Christmas 2019: The New Year’s Story

Natal dan Tahun Baru adalah dua event yang sebenarnya berbeda tapi selalu menjadi satu paket, apalagi buat kami yang merayakan Natal, hingga tak heran kalau cerita liburan Tahun Baru selalu menyatu dengan cerita liburan Natal.

Begitu juga untuk liburan tahun ini.

Seperti yang saya cerita sebelumnya, hari terakhir di tahun 2019 kami habiskan dengan mengajak anak-anak main di KidZania. Pulang ke apartemen sudah lumayan larut, kami pun segera mandi lalu bersiap untuk ibadah keluarga dalam rangka tutup tahun sekaligus menyambut tahun yang baru. Berkat Tuhan di sepanjang tahun 2019 itu ada banyak sekali untuk disyukuri. Saking banyaknya, sampe gak terucap lagi satu per satu. Kami masih bisa bersama-sama dalam keadaan sehat menyembah Tuhan di malam itu saja sudah merupakan anugerah surgawi yang tak ternilai rasanya πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ.

Selesai ibadah, we still waited for the clock to strikes midnight and then said happy new year to each other. Setelah itu kami tidur. Di kejauhan, kembang api semakin sayup terdengar seiring hujan yang semakin deras. Hujannya agak-agak mengkhawatirkan karena jauh lebih deras daripada hujan-hujan sebelumnya selama kami berada di sini. Malam itu kami tidur dengan harapan esok pagi hujan sudah berhenti sehingga kami bisa lebih leluasa untuk pergi ibadah ke Gereja.

Tapi kehendak Tuhan ternyata berbeda dengan harapan kami.

Sekitar jam 5 subuh saya dan suami bangun, kami mendapati kalau hujan masih turun dengan cukup deras.

Saat itu sudah mulai terbit kekhawatiran, “Duh, dengan hujan kayak gini, jangan-jangan jalan menuju ke gereja terhalang banjir lagi….”

Sempat kami berdua terpikir untuk gak usah dulu membangunkan anak-anak dan batal saja ke gereja. Tapi kemudian pikiran itu kami tepis dan aktivitas pun kami lanjutkan. Saya nyiapin sarapan sementara suami bangunin anak-anak.

Selagi anak-anak sarapan, saya pun bersiap untuk mandi. Dan belum sampai 5 menit di kamar mandi, tiba-tiba kondisi semua gelap gulita.

My God, listriknya padam!

Sekitar semenit kemudian, satu unit lampu di ruang tengah menyala, rupanya genset apartemen sudah dinyalakan. Tapi karena pakai genset, maka hanya satu unit lampu saja yang bisa menyala.

Trus apa kabar saya yang lagi mandi? Kalau lampu kamar mandi saja gak bisa nyala, maka apa kabar dengan water heater-nya?? Itu artinya saya harus mandi pake air dingin di pagi yang dingin di tengah cuaca yang lagi dingin juga doongg…. Huhuhuhu…. Tapi yah sudahlah, demi bisa ke gereja, mandi air dingin pun saya jalani, meski begitu selesai mandi saya langsung gemetaranΒ  saking kedinginannya πŸ˜….

Untuk anak-anak sendiri kami putuskan untuk mandi sekedar saja. Yang paling penting gosok gigi dan cuci muka. Toh mereka semalam juga mandinya udah telat banget, jadi hitungannya masih bersih lah…hehehe…

Ibadah di gereja dijadwalkan pada pukul 09.30.

Sekitar pukul 07.00, kami dapat kabar kalau sudah banyak daerah di Jakarta yang terkena banjir. Hal ini bikin kami tambah was-was dan benar-benar bikin kami berpikir ulang untuk yang kesekian kalinya untuk pergi ke Gereja.

Namun lagi-lagi keraguan itu kami tepis. Sekitar jam 8 pagi, kami pun berangkat ke arah Mangga Besar.

