Hotel Esther Siborong-borong, Kedai Kopi Piltik, Salib Kasih Tarutung

Alohaaaaa!!!

Hari ini udah pada masuk kerja belum??

Kalo saya sih belum, kan masuk kerjanya masih tahun depan lagi…hehehehe…. Anak-anak juga masih libur sampai bulan depan, jadi fix di saat orang lain sudah mulai masuk kerja seperti sekarang, kami sendiri statusnya masih libur panjang 😁. Meski begitu, berhubung suami sudah harus mulai ngantor kan ya, jadi hari ini kami gak ada agenda jalan-jalan kemana-mana, berdiam aja seharian di rumah. Anak-anak main PS, mamanya punΒ  update blog 😁.

Sejak dari hari Senin seminggu yang lalu kami sudah meninggalkan Sumatera Selatan untuk berlibur di Sumatera Utara, tujuan utamanya sih ke tempat tugas suami di Sibolga, tapi berhubung di hari Senin itu suami ada kerjaan di daerah Siborong-borong makaΒ  kami pun mendarat bukan di Bandara Dr. Ferdinand Lumban Tobing di Sibolga melainkan di Bandara Sisingamangaraja XII (alias Bandara Silangit) yang terletak di Siborong-borong.

Kami terbang dari Palembang pagi sekitar jam 6, transit di Soetta sebentar, dan sekitar jam 11 kami pun sudah tiba di Siborong-borong. Puji Tuhan penerbangan hari itu berjalan dengan lancar serta menyenangkan. Anak-anak juga sudah pada besar, jadi sama sekali gak ada kerepotan lagi membawa mereka 😊.

Ready to go! Yeayyy!!
Pak suami yang rela bolak balik demi bisa menjemput kami 😍
Sarapan di Soetta
Arrived in Silangit. Yeayy!! Thank God!

Tiba di Siborong-borong, kami langsung menuju ke hotel tempat kami menginap malam itu, yaitu Hotel Esther.

Sejujurnya ya, salah satu hal yang sering bikin saya ragu bepergian ke daerah kabupaten adalah masalah akomodasi tempat tinggalnya, karena biasanya di daerah kabupaten tuh apalagi yang bukan destinasi wisata untuk masalah penginapan bisa dibilang seadanya saja. Namun syukurlah, di Siborong-borong ini sudah ada dua hotel yang saling tetanggaan, yaitu Hotel Noah dan Hotel Esther, yang meski bukan hotel berbintang tapi sudah termasuk layak untuk diinapi bersama anak-anak. Suami memilih membawa kami ke Hotel Esther. Kenapa pilih di situ, saya juga kurang tau, saya mah pokoknya ngikut suami aja 😁. Berikut saya kasih foto-foto hotelnya ya, sapa tau bisa jadi referensi buat yang butuh menginap di hotel di Siborong-borong.

Ruang duduk di dalam kamar

Di dalam kamar kami ada area pantry yang meski seadanya tapi lumayan membantu sih untuk urusan bersih-bersih perkakas makan sehabis makan2 di kamar

Dalam kamar hotel ini gak perlu pake AC, karena udara Siborong-borong sendiri sudah cukup dingin. Malam-malam aja pas tidur saya masih kedinginan lho πŸ˜…. Kalo daerah dengan udara dingin seperti ini, rasanya udah wajib ya kalo hotel menyediakan air panas untuk mandi, puji Tuhan di hotel ini tersedia jadi nyaman deh mandi meski udara di luar sangat dingin.

Di balkon kamar
Hotel Noah, tetangganya Hotel Esther 😁

Seperti yang terlihat, hotelnya memang sederhana, tapi sudah cukup lumayan lah. Pelayanan stafnya juga baik. Kebersihannya cukup, walau seharusnya bisa lebih ditingkatkan lagi. Cuma mungkin soal kebersihan ini terkait juga dengan pembangunan yang masih mereka lakukan di beberapa bagian hotel ini.

Setelah kami udah settle di kamar, suami pun langsung pergi kerja. Trus selagi suami kerja kami ngapain aja?

