Abang’s Solar System Model

Satu lagi cerita yang terkesan sederhana namun bagi saya menunjukkan betapa Tuhan itu turut bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan anak-anakNya.

Jadi begini, beberapa minggu yang lalu, si abang mendapat assignment dari guru mata pelajaran Art-nya. Assignment itu adalah berupa project untuk membuat Solar System Model dari bahan-bahan bekas seperti kertas bekas dan kardus bekas.

Dari sejak pertama dengar soal assignment itu, saya rasanya sudah pusing.

Kenapa gitu?

Karena pertama, untuk bikin project itu, si abang harus membentuk planet-planetnya dari bubur kertas yang mana supaya planetnya bisa bagus, maka perlu dilakukan proses penjemuran bubur kertas yang sudah berbentuk planet sebelum bisa dicat.

Nah, proses penjemuran inilah yang saya pusingkan karena…. di apartemen ini mo jemurnya di mana???

Unit kami ini menghadap ke arah tenggara, pemirsaa, yang mana tentu saja gak dapat sinar matahari langsung. Kadang-kadang saja sih bisa dapat sinar matahari di balkon pas lewat tengah hari, tapi paling yang kena sinar sebatas railing-nya doang. Dan lagian ngeri-ngeri sedap juga kalau jemurnya di balkon, secara kan ya planet dari bubur kertas itu ringan sementara di sini anginnya lumayan kencang, kuatirnya malah itu planet-planet pada beterbangan lagi dari lantai 27 ini πŸ˜…. Mana kalau lihat dari tutorialnya, proses penjemuran ini bisa memakan waktu berhari-hari lagi sampai bisa benar-benar padat dan bisa dicat. Duh ampun. Bikin pusing banget mikirnya. Bukan apa-apa, kasian si abang kan kalau sampai project-nya gagal gara-gara planet bubur kertasnya gak kering-kering πŸ˜….

Hal kedua yang bikin saya pusing adalah persoalan mengenai kardus bekas. Waktu itu sih yang terbayang adalah si abang harus menyediakan kardus bekas sebesar kardus rokok atau sekecil-kecilnya kardus mie instan, sementara yang ada di kami hanyalah kardus susu Ultra Milk 250ml yang sedusnya isi 24 kotak susu itu, karena hanya susu itulah yang kami beli dalam bentuk kardusan (tiap minggu saya nyetok 2 kardus susu untuk anak-anak). Nah, kardus susu itu kan kecil ya, saya kuatir ukurannya tidak memenuhi persyaratan project-nya. Tapi yah mau gimana lagi, hanya itulah yang ada. Kalau harus nyari kardus bekas lagi, duh rasanya repot lah. Saya akhirnya sampai bilang ke si abang, kalau ternyata kardus susu itu ukurannya kekecilan, ya sudah minta dispensasi saja dari guru alias minta ijin untuk bikin ukuran mini dari ukuran yang seharusnya…hehehe….

Memang dari sejak awal memutuskan anak-anak sekolah online dari apartemen di Jakarta ini, salah satu yang langsung jadi pemikiran saya adalah soal project-project sekolah yang macam begini ini, secara memang sekolah anak-anak tuh sering banget ngasih tugas dalam bentuk project yang berkaitan dengan bebikinan. Kalau sekolahnya normal sih dikerjainnya di sekolah, paling orangtua hanya perlu membantu menyiapkan bahan-bahannya saja. Tapi berhubung sekarang sekolahnya dari rumah kan ya, jadi otomatis kerjainnya juga di rumah. Tidak masalah jika kami memang benar-benar berada di rumah yang ruang dan peralatannya memadai. Tapiii… jadi beda ceritanya karena kami sekarang di apartemen yang gak hanya peralatannya yang terbatas tapi ruangnya juga πŸ˜….

Tapi yah sudahlah, mau bagaimana lagi.

Dengan segala keterbatasan, bahan-bahan yang diperlukan si abang pun kami siapkan.Β  Untuk catnya dibeli suami di Gramedia di Gancit yang deket banget sama apartemen kami. Supaya gak repot dan gak ngotor-ngotorin amat saat proses pengecatan nantinya, maka suami memilih membelikan cat air yang berbentuk padat.

Tibalah kemudian waktunya untuk mulai mengerjakan project itu. Awal pengerjaan dilakukan beramai-ramai sekelas saat mata pelajaran Art. Saat itu yang pertama dikerjakan adalah menyiapkan kardusnya dan si abang pun sudah bersiap-siap untuk minta ijn bikin project versi mini kalau-kalau ternyata ukuran kardus susu yang dia punya itu kekecilan.

