08 Juni 2020 (From Palembang to Jakarta)

Aslinya saya berencana menulis tentang ini di tanggal 8 September yang lalu karena bertepatan dengan peringatan genap 3 bulan kami berada di sini. Maksudnya sih supaya pas gitu ya, cerita tentang kejadian di 8 Juni diceritakan di 8 September…hehehe…. Tapi apalah daya, pas di tanggal 8 kemarin ternyata saya gak sempat buat mampir di blog, ya sutralah, yang penting cerita di 8 Juni itu tetap bisa terdokumentasi di sini.

O ya, kalau dihitung-hitung, sekarang sudah 6 bulan lebih ya kita semua #stayathome.

Gak kerasa sudah setengah tahun ternyata ๐Ÿ˜….

Inget banget, hari pertama #stayathome untuk kami itu adalah di hari Rabu, tanggal 18 Maret 2020. Di hari itu, sekolah resmi ditutup dan di hari yang sama kami juga memutuskan bahwa semua les anak-anak dilakukan dari rumah saja (kecuali berenang yang otomatis harus off karena gak bisa dilakukan di rumah ๐Ÿ˜), sehingga sejak hari itu kami pun tidak keluar rumah lagi.

Hidup benar-benar berubah total. Rasanya seperti hanya dalam sekedipan mata saja dan semua sudah berubah. Padahal, beberapa hari sebelum hari Rabu tanggal 18 Maret 2020 itu, kami masih melakukan perjalanan udara Palembang – Jakarta – Palembang.

Hari Jumat siang, tanggal 13 Maret 2020, saya dan anak-anak terbang dari Palembang ke Jakarta dan dijemput suami di Bandara Soetta. Saat itu, wabah memang sudah menghampiri Indonesia namun jumlah kasus masih belum sampai 50. Itu pun sebenarnya sudah cukup membuat khawatir, karena itu sepanjang perjalanan kami terus menggunakan masker. Perjalanan saat itu tujuan utamanya memang bukan untuk santai atau jalan-jalan, tapi karena si abang ada kompetisi piano di hari Sabtu, tanggal 14 Maret 2020. Di hari yang sama dengan keberangkatan kami di hari Jumat itu, sorenya setelah kami sudah berada di apartemen di Jakarta, kami mendapat kabar bahwa jumlah kasus meningkat hingga jumlah kasus total hampir mencapai angka 70.

Esoknya, Sabtu, setelah si abang selesai dengan kompetisi piano, dan ketika kami kembali telah berada di apartemen, jumlah kasus mulai melonjak hingga hampir menyentuh angka 100.

Keesokan harinya, di Minggu pagi, kami terbang kembali ke Palembang bersama suami.

Hari Senin, anak-anak masih bersekolah, suami belum kembali ke Jakarta. Hari itu, meski anak-anak sekolah, namun suami sudah yakin bahwa kalau melihat perkembangannya, maka sepertinya sekolah akan segera ditutup. O ya, saat itu seingat saya sudah kurang lebih dua mingguan sekolah anak-anak memberlakukan aturan no physical contact alias tidak bersalaman serta pemeriksaan suhu tubuh sebelum memasuki area sekolah. Hari itu, selagi anak-anak di sekolah, saya dan suami masih keluar untuk mengurus pajak rumah. Kondisi di Palembang masih seperti biasa, tapi kami sendiri sudah menggunakan masker. Ketika menjemput anak-anak pulang sekolah, kami mendapat kabar, bahwa benar sesuai perkiraan, sekolah akan ditutup sementara mulai hari Rabu nanti. Hari Selasa masih akan masuk namun hanya untuk mengambil bahan pelajaran saja. Setelah mendapat kabar bahwa sekolah akan ditutup sementara, suami pun langsung menganjurkan untuk kami belanja mingguan di hari itu juga supaya saya tidak perlu keluar-keluar lagi. Sorenya, saya dan suami pergi belanja mingguan di Diamond, yang mana untuk persiapan, maka belanjanya diusahakan supaya cukup sampai kurang lebih dua minggu. Tidak ada maksud untuk menyetok bahan makanan, maksudnya hanyalah supaya mengurangi kegiatan saya untuk keluar rumah nantinya.