Err…..gak banyak sih yang bisa kami bikin. Mau nonton TV, channel-nya cuma dikit. Jadilah saya habisin waktu dengan baca novel karya E.M. Tippets yang berjudul Someone Else’s Fairytale di Wattpad.Β  Ini novel bagus lho, recommended banget buat dibaca. Selagi saya sibuk sama novel, anak-anak sibuk dengan berbagai macam hal, mulai main sama karakter Avengers dan DC, ngerjain aktivitas di buku aktivitas, nonton YouTube di laptop, sampai ngerjain coding pakai JavaScript di laptop…. Keliatan banget ya kalo anak-anak jauh lebih produktif daripada mamanya πŸ˜….

Kami bertiga…

Selain aktivitas-aktvitas yang di atas, yang tak kalah pentingnya juga tentu adalah makan ya 😁. Untuk makanan kami udah diatur sama pak suami ada yang nganterin tiap jam makan, mulai dari makan siang, makan malam, sampe sarapan keesokan harinya. Dan berhubung ini lagi di Siborong-borong kan ya, maka tentu menunya gak jauh-jauh dari…

……

……

……

……

Awas kalo ada yang jawab sayur kol dan daging ‘itu’ ya…

πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Asli lah ya, lagu yang sempet viral tahun kemarin itu bikin Siborong-borong yang harusnya identik sama Ombus-Ombus malah jadi lekat sama sayur kol πŸ™ˆ. Nama dagingnya aja gak tega saya sebutin karena saya termasuk yang menentang jenis hewan yang bukan termasuk hewan ternak melainkan hewan peliharaan tersebut dijadikan makanan πŸ˜’.

Menu makanan kami kemarin berupa Ikan Mujair Bakar dan Goreng yang dilengkapi dengan Sambal Tinombur, Daging Babi Panggang, dan Sop Babi. Lumayan banyak, padahal yang makan tiga orang doangπŸ™ˆ.

Abang kesenengan lihat menunya ada daging babi 😁

Makan malamnya….banyak banget kan, padahal yang makan 3 orang aja

Esok siang harinya, kerjaan suami di sini sudah selesai, kami pun check out dari hotel ini. Rencananya mau ke Sibolga namun sebelumnya mau singgah dulu melihat-lihat Salib Kasih di Tarutung.

Sebelum jalan, foto-foto dulu
Capek kerja pun langsung segar lagi kalo udah ketemu anak 😘
😘😘

Tapi sebelum ke Tarutung, kami singgah makan siang dan ngopi dulu di Kedai Kopi Piltik yang udah pernah saya ceritain panjang lebar di sini.

Love this place!
Abang dan adek paling suka ke tempat ini karena sambil nunggu makanan keluar, mereka bisa sambil main catur
Salah satu minuman yang saya rekomendasikan banget di Kedai Kopi Piltik

Selesai dari Kedai Kopi Piltik, kami pun lanjut jalan ke Salib Kasih di Tarutung.

Leaving Siborong-borong

Dari Siborong-borong ke Tarutung ditempuh kurang lebih dalam waktu satu jam saja. Perjalanan juga nyaman karena kondisi jalan baik. Gak berapa lama kami pun tiba di lokasi Salib Kasih.

Salib Kasih ini terletak di Dolok Siatas Barita (dolok artinya bukit). Siatas Barita adalah nama Kecamatan di kabupaten Tapanuli Utara yang merupakan pemekaran dari kecamatan Tarutung. Karena itu sebenarnya, Salib Kasih ini bukan lagi terletak di Tarutung melainkan di Siatas Barita. Tapi berhubung orang-orang sudah terlanjur taunya Salib Kasih itu di Tarutung jadi ya sampe sekarang pun orang masih suka menyebutnya dengan nama Salib Kasih, Tarutung 😁. Apalagi ditambah kota Tarutung memang sudah dikenal sebagai lokasi markas besar Huria Kristen Batak Protestan alias HKBP denganΒ  salah satu tokoh paling pentingnya adalah DR. Ingwer Ludwig Nommensen yang di mana jasanya merupakan hal yang ingin dikenang lewat bangunan Salib Kasih ini, maka ya sudah wajar jika sulit melepaskan Salib Kasih sebagai trademark dari Tarutung, istilahnya udah lekat selekat-lekatnya πŸ˜….

