Cerita Abang Sakit di Bulan April Yang Lalu

Sakit bisa dibilang adalah hal yang paling berusaha dihindari orang di masa pandemi ini. Dihindari karena ya, sakit memang bikin parno di masa-masa kayak gini, apalagi kalau sakitnya sudah yang berhubungan dengan viral infection, pikiran langsung deh curiga ke mana-mana. Itu satu, belum lagi pertimbangan soal aman tidaknya untuk mengunjungi dokter atau rumah sakit di tengah situasi seperti sekarang. Jangankan untuk urusan sakit ya, untuk imunisasi anak saja rasanya jadi mikir-mikir banget di situasi begini. Karena itu gak heran kalau masyarakat terus dianjurkan untuk menjaga pola hidup bersih dan sehat supaya tidak gampang sakit, supaya mengurangi kebutuhan untuk berkunjung ke rumah sakit atau dokter.

Dan yes, itu juga yang jadi concern saya begitu pandemi ini yang tadinya terasa sangat jauh di Wuhan sana, ternyata bisa juga nyampe di Indonesia. Kasus demi kasus yang kemudian merebak ditambah ketika pertama kalinya lonjakan jumlah kasus terjadi, kami baru saja melakukan perjalanan dari Jakarta ke Palembang dengan pesawat udara, membuat saya merasa sangat takut kalau kami, terutama anak-anak sampai jatuh sakit.

Karena takut dengan sakit itulah, maka usaha menjaga kesehatan serta kebersihan yang tadinya sebenarnya sudah cukup baik kemudian menjadi semakin intens. Sebenarnya sih baik ya, namanya menjaga kesehatan dan kebersihan jelas baik dong. Tapiii…. mengingat hal itu dilakukan sebagian besar karena dorongan rasa takut, maka jatuh-jatuhnya ya jadi gak baik, karena kalau ada yang kurang-kurang dari usaha menjaga kesehatan dan kebersihan itu (yang mana sebenarnya yang ‘kurang-kurang’ itu hanya ada di pikiran saya saja) bisa bikin saya sangat kepikiran hingga khawatir luar biasa….

Sampai kemudian di akhir bulan April yang lalu, apa yang sangat saya takuti serta khawatirkan itu terjadi…

Si abang tiba-tiba jatuh sakit.

πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯

Ceritanya berawal di malam hari tanggal 26 April. Seperti biasa, sebelum tidur kami berdoa bersama. Saat itu semua masih aman-aman saja. Bahkan sampai naik ke tempat tidur pun, abang terlihat sehat, sama sekali tak ada tanda-tanda bahwa dia akan sakit.

Setelah anak-anak tertidur, saya dan suami pun tidur…

Jam 2 pagi, si abang masuk ke kamar kami dan membangunkan kami. Saat itu dia mengeluh merasa sangat kedinginan.

Dengar keluhan abang itu, saya dan suami langsung curiga karena anak-anak ini sama seperti papanya, sangat tahan dingin. Kecurigaan kami terbukti benar ketika suami mengukur suhu tubuh si abang dan angka di termometer menunjukkan suhu tubuhnya hampir menyentuh 39 derajat celcius.

Resmi sudah, si abang sakit dengan gejala demam tinggi.

Saat itu juga pengaturan tidur langsung kami ubah. Si adek kami pindahkan tidur di kamar kami bersama saya, sementara suami menemani si abang di kamar anak-anak. Perasaan saya sudah campur aduk saat itu namun puji Tuhan masih diberi kekuatan untuk berdoa. Si abang kami beri paracetamol, dada dan punggungnya kami baluri Vicks, sementara kaki dan telapak kakinya kami baluri minyak telon. Setelah itu suami menyuruh saya untuk istirahat.

Baru beberapa saat balik ke kamar, saya sudah kembali lagi ke kamar anak-anak karena dengar si abang batuk-batuk. Duh ampun, dengar si abang batuk bener-bener pikiran saya tambah kacau. Sudahlah demam tinggi, ditambah batuk…ngerti kan langsung apa yang saya takuti saat itu? Bener-bener rasanya shock dan pengen nangis 😭.

