Our 12th Wedding Anniversary and About #roadToMarch8

Tanggal 8 Maret sudah lewat, itu artinya ulang tahun pernikahan kami juga sudah lewat. Walaupun belum benar-benar lewat sih, karena aslinya sebulanan ini, di hampir tiap minggu ada saja hari peringatan terkait pernikahan kami. Maklumlah, pernikahan beda budaya jadi prosesinya panjang πŸ˜…. Sehabis pemberkatan dan resepsi di Manado, seminggu kemudian ada adat Paboruhon alias pengangkatan saya sebagai boru Siregar, dan barulah seminggu setelah itu prosesi adat Batak pernikahan kami dilangsungkan.

Puji Tuhan…..

Capek….

Hahahahaha….

Tapi tetep bahagia kok! Ya iyalah semuakan demi kami berdua resmi jadi man and wife baik di hadapan Tuhan, hukum negara, serta adat 😘.

Dalam rangka ulang tahun pernikahan kami yang ke-12 ini, saya gak mau nulis panjang-panjang lagi, secara seri #roadToMarch8 saja sudah panjang banget kan ya dan saya juga sudah panjang banget nulis our anniversary wishes di FB serta IG. Pak suami juga gak ketinggalan, nulis lumayan panjang di FB dia soal kami di ulang tahun pernikahan kami ini yang mana isi tulisannya adalah kurang lebih sama dengan topik yang saya ceritain di #roadToMarch8 πŸ˜…. Itu semua pun masih belum ditambah lagi dengan doa-doa yang kami panjatkan secara langsung sama Tuhan. Sudah begitu banyak rasa syukur yang kami panjatkan baik yang bisa terangkai dalam kata-kata maupun yang gak bisa lagi terungkapkan. Yang pasti pokoknya puji Tuhan buat semuanya dan kami sungguh berharap bisa menjadi keluarga yang memuliakan Tuhan senantiasa. Amin.

Ulang tahun pernikahan kami di tanggal 8 Maret kemarin jatuh tepat di hari Minggu, puji Tuhan, jadinya kan istimewa banget ya karena bisa dirayakan dengan beribadah di gereja 😍.

Pagi-pagi sebelum ke gereja, foto-foto dulu, Selamat ulang tahun ke 12 buat keluarga kecil kami ini! Puji Tuhan 😍

Trus sudah gitu ya, pas banget pula kemarin yang khotbah tuh adalah pendeta Marlon Butar-Butar yang mana kalo khotbah mau tema apapun itu mesti sedikit banyak akan menyinggung tentang hubungan suami – istri. Dan benar saja ya, hari Minggu kemarin itu, meski temanya adalah tentang hidup yang bebas dari kekhawatiran, tapi tetep saja kami dibagikan ayat yang meneguhkan hidup rumah tangga yaitu di Amsal 14:27a yang berkata bahwa takut akan Tuhan adalah sumber kehidupan, jadi kalau mau rumah tangga itu hidup, yang artinya penuh cinta serta damai sejahtera, maka kuncinya adalah hidup takut akan Tuhan. Puji Tuhan, bersyukur sekali rasanya kembali mendapatkan wejangan pernikahan di hari ulang tahun pernikahan kami.

Pulang dari gereja, kami sempat makan bakso di kantin Gereja sebelum kemudian pulang. Di rumah kami leyeh-leyeh, ngemil, makan, nonton, bahkan saya dan suami sempat ketiduran selama dua jam lebih di sofa sementara anak-anak di samping kami asik nonton Sonic di Netflix πŸ˜…. Seneng banget rasanya bisa santai pake banget di hari istimewa begini πŸ˜„.

Sore menjelang malam, despite the syahdu weather, suami ajak saya buat siap-siap untuk dinner. Berdua saja dong…hehehehe…. Puji Tuhan anak-anak sangat mengerti, mereka gak ada minta untuk ikut karena sudah paham bahwa papa dan mama terkadang perlu hanya berdua saja apalagi di hari istimewa semacam hari ulang tahun pernikahan papa dan mama.

Selagi saya siap-siap, tiba-tiba dapat notifikasi dari FB tentang status pak suami yang dia tag ke saya. Bacanya sampai bikin terharu…hehehe…. Puji Tuhan, bahagia banget hati ini membacanya. Banyak yang bilang suami saya orangnya romatis, padahal sebenarnya sih gak, itulah sebabnya dia bukannya yang bisa mengekspresikan perasaan lewat kalimat-kalimat puitis. Namuunn…. se-gak romantisnya dia, tapi tetep dong sebagai manusia dewasa dia bisa mengekspresikan apa yang dia rasa dalam bentuk kata-kata, karena itu dia bisa bikin status yang menyatakan rasa cintanya untuk saya dan dia juga gak pernah ragu (apalagi sampai yang jarang-jarang πŸ˜…)Β  menyatakan perasaan sayangnya secara langsung ke saya baik lewat kata-kata maupun gestur tubuh serta tindakan.

