Segala Sesuatu Ada Saatnya #roadToMarch8 (Ep. 3)

Yeayyy!!! Sudah masuk ke episode ke-3, nih. Pada nungguin kelanjutannya gak? Kalau saya sih jujur saja nungguin…hahahaha… Cerita sendiri kok ditungguin ya? Habisnya gimana dong, saya sendiri juga bahagia lho kalau sudah waktunya untuk bercerita tentang kisah kami berdua, karena bagi saya, sebuah cerita bahagia akan lebih lengkap rasa bahagianya apabila dituangkan dalam bentuk tulisan 😊. O ya, banyak yang bilang cerita kami mirip drama Korea…hahahaha… Waktu ngejalanin sih sama sekali gak ada pikiran kalau ini mirip dalam drama ya, walaupun saya sejak jaman kuliah dulu sudah teracuni dengan drama Korea. Tapi begitu diingat-ingat lagi dan apalagi setelah dijadikan tulisan begini, baru deh memang saya sendiri bisa merasakan, “Eh iya ya, kok jadi kayak di drama ya??” hahahahaha….. Tapi yah, begitulah kenyataannya. Saya juga gak pernah menyangka bakal seperti ini jalan cerita kami apalagi sampai berkhayal bahwa saya akan merasakan a little glimpse of dramaland in my life, karena itu setiap kali kami bernostalgia tentang pertemuan kami dulu, yang kami rasakan adalah rasa syukur yang besar karena kami tak pernah perlu ragu bahwa kami memang diciptakan sedari awal untuk satu sama lainnya πŸ₯°.

Ok deh, sekian dulu pembukannya, kita lanjut lagi ke cerita cinta kami…hehehe… Oh ya, semua cerita tentang kami ini dari episode ke episode bisa diakses via link ini yaaa….Β 

*****

Si Bujang

Dia sedang berada di rumahnya di Medan, dan saat itu, di dalam kamarnya yang tertutup rapat, dia menatap telepon selular di genggaman tangannya. Berkali-kali dia telah mengetikkan sesuatu di situ namun berkali-kali pula dia menghapus deretan kata yang sudah diketikkannya itu. Dia ingin memulai percakapan dengan gadis itu, gadis yang sedari pertama kali dilihatnya sudah langsung membuat dia merasa ingin menyerahkan hatinya. Tadinya dia sudah sangat yakin dengan topik pembukaan yang dia pilih, tapi begitu berhadapan langsung dengan telepon selular di hadapannya, tiba-tiba saja dia menjadi ragu dan semua teks yang dia ketikkan pun terasa salah.

Resah, dia pun membaringkan badan ke atas tempat tidurnya. Seketika pandangan matanya menangkap poster David Beckham yang berukuran cukup besar di dinding kamarnya yang sudah terpajang di situ sejak bertahun-tahun lalu. Di poster itu, pemain bola dari klub terfavoritnya terlihat sangat percaya diri berada di lapangan sepakbola…

Kepercayaan diri yang saat itu tak bisa tersalurkan padanya.

Dia juga heran kenapa dia tiba-tiba ragu, seolah-olah itulah pertama kalinya dia mendekati cewek dan seakan-akan dia kembali menjadi anak remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.

Walaupun jika dipikir-pikir memang benar sesungguhnya, itulah untuk pertama kalinya dialah yang akan duluan mengambil langkah pendekatan, karena yang sebelum-sebelumnya terjadi adalah justru sebaliknya. Bahkan dengan mantan pacarnya pun, dia yang duluan didekati.

Dan soal jatuh cinta, ah memang benar juga, itulah untuk pertama kalinya dia merasakan rasa suka dengan seorang gadis sampai sebegininya.

Gadis itu….. Tanpa sadar dia tersenyum mengingat gadis itu. Hampir semua teman-temannya sejurusan sudah tau bahwa dia menyukai gadis itu, walaupun gadis itu terlihat jelas tidak tahu apa-apa karena memang sampai saat itupun tidak pernah sekalipun dia menunjukkan perasaannya secara langsung kepada gadis itu.