Hari Selasa subuh, tanggal 17 Maret, saya mengantarkan suami ke bandara karena dia akan kembali ke Jakarta. Hari itu anak-anak masih bersekolah, namun pulang awal.

Hari Rabu, tanggal 18 Maret, kegiatan belajar di rumah dimulai. Dan sejak hari itu, kami praktis tidak pernah kemana-mana lagi.

Seingat saya, terhitung sejak tanggal 18 Maret itu, hanya 4x saya pernah keluar rumah.

Kali pertama, tanggal 23 Maret 2020, saya keluar hanya untuk ke JNE dekat rumah untuk mengirimkan makanan buat suami yang waktu itu belum bisa pulang kembali ke Palembang.

Kali kedua,ย  tanggal 30 Maret 2020, untuk belanja bahan makanan di Diamond.

Kali ketiga, tanggal 09 Mei 2020, kami berempat keluar untuk melihat-lihat kota meski hanya di dalam mobil saja.

Kali keempat, tanggal 08 Juni 2020, kami berempat keluar rumah, namun kali ini tidak hanya untuk melihat-lihat saja, tidak juga untuk belanja, tidak juga hanya untuk pergi ke tempat yang dekat-dekat saja, melainkan untuk melakukan perjalanan jauh ke Jakarta dengan mobil. Kali ini, kami keluar untuk meninggalkan rumah dan kota Palembang tercinta demi bisa bersama-sama di Jakarta.

Saya sendiri sudah tidak begitu mengingat lagi tepatnya sejak kapan kami memutuskan untuk saya dan anak-anak ikut suami ke Jakarta. Yang pasti yang saya ingat, ketika pandemi ini dimulai di Indonesia hingga sampai pada titik di mana sekolah harus menerapkan HBL serta kantor-kantor termasuk kantor suami memberlakukan WFH dan suami pun mendapat ijin untuk menjalani WFH di Palembang, kami sama sekali tidak mengira bahwa kondisi pandemi ini akan berlangsung selama ini. Karena itu, ketika suamiย  pulang ke Palembang via darat di tanggal 29 Maret 2020 (tepat sebelum PSBB pertama kali diberlakukan di Jakarta), saya sejujurnya masih mengira bahwa mungkin suami paling lama sebulan saja di Palembang, setelah itu kondisi akan membaik dan dia pun bisa kembali lagi ke Jakarta dan kemudian kami pun bisa kembali dengan tenang menjalani aktivitas seperti sebelumnya. Kami di Palembang, suami di Jakarta. Suami dan anak-anak bekerja serta bersekolah dari Senin – Jumat, lalu pada akhir pekannya kami berkumpul. Normal. Seperti biasa.

Tapi ternyata kenyataan yang terjadi sangat jauh dari itu.

April tiba dan berlalu. Kasus bukannya menurun malah semakin meningkat. Saat itulah kami mulai sadar bahwa kondisi ini tidak akan berlalu dengan cepat sebagaimana yang kami kira. Tapi saat itu seingat saya kami belum benar-benar membicarakan tentang kami sekeluarga pindah ke Jakarta, karena berpikirnya ya selama kondisi belum baik tentulah belum akan ada kebijakan dari pemerintah yang mengijinkan karyawan kembali ke kantor.

