Christmas 2019: The Wedding

Alasan utama kenapa tahun ini kami kembali merayakan Natal di Sumatera Utara adalah karena pernikahan adik ipar saya yang paling bungsu diselenggarakan beberapa hari menjelang Natal, yaitu di hari Sabtu, tanggal 21 Desember.

Seperti biasa, dokumentasinya akan ditulis secara terperinci, panjang, dan tentu saja lengkap dengan puluhan foto 🤣. Tapi tenang saja, semua fotonya berukuran file sangat kecil kok, jadi gak akan lah memakan bandwidth pemirsa 😁. Trus seperti biasa juga, berhubung yang mo diceritain banyak, maka isinya saya bagi per segmen. Dengan dibagi per segmen, selain yang baca gak capek, yang nulis juga gak bingung sendiri arah nulisnya 😆.

H-1

Sehari sebelum hari H, yaitu tanggal 20 adalah hari yang sangat penting dalam persiapan untuk pernikahan keesokan harinya.

Kenapa?

Karena di hari itu adalah jadwal inang simatua (mama mertua) saya untuk hemodialisa. Kelancaran hemodialisa ini penting karena kalau sampe gak lancar maka inang hampir bisa dipastikan tak akan sanggup mengikuti prosesi pernikahan esok harinya. Kan sedih banget ya kalau sampe gak bisa ngikutin prosesi pernikahan anak sendiri, apalagi ini adalah pernikahan terakhir dalam keluarga berhubung yang menikah ini adalah anaknya yang bungsu. Inang memang sudah dua tahun lebih menjalani hemodialisa, rutin seminggu dua kali. Melelahkan dan menyakitkan banget sebenarnya buat inang, tapi semangatnya untuk bertahan hidup demi melihat anak-anak dan cucu-cucu itu besar sekali, jadi meski melelahkan tapi inang tak pernah mau menyerah.

Karena saat itu kami sudah berada di Medan, maka kamilah yang menemani inang selama proses hemodialisa di rumah sakit. Berangkat dari pagi-pagi banget supaya prosesnya bisa selesai sehabis makan siang (hemodialisa berlangsung selama 5 jam). Anak-anak juga kami angkut.

Yang dikerjakan oleh anak-anak selagi menunggu opungnya cuci darah apa?

Oh tentu saja mereka melakukan hal yang sangat bermanfaat sambil menunggu. Bisa baca buku, bisa bikin project di laptop, dan tentu saja bisa…

Ngerjain PR Kumon!

🤣🤣🤣🤣

Karena anak-anak di bawah usia 10 tahun tidak diijinkan masuk ke dalam ruang hemodialisa, maka mereka berdua menunggu dalam mobil ditemani Jeffry. Sesekali saya dan suami nengok mereka, terutama di jam sarapan dan makan siang.

Puji Tuhan, proses hemodialisa inang berjalan sangat lancar dari awal sampai selesai. Selama proses berlangsung, beliau kami temani ngobrol sambil sesekali saya suapin kue serta makan siang saat sudah jamnya makan siang.

O ya, hari itu inang juga dapat kunjungan kejutan dari ito (saudara kandung laki-laki) dan eda (istri dari ito) inang yang tengah datang dari Jakarta dalam rangka menghadiri acara pernikahan esok harinya itu. Ito dan eda dari inang ini dipanggil oleh suami dengan sebutan tulang dan nantulang, sementara saya memanggil mereka dengan sebutan bapak tua dan inang tua atau bisa juga dengan sebutan amang dan inang. Bingung? Hahahaha…. Kalau saya sih sudah gak pernah bingung lagi dengan panggilan dalam adat Batak ini. Ya iyalah, sudah 11 tahun jadi boru Batak, keterlaluan kalo gak paham-paham juga soal martarombo 😁.

Puji Tuhan, senang sekali mereka bisa datang berkunjung. Apalagi ini adalah untuk yang pertama kalinya bapak tua melihat langsung adik perempuannya selagi cuci darah begini. O ya, itu inang tua saya (alias nantulang-nya suami), stage 4 breast cancer survivor, lho! Kesaksian hidupnya luar biasa banget, bisa terpana kalau mendengar bagaimana perjuangan yang beliau jalani serta mujizat Tuhan yang kemudian beliau alami.