Ah, jangankan tahu tentang perasaannya, mengetahui namanya atau bahkan di dunia ini ada dia saja, jangan-jangan gadis itu tidak tahu sama sekali.

Teringat olehnya beberapa kali pertemuan dengan gadis itu yang hampir selalu membuat dia merasa kecewa karena dia bisa melihat dengan jelas bahwa gadis itu tampaknya selalu melupakan namanya atau bahkan selalu lupa kalau sudah pernah berkenalan dengannya. Membuat dia merasa gemas sekali dengan gadis itu. Sebegitu tak begitu pedulinya gadis itu dengan dirinya, sampai-sampai dia seperti selalu dilupakan.

Walaupun memang, tak ada alasan bagi gadis itu untuk peduli dengan dirinya.

Teman-teman yang sempat menjadi dekat dengannya selama masa diklat sampai beberapa kali bertanya kenapa dia tidak membuat langkah mendekati gadis itu supaya paling tidak gadis itu bisa tahu tentang perasaannya atau paling tidak mengetahui keberadaan dirinya. Mereka juga geregetan dengan gadis itu karena bahkan ketika mereka berkali-kali menyanyikan lagu “Rambut Merah Siapa yang Punya” setiap kali gadis itu lewat di depan kompi mereka pun, gadis itu jangankan terlihat mau tahu untuk siapa dan kenapa lagu itu mereka nyanyikan, menengok ke arah mereka saja pun tidak!

Ketidakpedulian gadis itu mungkin memang adalah salah satu hal yang membuat dia selama masa diklat mengurungkan niat untuk mendekati ditambah alasan bahwa dia pun masih ada hasrat untuk menghormati hubungan gadis itu dengan pacarnya. Namun penyebab utama yang menghalangi niatnya adalah karena dia merasa belum saatnya untuk memikirkan hubungan dengan gadis itu karena toh sangat besar kemungkinan mereka akan ditempatkan di wilayah yang jauh terpisah. Dia selalu yakin bahwa apabila memang benar gadis itu adalah orang yang Tuhan ciptakan untuknya sesuai dengan mimpinya ketika masih kecil, maka Tuhan juga yang akan memberi jalan pembuka untuk itu.

Karena itulah, ketika beberapa kali temannya bertanya mengapa dia menarik diri dari langkah pendekatan ke gadis itu, maka dia akan menjawab,Β “Semua Tuhan yang tahu, Tuhan juga yang atur, jika memang benar dia itu jodoh gua, maka Tuhan yang akan membuat jalan. Siapa tahu, bisa saja, jalannya adalah dengan justru menempatkan kami di wilayah yang sama.”

Dan ternyata memang siapa yang kemudian bisa menyangka kalau dia dan gadis itu kemudian benar ditempatkan di wilayah yang sama.

Dia masih sangat mengingat apa yang terjadi di malam hari ketika pengumuman mengenai daftar penempatan tugas ditempel di asrama diklat Ragunan tempatnya menginap saat itu.

Yang pertama dia cari tentu adalah namanya sendiri dan betapa terkejutnya dia ketika di deretan nama pada wilayah yang sama dengannya juga terdapat nama gadis itu. Seketika dia terkejut dan langsung berseru penuh kebahagiaan dalam hati, luar biasa…luar biasa ya Tuhan….. penempatan kami sama!

Dengan tersenyum-senyum bahagia seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan incaran, dia pun bergabung bersama teman-temannya yang sedang berkumpul membahas soal penempatan kerja. Begitu teman-temannya melihat dia datang dengan wajah sumringah, mereka langsung heran dan bertanya, “Elu kenapa? Hepi banget kayaknya!”