Tapi ternyata begitu bulan Mei datang, di tengah kondisi yang semakin tak menentu karena jumlah kasus terus mengalami kenaikan, isu new normal justru muncul yang kemudian diikuti dengan penerapannya yang mana seiring dengan itu maka kantor suami pun kembali memberlakukan WFO, meskipun masih sebagian, alias belum 100%, alias dalam seminggu setiap karyawan mendapat giliran ngantor hanya 1-2 kali (atau paling banyak 3 kali) dalam seminggu. Ketika jadwal itu keluar, saya lupa kapan tepatnya, di situlah kami memutuskan untuk kami semua ikut suami ke Jakarta. Keputusan itu kami ambil tanpa berpikir lama-lama lagi, karena seperti yang saya bilang di sini, segala hal yang terjadi di tengah dunia ini, membuat kami tersadar bahwa kebersamaan itu adalah hal yang harus kami usahakan.

Memasuki minggu pertama bulan Juni, kami pun mulai mengurus segala hal yang diperlukan untuk kepindahan kami, termasuk surat-surat (yang mana pengurusannya tentu diusahakan oleh kantor suami) karena waktu itu ketentuannya untuk memasuki Jakarta perlu bawa SIKM. Setelah mengurus ini-itu dan mempertimbangkan berbagai hal, kami pun memutuskan untuk berangkat ke Jakarta di hari Senin tanggal 8 Juni.

Untuk persiapan barang-barangnya sendiri, tidak terlalu banyak yang kami bawa, namun semua yang penting kami usahakan agar jangan sampai ketinggalan. Kami tidak tahu apakah kami hanya akan sementara saja di Jakarta ataukah memang Tuhan berkehendak kami betul-betul pindah ke Jakarta, jadi yah untuk persiapan, semua yang penting-penting kami bawa.

Puji Tuhan, di malam hari di tanggal 7 Juni, semua barang yang mau kami bawa sudah masuk dengan sempurna ke dalam mobil.

Saat itu, selain barang-barang yang penting, kami juga membawa segala macam perbekalan yang ada di rumah ๐Ÿ˜

Kalau ditanya bagaimana perasaan kami saat itu?

Duh, susah mau dijabarkan lagi. Campur aduk banget rasanya!

Di satu sisi kami yakin dengan keputusan ini. Tapi di sisi lain, tentu tak dapat dipungkiri ada rasa sedih yang mendalam karena harus meninggalkan rumah. Sejak malam itu, setiap kali berdoa kami selalu menangis. Gak hanya orangtua yang sedih ya, tapi anak-anak juga. Abang bahkan menangis cukup keras ketika kami berdoa sebelum berangkat di Senin pagi tanggal 8 Juni itu. Mendengar abang menangis seperti itu, hati ini rasanya tersayat. Namun kami semua, termasuk abang yang merasa sangat sedih saat itu, sadar sepenuhnyaย  bahwa sesedih apapun perasaan kami meninggalkan rumah, itu tidak akan sebanding dengan perasaan sedih yang akan kami rasakan jika dalam kondisi seperti sekarang kami masih harus terpisah-pisah lagi.

Selesai berdoa, kami pun berangkat.

“Tuhan pimpin anak-Mu, agar tidak tersesat. Akan jauhlah seteru, bila Kau tetap dekat. Tuhan, pimpin arus hidup menderas. Agar jangan ku sesat, pegang tanganku erat.” Lagu inilah yang terus menerus kami nyanyikan sejak memutuskan untuk kami semua mengikut suami ke Jakarta.
It wasn’t easy to leave home, yes, but it would be harder if we’re not together…

Pagi itu cuaca di Palembang sangat kelabu. Sampai-sampai, sahabat baik saya yang waktu itu adalah satu-satunya orang selain keluarga yang mengetahui tentang keberangkatan kami ke Jakarta bilang ke saya bahwa bahkan kota Palembang pun ikut ‘menangis’ melihat kami meninggalkan kota ini…hehehehe….

Palembang, selalu di hati….

O ya, pagi itu sebelum benar-benar keluar dari kota Palembang, kami sempat singgah di McD dulu buat beli bekal makan siang dan makan sore ๐Ÿ˜. Trus abis itu masih sempat muter-muter sebelum benar-benar jalan ke arah luar kota. Alhasil, kami keluar dari Palembang setelah sudah hampir tengah hari.

