Tiba Saatnya Mendengarkan Suara Hati #roadToMarch8 (Tamat)

Tiba akhirnya di episode yang paling membutuhkan usaha bagi saya untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan seperti ini. Peristiwa yang terjadi dalam salah satu episode kehidupan kami ini melibatkan orang-orang lain, baik yang masih berhubungan bahkan masih dekat sampai sekarang, maupun yang sudah hilang kontak sama sekali. Saya harus menulisnya dengan hati-hati supaya tidak menyinggung pihak manapun karena memang sejak awal menuliskan kisah kami ini di sini, sama sekali tidak ada maksud untuk membawa kerugian terhadap pihak lain. Kondisi yang sebenarnya terjadi juga berusaha saya tuliskan seringan mungkin meski kenyataannya jauh berbeda dari itu, semoga meski tidak bisa terlalu detail namun bisa memberikan gambaran mengenai situasi dan kondisi pada saat itu.

Kisah kami termasuk unik dan saya tahu ada pelajaran yang bisa diambil dari apa yang kami alami, karena itu kisah yang tadinya hanya secara detail saya tuangkan dalam buku harian saya itu pun kemudian saya tuliskan di sini. Semoga sasarannya bisa tercapai ya, yang membaca bisa merasakan kebahagiaan serta sedikit banyak mendapatkan pelajaran kehidupan sementara buat kami tentu sudah cukup berbahagia dengan diabadikannnya kisah kami lewat tulisan di blog ini.

Semua cerita tentang kami ini dari episode ke episode bisa diakses via link ini yaaa…. 

*****

Si Gadis

Kamu bukan milik dia. Kamu juga bukan milik aku. Kamu utuh, sepenuhnya milik Tuhan, karena itu Tuhan yang menentukan siapa yang terbaik buat menjaga kamu di dunia ini. Jika Tuhan menentukan orang itu adalah aku, maka itu artinya adalah ya dan amin untuk semua doa-doaku tentang kamu. Dengarkan saja apa yang menjadi suara hatimu. Aku sayang kamu banget dan jangan ragukan aku, aku memang cinta kamu, sangat.

Entah untuk ke berapa kalinya dia membaca deretan kalimat yang terpampang di layar telepon selularnya itu. Waktu sudah menunjukkan lebih dari pukul dua belas malam, dia belum bisa tertidur dan yang dilakukannya hanyalah bolak-balik membaca deretan kalimat yang tak peduli berapa kalipun dia membacanya, tetap saja membuat hatinya merasa tersanjung dibalut rasa haru.

Sams….

Sudah hampir empat minggu berlalu dari sejak untuk pertama kalinya mereka hanya berdua saja yaitu saat keluar makan siang bersama, dan sejak itu lambat laun dia semakin kehilangan kekuatan untuk menolak rasa ketertarikan yang begitu besar dalam hatinya, hingga membuat hubungan mereka berdua pun semakin dekat.

Makan siang bersama itu adalah awal di mana dia mulai merasa betapa istimewanya ketertarikan yang dia rasakan pada Sams. Kehadiran Sams selalu membuat jantungnya berdebar kencang, namun di saat yang sama, semua kontak dan interaksi yang terjadi di antara mereka terasa sangat natural dan lebih luar biasanya lagi, dia merasa seperti mereka berdua sudah seharusnya seperti itu. Saat itu adalah pertama kalinya mereka jalan bersama, namun dia merasa begitu aman dan terlindungi bersama Sams. Saking besarnya rasa aman yang dia rasa, sampai-sampai dia tanpa sadar menyelipkan jemarinya ke telapak tangan Sams yang juga langsung menyambutnya dengan menggenggam erat tangannya. Meskipun di detik selanjutnya mereka berdua terkejut karena sama-sama tersadar dengan kontak fisik yang tanpa disadari terjadi itu, namun tidak ada satupun yang melepaskan genggaman tangan itu. Dia tidak tahu apa yang dirasakan Sams saat itu, namun yang dirasakannya adalah berjalan sambil berpegangan tangan dengan Sams, meski membuatnya gugup dan malu, namun terasa seperti pulang ke rumah. Nyaman. Tenang. Aman.

Begitu juga ketika mereka berdua pergi ke Warung Internet. Dia sudah cukup senang karena Sams menepati janjinya. Akhir pekan itu juga, sehabis kejadian hubungan singkat kabel komputer itu, Sams mengajaknya ke Warung Internet. Karena mereka berdua sama-sama baru di Palembang dan sama-sama belum tahu jalan, maka mereka memilih untuk pergi dengan naik becak. Di dalam becak yang sempit, mereka duduk bersebelahan membuat perasaan hatinya bertambah gugup, ingin menjaga jarak tapi sekaligus juga ingin berdekatan, namun meski begitu tetap saja tidak ada kecanggungan sama sekali di antara mereka. Dia sangat menikmati waktu kebersamaan mereka saat itu. Ketika berada di Warung Internet, dia mendapati kalau jendela Yahoo Messenger di hadapan layar mereka masing-masing ternyata lebih sering menganggur karena daripada saling berkirim pesan dengan teman-teman mereka, mereka justru lebih banyak menghabiskan waktu dengan berbincang dan bercanda berdua. Di jalan pulang, Sams merentangkan salah satu tangan di belakang punggungnya dengan alasan untuk memperluas area mereka duduk dalam becak. Seharusnya dia merasa terganggu dengan posisi mereka duduk itu, namun kenyataannya dia justru merasa sangat nyaman dan aman terlindungi.

Setelah hari itu berlalu, dia mendapati bahwa ketika mereka sedang tidak bersama, angannya sering terbawa pada kenangan akan tawa Sams yang dalam serta sorot mata Sams yang selalu membuatnya merasa bagaikan mahkluk paling berharga di dunia.

Sejak hari itu juga mereka berdua semakin sering bersama. Sams pun semakin sering menunjukkan perhatiannya. Pernah suatu kali sakit kepalanya kambuh, begitu Sams tahu kondisinya, tidak sampai sepuluh menit Sams telah berada di depan pintu rumah kos-kosannya untuk membawakan obat-obatan dan setelah itu masih beberapa kali bolak balik lagi untuk membawakannya makan siang dan makan malam. Dia tahu perhatian Sams tulus karena peduli kepadanya.

Namun saat itu, dia masih bertanya-tanya, sejauh apa Sams peduli dengannya? Dan apa maksud semua perhatian yang dia terima itu?

Karena masih bertanya-tanya itu, maka meski sangat sulit, dia berusaha sekuat tenaga menahan perasaannya agar nanti tidak kecewa bila ternyata maksud hati Sams tidak seperti yang diharapkannya. Di samping itu, dia pun masih merasa perlu memastikan perasaannya sendiri, apakah benar memang hatinya telah jatuh untuk Sams, ataukah ini semua hanya keterpesonaan yang bersifat sementara saja hanya karena dia merasa akhirnya telah menemukan sosok yang selama ini dia harapkan di dalam diri Sams.