Dan begitu dia menjawab penyebab dia tampak begitu bahagia karena dia ditempatkan di wilayah yang sama dengan gadis itu, teman-temannya langsung ikut berseru senang dan mengucapkan selamat untuknya. Sebagian malah sampai bertanya apakah dia ada turut campur dalam pengurusan penempatan mereka sampai bisa sangat ‘kebetulan’ dia dan gadis yang dia taksir ditempatkan di wilayah yang sama. Pertanyaan yang tentu saja konyol, karena yah, apalah dan siapalah dia di perusahaan ini?

Saat itu, dia begitu terlarut dalam kebahagiaan karena mengetahui kalau dia dan gadis incarannya ditempatkan di wilayah yang sama, sampai-sampai membuat dia lupa untuk mengecek di wilayah mana mereka ditempatkan. Rasanya mau ditempatkan di mana pun tak masalah lagi, selama gadis itu bisa bersama dengannya. Dia baru tersadar, setelah salah satu temannya bertanya, “Ngomong-ngomong, elu penempatannya di mana?”

Seketika itu dia terdiam lalu sambil menyengir, dia menjawab, “Nah itu, gua lupa ngeceknya. Gua cuma liat nama dia doang….”

Tak ayal, teman-temannya pun menertawakan kekonyolannya dan dia sama sekali tak keberatan dengan itu. Hatinya terlalu bahagia untuk memedulikan tertawaan teman-temannya. Dengan segera dia pun turun kembali ke lantai bawah untuk melihat pengumuman penempatan itu dan betapa kagetnya dia ketika mendapatkan kejutan lagi dalam pengumuman itu.

Dia dan gadis itu ditempatkan di wilayah bernama S2JB.

Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu yang berkantor induk di Palembang.

Palembang…..

Palembang…..

Jadi mimpi mamanya terbukti benar.

Di situ dia hanya bisa terdiam, antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang sedang dia alami. Mungkinkah terjadi bahkan mimpi mamanya pun bisa menjadi kenyataan? Pada akhirnya dia hanya bisa mengakui dalam hati betapa luar biasa semua yang sedang terjadi, sungguh dia tak menyangka kalau jalannya akan menjadi seperti ini.

Sebelum beranjak dari situ, dia menyempatkan diri mengecek di mana pacar gadis itu ditempatkan. Papua…. Wow, katanya dalam hati, jalan Tuhan memang siapa yang bisa menyangka.

Dia juga teringat pada pertemuan terakhir dengan gadis itu sebelum mereka pulang ke tempat asal masing-masing. Ingatan pada pertemuan itu membuat senyumnya makin lebar karena entah bagaimana, ketika sedang berbicara dengan gadis itu, dia yakin sekali ada sesuatu yang berbeda. Seolah untuk pertama kalinya gadis itu melihat dirinya, benar-benar melihat. Dia bisa melihat itu dari pandangan mata serta senyum gadis itu. Biasanya gadis itu hanya tersenyum sopan saja kepadanya, namun dalam pertemuan terakhir mereka, senyum gadis itu terlihat berbeda. Dia tampak gugup dan bahkan….malu-malu? Ah, entahlah, dia sendiri tidak berani terlalu jauh mengambil kesimpulan, khawatir nanti dia hanya akan kecewa saja jika ternyata kenyataan tak sesuai harapan. Namun tak dapat dipungkiri, perubahan sikap gadis itu ketika berhadapan dengannya, bisa dengan jelas dia lihat dan itu memberikan harapan untuknya kalau kehadirannya juga bisa memberikan efek untuk gadis itu, tidak hanya sebaliknya saja.

Ingatan akan pertemuan terakhir itu serta kembali menyadari bahwa Tuhan sedang menolong membukakan jalan untuknya itulah yang kemudian membuat dia menepis rasa ragu yang dia rasakan untuk memulai berkomunikasi dengan gadis itu.

Apapun yang akan terjadi, maka terjadilah, pikirnya. Pada akhirnya semua akan terjadi sesuai kehendak Tuhan, namun untuk saat ini dia yakin sekali Tuhan sudah membuka jalan untuknya, terlalu bodoh jika dia sendiri tidak mengambil kesempatan itu. Sudah saatnya, dia mengambil langkah.

