Perjalanan ke Penang dan Tips Diet Untuk Pasien Cuci Darah

Seminggu setelah kepulangan kami dari liburan Natal dan Tahun Baru, saya dan suami harus melakukan perjalanan dadakan ke Penang.

Kalau sudah nyebut Penang, jelas bukan berarti untuk perjalanan sekedar berwisata ya, melainkan sudah hampir pasti untuk berobat. Begitu juga dengan perjalanan kami kemarin yang bertujuan membawa mama mertua berobat.

Me and my Mother in law at Penang
Anak na burju πŸ€—

Mama mertua alias inang simatua saya ini memang sudah cukup lama bergumul dengan penyakit ginjal. Sudah dari tahun 2007 beliau terdiagnosa gagal ginjal dan waktu itu bahkan oleh dokter lokal sudah langsung disuruh untuk cuci darah, namun karena keluarga besar saat itu masih ragu maka dibawalah inang untuk konsultasi dengan dokter ahli ginjal di Penang yang mana dokter di Penang menyatakan kalau kondisi inang masih bisa tertolong dengan obat-obatan serta pola diet yang tepat. Maka sejak tahun 2007 itu, inang pun secara teratur per tiga bulan sekali konsultasi dengan dokter di Penang. Puji Tuhan, kondisi ginjal inang bisa terus dipertahankan tanpa cuci darah hingga bertahun-tahun.

Sampai kemudian di tahun 2017, waktu itu papa mertua alias amang simatua saya harus menjalani operasi tumor otak di bawah penanganan Prof Eka di RS. Siloam Karawaci. Saat itu, karena kesibukan mengurus amang (yang mana tentu saja inang juga gak mau kalo gak ikut turun tangan), maka perhatian ke kondisi kesehatan inang sempat berkurang yang mana akibatnya cukup fatal. Tubuh inang dipenuhi racun. Karena kondisi yang menggawat itulah, maka akhirnya setelah lebih dari 10 tahun bertahan, kali ini inang harus menjalani cuci darah.

Sejak tahun 2017 ituΒ inang menjalani cuci darah rutin sebanyak dua kali seminggu di Medan. Namun sayang, kondisinya makin ke sini makin menurun. Waktu kami pulang ke Medan di Natal kemarin, kami melihat kondisi inang semakin lemah. Sebagai anak tentulah kami semua khawatir dan ingin segera memeriksakan kondisi inang lagi di dokter ahli ginjalnya di Penang. Sejak mulai cuci darah, memang inang sudah gak pernah lagi berkonsultasi dengan dokter di Penang karena itu kami pikir sekarang sudah saatnya untuk inang mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lagi oleh dokter yang di sana.

Setelah berusaha untuk menyesuaikan jadwal dan sebagainya, akhirnya di tanggal 11 Januari saya dan suami pun berangkat dari Palembang menuju Medan.Β Suami jelas ya, sebelum ke Medan kudu singgah dulu di Palembang buat jemput saya dan terutama buat ketemu dengan anak-anak. O ya, pagi harinya sebelum berangkat kami masih sempat membawa si adek untuk diterapi uap di RS. Siloam.

Yang 3 hari berturut-turut sebelum keberangkatan kami harus diterapi uap. Sehat-sehat selalu, sayang mama 😘

Perjalanan kali ini adalah untuk yang pertama kalinya saya meninggalkan anak-anak. Bahkan untuk urusan dinas pekerjaan saja saya gak pernah meninggalkan mereka, lho. Di sini sudah banyak ceritanya bagaimana saya yang bela-belain bawa-bawa si abangΒ  waktu dia masih bayi (lengkap sama nanny dan peralatan masak hingga ke bahan makanannya!) setiap kali saya harus melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Trus setelah ada si adek, saya berusaha mati-matian untuk gak pernah dinas ke luar kota, karena abang sudah sekolah jadi gak bisa lagi seenaknya saya bawa pergi dan ditambah pula anak sudah dua rasanya terlalu merepotkan kalau harus diboyong ke sana sini dalam perjalanan dinas. Tapi sekarang, saya harus meninggalkan mereka untuk beberapa hari dan rasanya, duuuhh…. berat banget! Ya buat anak-anak, juga buat saya! Tapi yah, bagaimanapun kondisi inang sekarang lebih prioritas dan puji Tuhan anak-anak bisa mengerti itu. Puji Tuhan juga, ada bala bantuan yang kami dapatkan dari orang-orang dekat kami di rumah sehingga meski harus meninggalkan mereka, tapi kami bisa yakin bahwa anak-anak kami aman serta bisa beraktivitas dengan baik untuk sekolah dan les. Tuhan bertahta atas semuanya dan Tuhan tau kerinduan kami memberikan yang terbaik untuk orangtua selagi kami bisa, karena itu Tuhan juga yang memberkati semua usaha kami termasuk menjagai anak-anak yang harus kami tinggalkan untuk sementara waktu.

