The Samosirs’ Wonderful Journey To The Samosir Island

Kalau dengar nama Samosir, pasti yang langsung terbayang adalah Pulau Samosir yang terletak di tengah Danau Toba itu, kan?

Sama sih, saya juga begitu….

Dulu…

Kalau sekarang sih sudah beda, karena tiap dengar nama Samosir, maka udah otomatis lah yaa yang langsung terlintas di benak saya adalah keluarga kami πŸ˜„.

Sejujurnya, saya baru tau kalau Samosir itu tidak hanya nama pulau namun juga adalah nama marga setelah kenal sama suami πŸ˜…. Maklum lah dari cukup banyak marga Batak yang saya tau, baru sekali itu saya nemu yang namanya marga Samosir dan kesannya dari awal langsung, “Oh, ini pasti asalnya dari Pulau Samosir, makanya namanya bisa sama gitu…. Atau malah jangan-jangan keluarga dia ini yang punya Pulau Samosir….” 🀣🀣🀣

Yah begitulah, pada akhirnya memang terbukti perkiraan saya yang pertama benar. Marga ini memang berasal dari Pulau Samosir, di mana dari pulau itulah pendahulu keluarganya berasal. Amang simatua alias bapak mertua saya bahkan masih lahir dan besar di pulau itu sebelum kemudian merantau hingga berkeluarga di Medan.

Tapi perkiraan saya yang kedua soal keluarga mereka yang punya Pulau Samosir, tentu aja salah besar….wkwkwkwk….. Dulu saya sempat mikir gitu karena kirainnya Pulau Samosir tuh hanya pulau kecil, secara kan hanya pulau di tengah danau. Gak taunya pulau itu tuh guede banget, saking gedenya sampe pulau ini masuk jajaran pulau terbesar di tengah danau di dunia, juga termasuk pulau terbesar di dalam pulau di dunia. Hebat yak. Saya sendiri baru tau kalo Pulau Samosir tuh ukurannya besar ya setelah pertama kali ke sana πŸ˜….

Nah berhubung keluarga suami berasal dari sini, maka tentu aja kami harus mengenalkan tempat ini ke anak-anak apalagi karena rumah keluarga yang usianya sudah lebih dari 100 tahun masih berdiri di tanah keluarga di pulau itu.

Saya sendiri sudah dikenalkan suami dengan tempat ini dari sejak awal menikah, dulu waktu bulan madu kami sempat menghabiskan satu hari di Pulau Samosir.

When we were at Samosir Island for our honeymoon
Lake Toba for our honeymoon 😍

Si abang juga waktu usianya masih 7 bulan udah pernah kami bawa ke kampung.

Yang belum pernah tinggal si adek πŸ˜….

Makanya, karena si adek belum pernah ke sana dan si abang juga udah lupa dengan pengalaman ke kampung dulu secara waktu itu dia masih bayi, dan mumpung sekarang bisa agak lamaan di sini, kami berpikir inilah kesempatan bagus untuk bawa anak-anak ke sana.

Tadinya, kami sempat berencana ke Pulau Samosir dengan naik ferry dari pelabuhan Ajibata di Parapat. Itu artinya kami dari Taman Simalem akan ke Parapat dulu dan udah sempat berencana untuk nginap semalam di sana. Tapi waktu itu entah kenapa saya ragu-ragu banget untuk reservasi hotel di Parapat. Keraguan saya akhirnya terjawab sewaktu kami lagi makan malam di Taman Simalem danΒ  dapat kabar kalau kondisi di Parapat sudah sangat macet.

Penyebab macetnya?

Tentu saja karena panjangnya antrian mobil yang hendak masuk ke pelabuhan.