Maka kemudian dengan tanpa ragu-ragu lagi, dia mengetikkan sebuah pesan sederhana di telepon selularnya.

“Hai, Krones, jadi berangkat ke Palembang hari Sabtu?”

*****

Si Gadis

Dia sedang berada di dalam kamarnya. Siang hari itu cuaca di Manado sangat cerah, matahari bersinar terang dan dari jendela kamarnya yang terbuka lebar, dia bisa melihat langit biru jernih di atas sana. Dia sangat suka dengan langit biru karena setiap kali melihatnya maka dia akan merasa seperti mendapatkan suntikan semangat, apapun kondisi yang sedang dia alami. Langit biru seolah memberi harapan, bahwa segelap apapun suasana hatinya, cepat atau lambat, dia akan kembali melihat langit biru dan semua akan baik-baik saja.

Itulah yang dia rasakan saat itu.

Di luar, cuaca sedang cerah. Namun dalam hatinya sendiri terasa ada yang sedang berkecamuk.

Dari meja belajar tempat tadinya dia duduk, dia pun beranjak dan duduk di pinggir tempat tidurnya sambil memandang koper besar berwarna biru yang baru selesai dia siapkan. Koper itu kini telah berisi banyak baju-baju serta berbagai keperluannya, termasuk bingkai serta album yang berisi foto-foto yang berharga untuknya.

Dia sudah siap untuk pindah ke Palembang. Dan dia hanya punya waktu dua hari lagi untuk berada dalam rumah ini.

Saat itu, semua tiba-tiba terasa sangat nyata.

Dia akan segera pindah ke Palembang, meninggalkan kota ini, rumah ini, kamar ini, bahkan orangtua, kakak, serta adik yang sangat dia kasihi.

Iya, dia memang masih bisa mudik ke Manado. Tapi semua kelak akan berbeda.

Dia tidak akan lagi melihat orangtuanya setiap hari, menikmati masakan mamanya sehari tiga kali, beradu argumen dengan papanya, atau bertengkar setiap saat dengan adik laki-lakinya. Rumah ini juga tak akan lagi menjadi tempatnya pulang sehari-hari melainkan hanya akan menjadi tempatnya untuk pulang kampung sesekali dalam setahun. Kamar ini pun tak akan lagi menjadi teman setianya, tempat di mana dia merasa paling nyaman untuk menjadi dirinya sendiri.

Resah, dia pun membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Perlahan, telapak tangannya mengusap lembut seprai berwarna krem dengan corak bunga-bunga merah muda kecil. Di antara semua seprainya, yang satu ini adalah yang paling dia sukai karena itu dia sengaja memasangnya menjelang kepindahannya. Menengadah ke atas, dia melihat boneka-boneka yang dia gantung tepat di atas tempat tidurnya serta stiker bintang-bintang yang akan menyala dalam gelap yang tersebar di atas langit-langit kamarnya. Dia tersenyum melihat semua itu karena teringat pada usahanya memasang semua stiker itu. Dia begitu menyukai bintang hingga suatu kali dia memutuskan untuk menghadirkan bintang-bintang itu di dalam kamar untuk menemaninya tidur, meski hanya dalam bentuk stiker. Dia sangat menyukai berada dalam kamar ini. Di sinilah tempat dia menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar, menulis buku harian, membaca novel, dan merajut mimpi-mimpinya dalam khayalan.