Sams menjalani hidup dengan memiliki visi dan memiliki kepribadian yang sangat bertanggung jawab hingga membuatnya kagum karena bukan mudah di masa sekarang menemukan laki-laki yang memang sepenuhnya mengerti akan tugas serta tanggung jawabnya sebagai seorang laki-laki. Namun di saat yang sama, dengan semua visi serta kemampuannya bertanggung jawab dalam segala kondisi itu, Sams juga adalah orang yang tahu sekali bagaimana menikmati hidup hingga dengan mudah mereka berdua bisa menertawakan banyak hal.

Sams orang yang bahkan hanya dengan berbicara saja sanggup membuat dia merasa bahwa semua akan baik-baik saja. Sams orang yang lebih senang berbuat daripada berkata-kata namun sekaligus juga dapat menjadi teman bicara yang sungguh menyenangkan hingga mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan bercerita.

Sams adalah satu-satunya orang yang sanggup membuat jantungnya berdebar kencang dan membangkitkan gejolak luar biasa dalam dirinya, namun di saat yang sama selalu membuatnya merasa aman.  Sams adalah orang yang dia tahu bisa menjaganya dengan sangat baik, karena meski masih muda namun Sams sudah bisa menunjukkan kualitas pria sejati di dalam dirinya.

Itu belum lagi ditambah fakta bahwa Sams memiliki otak yang cerdas dan yang paling dia suka adalah karena dia bisa melihat kalau Sams memiliki kualitas sebagai seorang pemimpin. Dia memang suka sekali dengan laki-laki yang secara natural memiliki jiwa kepemimpinan, baginya laki-laki seperti itu selalu punya daya tarik tersendiri.

Dan bicara soal fisik….aahhh….Dia sangat suka dengan figur wajah Sams yang tegas dengan alis yang tebal hitam tak kalah tegasnya ditambah dengan pandangan mata yang selalu berbinar ketika melihat ke arahnya. Postur tubuh Sams juga sempurna untuknya. Perbedaan tinggi mereka berdua pas, berada di samping Sams membuatnya tidak ragu memakai sepatu bertumit tinggi karena setinggi-tingginya sepatu yang dia pakai tetap akan membuatnya lebih pendek daripada Sams, namun di saat yang sama juga tinggi badan Sams bukanlah yang amat tinggi sehingga membuat dia tampak seperti kurcaci di sampingnya. Perbedaan tinggi badan mereka sangat pas dan buatnya itu adalah nilai tambah yang sangat patut diperhitungkan. Ditambah lagi, Sams memiliki postur tubuh yang kekar dengan bahu lebar yang tanpa terlihat berlebihan ataupun dipaksakan seperti laki-laki lain yang terlalu rajin keluar masuk gym dan minum minuman protein. Postur tubuh sudah sangat pas untuk membuat dia merasa terlindungi. Intinya, bahkan bila hanya fisik saja yang menjadi ukuran, maka dia akan merasa sangat beruntung jika Sams memang benar memiliki hati untuknya yang hanyalah perempuan dengan wajah dan penampilan yang biasa-biasa saja seperti ini.

Dan semua hal-hal dalam diri Sams yang membuatnya terpesona itu, disimpulkan dengan satu realita bahwa mereka berdua tidak saja memiliki iman serta keyakinan yang sama, namun juga berasal dari denominasi yang sama.

Seandainya mereka berdua memang diciptakan untuk bersama, maka dia tahu dengan segala hal dalam diri Sams yang membuatnya kagum, maka dia akan merasa sangat beruntung.

Sosok Sams adalah yang dia inginkan selama ini dan sebelum mereka bertemu, dia belum pernah menemukan orang dengan sosok seperti itu. Dia tahu, Sams pasti memiliki kekurangan namun semua selalu terasa sempurna ketika mereka bersama.

Terlalu sempurna, hingga tadinya membuatnya takut. Apakah ini semua nyata? Ataukah hanya sekedar keterpesonaan semata saja?

Sampai suatu ketika, di sebuah sesi rehat dan mereka sedang duduk-duduk di ruang rapat, dia berbicara dengan salah satu staf di bagian SDM yang kebetulan duduk di sampingnya. Sams saat itu yang dia tahu tidak sedang berada di dekatnya, meskipun berada dalam ruangan yang sama juga. Ketika itu, hatinya masih penuh dengan dilema dan tanda tanya yang kemudian mendorongnya untuk bertanya pada staf SDM tersebut mengenai kemungkinannya meminta ditempatkan di Papua setelah masa OJT ini selesai. Pertanyaan itu tidak diajukannya dengan maksud agar yang lain ikut mendengar, dia bertanya hanya dengan suara pelan saja pada staf SDM yang bersebelahan dengannya itu.

Mendengar pertanyaannya, staf SDM tersebut kemudian menjawab, “Ya aku rasa sih bisa aja Al, karena kalo kamu pengen ditempatkan di sana kemungkinan akan lebih mudah disetujui mengingat jujur aja gak begitu banyak yang pengen ke sana dengan alasan jauh untuk mudik. Kalo kamu memang yakin dan pengen, aku bisa kasih saran untuk pengajuannya…..”

Dia tahu, staf SDM tersebut sedang membantunya, namun kelanjutan dari kalimat tersebut tidak bisa lagi dia dengar karena tiba-tiba saja, dari sudut matanya dia melihat Sams berdiri kemudian berjalan meninggalkan ruangan lalu menutup pintu dari luar secara perlahan.

Saat itulah pandangan mereka bertemu dan dia terkejut melihat kesedihan di mata Sams. Lebih terkejut lagi karena dia mendapati hatinya ikut merasa sakit melihat itu. Dia tidak bisa lagi mendengar apa yang dikatakan oleh staf SDM di sampingnya, seluruh perhatiannya tertuju pada Sams dan rasa sakit yang seolah dia rasakan dalam hatinya.

Sebelum benar-benar menutup pintu, Sams tersenyum padanya lalu seketika sorot matanya berubah, dari sedih menjadi seolah menantang dia, “Yakin Krones, itu yang kamu mau?”

Dia tidak tahu apakah memang benar seperti itulah yang dipikirkan dan dirasakan oleh Sams, namun satu hal yang pasti, sakit yang bisa dia rasakan hanya dengan melihat kesedihan di mata Sams membuatnya tersadar bahwa apa yang dia rasakan untuk Sams bukanlah sekedar keterpesonaan semata, namun memang benar adalah cinta.

Dia telah jatuh cinta, sangat dalam….

Kesadaran itu justru membuatnya bertambah takut.