Puji Tuhan perjalanan kami lancar.

Sepanjang perjalanan itu kami hanya berhenti dua kali.

Pertama karena ada pemeriksaan di perbatasan kota Palembang. Pemeriksaannya hanya seputar cek suhu tubuh, kapasitas penumpang dalam kendaraan, sama pada pake masker atau gak.

Berhenti kedua kalinya untuk makan bekal McD yang sudah dibeli tadi. Sengaja berhenti untuk makan supaya nyaman, terutama untuk anak-anak.

Karena perjalanannya lancar, jadi kami bisa dibilang lumayan cepat menjalani perjalanan dari Palembang sampai Lampung. Jam 10.55 kami melewati Jembatan Ampera, di jam 12.56 kami sudah memasuki daerah Lampung, dan di jam 15.36 kami sudah tiba di Pelabuhan Bakauheni. O ya, sebelum masuk ke Pelabuhan, kami juga sempat singgah sekali lagi di Rest Area dekat situ karena suami mau isi bensin dan sekalian kalau kondisi memungkinkan mau singgah ke toilet. Puji Tuhan, saat itu Rest Area itu sangat sepi dan toiletnya dalam kondisi yang bersih serta aman karena tidak ada siapa-siapa. Karena ngecek kondisinya memungkinkan, maka anak-anak juga diajak pak suami untuk ke toilet di situ, tentu saja dengan pengawasan protokol yang sangat ketat ya, alias mereka benar-benar dilarang untuk menyentuh benda apapun dan biarkan papa yang urus semuanya ๐Ÿ˜.

Kapalnya terlihat dari kejauhan

Setelah dari Rest Area itu, kami pun melaju ke pelabuhan dan langsung menuju ke dermaga eksekutifnya, yang mana begitu mau antri di loket depan, kami langsung didatangi petugas yang membawa pesan bahwa kapal eksekutif baru saja berangkat dan kapal berikutnya baru akan berangkat di jam 7 malam. Itu artinya kalau kami memang mau naik yang eksekutif, kami harus menunggu selama 3 jam! Duh!

Puji Tuhan, setelah itu kami juga dapat informasi bahwa kapal yang biasa baru akan berangkat dan kami masih punya waktu untuk naik ke kapal itu. Langsunglah suami putar haluan untuk menuju ke dermaga non-eksekutif yang meski perjalanannya akan lebih lama (kurang lebih 2,5 jam alias 1,5 jam lebih lama dibanding dengan kapal eksekutif), tapi setidaknya bila kami naik kapal itu maka, di jam 7 malam di mana kapal eksekutif dari Bakauheni baru akan berangkat, kami sendiri sudah bisa tiba di pelabuhan Merak.

Puji Tuhan juga, saat itu bisa dibilang sangat sedikit orang yang melakukan perjalanan dengan kapal feri untuk menyeberangi Selat Sunda, sehingga tidak ada sama sekali antrian di loket. Begitu juga saat masuk ke kapal, tinggal langsung masuk karena kendaraan yang naik terbilang sedikit. Tak berapa lama, kami bersama kendaraan kami sudah berada di dalam kapal. Dan lagi-lagi puji Tuhan, kami tidak diharuskan untuk turun dari mobil, bahkan mesin kendaraan pun bisa nyala sehingga kami gak kepanasan di dalam mobil.

Kondisi begini sama seperti waktu suami datang dari Jakarta ke Palembang sebelum PSBBย  Jakarta yang pertama dimulai. Saat itu dia juga diijinkan menunggu dalam mobil selama perjalanan dengan feri supaya antar penumpang benar-benar bisa saling menjaga jarak. Sekali lagi puji Tuhan, dari sejak suami berencana pulang ke Palembang di akhir bulan Maret, perjalanan darat dengan mobil pribadi sudah menjadi pilihan kami karena dirasa yang paling memungkinkan untuk menghindari kontak dengan orang lain, dan dengan adanya kebijakan pemberian ijin bagi penumpang untuk menunggu di dalam mobil selama perjalanan dengan feri, maka itu lebih memudahkan untuk menghindari pertemuan serta kontak dengan orang lain.