Mimpinya adalah bukan untuk menjelajahi dunia. Tidak, dia bukanlah orang yang memiliki jiwa petualang dalam dirinya. Bukan berarti dia menolak bepergian, namun dia merasa paling nyaman berada di rumah. Selama tinggal bersama orangtuanya, dari sejak kecil hingga kini, beberapa kali dia diajak orangtuanya bepergian, melihat berbagai kota di Indonesia. Semua dia nikmati, namun kebahagiaan menikmati aneka tempat itu tidaklah pernah sebanding dengan rasa tenang yang dia dapatkan setiap kali sudah kembali ke rumah serta rasa nyaman yang dia peroleh setelah bisa kembali berbaring di atas tempat tidurnya sendiri. Rajin menulis jurnal dari sejak kecil membuat dia sangat mengenal kepribadiannya sendiri, dia tahu bahwa hatinya selalu mencari rumah, karena itu dia tidak bermimpi untuk bisa menjelajahi dunia. Kalaupun dia pernah berkeinginan sekolah sampai S3 di luar negeri, itu semata-mata karena tadinya dia sempat bercita-cita menjadi seorang dosen yang mana menurutnya akan lebih baik jika dia memiliki pengalaman belajar di luar negeri.

Dia juga bukannya bermimpi untuk menaklukkan dunia, menjadi terkenal, menjadi hebat, menjadi kaya.

Di dalam hatinya, dia hanyalah gadis yang sederhana. Mungkin orang lain bisa menilai dia payah karena tidak mengikuti kata pepatah, “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit.”

Dia hanya menginginkan hal-hal yang sederhana.

Meski dia menyukai bintang, tapi mimpinya tidak pernah digantungkannya sampai ke langit.

Dia selalu merindukan rumah, karena itu mimpinya adalah tentang rumah, tentang keluarga yang dibangun bersama orang yang dia cintai dan yang akan mengasihinya sampai mereka sama-sama tua kelak, tentang menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya, tentang bersukacita sampai akhir hayat bersama orang-orang yang dia cintai. Dia hanya ingin menjalani hidup yang baik, penuh cinta, damai, sejahtera, dan sukacita. Impian yang sederhana, namun kenyataannya hanya sedikit orang di dunia ini yang bisa memiliki hidup seperti itu.

Dan di kamar inilah dia merajut mimpi-mimpinya itu.

Setiap kali dia selesai membaca novel, dia akan merenung begitu lama hanya untuk mengkhayalkan tentang masa depannya nanti. Akankah dia menemukan orang yang dia cintai. Dan akankah orang itu juga akan mencintai dia dengan segala ketulusan bahkan rela berkorban untuknya? Para tokoh utama pria dalam novel-novel yang dia baca serta drama-drama Korea yang dia tonton, selalu saja membuatnya berpikir, alangkah bahagianya jika dia bisa menemukan orang yang bisa mencintainya seperti itu. Dia memang bukan perempuan lemah yang membutuhkan pangeran untuk menyelamatkannya. Namun tentu akan sangat bahagia rasanya jika dia bisa menemukan orang yang rela melakukan apapun untuknya, yang selalu siap menolongnya dalam segala situasi entahkah dia sedang butuh ditolong ataupun tidak, yang bisa dijadikannya rekan untuk sama-sama saling memprioritaskan.

Usianya sudah 23 tahun. Dia sudah pernah tiga kali berpacaran. Dan sampai sekarang dia belum pernah menemukan orang yang bisa seperti itu dengannya, karena itu dia tahu, tidaklah mudah memiliki hidup seperti yang diimpikannya. Tidak mudah, karena jumlah penduduk bumi ini, sama seperti jumlah bintang di atas sana, ada sekian miliar, butuh keberuntungan surgawi yang sangat besar untuk membuatnya bisa menemukan satu bintang yang memang Tuhan ciptakan untuknya.

Mengingat tentang satu bintang itu, entah kenapa membuat dia kembali teringat pada orang itu. Orang yang bertemu dengannya di hari terakhir diklat. Orang yang membuatnya ingin tenggelam dalam pelukan yang dia tahu akan sangat hangat meskipun dia sendiri belum pernah merasakannya. Bagaimana bisa pernah merasakan, nama orang itu saja dia tidak tahu. Hal itu membuatnya menggelengkan kepala, akhir-akhir ini perasaan hatinya memang sungguh aneh. Keberangkatannya tinggal dua hari lagi, dan alih-alih memikirkan tentang perpisahan dengan pacarnya, dia justru malah mengingat tentang orang itu. Tidak masuk di akal.