Bisa menyatakan perasaan itu memang menurut saya bukan tergantung dari apakah seseorang tipe yang romantis atau bukan, karena sudah seyogyanya manusia itu diberikan kemampuan mengekspresikan apa yang dia rasa. Karena itu, dalam setiap konseling pernikahan, pastiiii dikasih tau betapa pentingnya ekspresi rasa sayang itu ditunjukkan termasuk lewat kata-kata. Gak bisa tuh berlindung di balik alasan, “Aku orangnya gak romantis!”, lah dulu waktu nembak gimana?? Bisa kaaann bilang I love you?

Saya pribadi terus terang sangat mengharapkan pasangan yang bisa ekspresif dengan apa yang dia rasakan ke saya, puji Tuhan punya suami yang mengerti, yang meskipun gak romantis tapi secara alami dia bisa menyampaikan dan menunjukkan perasaannya secara terbuka ke saya 😘.

Balik lagi ke soal dinner kemarin, sehabis siap-siap, kami berfoto sebentar di depan rumah, kemudian melaju ke tempat tujuan dinner yaitu di Brava Parlour Arista Hotel.

Seperti yang pernah saya bilang di sini, salah satu daya tarik Sams saat itu adalah tinggi badannya yang buat saya tuh pas banget dengan saya, seperti pas kami pergi dinner kemarin, saya pake heels setinggi 9cm tapi tetep saja puncak kepala saya cuma sampai di di hidung dia…hehehe…. Waktu nikah saya pake heels setinggi 15cm dan tetep dong ya, dia masih lebih tinggi dari saya πŸ˜„

Nyampe di Arista, ngasih kunci ke petugas valet (karena lagi hujan yes, makanya pake valet service πŸ˜…) kami pun langsung menuju ke Brava Parlour yang puji Tuhan seperti biasa, tidak ramai dengan pengunjung. Resto ini sebenarnya adalah yang terbaik di Palembang menurut kami, wine-nya juga adalah yang terenak dibanding resto lain yang menawarkan wine di kota ini. Tapi, dengan kualitas masakan, pelayanan, suasana (interior dan musiknya selalu romantis di sini), bahkan wine-nya yang bisa dibilang terbaik di kota ini, tetap saja restoran ini bukannya yang ramai dikunjungi sehari-hari. Makanya, kalau pengen candle light dinner sama pasangan dengan suasana yang benar-benar nyaman, maka tempat ini adalah yang paling saya rekomendasikan.

Kami pesan shrimp buat appetizer, steak and wine buat main course, serta ice cream buat dessert dan semuanya terasa sangat nikmat! Apalagi kami menikmatinya dengan santai dan asik ngobrol tentang kami, pernikahan kami, keluarga kecil kami, serta tentang mimpi dan kerinduan kami. O ya, kami juga sempat merefleksi pernikahan kami setelah sudah berjalan selama 12 tahun ini, terutama tentang masih ada lagi kah kekurangan kami sebagai pasangan yang masih perlu diperbaiki. Puji Tuhan, ternyata setelah sudah 12 tahun bersama, meskipun sering terpisah jarak, tapi kekurangan pasangan yang kami rasakan tuh justru semakin menipis bahkan hampir gak ada dan itu bukan cuma karena pasangan sanggup merubah diri menjadi lebih baik sesuai dengan apa yang diharapkan, tapi juga karena adanya saling pengertian dan penyesuaian diri masing-masing.

Saya kasih salah satu contoh. Dulu, waktu awal-awal nikah, suami saya ngerasa kalau kebiasaan saya yang suka merajuk ketika berantem itu adalah sebuah kekurangan yang dampaknya adalah memperlama proses penyelesaian masalah di antara kami, sementara suami pengennya kalau ada masalah ya harus segera diselesaikan. Tapi gimana mau bahas masalahnya baik-baik kalau saya sudah terlanjur merajuk duluan dan sampai pakai acara mengurung diri di kamar? Makanya dulu itu suami kesel banget kalau saya sudah merajuk padahal inti masalah yang dibahas saja belum nyampe setengah πŸ˜…. Sudahlah kami sama-sama kesel dengan masalah yang ada, dia pun tambah kesel melihat saya merajuk, sementara saya sendiri jadi tambah kesel karena mendapati dia juga bertambah kesel. Cucok deh. Gak ketemu hatinya πŸ˜….