Tahap pertama yang dilakukan tentu adalah membuka dan melebarkan kardusnya (ini bener gak ya bahasanya? πŸ˜†) untuk kemudian dipotong karena untuk project mereka ini akan membutuhkan kardus sebagai background sekaligus alas yang berukuran 60 x 40 cm.

Dan ternyataaa…begitu si abang mengukur kardusnya, ukurannya benar-benar persis 60 x 40 cm. Dia pun langsung bersorak gembira karena itu artinya dia bisa mengerjakan project ini sesuai dengan ukuran yang diminta oleh gurunya. Dan yang bikin dia senang tidak hanya itu saja, melainkan karena dia gak perlu lagi susah-susah menggunting atau memotong kardus karena ukurannya sudah pas, yang perlu dia lakukan hanyalah menggunting ‘telinga-telinga’ kardusnya saja. Pekerjaannya pun jadi jauh lebih gampang dan cepat dibanding teman-temannya yang menyiapkan kardus dalam ukuran yang jauh lebih besar πŸ˜„.

Saya dan suami yang saat itu menyaksikan juga merasa surprise dan lega banget karena ukuran yang diminta dalam project itu bisa dipenuhi dengan kardus yang apa adanya saja di sini. Suami pun bilang ke si abang, “Tuh bang, lihat deh, Tuhan baik banget sama kamu kan? Urusan project dan kardusmu saja Tuhan pikirin serta sediakan, lho!”

😍😍😍😍

Puji Tuhan, urusan kardus pun tidak lagi jadi pikiran. Bahagia banget rasanya karena satu persoalan untuk project si abang tidak lagi menjadi masalah.

Lanjut ke beberapa hari kemudian, kurang lebih dua hari sebelum pertemuan mata pelajaran Art berikutnya, si abang mulai mengerjakan background serta benda-benda Tata Surya dari bubur kertas.

Kalau background-nya sih gampang ya, cuma perlu tempelin HVS bekas warna putih di kardus yang sudah disiapkan, trus tinggal dicat pakai warna gelap. Untuk proses pengecatan ini, si abang dibantu sama si adek supaya cepat selesai…hehehehe… Mereka berdua ngerjainnya malam-malam sebelum tidur. Malam itu juga background-nya sudah langsung selesai πŸ˜„.

Esok harinya, setelah selesai sekolah dan makan siang, si abang mulai menyiapkan bubur kertas. Langkah pembuatannya gampang saja. Cukup gunting kecil-kecil kertas-kertas bekas, siram dengan air panas, aduk-aduk sampai kertas hancur, peras menggunakan kain bekas, beri lem kayu, aduk-aduk lagi sampai rata, lalu bubur kertas pun siap untuk dibentuk.

Lagi-lagi, dalam proses pembuatan ini, si abang dibantu oleh si adek 😁.

Setelah bubur kertasnya diperas dan dicampur dengan lem kayu, si abang pun langsung membuat benda-benda Tata Surya (matahari dan planet-planetnya) dari bubur kertas itu. Sempat si abang harus bikin bubur kertas lagi karena ternyata bubur kertas pertama yang dibikin gak cukup 😁. Matahari dan planet-planet yang sudah terbentuk kemudian dimasukkan si abang ke dalam kotak untuk didiamkan selagi dia dan si adek mandi.

Kelar mereka mandi, si abang ngecek matahari dan planet-planet yang dia simpan dalam kotak itu, ternyata menurut si abang sepertinya semuanya sudah siap untuk dicat, meskipun memang belum keras benar. Lagi-lagi, untuk urusan pengecatan ini, si abang dibantu oleh si adek supaya cepat selesai 😁.

Setelah semuanya selesai dicat, si abang pun langsung menempelkan benda-benda Tata Surya bikinannya itu ke atas kardus yang sudah dibuat jadi background kemarin.

Dan yah, hanya seperti itu saja dan semuanya pun selesai.

The Inner Planets (with Earth’s moon)
The Outer Planets
The Sun

Kami sendiri takjub lihatnya. Bukan takjub karena melihat hasilnya yang bagus atau bagaimana ya, tapi takjub karena prosesnya bisa semudah itu. Takjub karena dari sejak pembentukan bubur kertas sampai kemudian dicat dan ditempel, sama sekali tidak ada masalah yang dihadapi baik oleh abang maupun oleh adek yang membantu si abang.