Takut jika ternyata perasaannya tidak berbalas, takut bila ternyata mereka berdua tidak diciptakan untuk bersama, dan takut menghadapi reaksi pacarnya setelah nanti dia memutuskan hubungan mereka. Iya, kesadaran itu juga memang membuatnya yakin bahwa dia tidak bisa lagi melanjutkan hubungan dengan pacarnya. Terlepas dari apakah benar dia dan Sams berjodoh, namun dia cukup tahu diri untuk mengerti bahwa tidak mungkin dia berpacaran dengan orang lain sementara hatinya dimiliki oleh orang yang lain lagi.

Syukurlah Sams juga tidak berlama-lama membuat dia bingung. Setelah kejadian itu, maksud hatinya semakin dia tunjukkan dan mereka berdua pun semakin intens berbicara tentang kondisi keluarga masing-masing. Sams terutama bercerita, tanpa menutup-nutupi apapun ataupun menggampangkan situasi yang sebenarnya, tentang bagaimana posisinya sebagai anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga Batak dan apa yang diharapkan dari pendampingnya kelak. Dia tahu, dengan cara begitu Sams sedang memberi tahu apa risiko untuk dia jika hubungan mereka ini dilanjutkan karena tidak akan mudah untuk dia yang bukan boru Batak untuk menjadi pendamping seorang pria Batak dan apalagi merupakan anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga.

Sams memberinya pilihan, bahkan sebelum hubungan mereka resmi.

Dan itu sangat dia hargai serta menjadi bukti bahwa sosok yang telah merebut hatinya itu adalah memang benar orang yang bertanggung jawab serta memikirkan jauh ke depan. Secara pribadi dia memang berasa berhak untuk mengerti bagaimana situasi, kondisi, serta risikonya sebelum dia memutuskan untuk terlibat dalam sebuah hubungan yang akan menjadi sangat serius.

Dari apa yang diceritakan oleh Sams, dia tahu, bahwa memang tidak akan mudah baginya untuk diterima dalam keluarga Sams. Namun di saat yang sama, dia juga tahu bahwa dia tidak perlu khawatir karena jika memang mereka berdua adalah jodoh, maka Tuhan yang akan menolong situasi mereka. Lagipula dia juga yakin, melihat bagaimana kepribadian Sams, maka dia tidak akan pernah berjuang sendiri, bahkan bila perlu Sams yang akan berjuang untuk dia.

Karena itu, dia tidak ragu lagi untuk menjawab iya ketika Sams di suatu hari di minggu terakhir sebelum mereka akan berpisah tempat tugas, mengecup lembut jemarinya lalu mengungkapkan semua isi hati kepadanya. Dia merasa yakin, dengan pertolongan Tuhan dan Sams yang selalu bersedia ada di sampingnya, maka dia akan sanggup menghadapi kesulitan apapun yang akan ada di depan mereka. Saat itu dia juga sangat bahagia mengetahui ternyata Sams sudah jatuh hati kepadanya dari sejak pertama melihatnya dan bahkan jauh sebelum itu pun Sams sudah pernah mendapatkan visi tentang dia dalam mimpinya. Pengakuan itu membuatnya sempat merasa terkejut karena tadinya dia berpikir bahwa Sams baru merasakan sesuatu untuknya setelah mereka berbincang di hari terakhir diklat di Jakarta itu. Mendengar semua pengakuan Sams itu membuatnya merasa betapa indah dan luar biasanya hubungan mereka ini, tak heran bila dia sampai bisa tahu seperti apa berada dalam pelukan Sams bahkan sebelum dia mengenal Sams.

Sepanjang hari itu dia pun tak bisa berhenti tersenyum. Dia bahagia, sangat bahagia karena benar-benar telah bertemu dengan orang yang memang sudah Tuhan ciptakan untuknya.

Yang menjadi kesalahannya adalah dia terlalu fokus terhadap hubungannya dengan Sams serta kebahagiaan yang dia rasakan, sampai-sampai dia lupa untuk sesegera mungkin memutuskan hubungan dengan pacarnya yang di Papua.

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Dan yah, dia memang sangat menyesali kesalahannya itu.

Di hari mereka saling terbuka dan jujur akan perasaan mereka masing-masing serta memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih, di salah satu mall mereka bertemu dengan salah satu rekan mereka yang meski tidak ditempatkan di Palembang namun adalah orang asli Palembang dan pada hari itu sedang pulang ke Palembang.

Dari satu orang tersebut, kabar kemudian terbang dengan sangat cepat hingga ke Papua.

Esok harinya, tepatnya tadi sore, orang yang statusnya kemudian telah berubah dari pacar menjadi mantan pacarnya itu, menelepon dia dan mengungkapkan segala kemarahan, kekecewaan, dan sakit hati atas apa yang dia lakukan di Palembang.

Semua kemarahan itu dia terima dan dia menyesal.

Bukan menyesal karena telah mengambil keputusan untuk bersama Sams. Tidak. Untuk yang satu itu dia tidak pernah menyesalinya. Dia hanya menyesal karena mantan pacarnya yang di Papua harus mengetahui semua itu lewat cerita dari orang lain. Mantan pacarnya tentu masih menginginkan dia kembali, namun hatinya sudah bulat. Dia menyesal dengan cara hubungan mereka berakhir, tapi bagaimanapun mereka memang harus berakhir.

Yang tidak disangkanya adalah bahwa tak lama berselang setelah konfrontasi lewat telepon itu, orangtuanya dari Manado menelepon dia karena ternyata mereka juga baru mendapat telepon dari Papua. Mereka marah besar kepadanya karena meski sebelumnya mereka menolak dia lekas-lekas bertunangan dengan yang di Papua, namun tetap saja mereka kecewa dengan caranya mempermainkan perasaan orang seperti yang saat ini sedang dilakukannya. Mereka juga marah dengannya karena menurut mereka dia terlalu cepat mengambil keputusan untuk bersama orang lain yang menurut mereka belum dia kenal dengan baik yang mana berdasarkan informasi yang mereka terima, telah terbukti sebagai seorang playboy.

Tuduhan terhadap Sams serta hubungan mereka itu, membuat hatinya merasa hancur sampai dia tidak bisa lagi berkata-kata dan hanya bisa menangis dan terus menangis.

Dia memang belum bercerita pada orangtuanya tentang Sams. Bukan karena ingin menyembunyikan, tapi karena memang belum saatnya. Baru kemarin mereka meresmikan hubungan mereka, besok Sams sudah harus berangkat ke tempat tugasnya di Lahat, dan dia sendiri pun belum menyelesaikan urusan terkait hubungannya yang lama. Tentu saja dia ingin sesegera mungkin memberitahukan hubungannya dengan Sams pada orangtuanya, tapi dia tahu dengan segala permasalahan yang sedang dihadapi orangtuanya saat ini maka lebih baik dia menunggu beberapa saat dulu sampai semua sudah terkondisikan dengan baik.