Di tahun 2009, sewaktu kami sekeluarga besar beramai-ramai ke Pulau Samosir, kami sudah pernah berhadapan dengan kondisi demikian dan terus terang saya tak mau mengalami itu lagi. Karena itu, driver pak suami langsung ngasih usul untuk ke Pulau Samosir via darat saja yaitu melalui jalur Tele – Pangururan. Denger itu suami sempet ragu sih, karena setau pak suami kondisi jalan di jalur itu masih kurang begitu bagus. Jalannya terlalu sempit dan tidak mulus sementara di salah satu sisi jalan yang menyusuri pinggiran Pulau Sumatera itu terdapat jurang yang langsung mengarah ke Danau Toba. Sejak dulu yang pak suami tau adalah jalur itu berbahaya sekali, makanya tidak heran kalau orang-orang selalu lebih memilih menggunakan kapal untuk menuju ke Pulau Samosir. Tapi malam itu, driver pak suami berhasil meyakinkan kami kalau sekarang ini jalur Tele – Pangururan itu sudah diperbaiki dan kondisinya sekarang sudah sangat nyaman. Jalannya sudah mulus dan sudah jauh lebih lebar daripada dulu. Dia yakin kalau kami lewat jalur itu maka perjalanan kami akan jauh lebih cepat dibanding dengan ferry dari Parapat, karena dari Taman Simalem ke Parapat aja udah butuh waktu hampir tiga jam tanpa ngitung macet, belum lagi harus menunggu antrian untuk beli tiket dan antri lagi untuk masuk ke ferry, bisa-bisa kami baru tiba di Pulau Samosir menjelang malam itupun kalau masih bisa dapat tiket untuk hari itu. Sementara untuk ke Tele dari Taman Simalem hanya butuh waktu kurang lebih dua jam dan jalur Tele – Pangururan bisa dilalui dalam waktu satu jam saja, jadi sudah paling lama dalam waktu tiga jam kamiΒ  bisa tiba di Pulau Samosir. Dia bisa memastikan itu karena pada bulan Desember lalu dia baru saja melalui jalur yang sama untuk ke Pulau Samosir. Ok deh kalau begitu, kami pun sepakat untuk ke Pulau Samosir via Tele.

Dan memang ternyata terbukti apa yang dikatakan Jeffry, sang driver, benar adanya sih. Suami aja sampai kaget waktu melihat betapa besar perubahan yang terjadi di jalan Tele – Pangururan itu. Gak ada lagi tanda-tanda jalur yang mengerikan yang selama ini lekat bila orang menyebut jalur Tele. Yang ada hanyalah kondisi jalan mulus, cukup lebar tanpa ada tikungan yang terlalu berbahaya (asal tentu tetap berhati-hati lah yaa), serta tentu pemandangan yang luar biasa indah. Iyaa…indah banget, karena jalan ini menyusuri pinggiran pulau Sumatera yang berbatasan dengan Danau Toba, dan tak akan bosan-bosannya saya untuk bilang kalau pemandangan Danau Toba itu indah, luar biasa indah!

Pemandangan di hampir sepanjang jalan
Ujung Pulau Samosir terlihat dari jalan Tele-Pangururan

Untuk lama perjalanannya sendiri, lagi-lagi si Jeffry perkiraannya benar banget. Kami jalan dari Taman Simalem sekitar jam 10.30. Jam 12 kurang kami sudah masuk di jalan Tele – Pangururan dan sekitar jam 13.15 kami sudah melewati jembatan yang menghubungkan antara Pulau Sumatera dan Pulau Samosir alias sudah tiba di Pangururan, ibukota Kabupaten Samosir di Pulau Samosir.

O ya, kalau ada yang penasaran sebenarnya seberapa jauhnya sih Pulau Samosir terpisah dari Pulau Sumatera dan seberapa panjang jembatan yang menghubungkan kedua pulau ini, maka berikut saya kasih gambarnya yaa…

Kanal alami yang memisahkan Pulau Samosir dan Pulau Sumatera

Deket banget jaraknya kaaann???

Jembatan penghubungnya juga cuma kecil kok…..hanya segini aja…

Jembatan penghubung Pulau Sumatera dan Pulau Samosir

Jembatannya pun pendek banget kaaannn πŸ˜†.

Memang sih kalau dilihat dari Parapat, Pulau Samosir tuh kayaknya jauh banget. Tapi tidak demikian bila dari Tele karena sebenarnya jarak yang memisahkan kedua pulau ini hanya selebar sungai kecil saja πŸ˜„.

Di peta juga terlihat ya betapa dekatnya sebenarnya Pulau Samosir dari Pulau Sumatera

Tiba di Pangururan, kami sempat singgah untuk makan siang di salah satu restoran di situ sebelum melanjutkan perjalanan menuju Onan Runggu, kampung keluarga suami. Sepanjang jalan, kami disuguhi pemandangan danau, sawah, serta padang rumput yang indah. Pulau Samosir ternyata masih tetap seindah yang saya ingat…

Pulo Samosir do haroroanku Samosir do, ido asalhu sai tong ingotonhu, saleleng ngolungku hupuji ho
Sawah yang bertetangga dengan danau. Sungguh hati ini damai melihatnya….

Perjalanan dari Pangururan ke Onan Runggu, kampung kami, memakan waktu dua jam kurang. Sekitar pukul tiga sore, kami pun sudah tiba di tanah keluarga di Onan Runggu. Di situ kami berziarah ke makam leluhur, ngobrol-ngobrol dengan keluarga yang masih tinggal di dekat situ, serta tentu foto-foto lah yaaa πŸ˜„ .