Di antara semua benda Tata Surya yang dibentuk dari bubur kertas itu, tak ada satupun yang hancur atau rusak ketika dicat atau ditempel padahal kondisinya belum begitu kokoh karena tidak melalui tahap penjemuran.

Selesai semua ditempel, hasil karya mereka pun hanya didiamkan semalaman saja di kamar mereka. Ketika mereka bangun keesokan harinya, mereka mendapati semua benda Tata Surya yang mereka bikin malam sebelumnya sudah berada dalam kondisi yang sangat kokoh sehingga bisa dibilang bahwa project si abang kali ini pun sudah selesai dengan sangat baik.

Hari itu, di pelajaran Art, ketika gurunya mengecek progress yang sudah dikerjakan para siswa, si abang pun bisa dengan tenang melaporkan bahwa semua pekerjaannya sudah selesai sambil dengan bangga menunjukkan hasil karyanya (fakta bahwa si abang mengerjakannya dengan dibantu si adek juga dilaporkan ke gurunya oleh si abang 😊). Ketika ditanya apakah ada kesulitan yang dia hadapi ketika mengerjakan project itu, jawaban si abang ya tidak ada kesulitan yang berarti, satu-satunya masalah yang dihadapi hanyalah karena jumlah bubur kertas yang dibikin yang sempat tidak cukup, tapi itupun bukan masalah yang gimana-gimana karena sebentar saja dia sudah bisa bikin bubur kertas tambahan. Gurunya juga sempat cerita tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh murid lain di kelas lain yang mana sebagian besar masalah itu adalah seputar penjemuran alias menunggu sampai bubur kertas yang sudah dibentuk bisa siap untuk dicat. Ada katanya yang sampai berhari-hari pun gak siap-siap. Si abang lalu cerita pengalaman dia yang gak pake nunggu-nunggu. Selesai dibentuk hanya didiamkan sebentar lalu langsung dicat trus ditempel kemudian hasil akhirnya tinggal didiamkan semalaman dan esoknya semua sudah dalam kondisi yang kokoh. Denger cerita si abang, gurunya sampai heran karena si abang bisa sukses melewati proses pengecatan tanpa masalah sedikitpun meskipun matahari dan planet-planet yang dia bentuk dari bubur kertas itu belum dalam kondisi yang benar-benar kokoh πŸ˜„.

Begitulah, puji Tuhan banget memang, dalam kondisi di apartemen yang terbatas, Tuhan memberikan keberuntungan untuk si abang mengerjakan project-nya hingga tidak ada satupun masalah yang dia hadapi.

Kenapa project-nya bisa langsung sukses?

Mungkin karena komposisi antara jumlah bubur kertas dan lem kayu yang dicampurkan adalah sangat tepat sehinggaΒ  bubur kertasnya bisa dibentuk dengan baik namun juga tidak terlalu basah sehingga tidak perlu melewati tahap penjemuran. Jenis cat juga mungkin mempengaruhi, karena menggunakan cat air yang padat yang jauh lebih cepat kering serta tidak terlalu basah, maka proses pengecatan tidak menyebabkan kerusakan.

Dan itu semua bisa terjadi karena pertolongan Tuhan. Kalau bukan Tuhan yang menolong, tak mungkinlah si abang bisa mencampurkan lem kayu ke bubur kertas dalam jumlah yang sangat tepat seperti itu. Tuhan juga yang menolong sehingga waktu suami pergi ke Gramedia untuk membeli cat air buat si abang, setelah berbagai pertimbangan, dia akhirnya memilih cat air yang berbentuk padat yang ternyata merupakan pilihan yang sangat tepat.

Puji Tuhan…. puji Tuhan banget.

Hal yang tadinya sempat saya pikirkan bakal sulit, ternyata jadi serba digampangkan oleh Tuhan 😍.

Dan oh ya, puji Tuhan, untuk project-nya kali ini, si abang mendapatkan nilai 90 😍. Puji Tuhan Yesus.

Demikianlah pemirsa cerita tentang project Solar System Model si abang. Sederhana kan ya? Namun kami bersyukur karena lewat hal-hal sederhana seperti inipun, Tuhan menunjukkan pertolongan-Nya untuk kami 😘. Kasih setia-Nya, memang selalu besar!

The thankful boy!

 

2 respons untuk β€˜Abang’s Solar System Model’

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s