Mendekati jam makan siang, suami ngajak bapak tua dan inang tua bersama si abang dan si adek makan di luar, sementara saya nemenin inang sambil nyuapin inang makan siang.

Selesai inang hemodialisa dan setelah dipastikan kalau tidak terjadi pendarahan di bekas suntikan jarum cuci darah (ini ukuran jarumnya besar lho, ngilu saya setiap ngeliat proses masuk dan keluarnya), kami pun pulang ke rumah dan tak berapa lama kami bersiap untuk menuju hotel tempat resepsi esok hari diselenggarakan. Rencananya kami akan menginap di hotel tersebut selama dua malam.

Grand Aston City Hall Hotel Medan

Hotel ini adalah pilihan adik ipar saya untuk penyelenggaraan resepsi pernikahannya dan supaya gak terlalu capek nantinya kami pun memilih menginap di hotel ini. Kamar yang kami booking tadinya adalah yang bertipe Junior Suite. Book-nya dari Traveloka dan di situ tak ada keterangan jenis khusus kamar ini. Begitu check in barulah kami tau kalau ternyata semua tipe kamar bertipe Junior Suite adalah smoking room 🤪. Kalau ngikut saya, ya bakal pasrah-pasrah aja, paling cuma minta supaya kamarnya disemprot air freshener banyak-banyak biar gak bau rokok banget. Beruntung, suami orangnya gak kayak saya. Yang kayak gini mah mana bisa dia pasrah, tentu saja harus dia komplain dengan dasar alasan saat kami book kamar itu, tak ada keterangan kalau kamar ini adalah smoking room. Hasil dari komplain suami itu adalah kami kemudian dipindahkan ke tipe kamar lain yang jenisnya non smoking room, yaitu Aston Spa.

Begitu kami masuk ke kamar, langsung rasanya yang…. Wowwww, kamar ini beda banget dari kamar hotel biasanya! Kenapa beda? Karena interiornya bertema Japanese, lengkap dengan kursi lantai dan dipan-less tempat tidurnya 😁. Ngeliat interior kamar hotel yang beda gini tentu saja saya langsung semangat foto-foto. Sayang, anak-anak, terutama si adek mana pernah mau membiarkan saya foto-foto tanpa diusilin oleh dia, alhasil di hampir setiap foto kamar ini ada penampakan si adek 😅.

Dari pintu masuknya sebenarnya ada selasar pendek berlantai keramik di mana pada sisi kiri terdapat lemari dan sisi kanan pintu ke kamar mandi. Dari selasar itu ada tangga kecil sebanyak dua anak tangga menuju ke area berlantai kayu ini.

Bener-bener kaaan kelakuan anak ini 😅.

O ya, sebenarnya itu jendelanya juga berdesain ala-ala Jepang lho, sayang saja gak kefoto lagi karena waktu itu sudah malam jadi tirainya sudah diturunin.

Trus gak cuma sampai di interior kamarnya saja, tapi kamar mandinya juga ikut bernuansa Jepang 😍.

Kamar mandinya berdinding kaca yang dilengkapi dengan bamboo curtain. Ukurannya luas dan terbagi dari tiga bagian: wash basin, toilet, dan jacuzzi pool! Mantaapp!! 😍

Jacuzzi pool area 😍

Ngeliat kamar mandi yang modelnya unik begini, saya pun jadi terpikir untuk mirror selfie. Maka sambil berdiri di area jacuzzi pool ini, saya pun mengambil selfie lewat cermin di area wash basin.

Eh, begitu cekrek, saya baru sadar kalau ternyata ada si abang di belakang saya.

Failed #1

Saya suruhlah dia untuk geser atau kalau perlu keluar dulu dari kamar mandi supaya saya bebas foto-foto sendirian. Eh, alih-alih beranjak dari situ, dia malah nempel ke saya, minta difoto bareng.

Failed #2

Gara-gara denger si abang nyebut-nyebut soal foto bareng, si adek yang lagi di luar, buru-buru masuk kamar mandi dan tentu saja tak mau ketinggalan untuk foto bareng 😅.

Failed #3

Terakhir, gak cukup anak-anak yang gangguin mamanya selfie, pak suami pun ternyata gak mau kalah, dengan tiba-tiba dia ngintip dari pintu kamar mandi bertepatan saat saya cekrek, hingga akhirnya dia pun ikutan masuk ke dalam frame 🙈.