Tiba di Onan Runggu
Makam yang berisi tulang belulang pendahulu mereka
Jangan pernah lupakan tempat ini ya mang…
😘😘
Si adek, Akhirnya bisa juga lihat rumah ini ya dek 😘

Yang jadi latar foto si adek itu adalah rumah keluarga besar yang kini tidak lagi berpenghuni karena keturunan dari opung-nya amang simatua saya sudah merantau ke luar daerah semua. Di belakang rumah itu ada sawah yang juga masih milik keluarga, trus di belakang sawah itu adalah Danau Toba 😍.

Di rumah ini, opung doli mereka lahir dan dibesarkan
Mereka berdua betah main di sini karena luassss

Dan puji Tuhan, perjalanan ke kampung halaman hari itu tidak hanya membuat anak-anak belajar tentang leluhur mereka, tapi juga menghasilkan foto keluarga terbaru yang bakal digantung di dinding rumah kami πŸ˜„.

Love this pic!

Kami berempat suka banget sama foto di atas, selain karena posenya sederhana banget, foto ini juga punya nilai sejarah karena diambil di depan rumah di tanah leluhur di mana saat itu untuk pertama kalinya kami berempat secara komplit datang berkunjung ke sini. Semoga dengan nanti foto ini digantung di dinding rumah, anak-anak akan selalu ingat dengan momen bahagia ini juga akan selalu ingat pada kampung leluhur mereka di Onan Runggu, Samosir. O ya, ini juga terima kasih banget yaaa sama Jeffry, driver-nya pak suami yang setia mendampingi kemana-mana dan selalu dengan suka hati memenuhi permintaan saya untuk fotoin kami dan selalu nurut dengan arahan saya akan angle dan latar yang pengen diambil, hingga puji Tuhan foto-foto kami selama liburan ini banyak sekali yang bagus-bagus 😊.

Selesai dengan segala urusan di kampung, kami pun kembali jalan menuju Tuktuk Siadong di mana kami berencana menginap di Samosir Villa Resort.

Perjalanan dari Onan Runggu ke Tuktuk memakan waktu kurang lebih 1 jam dan untuk menuju ke situ kami melalui jalan yang menuju ke puncak Pulau Samosir dan lagi-lagi, pemandangan indah Danau Toba, kali ini lengkap dengan kabut yang menyelimuti, disajikan untuk kami.

Cantik!
Misty Island

Sebelum malam kami pun sudah tiba di Samosir Villa Resort.

Isi kamarnya 1 king bed dan 1 single bed

Sejujurnya, kalau kami bilang, kamar ini overrated. Banyak sekali ketidakpuasan kami di sini, tapi yah sudahlah gak usah dipikirkan. Yang pasti, saya gak akan pernah merekomendasikan hotel ini pada orang lain πŸ˜….

Pemandangan tepat di depan kamar kami

Malam itu, sehabis makan malam kami istirahat. Besok paginya, bangun, mandi, sarapan, lalu main-main di pinggir danau, kemudian berakhir di kolam renang πŸ˜„.

Walau cuma main di pinggiran, tapi kami udah cukup hepi sih. Saya sendiri gak berani berenang di danau, karena bukan cuma dalam, tapi dinginnya itu gak nahan. Untuk berenangnya, mending di kolam aja, lebih aman πŸ˜„.

Swim…swim…

Puas berenang, kami kembali ke kamar untuk mandi dan siap-siap untuk check out dan kembali menuju Sibolga.

Siap-siap beranjak dari hotel

Untuk perjalanan kembali ini, kami lagi-lagi lewat Tele. Anak-anak sebenarnya sempat meminta pakai ferry supaya bisa ngerasain gimana naik ferry di danau Toba. Tapi kami cek ke pelabuhan Tomok dan Ambarita, dua-duanya udah penuh sama antrian mobil. Ya sudahlah, kami kembali via darat saja. Puji Tuhan anak-anak mau ngerti.

Di perjalanan balik ini kami sempat singgah di Hutan Wisata Pinus Tele yang sekilas hanya nampak seperti tempat persinggahan biasa, namun sebenarnya tempat ini menawarkan jalur trekking ke puncak bukitnya di mana dari situ kita bisa menyaksikan pemandangan yang luar biasa indah.Β  Tentu saja kami tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu ya, apalagi tempat ini sepi jadi kami bisa dengan leluasa menyusuri jalur trekking itu serta untuk menikmati pemandangan yang ditawarkan.