Melewati Jl. Pakubuwono, kami berhadapan dengan genangan air yang cukup tinggi namun puji Tuhan masih bisa terlewati dengan lancar (ini ada di story highlight di IG saya). Setelahnya kami gak ada bertemu dengan genangan air lagi sampai kami tiba di gedung GKY Mangga Besar.

Puji Tuhan….puji Tuhan banget….

Buat kami ini anugerah yang sangat besar lho. Meski terlihat sederhana, tapi dengan Tuhan memenuhi kerinduan kami untuk mengawali tahun yang baru ini dengan beribadah di gereja, bagi kami itu adalah berkat yang sangat luar biasa.

Sekali lagi puji Tuhan…

Bersyukur juga karena meski waktu kami tiba di situ suasana di gereja sudah ramai,Β  namun kami masih dapat tempat parkir di gedung parkirannya dan terutama di dalam gedung ibadahnya sendiri masih banyak kursi yang belum terisi sehingga kami masih bisa mendapat lokasi duduk yang strategis, nyaman, serta terutama bisa bareng-bareng dalam satu bangku. Buat yang Kristiani pasti ngerti ya, kalau sering kali susah mendapat tempat duduk yang bisa bareng-bareng sebangku atau sejejeran saat ibadah di hari raya, apalagi kalau ibadahnya gabungan begini. Kebayang lah ya, GKY di Jakarta dan sekitarnya tuh ada berapa cabang, dan setiap cabang ada berapa banyak jumlah jemaatnya, trus semuanya digabung di satu gedung gereja ini. Luar biasa banget kan πŸ˜….

Tak lama setelah kami duduk, ibadah pun dimulai. Tema untuk ibadah pertama di tahun 2020 ini adalah berjalan dengan tuntunan hikmat Tuhan.

Puji Tuhan, ibadah yang juga dirangkaikan dengan perjamuan kudus itu berlangsung khidmat serta lancar. Si abang dan si adek juga selama ibadah berlangsung bisa duduk diam dan tenang (sambil sesekali nyemilin roti yang dibawa dari apartemen 😁).

Denger khotbah sampe segininya 😁

Sekitar jam 11 siang, ibadah pun selesai. Sebelum beranjak dari gereja, kami foto-foto dulu dong yaaa…. Gak setiap minggu bisa beribadah di gedung pusat ini, jadi kudu diabadikan 😁.

Dari gereja, kami pun menuju ke Green Pramuka Square buat nyari makan siang sekalian nyari kue buat dibawa ke rumah Tulang pak suami yang paling tua.

Iyes, perjalanan kami di tengah kondisi Jakarta yang lagi diserang banjir itu belum berakhir dengan pergi ke gereja saja.

Puji Tuhan, lagi-lagi perjalanan kami dari gereja menuju ke Green Pramuka Square terhitung lancar. Hal yang sama juga terjadi ketika kami jalan dari mall itu menuju rumah Tulang pak suami (alias bapak tua saya) yang terletak di Rawasari.

Buat pak suami, mereka adalah Tulang dan Nantulang. Buat saya, mereka adalah Bapak Tua dan Inang Tua yang juga bisa saya panggil dengan sebutan Amang dan Inang. Sementara bagi anak-anak, mereka adalah Opung Doli dan Opung Boru.

Kami berada di Rawasari sampai hampir pukul 5 sore, setelahnya kami pun beranjak, kali ini menuju ke Gandaria City πŸ˜….

Udah tau lagi pada banjir yaaaa….bukannya langsung menuju apartemen, malah pake acara singgah mall lagi πŸ˜†.

Bandel banget memang.

Puji Tuhan sepanjang perjalanan juga Tuhan tolong sehingga kami gak ada sedikitpun melewati banjir. Jangankan banjir, genangan air saja gak ada kami lewatin, meskipun beberapa kali pas mo naik tol kami ngeliat jalanan di bagian bawahnya yang terkena banjir sampai menyerupai sungai πŸ˜₯.