Failed #4

Ampun lah kelakukan tiga cowok ini 😅. Akhirnya ya sudah, saya pun menyerah. Memang gak akan sukses saya selfie kalo ada tiga orang ini karena sudah jadi bawaan mereka memang untuk ngusilin saya, mentang-mentang saya sendirian di rumah gak ada sekutunya 😆.

The Make Up and Hair Do: @colorsoftwentytwo

Terlepas dari kebahagiaan kami dalam menyambut hari pernikahan adik ipar saya, sebenarnya begitu tiba di Medan, ada satu persoalan penting yang kami hadapi.

Persoalan penting itu adalah soal, make up and hair do!

😁😁😁😁

Penting banget kaaann??

Ya iyaaa dong penting, karena ini kan mau pesta yang mana bagi perempuan, terutama sebagai ‘tuan rumah pesta’, make up dan hair do itu sudah wajib hukumnya 😁. Apa kata dunia coba kalau saya tiba-tiba muncul dengan dandanan yang kayak mo jemput anak sekolah?? Duh, kasihan mertua saya, bisa malu beliau punya mantu macam begini…hahahaha…

Jadi ya, persoalan soal make up dan hair do ini tadinya tuh gak ada karena aslinya saya sudah janjian bahkan sampai beberapa kali confirm dengan MUA  yang ini. Tapiiii ternyata ya, begitu saya tiba di Medan, baru taulah saya kalau ada jadwal MUA ini yang gak begitu sesuai (biasanya kan memang dalam sehari mereka bisa ambil beberapa klien). Mungkin bisa sih dipaksain, tapi saya gak mau ambil resiko. Jadilah sehari sebelum hari H, saya dan suami masih hubungin orang sana sini buat nyari MUA 😅. Eh, ini beneran suami ikut bantuin saya nyari MUA lho. Dia boleh lebih suka lihat muka saya polos tanpa make up, tapi tetep saja dia mengerti kebutuhan saya akan make up dan hair do yang bagus untuk kondisi tertentu seperti pesta sekarang ini.

Puji Tuhan, setelah hubungi sana sini, akhirnya saya bisa deal dengan salah satu MUA yang lagi hits banget di Medan yaitu @colorsoftwentytwo. Yah, walaupun cuma dapat sama asistennya, tapi jadilah ya, daripada gak sama sekali 😅.

Untuk make up ini, sebenarnya janjiannya datangnya jam 3 pagi ke hotel. Trus kemudian berubah ke jam 4. Dan terakhir mereka datang setelah jam hampir menunjukkan jam 5 pagi 🥱. Ya oke deh, saya bisa bilang apa lagi. Tapi gara-gara itu, kami yang seharusnya jam 6 sudah harus jalan ke rumah mertua, baru kemudian bisa keluar dari hotel setelah jam menunjukkan jam setengah 7 lebih. Karena buru-buru, saya gak sempat lagi foto-foto hasil make up-nya di hotel 😅. Syukurlah hasil make up dan hair do nya bagus, jadi mood saya gak rusak gara-gara telatnya mereka itu 😄.

Puji Tuhan jalanan lancar sehingga kami bisa segera tiba di rumah mertua, bahkan kami masih punya banyak waktu untuk foto-foto sebelum acara penjemputan pengantin dimulai.

By the way, di atas itu hasil dandanannya. Bagus sih, saya suka. Cuma sejujurnya saya kurang suka liat muka saya kalo warna bibirnya natural gitu. Memang permintaan saya sendiri sih, untuk pemberkatan pagi ini dandanannya gak bold dan warna bibirnya yang natural aja. Walau berdasarkan permintaan sendiri, tapi dalam hati saya sebenarnya sudah tau kalo saya bakal kurang suka, tapi entah kenapa pengen juga nyoba, sapa tau gitu kali ini hasilnya bisa beda. Ternyata bener sih, walau semua orang bilang dandanannya bagus, tapi buat saya sendiri seperti ada yang kurang pas gara-gara warna bibirnya 😁. Mungkin karena bawaan mata saya kalo udah di-make up mesti terlihat tajam banget (setidaknya dalam penglihatan saya sendiri kalo nengok ke cermin ya 😁) jadi berasa gak imbang kalo bibirnya terlalu pale atau natural 😅.

The Holy Matrimony

Untuk pemberkatan pernikahan pagi ini memang adik ipar saya menentukan tema bajunya putih dan untuk perempuan dipadu dengan songket puca alias tenunan khas Batak yang diproduksi oleh @songketdainang.