Seperti yang saya bilang di atas, Salib Kasih ini dibangun untuk mengenang jasa pendeta Nommensen, seorang misionaris dari Jerman yang menyebarkan Injil ke tanah Batak.Β  Salib tersebut dibangun di lokasi perbukitan yang dipenuhi hutan pinus dengan tinggi salib mencapai 40 meter. Karena lokasinya di atas bukit dan salibnya sendiri cukup besar dan tinggi, maka salib ini bisa terlihat di sepanjang jalan di bawah bukit bahkan dari kejauhan. Lokasi Salib Kasih-nya sendiri kabarnya merupakan spot favorit dari Nommensen untuk duduk memandangi Rura Silindung di bawahnya (rura artinya lembah).Β  Pembangunanya sendiri dilakukan pada tahun 1992 dan merupakan hasil kerjasama dari Zending Jerman, HKBP, serta pemerintah Kabupaten Tapanuli.

Areal Salib Kasih ini luas sekali. Tiba di situ kita bisa langsung memarkir mobil di lapangan parkir yang cukup luas, kemudian kita harus menuruni tangga sedikit, melewati areal khusus penjualan souvenir sebelum kemudian mendapati tanah lapang yang sangat luas di mana tersedia akses untuk menuju ke pintu masuk.

Jalan menuju pintu masuk

Untuk masuk, orang dewasa dikenakan biaya Rp 5.000 sementara anak-anak gratis.

Begitu masuk, hal pertama yang akan didapati adalah monumen Nommensen.

Tugu Nommensen

Untuk menuju ke lokasi Salib Kasih yang berada di atas bukit, maka kita harus melalui trek yang disediakan yang berupa anak tangga sebanyak 400 buah. Jalannya menanjak dan cukup jauh, namun udara yang segar dengan pemandangan pinus serta aneka bunga di kiri kanan membuat perjalanan jadi tak terasa melelahkan sama sekali.

Gantengnya baang 😍😍
Foto ini diambil oleh si adek….ngebluuurrr….wkwkwkwkwk

Di sepanjang trek, setiap sekian meter terdapat prasasti yang berisi 10 Hukum Taurat dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Batak (termasuk aksara Batak juga!).

Jika sudah sampai di Titah ke-10, itu artinya kita sudah tiba di puncak lokasi!

Begitu tiba di atas, tak hanya pemandangan Salib Kasih yang kami dapatkan, tapi juga pemandangan yang indah ini….

Simply breathtaking….

Gak heran kalo di sini jadi spot favorit bapak Nommensen untuk memandangi lembah di bawah bukit ini ya…

Trus kalo Salib Kasihnya sendiri seperti apa?

Ini diaaa…

Salib Kasih

Cakep yak 😍.

Salib Kasih ini sudah pernah mengalami renovasi. Salah satu yang terlihat jelas adalah areal di sekitar tangga di bawah Salib Kasih ini yang dulunya hanya berupa tanah berisi tanaman, namun sekarang sudah diganti dengan tempat-tempat duduk hingga terlihat seperti amphiteater.

Persis di bawah Salib Kasih ini terdapat kamar doa. Di sekelilingnya juga terdapat bangunan-bangunan kecil sebagai kapel doa.

Tak hanya itu, untuk mengikuti trend kekinian, maka di sekeliling lokasi Salib Kasih ini juga disediakan aneka spot untuk berfoto 😁.

After all these years, and he’s still looking at me like that! 😍
Pemandangan ke bawahnya asik banget!
Sebenarnya ya, ini kali pertama juga lho buat suami saya ke sini πŸ˜…
Abang sebenarnya agak takut naik ke atas sini πŸ˜…
Love this moment!

O ya, berikut ada video singkat waktu kami jalan ke lokasi Salib Kasih ini…

Setelah puas melihat-lihat sambil duduk-duduk dan foto-foto, kami pun kembali turun. Untuk turunnya, sesuai aturan di sini, melewati trek yang berbeda dengan waktu naik tadi. Perjalanan turun otomatis lebih mudah dan cepat ya. Yang menanjak aja gak berasa saking indahnya pemandangan dan segarnya udara, apalagi pas waktu turun, tiba-tiba aja udah di bawah 😁.