Di belakang anak-anak di foto di atas itu adalah VW Beetle tahun 1953 yang di-reformed hingga berbentuk sphere kayak gitu. Sejujurnya saya heran dengan apa maksud reformasi ini, apa gak sayang tuh mobil antik diutak-atik sedemikian rupa hingga hilang sudah fungsi dan bentuk aslinya kayak gitu? Pun ketika sudah baca penjelasannya, tetep saja saya gak ngerti maksud dan tujuannya apa….hahahahaha….maklumlah, sense of art saya memang bisa dibilang hampir gak ada πŸ˜….

O ya, tujuan utama ke Gancit ini adalah untuk makan malam dan kami memilih tempat di Kitchenette.

Di sini makanannya enak-enak yaaa. Minumannya juga. Trus yang saya seneng di sini juga mereka menyajikan salmon yang enak, walau disajikannya dengan quinoa sih. Berhubung si adek gak mungkin mau makan quinoa, maka kami pun nambah pesanan nasi putih buat dia untuk dimakan bareng si salmon panggang. Quinoa-nya buat mamanya aja 😁.

Si penikmat salmon tingkat tinggi πŸ˜…
Boneless fried chicken with crushed potato
Baked Truffle Macaroni
Brisket and Egg
Berry Nice
Healthy Belly

Kelar makan, kami masih puter-puter di mall itu sebelum kemudian memutuskan untuk pulang.

Kabar soal banjir masih ada di mana-mana, namun puji Tuhan lagi-lagi kami masih bisa tiba di apartemen tanpa melewati daerah genangan air sedikit pun. Setibanya di gerbang apartemen barulah kami tau kalau jalan dari arah yang berlawanan dengan arah kami datang tadi ternyata sudah ditutup karena ketinggian air yang sudah tidak memungkinkan untuk kendaraan lewat. Wow…puji Tuhan banget karena kami tidak memilih jalur pulang dari arah situ.

Hari pertama di tahun 2020 dan kami sudah menerima anugerah yang sangat besar. Bukan berarti saya bilang kalau yang kena banjir gak dapat anugerah ya, karena bentuk anugerah yang Tuhan berikan bagi tiap orang itu berbeda-beda. Bagi keluarga kecil kami anugerahnya pada hari itu adalah kami tidak terdampak banjir sama sekali hingga bisa beraktivitas dengan lancar. Bagi keluarga lain, anugerahnya adalah meski rumah kebanjiran namun semua anggota keluarga selamat dan dalam keadaan baik. Bagi keluarga lain lagi, anugerahnya adalah ketika harus mengalami kedukaan di mana ada anggota keluarga yang menjadi korban akibat banjir, namun ada kekuatan tersendiri yang diberikan oleh Tuhan hingga sanggup menerima rasa duka itu. Sekali lagi, bentuk anugerah itu berbeda-beda dan mensyukuri anugerah yang kita terima bukan berarti tidak prihatin dengan kondisi orang lain. Kami sangat prihatin buat orang yang terkena banjir (keluarga saya juga ada yang kena) dan saya bisa membayangkan kerepotan, kerugian, bahkan kesedihan yang dialami. Saya hanya bisa berdoa semoga semua yang terdampak banjir kemarin pada akhirnya bisa menemukan hikmah di balik peristiwa yang Tuhan ijinkan terjadi itu.

Malam itu, setiba di apartemen listrik ternyata sudah menyala. Kami pun bisa mandi dan kemudian tidur dengan nyaman.

Esok harinya, tanggal 2 Januari, kami mendapat kunjungan yang sangat menyenangkan dari dua sahabat lama saya, Dini dan Dania 😍. Mereka berdua dulunya adalah staf saya yang kemudian sudah pindah ke kantor pusat di Jakarta. Sudah lama banget gak ketemu sama mereka. Dengan Dini sudah hampir dua tahun. Sementara dengan Dania sudah lebih dari 5 tahun! Gak heran kalau bahkan si abang yang dulunya sangat dekat dengan Dania, sekarang udah bener-bener lupa dengan tante Dania-nya. Kalau si adek sih jangan ditanya. Terakhir ketemu Dania mah dia usianya masih dua bulan 🀣.