Sayang, semua pada akhirnya menjadi kacau seperti ini.

Andai orangtuanya tidak dengan mudah menerima semua cerita yang mereka dengar dari mantan pacarnya, maka dia akan bisa menjelaskan bahwa bukan hubungan antara dia dan Sams bukan sekedar cinta lokasi. Tidak, hubungan mereka tidak sedangkal hanya karena sering bersama. Dia juga bisa bercerita tentang bagaimana Sams memperlakukannya dengan sangat baik, selalu menjaga, selalu melindungi, dan selalu menganggapnya sebagai mahkluk yang paling berharga di dunia ini sehingga mereka bisa mengerti bahwa Sams bukanlah playboy seperti yang dituduhkan malah sebaliknya, anak gadis mereka tidak akan bisa berada di tangan yang lebih baik lagi. Sams memang sudah jatuh hati kepadanya dari sejak pertama kali melihat, tapi bukan berarti mengincarnya dari awal dengan maksud yang tidak-tidak, seperti pemangsa terhadap korbannya, seperti yang difitnahkan itu.

Sayang, orangtuanya tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan sementara dia sendiri pun terlalu kaget serta hancur untuk dapat berkata-kata sehingga dia hanya bisa menangis sambil terduduk di lantai. Berbagai perasaan berkecamuk di dadanya namun yang terutama dia merasa kecewa karena orangtuanya lebih memilih mendengarkan mantan pacarnya serta merasa marah mendengar semua tuduhan tentang Sams dan hubungan mereka. Dia sadar bahwa mungkin ini adalah sesuatu yang harus dia hadapi, seperti sebuah hukuman atas apa yang dia lakukan. Namun tetap saja, hatinya hancur mendengar tuduhan-tuduhan itu.

Syukurlah Sams yang merasa ada sesuatu yang tidak beres, kemudian datang kembali ke tempat kosnya. Mendapati dia dalam kondisi yang berlinang air mata, Sams pun memeluknya dengan erat membuat ia seketika merasa lebih tenang. Setelah itu Sams mengajaknya berdoa dan perasaannya pun semakin bertambah tenang.

Persoalan memang masih belum selesai, sampai hampir larut malam ini, dia tahu orangtuanya di Manado masih memikirkan semua yang terburuk tentang hubungannya dengan Sams. Dia juga tahu bahwa urusannya dengan mantan pacarnya masih belum selesai. Dia juga sadar, bahwa hampir semua rekan-rekannya yang seangkatan masuk di BUMN ini sudah mendengar tentang apa yang terjadi di sini karena ternyata gosip cepat sekali menyebar dari Sabang sampai Merauke dan mereka-mereka yang tidak tahu pasti berpikir betapa jahatnya dia dan Sams.

Tapi tidak mengapa, seperti yang dari tadi terus diyakinkan oleh Sams, semua akan baik-baik saja. Tidak usah memikirkan tentang yang lain-lain, sekarang ini lebih baik berfokus pada orangtuanya saja, Sams pun sudah siap untuk berbicara dengan mereka besok sebelum berangkat ke Lahat. Di atas semuanya, Sams yakin bahwa perjalanan waktu akan menjadi bukti bagi orangtuanya tentang ketulusan hati mereka berdua.

Dan tentang mantan pacarnya, meski dia tahu masih butuh waktu yang bisa jadi cukup panjang untuk menerima bahwa mereka memang tidak bisa bersama, namun dia berdoa agar akan ada saatnya nanti di mana mantan pacarnya itu akan bersyukur untuk putusnya hubungan mereka ini bahkan menganggap bahwa apa yang terjadi sekarang sesungguhnya adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi, yaitu ketika Tuhan mempertemukan mantan pacarnya itu dengan jodoh yang memang sudah Tuhan siapkan.

Sekali lagi dia membaca pesan teks yang dikirimkan Sams beberapa waktu yang lalu itu. Iya, benar, dia bukan milik siapa-siapa, dia juga pada dasarnya belum terikat dengan siapapun. Dia milik Tuhan maka hak Tuhan untuk menentukan dia akan bersama dengan siapa dan kali ini dia yakin bahwa untuk itu dia harus mendengarkan suara hatinya.

Dia pun meletakkan telepon selularnya di atas meja dan berpikir bahwa sudah saatnya untuk dia tidur. Malam sudah sangat larut, esok hari ada hal baru yang akan dia hadapi yaitu keberangkatan Sams ke Lahat, dan untuk itu dia butuh kekuatan karena besok akan menjadi awal mereka menjalani hubungan jarak jauh. Dia juga butuh kekuatan untuk menghadapi mantan pacarnya dan terlebih lagi kekuatan untuk meyakinkan orangtuanya.

Dia sudah hampir masuk ke dalam alam mimpi ketika telepon selularnya berbunyi lagi. Dengan segera dia bangun lagi lalu mengambil telepon itu di atas meja dan menemukan kalau yang menelepon dia adalah mamanya. Meski dia masih khawatir dengan apa yang akan didengarnya, namun dia tidak ragu untuk menjawab telepon itu.

“Halo mam,” dia menyapa dan dia yakin pada saat itu juga mamanya bisa menangkap bekas tangisan dalam suaranya.

Halo dek, begimana ngana? Bae-bae jo?” pertanyaan lembut mamanya itu tidak sanggup lagi dia balas kata-kata, dia hanya bisa menganggukkan kepala meski dia tahu mamanya tidak bisa melihatnya, “Sori tadi mama deng papa marah-marah ne, sebenarnya dari mama di Palembang jo mama so lia ngana deng dia. Dapa lia bae-bae skali katu depe orang, mama mangarti kalo ngana lebe pilih dia. Cuma tadi kwa mama deng papa panik karna dengar orang pe anak ba telpon pa mama sambil manangis pe kuat, saki hati skali kasiang dia dek, biar begimana musti bae-bae no ngana se kelar deng dia. Kong selalu hati-hati di sana ne, dek….Tidor jo ngana, so malam ini….

*****

Si Bujang

Sudah hampir dua minggu mamanya mendiamkannya. Tidak pernah satu kalipun menelepon untuk menanyakan bagaimana kondisinya di Lahat ini, padahal sebelum-sebelumnya, mamanya selalu menelepon dia setiap hari. Bukan karena protektif karena dia adalah anak laki-laki satu-satunya, tapi karena dia tahu bahwa berbicara dengannya lewat telepon adalah salah satu waktu rileks terbaik bagi mamanya.

Tentu saja, masa diam itu terjadi setelah dia menceritakan tentang hubungan dengan pacarnya yang sekarang.

Pacar….

Ah, selalu ada rasa puas yang dia rasakan dalam hati setiap kali dia mengingat bahwa si Krones itu, si gadis impiannya itu, sekarang bisa disebutnya sebagai pacar.