Di sepanjang jalan baik naik maupun turun banyak terdapat prasasti yang merupakan kenang-kenangan dari orang-orang yang berkunjung ke sini
Di jalan turun
Kalau sudah nemu Jembatan Merah ini, berarti udah mo nyampe di bawah

Dengan demikian, berakhirlah petualangan kami di Salib Kasih sore hari itu. Dari situ kami pun melaju pulang ke Sibolga, melewati dua jam lebih perjalanan yang penuh kelokan. Perjuangan banget memang kalau menuju Sibolga via darat dan melewati Tarutung. Kelokannya itu lho, banyak dan lamaaa. Bayangin deh, dua jam isinya kelokan semua. Si abang tuh betah banget dia ngitung jumlah kelokan, kata dia sih total ada 837 kelokan dari Tarutung sampai Sibolga. Bang…banggg…ada-ada aja. Padahal kan udah paling bener kalo melewati jalan penuh kelokan tuh tidur aja, lah ini kok malah rela melek demi ngitungin jumlah kelokan πŸ˜….Β  Yang dia hitung bukan cuma dari Tarutung – Sibolga aja, yang dari Siborong-borong sampai Tarutung sebelumnya juga dia hitung, katanya dapat sekitar 220 kelokan πŸ˜….

Malam itu, sekitar pukul setengah 8 kami pun tiba di rumah di Sibolga. Puji Tuhan, lega rasanya udah tiba dengan selamat. Begitu kami datang langsung disambut oleh pengurus rumah dan pak satpam yang udah antusias terutama buat ketemu sama abang dan adek 😘. Mereka memang senang kalo ada abang dan adek di sini, karena rumah jadi rame 😁. Kemudian selagi kami makan, tanpa perlu diinstruksi, koper kami di unpack oleh pengurus rumah dan semua pakaian serta bawaan kami diatur rapi di lemari. Memanglah, kalo sudah di sini, saya memang bisa santai dan merasakan arti libur yang sebenar-benarnya 🀣🀣.

Cerita kali ini sampai di sini dulu yaaa…. Besok-besok akan saya lanjutkan lagi dengan cerita petualangan kami di Taman Simalem.

Selamat hari Senin dan selamat malam, pemirsa!

Iklan

7 respons untuk β€˜Hotel Esther Siborong-borong, Kedai Kopi Piltik, Salib Kasih Tarutung’

  1. Selamat berlibur menikmati kumpul keluarga ya Jeng Lies. Alam SumUt luar biasa cantik. Kami baru menyusur jalur Medan-Berastagi-Tongging-Parapat-Siantar-Medan.
    Siap menunggu kisah Sibolga.
    Horas

  2. Hahaha liburan nggak akan terasa itu Liiis, poll pulak dilayani , makan enak dan suasana happy ngumpul semua kan. Aku terakhir ke Salib Kasih udah lama banget masih gadis kayaknya aku Lis hahaha dan dulu ramee banget yang datang rombongan-rombongan gitu. Sibolga juga terakhir kami 4 harian di Poncan sekarang masih bagus gak yaaa. Kalo 1,5 bulanan mampir ke Mikie Holiday juga Lis, enaaaak kayak Dufan tapi lebih seru dan diiingiin hahahaha

    1. Iya Ndang, rencana nnti mo ke MikHol jg, karena si adek blm pernah. Klo abang mah udah pernah. Ngomongin soal Salib Kasih, baru dua minggu di sini, aku udah 2x ke sana, yg kedua kalinya buat nemenin edaku yg dr jkt yg pas lg dtg ke sini jg dan belum pernah ke Salib Kasih πŸ˜…. Kapan2 klo ke sini lagi, coba didatangin lg Salib Kasihnya Ndang, pasti ud banyak berubah dibanding wkt dirimu msh gadis dulu πŸ˜€

  3. Wah, serunyaaaa πŸ™‚ Aku sih liburnya bentar banget, jadi gak sempet kemana-mana, hehehe. Btw, hotelnya nyaman ya. Meski sederhana tapi ada pantrynya πŸ™‚

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s