At the airport of Palembang
On the way Medan

Setelah tanggal 11 terbang ke Medan, maka keesokan harinya di tanggal 12, kami pun bersama inang terbang menuju Penang.

On the way Penang

Puji Tuhan, penerbangan lancar. Sekitar jam 10 pagi kami sudah tiba di Penang dan langsung menuju ke YMCA hotel buat check in serta naro-naro barang sebelum kemudian nyebrang ke Island Hospital buat mengurusi pendaftaran dan segala macamnya.

O ya, sekilas soal YMCA, ini sebenarnya termasuk hostel bukan hotel. Tergolong sederhana tapi bersih. Isi dalam kamarnya sendiri sudah cukup lumayan. Tidak bisa dibandingkan memang dengan hotel berbintang, tapi sudah cukup modern serta nyaman. Keuntungan utama hotel ini adalah letaknya yang persis berseberangan dengan Island Hospital tempat praktek dokter ahli ginjal inang. Karena lokasinya itulah maka kami sudah gak lihat-lihat hotel lain lagi selain YMCA ini.

Hari itu, sewaktu di rumah sakit, kami sempat makan siang di kafetaria sebelum kembali ke hotel. Inang tentu saja harus beristirahat, sementara suami memilih menghabiskan waktu dengan kerja. Malamnya kami turun ke resto bawah untuk makan malam. Sehabis makan malam kami balik ke kamar, ngobrol-ngobrol sampe tiba waktunya inang untuk beristirahat lagi.

Almost last minute sebelum keberangkatan kami ke Medan, adik ipar yang paling bungsu ternyata ingin ikut dengan kami. Ya sudah, segeralah kami urus juga karena bagus juga eda ini ikut mengingat eda ini yang paling sering menemani inang cuci darah di Medan jadi otomatis paling mengerti bagaimana kondisi kesehatan inang untuk dibahas bersama dengan dokter di sini

Dan malam itu, saya serta suami gak bisa tidur!

πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ

Meski kami tahu bahwa anak-anak baik-baik saja dan di sana pun mereka sudah lelap tertidur, namun tetap saja pikiran terbawa terus ke mereka. Rasanya tetap ada yang kurang kalau hanya melihat wajah lelap mereka dari foto serta video πŸ˜…. Setelah hampir dini hari, barulah kami berdua bisa tertidur.

Esok harinya, pagi-pagi kami turun untuk sarapan (di antara semuanya, urusan sarapan ini adalah hal yang paling kurang dalam layanan di YMCA hotel ini, sarapannya disediakan sih cuma yaaa menunya yaaa gitu deh 😁).

Selesai sarapan, kami menuju ke rumah sakit untuk antri konsultasi dengan dokter Goh Huck Keen, ahli ginjal yang sudah sejak 13 tahun yang lalu menangani inang. Setelah pemeriksaan ini dan itu, diputuskanlah inang harus diopname. Untuk berapa hari? Belum tau, karena akan melihat perkembangan kesehatannya dulu. O ya, saya gak bisa cerita bagaimana kondisi inang dari hasil pemeriksaan itu, biarlah itu jadi konsumsi pribadi keluarga saja. Namun later saya akan berbagi tentang tips diet yang sehat serta tepat bagi pasien hemodialisa, siapa tau bisa berguna untuk yang juga menjalani cuci darah seperti inang.

Selesai konsultasi dengan dokter, kami pun mengurus keperluan opname inang, puji Tuhan gak berapa lama, tepatnya di jam makan siang, inang sudah bisa masuk ke dalam kamar.