Jika mengingat kembali perjalanan mereka sampai bisa sejauh ini, memang rasanya sangat luar biasa. Dia sendiri sampai sekarang pun masih sering tidak percaya bahwa Tuhan memang benar-benar menjawab doa dan kerinduannya tentang gadis itu. Mengingat gadis itu membuatnya tersenyum, sepanjang hidupnya baru sekarang dia merasa seberuntung ini.

Dan dia lebih merasa beruntung lagi karena meski harus menghadapi berbagai pertanyaan, cibiran, bahkan fitnah sebagai risiko dari apa yang mereka jalani ini, namun tak sekalipun gadis itu mundur, bahkan semua dihadapi gadis itu dengan santai. Gadis itu benar-benar tak mau memikirkan apa kata orang lain karena bagi gadis itu yang terpenting adalah bagaimana mereka berdua dan bagaimana penerimaan dari keluarga mereka masing-masing.

Dari pihak keluarga Krones sudah bisa dibilang aman. Kedua orangtua gadis itu sudah tahu dan meski awalnya sempat marah-marah, namun pada akhirnya, di malam yang sama setelah mereka memarahi dengan keras putri mereka, kemarahan mereka bisa langsung reda bahkan langsung menerima hubungan putri mereka dengan dirinya.

Dari pihak keluarga Samosir, dia menghela napas, inilah yang masih menjadi perjuangan. Sesuai prediksinya sejak awal, memang tidak akan mudah bagi keluarganya untuk menerima gadis itu. Bukan karena apa-apa, tapi hanya karena gadis itu bukanlah boru Batak.

Jangankan orangtuanya, kakak-kakaknya saja sempat menentang. Apalagi kakaknya yang berada di Padang yang tahu tentang mereka berdasarkan gosip dari orang lain, yang mana gosip itu mendarat di Padang tidak sampai tiga hari setelah mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Mengingat itu membuatnya menggelengkan kepala, betapa cepatnya gosip menyebar dari Sabang sampai Merauke di perusahaan ini.

Di mata orang yang tidak tahu, termasuk kakaknya saat itu, memang tentu akan mengira bahwa mereka menjadi dekat hanya karena satu penempatan saja. Namun orang-orang seperti teman-teman dekatnya yang sejurusan saat pendidikan, tahu persis bahwa bukan cinta lokasi yang menyatukan mereka, melainkan karena memang dia sudah menaruh hati pada gadis itu jauh sebelum gadis itu mengenalnya. Itupun, teman-temannya yang tahu tentang perasaannya, pasti mengira bahwa gadis itu menaruh hati padanya karena kebetulan bisa dekat saja, padahal mereka tidak tahu bahwa gadis itu pun sebenarnya sudah punya rasa ketertarikan padanya yang tidak disadari oleh gadis itu sendiri bahkan sebelum gadis itu mengenalnya.

Hanya satu kata yang bisa mendeskripsikan apa yang terjadi di antara mereka berdua.

Jodoh.

Iya, mereka memang berjodoh, diciptakan untuk satu sama lainnya, karena itu kisah kasih mereka bisa menjadi seperti ini jalan ceritanya.

Mereka berdua tahu persis tentang ikatan jodoh di antara mereka.

Namun orang lain tidak tahu, dan yang dilakukan orang lain adalah menentang, mencibir, bahkan memfitnah.

Kakak-kakaknya juga tidak tahu, karena itu wajar jika mereka sempat menentang. Wajar jika mereka khawatir bahwa dia terlalu cepat membangun hubungan yang serius dengan orang yang sebenarnya salah. Ditambah lagi saat itu salah satu kakaknya sedang berusaha mendekatkan dia dengan seorang teman kakaknya. Bukan berarti dia tidak pernah mencoba, sebelum mengikuti masa diklat ini, dia sudah mencoba mengenal teman kakaknya itu. Tapi tidak ada getaran, tidak ada rasa, tidak ada apa-apa, karena itu tidak mungkin dia memaksakan diri.

Sampai hari ini pun kakak-kakaknya belum bisa sepenuhnya menerima hubungan mereka, meskipun pada akhirnya tidak bisa lagi jelas-jelas menentang. Tapi tidak apa-apa, pikirnya dalam hati, pada akhirnya mereka akan menyadari sendiri bahwa gadis itu adalah yang paling tepat untuknya. Tantangan yang sebenarnya baginya adalah orangtuanya.

Sebagai pria Batak yang merupakan anak laki-laki satu-satunya di antara enam bersaudara, adalah wajar jika bapak – mamaknya mengharapkan bahkan mengharuskan dia kelak mendapatkan pendamping yang juga adalah boru Batak. Sampai dia masuk ke perusahaan ini pun, itulah harapan mereka bahwa kelak dia akan memperkenalkan seorang boru Batak untuk menjadi parumaen satu-satunya dalam keluarga mereka. Karena itu, adalah sangat mengejutkan bagi bapak – mamaknya ketika bahkan masa OJT-nya ini baru saja dimulai, dia sudah mengakui telah memiliki hubungan yang serius dengan gadis yang berasal dari suku lain.

Dia memang tidak membuang waktu, beberapa hari setelah mereka resmi jadian dia sudah langsung menyampaikan pada orangtuanya tentang hubungan mereka. Lebih cepat lebih baik, sebelum orangtuanya mengetahui tentang mereka dari orang lain. Tanggapan orangtuanya, sesuai prediksinya adalah kaget disusul kecewa disusul marah dan berakhir pada mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.

“Yakin kau mang memang sudah serius sama boru Manado ini?”

Tentu saja jawabannya adalah dia serius, amat sangat serius, karena sudah serius itulah maka hubungan ini tidak ditutupinya dari orangtuanya karena dia berharap mereka memberikan restu.

“Kenapalah musti cepat-cepat kau serius sama dia ini, apa gak kau coba dulu kenalan banyak-banyak sama boru Batak? Siapa tau ada yang memang cocok dan lebih sesuai buat mu!”

Jawabannya adalah mau sebanyak apapun boru Batak yang dia kenal dan dikenalkan padanya, namun tak akan ada satupun yang bisa lebih sesuai dengannya daripada gadis itu. Kenapa? Karena semua yang dia rasakan ini memang hanya untuk gadis itu saja. Tidak akan terulang dengan siapapun, mau sampai kapanpun itu.

“Yakin kau, bukan karena cuma kau lihat dia cantik, maka sebegini sukanya kau sama dia, mang?”

Ya, gadis itu memang cantik. Amat sangat cantik malah untuknya. Sejak melihat gadis itu dalam visinya bertahun-tahun yang lalu, maka standar kecantikan perempuan sudah secara tak sadar ditetapkannya harus seperti gadis yang dilihat dalam visinya itu karenanya, sejak pertama kali melihat gadis itu yang adalah jelmaan nyata dari visinya itu, dia sudah langsung jatuh hati.