Puji Tuhan, sore itu perjalanan kami mengarungi Selat Sunda diberkati Tuhan dengan kelancaran. Perjalanan selama 2,5 jam itu bisa digunakan oleh suami untuk tidur. Sekitar jam 18.30 kami sudah tiba di Pelabuhan Merak ๐Ÿ™‚.

Kapal feri yang kami tumpangi saat itu, ketika telah berlabuh di Pelabuhan Merak

Dari Pelabuhan Merak kami langsung menuju ke apartemen kami di Jakarta Selatan. Puji Tuhan masuk Jakarta juga lancar-lancar saja dan sama sekali tidak ada pemeriksaan.

Ngomongin soal pemeriksaan, sejujurnya hal ini sempat bikin orangtua saya di Manado ketar-ketir, karena bahkan sampai di hari keberangkatan kami, mereka masih tuh lihat di berita di TV orang-orang yang disuruh putar balik, dilarang masuk Jakarta karena surat-surat yang tidak lengkap. Orangtua saya hanya khawatir jika ternyata kami juga ada yang kurang lengkap dan harus balik kanan kembali ke Palembang. Bukannya apa-apa sih, mereka membayangkan alangkah lelahnya kami (terutama suami yang nyetir ๐Ÿ˜…) jika terjadi hal yang demikian. Karena itu, dari sejak mereka tahu tentang rencana kami untuk ke Jakarta, hal itulah yang terus mereka doakan. Namun, yang namanya manusia ya, bawaan khawatir tuh adaaaa saja, sampai-sampai bikin mama saya semalaman tidak bisa tidur ๐Ÿ˜….ย  Puji Tuhan, apa yang mereka khawatirkan tidak terjadi. Perjalanan kami sangat lancar dan bahkan tidak melewati pemeriksaan apapun. Sekitar jam 8 malam kami pun sudah tiba di apartemen.

Begitu tiba, suami yang duluan turun sambil membawa beberapa barang. Saya dan anak-anak disuruh tunggu dulu di mobil sambil makan malam. Suami naik dulu untuk bersih-bersih apartemen supaya ketika kami naik, kondisi di apartemen sudah siap dan nyaman untuk kami. Puji Tuhan banget memang dikasih suami yang seperti suami saya ini. Dia tipe suami yang mikirin banget semuanya ๐Ÿ˜.

Jadilah saya dan anak-anak menunggu di mobil sambil makan malam sementara suami naik ke atas. Puji Tuhan, begitu dia sampai di unit kami, dia langsung ngasih laporan ke saya kalau ternyata unit kami dalam keadaan bersih meskipun sudah ditinggalkan selama lebih dari dua bulan. Suami hanya perlu ngelap-ngelap dikit, serta nyapu ngepel, dan kondisi di dalam unit kami pun sudah siap untuk kami tinggali. Sekali lagi, puji Tuhan.

Selesai bersih-bersih, suami pun turun lagi untuk jemput kami sambil bawa sisa barang-barang yang mau diturunkan malam itu. Tiba di unit, suami suruh saya mandi duluan selagi dia cuci piring (piring-piring di rak dapur sebenarnya bersih-bersih saja sih, cuma supaya lebih nyaman, suami memilih mencuci piring-piring itu lagi). Kelar saya mandi, selagi saya pasang seprai, dia mandi lalu dia mandiin anak-anak. Setelah semua sudah bersih, kami pun berdoa, mengucap syukur pada Tuhan Yesus untuk semua penyertaan-Nya bagi kami.

Selesai berdoa, kami pun istirahat.

Puji Tuhan, meski hari itu adalah hari yang panjang buat kami (dan cukup melelahkan terutama untuk suami), tapi semua berjalan dengan lancar dan bahkan kami bisa menaruh kepala di atas bantal untuk mengistirahatkan badan yang lelah, tepat pada waktunya untuk beristirahat.

