Knives Out, Kisah Tentang Topeng Kekayaan

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah acara keluarga besar dari pihak pak suami, saya diharuskan untuk berdandan, berkebaya, dan bersanggul. Setelah semuanya siap, sambil menunggu acara dimulai, saya berkumpul bersama beberapa saudara ipar, di situ saya kemudian dihampiri oleh salah seorang kerabat.

Tak hanya sekedar menghampiri dan menyapa, namun kerabat tersebut juga sekaligus menegur saya.

Persoalannya sederhana (setidaknya buat saya sih sederhana banget, saking sederhananya bisa dibilang sama sekali bukan persoalan πŸ˜†), yaitu cuma gara-gara saya gak pakai tusuk konde yang katanya wajib dipakai oleh kaum ibu bersanggul dalam acara adat yaitu tusuk konde emas gondang-gondang. Menurut kerabat tersebut, ‘kesalahan’ saya itu semakin nampak jelas karena semua eda-eda saya memakai tusuk konde seperti itu bahkan dengan ukuran yang termasuk besar, yaitu paling sedikit 7 gondang πŸ˜….

Saking prihatinnya kerabat tersebut dengan kondisi saya yang sanggulnya tak disertaiΒ  dengan keberadaan yang mulia tusuk konde gondang-gondang, beliau sampai dengan sukarela menawarkan salah satu tusuk konde gondang-gondangnya yang lagi gak dipakainya untuk saya pakai. Mendengar tawaran beliau, saya kemudian menjelaskan bahwa saya gak pakai tusuk konde itu bukan karena saya gak punya, saya punya dan bahkan saya bawa juga ke Medan, tapi saya gak mau pakai karena berat, saya gak suka dan gak nyaman pakainya. Cukup sekali saya pakai tusuk konde itu yaitu saat pesta adat pernikahan kami and it costed me a heavy migraine throughout the ceremony.

Mendengar penjelasan saya itu, kerabat tersebut seperti tidak terima (mungkin karena dipikirnya saya cuma berasalan saja dan aslinya sebenarnya saya gak punya tusuk konde gondang-gondang begitu…issshhhh….. sebel…hahahahaha). Beliau bilang ke saya, kalau saya harus bisa menanggung yang berat-berat dikit serta harus bersabar memakai sesuatu meski saya gak suka karena bagaimanapun dalam lingkungan adat ini orang masih melihat keberadaan tusuk konde gondang-gondang itu sebagai penanda status (ini kayaknya termasuk status kekayaan πŸ˜…). Menurut beliau, apalagi semua eda saya memakai yang paling sedikit 7 gondang, maka benar-benar gak pantas jika justru saya gak pakai sama sekali.

Duh!

Kerabat tersebut dengan berkeras kemudian mengambil tusuk konde gondang-gondangnya dan menyuruh saya duduk di kursi terdekat supaya dia bisa menusukkan tusuk konde miliknya tersebut ke sanggul di belakang kepala saya.

Again…. Duh!

*****

Kejadian di atas itu mengingatkan saya pada film Knives Out yang saya tonton sekitar sebulan yang lalu bersama pak suami. Waktu itu hari Jumat malam, menjelang midnight, waktunya untuk kami berdua nge-date 😘. Tadinya saya pengen ajak suami nonton film Last Christmas, tapi karena waktu tayangnya gak terkejar lagi, akhirnya kami beralih ke Knives Out ini meski sebenarnya kami had no clue apakah film ini bagus ato gak, tapi ngeliat yang main Daniel Craig sih, dalam hati sudah cukup yakin lah kalo ini bukan film sembarangan.

Dan ternyata yaaa feeling kami terbukti benar. Film ini sumpah, keren banget! 😍

Film ini adalah film bertipe whodunnit namun mencampurkan misteri, humor, sekaligus sindiran sosial dengan sangat cerdas. Beneran deh, buat yang belum nonton film ini mending buruan cari trus tonton, kalo gak nonton bisa nyesel lho…hehehehe…

Di sini saya gak mau cerita soal plot atau bahkan ngasih review soal film ini ya, karena kalau pengen tau soal gimana jalan cerita serta review orang-orang, bisa tinggal googling saja, sudah banyak yang share.

