Tak Pernah Berjuang Sendiri…

Sudah hari Minggu lagiii….!!

Pada ngapain dan kemana aja nih?

Kalo kami dari kemarin menghabiskan weekend ini mostly di rumah aja. Kemarin keluar cuma untuk beli air galon serta susu dan hari ini keluar cuma untuk ke Gereja, yang mana pas di jalan pulang si abang pengen makan pizza maka jadilah kami sempat singgah makan siang di Pizza Hut. Tapi selebihnya ya kami cuma leyeh-leyeh di rumah aja.

At Pizza Hut

Memang gini nih kalo suami gak bisa weekend-an di sini, saya dan anak-anak jadi malas keluar kalo gak penting-penting amat. Kalo suami ada sih biasanya kami jalan-jalan, seperti minggu lalu di mana kami pergi nonton Dumbo. BTW, itu film keren yak, kami sekeuarga suka banget. Walo jalan ceritanya memang untuk anak-anak, tapi orangtua yang nonton bisa ikut menikmati, jauhlah dari rasa bosan, gak kayak waktu nonton Wonder Park yang saking bosannya saya dan suami sampe ketiduran 😁 .

Minggu ini suami gak bisa weekend di sini karena ada acara peresmian listrik masuk desa di salah satu wilayah kerja dia. Buat kita yang tinggal di perkotaan, listrik memang adalah hal yang udah jadi bagian dari hidup sehari-hari, gak ada istimewanya lagi, kecuali kalo pas mati listrik baru inget betapa mati gayanya hidup tanpa listrik itu πŸ˜…. Tapi tidak demikian buat sebagian masyarakat pedesaan di negara ini, makanya pemerintah masih terus menggenjot program listrik masuk desa supaya tak ada lagi warga negara Indonesia yang tak bisa menikmati listrik. Hari ini puji Tuhan, untuk ke sekian kalinya suami bersama timnya bisa mengeksekusi pelaksanaan program tersebut πŸ™‚ .

Suami cerita, jalan masuk ke daerah ini super sulit, cuma bisa diakses pakai motor dengan lebar jalan yang hanya kurang lebih 40cm saja

Sebagai istri, saya tentu ikut senang untuk pak suami. Walo tentu aja, tetaplah dalam hati sebenarnya berharap dia bisa ada di sini. Weekend tanpa dia sebenarnya sepiii….hehehehe…. Tapi kalo dipikir-pikir sih, sebenarnya dia yang lebih kasihan. Kebayang, sehabis perjalanan jauh ke pelosok dari sejak kemarin sore, malam ini kembali ke rumah dinasnya dan mendapati kalo dia sendirian tanpa kami. Udahlah badan capek, harus kesepian dan menahan kangen pula. Duh….! πŸ˜…

Kalo saya di sini mah masih jauh lebih mending ya, seenggaknya selalu ada anak-anak yang bisa mencerahkan hati saya dan selama ada mereka, saya gak akan mungkin mati gaya. Apalagi sampai kesepian. Seperti kemarin pagi, kami bertiga bikin Solar System Model. Seru dan menyenangkan sekali! Anak-anak saya memang senang dengan outer space, makanya kegiatan kayak gini bikin mereka sangat bersemangat. Dan gak bisa dipungkiri, semangatnya anak-anak adalah semangat mamanya juga. Maka ya walo kangen sama suami, tapi tetap aja saya di sini berada dalam kondisi yang jauh lebih berbahagia dibanding suami yang nun jauh di sana πŸ˜€ .

I woke up to their laughter, big hugs, and wet kisses

O ya, beberapa waktu lalu, waktu saya dan suami lagi nongkrong di dalam mobil sambil nungguin anak-anak selesai les, tanpa sadar kami berdua sama-sama memperhatikan aktivitas yang terjadi di pelataran parkir sebuah ruko yang berada tidak jauh di depan tempat mobil kami diparkir.

Pelataran parkir ruko itu sudah kosong, karena usaha yang dibuka di situ sudah tutup dari sejak jam lima sore, sementara waktu itu sudah nunjukin jam lima lebih dua puluh menit. Tapi meski usaha di gedung ruko itu sudah tutup, usaha lainnya di pelataran parkirnya justru baru akan dimulai.

Kami memperhatikan sepasang suami istri yang masih tampak muda sibuk membangun restoran non-permanen mereka. Warung Makan Pecel Lele. Mengandalkan awningΒ di pelataran parkir ruko itu sebagai atap, mereka pun membuat tenda sebagai dinding warung makan mereka. Kami liat mereka bolak-balik mengambil logistik yang mereka simpan di dalam peti di sudut pelataran parkir itu. Tak berapa lama, tenda mereka pun udah jadi, meja dan kursi udah tertata, piring dan gelas sudah tersusun, bahkan area dapur nya pun sudah siap digunakan. Setelah itu kami lihat mereka mulai mengatur bahan-bahan masakan dari dalam dua buat kotak kontainer yang mereka bawa dari rumah pakai motor. Selagi mereka sibuk mengatur ini dan itu, anak mereka yang masih kecil, mungkin berumur sekitar 3 – 4 tahun, sibuk bermain sendiri di pelataran parkir itu, sedikitpun tidak terlihat terganggu dengan kesibukan orangtuanya ataupun dengan kenyataan bahwa sebenarnya pelataran parkir itu bukanlah sebuah playground yang nyaman untuk anak seumurannya.

Setelah cukup lama memperhatikan mereka, saya dan suami kemudian saling berpandangan sambil tersenyum trus sama-sama sepakat bilang kalo hidup ini memang penuh perjuangan.