Tapiiiii…… Seiring waktu, suami mulai menyadari bahwa meskipun saya gampang merajuk namun saya juga gampang luluh hatinya sama dia, sehingga kalau kejadian saya merajuk, maka dia gak perlu bertambah kesal karena yang perlu dia lakukan tinggal datang ke saya, bujuk-bujuk dikit, maka saya pun akan langsung luluh dan kami akan kembali bisa membahas permasalahan kami dengan kepala yang dingin karena hati sudah adem duluan.

Karena sudah mengerti itu, maka suami pun sudah sangat lama gak lagi menganggap kebiasaan merajuk itu sebagai kekurangan melainkan sebagai sesuatu yang yah….sudah demikianlah karakter istrinya yang saking gak tahu mau ngomong apa hingga mengekspresikan kekesalan dengan cara merajuk. Toh untuk menanganinya juga gak sulit karena dia tahu bahwa istrinya juga bukan yang keras hati.

Saling mengerti karakter masing-masing itu memang sangat penting ya pemirsa dalam pernikahan, karena dengan saling mengerti itulah maka kita bisa menerima kekurangan pasangan bahkan sampai pada titik tidak lagi menganggap hal tersebut sebagai sebuah kekurangan.

Kalau ditulis begini sepertinya ideal banget dan sangat mudah ya. Padahal sih prosesnya jauh dari yang bisa disebut mudah apalagi ideal. Suami saya orangnya keras dan dia juga bukan datang dari lingkungan keluarga di mana dia bisa melihat contoh seorang suami yang bisa datang pada istrinya dan melakukan segala cara demi meluluhkan hati istrinya. Karena itu, sesayang-sayangnya dia sama saya, namun tetap saja proses pelepasan ego itu bukan yang mudah bisa dijalani oleh suami saya. Tapi puji Tuhan, meski tidak mudah, namun kasih Tuhan membuat semuanya menjadi mungkin.

Baru satu contoh saja bahasannya sudah panjang yaaa…hahahaha…. (padahal tadi katanya gak pengen nulis panjang-panjang 😜). Yah, begitulah pemirsa. Membangun pernikahan yang bahagia penuh damai sejahtera itu memang butuh usaha yang kadang yaaaa memang panjang πŸ˜….

Balik lagi ke soal dinner, kami berdua menghabiskan waktu lebih dari dua jam di situ. Makannya sih gak lama, ngobrol sambil menyesap wine-nya yang bikin betah berlama-lama πŸ˜„.

Puas ngobrol, kami pun memilih untuk pulang. Besok anak-anak mau sekolah, suami juga akan bekerja kembali, jadi lebih baik kami tidak pulang terlalu larut. O ya, sekali lagi terasa betul ya, kalau dating itu memang paling asik setelah sudah menikah, karena kalaupun sudah punya anak, tapi seenggaknya keinginan untuk lekas pulang itu karena kesadaran sendiri bukan karena takut tar ditungguin papa di depan pagar πŸ˜….

Dulu sih waktu kami pacaran, kami sudah sama-sama jadi perantau ya, jadi orangtua gak nungguin lagi.

Tapiiiii….bukan berarti bisa bebas pulang malam sih.

Karena, tak ada orangtua yang menunggu, maka induk semang kos pun jadi penjaga!

πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

H-2, midnight date with hubby 😍
H-1, midday date with hubby πŸ˜„

Intermezo saja sih…hehehe…

Puji Tuhan, malam itu kami tiba di rumah dengan selamat, ketemu anak-anak yang sudah mulai bersiap-siap untuk tidur. Kami berdua pun bersih-bersih, lalu bersama anak-anak, kami berdoa bersama.

Puji Tuhan, ulang tahun ke-12 pernikahan kami berlangsung dengan penuh kebahagiaan. Sekali lagi hanya bisa bilang betapa Tuhan itu baik, penyertaannya sungguh nyata terasa selama 12 tahun kami berumah tangga. Kami percaya, kedepannya pun Tuhan yang akan terus menjaga agar kami semakin hidup berhikmat dan takut akan Tuhan, sehingga tidak hidup dalam kekhawatiran meski kondisi dunia terus terancam oleh segala macam virus penyakit, resesi karena harga minyak dunia yang tiba-tiba anjlok, bahkan kehancuran rumah tangga akibat serangan pelakor πŸ˜…. Apapun ancamannya, selalu yakin dan percaya, bahwa Tuhan menjaga dan penjagaannya itu sempurna. Amin.

Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut. ~ Amsal 14 : 27 ~

*****

Nah, sekarang tiba saatnya saya mau membahas soal #roadToMarch8.

Terus terang, saya bahagia banget karena bisa menuliskan dan membagikan kisah kami di blog ini. Semua bisa saya tulis dengan detail, karena aslinya memang tertulis dengan detail juga di buku harian saya. Dan kalau ada yang bertanya mengapa saya juga bisa menulis sudut pandang pak suami dengan detail, itu karena kami berdua memang sering flashback ke masa-masa awal pertemuan kami dan setiap kali sudah flashback, suami selalu bisa cerita dengan detail apa yang dia rasakan saat itu 😘.

