Setelah Dua Tahun

Sejak dari setahun yang lalu, salah satu pertanyaan yang sering berkecamuk dalam diri saya adalah soal apa yang akan saya lakukan setelah masa cuti tanpa tanggungan selama dua tahun yang saya jalani ini selesai. Akankah saya bekerja kembali ataukah saya akan lebih memilih untuk lebih baik berhenti bekerja saja?

Sejujurnya, bila menuruti keinginan hati, rasanya pengennya di rumah saja karena dari yang saya alami selama cuti ini, bila saya tidak bekerja maka urusan mengurus anak-anak itu jadi lebih optimal dan lebih ‘ringan’ karena terbebas dari dilema membagi waktu dan diri antara urusan keluarga dan pekerjaan. Sudah gitu, selama saya cuti kami sekeluarga jadi punya jauuuhh lebih banyak waktu untuk bersama karena setiap kali anak-anak libur maka kami bisa ngikut ke tempat tugas suami. Mau libur anak-anak berbulan-bulan pun ya gak masalah karena saya sendiri tidak dibatasi oleh ijin ataupun cuti dari kantor. Hal ini bener-bener benefit yang besar banget bagi kami. Soal penghasilan bagaimana? Ah, soal itu sih puji Tuhan, dari suami sudah cukup-cukup saja. Saya kerja atau gak kerja, tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap urusan ekonomi kami. Jadi bisa dibilang,Β  sebenarnya lebih banyak dampak positifnya sih bila saya berhenti bekerja.

Tapiii…di satu sisi, bila sudah mengingat soal pekerjaan, bukannya mudah juga bagi saya untuk begitu saja memutuskan melepaskannya. Apalagi setelah di rumah sudah ada yang bantu-bantu. Duh, ditimbang-timbang rasanya bisa deh saya tetap bekerja. Toh urusan rumah sudah ada yang bantuin. Paling saya nanti hanya sibuk antar jemput anak-anak sekolah dan les saja. Harapannya ya, semoga begitu kembali bekerja saya bisa dapat atasan yang pengertian yang bisa ngasih saya ijin untuk keluar-keluar bentar demi antar jemput anak. Bakal ada dilema lagi sih soal bagi waktu dan bagi diri… Tapi yah, daripada melepaskan seutuhnya pekerjaan ini kan ya, rasanya gak apa-apa deh berjuang dikit untuk itu.

Jadi bagaimana?

Mau berhenti bekerja atau lanjut bekerja lagi?

Duh, dengan segala macam pertimbangan dan tetap saja saya belum bisa ambil keputusan πŸ˜…. Setiap kali ditanya oleh orang tentang langkah yang akan saya ambil, saya cuma bisa bilang, “Nanti Tuhan aja yang tunjukkin saya harus bagaimana…”

πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Tapi jawaban saya itu sebenarnya bukan omong kosong juga lho saya ucapkan, karena dalam hati saya yang belum bisa ambil keputusan itu, memang seperti ada perasaanΒ  yang bilang kalau pada akhirnya nanti Tuhan yang akan tunjukkan langkah apa yang harus saya ambil.

Hingga kemudian tahun 2020 tiba dan pandemi ini pun terjadi.

Segala situasi yang ada di depan mata kemudian membuat kami betul-betul menyadari betapa pentingnya untuk kami tetap bersama.

Sejak akhir Maret, suami menjalani WFH di Palembang. Memasuki akhir Mei, isu new normal mulai terdengar dan suami pun sudah mendapatkan jadwal WFO mulai awal Juni meski tidak setiap hari. Mau tidak mau, suami harus kembali ke tempat tugasnya di Jakarta. Kami pun bergumul, memohon tuntunan dan penyertaan Tuhan agar keputusan yang kami ambil adalah memang yang sesuai dengan rencana Tuhan.

Kali ini, tidak ada lagi dilema, tidak ada lagi kebimbangan.

Di akhir Mei itu juga, saya menghubungi kantor melaporkan masa cuti saya yang sudah akan selesai per Agustus 2020 ini sekaligus mengajukan permohonan perpanjangan masa cuti hingga satu tahun ke depan. Bila disetujui ya bersyukur. Bila tidak ya berarti memang saya sudah harus berhenti bekerja.

Malam hari, tanggal 7 Juni, sebagaimana biasanya kami sekeluarga berdoa bersama dan menyanyikan lagu Tuhan Pimpin Anak-Mu. Namun doa bersama malam itu terasa lebih istimewa, mengingat keesokan paginya kami akan mengikuti suami ke Jakarta, meninggalkan Palembang, meninggalkan rumah, dan juga pekerjaan saya.

Bagi kami, inilah jawaban Tuhan Yesus atas apa yang kami doakan selama ini. Bertahun-tahun kami berharap agar kami bisa bersama. Sejak suami dipindahtugaskan ke Jakarta, kami sudah terpikir untuk pindah ikut suami, namun berbagai hal masih memberatkan keputusan itu. Ya soal rumah lah, soal sekolah anak-anak lah, soal les anak-anak lah, dan terutama soal pekerjaan saya. Setelah pandemi ini terjadi, barulah terasa bahwa sesungguhnya yang berat-berat itu tak ada artinya bila dibandingkan dengan kebersamaan. Masa-masa sulit ini belum tahu kapan akan berakhir, kami hanya rindu kami tetap bisa bersama-sama melewati ini semua. Kami rindu, sebagai keluarga kami bisa bersama-sama mengalami pengalaman rohani akan kasih karunia Tuhan di tengah-tengah kondisi yang tak menentu seperti sekarang.

Maka demikianlah, genap dua tahun dari sejak tulisan saya yang ini, dan status saya masih belum berubah menjadi ibu pekerja kantoran lagi. Jawaban dari kantor mengenai permohonan saya sampai hari ini belum saya terima, namun tidak ada rasa dag dig dug menantinya, karena apapun jawabannya akan kami syukuri 😘.

Begitulah pemirsa kisah tentang cuti saya ini. Intinya sampai sekarang pun masih menggantung, tapi dilemanya sudah tidak ada lagi…hehehehe… Kapan-kapan kalau ada waktu lagi, saya pengen cerita tentang pengalaman kami beberapa bulan terakhir ini. Dari yang soal si abang sakit bulan April kemarin, soal perjalanan kami dari Palembang ke Jakarta via darat di tengah kondisi yang tak begitu menentu, serta soal perjuangan kami mencari rumah di sini. Semoga aja semua bisa terceritakan yaaaa…. Selamat hari Senin semua, kiranya selalu sehat dan penuh kasih karunia Tuhan. Amin!

13 respons untuk β€˜Setelah Dua Tahun’

  1. Yang penting ridho suami ya Lis? akupun dah kangen masa-masa WFH kemarin, 3 bulan full WFH dan tidak sekalipun bosan di rumah karena bisa sama anak-anak sepanjang waktu. Semoga segera ada keputusan, aamiin

  2. Akhirnya kak ke jakarta… Semoga apa pun jawaban dari kantor itu yg terbaij utk kk dan keluarga ya… Tuhan memberkati πŸ˜‡

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s