Sebagai laki-laki, dia merasa berhak memilih pendamping yang fisiknya memenuhi standar tipe yang dia kagumi dan yang bisa mempesonanya. Sebagai laki-laki normal dia ingin terbangun di pagi hari dan mendapati istri berwajah cantik dalam pelukannya. Dan secara fisik, gadis itu memiliki apa yang dia harapkan itu.

Tapi bukan berarti dia terbutakan hanya karena fisik gadis itu saja. Bahkan dengan ketertarikan yang sangat besar yang dia rasakan, dia tetap berusaha mengenal gadis itu baik-baik sebelum mengambil langkah atas hubungan mereka. Dia mencari tahu apa yang menjadi keyakinan gadis itu, mimpi-mimpinya, pola pikirnya, prinsip-prinsipnya. Bahkan latar belakang keluarga gadis itu pun menjadi bahan pertimbangannya karena dia tahu kepribadian seseorang banyak sekali terbentuk dari pola didik dalam keluarga.

Semua hal yang kemudian dia ketahui tentang gadis itu pada akhirnya membuat dia sangat yakin bahwa tidak salah hatinya menaruh ketertarikan pada gadis itu karena baik persamaan maupun perbedaan di antara mereka, membuat mereka sebagai pasangan yang sepadan.

Satu-satunya kelemahan gadis itu adalah karena bukan boru Batak.

Tapi apalah arti kekurangan itu dibanding semua rasa serta kualitas kesesuaian di antara mereka?

Dia yakin, bila hanya tentang adat maka gadis pilihannya ini akan dengan cepat bisa belajar. Dan dia pun tidak pernah ragu akan kerelaan gadis itu untuk melebur bersama keluarga. Sekarang saja sudah terbukti, meski beberapa saudara perempuannya bersikap dingin bahkan ada yang terang-terangan menolak sampai dia sendiri rasanya ingin marah, namun gadis itu tetap memegang komitmen untuk berusaha diterima oleh keluarganya sehingga tetap berusaha menjaga komunikasi dengan saudara-saudara perempuannya

Keteguhan hati gadis itu juga adalah salah satu kualitas yang sangat dia kagumi dan hargai.

Karena itu dia amat sangat yakin, bahwa dia memutuskan untuk serius dengan gadis itu bukan hanya karena fisiknya saja, namun karena memang gadis itu adalah yang terbaik untuknya.

“Dari mana lah sebenarnya kau tau, mang, kalo memang sudah boru Manado itulah yang jadi jodohmu? Yakin kau nanti-nanti gak akan bisa kau ketemu lagi dengan perempuan yang bisa bikin kau suka lagi kayak gini?”

Mendengar pertanyaan itu dia tersenyum. Tentu saja dia tahu bahwa gadis itulah satu-satunya untuknya. Seorang laki-laki pasti tahu, pasti bisa merasakan keyakinan yang seperti itu. Namun tak banyak lagi yang bisa dia ungkapkan selain bahwa, “Aku hanya mau dia pak, gak akan ada lagi yang lain.”

Pembicaraan dengan orangtuanya pun berhenti sampai di situ dan sampai sekarang dia tidak mendengar kabar lagi dari mereka.

Sejujurnya, dia akan sangat hancur jika orangtuanya terus tidak memberikan restu. Gadis itu sudah menegaskan bahwa hal terakhir yang diinginkannya adalah membuat perpecahan dalam keluarga orang yang dicintainya. Jika hubungan mereka tidak direstui dan bahkan menyebabkan perpecahan, maka gadis itu akan memilih mundur. Bila itu terjadi, maka lebih baik dia mengundurkan diri dari perusahaan ini dan pergi jauh, jauh sekali, sampai tidak mungkin lagi dia bertemu kembali dengan gadis itu. Akan sangat menyakitkan rasanya bila harus terus melihat gadis itu tanpa bisa memilikinya. Apalagi bila gadis itu kemudian dimiliki oleh orang lain. Membayangkan itu saja membuatnya bergidik.

Tidak, tidak, hal itu tidak akan terjadi.

Dia sangat yakin bahwa mereka berdua memang diciptakan Tuhan untuk bersama dan saling memiliki, karena itu meskipun saat ini tampaknya masih sulit, namun Tuhan yang akan membuka mata hati orangtuanya untuk bisa menerima hubungannya dengan gadis itu. Dia berharap orangtuanya akan bisa mengerti dengan apa yang dirasakannya. Dari sejak kecil dia hampir tidak pernah meminta apa-apa pada orangtuanya, dia selalu berusaha menjadi anak baik dan penurut, dia bahkan rela melepaskan impian demi mengikuti perkataan orangtua. Namun untuk kali ini, dia sungguh hanya bisa mengikuti kata hatinya saja yang mengatakan bahwa gadis inilah yang diberikan Tuhan untuknya. Dia berharap agar orangtuanya pun kali ini, bisa mempercayai kata hati dari anak laki-laki mereka satu-satunya ini. Semoga Tuhan menolongnya….

“Sayang…sayang!” lamunan panjangnya terpotong oleh suara gadis di sampingnya. Hari ini memang adalah akhir pekan, dan seperti biasa, setiap akhir pekan dia pasti akan pulang ke Palembang untuk bisa bersama kekasih hatinya. Mereka sedang berada di sebuah mall, sedang makan, dan untuk sejenak dibiarkannya pikirannya melayang memikirkan restu dari orangtua.

Melihat dia sudah fokus kembali, gadis itu pun menunjukkan telepon selular di tangannya di mana sebuah pesan teks terpampang di situ, “Namboru sms aku!” gadis itu berkata dengan mata berbinar, “Namboru nanya, gimana sebenarnya perasaan aku ke kamu, beneran sayang ato gimana?”

Mendengar itu dia terkejut. Bukan hanya terkejut karena mamanya tiba-tiba mau menghubungi kekasih hatinya ini yang mana buat dia itu saja sudah merupakan mukjizat dari Tuhan. Namun dia juga terkejut karena gadis Manado ini yang dianggap tidak pantas mendampinginya karena bukan boru Batak, langsung memanggil mamanya dengan sebutan Namboru tanpa ada kecanggungan sedikit pun, seolah-olah panggilan dalam adat Batak itu sudah setiap hari diucapkannya padahal dia tahu persis bahwa istilah Namboru itu baru diketahui gadis ini setelah mereka berdua dekat. Dia pun hanya bisa menatap penuh kekaguman bercampur rasa sayang yang besar pada gadis di sampingnya ini, lalu berkata dalam hati, “Lihatlah mak bagaimana gadis pilihanku ini. Aku yakin mak, kalo nanti dia jadi parumaen mamak, bukan hanya aku yang bahagia, mak, tapi mamak dan bapak juga akan bersyukur punya parumaen seperti dia….