Yang mau saya soroti di sini (ciyeee…soroti, macam yang serius banget saja 🀣) adalah salah satu pesan moral dari film ini yaitu tentang topeng kekayaan (dan kesuksesan juga kayaknya). Film ini berfokus pada satu keluarga yang kaya raya di mana semua anggota keluarganya dari luar terlihat sukses serta tentu saja pada kaya-kaya. Tapi ternyata, yang terlihat dari luar adalah tidak sebagaimana aslinya. Pada kenyataannya, semua anggota keluarga yang terlihat sukses dan kaya tersebut adalah losers (dengan cara serta gayanya masing-masing) yang pada dasarnya tidak mampu berdiri sendiri tanpa sokongan dari orangtua dan karena itu masih pada ngarepin dan bahkan ngerebutin warisan dari orangtua.

Duh! πŸ˜…

Kalau masing-masing bisa sukses dan kaya dengan usaha sendiri harusnya kan gak perlu lagi yak ngarepin warisan dari orangtua, apalagi kalau sampe harus berantem sama saudara sedarah gara-gara warisan. Kelihatannya saja pada baik-baik, aslinya mah saling sikut juga supaya bisa tetep ‘kaya’.

Miris.

Film ini lagi-lagi memberi contoh bahwa apa yang sebenarnya terjadi tidak selamanya sebaik yang terlihat dari luar.

Termasuk, dan apalagi kalau itu hanya menyangkut kekayaan.

Orang kaya raya, even itu yang old money, bukan berarti sudah yang berbahagia sepanjang hayat.

Begitu juga orang yang terlihat sukses, belum tentu memang benar-benar sukses atas perjuangan sendiri dan dengan cara yang jujur sebagaimana yang terlihat atau diceritakan dari/ke luar.

Dan bukan hanya itu, hari gini makin banyak orang yang bertopeng seolah-olah kaya, padahal aslinya jauh dari itu. Masih mending kalo ternyata gak yang sebenarnya hidup dengan hutang di sana-sini.

Saya kenal baik dengan orang yang hobi pakai perhiasan berlian yang gede-gede bangetΒ  yang sekali pakai perhiasannya gak hanya sebiji, tapi beberapa biji sekaligus. Tas yang ditenteng harus yang branded. Mobil pun dicari yang harganya termasuk mahal untuk mobil sekelas itu. Tapiiii…..giliran masuk rumah sakit, dia bahkan perlu berhutang sama orang lain demi bisa bayar biaya opname dan bisa diijinkan keluar dari rumah sakit. Padahal kalau dipikir-pikir, satu harga cincin berliannya saja sudah lebih dari cukup untuk menutupi biaya rumah sakit itu. Parahnya lagi, sampai sekarang utangnya belum dibalikin dan yang bersangkutan tak pernah punya rasa tak enak berparade dengan segala perhiasannya itu di depan orang yang dia utangi πŸ™ˆ.

Orang lain yang gak kenal dan hanya tahu dia dari luar pasti berpikir kalau orang ini lumayan berduit. Apalah itu tusuk konde gondang-gondang buat dia, mungkin bahkan punya beberapa biji di mana masing-masing memiliki jumlah gondang sampai belasan 🀣. Tapi, buat orang yang sudah kenal (apalagi kalau yang sudah pernah dihutangi), tau persis bahwa itu semua hanyalah topeng. Aslinya dia hidup dengan hutang di sana-sini yang sudah tak mampu lagi dia lunasi, bahkan pernah sampai nekad membawa lari uang orangtua senilai ratusan juta rupiah, dan itu dia lakukan tanpa rasa bersalah lagi. Duh uang. Memang kalau sudah sangat cinta uang, mata hati bisa menjadi benar-benar buta 😣.

Sama seperti di Knives Out, pelakunya juga bisa sampai kalap seperti itu akibatnya ya karena saking cintanya sama duit. Begitu juga dengan anggota keluarga lain yang meski tidak terlibat, namun tetap saja di balik topeng kekayaaan dan kesuksesan yang mereka pakai, tersimpan banyak borok.

Karena itu benarlah kata Amsal Salomo,

Lebih baik menjadi orang kecil, tetapi bekerja untuk diri sendiri, dari pada berlagak orang besar, tetapi kekurangan makan. (Amsal 12:9)

Hidup itu, apa adanya saja. Tak usah berlagak menjadi lebih dari apa yang sebenarnya kita mampu. Lagipula kalau mo dipikir-pikir, berlagak kaya itu mau sampai di mana sih? Sekaya apapun yang kita tampilkan, masih tetap ada lagi yang lebih kaya dari itu. Belum lagi kalau mau mikir sebenarnya malu berlagak kaya di depan orang yang beneran kaya πŸ˜…. Kalau butuh dan mampu, maka silakan lanjut. Kalau tidak butuh namun mampu, ya sudah sih terserah….hahahaha…walau kalau saya akan memilih untuk say no. Nah apalagi kalau yang cuma pengen trus gak mampu lagi…haduh, mending tahan dirilah daripada harus ngutang 😁.