Lagi nunggu inang di-EKG di dalam ruangan rawat inap

Dan yah, sejak hari itu hingga beberapa hari kemudian, fokus kami tercurah untuk perawatan inang di rumah sakit. Selama di sini juga inang sempat menjalani hemodialisa sebanyak dua kali.

Inang yang selalu berusaha semangat πŸ€—

Tadinya ya, rencana awal pemeriksaan di Penang ini adalah Minggu kami berangkat, Senin dan Selasa pemeriksaan, lalu Rabu kami sudah bisa kembali ke Medan, sehingga di hari Kamis kami sudah berada kembali di Palembang.

Keputusan dokter bahwa inang harus diopname hingga berhari-hari adalah hal yang tak terduga. Meski sedih karena berarti kami harus meninggalkan anak-anak lebih lama dari rencana, namun kami tau bahwa kondisi sekarang adalah lebih baik mengikuti saran dokter saja supaya upaya pengobatan ke sini tidak menjadi sia-sia.

Dari pantauan perkembangan kesehatan inang serta jadwal hemodialisa yang disarankan dilakukan di sini, kami pun bisa memastikan bahwa paling cepat kami baru bisa kembali ke Medan pada hari Jumat, yang mana itu berarti kepulangan ke Palembang baru bisa dijadwalkan di hari Sabtu. Anak-anak pun kami infokan tentang itu supaya mereka bisa bersiap harus lebih lama lagi tanpa kami di rumah.

Dan saya sendiri pun harus bisa menyiapkan hati saya.

Puji Tuhan, saya punya suami yang amat sangat mengerti perasaan saya. Dia tau betapa saya sangat mengasihi mertua saya karena itu dengan sukacita saya mengantarkan serta mengurus inang di sini, bahkan ide untuk kami yang mengantar inang ke sini pun bukan berasal dari suami melainkan dari saya. Namun itu bukan berarti saya bisa menjalani semuanya tanpa merasa rindu dengan anak-anak. Sesukacita apapun saya mengurus inang, namun hati dan pikiran saya tetap terbagi untuk anak-anak. Apalagi di kala malam,Β  ketika inang sudah beristirahat dan tak ada lagi yang bisa saya lakukan. Pikiran saya terus kembali ke anak-anak, membuat saya tak bisa tidur.

Karena memahami itu, maka suami pun akhirnya memutuskan supaya setiap malam sehabis inang makan malam dan tinggal beristirahat di rumah sakit, kami jalan saja ke pusat kota untuk nyari makan malam (kafetaria di rumah sakit sudah tutup kalau malam hari). Pergi naik grab dan pulangnya berjalan kaki dari pusat kota ke rumah sakit/hotel yang harus ditempuh selama kurang lebih 30 menit. Dengan cara ini, maka suami berharap saya akan merasa cukup lelah hingga badan ini gak susah lagi diajak untuk tidur.

Maka jadilah, setiap malam selama inang diopname di rumah sakit, saya dan suami keluyuran di tengah kota Penang.

Walaupun pada akhirnya tetap saja, tidak ada yang bisa kami nikmati. Karena kemanapun kami melangkah, yang kami ingat tetap aja anak-anak. Bahkan saking kangennya ya sama anak-anak, semua makanan di Penang tak ada yang terasa lezat di lidah kami, even itu durian black thorn-nya πŸ˜….

Kami baru bisa makan agak enakan dikit setelah nemu middle-eastern restaurant. Itupun kayaknya faktor yang membuat kami bisa agak lega makannya bukan karena makanannya sendiri tapi karena baru sore tadi dokter memutuskan inang sudah bisa pulang keesokan harinya 😁.

O ya, jalan-jalan di Penang sebenarnya nyaman ya, karena kotanya tidak begitu besar dan terutama aman. Trus karena di sini waktunya WITA tapi alamnya WIB jadi bahkan di jam 7 malam pun masih sangat terang, bikin acara jalan-jalan bertambah nyaman. Cuma yang bikin was-was adalah karena di beberapa area kota ini, terutama di mana banyak pohon-pohon besarnya, terdapat sarang burung gagak yang jumlah kawanannya buanyak buangeeettt sampe jalan-jalannya dipenuhi kotoran burung πŸ˜…. Kuatir aja gitu pas lagi jalan di areal itu trus dapat kado dari langit berupa kotoran burung πŸ˜‚.