Sekali lagi, puji Tuhan Yesus….

Ah, rasanya tak akan berhenti berterima kasih pada Tuhan Yesus untuk semua penyertaan-Nya. Kondisi sekarang ini memang tidak mudah bagi semua orang, termasuk bagi kami. Namun dalam kondisi ini, kami terus melihat kebaikan dan kemurahan Tuhan, dalam segala perkara, baik besar maupun kecil.

Soal mobil misalnya yang sejak penghujung tahun lalu sudah kami usahakan supaya salah satu mobil bisa dibawa ke Jakarta. Waktu itu sih tujuannya supaya suami di sini bisa nyaman pakai kendaraan pribadi karena toh jarak dari apartemen ke kantornya terhitung dekat. Yang tak disangka saat itu adalah bahwa tak lama setelah itu wabah ini menghampiri Indonesia dan mobil yang kami bawa ke Jakarta itu kemudian bisa dipakai sebagai moda transportasi yang aman untuk pak suami pulang ke Palembang dengan segera sebelum PSBB di Jakarta diberlakukan pertama kalinya.

Lalu soal apartemen ini juga. Lagi-lagi bersyukur banget karena ketika di akhir tahun lalu suami pindah tugas ke Jakarta, saat itu kami memutuskan untuk membeli apartemen ini. Tadinya sempat lho terpikir supaya suami jadi anak kos saja di sini, karena toh dia berencana untuk setiap weekend pulang ke Palembang ๐Ÿ˜›. Saat itu mau ngontrak rumah, ah rasanya kurang cocok, karena nanti ukurannya terlalu besar untuk pak suami yang hanya tinggal sendiri di sini. Sempat cari-cari kos, sampai akhirnya kami berkeputusan untuk ambil apartemen saja. Keputusan yang benar-benar kami syukuri, karena puji Tuhan dengan keberadaan apartemen ini, paling tidak kamiย  bisa memiliki tempat tinggal sementara yang meski terbatas tapi sudah cukup untuk menjadi ‘rumah’ bagi kami hingga saat ini.

Kemudian soal hal-hal kecil, semacam meja misalnya. Di awal tahun waktu kami jalan ke Ikea, saat itu kami memutuskan membeli meja kecil untuk diletakkan di depan sofa bed di ruang nonton apartemen ini. Waktu itu sebenarnya butuh gak butuh sama meja itu, tapi gak tau kenapa, tetap kami beli juga. Lah, gak taunya kejadian seperti sekarang dan meja itu ternyata bisa amat sangat berguna terutama untuk jadi meja belajar si abang ketika dia sekolah online ๐Ÿ˜. Dan tak hanya itu ya, bahkan sesuatu yang sudah kami punyai sejak sangat lama dan selama ini tidak begitu terlalu dianggap penting pun, ternyata bisa sangat berguna di saat sekarang ini. Sesuatu itu adalah meja belajar lipat yang sudah kami miliki dari sejak tahun 2012 ketika kami masih tinggal di Rumah Kencana. Selama kami tinggal di Rumah Cendana di Palembang, meja itu hanya kadang-kadang saja dipakai, karena anak-anak punya meja belajar permanen sendiri-sendiri. Karena jarang-jarang dipakai, maka meja itu seringnya hanya terlipat begitu saja di samping sofa. Tapi, begitu kondisi ini terjadi, ternyata meja itu bisa menjadi amat sangat berguna. Karena bisa dilipat, maka meja itu bisa dengan mudah dimasukkan ke dalam mobil untuk dibawa ke Jakarta dan di sini meja itu pun menjadi meja andalan untuk si adek sekolah online. Trus lagi-lagi karena bisa dilipat, maka keberadaan meja itu sama sekali tidak memakan tempat di apartemen ini.