Bagaimana bisa seperti itu? Kuncinya adalah seperti yang dibilang dalam Alkitab,

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5)

*****

Kembali lagi ke peristiwa antara saya dan tusuk konde gondang-gondang itu.

Setelah saya didesak untuk duduk dan menerima hujaman tusuk konde ke sanggul saya, sejujurnya saya sempat berpikir untuk mengalah.

Namun begitu tusuk konde itu masuk lebih dari setengah ke dalam sanggul saya, di situ saya kembali teringat betapa saya tidak suka dengan tusuk konde yang seperti ini. Beratnya itu saya gak bisa tahan. Dan mending kalau yang perlu saya lakukan adalah bersabar menahan beratnya, namun ini, jika saya terus memakai tusuk konde itu maka saya juga akan terpaksa menahan migrain di sepanjang acara. Yupe, memakai asesoris yang berat di kepala itu bisa memicu migrain saya. Pakai topi yang agak berat aja migrain saya bisa kambuh, apalagi kalau tusuk konde emas dengan berat sekian gram itu. Duh, no way-lah. Saya gak akan menukar kenyamanan dan kesehatan saya only for the sake of rasa gak enak sama orang yang dengan “sukarela” menolong menyelamatkan saya dari rasa malu karena gak memakai tusuk konde gondang-gondang seperti eda-eda saya.

Kesadaran itu membuat saya akhirnya kembali berani untuk menolak. Sekali lagi saya menegaskan ke kerabat itu, kalau saya mau pakai maka saya bisa pakai tusuk konde saya sendiri. Tapi kalau sekarang saya gak pakai, itu karena memang tidak mau mengingat tusuk konde itu gak nyaman buat saya dan bisa bikin migrain saya kambuh.

Tusuk konde yang sudah hampir tertancap dengan sempurna itu pun saya cabut dan saya serahkan kembali kepada pemiliknya.

Puji Tuhan, kali ini kerabat tersebut akhirnya mengalah apalagi karena suami juga sudah ikut ada di situ. My knight in shining armor had come to the rescue, but since I am not a damsel in distress so of course I could rescue myself even before he came πŸ˜„.

Meski sudah mengalah, namun tampak benar kalau kerabat tersebut masih sangat mengkhawatirkan pandangan orang ke saya yang mana tanpa tusuk konde itu, kemungkinan saya akan dinilai lebih rendah daripada eda-eda saya. Hah, like I care! Saya menghargai kepeduliannya yang berarti beliau sayang dengan kami, tapi sungguh dalam kondisi ini saya tidak memerlukannya. Terserah mau orang bilang saya tak mampu atau bahkan suami saya dinilai tidak bisa memberikan harta untuk saya. Saya tidak peduli. Yang penting kami pribadi tau bagaimana keadaannya dan toh kami juga masih cukup percaya diri dengan keberadaan diri kami (termasuk apa yang terlihat) meski kami tampil dengan apa yang nyaman untuk kami πŸ˜‰. We don’t need jewelries to make us look dazzling, jadi kalau pun pakai, maka itu karena ingin, mampu, dan karena nyaman memakainya πŸ™‚.

Puji Tuhan, tanpa tusuk konde gondang-gondang itu tertancap di kepala, saya pun bisa menikmati acara pesta dari pagi hingga larut malam itu dengan rasa nyaman, jauh dari kepusingan akibat migrain 😘.

Ini jelas bukan foto waktu pesta itu ya, ini mah foto mirror selfie iseng aja yang sebenarnya tak ada hubungannya dengan tulisan ini. Foto ini saya tampilkan di sini cuma dalam rangka pengen bilang, bahwa sesederhana apapun penampilan saya (even with all the flaws that I have here and there), namun puji Tuhan, I’m always confident enough with everything that’s in me….

Selamat hari Senin, pemirsa!

 

11 respons untuk β€˜Knives Out, Kisah Tentang Topeng Kekayaan’

  1. Ah, suka banget ma posting ini <3<3<3 Apalagi bagian "since I am not a damsel in distress so of course I could rescue myself" dan bagian "We don’t need jewelries to make us look dazzling" Setuju 3000 kali πŸ™‚ Soalnya itu prinsip saya juga πŸ™‚

  2. eh gondang berat toh? aku ga pake pas kawinan, apalagi ga di adatin. tp pas inang simatua meninggal, terpaksa keluarin juga koleksi emas2 krn ada acara adat. ahahahaha…ga bisa menghindar

Tinggalkan Balasan ke Allisa Yustica Krones Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s