Saat itulah, ketika dia sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, telepon selularnya terdengar berbunyi. Dari nadanya, dia tahu ada pesan teks yang sedang masuk.

Malas-malasan, dia pun beranjak dari tempat tidur dan menuju meja belajar di mana telepon selularnya tergeletak. Benar saja, ada pesan teks yang masuk, dari nomor yang tidak dikenalnya. Pesan itu hanya berisi satu kalimat pendek, “Hai, Krones, jadi berangkat ke Palembang hari Sabtu?”

Membaca itu membuat dia mengernyitkan dahi. Krones? Hampir jarang ada yang memanggilnya dengan nama belakangnya. Dia yakin pengirim pesan itu adalah salah satu rekan diklatnya dan hampir semua mereka memanggil dia dengan nama depannya. Kecuali, dia mengingat-ingat, beberapa rekan yang berasal dari kompi yang sering menyanyikan lagu rambut merah siapa yang punya itu! Beberapa kali memang dia mendengar mereka memanggilnya dengan sebutan Krones. Mungkin, si pengirim pesan itu adalah orang yang berasal dari kompi itu yang mungkin juga di tempatkan di wilayah yang sama dengannya.

Memikirkan tentang penempatan di wilayah yang sama, membuat dia tiba-tiba terpikir. Jangan-jangan…. Pengirim pesan ini adalah orang itu? Orang yang baru saja dia pikirkan? Orang yang membuat perasaannya bercampur aduk itu?

Dugaan itu membuat dia dengan segera mencari kertas berisi daftar nama peserta diklat yang ditempatkan di daerah Palembang dan sekitarnya. Sebelum mereka meninggalkan diklat, mereka memang sudah membuat daftar dan menuliskan nama masing-masing disertai nomor telepon selular serta asal keberangkatan di atas secarik kertas. Dicarinya nomor telepon selular pengirim pesan itu dalam daftar tersebut, ah benar ada! Jadi dugaannya betul, pengirim pesan itu adalah salah satu rekannya yang mendapat penempatan di wilayah yang sama dengannya. Terdapat 30 nama di dalam daftar itu, 13 di antaranya ditempatkan di unit Distribusi S2JB sementara sisanya ditempatkan di unit Pembangkit yang juga berkantor induk di Palembang. Pengirim teks itu, sama dengannya, ditempatkan di unit Distribusi S2JB.

Setelah membaca nama pengirim teks itu di daftar tersebut, dia pun berusaha mengingat-ingat, apakah iniΒ  nama orang itu? Ah, tapi dia benar-benar tidak bisa mengingat apa-apa. Rasanya tidak ada satupun memori di kepalanya tentang orang itu yang bisa memberikan sedikit saja petunjuk bahwa orang yang bertemu dengannya di hari terakhir diklat itu memiliki nama yang sama dengan pengirim pesan itu. Aarrgghh…. Dia merasa frustasi dengan ketidakmampuannya mengingat nama orang itu.

Namun meski begitu, dia pun tetap membalas pesan tersebut. Karena pengirim pesan itu memanggilnya dengan nama belakang, maka dia memutuskan untuk membalasnya dengan nama belakang juga.

“Hei Samosir, iya, aku jadi berangkat Sabtu. Kamu kapan?”

Dari situ, pembicaraan mereka lewat pesan teks pun berlanjut. Pembicaraan di antara mereka terasa mengalir, seperti yang mereka sudah lama saling mengenal, meski dia tetap terus bertanya-tanya dalam hati, apakah yang sedang berbicara dengannya lewat pesan teks itu adalah orang yang sama dengan orang yang bertemu dengannya itu. Dia ingin bertanya, namun ragu, entah kenapa dia tidak ingin orang itu menganggap dia pikun. Karena jika benar mereka orang yang sama, maka itu artinya paling tidak sudah ada tiga kali mereka berkenalan, rasanya keterlaluan jika dia masih tidak tahu siapa nama orang itu.