Saya selalu yakin bahwa tidak pernah ada yang kebetulan di dunia ini. Semua hal, besar atau kecil, terjadi karena ada maksud Tuhan. Karena itu saya juga yakin, hal-hal sederhana semacam meja-meja itu pun merupakan wujud kebaikan Tuhan bagi kami agar kondisi kami bisa dipermudah dan tetap merasa nyaman di tengah situasi yang tidak gampang seperti sekarang ini.

Sekali lagi, saya hanya bisa bilang, puji Tuhan. Kebaikan Tuhan terlalu besar, amat sangat besar. Karena itu, meskipun sampai hari ini kami belum menemukan rumah yang kami cari dan kondisi di luar masih mengkhawatirkan, namun saya hanya mau terus yakin, bahwa di mana pun kami berada, Tuhan Yesus akan tetap memberikan damai sejahtera, sukacita, serta perlindungan. Amin.

“Great is Thy faithfulness,” O God my Father,
There is no shadow of turning with Thee;
Thou changest not, Thy compassions, they fail not
As Thou hast been Thou forever wilt be.
“Great is Thy faithfulness!”
“Great is Thy faithfulness!”
Morning by morning new mercies I see;
All I have needed Thy hand hath providedโ€”
“Great is Thy faithfulness,” Lord, unto me!

16 respons untuk โ€˜08 Juni 2020 (From Palembang to Jakarta)โ€™

  1. Mirip sebenernya, Mbak. 14 Maret Sekolah menetapkan mulai Sein, 16 Maret 2020 sekolah akan dilangsungkan online. Ga terasa udah setengah tahun aja. Makin pesimis akhir tahun bakal beres wabah ini. Memang mesti super sabar menghadapi ujian ini. Semoga kita semua sehat2 dan aman semua yaa.

  2. Pandemi ini juga memberi banyak hikmah, sempat ngrasain 3 bulan WFH, asyik banget, seru bisa setiap saat sama anak-anak. Gak ada rasa bosan sedkit pun. Sampai sekarang dah mulai masuk kantor pun, anak-anak selalu protes kenapa ibu pergi, hehe.
    Sehat selalu Lisa dan keluarga. Semoga kondisi ini lekas berlalu, aamiin

    1. Sekarang udah mulai ngantor setiap hari lagi atau msh sama kayak suamiku lebih banyak WFH dibanding WFO?

      Terima kasih doanya, sehat selalu juga untukmu sekeluarga yaaa….dan semoga wabah ini segera berlalu. Amin!

  3. eh ternyata kalian pindah ke jkt ya lis? yang rumah mau dijual itu kah? eh kayaknya pernah baca sekilas, apa salah baca ya hehehe
    semoga semua kembali normal ya, dan kita semua sehat2 ya lis
    btw tinggal di daerah mana?

  4. sending warm love and hug for kak Lissa & keluarga ๐Ÿ™‚ God knows every detail ya kak, Roma 8: 28.. Tuhan selalu berkati ya kak apapun yg dikerjakan

  5. Ciyeeee double R udah jadi anak Jaksel nih! ๐Ÿ˜› boleh donk kapan2 ketemu setelah pandemi usaiโ€ฆ

    Anyway waktu masih single aku cuek2 aja kan kak mau hidup sendirian juga. Tapi sejak ada pacar/pasangan yang punya value yang sama kya kak Alissa yaitu kebersamaan, aku jadi terbiasa juga untuk hal itu. Pas LDR-an karena pandemi ini entah kenapa aku ngerasa ada strong bond di antara kami karena selalu mengusahakan komunikasi, quality time, semoga aja aku gak salah2 rasa ๐Ÿ˜†

    Dan juga di masa pandemi ini banyak juga yang ambil keputusan besar utk pindah rumah dan kerjaan, kakโ€ฆ Salah satu youtuber di Batam tuh akhirnya pindah ke Bali karena suasana di Batam udah gak memungkinkan lagi utk dia dan keluarganya

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s