Berikut foto-foto kami selama jalan-jalan di kota ini. Fotonya tak begitu banyak dan ceritanya juga tak banyak. Memang semua jadi kurang seru kalau hati sudah memendam rindu buat anak-anak 😁.

Muka yang udah berharap bakal makan durian terlezat sedunia, tapi ternyata dasar hati penuh dengan rasa kangen, akhirnya rasa duriannya pun jadi biasa-biasa saja πŸ˜…
Kami berdua memang selalu saling melengkapi. Termasuk untuk urusan lesung pipit. Saya di kiri, dia di kanan πŸ˜„
Ketemu Optimus Prime…huwaaaa…langsung teringat si abang!
Si abang dan Optimus Prime, sama-sama dewasa dan reliable banget 😍
Ketemu Bumblebee…huwaaa….langsung keingetan si adek!
Si adek dan Bumblebee….sama-sama imut tapi strong 😍
Penang tuh katanya surga makanan, terutama chinese food, tapi sejujurnya selama di sana, tak ada satupun chinese food yang terasa enak di lidah kami πŸ™ˆ

Mo ketawa liat ini…wkwkwkwkwk
Kalo kata suami sih ini indomie pake daging babi 🀣
Chinese food gak ada yang enak di lidah, mari coba western food…errrr…sama aja sih ternyata, gak berasa enak juga! Memang bukan salah makanannya sih πŸ˜…

Street food ini yang lumayan terasa enak sih…ya iyalah, pas ini sorenya dokter baru ngasih ijin inang untuk pulang 😁

Middle-eastern food
Mulai enak makannya ya pak? 😁
Minumnya juga udah bisa dinikmati πŸ˜€

Habis jalan kami biasanya singgah dulu di rumah sakit buat ngecek inang dan biasanya kami baru balik ke hotel setelah lewat tengah malam alias setelah pintu depan rumah sakit udah digembok 🀣
Habis jalan kaki muter-muter kota dilanjut jalan kaki lagi menuju area rumah sakit sejauh 30 menit perjalanan, trus singgah rumah sakit sampe lewat tengah malam, baru kembali ke hotel….lumayan banget memang aktivitas begini membantu saya akhirnya bisa tidur πŸ˜…

Hari Jumat, tanggal 17 Januari, pagi-pagi benar…… Eh sebenarnya sih waktu itu sudah hampir jam 7 pagi, tapi karena jam 7 pagi di sana masih gelap kayak yang pukul setengah 6 pagi, jadi terasa seperti pagi-pagi benar 😁. Anyway, pagi itu kami pun melaju dari YMCA hotel menuju ke bandara untuk terbang kembali ke Medan. Tadinya ya kami berencana untuk kembali ke Palembang esok harinya, hari Sabtu, pake pesawat yang paling pagi. Tapi ternyata penerbangan yang pagi itu sudah terlanjur full, adanya yang siang yang jam tibanya di Palembang sekitar jam 2 siang. Suami yang mengerti banget betapa sudah saling rindunya saya dan anak-anak, akhirnya berupaya cari tiket yang bisa membawa kami tiba hari Jumat itu juga di Palembang. Puji Tuhan dapatlah penerbangan dengan rute Medan – Padang – Palembang. Terbang dari Medan jam 1 siang dan bakal tiba di Palembang sekitar jam 6 sore. Meski rutenya cukup jauh, tapi seenggaknya kami gak perlu nunggu sampe Sabtu siang untuk berkumpul dengan anak-anak.

bye, penang!

Puji Tuhan kami bisa tiba di Medan dengan lancar dan setelah mengurus imigrasi serta bagasi, kami sudah bisa berkumpul bersama eda serta amangbao yang datang untuk menjemput inang. Di situ kami sempat makan siang bersama sebelum kemudian saya dan suami naik pesawat lagi menuju ke Padang sementara inang diantar pulang ke rumah oleh eda dan amangbao saya.