“Trus aku harus jawab gimana?” gadis di sampingnya bertanya. Wajah gadis itu dari yang tadinya berbinar, tiba-tiba seolah sedang berpikir keras, lalu tak lama mimik wajahnya berganti dari serius menjadi seolah menahan geli, “Namboru nanya gimana perasaan aku ke kamu yang sebenarnya. Kalo mo dijawab sesuai kenyataannya, jawabannya ya aku cinta, bener-bener cinta, cinta sampe mati. Tapi kalo aku jawab gitu…..”, gadis itu mulai tertawa geli dan dia pun tidak tahan untuk tidak ikut tertawa, “Aku takut Namboru malah pingsan….hihihihi…..”

Ya ya ya, dia pun tidak bisa membayangkan jika memang begitulah jawaban gadis itu ke mamanya dan dia pun tahu itu hanya bercanda saja.

Inilah salah satu yang disenangi dari kekasihnya ini, bukannya gadis ini tidak tahu akan persoalan mengenai restu dari orangtuanya, namun semua dihadapi dengan santai meski di balik semua itu, dia bisa melihat keseriusan serta keteguhan hati gadis ini. Benar saja, tak lama setelah tawa mereka reda, gadis di sampingnya ini terlihat dengan penuh keseriusan membalas pesan teks dari mamanya itu. Setelah selesai, gadis itu pun menunjukkan hasil yang dia ketik, seolah meminta persetujuannya sebelum menekan tombol kirim.

Horas Namboru, bagaimana kabarnya? Puji Tuhan kami di sini baik, sekarang kami sedang sama-sama di Palembang. Mauliate godang ya Namboru karena sudah mau menghubungi aku, senang sekali aku rasanya membaca SMS dari Namboru. Mengenai pertanyaan Namboru, perasaanku ke anak Namboru memang tulus sayang dan aku benar-benar serius dengan anak Namboru, karena itu aku berdoa semoga Amangboru, Namboru, dan semua eda-eda mau menerimaku meskipun aku bukan boru Batak.

Membaca deretan kalimat itu, dia pun tersenyum lalu mengangguk. Gadis itu pun ikut tersenyum lalu dengan segera menekan tombol kirim.

Dia percaya, tinggal masalah waktu maka orangtuanya akan bisa menerima hubungan mereka ini. Dia bahkan berani yakin bahwa nanti malampun mamanya sudah akan mau berbicara kembali dengannya. Restu itu pasti akan mereka dapatkan.

Dan ini barulah awalnya. Setelah persoalan restu, maka mereka pun harus bisa mencari jalan tengah untuk prosesi pernikahan mereka. Dia sudah bisa merasa, bahwa persoalan tentang pernikahan mereka tidak akan mudah. Namun biarlah itu menjadi tantangan dalam episode yang berbeda yang akan bisa dipikirkan kemudian. Untuk sekarang ini dia hanya ingin berbahagia karena pada akhirnya dia bisa menjalani hubungan mereka dengan perasaan hati yang lebih ringan.

Betapa berbahagianya memang jika orangtua merestui apa yang dikatakan oleh suara hatinya.

*****

Si Gadis dan Si Bujang, mereka anak-anak yang menyadari bahwa orangtua adalah wakil Tuhan di dunia ini karena itu mereka berusaha menjadi anak-anak yang taat. Namun seiring mereka dewasa dan semakin mampu mengambil tanggung jawab untuk diri mereka sendiri, Tuhan pun mulai menumbuhkan keyakinan untuk mendengarkan kehendak Tuhan yang Tuhan taruh sendiri dalam hati mereka. Karena itu, apapun risikonya, mereka kemudian memutuskan untuk mengikuti suara dalam hati mereka sambil tetap terus menyadari bahwa orangtua adalah wakil Tuhan karena itu, sekeras apapun keinginan mereka, namun akan sia-sia mereka mengikuti keinginan itu jika doa dan restu dari orangtua tidak menyertai.

Pada akhirnya memang restu itu mereka dapatkan, meski masih banyak lagi tantangan yang harus mereka hadapi yang kemudian satu per satu terlewati hingga di sinilah mereka sekarang, menginjak tahun ke-12 pernikahan mereka bersama kedua buah hati mereka.

Si Gadis dan Si Bujang, pada akhirnya memang perjalanan waktu membuktikan kebenaran bahwa semua tanda yang mereka alami adalah memang karena mereka berjodoh.

Kini tidak ada lagi cibiran apalagi fitnah. Semua orang melihat mereka dan berkata kalau mereka adalah pasangan yang berbahagia dan diberkati. Dua belas tahun mengarungi biduk rumah tangga, tentu banyak yang telah terjadi dan dialami. Namun satu hal yang pasti, rasa cinta yang mereka rasakan tidak pernah berkurang, justru semakin bertambah.

Banyak yang bertanya apa rahasia kemesraan mereka dan mereka pun hanya bisa tersenyum. Karena tidak pernah ada rahasia. Mereka hanya sangat saling mencintai satu sama lainnya sehingga mereka tidak punya pilihan selain menunjukkan rasa cinta mereka itu. Mereka sering berjauhan, namun komunikasi mereka bahkan lebih intens daripada yang tinggal serumah, mereka selalu saling mengabari sehingga yang satu selalu tahu yang lainnya sedang ada di mana, bukan karena mereka ingin saling mengekang tapi karena memang itulah yang alami terjadi ketika dua hati benar-benar menyatu. Secara fisik mereka boleh saling berjauhan, namun hati mereka saling melekat erat.

Si Gadis dan Si Bujang……

Sampe sini aja ceritanya yaaaa…hahahaha… udah gak tau mau cerita apa lagi karena inti-intinya udah keluar semua. Yang pasti kalo soal gimana pernikahan mereka, sudah pernah saya tulis di sini.

Dengan demikian, seri #roadToMarch8 saya tamatkan sampe di sini. Pengennya sih pas tanggal 8 Maretnya masih bisa nulis supaya pas gitu dengan hashtag-nya. Tapiiii….mengingat tanggal 8 itu bakal rayain anniversarynya sama pak suami, saya jadi ragu bakal punya waktu buat login ke blog ini…hehehe…. Jangan lupa, saya masih menanti komentar dari para pembaca yang  budiman yaaa. Komentar paling menarik bakal mendapat souvenir dari saya sebagai kenang-kenangan karena sudah turut berbahagia bersama kami. Pengumumannya akan saya tampilkan di blog ini pada tanggal 10 Maret nanti namun komentar yang akan saya nilai hanya yang masuk sampai pada tanggal 08 Maret 2020 pukul 23:59 WIB.