Ah, biarkan sajalah, seolah-olah dia sudah tahu dengan siapa dia saling berkirim pesan ini, pikirnya. Toh, tidak lama lagi semua akan terungkap. Paling lambat di hari Senin depan ketika mereka harus melapor di kantor S2JB, di situlah saatnya pertanyaan dalam hatinya akan terjawab.

Dan waktu dua hari memang berlalu dengan sangat cepat. Tak terasa, telah tiba waktunya untuk dia berangkat ke Palembang. Bersyukur, mamanya bisa ikut mengantar hingga ke Palembang sehingga bisa mengurangi rasa kehilangan akibat meninggalkan kampung halamannya. Di bandara, dia berpisah dengan pacarnya yang akan menuju ke Papua serta seorang teman kuliahnya yang juga ikut diterima di BUMN ini yang kemudian ditempatkan di Makassar.

Siang hari, dia sudah tiba di Palembang, disambut oleh matahari yang bersinar amat sangat terik sehingga membuat dia dan mamanya seketika mendapat migrain dan langsung tidur hingga hampir malam di kamar hotel Anugerah yang mereka sewa. Begitu bangun, mereka berdua berkeliling mencari tempat kos untuknya, sayang hari itu mereka belum bisa menemukan tempat yang tepat. Di hari itu juga dia masih berkirim pesan dengan orang itu, yang sudah tiba juga di Palembang dan sedang menginap di rumah kerabatnya.

Hari Minggu, teman-temannya sepenempatan ikut tiba di Palembang. Dia sempat bertemu dengan sebagian besar dari mereka dan kali ini dia berusaha memperhatikan nama rekan-rekannya yang laki-laki yang belum dia kenal serta ingat. Di antara semua yang sudah bertemu dengannya di hari itu, tak ada satupun yang bernama belakang Samosir, dan tak ada satupun dari mereka yang adalah orang yang bertemu dengannya di hari terakhir diklat itu.

Kenyataan yang dia dapat itu membuat harapannya semakin besar, bahwa dia memang sedang berkirim pesan dengan orang yang sama yang membuat perasaan hatinya berkecamuk dengan indahnya itu.

Hari Senin pagi, sebagaimana yang diharuskan, dia pun berangkat menuju kantor induk S2JB. Sepanjang jalan, jantungnya serasa berdegup kencang, bukan karena gugup menghadapi hari pertama di kantor, namun karena inilah saat yang menentukan. Dalam beberapa saat lagi dia akan bertemu dengan orang itu dan semua jawaban atas pertanyaannya akan bisa dipastikan pada saat mereka bertemu.

Di depan gerbang kantor, dia berusaha mempersiapkan diri dan dengan keras menata degup jantungnya. Dia bisa melihat bahwa di lobi telah ada beberapa rekannya yang hadir. Dia tahu, karena sebagai karyawan yang belum resmi diangkat, untuk sementara mereka diharuskan berpakaian putih hitam sehingga membuatnya bisa melihat dengan jelas keberadaan rekan-rekannya di situ.

Dan begitu memasuki pintu lobi kantor, seketika matanya langsung beradu dengan mata orang itu. Orang yang sama yang membuat kecamuk dalam hatinya itu, yang tanpa sadar ternyata dirindukannya, kini berada di hadapannya, sedang duduk dengan santai di salah satu kursi di lobi. Orang itu terlihat sedang berbicara dengan rekannya yang lain, namun bahkan ketika dia belum sampai di pintu lobi pun, orang itu sudah melihat ke arahnya, tanpa berpaling sedikit pun! Ketika pandangan mereka bertemu, orang itu melemparkan senyum penuh arti untuknya. Senyum yang dia balas dengan penuh kelegaan, karena hatinya telah yakin bahwa jawaban misteri itu adalah sesuai dengan harapannya.

Pengirim pesan dan orang itu, mereka adalah sosok yang sama.