Di sepanjang jalur itu, pemandangan yang disajikan tidak saja hanya Danau Toba, tapi juga hutan pinus, sawah, perbukitan, jalan Tele – Pangururan yang bersusun-susun dan berliku-liku menyusuri pinggiran Pulau Sumatera, serta tak ketinggalan tiang listrik! Hahahaha…. Maklum ya, kami kan orang PLN, jadi tiang listrik pun bisa jadi pemandangan buat kami πŸ˜„.

Si adek nyantai jalan sambil makan Choki-Choki 😁
Menikmati alam yang indah sejauh mata memandang
Bersyukur banget dikasih kesempatan menikmati alam seindah ini
Ada tiang listrik! Yuk, foto! 😁
Jalur transmisi ini menghubungkan antara Pulau Sumatera dan Pulau Samosir sehingga jaringan listrik di Samosir tidak terisolasi lagi
Menyehatkan banget jalan-jalan di sini
Dari sini terlihat jelas jalan Tele-Pangururan yang bersusun-susun menyusuri pinggiran Pulau Sumatera. Dari sisi ini terlihat ada 4 susun jalan
Beautiful!

Setelah menyusuri jalur trekking yang cukup panjang, tapi sangat menyenangkan dan sama sekali gak melelahkan buat kami, tibalah kami di puncak bukit di tengah hutan pinus yang amat sangat sejuk.

Salah satu sisi pemandangan yang tidak mengarah ke Danau Toba

Di ujung jalur trekking ini terdapat pendopo, jadi kami bisa duduk-duduk di situ sambil menikmati pemandangan serta segarnya udara di sini.

Dan gak cuma itu aja sih, karena di Pendopo ini kami juga bisa santai sambil menikmati mi instan yang rasanya jadi berkali-kali lipat lebih enak dimakan di ketinggian gini πŸ˜„.

Di kejauhan terlihat mbak-mbak yang membawa nampan berisi pesanan kami. Mie instannya udah dipesan dari kantin di parkiran dan dibawain ke atas begitu udah selesai dimasak. Sebenarnya bisa sih dimakan langsung di kantin itu, tapi mbaknya nawarin untuk dinikmati di atas aja karena bakal terasa lebih nikmat di situ. Dan dia memang terbukti sangat benar! πŸ˜†
Sllurrrppp….sluurrrpppp…. Liat fotonya aja bikin ngiler! πŸ˜‹

Selesai makan dan puas menikmati pemandangan, kami pun kembali menyusuri trek di sisi yang berbeda dari sebelumnya, untuk turun kembali ke parkiran. Setelah duduk-duduk sebentar di kantin untuk menikmati teh hangat, kami pun kembali jalan menuju Sibolga.

Pukul 8 malam kurang dikit, kami pun tiba dengan selamat di Sibolga. Puji Tuhan semua dalam keadaan sehat dan bahagia, bahkan satu pun tak ada yang kelelahan. Benar-benar perjalanan yang menyenangkan. Puji Tuhan 😍😘.

PS:

Untuk baca seri cerita liburan kenaikan kelas tahun ini, silakan klik di sini yaaa πŸ’–

Iklan

11 respons untuk β€˜The Samosirs’ Wonderful Journey To The Samosir Island’

  1. uwwwooowww pemandangannya juaraaaa. pas honeymoon kami juga di pulau samosir, di area tuktuk. waktu itu mau ke area tele pake motor tapi kok ngeri jalannya, jadilah turun lagi. kudu mengulang ke pulau samosir via tele nihhhh.

  2. Masya Allah pemandangannya luar biasa banget mba Lisa, cakep banget ya danau Toba, jadi pengen ke sana.
    Rumahnya masih kokoh dan terawat ya mba meski udah ratusan tahun…:)

  3. Cakeeep yaaa emang si Danau Toba dan sekitarnyaaa/ Betuuul, itu jalanan dari tele udah bagus sekarang malah enakan ke situ daripada jalanan berastagi hahahaha. Cakep banget emang ya si DAnau Toba ini dari mana-mana, kami Natal 2017 dan lebaran 2018 juga ke kampung Tamba dan samosir lagi Lis, dan gak bosen bosen ambil jalur yang beda. Itu kami niatin kelilingin Samosir dari ujung ke ujung hahahah. Ini tipikal pemandangan yang disuka bule banget lah, indah, sejuk dan banyak jalur treking. Ini jadi ngingetin aku belum bikin jurnal juga yang lanjalan iniii

Tinggalkan Balasan ke yunita caroline Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s