Sekitar jam 8 pagi, pengantin pria dan rombongannya tiba di rumah mertua. Prosesi penjemputan pengantin wanita pun dilakukan dan setelahnya kami semua berangkat menuju gedung Gereja Kristus Yesus tempat pemberkatan pernikahan dilangsungkan.

Me and my mother-in-law 😘

Puji Tuhan, prosesi pemberkatan berlangsung dengan lancar, meski karena kondisi amang dan inang yang tidak lagi memungkinkan, maka peran sebagai orangtua pengantin wanita dijalankan oleh kami terutama oleh pak suami, termasuk pas di bagian mengantarkan pengantin wanita berjalan menuju altar. Sedih sih sebenarnya karena amang tidak bisa melakukan tugas ini untuk anak perempuan bungsunya, tapi amang dan inang masih Tuhan ijinkan untuk menyaksikan pernikahan anak bungsunya ini saja sudah merupakan mujizat dari Tuhan, meskipun definisi menyaksikan buat amang adalah hanya sampai di merasakan dan mendengar karena amang tidak bisa lagi melihat.

Si bapak, meski senyum tapi sambil nangis. Campur aduk memang jadinya rasanya.

O ya, anak-anak dalam prosesi pemberkatan ini perannya adalah sebagai flower boys 😁.

Khotbah dalam ibadah pemberkatan pernikahan ini bagus banget, kami sebagai pasangan yang sudah hampir 12 tahun menikah juga ikut merasa sangat terberkati dengan khotbah dari Mushi Johnny Silas ini. Beliau mengingatkan bahwa butuh usaha untuk mempertahankan pernikahan yang harmonis (bukan sekedar bertahan gak bercerai ya, tapi bertahan tetap dengan cinta bahkan kemesraan di antara suami-istri). Sering usaha itu diiringi dengan pengorbanan. Contoh, soal hobi. Hal ini seperti sepele, tapi bukan sedikit pernikahan yang hancur awalnya karena lebih mementingkan hobi daripada pasangan. Setelah menikah, kita tetep boleh punya hobi yang kita bawa dari sejak jaman single yang mungkin tidak melibatkan pasangan kita. Tapi setelah menikah, harus dipertimbangkan apakah hobi itu bisa membangun hubungan kita dengan pasangan ataukah tidak. Kalau ternyata tidak membangun dan sebaliknya malah justru membuat pasangan kita merasa neglected, ya buat apa hobi itu dilanjutkan? Lebih penting mana hobi kita atau pasangan kita? Kalo milihnya hobi ya, sudah bisa terjawablah berarti sampe mana rasa cintanya ke pasangan 😄.

Kalo bapak satu ini punya hobi baru yang muncul setelah kami jadian. Hobi itu adalah pegangan tangan sambil ngikutin khotbah di gereja 😁. Puji Tuhan, dari sejak kami jadian di tahun 2006, hingga sekarang ini, hobi itu tak pupus oleh waktu 😄

Selesai pemberkatan, tentu saja, kami harus foto-foto 😁.

The family of Op. Rajamin Samosir
Lagi latihan jadi pendeta, bang? 😁

In Between The Holy Matrimony and The Wedding Reception

Selesai pemberkatan, kami pun kembali ke rumah untuk makan siang bersama. Selesai makan, sekitar jam 2 kami kembali ke hotel. Rencananya saya mau di-retouch di jam 3 sore. Tiba di hotel, sambil nunggu jam 3, kami memilih nongkrong sambil santai-santai di resto hotel.

Saya dan suami di situ menikmati kopi (saking sibuk sama make up-an, pagi itu saya sampe lupa ngopi! Wkwkwkwkwk).

Sementara anak-anak, selagi kami santai menikmati kopi, mereka sendiri menikmati jus jeruk, sambil…

Bikin PR Kumon!

🤣🤣🤣🤣🤣

Apa gak capek anak-anaknya ngerjain PR???

Nih, silakan dilihat senyumnya, apakah terlihat capek atau gak 😁.

Puji Tuhan tetep ceria, karena ngerjainnya atas keinginan sendiri bukan karena dipaksa. Lagian mereka enjoy kok ngerjainnya. Buat mereka selagi ada waktu lowong dan jika PR hari itu belum dikerjakan, maka lebih baik jika waktu lowong itu diisi dengan menyelesaikan PR 😘.