Suami pun nyuruh saya ngambil obat batuk dari kotak obat buat dikasihkan ke si abang. Setelah itu kembali saya disuruh istirahat sama pak suami yang mana tentu saja lah ya yang namanya tidur jadi susah banget, apalagi karena tahu kalau suami dan si abang di kamar sebelah juga gak bisa tidur. Semalaman itu si abang demamnya terus tinggi bikin kepalanya terasa sangat sakit. Segala cara dibuat oleh pak suami untuk membuat si abang merasa nyaman, tapi semalaman itu tak ada yang berhasil.

Esok harinya, Senin, demam dan sakit kepala si abang masih terus berlanjut. Batuk-batuknya tidak ada lagi, namun berganti dengan mual-muntah. Makan sedikit langsung muntah hingga di titik di mana si abang jadi takut untuk makan. Puji Tuhan, si abang tetap mau dengar-dengaran, meski merasa sangat mual dan aslinya dia takut untuk makan karena takut bakal muntah, tapi dia mau berusaha makan sedikit demi sedikit ditemani teh manis campur lemon hangat.

Seharian itu perasaan saya galau melihat segala gejala yang dialami oleh si abang. Pikiran semakin jadi parno kemana-mana sampai akhirnya kena tegur oleh suami, disuruh jangan mikir yang aneh-aneh. Iya, si abang memang lagi sakit dengan gejala demam tinggi,Β  sakit kepala hebat, sempat ada batuk, serta mual dan muntah. Trus kenapa? Memangnya baru sekali ini anak-anak demam sampai di atas 39 derajat Celcius? Bukannya memang mereka sudah biasa begitu? Jangankan 39, sampai ke angka 40 – 41 saja pun sudah beberapa kali terjadi. Iya memang si abang sakit dengan gejala viral infection seperti wabah yang sedang terjadi, tapi memangnya dapat dari mana? Saat itu kami sudah satu bulan setengah mengisolasi diri di rumah saja. Tidak keluar rumah. Tidak terima tamu. Di atas semuanya, suami mengingatkan saya bahwa ada Tuhan Yesus yang menjaga. Iya memang sekarang si abang diijinkan sakit, tapi yakin serta percaya, Tuhan Yesus juga yang akan menyembuhkan si abang.

Teguran suami itu kemudian saya coba untuk menerima dan karenanya mengusahakan supaya jangan mikir yang aneh-aneh. Selain kekhawatiran soal wabah, juga ada kekhawatiran si abang kena DBD atau Tipus, apalagi keluarga besar juga ikut mengkhawatirkan soal dua penyakit terakhir itu. Duh Tuhan, bener-bener saya takut banget sebenarnya saat itu.

Seharian itu, si abang kami rawat dengan apa yang kami bisa di rumah. Dia kami kasih paracetamol, vometa sirup untuk membantu meredakan mualnya, kepalanya dipijat dengan minyak angin, badannya diolesin vicks serta racikan minyak telon + bawang merah bakar. Yang lebih penting lagi, kami terus ajak abang berdoa sama-sama sambil menyanyikan puji-pujian rohani. Puji Tuhan, meski kesakitan tapi si abang diberi kekuatan dan ketenangan untuk berdoa. Demikian juga dengan saya, meski masih diliputi rasa takut dan khawatir, namun Tuhan tetap kasih kekuatan untuk bisa berdoa.

Hari Senin malam, lagi-lagi si abang tidak bisa tidur. Demamnya tetap tinggi, hanya turun sedikit sehabis minum paracetamol, setelah itu naik lagi. Karena demamnya masih tinggi, jadi ya kepalanya juga terus sakit yang bikin dia sangat tidak nyaman.