Karena mereka datangnya pas makan siang, maka saya ajaklah untuk makan di salah satu restoran di gedung apartemen ini.

Teman rasa saudara di perantauan 😘
Kangen kalian banget!

Kelar makan, kami pun masih lanjut nongkrong dan ngobrol panjang serta sangat lama di unit apartemen kami. Asli lah ya kalo udah ngumpul gini waktu berlalu bener-bener gak kerasa. Rasanya belum puas ngobrol sama mereka berdua ini πŸ˜….

Puji Tuhan banget rasanya bisa ngumpul dengan mereka berdua ini meski hanya beberapa jam saja. Maklumlah mereka ngantor, jadi waktu mereka terbatas. Thanks yaaa Dania, thanks yaaa Dini, sudah mau nyamperin kami di sini. Kapan-kapan kita ketemuan lagi yaaa!!

Trus ternyata yaaa pemirsa, sukacita saya di tahun baru ini gak hanya berhenti di situ saja.

Tak lama setelah saya update soal pertemuan dengan Dania dan Dini ini di story, salah satu teman SMA saya yang terakhir ketemu waktu SMA tiba-tiba nge-DM nanyain lokasi saya. Karena sebelum dia ngeliat story saya yang ketemuan itu, dia sudah sempat curiga waktu lihat story saya sebelumnya yang isinya si abang lagi masak di dapur apartemen. Curiga karena interior apartemen di story saya itu mirip banget dengan interior apartemennya. Kecurigaannya tambah diperkuat ketika dia ngeliat story yang ketemuan bersama Dania serta Dini di resto di bawah itu yang mana interior resto itu persis sama dengan interior resto di gedung apartemennya πŸ˜…. Dan yap, bener aja, kami ternyata tetangga satu gedung apartemen hanya beda tower saja. Kami di North, dia di South. Oalaaahh….surprised bangeeeett!!!

Siapa yang nyangka gitu ya, dua gadis lulusan SMA di Manado yang begitu kuliah udah langsung pisah jalan dan gak pernah ketemu lagi (kecuali ketemu di FB sih πŸ˜›) ternyataΒ  setelah hampir dua puluh tahun kemudian malah tetanggaan di perantauan πŸ˜…. Tuh kan, ada gunanya kaaann rajin-rajin update di medsos. Coba kalo saya gak update, batal deh ketemuan sama teman lama πŸ˜„. Berhubung kami sudah sangat saling kangen, maka langsunglah kami ketemuan di Kopi Janji Jiwa di bawah. Di situ kami ngobrol panjaaangg…dan lama sekali πŸ˜….

Puji Tuhan ya, tahun baru kami dilewati dengan cerita-cerita yang bahagia. Benar-benar bersyukur rasanya.

Esok harinya, tanggal 3 Januari adalah hari terakhir liburan kami di Jakarta. Pagi sampai sore suami masih ngantor, malamya kami kemudian terbang pulang ke Palembang.

Natal berlalu, tahun baru lewat, dan liburan pun usai. Semuanya menyisakan cerita bahagia untuk didokumentasikan di blog ini dan tulisan ini adalah dokumentasi terakhir untuk seri Christmas 2019. Puji Tuhan, pencapaian tersendiri untuk saya karena sudah beberapa tahun terakhir saya tak sempat mendokumentasikan dengan komplit liburan Natal dan Tahun Baru kami di blog ini. Semoga, keberhasilan ini menjadi awal yang baik untuk tahun ini saya lebih rajin lagi bercerita di blog ini.

Terakhir, meski Januari sudah hampir lewat, namun saya masih tetap ingin mengucapkan Selamat Tahun Baru 2020 untuk semua orang yang membaca blog saya ini, kiranya semua pemirsa terus diberkati lewat blog ini 😘.

2 respons untuk β€˜Christmas 2019: The New Year’s Story’

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s