Setelah waktu menunjukkan pukul 3, MUA dari @colorsoftwenytwo menghubungi saya buat ngabarin kalo mereka sudah tiba di hotel. Ya sudah, saya pun segera menemui mereka di lobi lalu bersama kami kembali ke kamar.

Proses retouch-nya gak lama karena memang riasan dasarnya juga masih menempel dengan baik (saya pilih pake Chanel untuk riasan dasar supaya lebih tahan lama).

Hasilnya??

Nah, kali ini baru deh saya sukaaa banget.

Kenapa?

Karena bibirnya sekarang berwarna merah menyala!

😄😄😄😄

Baik mata maupun bibir sama-sama tajam, bikin saya kelihatan lebih sangar 🤣🤣.

Ini soal selera memang ya dan soal bagaimana saya menunjukkan kepribadian saya yang sebenarnya lewat dandanan. Sebenarnya kenapa saya gak begitu suka dengan dandanan yang pake bibir warna natural seperti dandanan di pagi hari itu, karena dengan begitu bikin muka saya terkesan ‘manis serta lemah lembut’ (seenggaknya kesan itu yang saya dapat setiap kali melihat ke cermin pagi tadi 😄). Padahal aslinya mah saya gak kayak gitu! Beneran, saya orangnya jauh dari karakter lemah lembut apalagi tipe yang lemah lembutnya sampe di bibir doang. Saya lebih ke strict dan apa adanya. I prefer sweet mind and heart than sweet mouth only. Make up yang terlihat lebih bold seperti ini rasanya lebih cocok mewakili kepribadian asli saya.

Tema bajunya untuk resepsi ini adalah kebaya merah dipadu songket tumtuman berwarna pink. Untuk songket lagi-lagi adalah hasil karya dari @songketdainang 😘.

Kekasih hati, selamanya…. Awwww 😍

Selesai bersiap, kami pun turun ke area kolam renang tempat resepsi akan dilangsungkan.

Pada pake baju bertema merah 😍

The Wedding Reception

Kalau pada pemberkatan tadi pagi, amang simatua bisa hadir meskipun terbatas dalam menjalankan tugasnya sebagai bapak pengantin wanita, maka di resepsi kali ini, amang dan inang bahkan tidak dapat duduk di kursi orangtua pengantin wanita, karena tiba-tiba kondisinya drop sehingga kemudian kami putuskan agar beliau bersama inang beristirahat saja di ruangan dalam. Saya dan suami kemudian lagi-lagi mengambil peran sebagai orangtua.

Puji Tuhan acara resepsi berjalan lancar (tanpa hujan sama sekali! Puji Tuhan 😍). Dalam acara tersebut juga ada diselipkan sedikit prosesi Batak yaitu berupa pemberian ulos dan penaburan beras. Karena kedua pengantin berbeda etnis (yang cowok Chinese yang cewek Batak), maka memang diputuskan kalau pernikahan tanpa mengikuti salah satu adat. Pemberian ulos dan penaburan beras ini hanya sebagai lambang kasih saja bukan sebagai rangkaian dari prosesi adat.

Foto-foto selama resepsi ada banyak banget. Saya sampe capek milih-milihnya, jadi yang ditampilin di sini hanya sebagian kecil saja 😅 .

What did we see at this moment actually that made this stunned expression on our faces, pa? 🤣🤣
Cantik banget kan ya kebaya merah dipadu songket tumtuman warna pink gini 😍

Istri itu kalau mau jadi baik, memang harus tunduk dan taat pada kepala keluarganya, yaitu suami. Tapi suami juga gak boleh lupa, untuk bisa sukses menjalankan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga, maka harus bisa juga punya keahlian dalam bidang mendengarkan istri 😁. Mulai dari keahlian untuk rela dengerin insting istri (karena istri jago pake perasaan, jadi kalo instingnya udah jalan, bahayaaa kalo gak diturutin 😁), keahlian untuk pilah-pilah ocehan istri (karena perempuan tuh memang setiap hari punya kuota bicara 20ribu kata, jadi kudu dipilih mana kata yang memang ada maknanya dia keluarkan dan mana yang cuma sekedar untuk ngabisin kuota doang 🤣), sampe ke keahlian mendengarkan keluhan hati dan rasa lelah istri yang kadang justru saking sibuknya mengurusi segala sesuatu (atau gara-gara saking cerewetnya sampe kuota bicaranya udah duluan abis 🤣) hingga tak punya waktu lagi buat mengucapkan keluhan dan rasa itu lewat mulutnya 😘
Mr and Mrs Poltak Samosir

Acara resepsi berlangsung hingga cukup larut malam itu dan kami pun akhirnya bisa kembali ke kamar setelah semua tamu pulang.