Saya juga berterima kasih yang sangat besar buat semua pemirsa yang sudah baca terlebih lagi buat yang sudah mau meninggalkan komentar di setiap cerita yang saya bagikan. Sungguh lho, membaca semua komentar yang masuk membuat kebahagiaan saya bertambah dan untuk itu saya benar-benar berterima kasih.

Sesuai janji, saya juga akan memilih komentar yang paling berkesan. Bukan mudah memilihnya karena sesungguhnya semua yang masuk adalah berkesan. Namun ada satu nih yang komentarnya paling menohok, yaitu komentar dari Nadia di post yang ini.Β  Menohok, karena instead of talking about us, dia justru membahas soal mantan! Hahahahaha…. Dan memang kok, saya mengakui dengan segala kebesaran hati bahwa dulu itu memang saya salah, karena saya masih muda, masih bimbang, dan karena saya adalah perempuan.

Iya, kenyataan bahwa saya adalah perempuan sehingga kemudian mengalami kebimbangan ketika harus mengambil keputusan, adalah salah satu hal yang tidak bisa terbantahkan. Karena itu lihatlah, berapa banyak perempuan yang mengkomitkan diri pada orang yang sebenarnya salah buat mereka. Entahkah karena sebenarnya si perempuan bukannya yang benar-benar cinta dengan orang tersebut, ataukah karena memang orang itu bukanlah orang yang tepat untuk si perempuan meskipun si perempuan mencintai orang itu dengan segenap hati. Karena itu lihatlah, berapa banyak perempuan yang justru mengagumi pria lain yang bukan suaminya sendiri. Karena itu lihatlah, berapa banyak perempuan yang meski sudah mengalami KDRT namun tetap memilih untuk bertahan.

Orang yang melihat dari luar akan merasa aneh kenapa bisa seperti itu.

Tapi saya mengerti, karena saya pun pernah ada di kondisi yang meski jauh berbeda namun perasaannya kurang lebih sama.

Sekian lama sudah saya bimbang dengan perasaan saya, namun saya tidak berani meninggalkan. Bila ditanya kenapa, ya saya juga tidak bisa menjawabnya. Saya baru bisa meninggalkan setelah saya benar-benar yakin bahwa yang saya rasakan bukan cinta. Dan saya baru bisa yakin seperti itu setelah saya merasakan bagaimana cinta itu yang sebenarnya.

Begitu banyak perempuan yang terjebak dalam kebimbangannya sendiri. Ada yang bisa keluar, ada juga yang tetap terperangkap di dalamnya.

Namun apapun alasannya, saya tetaplah salah.

Meski begitu, saya bersyukur, karena walau salah, tapi semuanya belum terlambat. Bersyukur sekali Tuhan menolong menunjukkan jalan yang jelas tentang siapa sebenarnya orang yang Tuhan siapkan untuk saya yang mana itu artinya saya juga bukan orang yang terbaik untuk si mantan. Sekarang si mantan juga sudah berkeluarga, saya yakin dengan orang yang lebih baik untuknya daripada saya karena saya hanya bisa menjadi istri yang berbahagia dengan orang yang kini menjadi suami saya.

Yah, demikianlah hidup ini, memang penuh dinamika di dalamnya. Kadang kita berlaku yang benar, tapi seringkali juga kita berlaku salah. Kesalahan saya yang dulu juga jadi pelajaran untuk saya dan sekaligus membuat kami semakin bersyukur untuk belas kasihan yang Tuhan berikan bagi kami berdua.

Ok deh pemirsa, sampai di sini dulu cerita tentang ulang tahun pernikahan kami. Buat Nadia, nanti kirim alamatnya yaaaa supaya souvenirnya bisa saya kirimkan. Meski sederhana, namun pasti berguna kok dan karenanya semoga dapat diterima dengan senang hati…hehehehe…. O ya, dan tolong ya Nad, itu blognya di-update dooonggg, jangan dibiarin nganggur kelamaan…hehehehe…..

Selamat sore dan selamat hari Selasa, pemirsa! Tuhan memberkati kita semua yaaa 😘.

7 respons untuk β€˜Our 12th Wedding Anniversary and About #roadToMarch8’

  1. Yeaayy… Alhamdulillah. Padahal habis posting komennya jadi ketar-ketir jg, kira-kira mbak Allisa marah gak ya? hihihi…. Oiya blog itu memang kelamaan gak diupdate, padahal 2 tahun terakhir banyak banget cerita yg bisa ditulis. Ok deh, ntar dicicil ceritanya, insyaAllah segera update. Makasih banyak ya mbak..

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s