Selamat hari Rabu yaaa untuk semua pembaca. Semoga tetap bersemangat, ingat, dua hari lagi udah weekend lho! 😄

20 respons untuk ‘Tiba Saatnya Mendengarkan Suara Hati #roadToMarch8 (Tamat)

  1. Waaah, aku sedih lo kak Lis ceritanya tamat, seru soalnya. Oh ya kak Lis, bisa detail banget gitu menceritakan kejadian yang udah belasan tahun lalu resepnya apa tuh kak? Kalau dr sisi kak Lisa kan emang disebut ditulis buku harian kan, kalau dr perspektif si abang bisa detail gitu gimana? Hihihi netijen kepo…. Selamat menyambut Wedding Anniversary yaaaa. God bless you.

  2. Halo da salam kenal. Cerita kita kondisinya hampir sama tapi tidak se”ekstrim”eda dan si ito ya pergumulannya,meski bahasanya sudah diperhalus. Sedikit banyak mengerti apa yg dirasakan pihak “inner circle”suami karena saya juga orang batak. Kami juga sudah menjalani 12 tahun berumahtangga. Intinya, saat memutuskan pilihan pasangan hidup, bagi mereka yg dekat denganNya pasti diberikan “kepekaan” hati olehNya. Ketika sudah bersatupun, bukan sesuatu hal final. Membangun rumah tanggapun, penuh perjuangan, seperti cerita2 eda di blog ini. Semoga eda, saya dan lainnya bisa selayaknya menjadi seorang isteri sesuai Amsal 31: 10-31. Happy Anniversary!😇

    1. Salam kenal juga eda. Sama dong kita ya, sudah 12 tahun berumahtangga.

      Iya betul, membangun rumah tangga itu perjuangannya seumur hidup berumah tangga memang 😅. Kiranya Tuhan memampukan kita senantiasa yaaa

  3. Dari posting yang ini, yang paling berkesan buat aku adalah jawaban SMS dari Alissa ke Namborunya 🙂 Singkat, padat, jelas, tapi dalam banget…Happy anniversary buat Allisa dan pak P 🙂

  4. Si Gadis dan Si Bujang, mereka anak-anak yang menyadari bahwa orangtua adalah wakil Tuhan di dunia ini karena itu mereka berusaha menjadi anak-anak yang taat. Namun seiring mereka dewasa dan semakin mampu mengambil tanggung jawab untuk diri mereka sendiri, Tuhan pun mulai menumbuhkan keyakinan untuk mendengarkan kehendak Tuhan yang Tuhan taruh sendiri dalam hati mereka. Karena itu, apapun risikonya, mereka kemudian memutuskan untuk mengikuti suara dalam hati mereka sambil tetap terus menyadari bahwa orangtua adalah wakil Tuhan karena itu, sekeras apapun keinginan mereka, namun akan sia-sia mereka mengikuti keinginan itu jika doa dan restu dari orangtua tidak menyertai
    Ini bagian yg bikin aku nangis dan inget ortuku. makasih untuk remindernya yaaa

  5. Seperti drama sinetron. Pantes aja sinetron suka diangkat dari kisah nyata. Aku sampe speechles pas baca. Berasa ada di posisi Mbak Lisa saat itu. Puji syukur semua terlewati dengan baik dan happy ending. Selamat menyambut anniversary dengan belahan jiwa 💜💜💜

  6. Selalu ada alasan untuk setiap jalinan.
    Entahkah itu bertahan, berlanjut, berubah, beruntung, berbahagia.
    Saya salut sama kak Krones mencurahkan energi yang ada
    untuk kenyataan yang dihadapi dan terpampang saat ini.
    Saya mengikuti blog kakak dan selalu menemukan berlimpahnya kekuatan
    untuk keluarga kakak.
    Terinspirasi kisah ini utk melihat selalu ke depan
    dan menggenapi rencana Tuhan dalam kehidupan.
    Selamat berbahagia ultah nikahnya,
    semoga semakin mengenali apa yang Tuhan mau
    dalam hidup kak Krones, ito Sams, juga kedua adik2.
    Blessings,

  7. Selamat menikmati berkat ulang tahun pernikahan ya Jeng Lis dan Bang Poltak. Tuhan yang mempersatukan, meneguhkan dan memelihara pernikahan dan keluarga dengan sempurna. Madu berkat terus mengalir dalam keluarga. Salam dan doa kami, selamat membesarkan buah hati duo R, bagian dari berkat Tuhan.

  8. Syukurlah ya saya baru mulai baca cerita ini saat sudah diupload semua, jadi gak penasaran nunggu lanjutannya. Hahaha… tapi mbak, entah kenapa saya melihat juga dari sisi sang mantan, kok rasanya sedih banget ya.. sudahlah dapat penempatan di papua trus hubungan dengan mbak allisa harus berakhir seperti itu pula. Andai mbak allisa temen atau keluarga deket saya yg saya tau ceritanya waktu itu, mungkin sudah saya marah-marahin sebelum jadi deket sama 2 cowok sekaligus, harusnya akhiri dulu hubungan yg sudah gak jelas baru mulai yg baru. Tapi saya ngerti kok kondisinya.. memang gak mudah ambil keputusan klo menyangkut soal perasaan. Walau saya bilang harusnya begini-begitu, tetep aja yg ngalamin itu mbak allisa & saya gak akan pernah tau gimana rasanya dari sisi mbak allisa. Dan yang terpenting, akhirnya tetep yang terbaik buat semua.
    Btw, baca cerita ini saya jadi pingin juga nulis kisah saya sendiri.. mungkin bisa juga jadi kayak novel ya. Hihihi…
    Maaf klo kurang berkenan dgn komentar saya ya mbak, tapi itulah yg terbersit di pikiran. Sungguh mbak allisa & keluarga selalu jadi inspirasi saya selama ini.. saya juga selalu pengen gabung di bidang IT yg sebenernya bidang impian saya. Tapi sekarang semuanya cuma tinggal mimpi. Hiks, kok jadi curhat.
    Udah ah, kepanjangan jadinya.
    Semoga selalu berbahagia ya mbak allisa dan keluarga.. terus berbagi & menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitar. Aamiin..

    1. Hehehe…gak usah minta maaf Nad, aku berkenan kok dengan komentarnya. Jawabannya udah panjang lebar di post setelah ini yaaa

      Thank you, Nad! Jangan lupa alamat sama blog mu, mbok ya di update tooo Nad 😄

  9. telat baca dan telat komen jadinya… tapi gpp.. seneng kalau baca2 kisah yang begini, bagaimana kalau kita taat pada-Nya, maka apapun yang kita putuskan, insyaAllah juga sesuai dengan kehendak-Nya dan itu pasti yang terbaik buat kita. Happy anniversary buat Sams dan Krones, semoga pernikahan kalian langgeng, bisa membentuk keluarga yang selalu taat pada Tuhan, dan keturunan kalian pun juga demikian, aamiin

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s