Aktivitas dari subuh sampai hampir larut begini, tentu bikin badan terasa capek (apalagi kaki yang seharian pake heels ya, pegeeelll…hahahaha). Karena itu begitu nyampe kamar yang dipikirin adalah langsung beresin anak-anak supaya mereka juga bisa segera istirahat, dan kami juga untuk segera mandi (terutama saya kudu bersihin muka sampe ngabisin satu pak kapas muka 🤣).

Dan supaya kami bisa merasa lebih rileks, suami saya yang tersayang itu ngasih ide untuk kami berdua berendam di jacuzzi sambil menikmati wine 😍.

Awww…. What a sweet thought, baby! 😍

Wine-nya kami pesan dari hotel aja. Enak, lho! 😍

Dan memang bener, rileks banget lho rasanya berendam di jacuzzi sambil menyesap wine gini. Bahkan gak hanya rileks, tapi nikmat banget! 😍

Setelah menghabiskan waktu sekian lama di jacuzzi, kami kemudian kembali ke kamar dan tiduuuuurr dengan nyenyak! 😄.

H + 1

Esok paginya, kami jelas bangun kesiangan…hahahaha…. Turun buat sarapan dan restonya penuuuuhhh minta ampun. Haduh, untunglah ternyata mereka buka resto yang lain lagi buat breakfast, jadi kami pun diarahkan ke situ. Puji Tuhan, di sini malah suasananya lebih asik, lebih tenang, dan lebih sepi!

Muka-muka belum mandi semua…hahahaha

Selesai sarapan, kami kembali ke kamar dan bersiap buat check out.

Bapak ini memang hobi banget lho pegangan tangan…hahahaha…gak apa-apa, we share the same hobby actually 😁

Habis dari hotel, kami sempat singgah makan siang di resto apa gitu saya lupa…hahahaha… yang pasti isi menunya kebanyakan adalah western food.

Selesai makan, kami ke rumah mertua lagi. Ternyata sudah pada rame ngumpul keluarga dari pihak Siregar (keluarga inang) untuk ibadah syukuran di rumah kami.

Dalam ibadah ini, si abang juga ikut main musik. Puji Tuhan memang, setiap kali ibadah keluarga, entahkah di rumah kami atau seperti kali ini di rumah mertua, si abang selalu jadi pengiring musik. Trus karena sepupunya yang lain juga pada pinter bermain musik, maka si abang dan sepupu-sepupunya bermain piano secara bergantian. Puji Tuhan banget ya, cucu-cucu mertua banyak yang memiliki talenta bermusik, meskipun semua anaknya pada gak bisa main musik 😅 😘.

Ibadah kemudian dilanjut dengan pemberian Sipanganon dari pihak keluarga hula-hula (Siregar) ke keluarga kami, serta dari kami anak dan boru ke orangtua (amang dan inang), serta bahkan dari kami  (saya dan suami) ke pihak para boru kami alias ipar-ipar saya.

Setelah acara pemberian sipanganon selesai, dilanjut dengan salam-salaman yang penuh kasih serta kehangatan 😘.

Puji Tuhan, seluruh rangkaian acara pernikahan dari persiapan bahkan sampai ke syukuran pasca pesta bisa berlangsung dengan baik. Semua karena anugerah Tuhan semata. Semoga dengan pernikahan eda saya yang paling bungsu ini akan memberikan tambahan semangat untuk amang dan inang sehingga semakin bersukacita dan bergairah untuk sembuh. Amin!

========================

Demikianlah pemirsa, dokumentasi kedua soal mudik akhir tahun kemarin. Semoga besok-besok terus diberikan waktu dan kesempatan mendokumentasikan semua cerita mudik kemarin hingga tuntas.

Selamat hari Kamis, semua! 😘

6 respons untuk ‘Christmas 2019: The Wedding’

Tinggalkan Balasan ke veronica5277 Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s