Seperti suami-istri pemilik usaha pecel lele itu, kebayang ya setiap hari membangun tempat usaha, men-setup ini dan itu begitu susah payah hanya untuk dibongkar kembali di malam hari. Esok hari rutinitas yang sama kembali berulang. Pagi-pagi mungkin diisi dengan belanja bahan masakan ke pasar, kemudian menyiapkan bumbu-bumbu masakan untuk warung, trus sorenya suami-istri-anak boncengan di motor sambil mengangkut dua kontainer menuju tempat usaha (I have no idea how they could manage to bring all the stuff with motorcycle like that). Sampai di situ, kembali lagi membangun tenda, kemudian bekerja sampai malam melayani pelanggan sebelum kemudian lagi-lagi harus membongkar dan merapikan tempat usahanya serta memastikan kalau mereka meninggalkan pelataran parkir itu dalam kondisi bersih tanpa sampah supaya tidak dikomplain oleh pemilik ruko. Belum lagi jika mempertimbangkan anak mereka yang harus ikut berada di situ dari sejak tenda dibangun sampai tenda dibongkar.

Melihat perjuangan mereka, bukan berarti lantas membuat kami bersyukur karena merasa kondisi kami lebih baik dari mereka.

Sama sekali gak.

Seperti yang saya bilang di atas, melihat mereka membuat kami melihat jenis perjuangan yang berbeda yang harus dilakukan oleh keluarga lain. Setiap keluarga pasti punya perjuangannya sendiri-sendiri, dan meski berbeda-beda macam perjuangannya, gak bisa kita bilang kalau perjuangan yang satu lebih mudah dari yang lainnya. Taraf ekonomi yang lebih tinggi atau lebih rendah juga tidak menjadi indikasi mudah atau sukarnya perjuangan serta pergumulan yang harus dijalani oleh masing-masing keluarga.

Karena itu sebenarnya tidak perlu ya mengasihani diri sendiri karena merasa perjuangannya paling berat sementara keluarga lain kok tampak baik-baik aja gak ada pergumulan (padahal ini gak mungkin banget kaannn….yang namanya perjuangan dan pergumulan mah udah satu paket dalam kontrak kehidupan πŸ˜€ ). Gak perlu juga merasa sangat bangga dengan diri sendiri karena merasa paling hebat dalam perjuangannya sementara pergumulan keluarga lain dianggap kecil gak ada apa-apanya. Sekali lagi, setiap keluarga, tanpa terkecuali, memiliki pergumulan dan perjuangannya masing-masing. Berat atau ringannya, hanya keluarga itu sendiri yang tau dan bisa merasakan. Kemudian ya, tinggal tergantung dari bagaimana keluarga masing-masing itu untuk tetap bisa bersyukur dan bersukacita dalam kondisi apapun itu. Biasanya sih kemampuan untuk bersyukur dan bersukacita itu yang akan membedakan hasil dari perjuangan yang dijalani. Ada yang bertambah kuat, ada yang hancur berantakan, dan ada juga yang jadi sinis, atau sebaliknya jadi sombong.

Keluarga kami, mungkin tidak menghadapi perjuangan yang sama seperti keluarga pemilik warung pecel lele itu. Namun bukan berarti hidup yang harus kami jalani lebih mudah dibanding mereka. Tapi tidak juga berarti kalau kami kurang beruntung dibanding keluarga lain. Kami punya perjuangan. Tapi kami juga punya keberuntungan sendiri. Demikian juga keluarga pemilik warung pecel lele itu. Dan begitu juga semua yang membaca tulisan saya ini 😘 . Karena itu, buat semua keluarga dan juga individu yang lagi berjuang di luar sana, jangan pernah patah semangat ataupun mengasihani diri sendiri, karena percayalah kita tak pernah sendirian dalam perjuangan hidup ini. Orang lain juga berjuang. Keluarga lain juga punya pergumulan. Lagipula, sebagaimanapun pergumulan kita, seenggaknya kalo masih bisa baca ini, itu berarti kita masih sangat beruntung karena kita gak hidup di negara yang lagi perang, atau di daerah yang lagi mengalami bencana, atau di wilayah yang mengalami kekeringan dan kelaparan di mana kematian rasanya ada di setiap sudut. Tetaplah semangat yaaa…. Dalam kondisi apapun, pertolongan Tuhan itu nyata dan tidak pernah terlambat πŸ™‚ .

Duhh, saya ini ngomong apa yaaa….hahahaha…. Gak tau juga kenapa akhirnya bisa ngetik soal perjuangan hidup padahal aslinya cuma pengen nulis soal weekend tanpa suami aja πŸ˜… . Yah begitulah saya, di dunia nyata juga begini, kalo lagi ngobrol bisa cepet banget ganti topiknya sampe suka bikin suami bingng karena habis dari ngobrolin soal A bisa dengan cepat berganti ke soal B πŸ˜› . Gak apalah, walau dia suka bingung dengan saya, tapi yang penting dia tetap sayang :mrgreen: .

Selamat hari Minggu semua! Semoga diberi kekuatan baru menghadapi minggu yang baru esok hari yaaaa! 😘

Iklan

6 respons untuk β€˜Tak Pernah Berjuang Sendiri…’

  1. Salam kenal mbak πŸ˜ƒ
    Saya suka tulisan mbak alisa terutama pas temanya kyk mengatasi masalah keluarga kyk gini atau pas masalah anak2. Jadi penyemangat krn situasi kami hampir mirip dng mbak alisa hehe. Semoga mbak tetap semangat menulis ya 😊😊😊

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s