Esok harinya kami memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter yang mana dengan berbagai macam pertimbangan, kami pun memutuskan untuk konsultasi online saja. Setelah nyari sana-sini, puji Tuhan dapat informasi kalau di tengah kondisi pandemi seperti ini, RS. Charitas melayani konsultasi via WA serta telepon. Langsunglah saya bikin janji dengan dokter anak di RS. Charitas, puji Tuhan bisa dapat jadwal hari itu juga dengan dokter anak yang notabene adalah dokter anak si abang waktu bayi dulu, dr. Silvia Triratna.

Dari hasil konsultasi via telepon dan WA dengan dokter, si abang disebut kena infeksi virus yang mana untuk sekarang ini yang bisa dilakukan adalah observasi dan pengobatan dengan pemberian paracetamol bila demam atau sakit kepala, anti virus (Isprinol), serta vitamin. Selanjutnya kalau demam masih berlanjut hingga hari Kamis, maka dokter menyarankan untuk cek darah di hari Jumat. Resep obat dari dokter kemudian dikirimkan ke rumah lewat layanan HaloDoc yang memang sudah bekerja sama dengan rumah sakit.

Selasa malam itu, kondisi si abang sudah lebih baik. Masih demam sih, tapi tidak setinggi kemarin dan kepalanya juga tidak lagi sesakit sebelumnya sehingga dia pun bisa tidur.

Keesokan paginya sampai sore hari, si abang masih bolak-balik demam. Turun hanya jika minum paracetamol, namun setelahnya suhunya naik lagi, sampai kemudian di pukul 6 sore hari Rabu itu. si abang kembali harus kami berikan paracetamol karena suhu tubuhnya mulai naik lagi. Tak lama setelah minum paracetamol, si abang berkeringat sangat banyak dan sesudahnya dia bilang kalau badannya mulai terasa enteng. Jam demi jam kemudian berlalu sejak dia minum paracetamol di jam 6 itu, dan setiap kali suhunya kami ukur, selalu berada di bawah 37.5 derajat Celcius. Sampai waktunya untuk tidur, suhu tubuhnya terus aman bahkan semakin normal karena sudah berada di sekitaran angka 36 derajat Celcius. Malam itu, si abang pun bisa tidur dengan nyenyak.

Esok paginya, begitu bangun saya langsung ngecek suhu tubuh si abang. Haleluya, puji Tuhan, suhu tubuhnya tetap normal. Kami pun mulai bernapas legaaaa banget, karena itu berarti kami tidak perlu lagi bawa si abang ke rumah sakit atau laboratorium untuk cek darah. Puji Tuhan…puji Tuhan banget.

Seharian di hari Kamis itu, si abang pun sudah merasa jauh lebih baik. Dia sudah bisa makan dengan lahap, tidak ada lagi mual-muntah, tidak lemas, tidak sakit kepala, dan tidak ada hal-hal yang membuatnya tidak nyaman….

Kecuali….ruam-ruam yang mulai muncul di beberapa bagian tubuhnya.

Sebenarnya ruam muncul sehabis anak demam itu biasa kan ya?

Tapi yang ngeselinnya, saya yang masih bawaan parno segala macam, malah teteeepp saja khawatir yang gak-gak. Yang mikir kalau itu bisa jadi ruam DBD-lah, campak lah, macam-macam pokoknya pikiran saya, padahal suami sendiri yakin kalau abang hanya ruam biasa saja.

Demi meyakinkan saya, di hari Jumat suami pun sampai mencoba berkonsultasi dengan dokter anak via HaloDoc yang mana dokternya pun memberikan jawaban yang sama bahwa itu hanya ruam akibat infeksi virus biasa, paling juga di hari Minggu nanti ruam-ruam itu akan hilang dengan sendirinya. Sebenarnya ruam-ruam itu tidak perlu diobati, tapi kalau mau, gatalnya bisa dikurangi dengan salep supaya si abang bisa merasa lebih nyaman. Selain ngasih resep salep, dokter di HaloDoc itu juga mewanti-wanti supaya si abang tetap jaga jarak dari adiknya supaya jangan sampai adiknya ikut tertular infeksi yang sama.

