ini, ada beberapa obat-obatan yang bisa membantu meredakan gejala alergi anak-anak supaya tidak terlalu mengganggu aktivitas mereka.

Yang pertama tentu adalah obat-obatan yang mengandung anti-alergi, yaitu Antihistamin yang bisa dalam bentuk Cetirizine (antihistamin generasi kedua yang tidak menyebabkan kantuk) atau dalam bentuk Chlorpheniramine alias CTM (antihistamin generasi pertama yang menyebabkan kantuk).

Cetirizine kami berikan ke anak-anak jika gejalanya hanya sampai di bersin-bersin saja. Sementara ketika reaksi alergi anak-anak sudah sampai pada hidung tersumbat yang sudah sangat mengganggu, maka biasanya kami berikan Chlorpheniramine sertaΒ  Pseudoephedrine HCl yang mana keduanya bisa didapatkan secara combo lewat obat Triaminic Pilek…hehehehe….Β 

Selain Cetirizine dan Triaminic Pilek, di rumah kami juga selalu menyediakan Triaminic Batuk dan Triaminic Ekspektoran & Pilek (ini biasanya untuk si adek karena dia suka combo reaksi alerginya, batuk + hidung tersumbat πŸ˜…). Semua hanya untuk jaga-jaga saja, tapi diupayakan agar stoknya selalu ada di rumah…hehe…Β 

Di samping obat-obatan yang diminum, kami juga selalu sedia obat oles semacam Vicks dan Minyak Kayu Putih, lumayan membantu lah untuk mengatasi hidung tersumbat yang ringan pada anak.

10. Terapi madu

Madu tuh memang manfaatnya banyak banget ya, dan sudah sejak dulu madu biasa dipakai buat mengobati radang tenggorokan serta batuk. Nah, untuk anak-anak yang menderita asma seperti si adek, ternyata madu juga adalah salah satu bahan alami yang cukup ampuh untuk mengobati atau mencegah asmanya muncul. Kami rutin memberikan 1 sendok teh madu untuk anak-anak setiap malam sebelum tidur, tujuannya selain untuk daya tahan tubuh, juga untuk membantu si adek supaya bisa tidur malam dengan nyenyak tanpa terbatuk-batuk atau bernapas dengan suara mengi.

Madunya yang gimana bu? Merknya apa?

Err….kalau kami sekarang di apartemen pakai apa saja yang judulnya madu yang dijual di Indomaret atau Alfamart di bawah sih πŸ˜†. So far di bawah selalu tersedia Madurasa Murni, jadi itulah yang sekarang ini selalu kami kasihkan ke anak-anak.

11. Stay at home!

Sedapat mungkin hanya tinggal di rumah saja dalam kondisi wabah seperti sekarang, sepertinya adalah pilihan yang tepat untuk anak-anak (bahkan orang dewasa) yang memiliki bawaan alergi seperti yang dialami oleh si abang dan si adek.

Alasannya karena pertama, orang yang punya bawaan alergi seperti ini, memiliki kecenderungan untuk memegang area wajah mengingat hidung dan matanya sering terasa gatal, sementara dalam kondisi sekarang ini, memegang area wajah ketika kita berada di luar rumah itu sama saja dengan meningkatkan risiko terhadap kesehatan.

Alasan kedua, agar supaya tidak mengganggu orang lain 😁. Orang yang alergian itu, walaupun sudah pakai masker, tapi tidak menutup kemungkinan bisa tiba-tiba bersin atau terbatuk. Daripada diliatin orang dengan pandangan yang gak banget, mending mendekam ajalah dalam rumah, bisa bebas bersin tanpa rasa kuatir πŸ˜†.

==================

Yah begitulah pemirsa cerita saya tentang alergi yang dialami anak-anak. Apa-apa saja yang menjadi alergen bagi mereka sebagian adalah berdasarkan informasi dari dokter namun sebagian besarnya lagi kami dapatkan berdasarkan hasil observasi kami ke mereka setiap harinya. Mungkin ada alergen lainnya yang belum kami ketahui. Kadang juga ada hal-hal yang kami curigai tapi untuk memastikannya perlu ada observasi lebih lagi, seperti contohnya saya mencurigai kalau si adek juga sensitif dengan bau bumbu yang tajam dari mie instan (baik yang mengandung MSG maupun yang tidak) namun hal ini belum bisa saya pastikan benar-benar. Semua usaha yang saya tulis di sini untuk mengatasi alergi anak-anak juga hanyalah usaha kami sebagai manusia yang sedapat mungkin kami jalankan secara disiplin, namun di atas semuanya itu tentu saja kami hanya bisa memasrahkan semua pada Tuhan Yesus. Kami percaya, segala cara yang bisa kami temukan untuk mengatasi alergi anak-anak ini juga adalah bagian dari pertolongan Tuhan untuk anak-anak kami. Tuhan yang beri kami hikmat lewat segala macam peristiwa, termasuk proses trial and error yang harus sama-sama kami jalani. Puji Tuhan, meski setiap hari bergumul dengan alergi, tapi baik abang maupun adek tetap dalam kondisi yang sehat dan setiap hari bisa beraktivitas ini-itu dengan sangat baik. Harapannya, seiring mereka besar maka sistem imunitas tubuh mereka juga bisa bekerja dengan lebih baik, gak yang dikit-dikit ‘curiga’ hingga harus bereaksi berlebihan seperti sekarang ini…hehehehe….