Yang bahagia bisa pulang kembali ke tanah air 😁

Perjalanan kami sendiri terus berlanjut, dari Medan ke Padang, lalu dari Padang ke Palembang.

From Medan to Padang. Pesawatnya gedeee 😁

Hingga akhirnya sekitar jam setengah 7 malam kami tiba di rumah, tanpa anak-anak kami tau bahwa kami akan pulang pada malam itu juga. Karena itu, bisa dibayangkan betapa terkejutnya mereka begitu kami muncul dari garasi dan menyapa mereka berdua yang sedang bermain di depan TV. Langsunglah kami berpelukan lama sekali karena saking kangennya. Meskipun selama kami tidak ada, anak-anak bisa terurus dan bisa beraktivitas dengan baik (thanks to orang-orang yang sangat kami percaya di sini), namun tetap saja dalam hati mereka rindu banget dengan kehadiran orangtuanya. Si abang sampe bilang gini, “I don’t understand why the kids in movie always happy when their moms have to leave them at home for days, because now I’ve been there and I don’t like it. Everything sucks without you here, mama…..

Rindu serindu-rindunya

Awww abang….. Tetep ya, walau mama demen ngomel-ngomel, tapi kangen juga kalo berhari-hari gak denger omelan mama kan 😁.

Yah, begitulah pemirsa. Puji Tuhan perjalanan kami ke Penang bisa berjalan lancar dan juga menghasilkan hal yang baik buat kesehatan inang yang mana tentu saja doanya adalah dengan ini semua inang bisa terus semangat menjalani pengobatan dan tetap sukacita meski masih diijinkan Tuhan mengalami sakit. Puji Tuhan juga selama kami tinggalkan, anak-anak bisa dalam kondisi aman serta baik. Tuhan memang bertahta atas semuanya, termasuk juga memegang kendali atas hati orang-orang yang menjaga anak-anak kami di sini. Sekali lagi, puji Tuhan….

Sebagai penutup, sesuai janji, saya akan membagikan beberapa saran mengenai diet yang tepat serta sehat bagi pada pasien hemodialisa (cuci darah) agar supaya terapi cuci darah yang harus secara rutin dilakukan hingga bertahun-tahun itu tidak membuat tubuh pasien kehilangan semua nutrisi hingga membuatnya lemas dan seperti tak punya daya lagi.Β  Diet yang tepat akan membantu pasien untukΒ  tetap memiliki tenaga sekaligus menjaga kondisi ginjal yang sudah tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya itu. Saran dan tips ini saya dapatkan dari para ahlinya ketika berada di Penang dan sekembalinya dari Penang langsung berusaha diterapkan untuk inang. Harapannya dengan dibagi di sini semoga bisa membantu untuk para pasien cuci darah lainnya. O ya, saran diet ini hanya berlaku kalau pasiennya tidak memiliki komplikasi penyakit lainnya seperti jantung atau diabetes ya, kalau seperti itu mungkin saran dietnya akan berbeda lagi.

  1. Zat yang perlu dibatasi
    • Cairan, rekomendasi dari dokter untuk inang adalah 1000ml cairan per hari
    • Fosfor, seperti yang terdapat pada susu, keju, soda, serta kacang-kacangan
    • Kalium/potasium, seperti yang terdapat pada pisang, jeruk, tomat, kurma, kentang
    • Garam dan MSG. Bukan berarti garam harus dihindari sama sekali, tapi gunakan hanya sekedarnya saja untuk perasa
    • Zat-zat kimia pengawet yang terdapat pada makanan jadi/makanan olahan seperti sosis, ham, nugget, dan sebagainya
  2. Kebutuhan gizi harian
    • Karbohidrat yang bisa didapat misalnya dari nasi putih dengan porsi secukupnya yaitu sekitar 1/2 – 1 mangkuk nasi per sekali makan
    • Protein, sebanyak 9 porsi per hari yang dapat dibagi menjadi 3 porsi per sekali makan.

1 porsi ikan atau daging adalah seukuran kotak korek api, sementara 2 putih telur (hindari kuning telur) adalah setara dengan 1 porsi protein.