Duh, resiko si adek bisa tertular juga sih yang memang kami kuatirkan. Apalagi kalau sudah ingat soal si abang yang sakit ini saja gak tau dapatnya dari mana. Padahal kami hanya di rumah saja dan kami semua dalam kondisi sehat, itupun masiiihh saja si abang bisa kena infeksi virus, apalagi kalau sekarang dalam rumah memang sudah ada yang sakit? Hikksss…. Jujur, saat itu saya kuatir banget, tapi yah mau bagaimana lagi, kami cuma bisa berusaha menjaga supaya abang dan adek tidak terlalu dekat-dekatan dulu walaupun ini sempat bikin mereka berdua sedih banget, karena maklum lah ya, mereka berdua kan dekat banget. Tiba-tiba harus gak boleh tidur sekamar, gak boleh main bareng-bareng, dan bahkan gak boleh saling dekat-dekatan tentu bikin mereka berdua sangat sedih.

Hari Jumat berlalu, demikian juga Sabtu, hingga hari Minggu pun tiba. Puji Tuhan, sesuai prediksi dokter, ruam-ruam yang sempat muncul di kaki serta tangan si abang akhirnya menghilang seluruhnya. Puji Tuhan, puji Tuhan banget, semakin lega rasanya hati ini… Terima kasih Tuhan Yesus, si abang bisa total sembuh tanpa kami harus membawanya bertemu langsung dengan dokter.

Dan perasaan hati kami semakin lega lagi karena setelah hari demi hari berlalu, kekuatiran kami soal si adek yang ikut-ikutan sakit itu tidak terjadi.

Sekali lagi, puji Tuhan Yesus untuk semuanya.

Pengalaman si abang sakit itu benar-benar jadi pelajaran untuk saya. Berusaha menjaga kesehatan memang baik, tapi jangan pula karena saking kuatir dan takutnya dengan kondisi yang sedang berlangsung hingga tanpa sadar mengandalkan usaha ituΒ  seolah lupa bahwa di atas semuanya, Tuhan tetap yang punya kendali. Sampai hari ini kami tidak pernah tahu bagaimana jalannya hingga si abang bisa jatuh sakit, namun yang pasti pengalaman itu mengingatkan saya untuk melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya tanpa ketakutan namun sebaliknya dengan tetap selalu mengandalkan perlindungan dari Tuhan Yesus semata. Selain itu, pengalaman itu juga mengingatkan saya untuk lebih dengar-dengaran lagi pada suami…hehehehehe….

Demikianlah pemirsa, cerita tentang si abang sakit di akhir bulan April kemarin. Menuliskan ini di sini sebagai dokumentasi sekaligus sebagai pengingat terutama untuk saya pribadi. Puji Tuhan Yesus untuk semua penyertaan dan perlindungan-Nya.

Sehat-sehat selalu kita semua yaaa… Kiranya perlindungan Tuhan senantiasa menyertai kita. Amin.

Selesai ibadah di hari Minggu pagi, sebelum si abang sakit di malam harinya.
Puji Tuhan, sudah sehat dan sudah bisa bermain lagi bersama adek
Sudah sehat, berarti sudah bisa juga bantu-bantu lagi kerjaan rumah…hehehehe
Berdoa sama papa saat bangun tidur πŸ€—
Selesai ibadah di hari Minggu selanjutnya, puji Tuhan abang sudah sehat dan kami semua juga tetap dalam keadaan sehat.

12 respons untuk β€˜Cerita Abang Sakit di Bulan April Yang Lalu’

  1. Alhamdulillah ya Mbak Alisa, si Abang ternyata hanya demam biasa. Aku baca dari atas ikutan deg-degan lo. Puji Tuhan segalanya sekarang sudah berlalu. Tetap sehat sekeluarga ya mbak. Amin

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s