Di antara pembaca, adakah yang anaknya atau bahkan diri sendiri mengalami alergi seperti yang anak-anak kami alami? Kalau iya, bagaimana cara kalian mengatasinya?

Tuhan Yesus kiranya memberkati supaya abang dan adek sehat-sehat terus yaaa jagoans! Papa dan mama bersyukur sekali memiliki kalian yang mau dengar-dengaran sehingga kalian mau nurut ketika papa dan mama nyuruh jangan begini dan begitu supaya reaksi alergi kalian gak muncul.Β  Tuhan lah yang memberkati segala usaha kita ini yaa sayang, karena sungguhlah memang hanya Tuhan Yesus saja yang bisa kita andalkan dalam segala sesuatu, termasuk untuk hal ‘sesederhana’ alergi yang kalian alami 😘

11 respons untuk β€˜Tentang Alergi dan Asma’

  1. Baca cerita ini, jadi ingat pengalaman sama abang dan adik sendiri. Kebetulan di keturunan keluarga, memang ada keturunan asma, dan di keluarga inti saya yang kena turunan asma ini adalah abang dan adik saya…Tapi kalau abang saya itu ga begitu parah asmanya saat kambuh, dan alhamdulillah sembuh total pas kelas 2 atau 3 SD. Nah, yang parah adalah adik saya, karena ada bakat alergi juga, jadi pas asmanya kambuh, dia bisa batuk terus-terusan sepanjang hari sampai mukanya merah. Dan itu bisa berlangsung sampai semingguan dan dia harus ga masuk sekolah. Alhamdulillah, pas sudah mulai masuk SMP, dia mulai berkurang kambuhan asmanya dan sampai sekarang udah punya anak ga pernah kambuh lagi πŸ™‚ Semoga Adek juga makin besar makin sehat dan ga kambuh-kambuh lagi asma dan alerginya ya πŸ™‚

  2. Hai mbak… Keluargaku juga keturunan alergi. Mama dan adekku alergi seafood. Suami juga ada keturunan alergi dan asma, jadi lengkap sudah πŸ˜…. Anakku dari kecil sering banget batuk dan pilek, hampir setiap bulan. Umur 5 tahun baru ketahuan kalo dia alergi coklat, semangka dan dingin. Hampir sama kayak si adek, dia juga suka banget coklat. Tapi alhamdulillah bisa dibilangin. Kadang masih bandel sih ngasih brownis atau coklat 1 gigit πŸ˜†. Mandi juga selalu air hangat, kecuali kalo hari itu panas banget, air yg di tangki juga udah ikutan hangat. Pembuluh hidung juga tipis. Jadi waktu pertama kali mimisan dulu agak syok karena dia ga ada demam atau gimana. Sekarang juga kalo terlalu semangat bersiin hidung udah deh… Tetap semangat ya mbak…πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

  3. Kak… Aku dulu asma alergi tapi uda sembuh total, gak kambuh lagi sejak kuliah (19-20 thn) sampe skrg 29 th. Waktu itu terapi yg kucoba cuma:
    1. Berjemur 15 menit sebelum jam 9 waktu setempat
    2. Minum susu kacang kedelai (gantinya susu sapi)
    3. Olahraga kardio (renang, jogging, sepeda)
    Aku liat prosedur2nya kak Alissa uda mirip sm aku, aku cm nambahin aja πŸ˜€ faktor genetik kudapat dr nenekku (pihak ayah)

    1. Soal olahraga, asma itu memang katanya cocok banget sama olahraga renang. Tapi ya itu, giliran renang trus airnya agak dingin aja, hidung si adek langsung deh tersumbat πŸ˜….

      Semoga si adek juga seiring dia besar bisa sembuh seperti dirimu yaa Ge. Makasih sharingnya! 😘

  4. Dingin salah, panas juga salah ya. Sehat-sehat ya adek… dan abang. Di keluargaku ngga ada yang alergi, jadi yang kayak gini baru tau semua. Aku kalau minum dingin sama bangun pagi di cuaca yang agak dingin biasanya langsung meler sih, tapi ngga mengganggu aktivitas.

  5. Hai, mbak Allisa,, anakku jg ada yang alergi, sering bgt pilek dan bebrapa waktu lalu sering mimisan. jd kami periksakan dia ke dokter tht (dr. Bagas wicaksono, di KMC). dokternya sabar dan teliti banget, dr hasil pemeriksaan hidung (endoskopi) hasilnya selaput di rongga hidung tipis dan pembuluh darahnya lebar2 sehingga rawan mimisan.kemudian dirujuk test lab untuk mengecek alerginya apa saja.dari hasil lab diketahui anakku pemicu alerginya kedelai tp score nya relatif rendah dan debu, scorenya tinggi bgt. Saran dokter, selain menghindari debu, disarankan juga rutin cuci hidung dg NaCl atau ke pantai (menghirup udara dg kandungan garam). Dokter juga menyarankan olah raga untuk menjaga imunitas. di rumah kasur,sofa, dll rutin di vacuum (kami pakai kurumi), kemudian kalo alerginya kambuh di dada dan punggung dioles oil (lavender+eucalyptus radiata). Alhamdulillah saat ini alerginya sudah jauh berkurang. salam sehat untuk keluarga mbak Allisa πŸ™‚

Tinggalkan Balasan ke gegelin2 Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s