Mengkonsumsi protein yang cukup adalah sangat penting bagi pasien cuci darah karena pada saat proses hemodialisa berlangsung, di situlah protein banyak terbuang sehingga jika pasien kurang asupan protein maka akan menyebabkan pasien menjadi lemas selama proses berlangsung bahkan hingga berhari-hari setelah cuci darah selesai dilakukan.

Salah satu sumber protein yang baik bagi pasien cuci darah adalah ikan kakap putih. Ingat, karena 1 porsi hanya sebesar 1 kotak korek api, maka berikan ikan dengan ukuran yang cukup besar per sekali makan agar asupan proteinnya cukup ya. Nyemilin putih telur juga sangat disarankan bagi pasien cuci darah, apalagi buat yang sudah terlanjur sangat kurang asupan proteinnya.

Selain didapat dari hewani, sumber protein nabati lainnya yang baik dikonsumsi adalah barley yang bisa dibuat menjadi minuman. Selain itu ada juga suplemen protein lainnya yang dibuat menjadi seperti susu (seperti Nephrisol D) yang bisa dikonsumsi bila pasien tidak bisa mengkonsumsi protein dengan jumlah yang disarankan setiap harinya. Perlu diingat, bila mengkonsumsi protein dalam bentuk cairan seperti ini, maka berarti takaran konsumsi cairan (air putih) harian juga harus dikurangi menyesuaikan dengan takaran cairan protein yang dikonsumsi.

Sumber protein lainnya juga bisa berasal dari tahu dan tempe dengan takaran 1 porsi adalah kurang lebih 45 gram tahu/tempe.

    • Sayur-sayuran, kurang lebih 1 sendok sayur per sekali makan. Konsumsi serat dengan porsi cukup adalah baik bagi pasien cuci darah karena dapat membantu menghindari konstipasi.

Catatan penting untuk diingat, mengingat dalam sayur terdapat banyak kandungan mineral yang kurang baik bagi penderita gagal ginjal, maka semua sayur yang dikonsumsi harus dicuci dengan cara yang benar untuk membuang kandungan mineral yang harus dihindari. Cara mencucinya adalah dengan memotong-motong sayuran kemudian merendamnya dalam air hangat selama 1 jam, setelah itu air dibuang dan sayur pun siap diolah.

    • Buah-buahan, secukupnya saja sambil tetap mempertimbangkan jumlah cairan dalam buah-buahan yang dikonsumsi. Misalnya, jika memakan 1 potong buah semangka yang kandungnya airnya banyak, maka jumlah asupan cairan pada hari itu harus dikurangi sebanyak kurang lebih 50ml.

Ada satu tips yang kami dapatkan dari perawat di rumah sakit di Penang mengenai buah-buahan ini, terlebih khusus pisang. Pada dasarnya pisang memang tidak disarankan untuk dikonsumsi secara berlebihan karena kandungan potasium-nya yang tinggi. Namun, potasium yang terlalu rendah juga akan berakibat pada tubuh yang lemas. Pasien cuci darah rentan dengan kondisi potasium yang terlalu rendah karena pada saat proses cuci darah berlangsung, potasium adalah salah satu zat yang dibersihkan dari darah. Untuk menyiasatinya, sebelum cuci darah berikan pasien 1 buah pisang untuk menaikkan kadar potasium dalam darah sehingga ketika cuci darah selesai maka kadar potasium dalam tubuh pasien tidak berada di bawah standar sehingga membantu pasien memiliki energi yang cukup dalam tubuhnya.

    • Kalsium, zat ini juga sangat penting bagi pasien cuci darah agar selalu memiliki tenaga yang cukup. Untuk memenuhinya, pasien biasanya diberi suplemen kalsium berupa tablet dengan dosis 3×1 yang dikonsumsi bersamaan dengan makanan.

Demikianlah pemirsa yang bisa saya share mengenai diet untuk pasien gagal ginjal yang menjalani cuci darah. Semoga berguna bagi yang membutuhkan, namun apapun itu tetap lebih baik dikonsultasikan dengan dokter masing-masing yaaa… Salam sehat semuanya 😘

2 respons untuk β€˜Perjalanan ke Penang dan Tips Diet Untuk Pasien Cuci Darah’

Tinggalkan Balasan ke nyonyasepatu Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s