Saat itu, meski serasa ada magnet yang menariknya untuk langsung berjalan ke arah orang itu, namun dia menahan diri agar perasaan hatinya tidak terlalu kentara. Meskipun untuk itu dia harus berusaha dengan keras, mengingat pandangan orang itu juga tampak berbinar ketika melihatnya, membuat dia sangat berbunga-bunga.

Tak lama setelah kedatangannya, salah satu staf dari SDM kemudian menghampiri rombongan mereka dan mengajak mereka untuk masuk ke ruang rapat utama di lantai 2. Mereka pun bergerak ke arah tangga. Orang itu, yang tadinya duduk, ikut beranjak dan sengaja berjalan di dekatnya.

Begitu mereka saling bersebelahan, sebelum menaiki tangga, orang itu menyapanya, “Krones….”

Dia, sambil tersipu namun dengan hati yang berbunga-bunga bahagia, membalas sapaan itu, “Samosir….”

Sejenak, mereka saling memandang, sebelum kemudian kembali melangkah menaiki anak tangga satu demi satu.

Dia sendiri tidak sanggup menahan senyum bahagia untuk terukir di wajahnya. Entah bagaimana, namun saat itu juga dia tahu, ada sesuatu di antara mereka berdua yang telah terjalin erat bahkan sebelum mereka berdua benar-benar saling mengenal.

*****

Si Bujang dan Si Gadis, ikatan mereka memang telah terjalin lama. Mungkin bahkan sejak sebelum mereka lahir ke dalam dunia, mereka sudah ditentukan untuk bersama. Di antara miliaran bintang, mereka bersinar untuk satu sama lainnya. Namun segala sesuatu ada saatnya. Mereka harus menunggu sampai mereka dewasa untuk bisa bertemu. Mereka harus menunggu, sampai Tuhan sendiri yang menyediakan jalan itu untuk mereka bisa memenuhi apa yang sudah ditentukan bagi mereka.

Si Bujang dan Si Gadis, cerita mereka belum berakhir sampai di situ. Setelah pertemuan ini pun, masih ada tantangan-tantangan besar yang harus mereka hadapi. Namun segala sesuatu memang ada saatnya. Ada saatnya menghadapi tantangan, dan ada saatnya juga untuk menang atas tantangan itu.

Bersambung ke seri #roadToMarch8 selanjutnya….

πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„

PS:

Dari bagian cerita ini, bisa tahu kan ya sekarang dari mana saya mendapat ide memberi nama When Samosir meets Krones untuk blog ini? 😁

Dan sekali lagi ingin mengingatkan bahwa komentar paling menarik di sepanjang seri ini, akan mendapat souvenir menarik dari saya 😘. Mohon maaf untuk komentar-komentar yang belum sempat terbalas, saya janji ada saatnya saya akan membalas semua komentar yang masuk. Meski belum langsung dibalas, namun percayalah, bahwa semua komentar teman-teman turut menambah kebahagiaan di hidup saya. Terima kasih yaaa… untuk semua yang sudah mau berkomentar sampai saat ini. Tuhan memberkati! 😘

 

13 respons untuk β€˜Segala Sesuatu Ada Saatnya #roadToMarch8 (Ep. 3)’

  1. tu kan, beneran kayak drama πŸ™‚ . Dan bener, waktu ngejalanin si g kepikiran segala drama, tapi semakin kesini, pasti terus kelihatan alurnya yak? …. ayo, ditunggu kelanjutannya

  2. Kok pas baca bagian pertemuan di lobi kantor itu sy jadi senyum2 sendiri πŸ˜€
    ngebayangin ada diposisi itu, trus jadi ingat masa2 PDKT dulu…dagdigdung sheerrr :DD

  3. Kok pas baca bagian pertemuan di lobi kantor itu sy jadi senyum2 sendiri πŸ˜€
    ngebayangin ada diposisi itu, trus jadi ingat masa2 PDKT dulu…dagdigdung sheerrr :D:D

Tinggalkan Balasan ke azitafebriani Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s